Kompos Kulit Kakao

Top PDF Kompos Kulit Kakao:

Pengaruh Pemberian Kompos Kulit Durian dan Kompos Kulit Kakao Pada Ultisol Terhadap Beberapa Aspek Kimia Kesuburan Tanah

Pengaruh Pemberian Kompos Kulit Durian dan Kompos Kulit Kakao Pada Ultisol Terhadap Beberapa Aspek Kimia Kesuburan Tanah

Ultisol merupakan tanah yang cukup luas yang memiliki banyak kendala untuk digunakan sebagai lahan pertanian,yakni kandungan bahan organik yang sangat rendah,kemasaman tanah,kejenuhan Al yang tinggi serta KTK yang rendah. Untuk meningkatkan produktivitas Ultisol dapat dilakukan dengan meningkatkan ketersediaan unsur hara melalui pemberian kompos bahan organik yakni kompos kulit durian dan kompos kulit kakao.

12 Baca lebih lajut

51 RESPON PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN PARIA (Momordica charantia L.) DENGAN PEMBERIAN KOMPOS KULIT KAKAO DAN WAKTU PENGOMPOSAN

51 RESPON PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN PARIA (Momordica charantia L.) DENGAN PEMBERIAN KOMPOS KULIT KAKAO DAN WAKTU PENGOMPOSAN

Penelitian ini di lakukan di JL. Abadi Kelurahan Sei Alim Ulu, Kecamatan Air Batu, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatra Utara dengan ketingian tempat 15 m dpl, dengan sumber air yang mencukupi, penelitian ini dilaksanakan pertengahan bulan maret 2016 dan berakhir di bulan April 2016. Dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan 2 faktor perlakuan dan 3 ulangan. Faktor pertama adalah pemberian dosis pupuk kompos kulit kakao dengan 4 taraf yaitu : P1 = 1,2 kg/plot, P2 = 2,4 kg/plot, P3 = 3,6 kg/plot dan P4 = 4,8 kg/plot. Faktor kedua adalah lama waktu pengomposan dengan 3 taraf yaitu W1 = 7 hari, W2 =14 hari dan W3 = 21 hari. Hasil penelitian pemberian pupuk kompos kulit kakao menunjukan pengaruh tidak nyata pada tinggi tanaman umur 2, 3 dan 4 minggu setelah tanam dan berpengaruh sangat nyata terhadap jumlah buah per tanaman sampel dengan jumlah buah terbanyak yaitu 11,89 buah dan berpengaruh nyata terhadap berat buah per tanaman sampel dengan berat buah tertinggi mencapai 336,78 g dan berpengaruh tidak nyata terhadap produksi per plot. Lama waktu pengomposan menunjukan pengaruh tidak nyata pada tinggi tanaman umur 2, 3 dan 4 minggu setelah tanam, dan menunjukan pengaruh sangat nyata dengan jumlah buah terbanyak mencapai 11,50 buah dan menunjukan pengaruh tidak nyata terhadap berat buah pertanaman sampel dan produksi per plot.Interaksi antara pemberian kompos kulit kakao dan lama waktu pengomposan terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman paria menunjukan pengaruh tidak nyata terhadap seluruh parameter yang di amati
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

APLIKASI UREA DAN KOMPOS KULIT KAKAO UNTUK MENINGKATKAN KETERSEDIAAN DAN SERAPAN N, P, K SERTA PRODUKSI TANAMAN SAWI PADA INCEPTISOL TULUNGREJO, BATU

APLIKASI UREA DAN KOMPOS KULIT KAKAO UNTUK MENINGKATKAN KETERSEDIAAN DAN SERAPAN N, P, K SERTA PRODUKSI TANAMAN SAWI PADA INCEPTISOL TULUNGREJO, BATU

tidak berbeda nyata. Hal tersebut disebabkan oleh sifat urea yang merupakan pupuk yang mudah terhidrolisis ke dalam tanah menjadi ammonia dan karbondioksida. Keduanya berbentuk gas dan mudah hilang dalam tanah. Namun demikian, dengan adanya kombinasi bahan organik sebagai penyangga kation maka N tersedia yang telah di bentuk tidak mudah hilang. Perlakuan K4 dan K5 memiliki kadar N tersedia yang rendah, hal tersebut dikarenakan masih melalui proses aminisasi, amonifikasi dan nitrifiaksi sehingga memerlukan waktu yang lebih lama untuk menjadi N tersedia bagi tanaman, namun pelepasan nitrogen dari kompos kulit kakao yang lambat juga dapat mengurangi besarnya kehilangan nitrogen (Munawar, 2005).
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PENGARUH BIOAKTIVATOR BERBAGAI MIKROORGANISME LOKAL TERHADAP AKTIVITAS DEKOMPOSER DAN KUALITAS KOMPOS KULIT KAKAO

