Kulit Batang Angsana

Top PDF Kulit Batang Angsana:

Efek Infusa Kulit Batang Angsana (Pterocarpus indicus Willd) Sebagai Antidiare Pada Mencit Galur Swiss Webster Jantan.

Efek Infusa Kulit Batang Angsana (Pterocarpus indicus Willd) Sebagai Antidiare Pada Mencit Galur Swiss Webster Jantan.

Intan M Ginting, 2009 Pembimbing Utama : Sylvia Soeng, dr., M.Kes Pembimbing Pendamping : Rosnaeni, dra., Apt. Diare merupakan salah satu penyakit endemis yang tingkat morbiditas dan mortalitasnya masih tinggi. Penderita diare terutama yang berada di daerah biasanya mengobati diri sendiri menggunakan bahan alami, seperti rebusan kulit batang angsana. Tujuan penelitian untuk mengetahui efek antidiare dari Infusa Kulit Batang Angsana (IKBA). Desain penelitian prospektif eksperimental sungguhan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) bersifat komparatif . Penelitian menggunakan metode proteksi terhadap diare oleh oleum ricini. Hewan coba yang digunakan 25 ekor mencit yang dialokasikan secara acak menjadi 5 kelompok, yaitu kelompok I, II, dan III berturut-turut diberi IKBA dosis 1,4g/kgBB, 2,8g/kgBB, dan 5,6g/kgBB, kelompok IV dan V masing-masing sebagai kontrol (CMC 1%) dan pembanding (loperamid). Data yang diukur adalah berat feses (mg), frekuensi defekasi, dan konsistensi feses. Analisis data untuk berat feses dan frekuensi defekasi dengan ANOVA satu arah, dilanjutkan dengan uji Duncan, sedangkan konsistensi feses dengan uji Kruskal-Wallis ( α = 0,05). Hasil penelitian berat feses - frekuensi defekasi kelompok I, II, dan III berturut- turut 91.20 mg-.66, 83.80 mg-.56, dan 69.20-.36 mg berbeda bermakna dengan kelompok IV 139.00 mg-1.16 (p<0,05), sedangkan konsistensi feses tidak memperlihatkan perbaikan. Kesimpulan IKBA berefek antidiare dengan menurunkan berat feses dan mengurangi frekuensi defekasi, tetapi tidak memperbaiki konsistensi feses mencit.
Baca lebih lanjut

30 Baca lebih lajut

Uji Efek Penurunan Kadar Glukosa Darah Ekstrak Kulit Batang Angsana (Pterocarpus indicus Willd.) Pada Tikus Putih - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository

Uji Efek Penurunan Kadar Glukosa Darah Ekstrak Kulit Batang Angsana (Pterocarpus indicus Willd.) Pada Tikus Putih - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository

36 X = 12.19 % Hasil Perhitungan Kadar Sari Larut Etanol No Berat cawan +ekstrak setelah diuapkan Berat cawan kosong Berat ekstrak.[r]

31 Baca lebih lajut

Uji Efek Penurunan Kadar Glukosa Darah Ekstrak Kulit Batang Angsana (Pterocarpus indicus Willd.) Pada Tikus Putih - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository

Uji Efek Penurunan Kadar Glukosa Darah Ekstrak Kulit Batang Angsana (Pterocarpus indicus Willd.) Pada Tikus Putih - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository

