Kinerja Perawat Pelaksana

Top PDF Kinerja Perawat Pelaksana:

Hubungan Motivasi dengan Kinerja Perawat Pelaksana di Rumah Sakit Bhayangkara Medan

Hubungan Motivasi dengan Kinerja Perawat Pelaksana di Rumah Sakit Bhayangkara Medan

motivator paling kuat dari kinerja, maka pemberian imbalan berdasarkan kinerja dapat memberikan dampak positif terhadap perilaku karyawan, menimbulkan kepuasan kerja bagi staf, memberikan dampak positif terhadap kemampuan organisasi, mampu menghasilkan pencapaian tujuan yang telah dirancang dan mempertahankan lebih banyak staf yang mampu bekerja dengan prestasi tinggi. Tappen (1995) menyatakan bahwa meskipun bekerja dalam lingkungan kesehatan umumnya tidak dianggap berbahaya secara fisik, masih ada beberapa ancaman terhadap keamanan yang harus dihilangkan atau setidaknya dikurangi dan diwaspadai oleh kepala manajer. Ancaman tersebut dapat berasal dari pemaparan lingkungan dengan infeksi, radiasi, sengatan listrik, dan potensi terjadinya kekerasan individu. Hal ini sejalan dengan penelitian Randa (2011) yang menyatakan bahwa ada hubungan antara keselamatan lingkungan kerja dengan kinerja perawat pelaksana di Instalasi Rawat Inap Bedah dan Non Bedah RSUP. Dr. M. Djamil Padang.
Baca lebih lanjut

97 Baca lebih lajut

Pengaruh Gaya Kepemimpinan Transformasional Kepala Ruang Dan Motivasi Intrinsik Perawat Pelaksana Kontrak Terhadap Kinerja Perawat Pelaksana Kontrak  Di Ruang Rawat Inap RSUD Dr. Pirngadi Medan

Pengaruh Gaya Kepemimpinan Transformasional Kepala Ruang Dan Motivasi Intrinsik Perawat Pelaksana Kontrak Terhadap Kinerja Perawat Pelaksana Kontrak Di Ruang Rawat Inap RSUD Dr. Pirngadi Medan

Kinerja perawat pelaksana kontrak adalah hasil kerja yang dicapai oleh perawat pelaksana kontrak di RSUD Dr. Pirngadi Medan dalam memberikan asuhan keperawatan kepada pasien meliputi pengkajian keperawatan, diagnosis keperawatan, perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan dan evaluasi tindakan. Berdasarkan hasil penelitian di lapangan tentang kinerja perawat pelaksana kontrak di ruang rawat inap paling banyak adalah kategori kurang baik yaitu 50 orang (52,6%), kategori baik sebanyak 41 orang (43,2%) dan kategori tidak baik sebanyak 4 orang (4,2%), dapat diambil kesimpulan bahwa kinerja perawat pelaksana kontrak dalam melaksanakan asuhan keperawatan belum optimal. Hasil penelitian ini sesuai dengan permasalahan pada perawat pelaksana kontrak yang kurang percaya diri dan ragu-ragu, lamban, kurang mandiri, kurang memahami tentang asuhan keperawatan, tidak semua asuhan keperawatan dilaksanakan dan pendokumentasian asuhan keperawatan yang masih tidak lengkap.
Baca lebih lanjut

135 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI INTRINSIK DENGAN KINERJA PERAWAT PELAKSANA DI RSUD Dr. MOEWARDI SURAKARTA.

HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI INTRINSIK DENGAN KINERJA PERAWAT PELAKSANA DI RSUD Dr. MOEWARDI SURAKARTA.

Dalam rangka menjaga dan meningkatkan mutu pelayanan, maka kinerja dari seluruh perawat pelaksana senantiasa dipacu untuk ditingkatkan. Perawat pelaksana sebagai anggota organisasi, yang merupakan jumlah terbesar dari seluruh karyawan yang tidak terlepas dari tuntutan ini. Karena jumlahnya yang sangat besar maka kinerja perawat pelaksana menjadi lebih tersorot dari profesi yang lainnya.