PENGARUH BIOAKTIVATOR BERBAGAI MIKROORGANISME LOKAL TERHADAP AKTIVITAS DEKOMPOSER DAN KUALITAS KOMPOS KULIT KAKAO

Kandungan bakteri dalam MOL dapat dimanfaatkan sebagai starter pembuatan kompos, pupuk hayati, bahkan pestisida organik. Dengan menggunakan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar, MOL murah (murah karena estimasi harga adalah gula (Rp.7000/kg), dan bonggol pisang dan air beras yang tidak perlu dibeli, sehingga dalam pembuatan hanya membutuhkan ±Rp.7000) sehingga menghemat biaya produksi tanaman. Pemakaian pupuk organik yang dikombinasikan dengan MOL dapat menghemat penggunaan pupuk kimia hingga 400 kg per musim tanam pada 1 ha sawah. Waktu pembuatan relatif singkat dan cara pembuatannya pun mudah. Selain itu, MOL juga ramah lingkungan (Panudju, 2011). Kandungan unsur hara dalam bonggol pisang meliputi unsur hara makro maupun unsur hara mikro seperti disajikan pada Lampiran VII.b. Menurut Rohmawati (2015), pengomposan dengan memanfaatkan mikroorganisme lokal (MOL) dari bonggol pisang dilakukan dengan cara mencampurkan larutan MOL dengan perbandingan 1 : 5 (1 liter larutan MOL : 5 liter air) kemudian ditambahkan 1 ons gula merah.
Baca lebih lanjut

147 Baca lebih lajut

Aplikasi Kompos Kulit Kakao Sebagai Media Tanam dan Efisiensi Pupuk Anorganik Pada Pembibitan Tanaman Kakao (Theobroma cacao .L)

Aplikasi Kompos Kulit Kakao Sebagai Media Tanam dan Efisiensi Pupuk Anorganik Pada Pembibitan Tanaman Kakao (Theobroma cacao .L)

Pemberian bahan organik (kompos kulit kakao) merupakan upaya untuk memperbaiki sifat-sifat kimia, fisik dan biologi tanah agar tanah tersebut memiliki kemampuan mendukung pertumbuhan bibit tanaman kakao. Banyaknya bahan organik diduga akan memberikan pengaruh yang berbeda terhadap sifat kimiawi tanah. Upaya perbaikan ketiga sifat tanah tersebut dapat dilakukan secara simultan yakni selain pemberian bahan organik juga diimbangi dengan upaya pemupukan anorganik.

18 Baca lebih lajut

KAJIAN PENGGUNAAN BAHAN PEREKAT PADA PEMBUATAN PUPUK ORGANIK GRANUL BERBAHAN BAKU KOMPOS KULIT KAKAO

KAJIAN PENGGUNAAN BAHAN PEREKAT PADA PEMBUATAN PUPUK ORGANIK GRANUL BERBAHAN BAKU KOMPOS KULIT KAKAO

Pembuatan pupuk organik granul diawali dengan pengeringan kompos terlebih dahulu. Selanjutnya dilakukan penghalusan terhadap kompos yang telah di keringkan sebelumnya. Penghalusan dilakukan dengan menggunakan mesin penghalus (grinder). Selanjutnya dilakukan pengayakan untuk memperoleh bentuk kompos yang lebih seragam atau untuk mendapatkan bentuk kompos yang lebih halus. Setelah itu disiapkan bahan perekat yang akan digunakan sebagai media perekat pada pembuatan pupuk organik granul. Seluruh bahan yang akan dilakukan proses granulasi dicampurkan secara merata ke dalam mesin pan granulator. Menurut Hadisoewignyo dan Fudholi (2013), granulasi adalah proses pembentukan partikel-partikel besar yang disebut granul dari suatu partikel serbuk yang memiliki daya ikat.
Baca lebih lanjut

65 Baca lebih lajut

Pengaruh Pemberian Kompos Kulit Durian dan Kompos Kulit Kakao Pada Ultisol Terhadap Beberapa Aspek Kimia Kesuburan Tanah

