kewajiban moral

Top PDF kewajiban moral:

PENGARUH KEWAJIBAN MORAL, PEMERIKSAAN PAJAK, KONDISI KEUANGAN, DAN KUALITAS PELAYANAAN FISKUS TERHADAP KEPATUHAN WAJIB PAJAK BADAN UNTUK USAHA HOTEL (Wajib Pajak Hotel Yang Berada Di Kota Palembang) SKRIPSI

PENGARUH KEWAJIBAN MORAL, PEMERIKSAAN PAJAK, KONDISI KEUANGAN, DAN KUALITAS PELAYANAAN FISKUS TERHADAP KEPATUHAN WAJIB PAJAK BADAN UNTUK USAHA HOTEL (Wajib Pajak Hotel Yang Berada Di Kota Palembang) SKRIPSI

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah Pengaruh Kewajiban Moral, Pemeriksaan Pajak, Kondisi Keuangan, dan Kualitas Pelayanaan Fiskus Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Badan Untuk Usaha Hotel (wajib pajak hotel yang berada di Kota Palembang). Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh Kewajiban Moral, Pemeriksaan Pajak, Kondisi Keuangan, dan Kualitas Pelayanaan Fiskus Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Badan Untuk Usaha Hotel (wajib pajak hotel yang berada di Kota Palembang) baik secara parsial maupun simultan. Jenis penelitian yang digunakan adalah asosiatif. Data yang digunakan yaitu data primer. Data yang diperoleh dari 120 responden. Teknik pengumpulan data yaitu menggunkan kuisoner. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kewajiban moral berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak badan untuk usaha hotel, pemeriksaan pajak tidak berpengaruh dan tidak signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak badan untuk usaha hotel, kondisi keuangan tidak berpengaruh dan tidak signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak badan untuk usaha hotel, kualitas pelayanan fiskus berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak badan untuk usaha hotel.
Baca lebih lanjut

28 Baca lebih lajut

ANALISIS PENGARUH KEWAJIBAN MORAL, TINGKAT PENGHASILAN DAN BUDAYA ORGANISASI TERHADAP KEPATUHAN WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI DALAM PEMENUHAN KEWAJIBAN PAJAK PENGHASILAN (Studi Kasus di KPP Pratama Surakarta).

ANALISIS PENGARUH KEWAJIBAN MORAL, TINGKAT PENGHASILAN DAN BUDAYA ORGANISASI TERHADAP KEPATUHAN WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI DALAM PEMENUHAN KEWAJIBAN PAJAK PENGHASILAN (Studi Kasus di KPP Pratama Surakarta).

Kewajiban moral merupakan norma individu yang dipunyai oleh seseorang. Adanya kewajiban moral akan mendorong seseorang untuk patuh dalam wajib pajak. Blanthorne (2000), Kaplan, Newbery & Reckers (1997), Hanno & Violette (1996) dalam Mustikasari (2007: 6) telah membuktikan secara empiris, bahwa kewajiban moral berpengaruh secara negatif signifikan terhadap niat ketidakpatuhan pajak. Selain itu kondisi keuangan seseorang juga mempengaruhi kepatuhan membayar pajak. Seseorang yang mepunyai tingkat penghasilan yang tinggi cenderung melaporkan pajaknya dengan jujur daripada yang mempunyai penghasilan rendah (Slemrod, 1992; Bradley, 1994; dan Siahaan, 2005 dalam Mustikasari, 2007: 9). Pada sisi lain budaya organisasi yang positif akan mendukung tax profesional untuk berperilaku patuh. Vardi (2001) dalam Mustikasari, (2007: 9) secara empiris telah membuktikan bahwa budaya organisasi berpengaruh secara signifikan terhadeap perilaku organizational misbehavior (OMB).
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Pengaruh Norma Subjektif, Kewajiban Moral, dan Pemahaman Wajib Pajak terhadap Kepatuhan Wajib Pajak.

Pengaruh Norma Subjektif, Kewajiban Moral, dan Pemahaman Wajib Pajak terhadap Kepatuhan Wajib Pajak.