Telah dilakukan penelitian tentang uji efek penurunan kadar glukosa darah ekstrak kulit batang  angsana (Pterocarpus indicus Willd.) pada tikus putih. Hewan coba yang digunakan adalah tikus  jantan galur wistar sehat, sebanyak 25 ekor  dengan berat 150‐200 g dan umur 2‐3 bulan yang  dikelompokkan  menjadi  5  kelompok  secara acak.  Masing‐masing  kelompok  terdiri  dari  5  ekor  tikus.  Kelompok  K  sebagai  kelompok  kontrol  yang  diberi  suspensi  PGA  3  %,    tiga  kelompok  perlakuan    masing‐masing  diberi  ekstrak  kulit  batang  angsana  dengan  dosis  0,5,  1,0,  dan  1,5  g/kgBB dan kelompok P sebagai kelompok pembanding yang diberi metformin HCl dengan dosis  45mg/kgBB,  secara peroral dengan volume 1 ml/100gBB.Setelah  30  menit kemudian diberikan  larutan  glukosa  50  %  dengan  volume  pemberian  0,2  ml/100gBB,  lalu  dilakukan  pengukuran  darah setelah 30, 60, 120 dan 180 menit dengan alat Advantage meter. Metoda yang digunakan  adalah  uji  toleransi  glukosa.  Berdasarkan  perhitungan  statistik  dengan  menggunakan  Anava  Rancangan Rambang Lugas (α=0,05) yang dilanjutkan dengan uji HSD, menunjukkan adanya efek  penurunan kadar glukosa  darah  yang bermakna antara kelompok  perlakuan dengan  kelompok  kontrol, dan diperoleh hasil ekstrak dengan dosis 1,5 g/kgBB menunjukkan efek penurunan yang  lebih  besar dibandingkan  dosis lainnya. Tidak  ada  hubungan antara  peningkatan dosis  dengan  penurunan kadar glukosa darah. 
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

Aktivitas Antimikroba Kulit Batang Kayu Api-Api Betina (Avicennia marina) terhadap Bakteri dan Fungi Patogen secara In Vitro

Aktivitas Antimikroba Kulit Batang Kayu Api-Api Betina (Avicennia marina) terhadap Bakteri dan Fungi Patogen secara In Vitro

Ekstraksi dilakukan dengan cara maserasi yaitu merendam sampel dalam pelarut dengan perbandingan sampel kulit batang api-api dan volume pelarut yaitu 1:3 (b/v). Menurut Ubulom et al. (2011) maserasi dilaporkan menghasilkan rendemen yang kecil dibandingkan metode ekstraksi yang lain, namun metode maserasi tidak membutuhkan pemanasan. Berdasarkan hal tersebut pemilihan maserasi sebagai metode ekstraksi dapat mencegah kerusakan senyawa yang kurang tahan panas pada penelitian ini. Pelarut yang digunakan terdiri dari tiga jenis yaitu metanol untuk mewakili pelarut polar, etil asetat untuk pelarut semi polar dan n-heksan sebagai pelarut non polar. Penggunaan ketiga pelarut ini bertujuan untuk mengekstrak komponen bioaktif dalam kulit batang api-api sesuai dengan tingkat kepolarannya sehingga zat aktif dapat diekstrak secara optimal pada salah satu pelarut yang digunakan.
Baca lebih lanjut

121 Baca lebih lajut

LAPORAN PRAKTIKUM MORFOLOGI TUMBUHAN   M

LAPORAN PRAKTIKUM MORFOLOGI TUMBUHAN M

Batang tanaman jati tua memiliki ciri-ciri morfologi sebagai berikut, yaitu: bentuk batang silindris, permukaan batang kasar dengan bintik-bintik lentisel, warna kulit batang coklat keputihan, tidak terdapat bulu-bulu halus lagi, kulit batang lebih kering, ruas batang jati tua lebih panjang daripada ruas batang jati muda, arah tumbuh batang tegak lurus (erectus) dan jenis batang adalah batang berkayu, memiliki kambium, bentuk percabangan simpodial.