Pengaruh Pemberian Kompos Kulit Durian dan Kompos Kulit Kakao Pada Ultisol Terhadap Beberapa Aspek Kimia Kesuburan Tanah

Kapasitas Tukar Kation (KTK) tanah didefinisikan sebagai kemampuan suatu koloid tanah untuk mengadsorpsi kation dan mempertukarkannya. KTK biasanya dinyatakan dalam milliekuivalen per 100 gr. Pertukaran ini hanya terjadi jika larutan tanah berada dalam keadaan tidak seimbang dengan koloid tanah. Larutan tanah dan dan koloid tanah sangat jarang berada dalam keadaan seimbang antara satu dengan lainnya. Selalu saja terjadi perubahan yang disebabkan oleh tercucinya kation ke lapisan tanah yang lebih dalam akibat aliran air atau beberapa kation diserap oleh tanaman. Kapasitas Tukar Kation tanah yang rendah dapat ditingkatkan dengan bahan organik seperti kompos atau pupuk kandang. (Novizan, 2005).
Baca lebih lanjut

57 Baca lebih lajut

Pengaruh Pemberian Kompos Kulit Durian dan Kompos Kulit Kakao Pada Ultisol Terhadap Beberapa Aspek Kimia Kesuburan Tanah

Pengaruh Pemberian Kompos Kulit Durian dan Kompos Kulit Kakao Pada Ultisol Terhadap Beberapa Aspek Kimia Kesuburan Tanah

Z0 vs B.O 1 0.71415 0.71 15.40 ** 4.41 8.29 Durian vs Kakao 1 0.05042 0.05 1.09 4.41 8.29 Z1 VS C1 1 0.03527 0.04 0.76 4.41 8.29 Z2 VS C2 1 0.00002 0.00 0.00 4.41 8.29 Z3 VS C3 1 0.09627 0.10 2.08 4.41 8.29 Z4 VS C4 1 0.00202 0.00 0.04 4.41 8.29

14 Baca lebih lajut

RESPONS PERTUMBUHAN BIBIT KAKAO (Theobroma cacao L.) TERHADAP BEBERAPA KOMPOSISI KOMPOS KULIT BUAH KAKAO DENGAN SUBSOIL ULTISOL DAN PUPUK DAUN

RESPONS PERTUMBUHAN BIBIT KAKAO (Theobroma cacao L.) TERHADAP BEBERAPA KOMPOSISI KOMPOS KULIT BUAH KAKAO DENGAN SUBSOIL ULTISOL DAN PUPUK DAUN

Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan dua faktor. Faktor pertama adalah media tanam, yaitu 25 g Kompos Kulit Kakao + 4975 g Subsoil Ultisol, 75 g Kompos Kulit kakao + 4925 g Subsoil Ultisol, 125 g Kompos Kulit Kakao + 4875 g Subsoil Ultisol, 175 g Kompos Kulit Kakao + 4825 g Subsoil Ultisol, 225 g kompos kulit Kakao + 4775 g Subsoil Ultisol. Faktor kedua adalah pemberian pupuk daun Bayfolan yaitu : 1 cc/ liter, 3 cc/liter, 5 cc/liter. Parameter yang diamatai meliputi tinggi bibit (cm), diameter batang (mm), total luas daun (cm 2
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Latest 20 Additions to bkg - bkg

Latest 20 Additions to bkg - bkg

Penelitian dilakukan di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia pada bulan November 2017 sampai bulan Mei 2018. Pelaksaan penelitian meliputi pembuatan media CMC dan PDA, pengambilan sampel kulit kakao, isolasi jamur selulolitik, uji aktivitas selulolitik jamur, uji antagonis jamur, perbanyakan, dan dekomposisi substrat. Rancangan penelitian yang digunakan yaitu rancangan Split plot dimana terdapat 2 main plot (kulit kako cacah dan tanpa cacah) dengan sub plot 6 perlakuan perbedaan jenis jamur dan 3 ulangan sehingga terdapat 36 unit percobaan. Dimana parameter yang diamati yaitu laju dekomposisi, kadar selulosa, suhu, pH, C-organik, N-total, rasio C/N dan kondisi fisik substrat. Data yang didapat dianalisis menggunakan analisis ragam dengan taraf 5% dan dilanjutkan dengan Uji Duncan jika terdapat beda nyata.
Baca lebih lanjut

