konsentrasi asam optimum

Top PDF konsentrasi asam optimum:

KONSENTRASI ASAM OPTIMUM PADA ISOLASI NANOKRISTALIN SELULOSA BAKTERIAL DARI LIMBAH KULIT NANAS - repository UPI S KIM 1005274 title

KONSENTRASI ASAM OPTIMUM PADA ISOLASI NANOKRISTALIN SELULOSA BAKTERIAL DARI LIMBAH KULIT NANAS - repository UPI S KIM 1005274 title

2014 KONSENTRASI ASAM OPTIMUM PADA ISOLASI NANOKRISTALIN SELULOSA BAKTERIAL DARI LIMBAH KULIT NANAS Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu FA[r]

3 Baca lebih lajut

KONSENTRASI ASAM OPTIMUM PADA ISOLASI NANOKRISTALIN SELULOSA BAKTERIAL DARI LIMBAH KULIT NANAS.

KONSENTRASI ASAM OPTIMUM PADA ISOLASI NANOKRISTALIN SELULOSA BAKTERIAL DARI LIMBAH KULIT NANAS.

Dari penelitian ini diperoleh hasil bahwa konsentrasi asam optimum pada isolasi nanokristalin selulosa bakterial dari limbah kulit nanas dengan kondisi reaksi: suhu 50 ˚ C, waktu 30 menit, dan rasio selulosa bakterial terhadap asam 1:50 adalah 50% v/v. Nanokristalin selulosa bakterial yang diperoleh memiliki kemiripan struktur dengan selulosa bakterial awal sebelum perlakuan hidrolisis dan nanokristalin selulosa bakterial ini berbentuk jarum dengan ukuran panjang partikel sekitar 258-806 nm, lebar sekitar 16-64 nm, aspek rasio 12-50, dan derajat kristalinitas sebesar 64,30%.
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

S KIM 1005274 chapter5

S KIM 1005274 chapter5

2014 KONSENTRASI ASAM OPTIMUM PADA ISOLASI NANOKRISTALIN SELULOSA BAKTERIAL DARI LIMBAH KULIT NANAS Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu BA[r]

1 Baca lebih lajut

S KIM 1005274 abstract

S KIM 1005274 abstract

Saat ini, sudah banyak dilakukan penelitian mengenai isolasi nanokristalin selulosa dari berbagai sumber selulosa, seperti tunicin , kapas, ramie dan selulosa bakterial. Namun, penggunaan selulosa bakterial dari limbah kulit nanas belum pernah diteliti, padahal penggunaan limbah ini merupakan salah satu metode yang ramah lingkungan dan ekonomis. Dari sumber selulosa ini, nanokristalin selulosa dapat diisolasi melalui beberapa metode, salah satu metode yang banyak digunakan adalah hidrolisis asam. Ada empat faktor penting dalam metode hidrolisis asam, yaitu: konsentrasi asam, suhu, waktu hidrolisis, dan rasio asam terhadap selulosa. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui konsentrasi asam optimum pada isolasi nanokristalin selulosa bakterial dari limbah kulit nanas. Tahapan dari penelitian ini meliputi: sintesis selulosa bakterial dan isolasi nanokristalin selulosa bakterial. Selulosa bakterial disintesis melalui proses fermentasi dengan bakteri Acetobacter xylinum . Selanjutnya, selulosa bakterial dihidrolisis menggunakan asam sulfat. Untuk mengetahui konsentrasi asam optimum, isolasi nanokristalin selulosa bakterial dilakukan dengan menggunakan lima variasi konsentrasi, yaitu: 40, 45, 50, 55, dan 60% v/v. Untuk memastikan keberulangan hasil dari penelitian ini, kondisi reaksi diatur pada suhu 50˚C, waktu 30 menit, dan rasio selulosa bakterial terhadap asam 1:50. Untuk membuktikan keberhasilan dari proses sintesis dan isolasi, beberapa analisis dilakukan dengan menggunakan FTIR, SEM, TEM, dan XRD. Hasil karakterisasi menunjukkan bahwa selulosa bakterial yang diperoleh memiliki struktur yang serupa dengan standar mikrokristalin selulosa, dengan ukuran lebar serat antara 20-60 nm dan panjang serat dalam skala mikrometer. Dari penelitian ini, diperoleh konsentrasi asam optimum sebesar 50% v/v untuk isolasi nanokristalin selulosa bakterial dari limbah kulit nanas. Nanokristalin selulosa bakterial yang diperoleh dari penggunaan konsentrasi asam 50% v/v memiliki kemiripan struktur dengan selulosa bakterial awal sebelum perlakuan hidrolisis. Nanokristalin selulosa bakterial ini berbentuk jarum dengan ukuran panjang partikel sekitar 258-806 nm, lebar sekitar 16-64 nm, aspek rasio 12-50, dan derajat kristalinitas sebesar 64,30%. Besarnya nilai aspek rasio yang diperoleh menunjukkan bahwa nanokristalin selulosa bakterial ini berpotensi untuk menjadi reinforcing nanofiller pada material komposit.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