9 Baca lebih lajut

Pengaruh Motivasi terhadap Kinerja Perawat Pelaksana di RSUD Perdagangan Kabupaten Simalungun

Pengaruh Motivasi terhadap Kinerja Perawat Pelaksana di RSUD Perdagangan Kabupaten Simalungun

Kinerja perawat pelaksana dalam asuhan keperawatan adalah hasil kerja yang dicapai oleh perawat pelaksana di RSUD Perdagangan Kabupaten Simalungun dalam memberikan asuhan keperawatan kepada pasien, meliputi pengkajian, diagnosis, rencana tindakan, pelaksanaan tindakan dan evaluasi tindakan. Berdasarkan hasil observasi di lapangan tentang asuhan keperawatan menunjukkan skor rata-rata tentang kinerja (pengkajian, diagnosis, rencana tindakan, pelaksanaan tindakan keperawatan, evaluasi tindakan keperawatan) paling tinggi adalah 14,41 (pengkajian) dan skor terendah 7,82 (evaluasi tindakan keperawatan). Hal ini menunjukkan bahwa kinerja perawat dalam pelaksanaan asuhan keperawatan belum optimal, karena dalam hasil penelitian dijumpai pelaksanaan asuhan keperawatan yang paling sering dikerjakan hanya sebatas pengkajian dan jarang melaksanakan evaluasi tindakan keperawatan. Manajemen rumah sakit perlu mengupayakan pembenahan tentang kinerja perawat pelaksana dalam memberikan asuhan keperawatan dan hal ini sesuai dengan latar belakang penelitian yang diutarakan sebelumnya.
Baca lebih lanjut

149 Baca lebih lajut

Pengaruh Gaya Kepemimpinan Transformasional Kepala Ruang Dan Motivasi Intrinsik Perawat Pelaksana Kontrak Terhadap Kinerja Perawat Pelaksana Kontrak Di Ruang Rawat Inap RSUD Dr. Pirngadi Medan

Pengaruh Gaya Kepemimpinan Transformasional Kepala Ruang Dan Motivasi Intrinsik Perawat Pelaksana Kontrak Terhadap Kinerja Perawat Pelaksana Kontrak Di Ruang Rawat Inap RSUD Dr. Pirngadi Medan

Segala Puji Syukur penulis hanya kepada Tuhan Yesus atas rencana indah yang Dia berikan dalam kehidupan penulis. Berkat pertolonganNya yang berlimpah, penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penyusunan tesis ini dengan judul “ Pengaruh Gaya Kepemimpinan Transformasional Kepala Ruang dan Motivasi Intrinsik Perawat Pelaksana terhadap Kinerja Perawat Pelaksana di Ruang Rawat Inap RSUD Dr. Pirngadi Medan.

17 Baca lebih lajut

Pengaruh Harga Diri Dan Motivasi Ekstrinsik Terhadap Kinerja Perawat Pelaksana Studi Kasus di RSU dr. Pirngadi Kota Medan Provinsi Sumatera Utara

Pengaruh Harga Diri Dan Motivasi Ekstrinsik Terhadap Kinerja Perawat Pelaksana Studi Kasus di RSU dr. Pirngadi Kota Medan Provinsi Sumatera Utara

Hasil penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan antara harga diri dan motivasi ekstrinsik terhadap kinerja perawat. Pengaruh variabel harga diri dan motivasi ekstrinsik terhadap kinerja perawat masing-masing sebesar 0,591 dan 0,661. Berdasarkan nilai R Square dapat menjelaskan 51,8% kinerja perawat dapat dijelaskan dengan variabel harga diri dan motivasi ekstrinsik. Persamaan regresi pada penelitian ini adalah Y = 24,603 + 1,248x 1 + 1,159x 2 . Tidak terjadi

2 Baca lebih lajut

Pengaruh Iklim Organisasi Terhadap Kinerja Perawat Pelaksana di Ruang Rawat Inap RSU Sari Mutiara Medan Tahun 2014.