52 Baca lebih lajut

fermentasi kulit buah kakao sebagai paka

fermentasi kulit buah kakao sebagai paka

Kulit buah kakao merupakan bagian terbesar dari limbah kakao (70-75%) yang dapat digunakan sebagai bahan pakan ternak, namun kualitasnya rendah yang ditandai dengan kandungan protein kasar, serat kasar dan lignin yang cukup tinggi sehingga sulit dicerna.Dalam penelitiannya, Nuranthy (2004) telah mencoba menggunakanbeberapa isolate kapang untuk memecah ikatan tanin pada kulit buah kakao. Darihasil penelitiannya bahwa dari sembilan jenis isolat, hanya ada empat jenis isolatyang dapat digunakan secara aman yaitu: Aspergillus niger, Rhizopus oligosporus,Mucor circinelloides, dan Pestalotiopsis guepinii. Namun dari keempat jeniskapang tersebut, hanya A. niger dan P. guepinii yang mampu tumbuh pada semuajenis substrat yang mengandung tanin dan memiliki kemampuan dalammendegradasi tanin.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

EFEKTIVITAS KONSENTRASI DAN FREKUENSI PEMBERIAN TEH KOMPOS LIMBAH KULIT KOPI DAN AIR KELAPA DALAM MENINGKATKAN KEBERHASILAN BUNGA KAKAO MENJADI BUAH

EFEKTIVITAS KONSENTRASI DAN FREKUENSI PEMBERIAN TEH KOMPOS LIMBAH KULIT KOPI DAN AIR KELAPA DALAM MENINGKATKAN KEBERHASILAN BUNGA KAKAO MENJADI BUAH

Efektivitas Konsentrasi dan Frekuensi Pemberian Teh Kompos Limbah Kulit Kopi dan Air Kelapa dalam Meningkatkan Keberhasilan Bunga Kakao Menjadi Buah; Sandi Bagus Permana, 061510101145; 2010; 36 halaman; Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Jember.

Baca lebih lajut

Respons Pertumbuhan dan Produksi Kedelai (Glycine max L.) Terhadap Pemberian Kompos Kulit Buah Kakao dan Pupuk Fosfat

Respons Pertumbuhan dan Produksi Kedelai (Glycine max L.) Terhadap Pemberian Kompos Kulit Buah Kakao dan Pupuk Fosfat

Budidaya dan/atau pengolahan tanaman perkebunan, seperti kelapa sawit, teh, dan kakao menghasilkan limbah padat organik dalam jumlah melimpah. Berdasarkan data statistik perkebunan 2006, luas areal kakao di Indonesia tercatat 992.448 ha, produksi 560.880 ton dan tingkat produktivitas 657 kg/ha/th. Bobot buah kakao yang dipanen per ha akan diperoleh 6200 kg kulit buah dan 2178 kg biji basah. Limbah kulit buah kakao dapat diolah menjadi kompos untuk menambah bahan organik tanah. Kandungan hara mineral kulit buah kakao cukup tinggi, khususnya hara Kalium dan Nitrogen. Dilaporkan bahwa 61% dari total nutrien buah kakao disimpan di dalam kulit buah. Penelitian yang dilakukan oleh Goenadi et.al (2000) dalam Isroi (2007) menemukan bahwa kandungan hara kompos yang dibuat dari kulit buah kakao adalah 1,81 % N, 26,61 % C-organik, 0,31% P2O5, 6,08% K2O, 1,22% CaO, 1,37 % MgO, dan 44,85 cmol/kg KTK. Aplikasi kompos kulit buah kakao dapat meningkatkan produksi hingga 19,48% (Isroi, 2007).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Pengaruh Konsentrasi Katalis Pada Hidrolisis Limbah Kulit Kakao Untuk Memperoleh Glukosa SebagaiBahan Pembuatan Bioetanol

