KONSEP DIRI WARIA

Top PDF KONSEP DIRI WARIA:

Transformasi Gender guna Membentuk Konsep Diri Waria.

Transformasi Gender guna Membentuk Konsep Diri Waria.

Rizka Kardilla, 210110070404, Jurusan Manajemen Komunikasi, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran, Bandung. Transformasi Gender guna membentuk Konsep Diri Waria. Dr. H.Antar Venus, MA. Comm. selaku pembimbing utama, dan Ilham Gemiharto, S.Sos. M.Si selaku pembimbing pendamping.

4 Baca lebih lajut

gunadarma 10599253 skripsi fpsi

gunadarma 10599253 skripsi fpsi

Skripsi, Fakultas Psikologi, 2008 Universitas Gunadarma http://www.gunadarma.ac.id kata kunci : konsep diri, waria, tugas perk Abstraksi :.[r]

2 Baca lebih lajut

KONSEP DIRI PADA WARIA

KONSEP DIRI PADA WARIA

Waria sebagai individu berbeda memiliki konsep diri yang dibutuhkan sebagai kerangka acuan untuk berinteraksi dengan lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui konsep diri yang dimiliki oleh waria dalam kehidupannya serta faktor-faktor yang membentuk konsep diri. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode kualitatif. Data yang dikumpulkan dalam bentuk data verbal melalui proses wawancara mendalam yang dilakukan terhadap empat orang subjek yang menjalani kehidupan sebagai waria. Hasil dari penelitian ini mengungkapkan jika konsep diri waria adalah konsep diri positif yang muncul dalam substansi struktur diri melalui pengamatan dan penerimaan pengalaman diri dan penilaian struktur dalam bentuk pemahaman dan kepedulian terhadap diri. Serta dalam substansi ideal diri yang terlihat dari keberhasilan interaksi waria dengan orang lain melalui komunikasi dan keterbukan hingga memunculkan rasa berharga dalam bentuk kepemilikan nilai hidup yang positif. Meskipun pada fase evaluasi, aktualisasi, dan pertahanan diri waria masih belum bisa dikembangkan sehingga membedakan konsep diri waria dengan konsep diri individu pada umumnya. Adanya kesadaran keberadaan fungsi diri, interaksi evaluatif, pemaknaan pengalaman, asimiliasi pengalaman, dan penerimaan keluarga sebagai lingkungan terdekat waria merupakan faktor yang mempengaruhi konsep diri tersebut.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Pria Transeksual (Waria) Dalam Perspektif Nilai-Nilai Moral Sosial Studi Kasus di Seputar Stadion Sriwedari kota Surakarta.

PENDAHULUAN Pria Transeksual (Waria) Dalam Perspektif Nilai-Nilai Moral Sosial Studi Kasus di Seputar Stadion Sriwedari kota Surakarta.

Waria disini termasuk kedalam kelompok transeksual. Kaum transeksual mengubah bentuk tubuhnya dapat menjadi serupa dengan lawan jenis. Jika yang jantan mengubah dadanya dengan operasi plastik atau penyuntikan diri dengan hormon seks, dan membuang penis serta testinya dan membentuk lubang vagina (Dananjaya, 2003). Koeswinarno (2004) menyatakan, biasanya kaum transeksual secara psikis tidak sama dengan alat kelamin fisiknya sehingga waria memakai pakaian atau atribut lain dari jenis kelamin yang lain, jika laki-laki memakai pakaian perempuan, namun jika perempuan ia memakai pakaian laki-laki.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

KEPERCAYAAN DIRI PADA WARIA

KEPERCAYAAN DIRI PADA WARIA

Dapat diambil suatu kesimpulan bahwa waria yang merasa tertekan akibat penolakan sosial dan tidak mendapatkan dukungan dari lingkungan sekitar akan membuat perasaan positif dan rasa percaya diri kaum waria sulit untuk tumbuh dan berkembang karena rasa percaya diri tidak dapat tumbuh dengan sendirinya. Sebaliknya jika waria itu sendiri merasa mendapatkan rasa penerimaan dan dukungan dari lingkungan sekitarnya maka perasaan percaya diri akan tumbuh secara perlahan dan kesejahteraan psikologis juga perlahan meningkat karena merasa dihargai dan diterima oleh masyarakat sekitar yang menimbulkan suatu sikap positif terhadap diri sendiri dan juga terhadap masyarakat sekitarnya.
Baca lebih lanjut

102 Baca lebih lajut

KESIMPULAN  PENGARUH MENONTON PROGRAM ACARA “BE A MAN” DI GLOBAL TV TERHADAP SIKAP MASYARAKAT KEPADA KAUM WARIA.