Dalam penelitian Mustikasari (2007), salah satu variabel yang diteliti adalah kewajiban moral terhadap niat tax professional berperilaku tidak patuh dan ketidak patuhan pajak badan. Salah satu hasil penelitiannya meyimpulkan bahwa kewajiban moral berpengaruh negatif dan signifikan terhadap tax professional untuk berperilaku tidak patuh. Sejalan dengan penelitian Mustikasari tersebut, Torgler (2002) menjelaskan bahwa mematuhi atau tidak (ketentuan pajak) bukan hanya sebuah fungsi dari kesempatan, tarif pajak, atau kemungkinan terdeteksi, melainkan juga sebuah fungsi dari kerelaan seorang individu untuk mematuhi atau menghindari. Ketika moral pajak mendukung, kepatuhan pajak secara relatif akan tinggi.
Baca lebih lanjut

29 Baca lebih lajut

PENGARUH SOSIALISASI PERPAJAKAN, KEWAJIBAN MORAL, PEMERIKSAAN PAJAK, KONDISI KEUANGAN DAN KUALITAS PELAYANAN FISKUS TERHADAP KEPATUHAN WAJIB PAJAK BADAN UNTUK USAHA RESTORAN (Wajib Pajak Restoran di Wilayah Kec.Ilir Timur Yang Berada di KotaPalembang) -

PENGARUH SOSIALISASI PERPAJAKAN, KEWAJIBAN MORAL, PEMERIKSAAN PAJAK, KONDISI KEUANGAN DAN KUALITAS PELAYANAN FISKUS TERHADAP KEPATUHAN WAJIB PAJAK BADAN UNTUK USAHA RESTORAN (Wajib Pajak Restoran di Wilayah Kec.Ilir Timur Yang Berada di KotaPalembang) -

Pajak memiliki peran yang sangat penting bagi penerimaan negara untuk mendanai berbagai bentuk pengeluaran dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, mempertimbangkan peran penting pajak, pemerinta dalam hal ini, Direktorat Jendral Pajak telah melakukan berbagai upaya untuk memaksimalkan penerimaan pajak. Salah satunya adalah transformasi sistem pembayaran pajak dari sistem penilaian resmi menjadi sistem penilaian diri. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh sosialisasi perpajakan, kewajiban moral, pemeriksaan pajak, kondisi keuangan dan kualitas pelayanan fiskus terhadap kepatuhan wajib pajak badan untuk usaha restoran. Jenis penelitian yang digunakan adalah asosiatif. Data yang digunakan yaitu data primer. Data yang diperoleh dari 50 responden. Teknik pengumpulan data yaitu menggunkan kuisoner. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa sosialisasi perpajakan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak badan usaha restoran, kewajiban moral berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak badan usaha restoran, pemeriksaan pajak tidak berpengaruh dan tidak signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak badan usaha restoran, kondisi keuangan berpengaruh negative dan signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak badan usaha restoran, pelayanan fiskus tidak berpengaruh dan tidak signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak badan usaha restoran.
Baca lebih lanjut

30 Baca lebih lajut

PENGARUH KUALITAS PELAYANAN, KEWAJIBAN MORAL DAN SANKSI PERPAJAKAN TERHADAP KEPATUHAN WAJIB PAJAK  Pengaruh Kualitas Pelayanan, Kewajiban Moral Dan Sanksi Perpajakan Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Dalam Membayar Pajak Hotel Di Kota Surakarta.

PENGARUH KUALITAS PELAYANAN, KEWAJIBAN MORAL DAN SANKSI PERPAJAKAN TERHADAP KEPATUHAN WAJIB PAJAK Pengaruh Kualitas Pelayanan, Kewajiban Moral Dan Sanksi Perpajakan Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Dalam Membayar Pajak Hotel Di Kota Surakarta.

Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian survey dimana peneliti mengumpulkan informasi dari responden dengan menggunakan kuesioner. Penelitian ini bersifat kausal, yaitu penelitian yang dimaksudkan untuk mengungkapkan permasalahan berupa sebab akibat. Dengan demikian, penelitian ini menggambarkan hubungan kausal antara kualitas pelayanan, kewajiban moral dan sanksi perpajakan dengan kepatuhan wajib pajak dalam membayar pajak hotel. Penelitian ini mengambil obyek penelitian di DPPKA Kota Surakarta dan responden dalam penelitian ini adalah wajib pajak hotel di Kota Surakarta.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Makalah Filsafat Ilmu etika pendidikan s

Makalah Filsafat Ilmu etika pendidikan s

Secara etimologi (bahasa) “etika” berasal dari kata bahasa Yunani ethos. Dalam bentuk tunggal , “ethos” berarti tempat tinggal yang biasa, padang rumput, kandang, kebiasaan, adat, akhlak, perasaan, cara berfikir. Dalam bentuk jamak, ta etha berarti adat kebiasaan. Dalam istilah filsafat, etika berarti ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, etika adalah ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak. Etika dibedakan dalam tiga pengertian pokok, yaitu ilmu tentang apa yang baik, dan kewajiban moral, kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak, dan nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

PENGARUH KUALITAS PELAYANAN, KEWAJIBAN MORAL DAN SANKSI PERPAJAKAN TERHADAP KEPATUHAN WAJIB PAJAK  Pengaruh Kualitas Pelayanan, Kewajiban Moral Dan Sanksi Perpajakan Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Dalam Membayar Pajak Hotel Di Kota Surakarta.

PENGARUH KUALITAS PELAYANAN, KEWAJIBAN MORAL DAN SANKSI PERPAJAKAN TERHADAP KEPATUHAN WAJIB PAJAK Pengaruh Kualitas Pelayanan, Kewajiban Moral Dan Sanksi Perpajakan Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Dalam Membayar Pajak Hotel Di Kota Surakarta.

Syukur alkhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat hidayahNya serta memberikan kekuatan, ketabahan, kemudahan dalam menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul “ PENGARUH KUALITAS PELAYANAN, KEWAJIBAN MORAL DAN

15 Baca lebih lajut

MENERAPKAN ETIKA NILAI MAX SCHELER DALAM PERKULIAHAN PENDIDIKAN PANCASILA UNTUK MEMBANGUN KESADARAN MORAL MAHASISWA | Wahana | Jurnal Filsafat 12783 25422 1 SM

MENERAPKAN ETIKA NILAI MAX SCHELER DALAM PERKULIAHAN PENDIDIKAN PANCASILA UNTUK MEMBANGUN KESADARAN MORAL MAHASISWA | Wahana | Jurnal Filsafat 12783 25422 1 SM

Lembaga Perguruan Tinggi, selain mengembangkan kemampuan akademis ju- ga memberikan matakuliah yang diharapkan dapat membangun kepribadian mahasiswa secara utuh. Matakuliah Pendidikan Pancasila, sebagai salah satu matakuliah pengembangan kepribadian, diharapkan dapat membangun kesa- daran moral mahasiswa untuk mewujudkan kehidupan yang bernilai tinggi, yaitu sesuai dengan nilai-nilai luhur Pancasila. Max Scheler merupakan tokoh filsafat moral, yang menawarkan etika nilai material; menawarkan nilai seba- gai landasan pertimbangan bagi tindakan manusia. Menurut pemahaman Max Scheler, dasar tindakan moral manusia diharapkan di satu pihak tidak hanya berhenti pada kesadaran untuk mencari kenikmatan atau kesenangan pribadi belaka (hedonis), dan di lain pihak juga tidak hanya berhenti pada kesa- daran mentaati perintah untuk menjalankan kewajiban saja (deontologis), melainkan didasari oleh kesadaran akan kewajiban melakukan tindakan moral untuk mewujudkan nilai positif dan nilai yang lebih luhur dalam kehidupan manusia. Tulisan ini bertujuan menjelaskan penerapan Etika Nilai Max Sche- ler sebagai landasan bagi perkuliahan Pendidikan Pancasila untuk memba- ngun kesadaran moral mahasiswa. Kesadaran moral mahasiswa diharapkan tidak hanya didasarkan pada kesadaran moral untuk mencari kenikmatan atau kesenangan pribadi belaka, dan tidak hanya didasarkan pada ketaatan (buta) pada aturan atau lembaga, melainkan kesadaran akan adanya kewajiban moral untuk mewujudkan kehidupan yang bernilai positif dan bernilai luhur, yang tidak lain adalah nilai-nilai luhur Pancasila.
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

