Kota Sawah Lunto

Top PDF Kota Sawah Lunto:

Kebijakan Pemerintah Kota Sawah Lunto untuk Pengembangan Pariwisata Resort Kandi.

Kebijakan Pemerintah Kota Sawah Lunto untuk Pengembangan Pariwisata Resort Kandi.

Kota Sawahlunto sebagai bagian dari Provinsi sumatera Barat mempunyai potensi yang cukup besar disektor pariwisata. Sesuai dengan Visi Kota Sawahlunto yaitu mewujudkan Kota Wisata Tambang yang Berbudaya 2020 melalui kegiatan penataan institusi, kerjasama antara daerah, meningkatkan fisik kota dan meningkatkan kualitas produk wisata. Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah perencanaan penataan dan revitalisasi kawasan Kota Sawahlunto yang memiliki beberapa objek yang sangat menarik untuk dikembangkan sebagai salah satu tujuan objek wisata salah satunya adalah Kawasan Kandi. Kawasan ini memiliki keunikan sehingga berpotensi untuk dijadikan kawasan wisata karena pada lokasi ini terdapat sebuah danau yang terbentuk dari hasil penggalian tambang batu bara dan juga pada kawasan ini terdapat tempat pacuan kuda yang terletak diatas bukit dan kawasan ini juga memiliki pemandangan yang sangat indah. Berbagai potensi objek wisata tersebut masih perlu untuk dikembangkan baik dari aspek tata ruang, investasi, informasi dan aspek lainnya yang terkait dengan perkembangan pariwisata daerah.
Baca lebih lanjut

33 Baca lebih lajut

HUBUNGAN UKURAN – UKURAN TUBUH DENGAN BOBOT BADANSAPI SIMENTAL DI PT.LEMBU BETINA SUBUR KOTA SAWAH LUNTO.

HUBUNGAN UKURAN – UKURAN TUBUH DENGAN BOBOT BADANSAPI SIMENTAL DI PT.LEMBU BETINA SUBUR KOTA SAWAH LUNTO.

Penelitian ini bertujuan untuk mencari hubungan antara panjang badan, lingkar dada, dan tinggi pundak dengan bobot hidup pada Sapi Simental di PT. Lembu Betina Subur Kota Sawahlunto. Penelitian ini dilakukan mulai tanggal 15 Desember 2011 sampai tanggal 29 Desember 2011.Materi dalam penelitian ini adalah sapi Simental betina yang berumur 3-4,5 tahun sebanyak 35ekor Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dan pengukuran langsung pada individu-individu yang terpilih menjadi sampel. Dengan menggunakan regresi linear berganda digunakan untuk melihat hubungan bobot hidup dengan ukuran- ukuran tubuh yaitu panjang badan, lingkar dada dan tinggi pundak pada sapi Simental. Hasil analisis keragaman terdapat hubungan yang sangat nyata (P<0.01) antara bobot hidup dengan panjang badan, lingkar dada dan tinggi pundak, denganpersamaanregresi = -171,3823+1,8349X 1 +1,7857X 2 – 0,2725X 3 dengan
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

HUBUNGAN UKURAN-UKURAN TUBUH DENGAN BOBOT HIDUP SAPI BRAHMAN CROSS DI PT. LEMBU BETINA SUBUR KOTA SAWAH LUNTO.

HUBUNGAN UKURAN-UKURAN TUBUH DENGAN BOBOT HIDUP SAPI BRAHMAN CROSS DI PT. LEMBU BETINA SUBUR KOTA SAWAH LUNTO.

