Kompos Kulit Kakao

Top PDF Kompos Kulit Kakao:

APLIKASI UREA DAN KOMPOS KULIT KAKAO UNTUK MENINGKATKAN KETERSEDIAAN DAN SERAPAN N, P, K SERTA PRODUKSI TANAMAN SAWI PADA INCEPTISOL TULUNGREJO, BATU

APLIKASI UREA DAN KOMPOS KULIT KAKAO UNTUK MENINGKATKAN KETERSEDIAAN DAN SERAPAN N, P, K SERTA PRODUKSI TANAMAN SAWI PADA INCEPTISOL TULUNGREJO, BATU

serapan N dan luas daun menunjukkan nilai positif dan terdapat korelasi yang kuat (r = 0.78). Serapan N mempengaruhi luas daun tanaman sawi. Menurut Lakitan (2001), N merupakan bahan dasar untuk membentuk asam amino dan protein yang akan di manfaatkan untuk proses metabolisme dari tanaman dan akhirnya akan mempengaruhi pertumbuhan organ-organ seperti batang, daun dan akar menjadi lebih baik. Kandungan kompos kulit kakao juga mengandung MgO yang sangat tinggi (3,33%) yang berperan sebagai komponen molekul klorofil dan berperan penting pada hampir seluruh metabolisme tanaman dan sintesis protein. Unsur Mg juga berperan sebagai ko-faktor pada hamper seluruh enzim yang mengaktifkan proses fosforilasi (ATP) atau enzim-enzim yang menggunakan nukleotida lain untuk sintesis
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

51 RESPON PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN PARIA (Momordica charantia L.) DENGAN PEMBERIAN KOMPOS KULIT KAKAO DAN WAKTU PENGOMPOSAN

51 RESPON PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN PARIA (Momordica charantia L.) DENGAN PEMBERIAN KOMPOS KULIT KAKAO DAN WAKTU PENGOMPOSAN

Adaanya pengaruh yang signifikan dari pemberian kompos kulit kakao terhadap jumlah buah per tanaman sampel disebabkan karna material kompos telah terdekomposisi dengan sempurna sehingga unsur hara makro dan mikro yang terkandung dalam pupuk tersebut, telah tersedia dalam tanah sehingga mampu menyuplai kebutuhan hara tanaman Hal ini sesuai dengan pendapat Wahyudi (2008) bahwa pupuk organik yang telah dikomposkan dapat menyediakan hara dalam waktu yang lebih cepat dibandingkan dalam bentuk segar, karena selama proses pengomposan telah terjadi proses dekomposisi yang dilakukan oleh beberapa macam mikroba.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Aplikasi Kompos Kulit Kakao Sebagai Media Tanam dan Efisiensi Pupuk Anorganik Pada Pembibitan Tanaman Kakao (Theobroma cacao .L)

Aplikasi Kompos Kulit Kakao Sebagai Media Tanam dan Efisiensi Pupuk Anorganik Pada Pembibitan Tanaman Kakao (Theobroma cacao .L)

menyatakan dengan sesungguhnya bahwa karya tulis ilmiah yang berjudul ” Aplikasi Kompos Kulit Kakao Sebagai Media Tanam dan Efisiensi Pupuk Anorganik Pada Pembibitan Tanaman Kakao (Theobroma cacao .L)” adalah benar-benar hasil karya sendiri, kecuali jika disebutkan sumbernya dan belum pernah diajukan pada institusi mana pun serta bukan karya jiplakan. Saya bertanggung jawab atas keabsahan dan kebenaran isinya sesuai dengan sikap ilmiah yang harus dijunjung tinggi.

18 Baca lebih lajut

Pengaruh Pemberian Kompos Kulit Durian dan Kompos Kulit Kakao Pada Ultisol Terhadap Beberapa Aspek Kimia Kesuburan Tanah

Pengaruh Pemberian Kompos Kulit Durian dan Kompos Kulit Kakao Pada Ultisol Terhadap Beberapa Aspek Kimia Kesuburan Tanah

Adapun judul dari skripsi ini adalah “ Pengaruh Pemberian Kompos Kulit Durian dan Kompos Kulit Kakao Pada Ultisol Terhadap Beberapa Aspek Kimia Kesuburan Tanah” yang merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pertanian di Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan.