KEPRIBADIAN Kepribadian Muslim itu tidak

KEPRIBADIAN Kepribadian Muslim itu tidak

disebut dengan kewajiban moral Kewajiban moral sebagai hasil dari tuntutan nilai moral seperti ini pada prinsipnya merupakan sesuatu yang tidak dapat ditawar-tawar, manusia akan sealalu memiliki kecenderungan untuk melakukan nilai-nilai moral selain sesuai dengan fitrah yang telah dimilikinya sebagai makhluk bermoral, juga nilai moral tersebut merupakan substansi dari perilaku moral itu sendiri, misalnya pada perilaku jujur, nilai moral pada perilaku ini memang ada pada perilaku jujur itu sendiri, tidak di luar atau konsekuensi dari perilaku itu sendiri.[11]
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

PENERAPAN ETIKA BISNIS PADA PT. KK INDONESIA | Sinarta | Agora 1505 2769 1 SM

PENERAPAN ETIKA BISNIS PADA PT. KK INDONESIA | Sinarta | Agora 1505 2769 1 SM

PT. X memiliki kewajiban moral yang berada pada tahap postcoventional dan menggunakan pendekatan physchological dimana perusahaan ini mengimplementasikan etika bisnis sesuai prinsip-prinsip yang ada. Tujuan PT. X ini adalah melayani semua stakeholder dan berkomitmen pada semua stakeholder. PT. X ini membentuk sebuah nature yang terdiri dari culture yang mengandung integritas moral. Dimana perusahaan ini memiliki kewajiban moral dan prinsip yang kuat dalam penerapan etika bisnis pada PT. X. Hal itu diwujudkan oleh para leader, manajer, dan staf yang terlibat dalam PT. X dimana penerapan etika bisnis pada perusahaan ini dapat digolongkan ke physchological dimana perusahaan ini mempunya level personal development yang berada pada tahap postconventional dan mereka memiliki 7 prinsip yang terdiri dari prinsip otonomi, prinsip kejujuran. prinsip keadilan, prinsip saling menguntungkan, integritas moral, prinsip kelestarian lingkungan hidup, prinsip keselamatan konsumen.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Menerapkan etika nilai Max Scheler dalam perkuliahan pendidikan Pancasila untuk membangun kesadaran moral mahasiswa.

Menerapkan etika nilai Max Scheler dalam perkuliahan pendidikan Pancasila untuk membangun kesadaran moral mahasiswa.

Lembaga Perguruan Tinggi, selain mengembangkan kemampuan akademis ju- ga memberikan matakuliah yang diharapkan dapat membangun kepribadian mahasiswa secara utuh. Matakuliah Pendidikan Pancasila, sebagai salah satu matakuliah pengembangan kepribadian, diharapkan dapat membangun kesa- daran moral mahasiswa untuk mewujudkan kehidupan yang bernilai tinggi, yaitu sesuai dengan nilai-nilai luhur Pancasila. Max Scheler merupakan tokoh filsafat moral, yang menawarkan etika nilai material; menawarkan nilai seba- gai landasan pertimbangan bagi tindakan manusia. Menurut pemahaman Max Scheler, dasar tindakan moral manusia diharapkan di satu pihak tidak hanya berhenti pada kesadaran untuk mencari kenikmatan atau kesenangan pribadi belaka (hedonis), dan di lain pihak juga tidak hanya berhenti pada kesa- daran mentaati perintah untuk menjalankan kewajiban saja (deontologis), melainkan didasari oleh kesadaran akan kewajiban melakukan tindakan moral untuk mewujudkan nilai positif dan nilai yang lebih luhur dalam kehidupan manusia. Tulisan ini bertujuan menjelaskan penerapan Etika Nilai Max Sche- ler sebagai landasan bagi perkuliahan Pendidikan Pancasila untuk memba- ngun kesadaran moral mahasiswa. Kesadaran moral mahasiswa diharapkan tidak hanya didasarkan pada kesadaran moral untuk mencari kenikmatan atau kesenangan pribadi belaka, dan tidak hanya didasarkan pada ketaatan (buta) pada aturan atau lembaga, melainkan kesadaran akan adanya kewajiban moral untuk mewujudkan kehidupan yang bernilai positif dan bernilai luhur, yang tidak lain adalah nilai-nilai luhur Pancasila.
Baca lebih lanjut

