Kompetensi Sosial Emosional Anak

Top PDF Kompetensi Sosial Emosional Anak:

S PAUD 1205721 Chapter3

S PAUD 1205721 Chapter3

Sedangkan, untuk instrumen penelitian mengenai kompetensi sosial emosional anak dibagi dalam tiga aspek kompetensi sosial emosional anak, yaitu kesadaran diri, rasa tanggung jawab untuk diri sendiri dan orang lain, dan perilaku prososial. Adapun secara detail item instrumen kompetensi sosial emosional dapat dilihat pada Tabel 3.5 di bawah ini:

27 Baca lebih lajut

S PAUD 1205721 Abstract

S PAUD 1205721 Abstract

Kompetensi sosial emosional anak tidak akan timbul dengan sendirinya. Tentunya banyak sekali faktor-faktor yang dapat mempengaruhi, dan diantaranya status sosial ekonomi orangtua termasuk ke dalam faktor lingkungan keluarga yang dapat mempengaruhi kompetensi sosial emosional anak. Keadaan ekonomi orangtua yang baik akan memberikan kesempatan yang lebih luas kepada anak untuk dapat mengembangkan kompetensi sosial emosional yang berada di dalam diri anak. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan status sosial ekonomi orangtua dengan kompetensi sosial emosional anak Taman Kanak-kanak. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian korelasional. Lokasi penelitian dilaksanakan di Taman Kanak-kanak Kelurahan Rancaekek Kencana, Kabupaten Bandung, dengan sampel penelitian 10 lembaga Taman Kanak-kanak dengan jumlah sampel 152 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara status sosial ekonomi orangtua dengan kompetensi sosial emosional anak, seperti yang ditunjukkan oleh hasil nilai sig = 0,125 lebih besar dari 0,05 maka dapat dikatakan H 0 diterima dan H a ditolak. Besarnya korelasi adalah -0,125, menunjukkan semakin
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

S PAUD 1205721 Chapter5

S PAUD 1205721 Chapter5

2. Profil Kompetensi Sosial Emosional Anak Taman Kanak-kanak di Kelurahan Rancaekek Kencana, Kabupaten Bandung ditemukan bahwa pada umumnya, yaitu sebagian besar anak mempunyai kompetensi sosial emosional yang tinggi, dan sisanya anak mempunyai kompetensi sosial emosional yang sedang, sehingga tidak ada satu pun anak yang memiliki kompetensi sosial emosional rendah.

3 Baca lebih lajut

S PAUD 1205721 Title

S PAUD 1205721 Title

Skripsi : 05/PGPAUD/VII/2016 HUBUNGAN STATUS SOSIAL EKONOMI O RANGTUA DENGAN KOMPETENSI SOSIAL EMOSIONAL ANAK TAMAN KANAK -KANAK Studi Korelasional pada Orangtua dan Anak Taman Kanak[r]

4 Baca lebih lajut

S PAUD 1205721 Table of content

S PAUD 1205721 Table of content

ix Hildamayanti Dwi Putri, 2016 HUBUNGAN STATUS SOSIAL EKONOMI ORANGTUA DENGAN KOMPETENSI SOSIAL EMOSIONAL ANAK TAMAN KANAK-KANAK Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.[r]

3 Baca lebih lajut

PERMAINAN DENGAN MEDIA INFORMASI DAN TEKNOLOGI (IT) DALAM MENGEMBANGKAN SOSIAL EMOSIONAL ANAK   Implementasi Permainan Dengan Media Informasi Dan Teknologi (IT) dalam Mengembangkan Sosial Emosional Anak Kelompok B Di TK Pertiwi Randu, Boyolali Tahun Ajara

PERMAINAN DENGAN MEDIA INFORMASI DAN TEKNOLOGI (IT) DALAM MENGEMBANGKAN SOSIAL EMOSIONAL ANAK Implementasi Permainan Dengan Media Informasi Dan Teknologi (IT) dalam Mengembangkan Sosial Emosional Anak Kelompok B Di TK Pertiwi Randu, Boyolali Tahun Ajara

