komposisi jenis

Top PDF komposisi jenis:

KOMPOSISI JENIS DAN CADANGAN KARBON TERS

KOMPOSISI JENIS DAN CADANGAN KARBON TERS

Hutan mangrove Kuala Langsa merupakan salah satu tipe ekosistem hutan yang mendominasi daerah pantai berlumpur dan delta estuaria yang memiliki peran penting sebagai penyerap dan penyimpan karbon. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi jenis dan cadangan karbon hutan mangrove Kuala Langsa, Aceh. Penelitian dilakukan pada bulan bulan September - Oktober 2016. Pengukuran biomasa pohon dilakukan dengan metode estimasi. Sebanyak 10 buah petak ukuran 10 m x 10 m diletakkan pada lokasi penelitian. Seluruh pohon dengan DBH ≥ 1 cm di ukur diameternya dan dicatat nama jenisnya. Sebanyak 507 individu yang terdiri dari 5 suku dan 9 jenis dengan DBH ≥ 1 cm telah ditemukan di lokasi penelitian. Rhizophora apiculata Bl merupakan spesies dominan berdasarkan Indeks Nilai Penting (INP). Biomasa pohon dan cadangan karbon di lokasi penelitian berturut-turut sebesar 47,2 ton/ha dan 23,6 ton C/ha
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Struktur Dan Komposisi Jenis Permudaan Hutan Alam Tropika.

Struktur Dan Komposisi Jenis Permudaan Hutan Alam Tropika.

Penelitian dilakukan di areal konsesi PT Suka Jaya Makmur, Kalimantan Barat. Tiga petak pengamatan berukuran masing-masing berukuran 100 m x 100 m diletakkan secara acak di tempat pengumpulan kayu, di pertengahan jalan sarad dan di ujung jalan sarad. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur dan komposisi jenis permudaan semai dan pancang sebelum dan setelah pemanenan kayu di hutan alam tropika. Jenis yang paling banyak ditemukan berdasarkan Indeks Nilai Penting (INP) sebelum pemanenan kayu pada tingkat semai adalah teratung (Compnospera sp) dan meranti merah (Shorea leprosula Miq) dan pada tingkat pancang adalah ubar (Eugenia sp Lour). Jenis yang paling banyak ditemukan berdasarkan Indeks Nilai Penting (INP) setelah pemanenan kayu pada tingkat semai adalah teratung (Compnospera sp) dan pada tingkat pancang adalah ubar (Eugenia sp Lour). Penelitian ini menunjukkan, bahwa komposisi jenis sebelum dan sesudah pemanenan kayu di hutan alam tropika adalah berbeda.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

STRUKTUR TEGAKAN DAN KOMPOSISI JENIS HUT

STRUKTUR TEGAKAN DAN KOMPOSISI JENIS HUT

Struktur tegakan dan komposisi jenis merupakan dua hal yang harus diketahui dalam memahami dinamika suatu hutan (Shugart dan West, 1981 dalam Favrichon, 1998). Keduanya merupakan data karakteristik tegakan yang harus diketahui sehubungan dengan langkah kebijaksanaan yang harus ditempuh dalam operasional kegiatan pengelolaan hutan, baik dalam pemungutan hasil maupun pembinaan tegakan. Menurut Nguyen-The et al.(1998), mempelajari dinamika suatu hutan dan karakteristiknya merupakan prasyarat dasar dalam mengelola hutan secara lestari; oleh karena informasi ini sangat penting untuk mengetahui bagaimana hutan akan memberikan respon terhadap gangguan-gangguan alam maupun terhadap perlakuan- perlakuan silvikultur.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

