Ki Hajar Dewantara

Top PDF Ki Hajar Dewantara:

Pengasingan Ki Hajar Dewantara (1913-1917).

Pengasingan Ki Hajar Dewantara (1913-1917).

hidup manusia. 23 Namun selaras dengan keyakinan atas manusia sebagai makhluk dinamis, kebudayaan juga demikian.Kebudayaan selalu berkembang seirama dengan perkembangan dan kemajuan hidup manusia. Maka, menurut Ki Hajar Dewantara, kebudayaan itu tidak pernah mempunyai bentuk yang abadi, tetapi terus-menerus berganti-ganti wujudnya; ini disebabkan karena berganti-gantinya alam dan zaman. Kebudayaan yang dalam zaman lampau menggampangkan dan menguntungkan hidup, boleh jadi dalam zaman sekarang menyukarkan dan merugikan hidup kita. Itulah sebabnya kita harus senantiasa menyesuaikan kebudayaan kita dengan tuntutan alam dan zaman baru. 24 Ditopang oleh pemikiran mengenai kebudayaan sebagai perkembangan kemanusiaan itu, maka Ki Hajar Dewantara melihat secara jernih posisinya kebudayaan bangsa Indonesia di tengah-tengah kebudayaan bangsa-bangsa lain di dunia ini, yakni sebagai penunjuk arah dan pedoman untuk mencapai keharmonisan sosial di Indonesia. 25 Pemikiran Ki Hajar mengenai kebudayaan ini kemudian secara konstitusional dimaktubkan dalam Pasal 32 UUD 1945. 26 Dalam konteks itu pula, asas ini menekankan perlunya memelihara nilai-nilai dan bentuk-bentuk kebudayaan nasional. 27
Baca lebih lanjut

106 Baca lebih lajut

PEMIKIRAN KI HAJAR DEWANTARA TENTANG PENDIDIKAN KELUARGA PERSPEKTIF HADITS NABI SAW.

PEMIKIRAN KI HAJAR DEWANTARA TENTANG PENDIDIKAN KELUARGA PERSPEKTIF HADITS NABI SAW.

Ki Hajar Dewantara mengartikan pendidikan sebagai daya upaya memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya. Salah satu nilai luhur bangsa Indonesia yang merupakan falsafah peninggalan Ki Hajar Dewantara yang dapat diterapkan yakni tringa yang meliputi ngerti, ngrasa, dan nglakoni. Ki Hajar Dewantara mengingatkan, bahwa terhadap segala ajaran hidup, cita-cita hidup yang kita anut diperlukan pengertian, kesadaran dan kesungguhan pelaksanaannya. Tahu dan mengerti saja tidak cukup, kalau tidak merasakan menyadari, dan tidak ada artinya kalau tidak melaksanakan dan tidak memperjuangkannya. Merasa saja dengan tidak pengertian dan melaksanakan, menjalankan tanpa kesadaran dan tanpa pengertian tidak akan membawa hasil. Sebab itu persyaratan bagi peserta tiap perjuangan cita-cita, ia harus tahu, mengerti apa maksudnya, apa tujuannya. Ia harus merasa dan sadar akan arti dan cita-cita itu dan merasa pula perlunya bagi dirinya dan bagi masyarakat, dan harus mengamalkan perjuangan itu. “ilmu tanpa amal seperti pohon kayu yang tidak berubah”. “ngelmu tanpa laku kothong”, “laku tanpa ngelmu cupet”. Ilmu tanpa perbuatan adalah kosong, perbuatan tanpa ilmu pincang. Oleh sebab itu, agar tidak kosong ilmu harus dengan perbuatan, agar tidak pincang perbuatan harus dengan ilmu.
Baca lebih lanjut