Kemampuan sosial emosional anak usia dini perlu dikembangkan karena sosial emosional merupakan kemampuan awal bagi anak untuk berinteraksi dengan lingkungannya yang lebih luas. pengembangan sosial emosional anak pada waktu awal sekolah karena sebelum memasuki lingkungan sekolah anak hanya mengenal lingkungan keluarga oleh sebab itu saat anak memasuki lingkungan sekolah dibutuhkan upaya pengembangan kemampuan sosial emosional agar anak dapat menyesuikan diri dengan lingkungan yang baru.( Rita Eka Izzaty dkk dalam Mita Nugraheni 2014:2). Proses pendidikan saat ini telah bergeser sesuai dengan perkembangan zaman yang dulunya hanya menggunakan buku dan yang lainnnya, kini telah banyak mengalami perubahan yang sangat pesat dengan memanfaatkan teknologi digital yang sudah banyak berkembang di dunia pendidikan, maka teknologi di manfaatkan untuk kepentingan peningkatan layanan dan kualitas pendidikan.(Lantip Diat Prasojo dan Riyanto 2011:5)
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

T1__Full text Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Pemanfaatan Media Video untuk Pemahaman Konsep Berteman pada Tunagrahita Ringan: Studi di Sekolah Luar Biasa Negeri Salatiga T1  Full text

T1__Full text Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Pemanfaatan Media Video untuk Pemahaman Konsep Berteman pada Tunagrahita Ringan: Studi di Sekolah Luar Biasa Negeri Salatiga T1 Full text

Dapat dikatakan bahwa tunagrahita ringan yaitu mereka termasuk dalam kelompok ini meskipun kecerdasannya dan adaptasi sosialnya terhambat namun mereka mempunyai kemampuan untuk berkembang dalam bidang pelajaran akademik, penyesuaian sosial, dan kemampuan berkerja. Dalam akademik mereka pada umumnya mampu mengikuti mata pelajaran tingkat sekolah SD, SLTPLB, dan SMALB maupun sekolah biasa dengan program khusus dengan sesuai dengan berat ringannya ketunagrahitaan yang disandangnya. Anak tunagrahita ringan merupakan individu yang utuh dan unik serta memiliki potensi yang dapat dikembangkan. Agar potensi anak tunagrahita dapat dikembangkan secara optimal, mereka memerlukan layanan khsuss. Anak tunagrahita memiliki intelegensi antara 70-50. Dampak dari ketunagrahitaan menyebabkan mereka megalami gangguan dalam bidang akademik, menyesuaikan diri dengan lingkungan mengalami gangguan bicara, bahasa serta emosi. Disamping itu anak tunagrahita ringan juga kurang terampil dalam memikirkan hal-hal yang abstrak, sehingga mereka memerlukan pembelajaran dengan hal-hal kongrit. Anak tunagrahita ringan banyak yang lancar tetapi kurang perbendaharaan kata- katanya. Mereka mengalami kesukaran berpikir abstrak, tetapi mereka masih dpat mengikuti pelajaran akademik di sekolah biasa maupun di sekolah khusus, pada umur 16 tahun baru mencapai kecerdasan yang sama dengan anak umur 12 tahun [5].
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

View of Terapi bermain berpengaruh terhadap kemampuan interaksi sosial pada anak autis

View of Terapi bermain berpengaruh terhadap kemampuan interaksi sosial pada anak autis