KESIMPULAN PENGARUH MENONTON PROGRAM ACARA “BE A MAN” DI GLOBAL TV TERHADAP SIKAP MASYARAKAT KEPADA KAUM WARIA.

3. Hasil uji statistik tersebut secara keseluruhan menunjukkan bahwa ternyata tayangan acara “BE A MAN” yang disiarkan di Global TV tidak hanya sekedar memberikan hiburan bagi penontonnya. Lebih dari itu tayangan “BE A MAN” juga dapat merubah cara pandang ataupun sikap masyarakat terhadap kehidupan kaum waria yang ada di sekitar masyarakat.

10 Baca lebih lajut

Studi Deskriptif Mengenai Psychological Well-Being pada Waria di Bandung Timur.

Studi Deskriptif Mengenai Psychological Well-Being pada Waria di Bandung Timur.

evaluasi waria terhadap kualitas diri dan hidupnya, dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis mereka, yang disebut dengan Psychological Well-Being (PWB). Psychological Well-Being adalah keadaan di mana individu melihat dan mengevaluasi kualitas diri dan hidupnya (Ryff, 1989). Untuk dapat mencapai kesejahteraan psikologis, individu mengevaluasi keenam dimensi dari PWB yaitu, kemampuan individu dalam menerima diri apa adanya (self acceptance), membina hubungan positif dengan orang lain (positive relations with others), otonomi atau mampu mengarahkan dirinya sendiri (autonomy), mampu mengatur dan menguasai lingkungan (environmental mastery), mampu merumuskan tujuan hidup (purpose in life), dan mampu menumbuhkan serta mengembangkan potensi pribadi (personal growth). Faktor-faktor yang bisa memengaruhi PWB setiap individu antara lain adalah faktor status sosial ekonomi, faktor pendidikan, dan faktor budaya.
Baca lebih lanjut

37 Baca lebih lajut

PENUTUP PERLINDUNGAN WARIA DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT DARI PERPSPEKTIF HAM.

PENUTUP PERLINDUNGAN WARIA DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT DARI PERPSPEKTIF HAM.

Kendala yang di hadapi dalam mendapatkan hak-hak waria adalah: a Masih adanya sebagian masyarakat yang belum menerima waria seperti manusia pada umumnya, sehingga masih seringnya terjad[r]

7 Baca lebih lajut

Kepercayaan diri pada waria.

Kepercayaan diri pada waria.

Dari hasil penelitian ini, waria (subjek penelitian) memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi. Hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian yang menyebutkan ada perbedaan yang signifikan antara mean teoritik dan mean empirik atau mean empirik > mean teoritik dengan nilai t = 8,635 dengan p = 0,000. Jika dilihat dari latar belakang yang ada, adanya pandangan negatif dari masyarakat membuat kepercayaan diri waria menjadi rendah. Padahal waria tetap harus berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya, dan untuk dapat melakukan hal tersebut mereka harus memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Sehingga tidak ada pilihan lain bagi waria untuk bisa tetap mempertahankan eksistensi mereka dilingkungan masyarakat kecuali dengan cara tidak menyembunyikan identitas diri mereka sehingga mereka harus berani untuk mengekspresikan diri ditengah lingkungan sekitarnya. Karena Orang yang mempunyai identitas diri yang jelas dapat mengekspresikan diri dalam suatu masyarakat serta mampu menatap fakta dan realitas secara objektif adalah ciri orang yang mempunyai kepercayaan diri yang tinggi, serta memiliki sikap atau perasaan yakin pada kemampuan diri tanpa perilaku membandingkan diri dengan orang lain secara berlebihan (Kumara, 1988).
Baca lebih lanjut

104 Baca lebih lajut

Kecenderungan depresi ditinjau dari konsep diri pada waria - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository

Kecenderungan depresi ditinjau dari konsep diri pada waria - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository

Ucapan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang selalu menyertai, membimbing dan menolong peneliti sehingga akhirnya dapat menyelesaikan skripsi ini. Peneliti sungguh bersyukur bahwa pada akhirnya skripsi yang berjudul Kecenderungan Depresi di tinjau dari Konsep Diri pada Waria ini dapat selesai.