12 Baca lebih lajut

View of PEMANFAATAN MOL BONGGOL PISANG DAN KOMPOS KULIT KAKAO TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN TIMUN (Cucumis sativus L.)

View of PEMANFAATAN MOL BONGGOL PISANG DAN KOMPOS KULIT KAKAO TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN TIMUN (Cucumis sativus L.)

Pemberian MOL bonggol pisang berpengaruh tidak nyata terhadap Jumlah cabang dan jumlah buah persampel, namun berbeda sangan nyata terhadap parameter panjang tanaman, produksi persampel dan produksi perplot. Perlakuan B3=600 ml/l air/plot merupakan perlakuan yang terbaik dibandingkan perlakuan lainnya. Pemberian Kompos Kulit buah kakao berpengaruh tidak nyata terhadap Jumlah cabang dan jumlah buah persampel, namun berbeda sangan nyata terhadap parameter panjang tanaman, produksi persampel dan produksi perplot. Perlakuan K3=3kg/plot merupakan perlakuan yang terbaik dibandingkan perlakuan lainnya. MOL bonggol pisang mampu meningkatkan unsur hara dan daya serap serta daya ikat terhadap air sehingga kelembaban pada akar tanaman akan terjaga dengan baik. Kompos kulit buah kakao merupakan media tumbuh dari bahan organik alami yang sangat ramah lingkungan, memiliki kualitas tinggi mampu meningkatkan unsur hara yang dibutuhkan tanaman mentimun.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

KAJIAN PENGGUNAAN BAHAN PEREKAT PADA PEMBUATAN PUPUK ORGANIK GRANUL BERBAHAN BAKU KOMPOS KULIT KAKAO

KAJIAN PENGGUNAAN BAHAN PEREKAT PADA PEMBUATAN PUPUK ORGANIK GRANUL BERBAHAN BAKU KOMPOS KULIT KAKAO

Pembuatan pupuk organik granul diawali dengan pengeringan kompos terlebih dahulu. Selanjutnya dilakukan penghalusan terhadap kompos yang telah di keringkan sebelumnya. Penghalusan dilakukan dengan menggunakan mesin penghalus (grinder). Selanjutnya dilakukan pengayakan untuk memperoleh bentuk kompos yang lebih seragam atau untuk mendapatkan bentuk kompos yang lebih halus. Setelah itu disiapkan bahan perekat yang akan digunakan sebagai media perekat pada pembuatan pupuk organik granul. Seluruh bahan yang akan dilakukan proses granulasi dicampurkan secara merata ke dalam mesin pan granulator. Menurut Hadisoewignyo dan Fudholi (2013), granulasi adalah proses pembentukan partikel-partikel besar yang disebut granul dari suatu partikel serbuk yang memiliki daya ikat.
Baca lebih lanjut