Pengaruh Iklim Organisasi Terhadap Kinerja Perawat Pelaksana di Ruang Rawat Inap RSU Sari Mutiara Medan Tahun 2014.

tunjangan, insentif dan bonus. Hasil penelitian Daryanto (2008) menunjukkan bahwa sistem penghargaan yang paling dominan berhubungan dengan kinerja adalah gaji dan pengakuan. Isesreni (2009) tingkat pendidikan perawat mempengaruhi kinerja perawat, dan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara umur, jenis kelamin, status perkawinan, serta lama bekerja perawat dengan kinerja perawat. Baik buruknya kinerja seorang perawat dapat dipengaruhi oleh faktor, seperti kepuasaan kerja, motivasi, lingkungan kerja dan budaya organisasional (Edy, 2008). Dalam sebuah organisasi elemen yang paling penting adalah kepemimpinan. Kepemimpinan merupakan kemampuan memberi inspirasi kepada orang lain untuk bekerja sama sebagai suatu kelompok agar dapat mencapai suatu tujuan umum (Suarli, 2009). Di tambah lagi supervisi dan kapasitas pekerjaan atau beban kerja juga dapat mempengaruhi kinerja karyawan. Supervisi merupakan segala bantuan dari pimpinan/penanggung jawab kepada perawat yang ditujukan untuk perkembangan para perawat dan staf lainnya dalam mencapai tujuan asuhan keperawatan. Selain itu, perawat pelaksana akan mendapat dorongan positif sehingga mau belajar dan meningkatkan kemampuan profesionalnya. Dengan kemauan belajar, secara tidak langsung akan meningkatkan kinerja perawat. Sedangkan kapasitas pekerjaaan adalah frekuensi kegiatan rata-rata dari masing-masing pekerjaan dalam jangka waktu tertentu (Suyanto, 2009).
Baca lebih lanjut

113 Baca lebih lajut

HUBUNGAN MOTIVASI KERJA DENGAN KINERJA PERAWAT PELAKSANA DI RUMAH SAKIT MUJI RAHAYU SURABAYA

HUBUNGAN MOTIVASI KERJA DENGAN KINERJA PERAWAT PELAKSANA DI RUMAH SAKIT MUJI RAHAYU SURABAYA

lagi seperti makan, minum dan kebutuhan berkembang sementara kebutuhan lainya masih bisa ditunda, dalam proses tingkat kebutuhan diatas dapat dicapai setiap manusia secara bertahap, suatu tingkatan kebutuhan memerlukan pemuasan yang optimal apabila ingin berpindah ketingkat selanjutnya, meningkatkan suatu tangga berarti dimulai dengan anak tangga pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Maka dapat dipastikan bahwa keadaan ini terjadi akibat dari tingkat kesibukan responden untuk memenuhi kebutuhan hidupnya setiap hari seperti yang diuraikan diatas termasuk faktor- faktor yang menyebabkan, menyalurkan dan mempertahankan tingkah laku manusia dalam arah tekad tertentu. Motivasi diperlukan untuk mengerakkan seseorang agar timbul keiginan dan kemampuannya untuk melakukan sesuatu sehingga dapat memperoleh hasil atau mencapai tujuan tertentu. Motivasi kerja perawat yang baik akan sangat mempengaruhi pelaksanaan asuhan keperawatan kepada pasien yang sesuai dengan standar yang telah ditetapkan sehingga dapat memberikan kepuasan baik bagi pasien maupun perawat itu sendiri. 2. Kinerja Perawat di Rumah Sakit Muji
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Pengaruh Kompetensi Dan Kerja Tim Terhadap Kinerja Perawat Pelaksana Rawat Inap Di   Rumah Sakit Umum Swadana Daerah Tarutung

Pengaruh Kompetensi Dan Kerja Tim Terhadap Kinerja Perawat Pelaksana Rawat Inap Di Rumah Sakit Umum Swadana Daerah Tarutung