14 Baca lebih lajut

Pembuatan Tali Serat Berbahan Serat Alami Kulit Dalam Batang Melinjo (Gnetum Gnemon)

Pembuatan Tali Serat Berbahan Serat Alami Kulit Dalam Batang Melinjo (Gnetum Gnemon)

Biji melinjo panjangnya 2-2,5 cm dengan bentuk elipse, ujung meruncing pendek, dan terdiri dari tiga lapis kulit yaitu: sarcotesta, sclerotesta, dan endotesta. Sarcotesta (kulit luar) sewaktu muda berwarna hijau berangsur-angsur berubah warna menjadi kuning dan merah tua setelah masak. Sclerotesta (kulit tengah) berwarna cokelat dan keras apabila biji telah tua. Kulit yang keras dan kedap air ini merupakan salah satu faktor penghambat perkecambahan biji. Sedangkan endotesta (kulit dalam) merupakan selaput tipis yang melekat pada inti biji. Biji melinjo bersifat istimewa, yaitu sangat lamban dalam berkecambah. Sejak biji masak dan jatuh dari pohon, biji itu akan tidur dalam waktu yang cukup lama, bisa mencapai setahun atau lebih. Pada waktu itulah biji tidak mau berkecambah (Tim Penulis PS, 2002).
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

Pemanfaatan Kulit Batang Jambu Biji (Psidium guajava) Untuk Menyerap Logam Krom Pada Air Limbah Industri Pelapisan Logam

Pemanfaatan Kulit Batang Jambu Biji (Psidium guajava) Untuk Menyerap Logam Krom Pada Air Limbah Industri Pelapisan Logam

Pengaruh suhu terhadap banyaknya jumlah krom teradsopsi dapat kita lihat pada gambar di bawah ini. Grafik perubahan konsentrasi krom yang teradsorpsi (lampiran ) menunjukkan bahwa pada suhu 25 0 C sudah terjadi pengurangan ion logam krom secara signifikan dari konsentrasi awal 2,7 mg/L menjadi 2,4386 mg/L (berkurang sebesar 9,6815%). Untuk suhu 30 o C sampai 40 o C masih terjadi penurunan konsentrasi ion logam krom yang signifikan. Dan pada suhu 45 o C merupakan suhu yang paling optimal dalam pengurangan konsentrasi ion logam krom sebesar 57,5185% menjadi 1,1470 mg/L. Namun dari rentang suhu 45 o C sampai 50 o C pengurangan logam krom dapat dinyatakan sudah tidak signifikan lagi karena kemampuan adsorpsi ion logam krom oleh kulit batang jambu biji akan menurun seiring dengan peningkatan temperatur, karena adsorpsi berjalan secara eksotermis.
Baca lebih lanjut

53 Baca lebih lajut

BAKTERI ENDOFIT KULIT BATANG TERAP (ARTOCARPUS

BAKTERI ENDOFIT KULIT BATANG TERAP (ARTOCARPUS

Cat Gram pada bakteri endofit dari kulit batang tanaman terap yang mempunyai daya hambat didapatkan bahwa 12 isolat tersebut adalah tergolong bakteri berbentuk batang dan termasuk bakteri gram positif. Dua belas isolat bakteri endofit kulit batang tanaman terap ,yang di dapat merupakan bakteri Gram positif dengan bentuk basil (batang) pendek ujung tumpul , persegi panjang dan batang panjang berspora dan terlihat ada yang tunggal, bergandengan dan berantai. Salah satu contoh hasil pengecetan gram terhadap 12 isolat bakteri kulit batang tanaman terap pada gambar 1
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Persetujuan Pembimbing DAYA ANTIBAKTERI MINYAK ATSIRI KULIT BATANG KAYU MANIS (Cinnamomum burmannii Bl.) TERHADAP Streptococcus mutans PENYEBAB KARIES GIGI

Persetujuan Pembimbing DAYA ANTIBAKTERI MINYAK ATSIRI KULIT BATANG KAYU MANIS (Cinnamomum burmannii Bl.) TERHADAP Streptococcus mutans PENYEBAB KARIES GIGI

Metode dilusi padat dilakukan untuk mengetahui daya antibakteri minyak atsiri kulit batang kayu manis terhadap S.mutans dan menentukan konsentrasi terendah dari minyak atsiri kulit batang kayu manis yang dapat menghambat (KHM) dan membunuh (KBM) pertumbuhan bakteri. Penentuan KHM dan KBM dilakukan dengan mengamati secara visual kekeruhan media atau pertumbuhan yang terjadi pada bakteri S. mutans setelah diberi larutan uji dan diinkubasi 37 o C selama 24 jam. Senyawa uji dapat dikatakan memiliki daya antibakteri jika media uji memiliki kejernihan yang sama dengan kontrol sterilitas dan kejernihan yang lebih besar dibandingkan kontrol negatif. Pengamatan dilakukan secara visual.
Baca lebih lanjut

