konsonan bilabial

Top PDF konsonan bilabial:

PENGGUNAAN MEDIA HARMONIKA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN ARTIKULASI KONSONAN BILABIAL “P” ANAK TUNARUNGUDI SLB-B SUMBERSARI - BANDUNG.

PENGGUNAAN MEDIA HARMONIKA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN ARTIKULASI KONSONAN BILABIAL “P” ANAK TUNARUNGUDI SLB-B SUMBERSARI - BANDUNG.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan media harmonika dalam melatih kemampuan artikulasi konsonan bilabial “P” dengan subjek anak tunarungu kelas VI SD di SLB-B Sumbersari berinisial NAF yang akan diberikan latihan artikulasi menggunakan harmonika. Metode yang digunakan dalam penelitian yaitu metode Single Subject Research (SSR) dengan desain A-B-A. A-1 adalah fase baseline 1 yang dilakukan selama 4 sesi dan berfungsi untuk mengetahui kondisi subjek sebelum diberikan intervensi, B adalah intervensi yaitu fase pemberian latihan yang dilakukan sebanyak 7 sesi, dan A-2 adalah baseline 2 yang dilakukan sebanyak 4 sesi dan bertujuan untuk fase kontrol dari A-1 dan B sekaligus untuk menarik kesimpulan. Setelah dilakukan penelitian selama 15 kali sesi pertemuan, diperoleh hasil bahwa kemampua n artikulasi konsonan bilabial “P” subjek NAF mengalami peningkatan yang cukup signifikan setelah diberikan intervensi dengan menggunakan media harmonika. Hal tersebut dapat dibuktikan dari hasil mean level pada fase baseline 1 (A-1) sebesar 40,63%, fase intervensi (B) 63,49%, dan fase baseline 2 (A-2) sebesar 79,51%, dari hasil tersebut terlihat bahwa pemberian intervensi memberikan pengaruh positif pada kemampuan artikulasi konsonan bilabial “P” subjek NAF.
Baca lebih lanjut

52 Baca lebih lajut

PEMBELAJARAN ARTIKULASI DALAM MENGEMBANGKAN KONSONAN BILABIAL PADA ANAK TUNARUNGU KELAS III SLB AL-FITHRI KABUPATEN BANDUNG.

PEMBELAJARAN ARTIKULASI DALAM MENGEMBANGKAN KONSONAN BILABIAL PADA ANAK TUNARUNGU KELAS III SLB AL-FITHRI KABUPATEN BANDUNG.

a. Aspek keempat ini guru mempunyai hambatan secara informasi keilmuan pembelajaran artikulasi yang belum mumpuni. Sehingga belum mengetahui tentang tahap-tahap pembelajaran artikulasi dalam hal ini tahap-tahap pembelajaran masing-masing konsonan. Sehingga belum terbiasa untuk melatih organ bicara siswa supaya lancar dalam pengucapan konsonan bilabial. Guru menyebutkan bahwa mengalami hambatan/kesulitan dalam persiapan mengkondisikan siswa di kelas. Hal ini dikarenakan siswa asyik ngobrol dengan teman-teman. Sehingga saya (guru), harus menarik perhatian siswa dengan berdiri didepan kelas sambil memberikan isyarat agar siswa kembali pada posisi untuk siap belajar. Dalam materi pembelajaran artikulasi guru belum menguasai secara menyeluruh. Sehingga dalam menanamkan konsep konsonan bilabial pada siswa, guru masih harus banyak belajar. Pendekatan/metode dalam pengamatan peneliti hanya terbatas pada pendekatan/metode oral. Hal ini dikarenakan pemahaman dan penguasaan guru yang belum mumpuni tahap-tahap pembelajaran artikulasi khususnya dalam mengembangkan konsonan bilabial. Media dalam pengamatan peneliti, masih kurang mendukung dan hanya terbatas pada media yang ada dikelas. Dan belum membuat rencana program pembelajaran artikulasi sesuai dengan tahap-tahap perkembangan masing-masing konsonan. Evaluasi sesuai dengan pengamatan peneliti, guru tidak megalami kesulitan hal ini karena ketiga siswa sangat antusias. Ketiga siswa sangat senang dengan evaluasi menjawab spontan, walaupun pengucapan ketiga siswa kurang jelas, mereka sangat senang menjawab pertanyaan guru.
Baca lebih lanjut

34 Baca lebih lajut

PENERAPAN METODE PHONETIK PLACEMENT UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGUCAP KONSONAN BILABIAL /M/ PADA ANAK TUNARUNGU.