KOMPOSISI JENIS KEPITING Decapoda Brachy

KOMPOSISI JENIS KEPITING Decapoda Brachy

Ekosistem mangrove dan estuari merupakan komponen penting di wilayah pesisir. Ekosistem ini, terutama hutan mangrove, sangat dipengaruhi oleh pasang surut air laut dan masukan air dari sungai. Mangrove merupakan wilayah yang subur karena adanya transportasi nutrien dari aliran sungai dan pasang surut air laut (Gunarto, 2004). Kehidupan beberapa jenis/spesies fauna bentik sangat bergantung pada kondisi wilayah ini. Mangrove dan estuari merupakan tempat mencari makan bagi beberapa jenis/ spesies burung, tempat memijah dan pembesaran anakan bagi beberapa fauna akuatik. Selain fungsi ekologinya yang penting, kedua ekosistem ini juga memiliki tingkat keanekaragaman fauna yang cukup tinggi, terutama fauna bentik. Selain jumlahnya yang dominan, fauna bentik ini juga memiliki fungsi ekonomi dan ekologi yang cukup penting. Setiap jenis fauna bentik memiliki karakteristik sendiri berdasarkan habitatnya dalam ekosistem mangrove dan estuari. Komposisi jenisnya pun berbeda-beda untuk setiap zona mangrove dan estuari. Salah satu jenis/spesies fauna bentik yang umum ditemukan adalah kepiting (Sastranegara et al, 2003). Keberadaan jenis kepiting sangat tergantung pada kondisi lingkungan terutama jenis-jenis kepiting meliang. Komposisi jenis dan jumlah populasi kepiting yang melimpah ditemukan dalam ekosistem mangrove dan estuari yang
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Struktur Dan Komposisi Jenis Tegakan pada Areal Bekas Illegal Logging di Tangkahan

Struktur Dan Komposisi Jenis Tegakan pada Areal Bekas Illegal Logging di Tangkahan

Saat ini sebagian besar areal hutan alam di Indonesia berupa bekas tebangan. Dimana, struktur tegakan dan komposisi jenis bekas tebangan sangat berbeda dengan struktur tegakan dan komposisi jenis hutan primer. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur dan komposisi pada areal bekas illegal logging di Taman Nasional Gunung Leuser resort Tangkahan, dan membuat profil hutan dari struktur tegakan hutan dan komposisi jenis pohon dari areal bekas illegal logging di Taman Nasional Gunung Leuser resort Tangkahan. Metode yang digunakan adalah analisis vegetasi dengan membuat jalur transek yang kemudian diolah dengan formulasi metode petak kuadrat untuk mendapatkan Indeks Nilai Penting (INP). Untuk mendapatkan gambaran hasil dari stratifikasi tegakan, digunakan software SExI-FS yang dapat memvisualisasikan kondisi di lapangan dan keanekaragaman jenis vegetasi dapat diketahui dari indeks keragaman dari Shannon-wiener. Hasil penelitian diperoleh 97 jenis dengan jumlah 908 individu dengan suku Dipterocarpaceae yang mendominasi tegakan. Profil tegakan pada areal bekas penebangan terbagi dalam 3 stratum yakni stratum A, B dan C, namun hanya 2 jenis yang masuk ke stratum A yakni Querqus spiciata dan Shorea teysmanniana yang disebabkan karena lahan ini masih dalam proses pemulihan melalui tahapan suksesi. Indeks keanekaragaman jenis tertinggi terdapat pada tingkat pohon dengan H’ sebesar 3,859 sedangkan yang terendah terdapat pada tingkat pertumbuhan semai dengan H’ sebesar 3,277 sehingga kategori indeks keanekaragaman jenis semai dan pohon tersebut termasuk dalam kategori tinggi.
Baca lebih lanjut

80 Baca lebih lajut

Komposisi Jenis Kopepoda Di Perairan Berau, Kalimantan Timur

Komposisi Jenis Kopepoda Di Perairan Berau, Kalimantan Timur

Keberadaan dan sebaran biota laut termasuk kopepoda merupakan hasil dari kejadian yang teratur dan terus menerus yang dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan tunggal maupun ganda yang menata bentuk sebaran, kelulusan hidup dan kepadatannya. Populasi kopepoda di berbagai habitat akuatik mempunyai nilai kelimpahan dan komposisi yang bervariasi tergantung pada kondisi lingkungan yang erat kaitannya dengan perubahan musim. Faktor fisik-kimia seperti suhu, intensitas cahaya, salinitas, pH dan zat cemaran di suatu perairan memegang peranan penting dalam menentukan kelimpahan jenis plankton. Sedangkan faktor biotik seperti tersedianya pakan, banyaknya predator dan adanya pesaing dapat mempengaruhi komposisi spesies (Arinardi, dkk. 1997). Demikian pula pernyataan Smith (1971) dan Parson & Takashi (1973) bahwa distribusi plankton di laut ditentukan oleh berbagai faktor lingkungan seperti intensitas cahaya, salinitas, suhu, kecerahan, zat hara, arus, gelombang, musim, siklus reproduksi dan predator.
Baca lebih lanjut