15 Baca lebih lajut

S PSI 0901295 Chapter 1

S PSI 0901295 Chapter 1

Menurut penelitian Handayani (1998) Penerimaan diri membantu memberikan kepercayaan diri kepada individu untuk berbicara dan menampilkan sikap apa adanya, tidak dibuat-buat dan memiliki gaya hidup yang alami dan positif. Waria yang menerima dirinya adalah waria yang menerima kekurangan dirinya dan mengakui kelebihan yang ada pada dirinya secara positif disertai dengan keinginan yang terus menerus untuk mengembangkan diri Dengan demikian dapat dikatakan bahwa waria yang bagus penerimaan dirinya tetap menerima kondisi diri baik dengan segala kelebihan maupun keterbatasan yang dimiliki. Hal ini sejalan dengan pendapat Chamberlain (2001) bahwa seseorang yang menerima dirinya dengan baik adalah yang benar-benar total menerima dirinya sendiri, baik dalam kondisi memiliki kelebihan dalam hal intelektual ataupun tidak, serta tetap menerima dirinya sendiri baik saat ada yang peduli dan mencintainya ataupun tidak.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN MENJADI WARIA PADA PRIA TRANSEKSUAL.

PENDAHULUAN PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN MENJADI WARIA PADA PRIA TRANSEKSUAL.

Ada dua faktor yang menyebabkan seorang pria memutuskan untuk menjadi "wanita". Pertama, faktor yang datang dari dalam diri seseorang. Faktor ini dipengaruhi oleh gen yang secara hereditas diturunkan dari orang tuanya. Hal ini berupa dorongan alamiah untuk berperilaku seperti wanita sehingga seorang pria akan merasa nyaman manakala te1ah berperilaku seperti wanita termasuk juga dalam hal berbusana. Kedua, faktor yang datang dari luar. Faktor lingkungan keluarga, pengaruh pergaulan, dan lingkungan (Pujiono, 2008). Faktor yang datang dari dalam diri seseorang dipengaruhi oleh gen yang ada dalam diri seseorang. Seorang laki-laki yang berperilaku perempuan dipengaruhi oleh keadaan hormon kefeminimannya mendominasi dalam tubuh waria sehingga waria memiliki tubuh laki-laki, tetapi merasa nyaman berperilaku sebagai wanita. Seperti memakai pakaian wanita, bermake-up, dan suka merawat tubuh (Pujiono, 2008).
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Pesantren Waria dan Konstruksi Identitas | Latiefah | Jurnal Pemikiran Sosiologi 23415 60982 1 PB

Pesantren Waria dan Konstruksi Identitas | Latiefah | Jurnal Pemikiran Sosiologi 23415 60982 1 PB

Keberadaan waria yang tadinya tidak diterima masyarakat membuat waria ingin menciptakan image positif tentang dirinya lewat pesantren. Secara sosiologis, keberadaan pesantren merupakan tempat untuk merekonstruksi identitas baru waria agar waria bisa bermasyarakat dan tidak liar. Pesantren juga bisa dipahami sebagai tempat untuk menertibkan waria karena realita dilapangan yang menjadi santri tidak hanya beragama Islam tapi dari lain agama juga. Saat kegiatan keagamaan berlangsung santri yang non muslim duduk diam, tetapi di kegiatan lain meraka dibimbing dan diarahkan agar menjadi lebih baik secara normatif sosial. Pesantren waria merupakan tempat bagi waria untuk dikenalkan dan didekatkan dengan ajaran agama. Ajaran – ajaran dan bimbingan dari pesantren nantinya bisa diimplementasikan waria dalam kehidupan sehari – hari sehingga bisa memberikan gambaran kepada masyarakat bahwa image waria tidak selamanya negatif. Pengimplementasian waria diwujudkan dengan waria mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya agar dapat berinteraksi dengan masyarakat. Bagaiamana waria harus bersikap, bertindak, berbicara termasuk waria yang identik dengan dandanan yang glamor bisa merubah hal sedemikian itu yang menurut masyarakat terlalu
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Waria Menjadi Pekerja Seks Komersial (Studi Kasus di Lapangan Tengku Raja Muda Kelurahan Cemara Kabupaten Deli Serdang)

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Waria Menjadi Pekerja Seks Komersial (Studi Kasus di Lapangan Tengku Raja Muda Kelurahan Cemara Kabupaten Deli Serdang)

