kewaspadaan universal

Top PDF kewaspadaan universal:

Laporan Penelitian Hubungan Pengetahuan, Sikap, Dan Pelaksanaan Prosedur Kewaspadaan Universal Perawat Dalam Pencegahan Penularan HIV/AIDS Di Puskesmas Tasikmalaya.

Laporan Penelitian Hubungan Pengetahuan, Sikap, Dan Pelaksanaan Prosedur Kewaspadaan Universal Perawat Dalam Pencegahan Penularan HIV/AIDS Di Puskesmas Tasikmalaya.

31 kesehatan di dunia diperkirakan mengalami 2 juta kecelakaan kerja cedera benda tajam yang menjadi perantara penularan hepatitis B, C, dan HIV (Wilburn & Eijkemans, 2004). Angka kejadian tersebut pun masih perkiraan kasar, angka sebenarnya bisa lebih besar lagi karena beberapa kasus banyak yang tidak tercatat dan tidak dilaporkan. Data dari survei keselamatan injeksi yang dilakukan oleh WHO mengungkap bahwa di Asia, Afrika, dan Mediteran Timur, seorang tenaga kesehatan rata-rata mengalami cedera benda tajam sebanyak 4 kali per tahun (WHO, 2003). Dua penyebab yang paling umum dari cedera benda tajam ini yaitu penutupan kembali jarum suntik dengan dua tangan dan pengumpulan dan pembuangan limbah benda tajam yang tidak aman (WHO, 2003). Hal ini diperkuat dengan data pada diagram 5.2 yang menunjukkan bahwa sebagian besar responden belum pernah mendapatkan pelatihan kewaspadaan universal selama bekerja di puskesmas.
Baca lebih lanjut

36 Baca lebih lajut

GAMBARAN PELAKSANAAN KEWASPADAAN UNIVERSAL DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr MOEWARDI SURAKARTA

GAMBARAN PELAKSANAAN KEWASPADAAN UNIVERSAL DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr MOEWARDI SURAKARTA

Dalam teori pedoman pelaksanaan kewaspadaan universal pengelolaan alat bertujuan untuk mencegah penyebaran infeksi melalui alat tersebut untuk menjamin alat tersebut dalam kondisi steril dan siap pakai. Dengan adanya perawat yang melakukan prosedur pengelolaan alat di dukung oleh hasil penelitian INNOS pada kondisi sterilitas beberapa jenis peralatan operasi di RSUD Dr Mowardi Surakarta didapatkan baju oeprasi jumlah kuman atau swab 2 terdapat mikro organisme jenis Stapilococus dan hasil pertumbuhan kuman tidak steril, sarung tangan jumlah kuman / swab, mikro organisme jenisnya Streptococus pertumbuhan juman tidak steril dan handuk jumlah kuman / swab 5 terdapat mikro organisme Strptococus pertumbuhan kuman tidak steril.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

PENGETAHUAN, SIKAP, DAN PERILAKU BIDAN PRAKTIK MANDIRI TERHADAP UPAYA KEWASPADAAN UNIVERSAL DI PROVINSI JAWA BARAT DAN KALIMANTAN TIMUR Knowledge, Attitudes, and Behavior of Private Midwifery Practice Regarding to Universal Precautions in West Java and Ea

PENGETAHUAN, SIKAP, DAN PERILAKU BIDAN PRAKTIK MANDIRI TERHADAP UPAYA KEWASPADAAN UNIVERSAL DI PROVINSI JAWA BARAT DAN KALIMANTAN TIMUR Knowledge, Attitudes, and Behavior of Private Midwifery Practice Regarding to Universal Precautions in West Java and Ea

Untuk pengetahuan jenis komponen penularan penyakit yang menjawab benar hanya 42,1%, hal tersebut kemungkinan disebabkan usia dari responden yang sebagian besar ≥ 35 tahun dimana usia tersebut masuk ke dalam usia dewasa pertengahan (40-60 tahun). Berdasarkan umur, persentase responden yang mempunyai pengetahuan benar terhadap kewaspadaan universal pada kelompok responden yang lebih tua persentasenya lebih tinggi. Hal ini kemungkinan karena pada kelompok responden yang berumur lebih tua mempunyai pengalaman bekerja lebih lama. Hal ini didukung oleh hasil pengolahan data yang menunjukkan bahwa persentase responden dengan pengetahuan benar pada kelompok responden dengan pengalaman bekerja lebih 10 tahun lebih tinggi dibanding yang dengan responden dengan pengalaman bekerja kurang dari 10 tahun. Menurut Darmojo (2009) sistem syaraf pusat dan otonom, berat otak akan menurun sebanyak sekitar 10% pada penuaan antara umur 30 sampai 70 tahun (Darmojo, 2009). Dengan bertambahnya umur manusia, secara generatif berdampak pada perubahan tidak hanya perubahan fisik, tetapi juga perasaan, kognitif, sosial dan seksual. Perubahan
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