86 Baca lebih lajut

PENDIDIKAN YANG MEMERDEKAKAN MENURUT KI HAJAR DEWANTARA

PENDIDIKAN YANG MEMERDEKAKAN MENURUT KI HAJAR DEWANTARA

Hasil pembahasan pendidikan yang memerdekakan adalah sebuah kesimpulan filosofis yang merupakan hasil dari refleksi kritis penulis atas pemikiran Ki Hajar Dewantara. Hasil keseluruhan refleksi kritis filosofis penulis terhadap pendidikan yang memerdekakan adalah pemaknaan lebih lanjut terhadap eksistensi manusia dalam keutuhan kodrat insani yaitu intelek, kehendak bebas serta makhluk sosial. Ketiga hal tersebut membentuknya untuk bertumbuh dan berkembang sebagai manusia mandiri, dan mampu memaknai eksistensinya dalam kehidupan sosial. Menjadi pribadi mandiri dan memaknai kehidupan sosial menjadi penting karena manusia secara kodrati mampu berdiri sendiri tetapi di sisi lain bergantung pada orang lain. Hal ini menjadi acuan pemahaman kita untuk melihat realitas kesejarahan manusia.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

RELEVANSI KONSEP PENDIDIKAN KI HAJAR DEWANTARA DENGAN KONSEP PENDIDIKAN ISLAM

RELEVANSI KONSEP PENDIDIKAN KI HAJAR DEWANTARA DENGAN KONSEP PENDIDIKAN ISLAM

Dalam kita menerima dan menggunakan kebudayaan orang asing, kita harus bersikap selektif atau memilih. Memilih apa yang baik dan bermanfaat bagi hidup dan penghidupan kita. Kita pilih apa saja dari kebudayaan asing itu yang dapat memajukan dan memperkaya kebudayaan bangsa kita sendiri. Agar kebudayaan itu tidak mundur dan mati, maka kita tidak boleh mengisolasi kebudayaan tersebut, tetapi harus selalu ada hubungnan antara kebudayaan dengan kodrat dan masyarakat. Selanjutnya agar kebudayaan itu dapat dimajukan dan diperkaya maka diperlukan adanya hubungan dengan kebudayaan bangsa lain. Kemajuan kebudayaan harus berupa lanjutan langsung dari kebudayaan sendiri(kontinuitas), menuju kearah kesatuan kebudayaan dunia(konvergen) dan tetap mempunyai sifat kepribadian dalam lingkungan kemanusiaan sedunia. Kontinuitas, konvergen, dan konsentrisitas inim merupakan asas ”Tri kon”. Ki Hajar Dewantara menganjurkan agar kita lebih ba ik menggutaman ”asimilasi” daripada ”asosiasi”. Artinya kita memilih atau mengambil bahan-bahan kebudayaan dari luar tetapi kita sendiri yang memasak bahan-bahan itu hingga masakan makanan baru yang lezat rasanya bagi kita dan menyehatkan hidup kita. 4
Baca lebih lanjut

109 Baca lebih lajut

Konsep pendidikan humanistik Ki Hajar Dewantara dalam paradigma pendidikan Islam.

Konsep pendidikan humanistik Ki Hajar Dewantara dalam paradigma pendidikan Islam.

Hasil analisis tentang Konsep Pendidikan Humanistik Ki Hajar Dewantara dalam Paradigma Pendidikan Islam setelah diadakan kajian penelitian menunjukkan bahwa Ki Hajar Dewantara, memandang bahwa manusia itu lebih pada sisi kehidupan psikologinya. Menurutnya, manusia memiliki daya jiwa yaitu cipta, karsa dan karya. Guru dalam pandangan Ki Hajar Dewantara adalah sosok yang bisa dijadikan pemimpin, di depan dapat memberi contoh keteladanan, di tengah dapat membangkitkan motivasi dan di belakang mampu memberikan pengawasan serta dorongan untuk terus maju. Prinsip pengajaran ini dikenal dengan semboyan Ing ngarso sung tulodho, ing madya mangun karso, tut wuri handayani. Ki Hadjar memandang siswa atau peserta didik adalah manusia yang mempunyai kodratnya sendiri dan juga kebebasan dalam menentukan hidupnya. Pendidikan yang ingin dijalankan oleh Ki Hadjar Dewantara itu berorientasi pada pendidikan kerakyatan. Oleh karenanya timbullah gagasan untuk mendirikan sekolah sendiri yang akan dibina sesuai dengan cita-citanya. Untuk merealisasikan tujuannya, Ki Hadjar Dewantara mendirikan perguruan Taman Siswa. Untuk mewujudkan gagasannya tentang pendidikan yang dicita-citakan tersebut. Ki Hadjar Dewantara menggunakan metode Among.
Baca lebih lanjut