77 Baca lebih lajut

Komposisi Jenis Semai dan Pancang di Hutan Alam Tropika   Sebelum dan Sesudah Pemanenan Kayu

Komposisi Jenis Semai dan Pancang di Hutan Alam Tropika Sebelum dan Sesudah Pemanenan Kayu

Hilangnya suatu jenis dalam petak selain diakibatkan oleh kegiatan penebangan dan penyaradan, juga disebabkan pola penyebaran jenis dan jumlah masing-masing individu bervariasi. Peluang hilangnya suatu jenis sangat besar bila individu jenis tersebut jumlahnya sedikit dan pola penyebaran jenisnya seragam (homogen). Berdasarkan hasil analisis indeks Morishita (Id) menunjukkan terdapat jenis-jenis dominan yang penyebaran jenisnya di semua tingkatan tegakan dalam petak sebelum pemanenan kayu tidak beraturan (acak). Terdapat jenis dalam tingkatan yang sama, namun kedudukan dalam petak berbeda menunnjukkan pola penyebaran yang tidak sama.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Komposisi Jenis Kopepoda Di Perairan Berau, Kalimantan Timur

Komposisi Jenis Kopepoda Di Perairan Berau, Kalimantan Timur

Kehadiran kopepoda sebagai sumber pakan bagi semua anak ikan dan ikan pelagik dalam ekosistem laut yang melimpah sering dikaitkan dengan indikasi kesuburan suatu perairan. Dari hasil penelitian pada berbagai jenis ikan di seluruh dunia, terbukti banyak jenis ikan pelagis dan larvanya memanfaaatkan plankton sebagai makanannya. Dari seluruh produksi ikan di dunia, 74% merupakan ikan pelagis dan berdasarkan jenis makanannya ternyata 63% adalah ikan pemakan plankton, 24 % ikan predator dan 8 % yang hidup di dasar (demersal) (Martinsen 1966). Jadi jelas ikan pemakan plankton lebih banyak daripada ikan pemangsa lainnya. Pentingnya plankton sebagai pakan ikan dapat dibuktikan di perairan Inggris, dimana penangkapan ikan mackerel mencapai puncaknya pada setiap bulan Mei yang bertepatan dengan puncak melimpahnya kopepoda. Korelasi positif antara hasil tangkapan ikan hering dengan banyaknya kopepoda juga dapat dibuktikan dalam penelitian (Lucas 1956). Dari berbagai penelitian itu dapat disimpulkan bahwa bila di perairan tertentu banyak terdapat plankton maka diharapkan ikan pemakan plankton akan banyak pula. Karena dalam kondisi normal, bergerombolnya biota laut hampir selalu berkaitan erat dengan banyaknya pangan (Tham 1953).
Baca lebih lanjut

164 Baca lebih lajut

Komposisi Jenis dan Struktur Tumbuhan Ba (1)

Komposisi Jenis dan Struktur Tumbuhan Ba (1)

Keberadaan tanaman Ketela pohon di bawah tegakan hutan tanaman Jati di KPH Ngawi telah mengakibatkan terjadinya perubahan komposisi jenis tumbuhan bawah dan struktur ekologisnya. Berdasarkan hasil penelitian pada petak hutan tanaman Jati dengan kelas umur yang berbeda (KU II  V) dapat disimpulkan bahwa komposisi jenis tumbuhan bawah cenderung menurun baik dalam jumlah jenis maupun jumlah individu setiap jenis. Hanya ada 4 jenis dari 21 jenis tumbuhan bawah yang dijumpai dari seluruh petak hutan tanaman Jati yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu Hoplismenus burmani, Clitoria ternatea, Eupatorium odoratum dan Synedrela nudiflora; dan sebaran horizontalnya mengelompok. Untuk struktur vertikal komunitas tumbuhan bawah pada petak hutan tanaman Jati bertumbuhan Ketela pohon ternyata tidak jauh berbeda antara satu petak dengan petak yang lainnya dari kelas umur yang berbeda. Kandungan hara dalam tanah dibawah tegakan hutan tanaman Jati bertumbuhan Ketela pohon berada pada tingkat yang rendah.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Struktur dan komposisi jenis mangrove De