PENERAPAN METODE PHONETIK PLACEMENT UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGUCAP KONSONAN BILABIAL /M/ PADA ANAK TUNARUNGU.

Dampak dari hambatan pendengaran yang dialami anak tunarungu salah satunya adalah kemampuan berbicara dan berkomunikasi secara lisan , sehingga anak tunarungu perlu mendapatkan pembelajaran artikulasi. Seperti pada IR anak tunarungu yang mengalami kesulitan dalam mengucap konsonan bilabial /m/, pengucapan konsonan /m/ terjadi omisi/penghilangan dan subtitusi/penggantian dengan /p/, /b/. Tujuan penelitian ini untuk meningkatkan kemampuan mengucap konsonan bilabial /m/ pada anak tunarungu dengan metode phonetik placement. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan subjek tunggal (SSR). Subjek penelitian ini adalah IR anak tunarungu kelas III SDLB di SLB Risantya Bandung. Instrumen dalam penelitian ini dengan tes lisan menggunakan kata-kata yang terdapat konsonan /m/ di awal, di tengah dan di akhir kata sebanyak 18 soal. Berdasarkan hasil penelitian penerapan metode phonetik placement memiliki dampak positif dalam meningkatkan kemampuan mengucap konsonan bilabial /m/ pada IR, dengan mean level di tahap baseline 1 (A1) 33%, tahap intervensi (B) 66,6% dan tahap baseline 2 (A2) 86,3%. Maka disimpulkan bahwa penerapan metode phonetik placement dapat meningkatkan kemampuan mengucap konsonan bilabial /m/ pada IR. Peneliti merekomendasikan metode phonetik placement dapat menjadi salah satu alternatif metode yang digunakan dalam pembelajaran artikulasi khususnya pada anak tunarungu yang kasusnya sama dengan IR.
Baca lebih lanjut

31 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN - Peningkatan Kemampuan Mengucapkan Konsonan Bilabial Anak Tuna Rungu Melalui Metode Oral Pada Siswa

BAB I PENDAHULUAN - Peningkatan Kemampuan Mengucapkan Konsonan Bilabial Anak Tuna Rungu Melalui Metode Oral Pada Siswa

Kondisi awal kemampuan pengucapan konsonan bilabial anak tunarungu sebelum guru menggunakan metode oral kemudian dievaluasi hasilnya 7 siswa dari 9 siswa belum tuntas dengan Standar Ketuntasan Belajar Minimal (SKBM) = 65. Banyaknya siswa yang belum tuntas menunjukkan bahwa kemampuan mengucapkan konsonan bilabial masih rendah. Atas dasar kondisi yang belum menggembirakan tersebut, guru atau pengajar harus tanggap dan instropeksi diri untuk memperbaiki kondisi tersebut dengan melakukan inovasi pembelajaran dengan menggunakan metode oral yang dapat meningkatkan kemampuan mengucapakan konsonan bilabial pada anak tunarungu menjadi lebih baik.
Baca lebih lanjut

77 Baca lebih lajut

S PLB 1001858 Chapter5

S PLB 1001858 Chapter5

Berdasarkan analisis dalam bentuk tabel, grafik garis maupun grafik batang dengan menggunakan desain A-B-A, dapat disimpulkan bahwa penggunaan media harmonika dalam proses intervensi dapat berpengaruh pada peningkatan kemampuan art ikulasi konsonan bilabial “P” subjek NAF. Hal ini dapat dilihat dari grafik perolehan nilai subjek NAF yang terus meningkat dari fase baseline 1 (A-1), intervensi (B), sampai fase baseline 2 (A-2) begitu pula dengan data hasil analisis dalam kondisi dan data hasil analisis antar kondisi, pada setiap data menunjukan peningkatan yang cukup
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

S PLB 1001858 Chapter1

S PLB 1001858 Chapter1

Sesuai dengan hasil analisis data, diperoleh keterangan bahwa penggunaan media harmonika dalam fase intervensi dapat meningkatkan kemampuan artikulasi konsonan bilabial “P” pada subjek NAF. Peningkatan ini dapat dilihat dari perubahan mean level subjek yang mengalami peningkatan dari fase baseline 1 (A-1) 40,63% ke fase intervensi (B) 63,49% menunjukan peningkatan sebesar 22,86%, dan dari fase intervensi (B) 63,49% ke fase baseline 2 (A-2) 79,52% menunjukan peningkatan sebesar 16,02%. Maka dari itu dapat disimpulkan kembali bahwa media harmonika dapat meningkatkan kemampuan artikulasi konsonan bilabial “P” pada anak tunarunggu khususnya NAF.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Analisis الادغام /Al-Idgamu/ dalam Bahasa Arab