S KIM 1005274 Bibliography

S KIM 1005274 Bibliography

2014 KONSENTRASI ASAM OPTIMUM PADA ISOLASI NANOKRISTALIN SELULOSA BAKTERIAL DARI LIMBAH KULIT NANAS Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu DAF[r]

4 Baca lebih lajut

Studi Pembuatan Serat Makanan Dari Beberapa Kulit Sayuran

Studi Pembuatan Serat Makanan Dari Beberapa Kulit Sayuran

Gambar 12. Grafik pengaruh konsentrasi asam asetat terhadap daya serap air (%). Daya serap air merupakan kemampuan bahan dalam menyerap air. Serat makanan yang baik mempunyai kemampuan menyerap air yang baik pula karena di dalam tubuh akan menyerap komponen-komponen yang tidak penting bagi tubuh. Ukuran partikel yang kecil dengan daya serap yang tinggi tentu sangat diharapkan dalam hal ini. Hal ini dipengaruhi oleh jenis asam dan konsentrasi yang digunakan. Kemampuan bahan dalam menyerap air tergantung dari jenis bahan dan juga jenis asam dan konsentrasi asam yang digunakan dal;am ekstraksi. Perendaman dalam larutan asam memutus ikatan hidrogen sehingga menghasilkan struktur yang agak rapat dan daya serap air yang tinggi. Menurut Afrianti, (2004) hidrolisis asam akan membuat struktur serat lebih mengembang, semakin meningkat suhu pemanasan pengembangan granula semakin besar.
Baca lebih lanjut

91 Baca lebih lajut

KAJIAN PENGARUH VARIASI KONSENTRASI ASAM

KAJIAN PENGARUH VARIASI KONSENTRASI ASAM

Setelah didapatkan produk gelatin terbaik hasil ekstraksi kulit ayam broiler berdasarkan kekuatan gel tertinggi (produk gelatin perlakuan asam sitrat 0,7%) dilanjutkan dengan analisis sifat fisikokimia yang meliputi kadar air, kadar abu, kadar protein, kadar lemak, pH, dan viskositas dan dibandingkan dengan gelatin komersial. Kadar air pada GA mencapai 7,30% (Tabel 5), dimana nilai ini lebih rendah bila dibandingkan dengan gelatin komersial (11,83%). Perbedaan kadar air tersebut dapat disebabkan oleh bahan baku yang digunakan berbeda dan perlakuan yang berbeda pula(pembekuan, pengeringan, proses pretreatment , hidrolisis). Hasil pengukuran kadar abu produk gelatin yang disajikan pada Tabel 5 menunjukkan bahwa produk gelatin GA memiliki kadar abu sebesar 0,51%, sedangkan GK kadar abunya mencapai 0,69%. Kadar protein GA sebesar 97,95% dan kadar protein GK sebesar 92,46%. Hal ini menunjukkan bahwa produk gelatin dari kulit ayam broiler memiliki kadar protein yang lebih tinggi dibanding gelatin komersial, dimana gelatin sendiri merupakan protein hasil konversi kolagen.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PENGARUH KONSENTRASI ASAM DAN WAKTU PADA PROSES HIDROLISIS DAN FERMENTASI PEMBUATAN BIOETANOL DARI ALANG-ALANG