Anak autis perlu mendapatkan terapi dalam rangka membangun kondisi yang lebih baik. Melalui terapi secara rutin dan terpadu, diharapkan apa yang menjadi kekurangan anak secara bertahap akan dapat terpenuhi. Terapi bagi anak autis mempunyai tujuan mengurangi masalah perilaku, meningkatkan kemampuan dan perkembangan belajar anak dalam hal penguasaan bahasa dan membantu anak autis agar mampu bersosialisasi dalam beradaptasi di lingkungan sosialnya (11). Adapun terapi yang bisa dilakukan pada anak autis yaitu terapi wicara, terapi bermain, terapi okupasi (melatih motorik halus anak), terapi dengan obat-obatan, terapi dengan makanan, terapi integrasi sensorik, terapi integrasi pendengaran dan terapi biomedik (12). Terapi bermain yang diterapkan kepada anak autisme tertuju pada penekanan-penekanan terhadap hal- hal berikut: permainan yang cocok, sensoris motor, dilakukan dengan gembira dan berfungsi sebagai wahana hubungan kasih sayang diantara keluarga, mudah dilakukan, bersifat ekonomis dan mudah dibuat atau diperoleh (13). Terapi permainan yang diberikan kepada anak autisme harus cocok atau sesuai sebagai bentuk kegiatan latihan terapi dapat dilakukan secara aman, meningkatkan kesehatan dan membantu kepuasan diri anak autisme sesuai dengan harapannya (14).
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

S PAUD 1003505 Chapter5

S PAUD 1003505 Chapter5

2. Pelaksanaan kegiatan membatik dilakukan dalam dua siklus, yang mana setiap siklus terdiri dari dua tindakan.Pelaksanaan tindakan disesuaikan dengan rencana yang telah dirancang sebelumnya. Kekurangan pada siklus I akan diperbaiki pad siklus II. Dalam pelaksanaan kegiatan, guru senantiasa membimbing dan memberikan arahan kepada anak. Jika anak tidak dapat melakukan kegiatan dengan baik, maka guru membantu serta membimbing anak untuk dapat menyelesaikan tugasnya.

2 Baca lebih lajut

S PPB 1201979 Chapter5

S PPB 1201979 Chapter5

Kompotensi emosional-sosial peserta didik berbakat berdasarkan perspektif pribadi secara umum berada pada kategori berkembang. Artinya peserta didik pada kategori berkembang telah mencapai tingkat kompetensi emosional-sosial yang belum kompeten pada setiap aspeknya, sehingga masih perlu peningkatan dan penguatan pada kemampuan memahami diri, mengontrol emosi diri, berorientasi berprestasi, berpikiran positif, kemampuan menyesuaikan diri, berempati, kesadaran berorganisasi, kemampuan memberikan pengaruh, kemampuan menjadi mentor, kemampuan menyelesaikan konflik, dan kemampuan bekerjasama dalam tim, dengan kata lain peserta didik pada kategori ini memiliki kompetensi emosional-sosial yang belum kompeten.
Baca lebih lanjut

3 Baca lebih lajut

Smt 4_PG542_Psikologi Anak Berbakat_Herlina-sdh.doc

Smt 4_PG542_Psikologi Anak Berbakat_Herlina-sdh.doc

Dalam perkuliahan ini dibahas teori tentang anak berbakat; karakteristik intelektual, emosional, dan sosial anak berbakat dan anak kreatif dengan penekanan pelayanan dan program pengembangan keberbakatannya; identifikasi keberbakatan dan kreativitas anak; pengaruh karakteristik keluarga terhadap keberbakatan dan kreativitas.

3 Baca lebih lajut

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Perkembangan Sosial Emosional Anak 1. Pengertian Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Dini - Suharyati BAB II

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Perkembangan Sosial Emosional Anak 1. Pengertian Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Dini - Suharyati BAB II

Menurut Muslichatun (2004:171) kegiatan bercerita anak dibimbing mengembangkan kemampuan untuk mendengarkan cerita guru yang bertujuan untuk memberikan informasi atau menanamkan nilai-nilai sosial, moral dan keagamaan, pemberian informasi tentang lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Lingkungan fisik itu meliputi segala sesuatu yang ada disekitar anak yang non manusia, dalam kaitan lingkungan fisik melalui bercerita anak memperoleh informasi tentang binatang, peristiwa yang terjadi dalam lingkungan anak, bermacam-macam makanan, pakaian, perumahan, tanaman yang terdapat dilinghkungan rumah, sekolah kejadian di rumah dan jalan. Sedangkan informasi tentang lingkungan sosial meliputi orang yang ada dalam keluarga, sekolah dan masyarakat, dalam masyarakat tiap orang memiliki pekerjaan yang harus dilakukan setiap hari yang memberikan pelayanan jasa kepada orang lain atau menghasilkan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan orang lain.
Baca lebih lanjut