140 Baca lebih lajut

66 BAB III GURU PROFESIONAL MENURUT KI HAJAR DEWANTARA

66 BAB III GURU PROFESIONAL MENURUT KI HAJAR DEWANTARA

Ki Hajar Dewantara mengatakan setelah mengetahui tentang pokok isinya pengajaran budi pekerti, yaitu segala apa yang mengandung maksud memelihara keinsyafan dan kesadaran dalam hal hidup tertib damai bagi diri anak-anak dan masyarakat, maka perlulah kita tahu akan bahan-bahan yang harus atau seyogyanya dapat dijadikan sebagai isi pendidikan budi pekerti selain bahan-bahan secara spontan, ada bahan lainya yaitu:dongeng-dongeng, atau “mythen”, lakon-lakon dalam pertunjukan wayang, sejarah bangsa sendiri dan bangsa lainya, ceritera-ceritera yang terdapat dalam buku-buku ciptaan para sastrawan di seluruh dunia, kitab suci dari masing-masing keyakinan yang tidak akan habis-habis tertimba, serta adat istiadat yang menurut prinsipnya merupakan peraturan tertib damai yang tidak tertulis”.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

IMPLEMENTASI TRILOGI PENDIDIKAN KI HAJAR DEWANTARA PADA SMK TAMANSISWA.

IMPLEMENTASI TRILOGI PENDIDIKAN KI HAJAR DEWANTARA PADA SMK TAMANSISWA.

Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan pokok bagi kehidupan manusia sehingga dapat menciptakan manusia yang cerdas dan berbudaya serta berkualitas. Ki Hajar Dewantara yang dikenal sebagai bapak pendidikan nasional telah melakukan terobosan baru dalam perjuangan berbangsa dan bernegara. Beliau telah menanamkan jiwa merdeka dan membangkitkan jiwa nasionalisme pada setiap warga bangsa Indonesia. Ki Hajar Dewantara beserta teman-temannya berupaya melakukan pengangkatan derajat bangsa yang terjajah sehingga pada waktu itu dapat berkedudukan sama derajatnya dengan bangsa-bangsa lain di dunia.
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

PENGEMBANGAN KEMAMPUAN PROFESIONALISME GURU DI SMK KI HAJAR DEWANTARA KOTAPINANG.

PENGEMBANGAN KEMAMPUAN PROFESIONALISME GURU DI SMK KI HAJAR DEWANTARA KOTAPINANG.

Hal ini ditunjukkan dengan tingginya minat siswa tamatan SMP yang ingin melanjutkan sekolahnya di sekolah ini, karena SMK Ki Hajar Dewantara Jalan Jawa Kotapinang memiliki beberapa kelebihan dan keunikan, antara lain : (1) fasilitas lebih lengkap dari sekolah lain (2) lokasi sekolah sangat strategis terletak di tengah kota (3) Setiap pembukaan tahun ajaran baru dilaksanakan MOS (4) tenaga pengajar/tenaga pendidik direkrut dari lulusan Universitas Negeri dan Swasta (5) setiap tahun melaksanakan kegiatan PORSENI. (6) murid yang disiplin, karena guru-guru SMK Ki Hajar Dewantara menerapkan Pukul : 07.10 WIB masuk apel pagi, Pukul : 07.30 WIB masuk ke dalam kelas dan langsung kegiatan proses belajar mengajar antara guru dan siswa.
Baca lebih lanjut

43 Baca lebih lajut

KONSEP GURU DALAM PANDANGAN KI HAJAR DEWANTARA DILIHAT DARI PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM.

