Kewajiban hukum

Top PDF Kewajiban hukum:

Bab 5. Kewajiban Hukum

Bab 5. Kewajiban Hukum

Para profesional akuntansi cenderung setuju bahwa dalam kebanyakan kasus, ketika audit tidak dapat menemukan salah saji yang material dan pendapat audit yang salah sudah diterbitkan, maka layak untuk dipertanyakan apakah auditor menggunakan kemahirannya dalam melaksanakan audit. Dalam kasus kegagalan audit, UU yang berlaku sering memperbolehkan pihak yang dirugikan menuntut akuntan publik untuk membayar sebagian atau seluruh kerugian yang disebabkan oleh kegagalan audit. Dalam praktiknya, karena kerumitan auditing, sulit ditentukan apakah auditor gagal dalam menggunakan kemahirannya. Juga sulit untuk menentukan siapa yang berhak memperoleh keuntungan dari audit. Meskipun demikian, kegagalan auditor dalam menggunakan kemahirannya sering kali menimbulkan kewajiban hukum, bahkan kerugian yang besar bagi kantor akuntan publik.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

ETIKA PROFESI and KEWAJIBAN HUKUM AUDITO (1)

ETIKA PROFESI and KEWAJIBAN HUKUM AUDITO (1)

Sedangkan kewajiban hukum yang mengatur akuntan publik di Indonesia secara eksplisit memang belum ada, akan tetapi secara implisit hal tersebut sudah ada seperti tertuang dalam Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP), Standar Akuntansi Keuangan (SAK), Peraturan-Peraturan mengenai Pasar Modal atau Bapepam, UU Perpajakan dan lain sebagainya yang berkenaan dengan kewajiban hukum akuntan (Rachmad Saleh AS dan Saiful Anuar Syahdan,2003).

14 Baca lebih lajut

Wajib Simpan Rahasia Kedokteran Versus Kewajiban Hukum Sebagai Saksi Ahli

Wajib Simpan Rahasia Kedokteran Versus Kewajiban Hukum Sebagai Saksi Ahli

6DPSDLODK NLWD SDGD SHUWDUXQJDQ DQWDUD ZDMLE VLPSDQ UDKDVLD NHGRNWHUDQ YHUVXV NHZDMLEDQ KXNXP VHEDJDL VDNVL DKOL 'DODP XUDLDQ VHEHOXPQ\D NLWD SDKDPL EDKZD GRNWHU GLZDMLENDQ XQWXN PHQ\LPS[r]

12 Baca lebih lajut

arens bab iii iv etika profesi kewajiban hukum ok

arens bab iii iv etika profesi kewajiban hukum ok

Profesional lain hanya bertanggung jawab kepada klien yang ditanganinya sedangkan akuntan publik ditugaskan dan dibayar oleh yang mengeluarkan laporan keuangan klien sedangkan yang men[r]

5 Baca lebih lajut

BAB II KAJIAN TEORI. kewajiban bagi subyek hukum. Oleh karena tanggung jawab hukum

BAB II KAJIAN TEORI. kewajiban bagi subyek hukum. Oleh karena tanggung jawab hukum

Berdasarkan prespektif hukum, dalam kehidupan sehari-hari dikenal istilah pergaulan hukum (rechtsverkeer), yang didalamnya mengisyaratkan adanya tindakan hukum (rechtshandeling) dan hubungan hukum (rechtbetrekking) antar subjek hukum. Pergaulan, tindakan, dan hubungan hukum adalah kondisi atau keadaan yang diatur oleh hukum dan/atau memiliki relevansi hukum. Dalam hal itu terjadi interaksi hak dan kewajiban antardua subjek hukum atau lebih, yang masing-masing diikat hak dan kewajiban (rechten en plichten). Hukum diciptakan untuk mengatur pergaulan hukum agar masing-masing subjek hukum menjalankan kewajibannya secara benar dan memperoleh haknya secara wajar. Di samping itu, hukum juga difungsikan sebagai instrumen perlindungan (bescherming) bagi subjek hukum. Dengan kata lain, hukum diciptakan agar keadilan terimplementasi dalam pergaulan hukum. Ketika ada subjek hukum yang melalaikan kewajiban hukum yang seharusnya dijalankan atau melanggar hak itu dibebani tanggung jawab dan dituntut memulihkan atau mengembalikan hak yang sudah dilanggar tersebut. Beban tanggung jawab dan tuntutan ganti rugi atau hak itu ditunjukan kepada setiap subjek hukum yang mellanggar hukum, tidak peduli apakah subjek hukum itu seseorang, badan hukum, ataupun pemerintah. 6
Baca lebih lanjut

