Komisi Kepolisian Nasional

Top PDF Komisi Kepolisian Nasional:

IMPLEMENTASI KOMISI KEPOLISIAN NASIONAL DALAM PENYELESAIAN PERKARA PELANGGARAN YANG DILAKUKAN OLEH ANGGOTA POLRI Repository - UNAIR REPOSITORY

IMPLEMENTASI KOMISI KEPOLISIAN NASIONAL DALAM PENYELESAIAN PERKARA PELANGGARAN YANG DILAKUKAN OLEH ANGGOTA POLRI Repository - UNAIR REPOSITORY

Penelitian ini memiliki tujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis kualifikasi prosedur penegakan hukum serta wewenang Komisi Kepolisian Nasional terhadap anggota Polri yang melakukan pelanggaran hukum. Atas dasar tujuan tersebut, diharapkan dapat memberikan masukan dan sumbangan dalam bidang ilmu hukum, serta dapat dijadikan bahan masukan dalam rangka sumbangan pemikiran tentang prosedur penyelesaian atas pelanggaran yang dilakukan oleh anggota Polri dan solusi dalam mengatasinya. Adapun metode penelitian yang hendak digunakan, yakni tipe penelitian yuridis normatif pendekatan perundang-undangan (Statute Approach).
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

PERATURAN KAPOLRI NOMOR 13 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA SEKRETARIAT KOMISI KEPOLISIAN NASIONAL

PERATURAN KAPOLRI NOMOR 13 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA SEKRETARIAT KOMISI KEPOLISIAN NASIONAL

Menimbang : bahwa sebagai pelaksanaan Pasal 9 ayat (2) Peraturan Presiden Nomor 17 Tahun 2005 tentang Komisi Kepolisian Nasional, perlu menetapkan Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia tentang Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Komisi Kepolisian Nasional;

11 Baca lebih lajut

Kewenangan Komisi Kepolisian Nasional dalam Mewujudkan Tata Kelola Kepolisian Yang Baik | Awaluddin | Jurnal Media Hukum 3039 8381 1 PB

Kewenangan Komisi Kepolisian Nasional dalam Mewujudkan Tata Kelola Kepolisian Yang Baik | Awaluddin | Jurnal Media Hukum 3039 8381 1 PB

menurut pendapat penulis belum memcerminkan sebagai sebuah peraturan yang ideal yang dapat memberikan daya dobrak bagi institusi ini untuk melaksanakan tugas dan fungsinya bagi pemajuan kepolisian di Indonesia. Misalnya, dalam hal melaksanakan wewenangnya Kompolnas dapat melakukan kegiatan menerima dan meneruskan saran dan keluhan masyarakat kepada Polri untuk ditindaklanjuti. Terkait dengan masalah ini sepenuhnya sangat bergantung dari itikad baik dari kepolisian itu sendiri, apakah saran dan keluhan dari masyarakat itu akan ditindaklanjuti atau tidak, karena tidak ada aturan normatif yang jelas dan konkrit yang mengatur bagaimana sesungguhnya jalur komando atau koordinasi antara kepolisian dan Kompolnas.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Sinergi Antara Kepolisian, Kejaksaan Dan  Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Dalam Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Di Indonesia

Sinergi Antara Kepolisian, Kejaksaan Dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Dalam Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Di Indonesia

Hubungan polisi dan jaksa sendiri terutama berkaitan dengan tugas penyidikan suatu tindak pidana. Untuk menghindari kesimpang-siuran tugas, penyalahgunaan kewenangan, tumpang tindihnya kewenangan, serta kegagalan mencapai tugas menyelesaikan kejahatan yang terjadi di masyarakat, perlu ada suatu hukum yang di dalamnya antara lain memuat siapa aparat penegak hukum yang oleh negara diberikan tugas penegakan hukum pidana, bagaimana tata cara penegakannya, apa saja tugas dan kewajibannya, serta apa sanksi bila ternyata pelaksanaannya tidak sesuai dengan cara atau tugas dan kewenangannya. Hukum tersebut dikenal sebagai hukum pidana formal atau hukum acara pidana, Wirjono Prodjodikoro merumuskan hukum acara pidana ini sebagai suatu rangkaian peraturan-peraturan yang memuat cara bagaimana badan-badan pemerintah yang berkuasa, yaitu Kepolisian, Kejaksaan, dan Pengadilan harus bertindak guna mencapai tujuan negara dengan mengadakan hukum pidana. Oleh karena itu, keempat subsistem ini memiliki hubungan yang erat satu dengan yang lainnya dimana tujuannya adalah satu, tetapi tugasnya berbeda. 18
Baca lebih lanjut