Pengaruh Konsentrasi Katalis Pada Hidrolisis Limbah Kulit Kakao Untuk Memperoleh Glukosa SebagaiBahan Pembuatan Bioetanol

padatan : air dan konsentrasi katalis terhadap perolehan kadar gula reduksi dari tepung kulit kakao. Bahan utama yang digunakan adalah limbahkulit kakao dari perkerbunan kakao. Variabel-variabel yang diamati antaralain perbandingan padatan : air dan konsentrasi katalis pada hidrolisis. Kulit kakao yang sudah dikeringkan di ball mill hingga ukuran 100 mesh lalu ditambahkan katalis asam sulfat dengan konsentrasi 2M, 3M, dan 4M, lalu dihidrolisis dengan menggunakan pemanas hot plate.Proses hidrolisis berlangsung pada suhu 100 °C dan waktu hidrolisis selama 2 jam. Kemudian hasil hidrolisis (hidrolisat) dianalisa secara kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hidrolisat kulit kakao mengandung gula reduksi yang dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan bioetanol.Analisa kuantitatif terhadap kadar gula reduksi menunjukkan bahwa % kadar gula reduksi semakin besar seiring dengan bertambahnya konsentrasi katalis dan berbanding terbalik dengan rasio bahan baku. Kadar gula redusi yang paling baik yaitu 30,67 % didapatkan pada suhu 100 ° Cdalam
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Pemanfaatan Limbah Kulit Buah Kakao sebagai Kompos pada Pertumbuhan Bibit Kakao (Theobroma cacao L) Kultivar Upper Amazone Hybrid (UAH).

Pemanfaatan Limbah Kulit Buah Kakao sebagai Kompos pada Pertumbuhan Bibit Kakao (Theobroma cacao L) Kultivar Upper Amazone Hybrid (UAH).

Kulit buah kakao sampai saat ini belum banyak mendapat perhatian masyarakat atau perusahaan untuk dijadikan pupuk organik, umumnya pupuk organik yang digunakan berasal dari kotoran hewan, seperti sapi dan domba. Jenis pupuk organik lain yang dewasa ini memiliki perhatian dalam bidang penelitian dan manfaatnya cukup tinggi adalah kotoran cacing tanah (bekas cacing = kascing). Kascing mengandung lebih banyak mikroorganisme, bahan organik, dan juga bahan anorganik dalam bentuk yang tersedia bagi tanaman dibandingkan dengan tanah itu sendiri. Selain itu, kascing mengandung enzim protease, amilase, lipase, selulase, dan chitinase, yang secara terus menerus mempengaruhi perombakan bahan organik sekalipun telah dikeluarkan dari tubuh cacing (Ghabbour, 1966 dalam Iswandi Anas, 1990). Tri Mulat (2003) mengemukakan bahwa kascing mengandung hormon perangsang tumbuhan seperti giberelin 2,75%, sitokinin 1,05% dan auksin 3,80%.
Baca lebih lanjut

54 Baca lebih lajut

PERTUMBUHAN SEMAI JATI (Tectona grandis L.f) PADA PERBANDINGAN MEDIA TANAH DAN PUPUK ORGANIK LIMBAH KULIT KAKAO | Muhajir | Jurnal Warta Rimba 6353 21033 1 PB

PERTUMBUHAN SEMAI JATI (Tectona grandis L.f) PADA PERBANDINGAN MEDIA TANAH DAN PUPUK ORGANIK LIMBAH KULIT KAKAO | Muhajir | Jurnal Warta Rimba 6353 21033 1 PB

Perbandingan pemberian pupuk organik limbah kulit buah kakao pada perlakuan M2 yang memberikan pertumbuhan terbaik pada semai tanaman jati, hal ini diduga pada perbandingan pemberian pupuk pada perlakuan M2 mampu menyediakan unsur esensial bagi pertumbuhan tanaman terutama unsur N. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Yulanda, dkk. (2013) bahwa nitrogen berfungsi untuk merangsang pertunasan dan penambahan tinggi tanaman, dan nitrogen dalam jumlah cukup berperan dalam mempercepat pertumbuhan tanaman secara keseluruhan, khususnya batang dan daun. Unsur nitrogen berperan dalam pembentukan sel, jaringan dan organ tanaman. Selain itu, nitrogen juga berfungsi sebagai bahan sintesis klorofil, protein dan asam amino.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PENGARUH PEMBERIAN FUNGI MIKORIZA ARBUSKULAR DAN KOMPOS KULIT BUAH KAKAO PADA PERTUMBUHAN BIBIT KAKAO (Theobroma cacao L.)

PENGARUH PEMBERIAN FUNGI MIKORIZA ARBUSKULAR DAN KOMPOS KULIT BUAH KAKAO PADA PERTUMBUHAN BIBIT KAKAO (Theobroma cacao L.)