Penelitian ini bertujuan untuk mencari hubungan antara Panjang Badan, Lingkar Dada, dan Tinggi Pundak dengan Bobot Hidup pada Sapi Brahman Cross di PT Lembu Betina Subur Kota Sawahlunto. Penelitian ini dilakukan dari tanggal 15-29 Desember 2011. Materi dalam penelitian ini adalah Sapi Brahman Cross induk betina tidak bunting yang berumur 3 - 4,5 tahun sebanyak 29 ekor induk betina. Metode penelitian yang digunakan adalah Metode Survey dan pengukuran langsung pada individu yang terpilih menjadi sampel. Dengan menggunakan Regresi Linear Berganda dan uji F digunakan untuk melihat hubungan Bobot hidup dengan ukuran-kuran tubuh yaitu Panjang badan, Lingkar dada, dan Tinggi pundak pada Sapi Brahman Cross. Hasil analisis keragaman terdapat hubungan yang sangat nyata (p<0,01) antara Bobot hidup dengan Panjang badan, Lingkar dada, Tinggi pundak dengan persamaan regresinya Ŷ = -407,6564 + 0,6643 X 1 + 4,5745 X 2 – 0,8796 X 3 . Dengan
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

S GEO 1106024 Chapter1

S GEO 1106024 Chapter1

Dari data di atas dapat dilihat Kota Cimahi, sebagai kota penyangga memiliki luas lahan pertanian sawah 276 Ha atau sekitar 7% dari luas wilayah Kota Cimahi. Kota Sukabumi sebagai kota yang dekat dengan daerah penghasil beras terbesar yaitu Kabupaten Cianjur, hanya memiliki luas lahan pertanian sebesar 321 Ha atau sekitar 7% dari luas wilayah Kota Sukabumi. Kota Depok pada tahun 2012 hanya memiliki 517 Ha atau sekitar 3% dari luas wilayah Kota Depok. Dari data-data tersebut bisa terlihat bahwa Kota Bandung masih memiliki luas lahan pertanian sawah yang relatif besar dibandingkan dengan kota-kota tersebut.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

PENGARUH PENGETAHUAN PETANI TENTANG MULTIFUNGSI LAHAN SAWAH TERHADAP KEINGINAN PETANI MEMPERTAHANKAN KEPEMILIKAN LAHAN SAWAH DI KORIDOR YOGYAKARTA-MAGELANG Yusuf Iskandar yusufiskandarmail.ugm.ac.id Sudrajat sudrajatgeo.yahoo.com Abstract - PENGARUH PENGE

PENGARUH PENGETAHUAN PETANI TENTANG MULTIFUNGSI LAHAN SAWAH TERHADAP KEINGINAN PETANI MEMPERTAHANKAN KEPEMILIKAN LAHAN SAWAH DI KORIDOR YOGYAKARTA-MAGELANG Yusuf Iskandar yusufiskandarmail.ugm.ac.id Sudrajat sudrajatgeo.yahoo.com Abstract - PENGARUH PENGE

Sitorus (2001) mendefinisikan sumberdaya lahan (land resources) sebagai lingkungan fisik yang terdiri atas iklim, relief, tanah, air dan vegetasi serta benda yang ada di atasnya sepanjang ada pengaruhnya terhadap penggunaan lahan. Arsyad (2010) mengelompokkan penggunaan lahan ke dalam dua bentuk yaitu (1) penggunaan lahan pertanian yang dibedakan berdasarkan atas penyediaan air dan komoditas yang diusahakan, dimanfaatkan atau atas jenis tumbuhan atau tanaman yang terdapat di atas lahan tersebut, seperti tegalan, sawah, kebun, padang rumput, hutan dan sebagainya (2) penggunaan lahan non pertanian seperti penggunaan lahan pemukiman kota atau desa, industri, rekreasi, pertambangan dan sebagainya
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

RESPON PERTUMBUHAN TANAMAN Desmodium heterophyllum WilldD.CDENGAN PEMBERIAN FUNGI MIKORIZA ARBUSKULAR (FMA) PADA TANAH LAHAN BEKAS TAMBANG BATU BARA SAWAH LUNTO | Saputri | Biocelebes 7384 24579 1 PB

RESPON PERTUMBUHAN TANAMAN Desmodium heterophyllum WilldD.CDENGAN PEMBERIAN FUNGI MIKORIZA ARBUSKULAR (FMA) PADA TANAH LAHAN BEKAS TAMBANG BATU BARA SAWAH LUNTO | Saputri | Biocelebes 7384 24579 1 PB