190 Baca lebih lajut

EFEKTIVITAS FUNGSI POLISI LALU LINTAS DALAM MENGURANGI ANGKA PELANGGARAN LALU LINTAS YANG DI SEBABKAN OLEH KENDERAAN BENTOR (Studi Kasus Polres Gorontalo Kota) - Tugas Akhir

EFEKTIVITAS FUNGSI POLISI LALU LINTAS DALAM MENGURANGI ANGKA PELANGGARAN LALU LINTAS YANG DI SEBABKAN OLEH KENDERAAN BENTOR (Studi Kasus Polres Gorontalo Kota) - Tugas Akhir

Salah satu peran dan fungsi aparat kepolisian yang juga patut mendapatkan apresiasi tersendiri adalah keberhasilan institusi Polri dalam menata arus lalu lintas dan menciptakan budaya tertib di jalan raya. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan Witono Hidayat Yuliadi dalam buku Undang-undang Lalu Lintas dan Aplikasinya, bahwa:

10 Baca lebih lajut

Dimensi Sosial Politik Pembentukan Komisi Ombudsman Nasional (Analisis Perumusan Keputusan Presiden Nomor 44 Tahun 2000 tentang Pembentukan Komisi Ombudsman Nasional)

Dimensi Sosial Politik Pembentukan Komisi Ombudsman Nasional (Analisis Perumusan Keputusan Presiden Nomor 44 Tahun 2000 tentang Pembentukan Komisi Ombudsman Nasional)

2000 tentang pembentukan Komisi Ombudsman Nasional. Dalam perumusan kebijakan tersebut terdapat faktor sosial politik baik dari lingkungan ekstern maupun intern pemerintah yang mempengaruhi proses perumusan kebijakan tersebut. Perumusan kebijakan negara akan lebih mudah dipelajari apabila menggunakan suatu pendekatan atau model tertentu (Islamy, 2000:34). Salah satunya adalah model sistem politik yang diuraikan David Easton. Model ini didasari pada konsep teori informasi (inputs, withinputs, outputs dan feedback) dan memandang kebijaksanaan negara sebagai respon suatu sistem politik terhadap kekuatan-kekuatan lingkungan (sosial, politik, ekonomi, kebudayaan, geografis dan sebagainya) yang ada di sekitarnya. Kebijakan negara dipandang oleh model ini sebagai hasil (output) dari sistem politik. Konsep sistem politik mempunyai arti sejumlah lembaga-lembaga dan aktivitas-aktivitas politik dalam masyarakat yang berfungsi mengubah tuntutan-tuntutan (demands), dukungan-dukungan (support) dan sumber-sumber (resources) – semuanya ini adalah masukan- masukan (inputs) – menjadi keputusan-keputusan atau kebijaksanaan-kebijaksanaan yang otoratif bagi seluruh anggota masyarakat (outputs). Dengan singkat dikatakan bahwa sistem politik berfungsi mengubah inputs menjadi outputs. Sistem politik yang terdiri dari badan-badan legislatif, eksekutif, yudikatif; kelompok kepentingan, media massa; anggota-anggota masyarakat; tokoh-tokoh masyarakat (golongan elit); sikap dan perilaku
Baca lebih lanjut

109 Baca lebih lajut

PENUTUP  KEWENANGAN POLISI SEBAGAI APARAT PENEGAK HUKUM DALAM MENGGUNAKAN SENJATA AP.

PENUTUP KEWENANGAN POLISI SEBAGAI APARAT PENEGAK HUKUM DALAM MENGGUNAKAN SENJATA AP.