Analisis الادغام /Al-Idgamu/ dalam Bahasa Arab

morfem bebas ﱡﺐِﺤَﺘْﺴَﻳ – ﱠﺐَﺤَﺘْﺳِﺇ [/ista฀ abba - jasta฀ ibbu], dan kata ﺍ ْﻮﱡﺒ َﺤَﺘْﺳِﺇ [/ista฀ abbu:] menjadi kata kerja ma ḍ i dalam bentuk jamak muzakar salim. Jika diuraikan maka kata tersbut asal katanya ialah ُﺐِﺒْﺤَﺘْﺴَﻳ – َﺐَﺒْﺤَﺘْﺳِﺇ [/ista฀ abba - jasta฀ ibbu] dari pola kata ُﻞِﻌْﻔَﺘْﺴَﻳ - َﻞَﻌْﻔَﺘْﺳِﺇ [/istaf÷ala- jastaf÷ilu]. Untuk membentuk idgam dari dua bunyi konsonan yang sama yaitu konsonan stop bilabial bersuara [b] pada kata َﺐَﺒْﺤَﺒْﺳِﺇ [/ista฀ baba], maka bunyi vokal [a] yang berada setelah konsonan bilabial bersuara [b] yang pertama dipindahkan letaknya menjadi setelah konsonan stop bilabial bersuara [b] tersebut sehingga menjadi َﺐ ْﺒ َﺤَﺘْﺳِﺇ [/ista฀ abba] dan dua bunyi konsonan stop bilabial bersuara menjadi konsonan berurutan yaitu [bb]. Dalam kaidah idgam bunyi konsonan yang sama berurutan maka salah satu dari bunyi konsonan tersebut dihilangkan dan digantikan dengan tanda tasydid [ ฀ ] yang menandakan bahwa kedua konsonan itu mengalami idgam. Oleh karena itu bentuk َﺐَﺒْﺤَﺘْﺳِﺇ [/ista฀b a b a ] menjadi ﱠﺐَﺤَﺘْﺳِﺇ [/ista฀a b b a ]. Menurut kaedah fonologi bunyi konsonan stop bilabial sejenis yang berurutan berlaku pemanjangan konsonan yang disebut dengan geminasi, sehingga menjadi [/ista฀ ab:ba].
Baca lebih lanjut

90 Baca lebih lajut

S PLB 1001858 Abstract

S PLB 1001858 Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan media harmonika dalam melatih kemampuan artikulasi konsonan bilabial “P” dengan subjek anak tunarungu kelas VI SD di SLB-B Sumbersari berinisial NAF yang akan diberikan latihan artikulasi menggunakan harmonika. Metode yang digunakan dalam penelitian yaitu metode Single Subject Research (SSR) dengan desain A-B-A. A-1 adalah fase baseline 1 yang dilakukan selama 4 sesi dan berfungsi untuk mengetahui kondisi subjek sebelum diberikan intervensi, B adalah intervensi yaitu fase pemberian latihan yang dilakukan sebanyak 7 sesi, dan A-2 adalah baseline 2 yang dilakukan sebanyak 4 sesi dan bertujuan untuk fase kontrol dari A-1 dan B sekaligus untuk menarik kesimpulan. Setelah dilakukan penelitian selama 15 kali sesi pertemuan, diperoleh hasil bahwa kemampua n artikulasi konsonan bilabial “P” subjek NAF mengalami peningkatan yang cukup signifikan setelah diberikan intervensi dengan menggunakan media harmonika. Hal tersebut dapat dibuktikan dari hasil mean level pada fase baseline 1 (A-1) sebesar 40,63%, fase intervensi (B) 63,49%, dan fase baseline 2 (A-2) sebesar 79,51%, dari hasil tersebut terlihat bahwa pemberian intervensi memberikan pengaruh positif pada kemampuan artikulasi konsonan bilabial “P” subjek NAF.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

S PLB 1004921 Chapter5

S PLB 1004921 Chapter5

Melihat pada keberhasilan penelitian yang dilakukan dengan penerapan metode phonetik placement untuk meningkatkan kemampuan mengucap konsonan bilabial /m/ pada subjek (IR), maka peneliti menyarankan metode phonetik placement, yang penerapannya menggunakan media visual berupa cermin dapat dijadikan alternatif dalam pembelajaran artikulasi konsonan yang lain.