Pekerjaan adalah kegiatan yang dilakukan setiap hari yang merupakan sumber penghasilan. Ketiadaan kemampuan dasar untuk masuk dalam pasar kerja yang memerlukan persyaratan, menjadikan wanita tidak dapat memasukinya. Atas berbagai alasan dan sebab akhirnya pilihan pekerjaan inilah yang dapat dimasuki dan menjanjikan penghasilan yang besar tanpa syarat yang susah (Mudjijono, 2005). Berdasarkan survei yang dilakukan Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI) tahun 2003-2004 menjadi pekerja seks komersial karena iming-iming uang kerap menjadi pemikat yang akhirnya justru menjerumuskan mereka ke lembah kelam. Alasan seorang waria terjerumus menjadi pekerja seks adalah karena desakan ekonomi, dimana untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari namun sulitnya mencari pekerjaan sehingga menjadi pekerja seks merupakan pekerjaan yang termudah (Kasnodihardjo, 2001). Penyebab lain diantaranya tidak memiliki modal untuk kegiatan ekonomi, tidak memiliki keterampilan maupun pendidikan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik sehingga menjadi pekerja seks merupakan pilihan (Yustinawaty, 2007). Faktor pendorong lain untuk bekerja sebagai PSK antara lain terkena PHK sehingga untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup menjadi PSK merupakan pekerjaan yang paling mudah mendapatkan uang.
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Subjective Well Being pada Waria di Pesantren Waria Alfattah

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Subjective Well Being pada Waria di Pesantren Waria Alfattah

Keberadaan kaum waria di Indonesia tentunya bukan menjadi hal yang asing di masyarakat. Namun seringkali kaum waria dianggap kaum yang termarjinalkan dan mendapatkan konflik yang bermacam-macam. Masyarakat seringkali memandang waria dengan hal-hal yang negatif, namun ditengah itu semua terdapat pesantren yang menampung waria dan membantu mereka dalam beragama. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran subjective well-being pada waria terutama ketika mereka berada di komunitas pesantren waria.Subjek penelitian ini adalah Waria, di masa dewasa menengah, yang merupakan anggota aktif Pesantren Waria Al-Fattah serta berdomisili di Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data penelitian menggunakan metode wawancara mendalam dan observasi. Berdasar hasil penelitian dan analisa data, penerimaan dalam diri dan adanya komunitas seperti pesantren waria yang mendukungnya merupakan faktor penting bagi waria ketika mulai mengaktualisasikan diri, karena dengan penerimaan diri hingga saat ini mereka dapat bertahan dan nyaman dengan identitas waria. Ketika waria sudah nyaman dengan dirinya maka dalam menjalani hidup mereka mampu mencari kebahagiaannya disituasi apapun.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

MAKNA TANDA REPRESENTASI WARIA DALAM FILM KINKY BOOTS(Analisis Semiotika Terhadap Film Kinky Boots Karya Julian Jarrold)

MAKNA TANDA REPRESENTASI WARIA DALAM FILM KINKY BOOTS(Analisis Semiotika Terhadap Film Kinky Boots Karya Julian Jarrold)

Salah satu film yakni film Kiky Boots mencoba memasukkan ide tentang waria yang menggambarkan waria sebagai seseorang yang positif dan tidak sebagai seseorang yang harusnya dikucilkan da[r]

2 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Interaksi Sosial Waria Di Lingkungan Keluarga.

PENDAHULUAN Interaksi Sosial Waria Di Lingkungan Keluarga.

Sikap penolakan yang diperhatikan orang lain secara terus menerus terhadap waria sangat mempengaruhi kehidupan waria dalam lingkungan keluarga maupun lingkungan sosial. Pada kenyataannya sebagian besar keluarga dan masyarakat belum bisa menerima keberadaan waria dalam lingkungannya secara wajar. Perlu waktu yang tidak sedikit sampai keluarga dan masyarakat benar- benar bisa menerima keberadaan waria, terutama sebagai pendukung bagi waria untuk terus mengembangkan potensi dan prestasi yang dimiliki agar bermanfaat bagi masyarakat banyak dan khususnya bagi keluarganya. Waria lari dari tempat tinggal semula karena mereka menganggap tidak nyaman dan mereka mulai mencari lingkungan baru yang lebih bisa menerima keberadaan dia sebagai seorang waria, atau dengan kata lain mereka mencari lingkungan baru yang lebih kondusif bagi mereka untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...