FAKTOR - FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEPATUHAN PENERAPAN PRINSIP KEWASPADAAN UNIVERSAL (UNIVERSAL PRECAUTION) OLEH PERAWAT DI INSTALASI GAWAT DARURAT RSUP DR. M. DJAMIL PADANG TAHUN 2010.

FAKTOR - FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEPATUHAN PENERAPAN PRINSIP KEWASPADAAN UNIVERSAL (UNIVERSAL PRECAUTION) OLEH PERAWAT DI INSTALASI GAWAT DARURAT RSUP DR. M. DJAMIL PADANG TAHUN 2010.

Kewaspadaan universal (Universal precaution) adalah suatu tindakan pengendalian infeksi yang dilakukan oleh seluruh tenaga kesehatan untuk mengurangi resiko penyebaran infeksi dengan didasarkan pada prinsip bahwa darah dan cairan tubuh dapat berpotensi menularkan penyakit, baik berasal dari pasien maupun petugas kesehatan (Nursalam, 2007). Infeksi silang yang terjadi di suatu pusat pelayanan kesehatan atau yang kita kenal sebagai infeksi nosokomial merupakan salah satu resiko kerja terbesar yang dihadapi oleh tenaga kesehatan yang ada di setiap pusat pelayanan kesehatan. Seperti yang diperkirakan WHO pada tahun 2002, telah terjadi lebih dari 16.000 kasus penularan hepatitis C virus, 66.000 kasus penularan hepatitis B dan 1000 kasus penularan HIV pada tenaga kesehatan diseluruh dunia (Yusran, 2008).
Baca lebih lanjut

0 Baca lebih lajut

UPAYA PENCEGAHAN PENYEBARAN HIV/AIDS DI MASYARAKAT MELALUI SOSIALISASI PENERAPAN KEWASPADAAN UNIVERSAL PADA PETUGAS KESEHATAN.

UPAYA PENCEGAHAN PENYEBARAN HIV/AIDS DI MASYARAKAT MELALUI SOSIALISASI PENERAPAN KEWASPADAAN UNIVERSAL PADA PETUGAS KESEHATAN.

universal maka petugas kesehatan di jajaran masyarakat pun dituntut untuk mempunyai pengetahuan yang cukup terkait dengan penerapan kewaspadaan universal ini. Untuk itu dirasa perlu adanya sebuah upaya pencegahan penyebaran HIV/AIDS dengan cara mensosialisasikan penerapan kewaspadaan universal di masyarakat terutama bagi petugas kesehatan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini mempunyai tujuan yaitu:

9 Baca lebih lajut

RESIKO PENULARAN INFEKSI DI RUANG AUTOPSI DAN PENERAPAN KEWASPADAAN UNIVERSAL

RESIKO PENULARAN INFEKSI DI RUANG AUTOPSI DAN PENERAPAN KEWASPADAAN UNIVERSAL

Peningkatan resiko penularan infeksi di ruang autopsi semakin meningkat. Hal ini terjadi karena peningkatan jumlah kasus korban meninggal yang terinfeksi penyakit terutama di negara berkembang. Beberapa studi menyatakan terjadinya peningkatan prevalensi HIV, hepatitis B, C, D dan G, tuberkulosis, penyakit Prion, Hantavirus, campak, infeksi bakteri atau HTCV pada pekerja di ruang autopsi. Penerapan kewaspadaan universal, termasuk standar OSHA, pemilihan disinfektan dan pengolahan limbah medis sangat penting diperhatikan untuk mencegah resiko terjadinya penularan infeksi. Tujuan penulisan tinjauan pustaka ini adalah mengetahui risiko penularan infeksi pada pekerja di ruang autopsi dan penerapan kewaspadaan universal. Penulisan ini berdasarkan studi kepustakaan yang terkait dengan dua topik ini. Penerapan kewaspadaan universal sangat diperlukan dalam pencegahan penularan penyakit infeksi pada pekerja di ruang autopsi yaitu meliputi penggunaan alat pelindung diri yang tepat, perilaku, tindakan mencegah infeksi, disinfeksi dan penanganan sampah medis yang sesuai aturan.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Tindakan Kewaspadaan Universal Sebagai Upaya Untuk Mengurangi Resiko Penyebaran Infeksi.