99 Baca lebih lajut

KARAKTERISTIK PULP KIMIA MEKANIS DARI KENAF (Hibiscus cannabinus L.) UNTUK KERTAS LAINER

KARAKTERISTIK PULP KIMIA MEKANIS DARI KENAF (Hibiscus cannabinus L.) UNTUK KERTAS LAINER

Kualitas serat kulit dan inti memiliki perbedaan sehingga beberapa peneliti telah mengusulkan pemisahan serat inti dan kulit (Villar dkk., 2009; Nezamoleslami dkk., 1997; Ren dkk., 1996; Calabro,1992; Kaldor, 1989) atau menyesuaikan rasio campuran berdasarkan sifat produk yang diperlukan (Villar dkk., 2009). Di sisi lain, penggunaan batang kenaf secara keseluruhan (kulit pohon dan inti bersama- sama) dapat menguntungkan dari aspek teknis dan ekonomis (Ververis dkk., 2004; Khristova dkk., 2002). Penelitian kenaf sebagai bahan baku untuk pulp telah dilakukan oleh USDA di Amerika Serikat sejak 1960. Penelitian oleh USDA sempat terhenti pada tahun 1970 ketika perhatian beralih ke krisis energi, tetapi penelitian lanjutan dilakukan oleh sektor swasta (Liu, 2002). Saat ini, penelitian pembuatan pulp kenaf juga telah banyak dilakukan.Mossello
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Studi pustaka hama sengon (Paraserianthes falcataria (L) Nielsen)

Studi pustaka hama sengon (Paraserianthes falcataria (L) Nielsen)

Diantara keseluruhan bagian pohon, bagian terpenting dan bernilai ekonomis paling tinggi adalah batang atau kayunya. Pohon sengon berbatang lurus, panjang dan diameter batangnya dapat mencapai 100 cm. Perakaran sengon terbentang melebar. Selain susunan akar yang agak dangkal, terdapat pula susunan akar yang berkembang menghunjam ke dalam tanah. Semakin besar pohon, semakin kuat perakaran serabutnya sehingga mengurangi resiko terputusnya perakaran anakan saat akan dipindahkan dari polibag ke lapangan. Selain itu perakaran sengon, sebagaimana legum lainnya, mengandung bintil akar atau nodul akar. Bintil akar ini dapat mengikat nitrogen bebas dari udara dan mengubahnya menjadi amonia yang dapat dimanfaatkan oleh pohon inang untuk pertumbuhan. Dengan sistem perakaran seperti ini sengon menjadi pohon yang cocok untuk dijadikan pohon utama dalam program penghijauan dan rehabilitasi lahan kritis (Atmasuseno, 1994).
Baca lebih lanjut

112 Baca lebih lajut

154 1 292 1 10 20130531

154 1 292 1 10 20130531

Kulit batang tumbuhan kedoya yang telah dikeringkan dan digiling halus (3 kg), kemudian diekstraksi dengan pelarut heksana sebanyak 3 kali. Setelah pelarut diuapkan dari ekstrak heksana pada tekanan rendah, diperoleh residu berwarna kuning kehijauan masing-masing 17,07 g; 9,01 g, dan 5,03 g (berat total ekstrak heksana sebesar 31,114 g). Ekstrak heksana sebanyak 31,114 g ini dibagi menjadi 3 bagian dengan berat masing-masing bagian kurang lebih 10; 10; dan 11,1 g (selanjutnya disebut fraksi utama I, II, dan III). Kemudian, masing-masing fraksi utama ini difraksinasi melalui kromatogafi cair vakum (KCV) berturut-turut menggunakan eluen campuran heksana-etil asetat (10/0, 9/1, 8/2, 5/5. 3/7, dan 0/10), masing-masing menghasilkan 34 fraksi. Dari 34 fraksi dari masing- masing fraksi utama ini digabung menjadi 6 fraksi gabungan dan selanjutnya disebut fraksi A (5,231 g), B (8,669 g), C (7,400 g), D (1,277 g), E (4,297 g), dan F (3,6 g).
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