29 Baca lebih lajut

MEMBANGUN KECERDASAN MORAL PADA SISWA MI

MEMBANGUN KECERDASAN MORAL PADA SISWA MI

2. Pada usia MI, anak sudah dapat mengikuti pertautan atau tuntutan dari orang tua atau lingkungan sosialnya. Pada akhir usia ini, anak sudah memahami alasan yang mendasari suatu peraturan. Di samping itu, anak sudah dapat mengasosiasikan setiap bentuk perilaku dengan konsep benar-salah atau baik-buruk. Misalnya, dia menilai bahwa perbuatan nakal, berdusta, dan tidak hormat kepada orang tua merupakan suatu yang salah atau buruk. Sedangkan perbuatan jujur, adil dan sikap hormat kepada orang tua dan guru merupakan sesuatu yang benar atau baik. Klasifikasi perkembangan moral menurut Abid Syamsudin Makmun, sebagai berikut : 24
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Lanjut ke konten renavirgiana My World M

Lanjut ke konten renavirgiana My World M

Hormat pada hak dan kepentingan stakeholders atau pihak-pihak terkait yang mempunyai kepentingan langsung dan tidak langsung dengan kegiatan bisnis suatu perusahaan. Perusahaan secara moral dituntut dan menuntut diri untuk bertanggung jawab atas hak dan kepentingan pihak-pihak terkait yang punya kepentingan.Artinya dalam kegiatan bisnisnya suatu perusahaan perlu memperhatikan hak dan kepentingan pihak-pihak tersebut: konsumen, buruh, investor, kreditor, pemasok, penyalur, masyarakat setempat, pemerintah dan seterusnya. Tanggung jawab sosial perusahaan lalu menjadi hal yang begitu kongkret, baik demi terciptanya suatu kehidupan sosial yang baik maupun demi kelangsungan dan keberhasilan kegiatan bisnis perusahaan tersebut.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PEMAKNAAN ABDI DALEM TERHADAP MANFAAT YANG DIDAPATKAN DARI KERATON YOGYAKARTA Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi

PEMAKNAAN ABDI DALEM TERHADAP MANFAAT YANG DIDAPATKAN DARI KERATON YOGYAKARTA Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi

sesuai aturan pada umumnya, yaitu sowan atau kerja normal 12 hari sekali dan datang pada Hari Selasa Wage saat wiyosipun dalem.Bagi para Abdi Dalem Punakawan Tepas berkerja di kantor pemerintahan Keraton, maka sowan atau datangnya datangnya setiap hari, contohnya seperti membersihkan museum kereta Keraton atau di bagian administrasi pemerintah Keraton Yogyakarta. Pada saat Abdi Dalem caosatau menjalankan tugas, maka mereka diwajibkan memakai pakaian mataraman/ Jawa (pranakan). Bagi Abdi Dalem kaprajan, jika masih aktif sebagai PNS maka kewajibannya hanya caos (datang) dalam upacara- upacara adat yang dilakukan oleh pihak keratin; seperti syawalan, labuhan, siraman pusaka, Selasa Wage (penobatan Sultan), dan Mauludan atau Grebegan. Jika sudah pension atau tidak aktif sebagai PNS dan diminta membantu di kantor (tepas) pemerintahan Keraton, maka selain diwajibkan mengikuti upacara-upacara adat tersebut diwajibkan juga caos atau sowanbakti lebih intensif lagi. Pada abdi dale mini paling tidak mempunyai kewajiban datang ke Keraton 1-3 kali dalam seminggu dari jam 09.00 sampai dengan 12.00 WIB (Sudaryanto, 2008).
Baca lebih lanjut

140 Baca lebih lajut

Hubungan patron klien antara pemilik lahan dengan buruh tani (studi di Desa Sipangan Bolon kecamatan Girsang Sipangan Bolon Kabupaten Simalungun)

Hubungan patron klien antara pemilik lahan dengan buruh tani (studi di Desa Sipangan Bolon kecamatan Girsang Sipangan Bolon Kabupaten Simalungun)