4. Pimpinan kepolisian harus menindak tegas setiap anggotanya yang melakukan penyimpangan dalam melaksanakan tugasnya, salah satunya adalah tindakan penggunaan senjata api yang tidak sesuai dengan prosedur, bukan melindungi mereka dengan dalih melaksanakan tugas, karena dalam melaksanakan tugas ada aturan-aturan yang harus mereka perhatikan dan taati dan selain itu mereka juga harus menghormati hak hidup orang lain sekalipun sedang melaksanakan tugas.

6 Baca lebih lajut

PROBLEMATIKA UNDANG UNDANG NOMOR 26 TAHU

PROBLEMATIKA UNDANG UNDANG NOMOR 26 TAHU

13 Kedua, pertimbangan pembentukan payung hukum untuk pengadilan HAM berupa UU No. 26 tahun 2000 didasarkan atas pertimbangan adanya desakan dari masyarakat, baik nasional maupun internasional. Hal itu juga yang kemudian berdampak pada ketidakefektifan pelaksnaan UU a quo oleh Komnas HAM maupun intitusi terkait dalam penegakan HAM. Kelemahan UU a quo tentu tidak bisa dilepaskan atas proses politik hukum yang terjadi waktu itu, mengingat prosesnya yang cukup singkat dan atas desakan dari berbagai pihak, maka dampaknya kurang mengakomodir aspek fundamen HAM yang harus dijamin, dilindungi, dan dihormati. Sementara solusinya, pemerintah harus melakukan amandemen dan harmonisasi UU maupun pembuatan hukum baru yang responsif. Saran
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

PERATURAN KAPOLRI 2 TAHUN 2005 TENTANG MEKANISME PEMILIHAN ANGGOTA KOMPOLNAS

PERATURAN KAPOLRI 2 TAHUN 2005 TENTANG MEKANISME PEMILIHAN ANGGOTA KOMPOLNAS

Menimbang : Bahwa dalam rangka pelaksanaan Pasal 12 ayat (1) Peraturan Presiden RI Nomor 17 Tahun 2005 tentang Komisi Kepolisian Nasional, dipandang perlu menetapkan Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia tentang Mekanisme dan Tata Tertib Pemilihan dan Penentuan Calon Anggota Komisi Kepolisian Nasional dari unsur Pakar Kepolisian dan Tokoh Masyarakat;

8 Baca lebih lajut

1 DAMPAK HUBUNGAN KERJASAMA PT FREEPORT INDONESIA DENGAN KEPOLISIAN RI TERKAIT JAMINAN KEAMANAN WILAYAH PERTAMBANGAN DI TEMBAGAPURA KABUPATEN MIMIKA

1 DAMPAK HUBUNGAN KERJASAMA PT FREEPORT INDONESIA DENGAN KEPOLISIAN RI TERKAIT JAMINAN KEAMANAN WILAYAH PERTAMBANGAN DI TEMBAGAPURA KABUPATEN MIMIKA

g. Pasal 7: berisi tentang Kepatuhan pada Kebijakan Perusahan, terdiri dari 3 ayat, (1) dalam melaksanakan tugas pemeliharaan keamanan dan ketertiban PTFI, Kepolisian wajib mematuhi dan melaksanakan kebijakan-kebijakan perusahaan sehubungan Keselamatan dan Kesehatan kerja, dan Lingkungan Hidup (K3LH), Sosial, Ketenagakerjaan dan Hak-hak Asasi Manusia, prinsip-prinsip perilaku bisnis termasuk beberapa aturan berikut, (a) mematuhi semua kebijakan dan aturan yang berlaku di PTFI (b) senantiasa menggunakan ID card selama berada dalam wilayah PTFI, (c) mengikuti pelatihan mengemudi kendaraan di jalan tambang (d) mematuhi prosedur konvoi pengawalan, (e) tidak bertugas jika dalam pengaruh alkohol, (f) mematuhi aturan atau kebijakan penggunaan fasilitas perusahaan, (g) area terbatas seperti mill 74 dan pabrik pengeringan di porsite, hanya dapat dimasuki dalam keadaan darurat seperti terjadi gangguan atau tindak pidana di area tersebut, ditemani karyawan PTFI yang berwenang, (i) tidak membawa senjata pada area-area tertentu yang ditetapkan oleh PTFI sebagai area bebas senjata, kecuali dalam keadaan darurat atau terjadi tindak kriminal (2) Kepolisian akan menangani semua kasus yang dilaporkan oleh PTFI, dan kasus-kasus kriminalitas yang mengganggu keamanan dan ketertiban wilayah pertambangan PTFI.
Baca lebih lanjut