65 Baca lebih lajut

PENGARUH BIOAKTIVATOR BERBAGAI MIKROORGANISME LOKAL TERHADAP AKTIVITAS DEKOMPOSER DAN KUALITAS KOMPOS KULIT KAKAO

PENGARUH BIOAKTIVATOR BERBAGAI MIKROORGANISME LOKAL TERHADAP AKTIVITAS DEKOMPOSER DAN KUALITAS KOMPOS KULIT KAKAO

keterbatasan areal pembuangan. Di samping itu limbah pertanian dan perkebunan belum banyak dimanfaatkan, walaupun dalam beberapa kondisi memiliki potensi sebagai bahan pakan ternak maupun bahan baku pembuatan kompos. Untuk itu perlu dilakukan pengamatan dalam mendukung program pemanfaatan limbah potensial terutama limbah yang dihasilkan oleh tanaman kakao yaitu limbah kulit kakao menjadi kompos yang dipercepat proses dekomposisinya menggunakan bioaktivator. Pada dasarnya kompos yang menggunakan bioaktivator mudah diproduksi sendiri, karena mikroorganisme-mikroorganisme yang berguna banyak terdapat dialam sekitar kita. Mikroorganisme merupakan jasad hidup yang mempunyai ukuran sangat kecil (Kusnadi, dkk, 2003). Setiap sel tunggal mikroorganisme memiliki kemampuan untuk melangsungkan aktivitas kehidupan antara lain dapat mengalami pertumbuhan, menghasilkan energi dan bereproduksi dengan sendirinya. Salah satunya dapat dimanfaatkan untuk pembuatan kompos. Proses pembuatan kompos ini salah satunya dapat menggunakan Mikro Organisme Lokal (MOL). Mikro Organisme Lokal mengandung unsur hara makro dan mikro dan juga mengandung bakteri yang berpotensi sebagai perombak bahan organik, perangsang pertumbuhan dan sebagai agen pengendali hama dan penyakit tanaman. Keunggulan penggunaan MOL yang paling utama adalah murah bahkan tanpa biaya, dengan memanfaatkan bahan-bahan yang ada di lingkungan sekitar (Purwasasmita, 2009).
Baca lebih lanjut

147 Baca lebih lajut

Pengaruh Pemberian Kompos Kulit Durian dan Kompos Kulit Kakao Pada Ultisol Terhadap Beberapa Aspek Kimia Kesuburan Tanah

Pengaruh Pemberian Kompos Kulit Durian dan Kompos Kulit Kakao Pada Ultisol Terhadap Beberapa Aspek Kimia Kesuburan Tanah

Ciri fisik kompos yang baik adalah berwarna cokelat kehitaman, agak lembap, gembur dan bahan pembentuknya sudah tidak tampak lagi. Kualitas kompos sangat ditentukan oleh besarnya perbandingan antara jumlah karbon dan nitrogen (C/N rasio). Jika C/N rasio tinggi, berarti bahan penyusun kompos belum terurai secara sempurna. Bahan kompos dengan C/N rasio tinggi akan terurai atau membusuk lebih lama dibandingkan dengan bahan ber-C/N rasio rendah. Kualitas kompos dianggap baik jika memiliki C/N rasio antara 12-15. ( Novizan, 2005).

57 Baca lebih lajut

Pengaruh Pemberian Kompos Kulit Durian dan Kompos Kulit Kakao Pada Ultisol Terhadap Beberapa Aspek Kimia Kesuburan Tanah

Pengaruh Pemberian Kompos Kulit Durian dan Kompos Kulit Kakao Pada Ultisol Terhadap Beberapa Aspek Kimia Kesuburan Tanah

Z0 vs B.O 1 0.09754 0.10 3.49 4.41 8.29 Durian vs Kakao 1 0.03450 0.03 1.23 4.41 8.29 Z1 VS C1 1 0.00107 0.00 0.04 4.41 8.29 Z2 VS C2 1 0.19082 0.19 6.83 * 4.41 8.29 Z3 VS C3 1 0.00167 0.00 0.06 4.41 8.29 Z4 VS C4 1 0.00327 0.00 0.12 4.41 8.29

14 Baca lebih lajut

OPTIMISASI PENGOMPOSAN CAMPURAN KULIT KAKAO DAN SEKAM PADI DENGAN PENAMBAHAN BERBAGAI KOTORAN TERNAK

OPTIMISASI PENGOMPOSAN CAMPURAN KULIT KAKAO DAN SEKAM PADI DENGAN PENAMBAHAN BERBAGAI KOTORAN TERNAK

Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mendapatkan jenis kotoran ternak yang tepat untuk pengomposan campuran kulit kakao dan sekam padi sehingga diperoleh kualitas kompos kulit kakao terbaik dengan waktu pengomposan yang relatif singkat. Kulit kakao yang telah dirajang dicampurkan dengan kotoran ternak (sapi, ayam, dan kambing) dan sekam padi dengan perbandingan 5:5:1 serta ditambah dengan dolomit 25 kg (total berat ± 685 kg). Campuran tersebut (rasio C/N 30-40) kemudian ditumpuk berbentuk kerucut dengan ketinggian ± 1 m dan ditutup dengan terpal. Setiap tumpukan dilakukan pembalikan satu minggu sekali selama 30 hari pengomposan dengan masing- masing perlakuan diulang sebanyak dua kali. Selama proses pengomposan diamati suhu harian, kadar air, pH, C- Organik, N total, rasio C/N, warna, bau, tekstur, P 2 O 5 , dan K 2 O.
Baca lebih lanjut