PENGARUH KONSENTRASI ASAM DAN WAKTU PADA PROSES HIDROLISIS DAN FERMENTASI PEMBUATAN BIOETANOL DARI ALANG-ALANG

Dewasa ini ketersediaan energi dari bahan bakar fosil makin menipis. Solusi untuk mengatasi persoalan tersebut adalah dengan mengembangkan sumber energi alternative yang dapat diperbarui seperti bioetanol. Bioetanol merupakan merupakan salah satu energi alternatif pengganti minyak bumi. Alang- alang (Imperata cylindrica) dapat digunakan untuk produksi bioetanol. Komponen utama pada alang- alang (Imperata cylindrica) yang digunakan untuk produksi bioetanol adalah lignoselulosa yang terdiri dari selulosa, hemiselulosa dan lignin. Etanol dibuat dengan proses fermentasi dengan bantuan kombinasi Amylomyces rouxii, Rhizopus oryzae, Endomycopsis burtonii, Mucor sp., Candida utilis, Saccharomycopsis fibuligera, Sacharomyces cerevisiae, dan beberapa bakteri : Pediococcus sp, Baksil sp. Penelitian ini bertujuan mempelajari pemanfaatan alang-alang (Imperata cylindrica) untuk dibuat etanol dengan proses hidrolisis dan fermentasi dengan mempelajari pengaruh konsentrasi asam untuk hidrolisa, waktu hidrolisa, temperatur dan jenis ragi yang berpengaruh terhadap kadar alkohol. Hasil percobaan menunjukkan bahwa percobaan pada konsentrasi asam 2,0%, temperatur 140 o C, waktu hidrolisa 150 menit dan menggunakan ragi tape hari ketiga memberikan kadar alkohol tertinggi sebesar 5,0675%
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

PENGARUH KONSENTRASI ASAM SULFAT TERHADAP KEKERASAN ALUMINIUM PADUAN TIPE 3103 HASIL ANODIZING

PENGARUH KONSENTRASI ASAM SULFAT TERHADAP KEKERASAN ALUMINIUM PADUAN TIPE 3103 HASIL ANODIZING

Dalam proses anodizing dipelukan adanya larutan elektrolit yang dalam hal ini adalah asam sulfat. Konsentrasi dari asam sulfat akan berpengaruh terhadap kekerasan permukaan aluminium hasil anodizing. Oleh karena itu diperlukan penelitian tentang variasi konsentrasi asam sulfat. Sehingga dapat diketahui besaran optimum kekerasan aluminium hasil anodizing.

1 Baca lebih lajut

MODIFIKASI TEPUNG SAGU MENJADI MALTODEKSTRIN MENGGUNAKAN ENZIM α-AMYLASE - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

MODIFIKASI TEPUNG SAGU MENJADI MALTODEKSTRIN MENGGUNAKAN ENZIM α-AMYLASE - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Dari ketiga kondisi optimum tersebut didapatkan kondisi paling optimum yaitu pada saat hidrolisa dengan konsentrasi enzim 0,09% dengan suhu hidrolisa 90 o C. Menurut Linar Z. Udin, disebutkan bahwa aktivitas amylase maksimum pada kisaran 60-80 o C dan aktivitas enzim masih memberikan nilai 100% setelah pemanasan 80 o C dengan adanya penambahan ion Ca 2+ . Hal ini kami terapkan pada penelitian kami karena proses hidrolisa harus mengalami likuifikasi dimana likuifikasi terjadi di atas suhu gelatinisasi tepung sagu yaitu 72 o C (Linar Z. Udin, 2001).
Baca lebih lanjut

56 Baca lebih lajut

Adsorben berbasis limbah padat tapioka

Adsorben berbasis limbah padat tapioka

adsorbat dengan adsorben bersifat lemah. Hal ini memungkinkan adsorbat bebas bergerak hingga akhirnya berlangsung proses adsorpsi banyak lapisan. Sama halnya dengan adsorben limbah padat tapioka aktivasi asam, isoterm adsorpsi biru cibacron oleh arang aktif juga mengikuti tipe isoterm Freundlich. Gambar 17 dan Gambar 18 yang berasal dari pengolahan data pada Lampiran 9 menunjukkan bahwa isoterm adsorpsi biru cibacron oleh arang aktif memiliki linieritas yang cukup tinggi untuk kedua tipe isoterm, yaitu 79.9% untuk isoterm Langmuir dan 94.7% untuk isoterm Freundlich. Walaupun keduanya memiliki linieritas yang cukup tinggi, proses adsorpsi lebih dominan mengikuti tipe isoterm Freundlich. Hal ini menunjukkan bahwa pada adsorpsi biru cibacron oleh arang aktif diperkirakan membentuk banyak lapisan sebagaimana adsorben limbah padat tapioka aktivasi asam.
Baca lebih lanjut

35 Baca lebih lajut

Keawetan Alami Dan Keterawetan Kayu Nangka  (Artocarpus heterophyllus Lamk)