KONSEP GURU DALAM PANDANGAN KI HAJAR DEWANTARA DILIHAT DARI PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM.

Teacher is the most important component in the world of education. Teaching and learning without the figure of a teacher will not run well. Hence, in order for a teacher to do his or her duties well, he or she is demanded to master teacher competences. However, there is an indication that teachers neglect these aspects. They only conduct teaching without mastering the pedagogic abilities; they demand professionalism of salary without improving their professionalism in teaching, they merely teach in the classroom without being aware that they are the role models for students outside the classroom, both in the aspects of appearance, conduct, attitude, and speech. Seeing this reality, teachers should understand the concept of an ideal teacher, one of them is as taught by Ki HajarDewantara. Understanding this concept is meant for a teacher to be able to behave professionally in teaching, accompanied by understanding the pedagogy with noble personal principles. In this research, the thoughts of Ki HajarDewantara will be reviewed from the perspective of Islamic Education, with the aim of finding the suitability of his thoughts. The method employed is descriptive using qualitative approach, supported by literary study. In addition, the technique of data collection used in this research is library research. The findings demonstrate that the concept of teachers explained by Ki HajarDewantara include teachers’ duties as mentor or tutor, advisor, educator, teacher, motivator, guide and leader; the concepts explain that the competences teachers should master involve pedagogic, professional, social, and personal competences; and finally, there is Ki HajarDewantara’s view on teacher’s salary. From the findings, an analysis and d iscussion are done using the theory of Islamic Education, and the outcomes show that Ki HajarDewantara’s perspectives and Islamic Education run in harmony because of many similarities. Even though Ki HajarDewantara is a nationalist, but as a Muslim his thoughts are inseparable from the Islamic values and from the result discussion of Ki HajarDewantara’s thoughts on teachers, it can be said that his thoughts can be categorized as the thoughts of Islamic Education.
Baca lebih lanjut

45 Baca lebih lajut

Ki Hajar Dewantara: pemikiran dan perjuangannya - Repositori Institusi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Ki Hajar Dewantara: pemikiran dan perjuangannya - Repositori Institusi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Siswa. Pendapat ini tidaklah keliru. Taman Siswa menorehkan goresan jejak-jejak perjuangan yang penting pada masa pergerakan nasional dan di masa selanjutnya. Kenji Tsuchiya (1987: xi) menggambarkannya sebagai berikut: “The leader of Taman Siswa was Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, the principal founder of the original school, who in 1928 took the name Ki Hadjar Dewantara. During the 1930s his reputation grew, and during the Japanese military administration he was recognized, along with Sukarno, Hatta, and the Muslim leader Kyai Haji Mansur, as one of the four outstanding leaders of the Indonesian people. With the establishmen of the independent Republic of Indonesia, Dewantara, became minister of education in the first cabinet, and to later governments he served as chief adviser on educational matters. He died at age seventy on 26 April 1959; in November of the same year he was proclaimed a national hero, and a month later his birthday, may 2, was declared National Education Day (Hari Pendidikan). ” Memang, sosok pahlawan nasional itu lebih dikenal sebagai tokoh pendidikan, yang kerap menyaput perjuangan, kiprah dan sumbangsihnya dalam perkembangan politik nasional.
Baca lebih lanjut