Praktek keperawatan yang ditetapkan di RSU Swadana Daerah Tarutung adalah sitim penugasan dengan metode tim, namun dalam pelaksanaanya adalah sesuai dengan kebutuhan tatanan rawat inap. Berdasarkan kebutuhan tersebut maka sitem penugasan pelayanan perawatan dengan metode tim dalam praktek pelayanan dilakukan sesuai dengan penugasan berdasarkan shift kerja yang telah ditetapkan oleh RSU Swadana Daerah Tarutung, pelaksanaan ronde keperawatan yang tidak optimal menimbulkan ronde perawat yang shift pagi tidak melaporkan secara rinci perkembangan kesehatan pasien termasuk seringnya perawat rawat inap operan hanya dilakukan di nursing station secara administrasi saja berdasarkan pengamatan penulis, hal ini menimbulkan perbedaan persepsi tentang kebutuhan pelayanan keperawatan dan pada akhirnya berdampak meningkatnya lama perawatan pasien (lengt of stay).
Baca lebih lanjut

121 Baca lebih lajut

Gaya Kepemimpinan Transaksional Meningkatkan Kinerja Perawat Pelaksana

Gaya Kepemimpinan Transaksional Meningkatkan Kinerja Perawat Pelaksana

Penelitian Emmanuel & Ugochukwu (2013) selaras dengan hasil penelitian ini bahwa terdapat hubungan gaya kepemimpinan transformasional dengan kinerja. Pemimpin transformasional mampu memberikan contoh serta informasi kepada bawahannya yang berdampak meningkatkan kinerja. Pemimpin memberikan penilaian kinerja berdasarkan proses proses selama bekerja (Awases, Bezuidenhout, & Roos, 2013), mendorong karyawan untuk mencapai hasil yang lebih tinggi (Northouse, 2009), memperhitungkan emosi karyawan, nilai-nilai, etnis, standar dan tujuan jangka panjang (Ahmad et al., 2013) yang dapat digunakan untuk mempengaruhi karyawan atau bahkan seluruh organisasi dengan melibatkan agen sosialisasi (Shiva & Suar, 2012).
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

KINERJA PERAWAT BERDASARKAN KOMITMEN PADA ORGANISASI DAN LINGKUNGAN KERJA PERAWAT

KINERJA PERAWAT BERDASARKAN KOMITMEN PADA ORGANISASI DAN LINGKUNGAN KERJA PERAWAT

Penelitian Sujarwati (2004) menjelaskan bahwa lingkungan kerja memiliki hubungan dengan pelaksanaan tugas pokok keperawatan. Hasil analisis hubungan aspek lingkungan kerja menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara manajemen, kepemimpinan dan budaya dengan kinerja perawat pelaksana. Organisasi dan sistem kepemimpinan merupakan salah satu kunci pencapaian dari kualitas kerja (CCHSA, 2004). Manajer memberikan pengaruh pada hasil yang dihasilkan oleh para staf. Kepemimpinan seorang manajer keperawatan merupakan faktor kunci yang mempengaruhi kepuasan kerja perawat dan retensi, serta terdapat hubungan antara kepemimpinan dan kualitas perawatan pasien serta efektifitas kerja staf keperawatan (McGillis, et al., 2003).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Pengaruh  Desain Pekerjaan Terhadap Kinerja Perawat    Pelaksana di Rumah Sakit  Islam Malahayati Medan

Pengaruh Desain Pekerjaan Terhadap Kinerja Perawat Pelaksana di Rumah Sakit Islam Malahayati Medan

Rumah Sakit Islam Malahayati Medan merupakan sebuah organisasi institusi pelayanan kesehatan yang memiliki banyak tenaga kesehatan seperti perawat pelaksana. Perawat pelaksana tersebut memiliki tanggung jawab yang besar dalam meningkatkan pelayanan kesehatan di rumah sakit. Pelayanan kesehatan yang bermutu dapat dilihat dari kinerja yang dimiliki perawat pelaksana. Kinerja yang baik dapat tercapai jika perawat pelaksana bekerja berdasarkan desain pekerjaan yang ditetapkan. Desain pekerjaan merupakan rincian pekerjaan yang dimiliki perawat agar pekerjaan menjadi terarah, teratur dan efektif. Penelitian yang dilaksanakan pada bulan Januari - Maret menggunakan deskriptif korelasi dengan jumlah sampel 88 orang perawat pelaksana. Data diperoleh dengan menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisa menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kepercayaan 95 % ( =0,05). Hasil analisis univariat didapat desain pekerjaan yang dijalankan perawat dalam kategori baik (89,8%), dan kinerja perawat dalam kategori baik (87,5%). Hasil uji Exact Fisher diperoleh nilai p (=0,013) < alpha (=0,05) berarti terdapat pengaruh desain pekerjaan terhadap kinerja perawat pelaksana di Rumah Sakit Islam Malahayati Medan. Disarankan bagi perawat pelaksana untuk bekerja berdasarkan desain pekerjaan yang ditetapkan rumah sakit agar kinerja perawat pelaksana di Rumah Sakit Islam Malahayati Medan dapat ditingkatkan.
Baca lebih lanjut