95 Baca lebih lajut

EFEKTIVITAS KPK DALAM MEMBERANTAS KORUPSI DI LEMBAGA PERADILAN (Studi Kasus KPK 2008)

EFEKTIVITAS KPK DALAM MEMBERANTAS KORUPSI DI LEMBAGA PERADILAN (Studi Kasus KPK 2008)

Terwujudnya masyarakat Indonesia yang adil dan makmur berdasarkan UUD 1945 dan Pancasila adalah cita-cita luhur para pendiri bangsa ini. Namun, sampai detik ini kondisi tersebut belum dapat tercapai dengan baik, dan salah satu penyebabnya adalah masih tumbuh suburnya praktik korupsi. Harapan rakyat Indonesia untuk hidup dalam negara yang bebas dari korupsi banyak digantungkan pada kinerja lembaga peradilan (kepolisian dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Penyusun merasa tertarik untuk meneliti efektivitas KPK sebagai salah satu ujung tombak pemberantasan korupsi khususnya dalam menangani korupsi peradilan. Karena korupsi peradilan sangat jarang sekali tersentuh oleh KPK.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

PENDAPAT HUKUM Legal Opinion Kasus Pelan

PENDAPAT HUKUM Legal Opinion Kasus Pelan

Tahun 2011 Tentang Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia, terpenuhi dan sanksi terhadap pelanggaran ini dapat diputuskan dalam Sidang Komisi Kode Etik Polri, yang dapat berupa pidana penjara, maupun sanksi administratif yaitu : dipindahkan tugas ke jabatan yang berbeda, dipindahkan tugas ke wilayah yang berbeda, pemberhentian dengan hormat, pemberhentian tidak dengan hormat. Jadi kesimpulan dari tulisan ini, TNI dan polri telah melanggar keenam dasar hukum diatas berupa pelanggaran terhadap HAM penduduk Wamena pada tahun 2003 silam.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

S SEJ  1000905 Chapter1

S SEJ 1000905 Chapter1

Komisi Nasional HAM yang kemudian mendapatkan penguatan pada masa reformasi dengan disahkannya beberapa undang-undang yang mengkaji tentang HAM. Penguatan-penguatan tersebut diantaranya yaitu dengan dibuatnya peraturan perundang-undangan yang terkait dengan HAM sebagai rambu-rambu, seperti UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, ratifikasi terhadap instrument internasional tentang HAM, UU No. 26 Tahun 2000 tentang pengadilan HAM yang memungkinkan dibukanya kembali kasus-kasus pelanggaran HAM berat di masa lalu, serta pemberantasan praktek KKN (Muladi, 2009, hlm. 51).
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Peran Komisi Nasional Perlindungan Anak Terhadap Anak Korban Perceraian

Peran Komisi Nasional Perlindungan Anak Terhadap Anak Korban Perceraian

Sebelum menjelaskan profil Komisi Nasional Perlindungan Anak penulis ingin terlebih dahulu menjelaskan apa komisi itu sendiri. Komisi di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia itu sendiri adalah sekelompok orang yang ditunjuk atau diberi wewenang oleh pemerintah untuk menjalankan sebuah tugas tertentu. 1 Sejarah mencatat dan membuktikan bahwa anak adalah pewaris dan pembentuk masa depan bangsa. Oleh karena itu, pemajuan,pemenuhan dan penjamin perlindungan hak anak, serta untuk memegang hak teguh non diskriminasi, kepentingan terbaik untuk anak itu sendiri. Melindungi kelangsungan anak hidup dan tumbuh seorang orang, serta untuk menghormati pandangan dan pendapat anak dalam setiap hal yang menyangkut dirinya. Ini merupakan syarat mutlak dalam upaya perlindungan anak yang harus efektif untuk membentuk karakteristik seorang anak.
Baca lebih lanjut