32 Baca lebih lajut

T POR 1402766 Chapter1

T POR 1402766 Chapter1

Para ahli menemukan bahwa perkembangan otak manusia mencapai kapasitas 50% pada masa anak usia dini. Anak-anak Indonesia pada umumnya mengenal pendidikan PAUD sebelum masuk Sekolah Dasar. Sebagaimana tertulis pada UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 28 yang menjelaskan bahwa: “ Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) diselenggarakan melalui 3 jalur yaitu: Pertama, jalur pendidikan formal berbentuk Taman Kanak- kanak (TK), Raudatul Athfal (RA) atau bentuk lain yang sederajat; Kedua, jalur pendidikan non formal berbentuk Kelompok Bermain (KB), Taman Penitipan Anak (TPA) atau bentuk lain yang sederajat dan ketiga, jalur pendidikan informal berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan . ”
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Upaya Meningkatkan Kemampuan Sosial Emosional Anak Melalui Metode Proyek Pada Kelompok B4 Di TK Al Islam 1 Jamsaren Surakarta Tahun Pelajaran 2014/2015.

PENDAHULUAN Upaya Meningkatkan Kemampuan Sosial Emosional Anak Melalui Metode Proyek Pada Kelompok B4 Di TK Al Islam 1 Jamsaren Surakarta Tahun Pelajaran 2014/2015.

Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal.

6 Baca lebih lajut

126 020 pendan materi guru kelas paud

126 020 pendan materi guru kelas paud

yaitu letupan kemarahan atau mengamuk. Bentuk perilaku misalnya dengan menangis, menjerit, melempar barang, membuat tubuhnya kaku, memukul, berguling atau tidak mau beranjak ke tempat lain. Temper berarti suatu gaya, sikap atau perilaku yang menunjukkan kemarahan. Tantrum adalah suatu ledakan emosi yang kuat, disertai rasa marah, serangan yang bersifat agresif, menangis, menjerit, melempar, berguling atau menghentakan kaki. Tenper tantrum adalah ungkapan kemarahan anak yang disertai dengan tindakan negative atau destruktif. Temper tantrum terjadi karena anak belum memahami cara yang tepat untuk mengekspresikan emosi atau mengendalikan diri. Tantrum pada anak dapat menguji batasan apakah pendidik menyatakan atau menerapkan sesuatu secara sungguh-sungguh. Anak akan melihat reaksi atau respon pendidik saat menghadapi tantrum. Di satu sisi, tantrum dapat memungkinkan anak untuk menyatakan kemandiriannya, mengekspresikan individualitasnya, menyuarakan pendapatnya, melepaskan kemarahan/frustasi, melepaskan energi atau emosi yang tertahan dan sebagainya. Di sisi lain, anak perlu dibimbing untuk dapat mengekspresikan kemarahannya dengan cara yang dapat diterima oleh lingkungan. Penyebab tantrum antara lain sebagai berikut: (1) frustasi; (2) kelelahan; (3) lapar; (4) sakit; (5) kemarahan; (6) kecemburuan; (7) perubahan dalam rutinitas; (8) tekanan di rumah (misalnya akibat ketidakharmonisan orang tua, pindah rumah, kematian, sakit atau masalah keuangan); (9) tekanan di sekolah; dan (10) rasa tidak nyaman. Dalam penanganan tantrum, pendidik tidak diharapkan untuk menetapkan harapan yang tinggi pada anak sebagaimana standar orang dewasa. Pendidik tidak menafsirkan kemampuan berbicara anak sebagai ketrampilan menalarnya. Hal ini dikarenakan terkadang anak mampu mengatakan hal-hal yang sebenarnya tidak mereka pahami. Langkah-langkah untuk meminimalkan munculnya temper tantrum pada anak : (1) mengenali pola tantrum pada anak. (2) Memberikan kegiatan yang menyenangkan dan positif bagi anak serta dan pujian/hadiah untuk usaha anak; (3) memberi label emosi pada anak; (4)mengajarkan kontrol diri : (5)mengajarkan relaksasi; (6)menentukan batasan yang wajar untuk anak. Respon pendidik saat anak tantrum : (1) memastikan keamanan untuk anak; (2) bersikap tenang dalam menghadapi tantrum: (3) mengabaikan tantrum jika itu dimaksudkan untuk mencari perhatian; (4) membendung kekacauan; (5) memaafkan dan melupakan.
Baca lebih lanjut