Keawetan Alami Dan Keterawetan Kayu Nangka (Artocarpus heterophyllus Lamk)

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keawetan alami kayu nangka (Artocarpus hetrophyllus Lamk) terhadap serangan rayap tanah, besarnya retensi dan penetrasi asam borat pada kayu nangka dan mengetahui keterawetan kayu nangka. Setelah dilakukan pengawetan, selanjutnya contoh uji ditanam selama 100 hari. Persentasi kehilangan berat berkisar antara 0,02 % sampai dengan 0,54 %. Kayu nangka dapat diklasifikasikan kedalam kayu yang tahan terhadap serangan rayap tanah. Nilai retensi bahan pengawet asam borat pada kayu nangka berkisar antara 0,57 sampai dengan 3,73 kg/m 3 , sedangkan penetrasinya berkisar antara 3,03 sampai dengan 8,75 mm.Retensi dan penetrasi tertinggi ditunjukkan oleh perlakuan konsentrasi asam borat 6 % dengan lama perendaman 72 jam. Dari hasil retensi dan penetrasi, kayu nangka termasuk kayu yang sedang untuk diawetkan. Peningkatan konsentrasi dan lama perendaman asam borat dapat meningkatkan nilai retensi dan penetrasi bahan pengawet asam borat serta semakin tahan terhadap serangan rayap tanah.
Baca lebih lanjut

60 Baca lebih lajut

Efektifitas Membran Khitosan dari Kulit Udang Galah( Maccobanchiumrosenbergii) Untuk menurunkan Fosfat.

Efektifitas Membran Khitosan dari Kulit Udang Galah( Maccobanchiumrosenbergii) Untuk menurunkan Fosfat.

dengan konsentrasi 1% paling mudah melarut dalam asam asetat karena kondisi larutan yang encer (lebih banyak pelarutnya) menghasilkan membran yang paling tipis dan transparan. Khitosan dengan kosentrasi 2%, 3% larut dengan baik dalam asam asetat menjadi larutan yang sempurna sehingga menghasilkan membran yang halus. Sedangkan khitosan dengan konsentrasi 4% dan 5% dalam asam asetat menghasilkan larutan yang agak kental karena mengalami kejenuhan. Pencetakan membran dengan konsentrasi khitosan 1%, 2%, 3%, 4%, dan 5% pada cetakan (petri dish), melepaskan membran setelah proses penguapan pelarutnya melalui teknik penguapan yaitu dengan merendam membran menggunakan NaOH 4% selama 2 menit dilanjutkan dengan menggunakan aquabides selama 5 menit. Penggunaan larutan NaOH berfungsi sebagai larutan nonpelarut yang dapat berdifusi ke bagian bawah membran yang berhimpit dengan kaca sehingga membran akan terdorong ke atas dan terkelupas. Pencucian dengan aquabides bertujuan untuk menghilangkan sisa-sisa NaOH sehingga pH-nya menjadi netral.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PEMANFAATAN LIMBAH TONGKOL JAGUNG (Zea mays L.) SEBAGAI ARANG AKTIF DALAM MENURUNKAN KADAR AMONIA, NITRIT DAN NITRAT PADA LIMBAH CAIR INDUSTRI TAHU MENGGUNAKAN TEKNIK CELUP

PEMANFAATAN LIMBAH TONGKOL JAGUNG (Zea mays L.) SEBAGAI ARANG AKTIF DALAM MENURUNKAN KADAR AMONIA, NITRIT DAN NITRAT PADA LIMBAH CAIR INDUSTRI TAHU MENGGUNAKAN TEKNIK CELUP

penyerapan oleh arang aktif dengan ukuran partikel 100 mesh yang dikemas kantong celup mencapai optimum pada waktu kontak 10 menit. Pada waktu kontak 10 menit terjadi penurunan kadar amonia, nitrit dan nitrat yang signifikan. Arang yang sudah diaktifkan permukaannya menjadi lebih luas karena telah bebas dari deposit hidrokarbon dan pori-porinya telah terbuka sehingga mampu mengadsorpsi amonia, nitrit dan nitrat [4]. Pada waktu kontak 20 menit terjadi penurunan nilai adsorpsi. Hal ini disebabkan pori-pori arang aktif telah jenuh atau telah tertutup oleh adsorbat sehingga arang aktif tidak mampu lagi menyerap adsorbat. Penurunan nilai adsorpsi terjadi secara terus menerus pada waktu kontak 30 menit sampai dengan 60 menit [4].
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Kelarutan Ozon pada Proses Ozonisasi Konvensional dan Advanced Oxidation Process (O3/H2O2) pada Lindi Effluent Pengolahan