114 Baca lebih lajut

Penerapan Supervisi Kepala Ruangan di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Islam Malahayati Medan

Penerapan Supervisi Kepala Ruangan di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Islam Malahayati Medan

Kurangnya supervisi dan evaluasi dari atasan akan mempengaruhi kinerja perawat pelaksana. Supervisi perlu direncanakan oleh kepala ruang dalam memberikan arahan, melatih, mengamati dan menilai kinerja perawat. Peran supervisi keperawatan bila dilakukan dengan baik maka akan terjadi peningkatan kemampuan perawat pelaksana dalam memberikan asuhan keperawatan. Dapat dilihat dari penelitian sebelumnya bahwa banyak responden mempersepsikan penerapan supervisi masih dalam kategori cukup sebanyak 56% yang dilakukan di RSUD Samratulangi Tondan (Lapod, Tandipajung & Huragana, 2015).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PEMAHAMAN DAN PERILAKU PERAWAT DALAM MELAKSANAKAN PERAN ADVOKAT PASIEN DI RUMAH SAKIT Maria Suryani, Setyowati, Luknis Sabri

PEMAHAMAN DAN PERILAKU PERAWAT DALAM MELAKSANAKAN PERAN ADVOKAT PASIEN DI RUMAH SAKIT Maria Suryani, Setyowati, Luknis Sabri

Bagaimanapun walau dari penjelasan diatas sebagian besar perilaku perawat dalam melaksaakan peran advokat sudah cukup abaik, ternyata masih ada beberapa kekurangan yang harus diperbaiki. Kekurangan tersebut antara lain dalam hal berhubunga dengan tenaga kesehatan lain, kemampuan berkomunikasi dan peran aktif dalam membantu komite keperawatan. Walaupu perawat kepala ruangan dan perawat pelaksana menyadari bahwa hubungan antara tenaga kesehatan sangat diperlukan dalam pelaksanaan peran advokat klien , mereka masih belum dapat menciptakan hubungan tersebut dengan baik. Hubungan antara tenaga kesehatan yang ada bukanlah hubungan mitra yang dapat saling terbuka antara tenaga kesehatan. Kozier, Erb dan Blais (1997) dan ICN (International Council of Nursing) (2003) menyatakan bahwa untuk dapat melaksanakan peran advokat klien dengan baik maka perawat harus dapat bekerja sama dengan orang lain sehingga tindakan yang dilakukan tidak merugikan klien. Chavey, Rea, Shanon dan Spencer (1998, dalam Robinson & Kish, 2002) dalam penelitiannya juga menjelaskan bahwa kemampuan membina hubungan dengan orang lain akan berpengaruh baik terhadap pelaksanaan peran advokat klien.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Pengaruh Karakteristik Dan Motivasi Terhadap Kinerja Perawat Dalam Penanganan Pasien Pengguna Jaminan Kesehatan Daerah Di Rumah Sakit Umum Daerah Rantauprapat Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2012 Chapter III VI

Pengaruh Karakteristik Dan Motivasi Terhadap Kinerja Perawat Dalam Penanganan Pasien Pengguna Jaminan Kesehatan Daerah Di Rumah Sakit Umum Daerah Rantauprapat Kabupaten Labuhanbatu Tahun 2012 Chapter III VI