Kota Sawahlunto adalah salah satu lahan bekas penambangan batubara yang sudah tidak dimanfaatkan lagi ini disebabkan tingginya aktivitas penambangan batubara di beberapa daerah seperti di Sumatera Barat selain meningkatkan pendapatan daerah dan devisa Negara juga memberikan dampak negatif berupa kerusakan lingkungan. Ratusan bahkan ribuan hektar lahan sisa penambangan batubara telah berubah menjadi lahan tidak produktif yang diakibatkan karena adanya kerusakan

9 Baca lebih lajut

ANALISIS PENDAPATAN DAN EFISIENSI USAHATANI PADI SAWAH DI DESA KOTA BANGUN KECAMATAN KOTA BANGUN

ANALISIS PENDAPATAN DAN EFISIENSI USAHATANI PADI SAWAH DI DESA KOTA BANGUN KECAMATAN KOTA BANGUN

Untuk melihat kegiatan usahatani padi sawah ini efisien atau tidak efisien maka digunakan perbandingan antara penerimaan dengan biaya produksi (R/C ratio). Berdasarkan hasil penelitian diperoleh nilai R/C ratio berkisar antara 3,27 – 4,26 dengan rata-rata nilai R/C ratio sebesar 3,87 yang berarti jika biaya produksi dikeluarkan 1 satuan rupiah, maka penerimaan yang diperoleh petani adalah 3,87 satuan rupiah. Dengan kata lain usahatani padi sawah yang dilakukan di Desa Kota Bangun I adalah efisien.

6 Baca lebih lajut

MENAPAK JEJAK SEJARAH TAMBANG BATUBARA D

MENAPAK JEJAK SEJARAH TAMBANG BATUBARA D

Kini Sawahlunto telah menjelma menjadi kota wisata tambang. Industri pariwisata yang dikembangkan oleh pemerintah setempat membuat warga menjadikannya sebagai salah satu sumber mata pencaharian utama. Beberapa kios souvenir berderet di sekitar lokasi museum. Meskipun demikian, sebagai tempat wisata Sawahlunto masih terbilang sepi. Kota itu kalah populer dibandingkan dengan Padang atau Bukittinggi. Jarak 100 km, 2 – 3 jam perjalanan dari kota Padang bisa jadi membuat wisatawan dari luar kota berpikir panjang untuk mejadikan Sawahlunto sebagai destinasi utama. Meskipun sebenarnya Sawahlunto memiliki keunikan yang sulit ditemukan di destinasi wisata lainnya di Sumatera Barat atau bahkan di Indonesia. Diperlukan promosi yang gencar untuk meningkatkan kunjungan wisatawan dan menjadikan Sawahlunto sebagai salah satu ikon wisata di Sumatera Barat.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

ANALISIS EKSISTENSI LAHAN PERTANIAN SAWAH DI KOTA BANDUNG.

ANALISIS EKSISTENSI LAHAN PERTANIAN SAWAH DI KOTA BANDUNG.

Wilayah perkotaan merupakan wilayah yang kegiatan utamanya bukan di bidang pertanian, namun perkotaan merupakan wilayah yang kegiatan utamanya di bidang perdagangan barang dan jasa. Kota Bandung merupakan kota terbesar di Provinsi Jawa Barat yang lahan pertanian sawahnya terluas di antara kota-kota lainnya yang ada di Jawa Barat. Eksistensi lahan pertanian di Kota Bandung menjadi satu gejala yang terjadi tidak semestinya. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi eksistensi lahan pertanian dan mengidentifikasi kondisi sosial ekonomi petani di Kota Bandung. Metode penelitian menggunakan metode deskriptif dengan survey untuk mengamati langsung kondisi daya dukung lahan terhadap pertanian dan tingkat kesejahteraan petani. Penelitian ini dikalsanakan di tiga wilayah sampel berdasarkan kategori luas lahan pertanian luas, sedang, dan sempit, yang meliputi Kecamatan Gedebage, Kecamatan Buahbatu, Kecamatan Bandung Kulon dan Kecamatan Cibiru. Hasil penelitian menunjukan bahwa faktor fisik yang mempengaruhi eksistansi lahan pertanian yang meliputi aksesibilitas, morfologi, hidrologi dan jenis tanah sangat mendukung adanya lahan pertanian di Kota Bandung, kemudian faktor sosial yang meliputi kebijakan pemerintah, status kepemilikan lahan, tenaga kerja dan pengeluaran dan pendapatan petani cukup mendukung eksistensi lahan pertanian yang ada di Kota Bandung. Tingkat kesejahteraan petani dapat dinilai cukup sejahtera karena hasil produksi dari pertanian cukup baik. Hal ini membuat petani dapat memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Meskipun suatu saat lahan sawah pasti berubah sesuai dengan RTRW Kota Bandung, namun sampai saat ini lahan sawah di Kota Bandung masih eksis dengan daya dukung dari berbagai macam faktor.
Baca lebih lanjut