210 Baca lebih lajut

Buku Ki Hajar Dewantara

Buku Ki Hajar Dewantara

Siswa. Pendapat ini tidaklah keliru. Taman Siswa menorehkan goresan jejak-jejak perjuangan yang penting pada masa pergerakan nasional dan di masa selanjutnya. Kenji Tsuchiya (1987: xi) menggambarkannya sebagai berikut: “The leader of Taman Siswa was Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, the principal founder of the original school, who in 1928 took the name Ki Hadjar Dewantara. During the 1930s his reputation grew, and during the Japanese military administration he was recognized, along with Sukarno, Hatta, and the Muslim leader Kyai Haji Mansur, as one of the four outstanding leaders of the Indonesian people. With the establishmen of the independent Republic of Indonesia, Dewantara, became minister of education in the first cabinet, and to later governments he served as chief adviser on educational matters. He died at age seventy on 26 April 1959; in November of the same year he was proclaimed a national hero, and a month later his birthday, may 2, was declared National Education Day (Hari Pendidikan). ” Memang, sosok pahlawan nasional itu lebih dikenal sebagai tokoh pendidikan, yang kerap menyaput perjuangan, kiprah dan sumbangsihnya dalam perkembangan politik nasional.
Baca lebih lanjut

210 Baca lebih lajut

Melawan Lupa; Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional | Kurikulum SD-MI Ki Hajar Dewantara

Melawan Lupa; Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional | Kurikulum SD-MI Ki Hajar Dewantara

Di tengah keseriusannya mencurahkan perhatian dalam dunia pendidikan di Tamansiswa, ia juga tetap rajin menulis. Namun tema tulisannya beralih dari nuansa politik ke pendidikan dan kebudayaan berwawasan kebangsaan. Tulisannya berjumlah ratusan buah. Melalui tulisan- tulisan itulah dia berhasil meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional bagi bangsa Indonesia. Sementara itu, pada zaman Pendudukan Jepang, kegiatan di bidang politik dan pendidikan tetap dilanjutkan. Waktu Pemerintah Jepang membentuk Pusat Tenaga Rakyat (Putera) dalam tahun 1943, Ki Hajar duduk sebagai salah seorang pimpinan di samping Ir. Soekarno, Drs. Muhammad Hatta dan K.H. Mas Mansur.
Baca lebih lanjut

3 Baca lebih lajut

49 REPRESENTASI SEMBOYAN EDUKASI KI HAJAR DEWANTORO DALAM KAJIAN SEMANTIK (PENDEKATAN BEHAVIORAL)

49 REPRESENTASI SEMBOYAN EDUKASI KI HAJAR DEWANTORO DALAM KAJIAN SEMANTIK (PENDEKATAN BEHAVIORAL)

Abstrak: Sebagai alat komunikasi verbal bahasa merupakan suatu sistem lambang bunyi yang bersifat arbitrer. Orang menyadari bahwa kegiatan berbahasa sesungguhnya adalah kegiatan mengekspresikan lambang – lambang bahasa untuk menyampaikan makna- makna yang ada pada lambang tersebut,kepada lawan bicaranya (dalam komunikasi lisan) atau pembaca ( dalam komunikasi tulis). Hal ini dapat dilihat dari bukti berikut, pendidik dalam dunia pendidikan suda mulai lupa dengan semboyan Ki Hajar Dewantara, dalam semboyan tersebut pendidik tugas dan tanggungjawabnya selain mengajar juga harus membentuk karakteristik peserta didiknya,memberikan contoh dalam bersikap.Penelitian ini menggunakan metode dokumentasi dalam penggunaan bahasa tulis yang dituangkan di semboyan Ki Hajar Dewantara sangatlah menarik, karena Ki Hajar Dewantara menuliskan pesan terhadap dunia pendidikan, baik dilingkungan sekitar maupun dilingkungan luar untuk menyampaikan pesan terhadap apa yang dialaminya. Tulisan Ki Hajar Dewantara tersebut mengandung makna atau arti, apa yang dituliskan Ki Hajar Dewantara banyak menggunakan istilah- istilah yang unik, yang sulit dinalar oleh manusia lainnya. Hal ini menyebabkan penulis menggunakan pendekatan behavioral manjadi acuan untuk memaknai istilah yang ada di semboyan pendidikan Ki Hajar Dewantara.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