Kelarutan Ozon pada Proses Ozonisasi Konvensional dan Advanced Oxidation Process (O3/H2O2) pada Lindi Effluent Pengolahan

Nilai pH sampel cenderung basa yaitu pada nilai >8,60 hal tersebut sesuai dengan pendapat Damanhuri (2008) yang menyebutkan kekhasan lindi sampah Indonesia berkarakter tidak asam. Nilai pH>8 mendukung dalam proses pembentukan OH radikal dan ion hidroksida yang merupakan insiator dalam proses ozonisasi. Lain halnya dengan parameter penyebab alkalinitas seperti karbonat dan bikarbonat yang masing-masing memiliki nilai 2400 mg/L dan 183 mg/L. Nilai alkalinitas merupakan inhibitor dalam proses ozonisasi, tingginya nilai tersebut dapat mengganggu proses dekomposisi ozon sehingga proses propagasi pembentukan OH radikal terhambat.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PEMBUATAN KRISTAL EPSOMITE DARI AIR TUA - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

PEMBUATAN KRISTAL EPSOMITE DARI AIR TUA - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Konsentrasi solut dalam diluen memang berpengaruh pada banyaknya solut yang terekstrak. Konsentrasi solut yang semakin tinggi berarti menunjukkan jumlah mol solut semakin besar, akibatnya senyawa acid-solvent yang terbenttuk juga besar, yang sesungguhnya adalah solut yang terambil pada fase ekstrak. Demikian berlaku hal sebaliknya yaitu apabila konsentrasi solut rendah. Terbentuknya senyawa acid-solvent pada perbandingan solven dan diluen yang tetap, tentu ada batasnya biarpun konsentrasi solut diperbesar, oleh sebab itu pada larutan solut yang konsentrasinya lebih besar dari 2000 ppm, pengaruhnya tidak begitu signifikan lagi. Dengan perkataan lain, persentase solut yang terekstrak sudah relatif tetap (konstan). Koefisien distribusi ekstraksi asam sitrat selalu lebih kecil dibanding dengan asam oksalat pada konsentrasi solut yang sama. Hasil ini selaras dengan penelitian ekstraksi asam-asam organik dengan menggunakan solven campuran TOA dan chloroform yang dilakukan oleh Kirsch dan Maurer (1998), di mana menyimpulkan bahwa asam yang lebih kuat lebih
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Ketergantungan Laju Absorpsi Dari Asam Mefenamat Terhadap Konsentrasi Pada Mukosa Usus Halus Kelinci Yang Dihomogenkan

Ketergantungan Laju Absorpsi Dari Asam Mefenamat Terhadap Konsentrasi Pada Mukosa Usus Halus Kelinci Yang Dihomogenkan

Sebelum obat yang diberikan dapat mencapai tempat kerjanya dalam konsentrasi efektif, obat tersebut harus menembus sejumlah pembatas atau (barrier). Barrier ini pada dasarnya merupakan membran-membran biologis seperti epitel lambung usus, paru-paru, darah, dan otak. Membran tubuh pada umumnya digolongkan menjadi tiga tipe utama : (a) membran yang terdiri dari beberapa lapisan sel, seperti kulit; (b) membran yang terdiri dari satu lapis sel, seperti epitel usus halus; (c) membran yang tebalnya kurang dari satu lapis sel, seperti membran dari suatu sel tunggal. Dalam banyak hal obat harus melalui lebih dari satu tipe membran tersebut sebelum obat tersebut mencapai tempat kerjanya. Sebagai contoh suatu obat yang dimakan secara oral harus menembus membran lambung-usus (lambung, usus halus, dan usus besar), dapat masuk ke dalam sirkulasi umum, melewati organ atau jaringan dimana obat tersebut mempunyai afinitas, dapat masuk kedalam jaringan tersebut, dan kemudian msuk kedalam sel-sel individualnya (Ansel, 1989).
Baca lebih lanjut

95 Baca lebih lajut

Pengembangan Metode Destruksi Unsur Tanah Jarang dari Tailing Pasir Timah Pulau Bangka

Pengembangan Metode Destruksi Unsur Tanah Jarang dari Tailing Pasir Timah Pulau Bangka