45 Baca lebih lajut

2.1. Keadaan Geografis - DOCRPIJM 1512361517bab 2 profil kota pontianak

2.1. Keadaan Geografis - DOCRPIJM 1512361517bab 2 profil kota pontianak

Halaman II-3 2.2. Keadaan Iklim Hasil pencatatan dari Stasiun Meteorologi Maritim Pontianak menunjukkan bahwa pada tahun 2013 rata- rata temperatur udara di Kota Pontianak berkisar antara 24,4 °C hingga 33,1°C, sedangkan rata- rata tekanan udaranya berkisar antara 1.010,5 mili bar hingga 1.012,4 mili bar Rata-rata kecepatan angin di Kota Pontianak berkisar antara 2,7 knot hingga 4,2 knot dengan kecepatan angin terbesar terjadi pada Bulan Mei yaitu sebesar 20 knot. Selama tahun 2013 hari hujan terbanyak terjadi pada Bulan Mei yaitu sebanyak 25 hari dengan curah hujan sebesar 297,7 mm.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Aplikasi Citra Satelit QuickBird Untuk Kajian Alih Fungsi Lahan Sawah di Kota Denpasar.

Aplikasi Citra Satelit QuickBird Untuk Kajian Alih Fungsi Lahan Sawah di Kota Denpasar.

Data luas sawah secara spasial sangat langka, pada umumnya data yang ada berupa data statistik dengan kumpulan angka-angka dan masih perlu diverifikasi dengan data lapangan. Untuk menguatkan ketelitian dari data statistik tersebut, dapat diatasi dengan menggunakan data dari citra satelit yang beresolusi tinggi. Data citra ini dapat merekam seluruh gambaran obyek dan atau kumpulan obyek secara geografis. Oleh karena itu data citra satelit dianggap lebih akurat dibanding dengan data yang hanya berupa angka saja. Berdasarkan uraian tersebut maka penelitian alih fungsi lahan sawah secara spasial dengan menggunakan sarana penginderaan jauh seperti Citra Satelit QuickBird sangat diperlukan untuk memperoleh data luas sawah dengan ketelitian yang tinggi (Anang, 2013).
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Analisa Kesesuaian Lahan Padi Sawah Di Kota Langsa

Analisa Kesesuaian Lahan Padi Sawah Di Kota Langsa

Penelitian bertujuan untuk menetapkan kelas kesesuaian lahan padi sawah di Kota Langsa dan menentukan faktor penentu produksi padi sawah pada lahan sawah di Kota Langsa. Penelitian ini dilakukan pada lahan sawah di Kota Langsa yang berlangsung bulan Mei 2012 hingga Agustus 2012. Penelitian ini menggunakan metode survai deskriptif. Satuan lahan pengamatan (SLP) di lokasi penelitian terdiri dari 20 SLP . Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelas kesesuaian lahan secara aktual tergolong dalam kelas cukup sesuai (S2) dengan faktor pembatas utama karakteristik lahan adalah iklim (temperatur / tc), media perakaran (rc) dan retensi hara (nr). Kelas kesesuaian lahan potensial padi sawah berada pada kategori kelas S2 dengan beberapa input yang diperlukan untuk perbaikan kualitas lahan. Sedangkan Sifat kimia (pH, C_Organik, N_Total, P- Tersedia, K_dd, Na_dd, Ca_dd, Mg_dd, KTK, Ec dan Alkalinitas) tidak mengakibatkan perbedaan Produksi padi secara nyata di Kota Langsa.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

EVALUASI AWAL KETEGANGGAN LANRAS PADI GOGO SUMATERA BARAT TERHADAP CEKAMAN ALUMINIUM.