 M02192

M02192

kemudian dapat diikuti oleh orang-orang yang didiknya. Makna yang mengingatkan dan menyadarkan para guru untuk terus memiliki profesionalitas dalam berkarya sehingga ada nilai baik yang dapat diteladani oleh para peserta didik. Kemudian, filosofi Ing Madya Mangun Karsa memiliki pengertian bahwa ketika berada ditengah- tengah generasi yang ada, hendaknya dapat bersama-sama saling mendukung dan membangun sehingga terciptalah suatu generasi yang memiliki kualitas, saling berbagi dan dapat mendukung satu sama lain dalam membangun bangsa. Sedangkan filosofi Tut Wuri Handayani dimaknai bahwa pendidik memposisikan diri dibelakang peserta didik untuk terus memberikan arahan dan pengaruh sehingga mereka yang berjalan didepan tetap memiliki arahan dan berjalan dengan prima karena dukungan para pendidik (Samho & Yasunari, 2010). Begitu luhurnya filosofi-filosofi yang diajarkan Ki Hajar Dewantara dalam upayanya membangun negri di bidang pendidikan.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PEMIKIRAN PENDIDIKAN KI. HAJAR DEWANTARA DAN RELEVANSINYA DENGAN KURIKULUM 13

PEMIKIRAN PENDIDIKAN KI. HAJAR DEWANTARA DAN RELEVANSINYA DENGAN KURIKULUM 13

Dari pemaparan di atas, dapat dipahami, alur pembelajaran yang ada pada kurikulum 2013 relevan dengan metode pembelajaran yang dikemukakan Ki. Hajar Dewantara yaitu; Pertama, pembelajaran tematik-intergratif pada kurikulum 2013 relevan dengan metode ngerti yang dijelaskan oleh Ki Hajar Dewantara, pada pembelajaran ini diberikan pengertian yang sebanyak-banyaknya kepada peserta didik. Pembelajaran ini mampu mewadahi dan menyentuh secara terpadu dimensi emosi, fisik, dan akademik peserta didik di dalam kelas atau di lingkungan sekolah. Ke dua, pendekatan saintifik pada kurikulum 2013 relevan dengan metode ngrasa yang dijelaskan oleh Ki Hajar Dewantara, pendekatan ini berusaha semaksimal mungkin untuk memahami dan merasakan tentang pengetahuan yang diperolehnya. Pendekatan ini harus di isi dengan aktivitas pengumpulan data melalui observasi atau ekperimen, mengolah informasi atau data, menganalisis, kemudian memformulasi, dan menguji hipotesis.
Baca lebih lanjut

30 Baca lebih lajut

Subtema 2 Pahlawanku Kebanggaanku

Subtema 2 Pahlawanku Kebanggaanku

Pada tanggal 3 Juli 1922, Ki Hajar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa, yaitu sekolah nasional pertama bagi rakyat Indonesia. Taman Siswa merupakan bentuk nyata perjuangan melawan penjajah karena beliau yakin bahwa pendidikan akan membantu mencapai tujuan yaitu kemerdekaan bangsa.

Baca lebih lajut

Pujangga baru dan pujangga lama

Pujangga baru dan pujangga lama

Dalam konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara, ada 2 hal yang harus dibedakan yaitu sistem “Pengajaran” dan “Pendidikan” yang harus bersinergis satu sama lain. Pengajaran bersifat memerdekakan manusia dari aspek hidup lahiriah (kemiskinan dan kebodohan). Sedangkan pendidikan lebih memerdekakan manusia dari aspek hidup batin (otonomi berpikir dan mengambil keputusan, martabat, mentalitas demokratik).