30 Baca lebih lajut

POLITIK HUKUM JANGKA WAKTU PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG DI INDONESIA

POLITIK HUKUM JANGKA WAKTU PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG DI INDONESIA

perkembangan dan kebutuhan masyarakat yang mendesak, sehingga Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang tentang Kepailitan, yang kemudian ditetapkan menjadi Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1998 perlu diganti. Perubahan tersebut harapannya dapat memberikan jaminan dan kepastian hukum dalam perselisihan utang piutang dalam dunia usaha. Adanya Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 merupakan bagian yang tidak terpisah dari Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1998 tentang Kepailitan. Selain itu juga desakan akan perkembanga n dan perdagangan yang semakin pesat, tidak dapat dinafikan begitu saja. Perlu diusulkan regulasi yang menggantikan kepailitan sebagai sarana hukum untuk melindungi kepentingan perekonomian nasional.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

KEBIJAKAN FORMULASI HUKUM PELAKSANAAN PIDANA BAGI PIDANA PEMENUHAN KEWAJIBAN ADAT DALAM RANGKA PEMBAHARUAN HUKUM PIDANA. Oleh

KEBIJAKAN FORMULASI HUKUM PELAKSANAAN PIDANA BAGI PIDANA PEMENUHAN KEWAJIBAN ADAT DALAM RANGKA PEMBAHARUAN HUKUM PIDANA. Oleh

12 Terkait dengan itu disadari bahwa upaya pemidanaan terhadap delik adat saat ini sangat sulit untuk dilakukan. KUHP yang saat ini berlaku tidak mengenal delik adat dan juga sanksi adat. Kondisi ini juga yang mengakibatkan pemidanaan terhadap delik yang mengandung unsur adat seringkali tidak memuaskan bagi masyarakat adat karena pemidanaan didasarkan pada tindak pidana yang terdapat di dalam KUHP. Contohnya ketika terjadi tindak pidana pencurian pretima beberapa waktu yang lalu dan juga tindak pidana penadahan pretima oleh orang asing di Bali. Pidana yang dijatuhkan oleh hakim disesuaikan dengan pencurian biasa padahal pretima yang merupakan benda suci tersebut bagi masyarakat Bali sama sekali tidak bisa dinilai hanya dengan dijatuhkannya pidana pokok berupa penjara kepada pelaku. Hal ini sempat menimbulkan ketidakpuasan dalam masyarakat adat Bali sehingga timbul wacana-wana pro-kontra dalam memandang delik adat dan reaksi adat serta penjatuhan pidana oleh hakim. Bahkan sempat muncul wacana untuk melahirkan kembali pengadilan adat sebagai bentuk keresahan dan ketidakpercayaan masyarakat terhadap hukum nasional. Kondisi ini tentu memprihatinkan mengingat pentingnya hukum sebagai alat kontrol sosial yang bertugas untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat tanpa memandang latar belakang masyarakat bersangkutan. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang kaya akan filosofi tentang kehidupan, alam serta hubungan manusia dengan manusia lain. Namun sangat disayangkan kekayaan akan filosofi demikian nampaknya tidak dapat diakomodir oleh undang-undang bahkan oleh orang Indonesia sendiri.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

Akibat Hukum Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang Terhadap Perjanjian Timbal Balik

Akibat Hukum Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang Terhadap Perjanjian Timbal Balik

____________, Hukum Kontrak Dari Sudut Pandang Hukum Bisnis, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2001 Soemartono Gatot, Arbitrase dan Mediasi di Indonesia, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta[r]