Secara fisik, kompos berpengaruh pada struktur dan tekstur tanah yang menjadikannya ringan untuk diolah dan mudah ditembus akar sehingga akar tanaman dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Hal ini menyebabkan akar menjadi mampu menjangkau daerah yang lebih luas dalam menyerap nutrisi dan hara sehingga pertumbuhan tanaman juga menjadi baik. Selain itu juga, kompos mampu meningkatkan daya menahan air (water holding capacity) sehingga kemampuan tanah untuk menyediakan air menjadi lebih banyak. Hal ini dapat menjadi tabungan air bagi tanaman pada masa kekeringan oleh penguapan ataupun karena diserap oleh akar tanaman.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Subsitusi Dedak Dengan Pod Kakao Yang Difermentasi Dengan Aspergillus Niger Terhadap Performans Broiler Umur 6 Minggu

Subsitusi Dedak Dengan Pod Kakao Yang Difermentasi Dengan Aspergillus Niger Terhadap Performans Broiler Umur 6 Minggu

Pod kakao mengandung lignin dan teobromin tinggi (Aregheore, 2000), selain juga mengandung serat kasar yang tinggi (40,03%) dan protein yang rendah (9,71%) (Laconi, 1998). kulit kakao mengandung selulosa 36,23%, hemiselulosa 1,14% dan lignin 20%-27,95%. Lignin yang berikatan dengan selulosa menyebabkan selulosa tidak bisa dimanfaatkan oleh ternak. Untuk meningkatkan kualitas ransum yang rendah dapat dilakukan dengan menfermentasi pod kakao dengan Aspergillus niger.Dengan adanya fermentasi maka kualitas dan nilai gizi ransum akan meningkat ( Amirroenas ,1990).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Pengaruh Kompos Kulit Buah Kakao Dan Kascing Terhadap Pertumbuhan Bibit Kakao (Theobroma cacao L.) Kultivar Upper Amazone Hybrid (UAH).

Pengaruh Kompos Kulit Buah Kakao Dan Kascing Terhadap Pertumbuhan Bibit Kakao (Theobroma cacao L.) Kultivar Upper Amazone Hybrid (UAH).

Hasil analisis statistik menunjukkan tidak terjadi interaksi antara pengaruh KKBK dengan kascing baik terhadap kadar N maupun P pada daun. Efek mandiri antar perlakuan pun tidak berbeda seperti terlihat pada Tabel 6. Hal ini berarti kompos maupun kascing dengan dosis perlakuan tersebut baru sedikit memberikan kontribusi unsur N dan P. Walaupun kascing dapat menyediakan unsur N dan P lebih banyak, namun demikian tanpa didukung oleh perakaran yang baik tidak akan berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tanaman. Parwoto dan Abdoellah (1990) mengemukakan bahwa kadar N dan P pada kakao jenis Trinitario kultivar Djati Runggo masing-masing sebesar 2,132 % dan 0,204 %.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Respons Beberapa Sifat Kimia Fluventic Eutrudepts Melalui Pendayagunaan Limbah Kakao Dan Berbagai Jenis Pupuk Organik.

Respons Beberapa Sifat Kimia Fluventic Eutrudepts Melalui Pendayagunaan Limbah Kakao Dan Berbagai Jenis Pupuk Organik.

); (D) 1 bagian tanah : 1 bagian kompos (kompos 2,51 kg polybag -1 ); (E) 3 bagian tanah : 1 bagian kascing (kascing 1,25 kg polybag -1 ); (F) 2 bagian tanah : 1 bagian kascing (kascing 1,67 kg polybag -1 ); (G) 1 bagian tanah : 1 bagian kascing (kascing 2,51 kg polybag -1 ); (H) 3 bagian tanah : 1 bagian pupuk kandang ayam (pupuk kandang ayam 1,25 kg polybag -1 ); (I) 2 bagian tanah : 1 bagian pupuk kandang ayam (pupuk kandang ayam 1,67 kg polybag -1 ); (J) 1 bagian tanah : 1 bagian pupuk kandang ayam (pupuk kandang ayam 2,51 kg polybag -1 ). Terdapat 10 perlakuan yang diulang 3 kali menghasilkan 10 x 3 = 30 satuan percobaan. Analisis ragam dengan univariat (Anova) dilakukan terhadap parameter pH, C-organik, dan pertumbuhan tanaman. Jika dari analisis ragam terdapat keragaman yang berbeda nyata, dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...