Baca lebih lajut

S PAI 1000929 Chapter3

S PAI 1000929 Chapter3

Hajar Dewantara tentang pendidikan yang telah dibukukan oleh Taman Siswa, sedangkan sumber data sekunder di antaranya adalah 100 Tahun Ki Hajar Dewantara Karya Bambang Soekowati Dewantara, Ki Hajar Dewantara Ayahku Karya Bambang Soekowati Dewantara, Ki Hajar Dewantara Pendidik Nasionalis yang Agamis Karya Imam G dan Husni M., Menggugat Pendidikan Indonesia (Belajar dari Paulo Freire dan Ki Hajar Dewantara) karya Mohamad Yamin. Pendidikan dan Pembangunan 50 Tahun Taman Siswa karya Ki Tjokrodirjo, Pendidikan Modern dan Relevansi Pemikiran Ki Hajar Dewantara Karya Tyasno Sudarto, Perdjuangan dan Adjaran Hidup Ki Hajar Dewantara karya Mochamad Tauhid, Hakekat Taman Siswa Karya Ki Suratman, Pokok-pokok Ketamansiswaan Karya Ki Suratman, 30 Tahun Taman Siswa Karya Majelis Luhur Taman Siswa dan Pendidikan Karakter Ibn Miskawaih dan Ki Hajar Dewantara Karya Puji Astutik
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

S ADP 1105108 Chapter1

S ADP 1105108 Chapter1

Gaya kepemimpinan Ki Hajar Dewantara dapat digunakan dalam penyelesaian masalah disiplin kerja ini. Dengan mengedepankan trilogi yaitu: Ing ngarsa sung tulada yang artinya di Kepala sekolah memberi teladan pada guru, 2) Ing madya mangun karsa yang artinya kepala sekolah berada di tengah para guru dalam membangun kehendak atau niat guru ketika motivasi mereka dalam menyelesaikan tugas menurun sehingga guru dapat termotivasi kembali untuk menyelesaikan tugas dan pekerjaannya sesuai dengan target dan peraturan yang sudah ditetapkan, dan 3) Tut wuri handayani yang artinya kepala sekolah dari belakang memberikan dorongan kepada guru, dengan memberikan pengawasan dan bimbingan agar guru yang sudah memiliki kemampuan dapat lebih berkembang dan dapat terdorong untuk maju menjadi yang lebih baik lagi dan melalui bimbingan kepala sekolah, kepala sekolah pun dapat mengontrol kedisiplinan guru dalam bekerja.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

ETIKA PESERTA DIDIK DALAM PEMBELAJARAN (STUDI ANALISIS TERHADAP KITAB AL AKHLAK AZZAKIYYAH FI ADABI ATTHOLIB AL MARDIYYAH KARYA SYEIKH AHMAD BIN YUSUF BIN MUHAMMAD AL AHDAL DAN RELEVANSINYA BAGI PENDIDIKAN ISLAM KONTEMPORER). - STAIN Kudus Repository

ETIKA PESERTA DIDIK DALAM PEMBELAJARAN (STUDI ANALISIS TERHADAP KITAB AL AKHLAK AZZAKIYYAH FI ADABI ATTHOLIB AL MARDIYYAH KARYA SYEIKH AHMAD BIN YUSUF BIN MUHAMMAD AL AHDAL DAN RELEVANSINYA BAGI PENDIDIKAN ISLAM KONTEMPORER). - STAIN Kudus Repository

Menurut Ki Hajar Dewantara, tujuan dari pendidikan adalah penguasaan diri, sebab disinilah pendidikan memanusiakan manusia (humanisasi). Penguasaan diri merupakan langkah yang dituju untuk tercapainya pendidikan yang memanusiawikan manusia. Ketika peserta didik mampu menguasai dirinya, maka mereka akan mampu untuk menentukan sikapnya. Dengan demikian akan tumbuh sikap yang mandiri dan dewasa. Beliau juga menunjukkan bahwa tujuan diselenggarakannya pendidikan adalah membantu peserta didik menjadi manusia yang merdeka.Menjadi manusia yang merdeka berarti tidak hidup terperintah, berdiri tegak dengan kekuatan sendiri, dan cakap mengatur hidupnya dengan tertib. Dengan kata lain, pendidikan menjadikan seseorang mudah diatur, tetapi tidak dapat disetir.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 4310 documents...