3 Baca lebih lajut

Akibat Hukum Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang Terhadap Perjanjian Timbal Balik

Akibat Hukum Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang Terhadap Perjanjian Timbal Balik

Dalam ilmu hukum dagang, penundaan kewajiban pembayaran utang ini dikenal juga dengan Surseance Van Betaling atau Suspension Of Payment. 32 Ada dua cara yang disediakan oleh UUK-PKPU agar debitor dapat terhindar dari ancaman harta kekayaannya dilikuidasi ketika debitor telah atau akan berada dalam keadaan insolven. Cara yang pertama adalah dengan mengajukan penundaan kewajiban pembayaran utang disingkat PKPU. PKPU diatur dalam bab III, Pasal 222 sampai dengan Pasal 294 Undang-Undang No. 37 tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (selanjutnya disingkat UUK-PKPU). 33
Baca lebih lanjut

30 Baca lebih lajut

Akibat Hukum Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang Terhadap Perjanjian Timbal Balik

Akibat Hukum Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang Terhadap Perjanjian Timbal Balik

Ada beberapa penulis yang memakai perkataan persetujuan yang tentu saja tidak salah, karena peristiwa termaksud juga berupa suatu kesepakatan atau pertemuan kehendak antara dua orang atau lebih untuk melaksanakan sesuatu dan perkataan persetujuan memang lebih sesuai dengan perkataan Belanda overeenkomst yang dipakai oleh BW, tetapi karena perjanjian oleh masyarakat sudah dirasakan sebagai suatu istilah yang mantap untuk menggambarkan rangkaian janji-janji yang pemenuhannya dijamin oleh hukum.

24 Baca lebih lajut

Akibat Hukum Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang Terhadap Perjanjian Timbal Balik

Akibat Hukum Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang Terhadap Perjanjian Timbal Balik

Hasil penelitian dan pembahasan menjelaskan pengaturan penundaan kewajiban pembayaran utang dalam Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang ditemukan dalam ketentuan bab III, Pasal 222 sampai dengan Pasal 294 Undang-Undang No. 37 tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang. Akibat hukum penundaan kewajiban pembayaran utang terhadap perjanjian timbal balik ialah tidak dapat melakukan tindakan kepengurusan atau kepemilikan atas seluruh atau sebagian hartanya tanpa persetujuan pengurus. Di sini ia tetap memiliki hak untuk mengurus hartanya, hanya saja segala tindakan yang dilakukan terhadap hartanya harus terlebih dahulu meminta persetujuan dari pengurus Apabila ternyata melanggar ketentuan ini ketentuan pengurus berhak untuk melakukan segala sesuatu yang diperlukan untuk memastikan bahwa harta Debitor tidak dirugikan karena tindakan Debitor tersebut. Kewajiban Debitor yang dilakukan tanpa mendapatkan persetujuan dari pengurus yang timbul setelah dimulainya penundaan kewajiban pembayaran utang, hanya dapat dibebankan kepada harta Debitor sejauh hal itu menguntungkan harta Debitor. Selama penundaan kewajiban pembayaran utang berlangsung, terhadap Debitor tidak dapat diajukan permohonan pailit. Penyelesaian sengketa dalam perjanjian timbal balik yang tidak dilanjutkan pelaksanaannya atas kerugian yang dialami pihak lain dapat dilakukan melalui jalur di luar pengadilan seperti melalui arbitrase dan lain sebagainya. Juga dapat dilakukan melalui Pengadilan.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Akibat Hukum Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang Terhadap Perjanjian Timbal Balik

Akibat Hukum Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang Terhadap Perjanjian Timbal Balik

1. Prof. Dr. Runtung, SH. M.Hum, selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Prof. Dr. Budiman Ginting, SH. M.Hum, selaku Pembantu Dekan I Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Bapak Syafruddin, SH. MH. DFM, selaku Pembantu Dekan II Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Dr. O.K Saidin, SH. M.Hum selaku Pembantu Dekan III Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

7 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN. Kedudukan hukum seseorang sebagai penyandang hak dan kewajiban dimulai