81 Baca lebih lajut

RESPONS PERTUMBUHAN BIBIT KAKAO (Theobroma cacao L.) TERHADAP BEBERAPA KOMPOSISI KOMPOS KULIT BUAH KAKAO DENGAN SUBSOIL ULTISOL DAN PUPUK DAUN

RESPONS PERTUMBUHAN BIBIT KAKAO (Theobroma cacao L.) TERHADAP BEBERAPA KOMPOSISI KOMPOS KULIT BUAH KAKAO DENGAN SUBSOIL ULTISOL DAN PUPUK DAUN

Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan dua faktor. Faktor pertama adalah media tanam, yaitu 25 g Kompos Kulit Kakao + 4975 g Subsoil Ultisol, 75 g Kompos Kulit kakao + 4925 g Subsoil Ultisol, 125 g Kompos Kulit Kakao + 4875 g Subsoil Ultisol, 175 g Kompos Kulit Kakao + 4825 g Subsoil Ultisol, 225 g kompos kulit Kakao + 4775 g Subsoil Ultisol. Faktor kedua adalah pemberian pupuk daun Bayfolan yaitu : 1 cc/ liter, 3 cc/liter, 5 cc/liter. Parameter yang diamatai meliputi tinggi bibit (cm), diameter batang (mm), total luas daun (cm 2
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Aplikasi Tithonia diversifolia dan Pupuk Kandang Ayam dengan Pupuk SP-36 Terhadap Serapan P dan Pertumbuhan Tanaman Jagung (Zea mays L.) pada Tanah Ultisol Labuhan Batu Selatan

Aplikasi Tithonia diversifolia dan Pupuk Kandang Ayam dengan Pupuk SP-36 Terhadap Serapan P dan Pertumbuhan Tanaman Jagung (Zea mays L.) pada Tanah Ultisol Labuhan Batu Selatan

Pengaruh Pemberian Kompos Kulit Durian dan Kompos Kulit Kakao pada Ultisol terhadap Beberapa Aspek Kimia Kesuburan tanah.. Jurnal Online Agroekoteknologi.[r]

4 Baca lebih lajut

Latest 20 Additions to bkg - bkg

Latest 20 Additions to bkg - bkg

Dilihat dari tabel 10 dapat kita ketahui bahwa perlakuan tidak berbeda nyata terhadap kandungan C-oranik, N-total maupun rasio C/N kompos kulit kakao. Rerata nilai C-organik kompos tertinggi pada perlakuan C1J1 (kulit kakao cacah dan Trichoderma spp.) yaitu sebesar 20.88% dan rerata nilai C-organik terendah pada perlakuan C1J3 dengan nilai rerata 17.04%. Kandungan N-total pada kompos kulit kakao memiliki perbedaan dengan kandungan c-organiknya. Rerata nilai N- total tertinggi terdapat pada perlakuan C1J3 (kulit kakao cacah dan jamur Rhizomucor spp) dan rerata nilai terendah terdapat pada perlakuan T1J3 ( kulit kakao tanpa cacah dan jamur Rhizomucor spp) sedangkan rasio C/N kompos kulit kakao tertinggi terdapat pada perlakuan T1J3 (kulit kakao tanpa cacah dan jamur Rhizomucor) dengan nilai rerata yaitu 11.09 dan rerata nilai rasio C/N terendah terdapat pada perlakuan C1J3 (kulit kakao cacah dan jamur Rhizomucor spp.). Dilihat dari nilai C/N rasio kompos termasuk dalam kategori rendah (Sriwati et al., 2013). Hal ini menandakan bahwa inokulan yang diberikan mampu mendekomposisi substrat. Hal ini sebanding menurut pendapat Irianti dan Agus (2016) bahwa pemberian jamur mampu pendekomposisi limbah jerami padi dan pemberian jamur Trichoderma spp. memberikan nilai C/N kompos yang terendah. Meskipun tidak berbeda nyata namun tetap terjadi penurunan rasio C/N pada kompos dibanding C/N awal.
Baca lebih lanjut