92 Baca lebih lajut

Dimensi Sosial Politik Pembentukan Komisi Ombudsman Nasional (Analisis Perumusan Keputusan Presiden Nomor 44 Tahun 2000 tentang Pembentukan Komisi Ombudsman Nasional)

Dimensi Sosial Politik Pembentukan Komisi Ombudsman Nasional (Analisis Perumusan Keputusan Presiden Nomor 44 Tahun 2000 tentang Pembentukan Komisi Ombudsman Nasional)

Di Indonesia wacana pembentukan Ombudsman sudah lama sekali berkembang, akan tetapi baru menjadi kenyataan pada tahun 2000. Pada saat itu sedang bergulir isu reformasi untuk menuju negara yang lebih demokratis. Komisi Ombudsman Nasional dibentuk pada tanggal 20 Maret 2000 berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2000 (Sujata, 2002:17). Komisi Ombudsman Nasional dibentuk dengan memfokuskan diri pada pengawasan terhadap proses pemberian pelayanan umum oleh penyelenggara negara guna mencegah dan mengatasi terjadinya maladministrasi. Objek pengawasannya meliputi Lembaga Peradilan, Kejaksaan, Kepolisian, Pemerintah Daerah, Badan Pertanahan Nasional, Instansi Pemerintah (Departemen dan Non-Departemen), TNI, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Perguruan Tinggi Negeri.
Baca lebih lanjut

60 Baca lebih lajut

SENGKETA KEWENANGAN KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI DENGAN KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DALAM KASUS KORUPSI.

SENGKETA KEWENANGAN KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI DENGAN KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DALAM KASUS KORUPSI.

Perkembangan konsep trias politica juga turut memengaruhi perubahan struktur kelembagaan di Indonesia. Di banyak negara, konsep klasik mengenai pemisahan kekuasaan tersebut dianggap tidak lagi relevan karena tiga fungsi kekuasaan yang ada tidak mampu menanggung beban negara dalam menyelenggarakan pemerintahan. Untuk menjawab tuntutan tersebut, negara membentuk jenis lembaga negara baru yang diharapkan dapat lebih responsif dalam mengatasi persoalan aktual negara. Maka, berdirilah berbagai lembaga negara yang membantu tugas lembaga-lembaga negara tersebut yang menurut Jimly Asshidiqie, disebut sebagai ”Lembaga Negara Bantu” dalam bentuk dewan, komisi, komite, badan, ataupun otoritas, dengan masing-masing tugas dan wewenangnya. Beberapa ahli tetap mengelompokkan lembaga negara bantu dalam lingkup eksekutif. Hal ini dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan untuk merampingkan organisasi Pemerintahan akibat tuntutan zaman untuk mengurangi peran Pemerintahan yang sentralistis tetapi penyelenggaran negara dan pemerintahan dapat berlangsung effektif, effisien dan demokratis dalam memenuhi pelayanan publik. Jimly Asshiddiqie mencatat bahwa di Amerika Serikat lembaga-lembaga independen dengan kewenangan regulasi, pengawasan atau monitoring ini lebih dari 30-an 43 . Dalam konteks Indonesia, kehadiran lembaga negara bantu menjamur pascaperubahan UUDNRI Tahun 1945.
Baca lebih lanjut

51 Baca lebih lajut

STUDI KOMPARATIF TENTANG PERANAN NORMATIF KEJAKSAAN KEPOLISIAN DAN KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI (KPK)  STUDI KOMPARATIF TENTANG PERANAN NORMATIF KEJAKSAAN KEPOLISIAN DAN KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI (KPK) DALAM UPAYA PENANGANAN TINDAK PIDANA KORUPSI.