Struktur dan komposisi jenis mangrove De

Dengan demikian vegetasi mangrove di Desa Kodiri lebih baik dibanding dengan kondisi mangorve di Desa Bonea. Mangrove di Desa Kodiri relatif tidak terganggu oleh aktivitas manusia (Rakhfid & Rochmady, 2014). Selain itu, substrat dengan kesuburan tinggi didominansi spesies yang relatif hampir sama dari famili Rhizoporiaceae. Dominasi spesies pada kedua lokasi tersebut merupakan jenis vegetasi mangrove yang memiliki toleransi terhadap perubahan salinitas yang dapat tumbuh dengan baik di sepanjang sungai, mulai dari hulu sampai hilir, dan tidak dapat tumbuh pada daerah berkarang (Noor, Khazali, & Suryadiputra, 1999). Hal ini sebagaimana yang ditemukan di Kawasan Pesisir Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur (Ardiansyah, Pribadi, & Nirwani, 2012), didominasi spesies Soneratia alba, Rhizopora apiculata, Rhizopora mucronata dan Avicenia alba dan di daerah pesisir Desa Pasar Banggi, Kabupaten Rembang (Saputro, Pribadi, & Pratikto, 2013), di dominasi spesies Rhizopora mucronata.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Identifikasi, Komposisi dan Kerapatan Jenis Tanaman di Beberapa Jalur Hijau Kota Medan

Identifikasi, Komposisi dan Kerapatan Jenis Tanaman di Beberapa Jalur Hijau Kota Medan

Komposisi jenis tanaman yang ada di tiap jalur termasuk kategori sangat sedikit yaitu < 20%. Sedangkan kerapatan tanaman per jalur termasuk kategori sedang hingga sangat rapat. Komposisi jenis sangat sedikit berarti banyaknya jenis yang ditanam di tiap jalur masih sedikit sehingga tingkat keragamannya juga sangat rendah. Apalagi dengan jumlah tanaman yang banyak namun jenis yang ditanam hanya beberapa jenis saja maka komposisinya akan sangat sedikit pada jalur tertentu. Namun, pada jalur hijau jalan lebih baik memang dengan komposisi yang sangat sedikit supaya lebih teratur dan rapi. Hal ini juga dipengaruhi dari aspek estetika dan tata kota. Pada penelitian ini, diperoleh jumlah jenis per jalur yang terbanyak adalah 18 jenis yaitu pada jalur Yos Sudarso Kecamatan Medan Deli namun karena jumlah tanamannya juga ribuan sehingga nilai komposisinya juga kecil.
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

LAPORAN PRAKTIKUMEKOLOGI TUMBUHAN METODE JALUR (TRANSECT) LURUS

LAPORAN PRAKTIKUMEKOLOGI TUMBUHAN METODE JALUR (TRANSECT) LURUS

Kerapatan adalah nilai yang menunjukan jumlah individu dari jenis-jenis yang menjadi anggota suatu komunitas tuumbuhan dalam luasan tertentu. Sementara itu kerapatan relative menunjukan persentase individu jenis yang bersangkutan di dalam komunitasnya. Pernyataan relative ini diperlukan untuk menghindari kesalaan total dalam pemakaian terhadap suatu komunitas sebab data yang diperoleh dari analisis itu hanya berdasarkan sejumlah pengukuran beberapa wilayah cotoh, bukan total sensus seluruh populasi (Indriyanto, 2006).

Baca lebih lajut

RPP Kelas 8 Tema Komposisi Penduduk (peerteacing)

RPP Kelas 8 Tema Komposisi Penduduk (peerteacing)

Piramida penduduk ini berbentuk seperti batu nisan, menggambarkan jumlah penduduk usia dewasa yang banyak. Sedangkan usia muda sedikit. Jumlah penduduk terus berkembang karena angka kematian lebih besar daripada angka kelahiran. Contohnya Amerika Serikat. Komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin

Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Perbedaan Vo2Max Pada Perokok Yang Tinggal Di Daerah Pegunungan Dan Dataran Rendah Di Kabupaten Boyolali.

PENDAHULUAN Perbedaan Vo2Max Pada Perokok Yang Tinggal Di Daerah Pegunungan Dan Dataran Rendah Di Kabupaten Boyolali.