52 Baca lebih lajut

Biosorpsi Biru Metilena oleh Kulit Buah Kakao

Biosorpsi Biru Metilena oleh Kulit Buah Kakao

Limbah kulit buah kakao berhasil diproses menjadi bahan makanan ternak, namun limbah kulit buah kakao yang ditambahkan langsung pada ternak tidak sesuai yang diharapkan, yaitu berat badan ternak menjadi menurun sehingga pemanfaatan kulit buah kakao (KBK) untuk pakan ternak sangat terbatas karena KBK mengandung zat anti nutrisi yang antara lain dapat menurunkan secara signifikan nilai nutrisi pakan ternak (Otchere et al. 1983 dalam Amirroenas 1990). Selain itu tanin memiliki aktivitas antinutrisi karena senyawa ini mengikat protein sehingga protein tidak dapat dicerna. Sekitar 60% dari total protein pada KBK diikat oleh tanin (Anonim 2001). Menurut Joseph (1996)
Baca lebih lanjut

49 Baca lebih lajut

fermentasi kulit buah kakao sebagai paka

fermentasi kulit buah kakao sebagai paka

Tanin merupakan senyawa polyphenol dengan bobot molekul tinggi yangmengandung gugus hidroksil dan gugus lainnya untuk membentuk kompleks yangkuat dengan protein dan molekul lain, seperti karbohidrat (Cannas, 2001).Tannin terdapat pada bagian kulit kayu, batang, daun danbuah – buahan.Tanin mengandung sejumlah gugusfungsional yang dapat membentuk kompleks yang kuat dengan molekul proteindan menghasilkan efek negatif dan positif bagi ternak. Kumar dan Singh (1984) menyatakan bahwa rasa pahit yang timbul dalam mulut diakibatkan oleh komplek tanin dan proteinsaliva yang pada akhirnya mempengaruhi palatabilitas dan konsumsi pakan.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Analisis Usaha Subtitusi Dedak Padi Dengan Kulit Buah Kakao Yang Difermentasi Aspergillus niger Dalam Ransum Itik Raja Umur 0 – 7 Minggu

Analisis Usaha Subtitusi Dedak Padi Dengan Kulit Buah Kakao Yang Difermentasi Aspergillus niger Dalam Ransum Itik Raja Umur 0 – 7 Minggu

Hasil ikutan pertanian dan perkebunan pada umumnya mempunyai kualitas yang rendah karena berserat kasar tinggi dan dapat mengandung antinutrisi. Kulit buah kakao mengandung lignin dan teobromin tinggi (Aregheore, 2000), selain juga mengandung serat kasar yang tinggi (40,03%) dan protein yang rendah (9,71%) (Laconi, 1998). Menurut Amirroenas (1990), kulit kakao mengandung selulosa 36,23%, hemiselulosa 1,14% dan lignin 20%- 27,95%. Lignin yang berikatan dengan selulosa menyebabkan selulosa tidak bisa dimanfaatkan oleh ternak. Upaya meningkatkan kualitas dan nilai gizi bahan ransum berserat yang berkualitas rendah merupakan upaya strategis dalam meningkatkan ketersediaan pakan.
Baca lebih lanjut

64 Baca lebih lajut

Pemanfaatan Limbah Kulit Buah Kakao sebagai Kompos pada Pertumbuhan Bibit Kakao (Theobroma cacao L) Kultivar Upper Amazone Hybrid (UAH).

Pemanfaatan Limbah Kulit Buah Kakao sebagai Kompos pada Pertumbuhan Bibit Kakao (Theobroma cacao L) Kultivar Upper Amazone Hybrid (UAH).