 Rangkuman Materi Biologi - Organ Tumbuhan lengkap dengan Gambar

Rangkuman Materi Biologi - Organ Tumbuhan lengkap dengan Gambar

Pada tumbuhan Dikotil, berkayu keras dan hidupnya menahun, pertumbuhan menebal sekunder tidak berlangsung terus-menerus, tetapi hanya pada saat air dan zat hara tersedia cukup, sedang pada musim kering tidak terjadi pertumbuhan sehingga pertumbuhan menebalnya pada batang tampak berlapis-lapis, setiap lapis menunjukkan aktivitas pertumbuhan selama satu tahun, lapis- lapis lingkaran tersebut dinamakan Lingkaran Tahun.

4 Baca lebih lajut

EFEK SITOTOKSIK EKSTRAK ETANOL KULIT BATANG TANJUNG

EFEK SITOTOKSIK EKSTRAK ETANOL KULIT BATANG TANJUNG

dari EEKBT adalah 112,800 µg/ml, maka dapat dikatakan bahwa EEKBT mempunyai aktivitas sitotoksik yang kurang poten terhadap sel kanker payudara T47D. Dikarenakan sampel uji masih dalam bentuk crude ekstrak, maka diperlukan upaya fraksinasi dan isolasi senyawa bioaktifnya agar kulit batang

6 Baca lebih lajut

Aktivitas antihepatotoksik ekstrak metanol kulit batang Meranti

Aktivitas antihepatotoksik ekstrak metanol kulit batang Meranti

b. Bahan Uji : Serbuk kulit batang tumbuhan Hopea mengarawan (Dipterocarpaceae); (Na-CMC) merk Daichi derajat farmasetis; akuades; karbon tetra klorida (CCl 4 ) merck Darmastadt Germany; Ether TK; NaCl fisiologis; formalin 10%; reagen siap pakai kit-GPT-ALAT (IVD Diasys, IFCC Mod) yang merupakan campuran dari reagen 1 (TRIS buffer pH 7,5 sebanyak 100 mmol/l, L-Alanin sebanyak 500 mmol/l, LDH (Laktat Dehidrogenase) > 1200 U/l) dan reagen 2 (2-oksoglutarat 15 mmol/l dan NADH 0,18 mmol/l); etanol dengan berbagai konsentrasi : 80%, 95%, dan 100%; xilen; parafin cair; zat warna hematoksilin; acid alkohol; eosin; entelen. c. Hewan Uji : Tikus putih jantan galur Rattus Strain Wistar yang berusia 7 minggu
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Triterpenoid Dari Ekstrak Kulit Batang Aglaia Eximia (Meliaceae).

Triterpenoid Dari Ekstrak Kulit Batang Aglaia Eximia (Meliaceae).

µg/mL (Harneti et al., 2014). Aglaia eximia secara etnobotani digunakan sebagai penurun demam, pelembab paru, dan dapat mengobati penyak kulit (Heyne, 1987). Pada penelitian berkelanjutan ini, kami mengisolasi senyawa triterpenoid, yaitu damar-24-en-3α ,20,25-triol (1) dan damar-23-en-3α ,20-diol (2) dari

4 Baca lebih lajut

Pembangunan Jembatan Angsana

Pembangunan Jembatan Angsana

Paket Pengadaan ini terbuka untuk Penyedia yang teregistrasi pada Layanan Pengadaan Secara Elektronik LPSE dan memenuhi persyaratan menyediakan jasa konstruksi yang memiliki kemampuan pa[r]

1 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...