Secara keseluruhan motivasi intrinsik perawat pelaksana yang terdiri dari aspek : tanggung jawab, prestasi yang diraih, pengakuan hasil kerja, pekerjaan itu sendiri, kemungkinan pengembangan dan kemajuan dominan pada jawaban kadang- kadang, namun persentase aspek motivasi intrinsik paling tinggi adalah aspek kemajuan dimana sebesar 20,4% yang menyatakan perawat pelaksana melaksanakan asuhan keperawatan kesehatan pada pasien sesuai kebutuhan pasien, sedangkan aspek yang paling rendah (jawaban tidak pernah) pada aspek kemajuan pada item pertanyaan tentang perawat pelaksana melaksanakan asuhan keperawatan kesehatan pada pasien karena ingin mengikuti perkembangan dan kemajuan di bidang keperawatan dimana jawaban tidak mencapai 53,1%.
Baca lebih lanjut

52 Baca lebih lajut

Pengaruh Motivasi Terhadap Kinerja Tim Perawat Pelaksana Dalam Pendokumentasian Keperawatan di Ruang Rawat Inap RSUD Dr.RM.Djoelham Binjai Tahun 2017

Pengaruh Motivasi Terhadap Kinerja Tim Perawat Pelaksana Dalam Pendokumentasian Keperawatan di Ruang Rawat Inap RSUD Dr.RM.Djoelham Binjai Tahun 2017

Hasil uji regresi logistik didapatkan bahwa ada 4 variabel motivasi yang berpengaruh terhadap kinerja perawat pelaksana dalam melaksanakan pendokumentasian keperawatan di ruang rawat inap RSUD Dr. RM Djoelham yaitu tanggungjawab, pengembangan diri, pengakuan/penghargaan, dan supervisi. Variabel yang paling berpengaruh terhadap kinerja perawat ialah tanggungjawab dengan B= 3,850.

15 Baca lebih lajut

METODE PE ELITIA Penelitian ini menggunakan rancangan cross

METODE PE ELITIA Penelitian ini menggunakan rancangan cross

Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, bertujuan untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat. Derajat kesehatan yang optimal dapat dicapai oleh perawat dengan adanya motivasi kerja. Motivasi kerja yang tinggi akan berpengaruh terhadap penilain prestasi kerja dalam melakukan kegiatan keperawatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan motivasi kerja perawat terdahap kinerja perawat di Rumah Sakit Umum Daerah Ungaran dan mengidentifikasi karakteristik perawat di RSUD Ungaran (umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan lamanya bekerja). Desain penelitian ini menggunakan cross sectional, jumlah sampel 66 responden dengan teknik total sampling. Instrumen penelitian ini berupa kuesioner dan lembar checklist. Prosedur pengumpulan data pada penelitian ini terdiri dari prosedur administratif dan prosedur teknis. Hasil analisa univariat menunjukkan karakteristik perawat pelaksana di ruang rawat inap RSUD Ungaran paling banyak meliputi usia ≥ 32 tahun 40 orang (60,6%), berjenis kelamin perempuan 55 orang (83,3%), berpendidikan D3 Keperawatan 63 orang (95,5%) dengan lamanya bekerja ≥ 5 tahun 38 orang (57,6%), untuk motivasi perawat yang persepsikan oleh perawat (61%) mempersepsikan baik dan kinerja perawat pelaksana (43,9%) mempersepsikan baik. Hasil analisis bivariat menunjukkan tidak ada hubungan antara umur (p=1,000), jenis kelamin (p=1,000), pendidikan (p=1,000), dan lamanya kerja (p=0,366) dengan kinerja perawat pelaksana, ada hubungan motivasi dengan kinerja perawat pelaksana (p=0,000). Peneliti menyimpulkan agar motivasi perawat perlu ditingkatkan dengan memberikan tunjangan, jenjang karir agar tercapai kinerja perawat yang baik.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

HUBUNGAN MOTIVASI KEPALA RUANG DENGAN KINERJA PERAWAT DI RUANG DEWASA RSUD KOTA YOGYAKARTA NASKAH PUBLIKASI - HUBUNGAN MOTIVASI KEPALA RUANG DENGAN KINERJA PERAWAT DI RUANG DEWASA RSUD KOTA YOGYAKARTA - DIGILIB UNISAYOGYA