Faktor yang mempengaruhi pembibitan tanaman kakao seperti juga tanaman perkebunan yang lain adalah air, cahaya matahari, unsur hara, suhu, dan kelembaban. Pertumbuhan vegetatif bibit terbagi atas pertumbuhan daun, batang dan akar. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses pertumbuhan daun dan batang ialah hormon dan nutrisi (faktor dalam), status air dalam jaringan tanaman, suhu udara dan cahaya (faktor luar). Pertumbuhan akar dipengaruhi suhu media tumbuh, ketersediaan oksigen (aerasi), faktor fisik media tumbuh, pH media tumbuh, selain faktor dalam dan status air dalam jaringan tanaman. Pertumbuhan daun dan perluasan batang menentukan luas permukaan daun dan struktur tajuk yang sangat penting sehubungan dengan proses fotosintesis. Sedangkan perluasan akar akan menentukan jumlah dan distribusi akar yang kemudian akan berfungsi kembali sebagai organ penyerap susur hara mineral (Hutcheon, 1975).
Baca lebih lanjut

54 Baca lebih lajut

View of Aktivitas Antioksidan Kulit Buah Kakao Masak dan Kulit Buah Kako Muda

View of Aktivitas Antioksidan Kulit Buah Kakao Masak dan Kulit Buah Kako Muda

fraksi n-heksan, dan fraksi n-butanol pada semua konsentrasi. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas antioksidan senyawa aktif pada fraksi etil asetat ekstrak kulit buah kakao masak dan kulit buah kakao muda mempunyai kemampuan mendonorkan elektron atau hidrogen lebih banyak dibandingkan senyawa aktif pada ekstrak metanol, fraksi n-heksan, dan fraksi n- butanol. Kekuatan antioksidan ekstrak uji dari yang tertinggi hingga terendah berturut-turut adalah: fraksi etil asetat kulit buah kakao masak, fraksi etil asetat kulit buah kakao muda, fraksi n-butanol kulit buah kakao masak, ekstrak metanol kulit buah kakao masak, fraksi n-butanol kulit buah kakao muda, ekstrak metanol kulit buah kakao muda, fraksi n-heksan kulit buah kakao masak, dan fraksi n- heksan kulit buah kakao muda. Hal ini diduga disebabkan karena kandungan senyawa polifenol dan flavanoid yang terdapat pada fraksi etil asetat yang mampu berperan sebagai senyawa antioksidan.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Pengaruh Perbandingan Media Tanam Kompos Kulit Biji Kopi Dan Pemberian Pupuk Npk (15:15:15) Pada Bibit Kopi (Coffea sp.) Di Rumah Kaca

Pengaruh Perbandingan Media Tanam Kompos Kulit Biji Kopi Dan Pemberian Pupuk Npk (15:15:15) Pada Bibit Kopi (Coffea sp.) Di Rumah Kaca

Hasil analisis data secara statistik menunjukkan bahwa media tanam kompos kulit biji kopi berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman, diameter batang, total luas daun, bobot basah tajuk, bobot kering tajuk, panjang akar, bobot basah akar dan bobot kering akar. Hal ini diduga karena kompos kulit buah kopi yang diaplikasikan belum terdekomposisi secara sempurna, sehingga belum mempengaruhi sifat fisik dan kimia tanah tersebut. Penggunaan kompos yang belum matang biasanya disebabkan oleh bahan yang terlalu lama terurai karean rasio C/N dari bahan terlalu tinggi. Mikroorganisme yang terdapat dalam kompos yang belum matang masih aktif mengurai bahan kompos sehingga ketika diaplikasikan pada tanaman mikroorganisme akan mengambil nitrogen dari tanah. Hal ini akan menyebabkan tanaman menjadi bersaing dengan mikroorganisme pengurai dalam memperoleh nitrogen dalam tanah. Mikroorganisme dapat menjadi lebih cepat mengambil nitrogen dari pada tanaman sehingga tanaman akan kekuranga nitrogen. Menurut Musnawar (2007) Dalam pemberian pupuk organik untuk tanaman, ada beberapa hal yang harus diingat, yaitu ada tidaknya pengaruh terhadap perkembangan sifat tanah (fisik, kimia maupun biologi) yang merugikan serta ada tidaknya gangguan keseimbangan unsur hara tertentu oleh tanaman.
Baca lebih lanjut

84 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...