BAB I PENDAHULUAN. Kedudukan hukum seseorang sebagai penyandang hak dan kewajiban dimulai

Akhirnya, karena terdapat permasalahan diatas pasal 32 Undang-Undang Aminduk di judicial review sehingga pasal tersebut sekarang dianggap tidak mempunyai kekuatan hukum tetap dan tidak berlaku. Isi dari putusan MK No 18/PUU-XI/2013 adalah menyatakan bahwa pasal 32 ayat 1 diganti menjadi “Pelaporan kelahiran sebagaimana dimakhsud dalam pasal 27 ayat 1 yang melampaui batas waktu 60 hari sejak kelahiran, pencatatan dilaksanakan setelah mendapat keputusan kepala instansi pelaksana setempat”, menyatakan pasal 32 ayat 2 tidak mempunyai kekuatan hukum tetap 8 . Setelah adanya putusan MK tersebut, Menteri Dalam Negeri menerbitkan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

POLITIK HUKUM DAN HAM ( Kajian Hukum Terhadap Kewajiban Pemenuhan dan Perlindungan Hak Asasi Manusia Dalam Konstitusi Indonesia )

POLITIK HUKUM DAN HAM ( Kajian Hukum Terhadap Kewajiban Pemenuhan dan Perlindungan Hak Asasi Manusia Dalam Konstitusi Indonesia )

Banyak sekali kewajiban negara yang merupakan bagian tidak terpisahkan hak dari pada warga negara (rakyat Indonesia) yang terjamin/tergaransi dalam konstitusi republik Indonesia, terkait penyebaran hak-hak yang dimiliki oleh warga negara, maka negara harus melaksanakan kewajiban tersebut, paling tidak ada 2 (dua) mekanisme/jalur dalam melihat hak-hak warga negara untuk dijadikan indikator parameter implementasi dalam kerangka hak asasi manusia (HAM), 3 Pertama: Paradigma HAM melihat hak sebagai nilai (Value) yang harus dipenuhinya (pemenuhan) (Fullfil), dipenuhi dalam hal ini adalah hak-hak dasar yang berhubungan/berkaitan dengan hak ekonomi, sosial, budaya (Cultural, Social, Economic Right) istilahnya (Hak Ekosob), dengan mengandung konsekuensi jika tidak dipenuhi maka akan sangat mempengaruhi kualitas hidup warga negara (rakyat), hak Ekosob yang harus dipenuhi paling tidak ada beberapa contoh yang fundamental yakni: hak mendapatkan pendidikan yang terjangkau/murah/gratis, hak mendapatkan/menyediakan lapangan pekerjaan untuk bekerja yang terserap dan layak di dalam negeri, hak mendapatkan kesehatan yang terjangkau/murah/gratis, hak mendapatkan kemakmuran, kesejahteraan dari sumber daya alam yang kaya dan “ruah melimpah” di NKRI, dll. Kedua: Paradigma HAM melihat hak sebagai nilai (Value) yang harus dilindunginya (perlindungan) (Protected), dilindungi dalam hal ini adalah hak-hak dasar yang berhubungan/berkaitan dengan hak sipil dan politik (Political and Civil Right) istilahnya (Hak Sipol), dengan mengandung konsekuensi jika tidak dilindungi maka akan tercipta
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Hak dan Kewajiban Aparatur Sipil Negara Ditinjau dari Perspektif Hukum Administrasi Negara

Hak dan Kewajiban Aparatur Sipil Negara Ditinjau dari Perspektif Hukum Administrasi Negara

Undang-Undang ASN telah mengatur mengenai kelembagaan terutama dalam Manajemen sumber daya ASN. Hal tersebut diatur untuk mengatasi tumpang tindih atau redundansi wewenang, tugas dan fungsi lembaga-lembaga yang selama ini terkait dalam manajemen aparatur negara, terutama PNS. Undang-Undang ASN. ASN juga menjadi dasar hukum pembentukan suatu lembaga baru yakni Komite Aparatur Sipil Negara (KASN) yang merupakan lembaga non-struktural yang mandiri dan bebas dari intervensi politikuntuk menciptakan Pegawai ASN yang professional dan berkinerja, memberikan pelayanan secara adil dan netral, serta menjadi perekat dan pemersatu bangsa, 19
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