HUBUNGAN MOTIVASI KEPALA RUANG DENGAN KINERJA PERAWAT DI RUANG DEWASA RSUD KOTA YOGYAKARTA NASKAH PUBLIKASI - HUBUNGAN MOTIVASI KEPALA RUANG DENGAN KINERJA PERAWAT DI RUANG DEWASA RSUD KOTA YOGYAKARTA - DIGILIB UNISAYOGYA

Jenis kelamin responden sebagian besar adalah perempuan sebanyak 28 orang (70%). Hal ini sesuai dengan rumah sakit umum lainnya yang didominasi oleh perawat perempuan. Pada dasarnya karakteristik perempuan dan laki-laki memang berbeda, bukan hanya dari segi fisik saja, tetapi juga dalam hal berpikir dan bertindak. Bastable (2006) menyebutkan bahwa perempuan cenderung lebih mampu menjadi pendengar yang baik, langsung menangkap focus diskusi dan tidak selalu berfokus terhadap diri sendiri, sementara laki-laki tidak demikian. Berbagai penelitian psikologis menunjukkan bahwa para wanita lebih bersedia menyesuaikan diri terhadap otoritas dan pria lebih agresif serta lebih mungkin memiliki pengharapan sukses dibandingkan para wanita, tetapi perbedaan-perbedaan tersebut kecil (Setiyaningsih, 2013). Hal ini didukung oleh penelitian Setiyaningsih (2013) yang menunjukkan adanya hubungan jenis kelamin dengan kinerja perawat.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

HUBUNGAN KEPUASAN KERJA PERAWAT PELAKSANA DENGAN PELAKSANAAN FUNGSI MANAJEMEN KEPALA RUANGAN INSTALASI RAWAT INAP NON BEDAH RSUP dr. M.DJAMIL PADANG - Repositori Universitas Andalas

HUBUNGAN KEPUASAN KERJA PERAWAT PELAKSANA DENGAN PELAKSANAAN FUNGSI MANAJEMEN KEPALA RUANGAN INSTALASI RAWAT INAP NON BEDAH RSUP dr. M.DJAMIL PADANG - Repositori Universitas Andalas

Kepuasan kerja merupakan sasaran penting dalam manajemen Sumber Daya Manusia (SDM), karena secara langsung maupun tidak langsung akan berpengaruh terhadap produktifitas kerja. Kepala Ruangan sebagai pimpinan di rawat inap bertanggung jawab secara langsung terhadap kepuasan kerja dan produktivitas perawat pelaksana.Tujuan penelitian ini adalah diketahui hubungan kepuasan kerja perawat pelaksana dengan pelaksanaan Fungsi Manajemen Kepala Ruangan Rawat Inap Non Bedah RSUP dr. M.Djamil Padang.

Baca lebih lajut

Pengaruh Motivasi Terhadap Kinerja Tim Perawat Pelaksana Dalam Pendokumentasian Keperawatan di Ruang Rawat Inap RSUD Dr.RM.Djoelham Binjai Tahun 2017

Pengaruh Motivasi Terhadap Kinerja Tim Perawat Pelaksana Dalam Pendokumentasian Keperawatan di Ruang Rawat Inap RSUD Dr.RM.Djoelham Binjai Tahun 2017

Menurut survey awal yang dilakukan, kinerja perawat di instalasi rawat inap RSUD Dr. RM Djoelham masih belum baik. Hal ini dapat dilihat dari survey awal peneliti dengan melihat 20 contoh rekam medis asuhan keperawatan rawat inap tahun 2016 sebagai sampel. Dari 20 contoh rekam medis, untuk kegiatan pengkajian sebayak 16 dokumentasi keperawatan diisi dengan jelas (80% dilaksanakan), kegiatan penegakan diagnosis sebanyak 17 dokumentasi keperawatan diisi dengan jelas (85% dilaksanakan), kegiatan perencanaan sebanyak 15 dokumentasi keperawatan diisi dengan jelas (75% dilaksanakan), kegiatan implementasi sebanyak 15 dokumentasi dilaksanakan (75% dilaksanakan), dan kegiatan evaluasi sebanyak 17 dokumentasi keperawatan diisi dengan jelas (85% dilaksanakan).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...