Fase padat hasil destruksi NaOH sebanyak 1 g diekstraksi dengan pelarut asam mineral yang optimum pada komposisi ekstraksi hidrometalurgi yang optimum dan ragam waktu yang digunakan dari 1 jam, 1,5 jam, 2 jam, 2,5 jam, dan 3 jam. Suhu yang digunakan adalah 150 ºC. Penambahan akuades 100 mL pada tahap ini disesuaikan pada waktunya. Contoh pada waktu 1 jam maka penambahan akuades pada waktu 30 menit pertama. Pemanasan pada tahap ini menggunakan hot plate. Setelah waktu yang ditentukan telah habis maka proses pemanasan dihentikan kemudian didiamkan sampai fase cairan dan fase padatnya terpisah. Setelah terpisah dilakukan dekantasi untuk mendapatkan fase cairan. Fase padat hasil ekstraksi hidrometalurgi kemudian dikeringkan lalu ditimbang dan fase cairanya ditampung untuk dianalisis menggunakan ICP-MS.
Baca lebih lanjut

45 Baca lebih lajut

Available online at www.ejurnalmaterialmetalurgi.com

Available online at www.ejurnalmaterialmetalurgi.com

Profil antara persen ekstraksi logam Cu, Ni, Ag dan Fe terhadap pH kesetimbangan pada konsentrasi ekstraktan 25% (v/v), nisbah O/A 1/1, temperatur 25 °C ditunjukkan pada Gambar 1. Terlihat bahwa peningkatan pH kesetimbangan meningkatkan ekstraksi tembaga, dimana persen ekstraksi Cu tertinggi diperoleh pada pH kesetimbangan 2 yaitu sebesar 78%. Hasil percobaan dan analisis menunjukkan bahwa jumlah Pb dalam fasa aqueous khususnya pada pH yang rendah (0,5- 1,5), mengalami peningkatan sebesar 20-35% dibandingkan jumlah awalnya dalam sampel larutan limbah dan kembali mendekati jumlah asalnya pada pH 2. Hal yang sama didapatkan pada jumlah Zn pada fasa aqueous yang meningkat sebesar 19% dibandingkan jumlah awalnya dalam sampel larutan limbah. Peningkatan jumlah Pb dan Zn dalam larutan aqueous setelah SX kemungkinan karena ekstraktan atau diluents yang digunakan mengandung Pb dan Zn. Pada rentang pH yang diuji, Pb dan Zn lebih stabil berada pada fasa aqeous dibandingkan pada fasa organik, sehingga Pb dan Zn yang berada pada fasa organik masuk ke fasa aqueous yang mengakibatkan meningkatnya konsentrasi Pb dan Zn dalam fasa aqueous. Bila data konsentrasi Pb dan Zn dalam larutan aqueous setelah SX dimasukkan ke persamaan (2) maka akan menghasilkan persen ekstraksi yang negatif. Namun demikian, karena konsentrasi kedua logam ini dalam sampel larutan limbah cukup rendah, maka peningkatan jumlah Pb dan Zn dalam larutan rafinate (larutan aqueous setelah SX) tidak akan memberikan dampak yang signifikan bila larutan rafinate dipakai kembali untuk preparasi elektrolit pemurnian perak. Sebagaimana diketahui, Pb dan Zn kurang mulia dibandingkan dengan Ag sehingga pada konsentrasi yang rendah tidak akan ikut terdeposisi bersama-sama dengan Ag dan menurunkan kemurnian produk.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

DAYA ADSORPSI ARANG AKTIF KULIT PISANG RAJA BULU (MUSA PARADISIACA I. VAR SAPIENTUM) SEBAGAI ADSORBEN LOGAM BERAT BESI (FE).

DAYA ADSORPSI ARANG AKTIF KULIT PISANG RAJA BULU (MUSA PARADISIACA I. VAR SAPIENTUM) SEBAGAI ADSORBEN LOGAM BERAT BESI (FE).

Gambar 3.1. Bagan Alir Preparasi Kulit Pisang Menjadi Arang Aktif 26 Gambar 3.2. Bagan Alir Penentuan Konsentrasi Optimum Larutan Fe(II) 26 Gambar 3.3. Bagan Alir Penentuan pH Optimum Larutan Fe(II) 27 Gambar 3.4. Bagan Alir Penentuan Waktu Optimum Dan Massa Optimum

16 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...