STUDI KOMPARATIF TENTANG PERANAN NORMATIF KEJAKSAAN KEPOLISIAN DAN KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI (KPK) STUDI KOMPARATIF TENTANG PERANAN NORMATIF KEJAKSAAN KEPOLISIAN DAN KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI (KPK) DALAM UPAYA PENANGANAN TINDAK PIDANA KORUPSI.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Peranan normatif dari Polri, Kejaksaan dan KPK dalam pemberantasan tindak pidana korupsi 1. Kepolisian menerima laporan, melakukan penyelidikan, penangkapan, penahanan, penggeledahan, melakukan penyidikan, pemeriksaan terhadap terdakwa tindak pidana korupsi, dan membuat berkas perkara untuk kemudian dilimpahkan ke Kejaksaan 2. Kejaksaan peranannya: menerima limpahan perkara dari kepolisian,

10 Baca lebih lajut

Respon Mahasiswa FISIP USU Terhadap Konflik KPK-Polri pada Tahun 2015

Respon Mahasiswa FISIP USU Terhadap Konflik KPK-Polri pada Tahun 2015

Sepertinya dia menganggap konflik KPK vs Kepolisian Republik Indonesia sekarang benar- benar konflik antar lembaga dan rakyat menghujat Kepolisian Republik Indonesia. Pasti Elman sebagai wartawan senior tahu persis akar masalah konflik ini bila ditelusuri sampai ke akarnya. Konflik mengemuka sejak Presiden Joko Widodo mengajukan Komjen Pol. Budi Gunawan sebagai calon tunggal kaKepolisian Republik Indonesia ke DPR, lalu sehari sebelum DPR melakukan fit and proper test terhadap Budi Gunawan, KPK menetapkan Budi Gunawan sebagai tersangka. Kegaduhan meledak ketika petugas Bareskrim Kepolisian Republik Indonesia menangkap Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto, yang ditetapkan sebagai tersangka untuk kasus saksi palsu Pilkada Kotawaringin Barat tahun 2010.
Baca lebih lanjut

89 Baca lebih lajut

ProdukHukum RisTek

ProdukHukum RisTek

(3) Jumlah calon anggota Komisi Kepolisian Nasional yang diusulkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) sebanyak 12 (dua belas) orang, untuk dipilih oleh Presiden 3 (tiga) orang dari unsur Pakar Kepolisian dan 3 (tiga) orang dari unsur Tokoh Masyarakat.

6 Baca lebih lajut

PERANAN PROPAM DALAM PENEGAKAN HUKUM TERHADAP ANGGOTA KEPOLISIAN YANG MELAKUKAN TINDAK PIDANA DI WILAYAH HUKUM POLRES PELABUHAN MAKASSAR

PERANAN PROPAM DALAM PENEGAKAN HUKUM TERHADAP ANGGOTA KEPOLISIAN YANG MELAKUKAN TINDAK PIDANA DI WILAYAH HUKUM POLRES PELABUHAN MAKASSAR

Adanya tindak pidana yang dilakukan oleh anggota Polri diketahui berdasarkan laporan atau pengaduan oleh masyarakat, laporan atau pengaduan tersebut dapat melalui Direktorat Reserse Kriminal maupun Sub Bidang Provos. Bagi anggota Polri yang melakukan tindak pidana, maka penanganan proses penyidikan perkaranya ditangani oleh Kesatuan Reserse Kriminal, setelahnya diserahkan kepada Pelayanan Pengaduan Penegakan Disiplin (P3D) atau yang lebih dikenal dengan sebutan Provos. Selanjutnya dari hasil penyidikan tersebut berkas perkaranya dilimpahkan ke Kejaksaan untuk selanjutnya disidang di Pengadilan, dalam hal ini anggota Polri diperlakukan sama dimuka hukum seperti masyarakat sipil lainnya. Apabila telah dijatuhi vonis hukuman, maka bagi anggota Polri tersebut mendapatkan sanksi yang sama pula dengan masyarakat sipil lainnya 44 , karena Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia tunduk pada kekuasaan peradilan umum, hal ini dijelaskan dalam Pasal 29 ayat 1 UU No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Baca lebih lanjut

91 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...