Hak dan Kewajiban Aparatur Sipil Negara Ditinjau dari Perspektif Hukum Administrasi Negara

Hak dan Kewajiban Aparatur Sipil Negara Ditinjau dari Perspektif Hukum Administrasi Negara

Puji syukur kehadirat Allah Swt, atas limpahan Rahmat dan Karunia-Nya, sehingga penulis dapat merampungkan skripsi dengan judul: Hak dan Kewajiban Aparatur Sipil Negara menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 Tentang Aparatur Sipil Negara Ditinjau dari Perspektif Hukum Administrasi Negara. Ini untuk memenuhi salah satu syarat menyelesaikan studi serta dalam rangka memperoleh gelar Sarjana Hukum Strata Satu pada Program Studi Hukum Administrasi Negara Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

8 Baca lebih lajut

Hak dan Kewajiban Aparatur Sipil Negara Ditinjau dari Perspektif Hukum Administrasi Negara

Hak dan Kewajiban Aparatur Sipil Negara Ditinjau dari Perspektif Hukum Administrasi Negara

Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah pengaturan kepegawaian dalam Undang-Undang Aparatur Sipil Negara. Pelaksanaan aparatur sipil negara dalam sistem otonomi daerah. Hak dan kewajiban Aparatur Sipil Negara menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 Tentang Aparatur Sipil Negar adalah yuridis normatif, dengan melakukan dan penelitian melalui pendekatan terhadap asas-asas hukum yang mengacu pada norma-norma atau kaidah-kaidah hukum positif yang berlaku.

2 Baca lebih lajut

Hak dan Kewajiban Aparatur Sipil Negara Ditinjau dari Perspektif Hukum Administrasi Negara

Hak dan Kewajiban Aparatur Sipil Negara Ditinjau dari Perspektif Hukum Administrasi Negara

Dasar pertimbangan ASN adalah sudah tidak sesuainya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 Tentang Pokok-Pokok Kepegawaian dengan tuntutan nasional dan tantangan global saat ini, sehingga perlu diganti. Pemerintah Republik Indonesia berpendapat bahwa pelaksanaan manajemen aparatur sipil negara saat ini belum berdasarkan pada perbandingan antara kompetensi dan kualifikasi yang diperlukan oleh jabatan dengan kompetensi dan kualifikasi yang dimiliki calon dalam rekruitmen, pengangkatan, penempatan dan promosi pada jabatan sejalan dengan tata kelola pemerintahan yang baik. Selain itu juga untuk mewujudkan aparatur sipil negara menjadi bagian dari reformasi birokrasi, perlu ditetapkan aparatur sipil negara sebagai profesi yang memiliki kewajiban mengelola dan mengembangkan dirinya dan wajib mempertanggung jawabkan kinerjanya dan menerapkan sistem merit dalam pelaksanaan manajemen aparatur sipil negara saat ini.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

Materi PKn SMP Kelas 9 (Landasan Hukum tentang Kewajiban Membela Negara)

Materi PKn SMP Kelas 9 (Landasan Hukum tentang Kewajiban Membela Negara)

Konsep yang diatur dalam Pasal 30 tersebut adalah konsep pertahanan dan kemanan negara. Sedangkan konsep bela negara diatur dalam UUD 1945 Pasal 27 ayat (3) bahwa “ Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara”. Ikut serta pembelaan negara tersebut diwujudkan dalam kegiatan penyelenggaraan pertahanan negara, sebagaimana ditegaskan dalam UURI Nomor 3 tahun 2002 , Pasal 9 ayat (1) bahwa “ Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya bela negara yang diwujudkan dalam penyelenggaraan pertahanan negara”. Kemudian dalam UU RI Nomor 3 tahun 2002 bagian menimbang huruf (c) ditegaskan antara lain ”dalam penyelenggaraan pertahanan negara setiap warga negara mempunyai hak dan kewajiban untuk ikut serta dalam upaya pembelaan negara...”.
Baca lebih lanjut

3 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...