2 Baca lebih lajut

S PLB 1004921 Abstract

S PLB 1004921 Abstract

Dampak dari hambatan pendengaran yang dialami anak tunarungu salah satunya adalah kemampuan berbicara dan berkomunikasi secara lisan , sehingga anak tunarungu perlu mendapatkan pembelajaran artikulasi. Seperti pada IR anak tunarungu yang mengalami kesulitan dalam mengucap konsonan bilabial /m/, pengucapan konsonan /m/ terjadi omisi/penghilangan dan subtitusi/penggantian dengan /p/, /b/. Tujuan penelitian ini untuk meningkatkan kemampuan mengucap konsonan bilabial /m/ pada anak tunarungu dengan metode phonetik placement. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan subjek tunggal (SSR). Subjek penelitian ini adalah IR anak tunarungu kelas III SDLB di SLB Risantya Bandung. Instrumen dalam penelitian ini dengan tes lisan menggunakan kata-kata yang terdapat konsonan /m/ di awal, di tengah dan di akhir kata sebanyak 18 soal. Berdasarkan hasil penelitian penerapan metode phonetik placement memiliki dampak positif dalam meningkatkan kemampuan mengucap konsonan bilabial /m/ pada IR, dengan mean level di tahap baseline 1 (A1) 33%, tahap intervensi (B) 66,6% dan tahap baseline 2 (A2) 86,3%. Maka disimpulkan bahwa penerapan metode phonetik placement dapat meningkatkan kemampuan mengucap konsonan bilabial /m/ pada IR. Peneliti merekomendasikan metode phonetik placement dapat menjadi salah satu alternatif metode yang digunakan dalam pembelajaran artikulasi khususnya pada anak tunarungu yang kasusnya sama dengan IR.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

KONSONAN GEMINAT DIAKRONIS DALAM BAHASA

KONSONAN GEMINAT DIAKRONIS DALAM BAHASA

q dan h. Ada dua kemungkinan hipotesis untuk menjelaskan tentang konsonan geminat ini pada bahasa Madura, yang pertama adalah bahasa Madura mempertahankan (retensi) konsonan geminat PMJ, sedangkan bahasa-bahasa Melayu Jawa lainnya berinovasi menjadi single consonant (satu konsonan) atau kemungkinan yang kedua adalah terjadi inovasi fonem konsonan geminat sesudah fonem vokal *∂ dalam bahasa Madura. Terdapat bukti pendukung untuk asumsi pertama yaitu adanya manuskrip Melayu yang bertuliskan kata- kata Melayu modern seperti b∂sar, k∂rat, dan t∂lu diucapkan dengan geminat b.ss.r, k.rr.t, dan t.ll.q. Konsonan geminat Ini juga terdapat dalam dokumen Jawa kuno pada abad 10 (Jayapattra), seperti nama Gallam (Jawa Modern G∂lam), pajjah (Jawa modern p∂jah ‘mati’) (Ras,1970:429).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Interferensi Fonologi Bahasa Indonesia Ke Dalam Bahasa Arab

Interferensi Fonologi Bahasa Indonesia Ke Dalam Bahasa Arab

Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research), yaitu penelitian yang mengambil data di lapangan. Objek penelitiannya adalah bahasa lisan yaitu bahasa Arab al-Qur’an yang diucapkan oleh mahasiswa departemen Sastra Arab FIB Universitas Sumatera Utara. Dengan demikian untuk memperoleh data yang valid dalam kasus interferensi fonologi peneliti akan memberikan bahan bacaan ayat-ayat al-Qur’an dalam berbagai surah yang diambil dan dapat mewakili bunyi- bunyi konsonan bahasa Arab yang tidak ada di dalam konsonan bahasa Indonesia.