Tindakan Kewaspadaan Universal Sebagai Upaya Untuk Mengurangi Resiko Penyebaran Infeksi.

Perawat sebagai petugas kesehatan yang memberikan pelayanan keperawatan dan melakukan prosedur keperawatan untuk memenuhi kebutuhan pasien akan kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh pasien. Hal ini sangat berisiko terpapar infeksi yang secara potensial membahayakan jiwanya, dan menjadi tempat dimana agen infeksius dapat berkembang biak yang kemudian menularkan infeksi dari satu pasien kepasien lain. Oleh karena itu tindakan kewaspadaan universal sangat penting dilakukan.

40 Baca lebih lajut

Pengetahuan, Sikap, Dan Praktik Kewaspadaan Universal Perawat Terhadap Penularan HIV/AIDS.

Pengetahuan, Sikap, Dan Praktik Kewaspadaan Universal Perawat Terhadap Penularan HIV/AIDS.

using proposionate stratified random sampling. The instrument was KAP (Knowledge Attitudes Practices) questionnaire consisted of demographic data form, knowledge, attitude, and self-reported practices regarding universal precaution. The collected data, then were analyzed both descriptively and inferentially by using pearson product moment correlation. Results: The majority of respondents reported experience of sharp injuries. More than a half of respondents had a good knowledge level about universal precaution and HIV/AIDS transmission, and showed favorable attitude toward caring for HIV/AIDS patients. There was significant correlation between knowledge and practice (r=0,271 p=< 0, 01), whereas no correlation between knowledge and attitude score, and attitude and practice score. Discussion: It is need to be taken immediately to prevent and minimize the occurrence of sharp injuries among nurses in order to assure safety working condition to improve the productivity of nursing service. Updating knowledge, developing positive attitude, and continuing evaluation should be done simultaneously to improve the nurses&rsquo; competence in preventing the occupational related-disease.
Baca lebih lanjut

3 Baca lebih lajut

Tindakan Perawat Dalam Pencegahan Infeksi Nosokomial Pada Pemasangan Kateter Urin di Rumah Sakit Pulo Brayan Medan Tahun 2014

Tindakan Perawat Dalam Pencegahan Infeksi Nosokomial Pada Pemasangan Kateter Urin di Rumah Sakit Pulo Brayan Medan Tahun 2014

Panduan pencegahan infeksi untuk fasilitas pelayanan kesehatan dengan sumber daya terbatas, Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirahardjo.. Gambaran kewaspadaan universal di RSUD [r]

2 Baca lebih lajut

Penerapan Universal Precaution Se Belajar Praktik Klinik pada Mahasiswa Tahap Pendidikan Profesi Ners Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara

Penerapan Universal Precaution Se Belajar Praktik Klinik pada Mahasiswa Tahap Pendidikan Profesi Ners Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara

Menurut Tietjen (2004) penggunaan pembatas fisik, mekanik, atau kimiawi antara mikroorganisme dan individu, misalnya ketika pemeriksaan kehamilan, pasien rawat inap merupakan alat yang sangat efektif untuk mencegah penularan infeksi. Adapun prinsip utama prosedur Kewaspadaan Universal dalam pelayanan kesehatan adalah menjaga higiene sanitasi individu, higiene sanitasi ruangan dan sterilisasi peralatan. Ketiga prinsip tersebut dijabarkan menjadi beberapa kegiatan pokok seperti:

10 Baca lebih lajut

repository%20rilin%20unand

repository%20rilin%20unand

Iklim keselamatan kerja merupakan persepsi dari pekerja mengenai keselamatan dan lingkungan kerja mereka dan menjadi landasan mereka untuk mengerjakan tugas sehari-hari (Hahn, 2008 dalam Yuliana, 2013). Kondisi ini merupakan gabungan dari berbagai faktor seperi pengambilan keputusan oleh manajemen, adanya norma keselamatan ditempat kerja dan praktik keselamatan kerja, serta kebijakan dan prosedur yang menghasilkan komitmen organisasi dalam hal keselamatan. Iklim keselamatan merupakan faktor penguat dalam lingkungan kerja dengan meningkatkan kepatuhan terhadap perlindungan pribadi, khususnya alat pelindung diri (Prihatiningsih, 2010). Perawat yang merasa iklim keselamatan ditempat kerjanya sudah baik memiliki kecenderungan 2,9 kali lebih patuh terhadap penerapan kewaspadaan universal ( Mc. Govern, 2000).
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA DI RUMAH SAKIT

KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA DI RUMAH SAKIT

bahwa setiap darah dan cairan tertentu lain dapat mengandung infeksi, tidak memandang status sumbernya. Lagi pula, semua alat medis harus dianggap sebagai sumber penularan, dan penularan dapat terjadi pada setiap layanan kesehatan, termasuk layanan kesehatan gigi dan persalinan, pada setiap tingkat (klinik dan puskesmas sampai dengan rumah sakit rujukan). Harus ditekankan bahwa kewaspadaan universal dibutuhkan tidak hanya untuk melindungi terhadap penularan HIV tetapi yang tidak kalah penting terhadap infeksi lain yang dapat parah dan sebetulnya lebih mudah menular, mis. Virus hepatitis B dan C. Petugas layanan kesehatan harus menerapkan kewaspadaan universal secara penuh dalam hubungan dengan semua pasien.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Faktor-Faktor  yang Berhubungan Dengan Kewaspadaan Umum/Universal Precaution Dalam  Pencegahan Hepatitis B pada Petugas Kesehatan di Rumah Sakit Permata Bunda  Medan tahun 2012

Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Kewaspadaan Umum/Universal Precaution Dalam Pencegahan Hepatitis B pada Petugas Kesehatan di Rumah Sakit Permata Bunda Medan tahun 2012

Kewaspadaan Universal adalah suatu cara penanganan baru untuk meminimalkan pajanan darah dan cairan tubuh dari semua pasien, tanpa memperdulikan status infeksi. Kewaspadaan Universal hendaknya dipatuhi oleh tenaga kesehatan karena ia merupakan panduan mengenai pengendalian infeksi yang dikembangkan untuk melindungi para pekerja di bidang kesehatan dan para pasiennya sehingga dapat terhindar dari berbagai penyakit yang disebarkan melalui darah dan cairan tubuh tertentu. Penerapan Kewaspadaan Standar diharapkan dapat menurunkan risiko penularan patogen melalui darah dan cairan tubuh lain dari sumber yang diketahui maupun yang tidak diketahui. Penerapan ini merupakan pencegahan dan pengendalian infeksi yang harus rutin dilaksanakan terhadap semua pasien dan di semua fasilitas pelayanan kesehatan (Tietjen, dkk, 2004).
Baca lebih lanjut

103 Baca lebih lajut

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perilaku Kesehatan 2.1.1 Pengertian - Faktor-faktor yang berhubungan dengan tindakan bidan dalam pencegahan penularan HIV/AIDS pada pertolongan pervaginam di Klinik Bersalin di Kota Kabanjahe

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perilaku Kesehatan 2.1.1 Pengertian - Faktor-faktor yang berhubungan dengan tindakan bidan dalam pencegahan penularan HIV/AIDS pada pertolongan pervaginam di Klinik Bersalin di Kota Kabanjahe

Menurut Depkes (2010), kewaspadaan universal adalah suatu pedoman yang ditetapkan oleh Centers for disease Control (CDC) untuk mencegah penyebaran dari berbagai penyakit yang ditularkan melalui darah di lingkungan rumah sakit maupun sarana pelayanan kesehatan lainnya. Adapun konsep yang dianut adalah bahwa semua

14 Baca lebih lajut

305598468 Sop Survailance

305598468 Sop Survailance

Indikator Kinerja : Indikator kinerja SKD KLB adalah : (1) Kajian dan peringatan kewaspadaan dini KLB secara teratur setidak-tidanya setiap bulan dilaksanakan oleh Dikes Kabupaten/Kota, Provinsi dan Depkes RI; (2) Terselenggaranya deteksi dini KLB penyakit berpotensi KLB prioritas di puskesmas, Rumah Sakit dan Laboratorium, (3) Kegiatan penyelidikan dan penanggulangan KLB yangcepat dan tepat terlaksana kurang dari 24 jam sejak teridentifikasi adanya KLB atau dugaan KLB, (4) Tidak terjadi KLB yang besar dan berkepanjangan.

6 Baca lebih lajut

Show all 1177 documents...