242 Baca lebih lajut

BAB II KARAKTERISTIK PERKEMB ANAK USIA DINI

BAB II KARAKTERISTIK PERKEMB ANAK USIA DINI

2 mengkaji perkembangan satu atau banyak orang yang sama usia dalam waktu yang lama. Misalnya penelitan Luis Terman (dalam Clark, 1984) yang mengikuti perkembangan sekelompok anak jenius dari masa prasekolah sampai masa dewasa waktu mereka sudah mencapai karier dan kehidupan yang mapan. Perbedaan karakteristik setiap saat itulah yangt diasumsikan sebagai tahap perkembangan. Penelitian dengan metode longitudinal mempunyai kelebihan, yaitu kesimpulan yang diambil lebih meyakinkan, karena membandingkan karakteristik anak yang sama pada usia yang berbeda-beda, sehingga setiap perbedaan dapat diasumsikan sebagai hasil perkembangan dan pertumbuhan. Tetapi, metode ini memerlukan waktu sangat lama untuk mendapat hasil yang sempurna. Dengan metode cross sectional, peneliti mengamati dan mengkaji banyak anak dengan berbagai usia dalam waktu yang sama. Misalnya, penelitian yang pernah dilakukan oleh Arnold Gessel (dalam Nana Saodih Sukmadinata, 2009) yang mempelajari ribuan anak dari berbagai tingkatan usia, mencatat ciri-ciri fisik dan mentalnya, pola-pola perkembangan dan kemampuannya, serta perilaku mereka. Perbedaan karakteristik setiap kelompok itulah yang diasumsikan sebagai tahapan perkembangan. Dengan pendekatan cross-sectional, proses penelitian tidak memerlukan waktu lama, hasil segera dapat diketahui. Kelemahannya, peneliti menganalisis perbedaan karakteristik anak-anak yang berbeda, sehingga diperlukan kehati-hatian dalam menarik kesimpulan, bahwa perbedaan itu semata-mata karena perkembangan.
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

UPAYA ORANG TUA DALAM MEMBANTU PERKEMBANGAN SOSIAL EMOSIONAL ANAK PRASEKOLAH.

UPAYA ORANG TUA DALAM MEMBANTU PERKEMBANGAN SOSIAL EMOSIONAL ANAK PRASEKOLAH.

Permasalahan dalam penelitian didasari oleh masih ada anak prasekolah yang ada di lembaga PAUD secara sosial sudah mampu bersosialisasi, akan tetapi dalam hal berinteraksi dengan teman sebaya dan guru, kurang percaya diri, kurang mandiri, kurang bisa mengendalikan emosi serta kurang disiplin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui upaya orang tua dalam membantu perkembangan sosial emosional anak prasekolah di lembaga PAUD Melati Desa Cibukamanah Kecamatan Cibatu Kabupaten Purwakarta. Metode penelitian yang di gunakan adalah metode deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah orang tua dari anak prasekolah di lembaga PAUD Melati berjumlah 30 orang. Sampel dalam penelitian ini adalah sampel total. Teknik pengumpulan data berupa angket. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya orang tua dalam membantu perkembangan sosial emosional anak prasekolah yaitu dengan cara menjelaskan, mengajak, mengingatkan, mendampingi, memberikan contoh dan memberikan kesempatan. Rekomendasi untuk orang tua dan lembaga PAUD agar lebih aktif berinteraksi dengan anak dan memberikan motivasi serta pengawasan secara menyeluruh terkait dengan pekembangan sosial emosional anak.
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