Pada masyarakat Desa Sipangan Bolon, para petani juga menciptakan sebuah hubungan antar pemilik lahan dengan buruh tani. Hubungan patron klien ini terlihat dari adanya pertukaran yang tidak seimbang dimana klien akan memberikan jasanya berupa tenaga kepada patron untuk mengerjakan lahan pertaniannya. Sedangkan patron akan membalasnya dengan memberikan upah, memberikan bantuan dalam bentuk barang dan bahkan akan memberikan jaminan atau perlindungan kepada kliennya. Kondisi ini serupa dengan yang diungkapkan Scott dalam Kausar (2009) bahwa dalam hubungan patron klien terdapatnya ketidaksamaan dalam pertukaran yang menggambarkan perbedaan dalam kekuasaan, kekayaan dan kedudukan. Klien adalah seorang yang masuk dalam hubungan pertukaran tidak seimbang, Ia tidak mampu membalas sepenuhnya pemberian patron, hutang kewajiban mengikatnya dan tergantung kepada patron (Kausar, 2009). Pemilik lahan disini sebagai patron yaitu sebagai pelindung atau pemberi jaminan, sedangkan buruh tani yang akan menerima jaminan tersebut. Pemilik lahan akan memberikan bantuan – bantuan saat buruh tani yang bertindak sebagai klien mengalami kesulitan. Sebagaimana yang diutarakan oleh Ibu Erita saat wawancara:
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Hubungan patron klien antara pemilik lahan dengan buruh tani (studi di Desa Sipangan Bolon kecamatan Girsang Sipangan Bolon Kabupaten Simalungun)

Hubungan patron klien antara pemilik lahan dengan buruh tani (studi di Desa Sipangan Bolon kecamatan Girsang Sipangan Bolon Kabupaten Simalungun)

Pada masyarakat Desa Sipangan Bolon, para petani juga menciptakan sebuah hubungan antar pemilik lahan dengan buruh tani. Hubungan patron klien ini terlihat dari adanya pertukaran yang tidak seimbang dimana klien akan memberikan jasanya berupa tenaga kepada patron untuk mengerjakan lahan pertaniannya. Sedangkan patron akan membalasnya dengan memberikan upah, memberikan bantuan dalam bentuk barang dan bahkan akan memberikan jaminan atau perlindungan kepada kliennya. Kondisi ini serupa dengan yang diungkapkan Scott dalam Kausar (2009) bahwa dalam hubungan patron klien terdapatnya ketidaksamaan dalam pertukaran yang menggambarkan perbedaan dalam kekuasaan, kekayaan dan kedudukan. Klien adalah seorang yang masuk dalam hubungan pertukaran tidak seimbang, Ia tidak mampu membalas sepenuhnya pemberian patron, hutang kewajiban mengikatnya dan tergantung kepada patron (Kausar, 2009). Pemilik lahan disini sebagai patron yaitu sebagai pelindung atau pemberi jaminan, sedangkan buruh tani yang akan menerima jaminan tersebut. Pemilik lahan akan memberikan bantuan – bantuan saat buruh tani yang bertindak sebagai klien mengalami kesulitan. Sebagaimana yang diutarakan oleh Ibu Erita saat wawancara:
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

BAB IV PENUTUP - Konsep kehendak bebas menurut Henri Bergson dalam time and free will - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository

BAB IV PENUTUP - Konsep kehendak bebas menurut Henri Bergson dalam time and free will - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository

Konsep kehendak bebas Henri Bergson, yang didasarkan pada intuisi, menunjukan bahwa kehendak merupakan dasar untuk bertindak. Tindakan dari kehendak bukanlah aktivitas biologis melainkan aktivitas batin. Tindakan khas manusia tersebut dapat disebut sebagai tindakan moral. Pada binatang suatu keharusan merupakan keharusan alamiah. 16 Sementara pada manusia selain keharusan alamiah ada keharusan moral. Keharusan moral didasarkan pada kenyataan bahwa manusia mengatur tingkah lakunya menurut norma-norma. 17 Melalui konsep metafis kehendak bebas Henri Bergson dapat kita lihat adanya relevansi antara konsep kehendak bebas tersebut dengan etika. Tindakan bermoral mengandaikan adanya kehendak bebas. Tanpa kehendak bebas suatu tindakan tak dapat dipertanggungjawabkan secara moral. Dalam menentukan suatu tindakan kebebasan menjamin ‘penentuan oleh aku’, dimana ‘aku’ adalah subyek dan sekaligus adalah obyek dari pilihan tindakan. 18
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Pemaknaan Abdi Dalem terhadap manfaat yang didapatkan dari Keraton Yogyakarta.