Secara geografis, daerah pegunungan memiliki ketinggian lebih dari 600 meter di atas permukaan air laut. Daerah pegunungan memiliki karesteristik yang berbeada dengan daerah dataran rendah. Karateristik tersebut terutama di antaranya adalah kelembaban udaran tinggi, tekanan oksigen rendah, suhu rendah, radiasi matahari tinggi, tingginya kecepatan angin, rendahnya nutrisi dan topografi wilayah yang terjal. Selain itu, terdapat puala karesteristik lain seperti komposisi tanah, komposisi udara, cuaca dan habitat yang membutuhkan tingkat dan jenis aktifitas yang berbeda di bandingkan dengan dataran rendah (Ganong,2001)
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Keanekaragaman Jenis Amfibi di Kawasan Lindung Sungai Lesan, Kalimantan Timur

Keanekaragaman Jenis Amfibi di Kawasan Lindung Sungai Lesan, Kalimantan Timur

keanekaragaman di habitat akuatik pada plot pengamatan Sungai Lejak dan nilai keanekaragaman habitat terestrial pada plot pengamatan Sungai Lesan tergolong sedang. Nilai keanekaragaman (H’) pada habitat akuatik dan terestrial pada plot pengamatan anak Sungai Lejak tergolong rendah sampai sedang karena menurut Margalef (1972) dalam Magurran (1988) menyatakan bahwa tingkat keanekaragaman jenis yang tinggi ditunjukkan dengan nilai Indeks Shannon- wiener lebih dari 3,5; digolongkan sedang dengan nilai indeks 1,5-3,5 dan tergolong rendah dengan nilai indeks kurang dari 1,5. Nilai keanekaragaman habitat terestrial pada plot pengamatan anak Sungai Lejak tergolong rendah, hal ini dikarenakan tegakan yang lebih seragam dan tidak terlalu rapat serta hanya sedikit ditemukan habitat berupa lokasi yang berair seperti genangan atau aliran sungai, selain itu mikrohabitat seperti pohon tumbang dan semak yang tersedia relatif lebih sedikit dibandingkan kedua lokasi lainnya. Pada lokasi penelitian nilai keanek aragaman (H’) berkisar antara 0,75 sampai 2, 00. Nilai ini tidak berbeda jauh dengan Mediyansyah (2008) yang memperoleh nilai keanekaragaman 0,77 sampai 2,45 dan Utama (2003) yang memperoleh nilai keanekaragaman 1,04 sampai 2,56. Berdasarkan habi tat, nilai H’ habitat sungai (1, 77) lebih tinggi dibandingkan d engan nilai H’ habitat darat (1, 29). Hal ini dikarenakan jumlah jenis maupun individu yang ditemukan di habitat sungai relatif lebih tinggi dari pada habitat darat. Menurut Inger (1980) amfibi lebih cenderung berkonsentrasi di daerah tepi sungai pada malam hari. Selain itu, metode penelitian yang hanya mensurvei satu habitat saja yaitu aliran sungai, relatif mendapatkan jumlah jenis yang sedikit karena jenis-jenis yang hidup jauh dari sungai dan menempati sebagian besar lantai hutan maupun lubang-lubang pohon tidak ditemukan (Zainuddin, et al. 2002).
Baca lebih lanjut

175 Baca lebih lajut

METODE JALUR (TRANSECT) LURUS

METODE JALUR (TRANSECT) LURUS

mendeskripsikan suatu vegetasi sesuai dengan tujuannya. Pengamatan parameter vegetasi berdasarkan bentuk hidup pohon, perdu serta herba. Suatu ekosistem alamiah maupun binaan selalu terdiri dari dua komponen utama yaitu komponen biotik dan abiotik. Vegetasi atau komunitas tumbuhan merupakan salah satu komponen biotik yang menempati habitat tertentu seperti hutan, padang ilalang, semak belukar dan lain-lain. Struktur dan komposisi vegetasi pada suatu wilayah dipengaruhi oleh komponen ekosistem lainnya yang saling berinteraksi, sehingga vegetasi yang tumbuh secara alamiah pada wilayah tersebut sesungguhnya merupakan pencerminan hasil interaksi berbagai faktor lingkungan dan dapat mengalami perubahan drastis karena pengaruh anthropogenic (Anwar, 1995).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

RESPON ARTEMISIA ANNUA TERHADAP JENIS DAN KOMPOSISI PUPUK ORGANIK DI DATARAN RENDAH.