EVALUASI AWAL KETEGANGGAN LANRAS PADI GOGO SUMATERA BARAT TERHADAP CEKAMAN ALUMINIUM.

The experiment used Block randomised Design (BRD) with four (4) replcation. The first factor variety gogo rice etc : (VI) Siordok Baor Pasaman: (V2) Sidarat from Sawah Lunto Sijunjung; (V3) Sirumpun from Pasaman; (V$) Pulut lilin from Pasaman; (V5) Pulut runting from Pasaman; and (V6) Sirantiang from Sawah Lunto Sijunjung.

1 Baca lebih lajut

PERSEPSI PETANI TENTANG MULTIFUNGSI LAHAN SAWAH DAN PENGARUHNYA TERHADAP KONVERSI LAHAN DI PEDESAAN DAN PINGGIRAN KOTA Hasti Nur Handayani hastinurhandayaniyahoo.co.id Rika Harini rikahariniugm.ac.id ABSTRACT - PERSEPSI PETANI TENTANG MULTIFUNGSI LAHAN SA

PERSEPSI PETANI TENTANG MULTIFUNGSI LAHAN SAWAH DAN PENGARUHNYA TERHADAP KONVERSI LAHAN DI PEDESAAN DAN PINGGIRAN KOTA Hasti Nur Handayani hastinurhandayaniyahoo.co.id Rika Harini rikahariniugm.ac.id ABSTRACT - PERSEPSI PETANI TENTANG MULTIFUNGSI LAHAN SA

Seiring berjalannya waktu jumlah penduduk terus meningkat dan kebutuhan akan lahan juga semakin meningkat. Kondisi ini kemudian mengakibatkan semakin banyaknya lahan yang dikonversi untuk memenuhi kebutuhan akan lahan. Salah satu jenis penggunaan lahan yang sering mengalami konversi lahan yaitu lahan pertanian. Menurut Iqbal dan Sumaryanto, (2007) dalam Sudrajat, (2015) besarnya minat orang untuk mengkonversi lahan sawah menjadi lahan non pertanian disebabkan oleh “(1) kepadatan penduduk di pedesaan dengan agroekosistem dominan lahan sawah pada umumnya jauh lebih tinggi dibandingkan agroekosistem tegalan sehingga tekanan penduduk atas lahan juga lebih tinggi; (2) daerah persawahan banyak yang lokasinya berdekatan dengan perkotaan; (3) akibat pola pembangunan di masa sebelumnya, infrastruktur wilayah persawahan pada umumnya lebih baik daripada wilayah lahan tegalan; (4) pembangunan prasarana dan sarana permukiman, kawasan industri, dan sebagainya cenderung berlangsung cepat di wilayah bertopografi datar, di mana pada wilayah dengan topografi seperti itu (terutama di Pulau Jawa) ekosistem pertanian dominan areal persawahan.”
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Aplikasi Citra Satelit QuickBird Untuk Kajian Alih Fungsi Lahan Sawah di Kota Denpasar.

Aplikasi Citra Satelit QuickBird Untuk Kajian Alih Fungsi Lahan Sawah di Kota Denpasar.

Tertinggi di Kecamatan Denpasar Barat (47,77%) dan terendah di Kecamatan Denpasar Selatan (14,36%). Berdasarkan hasil dan pembahasan pada skripsi ini, maka dapat disarankan beberapa hal sebagai berikut: Perlu penelitian lebih lanjut dengan menggunakan Citra QuickBird olah mentah dalam menganalisis alih fungsi luas lahan sawah untuk mendapatkan kualitas citra dan akurasi data yang baik. Alih fungsi lahan di Kota Denpasar sangat meningkat pesat dari tahun ke tahun, ini perlu diminimalkan dengan membuat peraturan daerah untuk mempertahankan dan melestarikan lahan sawah, serta memberi perhatian khusus terhadap petani supaya lahan sawah mereka tidak mudah untuk dialih fungsikan.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...