Pemaknaan Abdi Dalem terhadap manfaat yang didapatkan dari Keraton Yogyakarta.

sesuai aturan pada umumnya, yaitu sowan atau kerja normal 12 hari sekali dan datang pada Hari Selasa Wage saat wiyosipun dalem.Bagi para Abdi Dalem Punakawan Tepas berkerja di kantor pemerintahan Keraton, maka sowan atau datangnya datangnya setiap hari, contohnya seperti membersihkan museum kereta Keraton atau di bagian administrasi pemerintah Keraton Yogyakarta. Pada saat Abdi Dalem caosatau menjalankan tugas, maka mereka diwajibkan memakai pakaian mataraman/ Jawa (pranakan). Bagi Abdi Dalem kaprajan, jika masih aktif sebagai PNS maka kewajibannya hanya caos (datang) dalam upacara- upacara adat yang dilakukan oleh pihak keratin; seperti syawalan, labuhan, siraman pusaka, Selasa Wage (penobatan Sultan), dan Mauludan atau Grebegan. Jika sudah pension atau tidak aktif sebagai PNS dan diminta membantu di kantor (tepas) pemerintahan Keraton, maka selain diwajibkan mengikuti upacara-upacara adat tersebut diwajibkan juga caos atau sowanbakti lebih intensif lagi. Pada abdi dale mini paling tidak mempunyai kewajiban datang ke Keraton 1-3 kali dalam seminggu dari jam 09.00 sampai dengan 12.00 WIB (Sudaryanto, 2008).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Analisis Moralitas Dalam Teks Novel Saga No Gabai Bachan Karya Yoshichi Shimada

Analisis Moralitas Dalam Teks Novel Saga No Gabai Bachan Karya Yoshichi Shimada

Moral sastra adalah kajian sastra yang memandang karya sastra sebagai wadah atau sarana untuk menyampaikan pesan-pesan moral kepada para pembacanya (KBBI, 1988). Pendekatan moral ini bertolak dari dasar pemikiran bahwa suatu karya sastra dianggap sebagai suatu medium atau alat yang paling efektif dalam membina moral dan kepribadian suatu kelompok masyarakat yang biasanya bisa diartikan sebagai norma yang berlaku di masyarakat. Norma bisa berdasarkan budaya atau konsep-konsep religi. Secara umum moral menyaran pada pengertian (tentang ajaran) baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap kewajiban dan sebagainya; akhlak, budi pekerti, susila
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

KAIDAH DASAR MORAL DAN TEORI ETIKA DALAM

KAIDAH DASAR MORAL DAN TEORI ETIKA DALAM

Bioetika kedokteran merupakan salah satu etika khusus dan etika sosial dalam kedokteran yang memenuhi kaidah praksiologik (praktis) dan flsafat moral (normatif) yang berfungsi sebagai pedoman (das sollen) maupun sikap kritis refektif (das sein), yang bersumber pada 4 kaidah dasar moral beserta kaidah turunannya. Kaidah dasar moral bersama dengan teori etika dan sistematika etika yang memuat nilai-nilai dasar etika merupakan landasan etika profesi luhur kedokteran. Pemahaman awal kaidah dasar moral akan menimbulkan kesadaran moral, yang dengan latihan dan paparan terhadap kasus- kasus kedokteran yang sebelumnya dan berkembang di masa mendatang diharapkan akan membekali kemampuan refektif-analitik dokter, termasuk mahasiswa kedokteran, yang dengan mekanisme pendidikan dalam rangka saling mengingatkan terus menerus dan mencegah penyimpangan (amar ma’ruf – nahi mungkar) antar anggota profesi pada akhirnya akan menumbuhkan tangungjawab etis sesuai dengan moralitas profesi kedokteran. Tanggungjawab etis yang merupakan suara hati seorang dokter akan mempertahankan perilaku etis seluruh anggota profesi agar korps dokter ke depan tetap merupakan profesi mulia dengan setiap anggotanya masing-masing memiliki kesucian hati nurani.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 8355 documents...