RESPON ARTEMISIA ANNUA TERHADAP JENIS DAN KOMPOSISI PUPUK ORGANIK DI DATARAN RENDAH.

Pupuk kotoran sapi merupakan pupuk organik yang memiliki kecukupan kandungan hara yang baik bagi pertumbuhan tanaman. Menurut Zahara (2005), pupuk kotoran sapi memiliki komposisi bahan organik yang tinggi jika dibandingkan pupuk organik lainnya. Ketersediaan hara dari pupuk ini dipengaruhi oleh tingkat dekomposisi dari bahan-bahan organic didalamnya. Hara dari pupuk kotoran hewan cenderung berbentuk N, P serta unsur lain yang terdapat dalam bentuk senyawa kompleks organo protein atau senyawa asam humat atau lignin. Oleh karena itu, penelitian ini akan mempelajari tentang perbandingan pupuk dengan media dan jenis pupuk organik terhadap tingkat keberhasilan pertumbuhan bibit artemisia.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Komposisi Kimia Beberapa Jenis Kayu Tropis

Komposisi Kimia Beberapa Jenis Kayu Tropis

Indonesia sebagai negara tropis kaya akan berbagai jenis kayu, namun sayang informasi tentang kimia kayu tropis masih belum bayak diketahui dan dipublikasikan. Selama ini kuliah kimia kayu lebih bayak mengambil bahan dari teks books yang berasal dari luar, tentu saja kayu-kayu tersebut kurang dikenal. Padahal bayak sekali jenis kayu yang umum sudah kita kenal tapi publikasi sifat dasar terutama komponen kimia penyusunnya masih sangat terbatas.

Baca lebih lajut

KEANEKARAGAMAN JENIS ANGGREK DI KAWASAN TAMAN NASIONAL LORE INDU ( Studi Kasus Desa Mataue, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah) | Pemba | Jurnal Warta Rimba 6361 21065 1 PB

KEANEKARAGAMAN JENIS ANGGREK DI KAWASAN TAMAN NASIONAL LORE INDU ( Studi Kasus Desa Mataue, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah) | Pemba | Jurnal Warta Rimba 6361 21065 1 PB

Jenis-jenis anggrek yang ditemukan di Kawasan Taman Nasional Lore Lindu Desa Mataue meliputi Aerides odorata, Agrostophyllum Majus.J.J Sm., Bulbophyllum SPL., Bulbophyllum lobbi Lindl, Calanthe sp., Coelogyne asperata Lindl, Coelogyne foerstermannii Rchb. F., Cymbidium ensifolyum L.SW., Cyimbidium Lancifolium Hook., Cymbidium Pinalaysonianum, Dendrobium Crumenatum sw., Dendrobium Macrosphyllum, Dendrochyllum sp., Eria sp., Grammatophyllum Scriptum. Bl., Grammatophyllum Stepeliiflorum J.J.S., Liparis Lacerata, Podochillus Macrophyllus Lind, Spathoglottis plicata BI, Vanda sp, dan Vanda arculata.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PENGARUH JENIS SAMPAH KOMPOSISI MASUKAN

PENGARUH JENIS SAMPAH KOMPOSISI MASUKAN

Pada penelitian sebelumnya memiliki judul pemanfaatan limbah untuk dijadikan biogas sebagai energi alternatif yang dapat diperbaharui. Variabel yang dilakukan pada penelitian sebelumnya adalah COD dan Mixed Liquid Volatil Suspended Solid (MLVSS). Dalam penelitian terebut demensi fermentor adalah tinggi 78.4 cm, diameter 40 cm dan volume 98,5 liter kotoran sapi 8 kg basis basah dengan kadar air 97,65% kemudian disaring sedangkan limbah sayur 4 kg basis kering dihancurkan dengan menggunakan blinder. Dari hasil penelitian tersebut didapatkan bahwa konsentasi organik didasarkan pada pengukuran COD, Mixed Liquid Volatil Suspended Solid ( MLVSS) dapat digunakan untuk menentukan fase perkembangan bakteri dan komposisi biogas dari limbah sayur dengan proses anaerobik digester adalah metana (CH 4 ) 57,698%.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...