bab ii keaktifan bermain dan perkembanga

bab ii keaktifan bermain dan perkembanga

Menurut Prof. Dr. Sukarni Catur Utami Munandar, Dipl-Psych., anak memerlukan pengasuhan dan bimbingan yang baik agar muatan kreativitasnya dapat diberdayakan secara optimal. Pada skala umur ini, anak mudah menyerap segala informasi yang ada di sekitarnya. Sistem belajar sambil bermain merupakan cara terbaik yang dapat diberikan kepada anak prasekolah. Tentu saja harus disesuaikan dengan perkembangan dan kemampuan masing-masing anak. Beberapa pokok yang bisa dijadikan pembelajaran bagi mereka adalah : Belajar mengembangkan dan mengasah keterampilan fisik yang diperlukan untuk melakukan berbagai permainan. Belajar menyesuaikan diri dan bersosialisasi dengan lingkungannya. Belajar mengembangkan berbagai keterampilan dasar, termasuk membaca, menulis dan menghitung.
Baca lebih lanjut

36 Baca lebih lajut

BAB I BIDANG PENGEMBANGAN PAUD

BAB I BIDANG PENGEMBANGAN PAUD

Flu burung (Avian Influenza) adalah penyakit yang menyerang unggas dan babi. Tanda-tanda ayam terjangkit flu burung diantaranya adalah jengger berubah menjadi warna biru, timbul borok dikaki, terjadi kematian mendadak. Penyebab : Virus avian influenza tipe H5N1. Cara penularan : menular dari unggas ke uggas, dari unggas ke manusia.melalui air liur, lendir dan kotoran unggas yang sakit. Flu burung juga dapat menular melalui udara yang tercemar oleh virus H5N1 yang berasal dari kotoran unggas yang sakit. Penularan dari unggas ke manusia terutama bila terjadi persinggungan langsung dengan unggas yang sakitt (yang terinfeksi flu burung). Cara pencegahan : anak-anak tidak boleh memegang atau bermain dengan unggas. Unggas harus dikandangkan. Bila anda mengalami gejala flu, pilek, demam yang disertai sesak nafas setelah memegang unggas atau berada di lingkungan dimana terdapat unggas yang mati mendadak. Menggunakan penutup hidung / mulut, sarung tangan dan sepatu / penutup kaki ketika memegang unggas. Tidak mengusap tangan dan hidung dan mata setelah memegang unggas. Setelah memegang unggas segera mencuci tangan dan membersihkan badan dengan sabun. Memasak daging unggas dan telur sampai matang. (f) Difteri
Baca lebih lanjut

144 Baca lebih lajut

Implementasi Augmanted Reality sebagai Media Pengenalan Sains Sederhana Pada Anak Usia Dini

Implementasi Augmanted Reality sebagai Media Pengenalan Sains Sederhana Pada Anak Usia Dini

Penelitian ini merupakan penelitian berbentuk penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang berupaya meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar melalui suatu tindakan berbentuk siklus berdasarkan pencermatan guru yang mendalam terhadap permasalahan yang terjadi dan berkeyakinan akan mendapatkan solusi terbaik bagi siswa di lingkungan kelasnya sendiri[9]. Penelitian dilakukan pada kelompok B I Taman Kanak-kanak Aisyiyah Batusangkar Tahun Ajaran 2017/2018 yang dilaksanakan pada semester I (ganjil) dengan jumlah anak 20 orang yang terdiri dari 9 orang laki-laki dan 11 orang perempuan. Metodologi penelitian yang digunakan adalah metodologi Mixing Method (metodologi campuran) dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Adapun variabel dalam penelitian terdiri dari dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabe bebas dalam penelitian ini adalah metode bermain menggunakan Augmanted Reality sedangkan variabel terikatnya adalah kemampuan kognitif dalam pengetahuan sains sederhana.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...