Baca lebih lajut

UNSUR SERAPAN DALAM BAHASA INDONESIA

UNSUR SERAPAN DALAM BAHASA INDONESIA

Unsur-unsur asing yang diserao kedalam Bahasa Indonesia ada yang penulisannya dan pelafalannya disesuaikan dengan sistem ejaan dan lafal bahasa indonesia. Dalam penyerapan bahasa ini, perlu disesuaikan agar ejaan dan lafal asing (asal) hanya diubah seperlunya sehingga bentuk indonesianya masih dapat dibandingkan dengan bentuk asalnya. Dalam buku Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, penyerapan dengan perubahan seperti ini diatur dalam sejumlah kaidah-kaidah yang dimaksud adalah kaidah gabungan vokal, kaidah gabugan konsonan vokal berupa akhiran.

Baca lebih lajut

S PLB 1106482 Abstract

S PLB 1106482 Abstract

Speech as a linguistic symbol is the verbal expression of the language used in the communication of individuals. Communication is the sending and receiving of messages or news between two or more people in a proper way, so that the message is understood. Communication is an exchange of the mind and feelings. While deaf children have problems as an impact of his/her hearing loss in daily activities. Children with hearing loss have a difficulties in developing a bilabial consonant pronunciation. The main modalities in developing bilabial consonant is the articulation of learning. The focus of the problem in this research is How to preparation the articulation of learning undertaken by teachers, How to implementation, learning materials articulation, how to evaluate the articulation of learning that teachers undertake, and to know what the barriers faced by teachers and the efforts of teachers in overcoming the barriers faced by teachers. This research was used descriptive qualitative approach. Research carried out on one teacher and three students. Data collected through observation, interviews and document study. The results of research on the subject of teacher is preparation that teachers do that make learning program plan (RPP). implementation of the approach is done before learning begins, the pronunciation training materials so that the muscles of the mouth is not rigid, Efforts teachers usually open to what brought the child. For example: the teacher wants to teach articulation of consonants "b" then the teacher associate with goods brought kids "book" continued "bbb" "bbbbbb" "Bababa ........ etc. Teachers use a media card image, the mirror in the classroom to make learning articulation in developing bilabial consonant pronunciation. Articulation of learning evaluation is made by saying two different words as words candle and balls. Barriers experienced teachers are not qualified to have knowledge so do not know the stages of learning articulation, in this case the learning stages of each consonant. Not to make the learning program plan articulation according to the developmental stage of each consonant whether ranging from the easiest to the difficult or otherwise. The efforts made by teachers is due to the time just a few hours at school the teachers in collaboration with parents, teachers give homework in accordance with the material, Teachers need to discuss with other experts in order to obtain scientific information to enhance learning in developing pronunciation bilabial articulation.
Baca lebih lanjut

3 Baca lebih lajut

T LIN 1202062 Abstract

T LIN 1202062 Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan gejala perubahan bunyi konsonan bilabial dan apikoalveolar yang terjadi ketika anak down syndrome melafalkan kata. Untuk mencapai tujuan tersebut digunakan metode penelitian kualitiatif deskriptif dengan subjek penelitian dua orang anak down syndrome yang telah didiagnosa memiliki perubahan fonologis dalam produksi kata karena dislogia dan memiliki tingkat intelektual sedang di salah satu SLBN Kota Bandung. Hasil penelitian menunjukkan tuturan anak down syndrome cenderung mengalami kesalahan pelafalan. Kesalahan pelafalan ini terjadi dalam dua proses yaitu penghilangan dan penggantian bunyi. Penghilangan bunyi yang paling sering dilakukan berdasarkan teori Crowley (1992) yaitu proses apokop dengan persentase 35% yaitu penghilangan bunyi pada posisi akhir kata. Kecenderungan lain adalah penggantian bunyi. Bunyi-bunyi yang diartikulasikan sebagai bunyi pengganti memiliki kemiripan dengan bunyi sasarannya. Hal ini berselaras dengan temuan penelitian Nangoy (1995) bahwa ketika anak down syndrome mengalami kegagalan dalam berartikulasi atau tidak dapat mengucapkan fonem-fonem, maka mereka akan memilih fonem-fonem yang mendekati fonem-fonem sasaran atau bahkan menggantinya dengan bunyi lain sehingga seolah-olah kata-kata yang muncul adalah kata baru. Selain itu, anak down syndrome pun cenderung menyederhanakan pelafalan sebuah kata sehingga apabila menemukan kata yang terdiri dari multisilabel akan dilafalkan suku terakhirnya saja. Temuan ini menguatkan pandangan Slobin (1979) yang menjelaskan bahwa anak akan cenderung melafalkan atau memperhatikan akhir dari suatu bentuk kata.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 261 documents...