Kulit Buah Kapuk

Top PDF Kulit Buah Kapuk:

Karakteristik Kimia Kulit Buah Kapuk Randu sebagai Bahan Energi Biomassa

Karakteristik Kimia Kulit Buah Kapuk Randu sebagai Bahan Energi Biomassa

Gambar 8 menunjukkan bahwa kadar abu kulit buah kapuk ketiga sampel berkisar 5.25-6.08%. Titiloye et al. (2013) menyatakan bahwa kadar abu pada biomassa yang berbeda, dipengaruhi oleh tanah di tempat tumbuh yang berbeda pula. Kulit buah kapuk asal Jawa Tengah memiliki kadar abu yang paling tinggi sedangkan yang paling rendah adalah kulit buah kapuk asal Jawa Barat. Kadar abu dari semua sampel termasuk tinggi dibandingkan dengan biomassa kayu yang dapat mencapai 5% (Fengel dan Wegener 1984). Menurut Haygreen dan Bowyer (1996), mineral-mineral cenderung terkonsenstrasi dalam jaringan bagian luar termasuk kulit buah karena kandungannya sangat penting untuk fungsi fisiologis pohon. Berdasarkan kadar abunya, kulit buah kapuk yang diteliti termasuk kelompok bahan energi berpotensi slagging pada proses gasifikasi, yaitu bahan energi biomassa yang dapat menyebabkan pembentukan kerak metal (Rajvanshi 1986). Kandungan abu tinggi terutama silika pengaruhnya kurang baik terhadap energi biomassa, karena nilai kalor yang dihasilkan semakin rendah (Satmoko 2013).
Baca lebih lanjut

30 Baca lebih lajut

Pembuatan Sabun dengan Menggunakan Kulit Buah Kapuk (Ceiba Petandra) sebagai Sumber Alkali

Pembuatan Sabun dengan Menggunakan Kulit Buah Kapuk (Ceiba Petandra) sebagai Sumber Alkali

Dalam proses pembuatan sabun disini peneliti mereaksikan alkali yang ada pada kulit buah kapuk dengan minyak goreng yang bersumber dari kelapa sawit. Seperti yang kita ketahui Indonesia merupakan salah satu negara penghasil minyak sawit terbesar di dunia. Sehingga untuk memproleh minyak kelapa sawit sangat mudah dan harga yang terjangkau. Minyak dari kelapa sawit ini dapat di manfaatkan untuk pembuatan sabun, karena sabun yang dihasilkan dari minyak kelapa sawit memiliki kelebihan yaitu lebih lembut di tangan. Untuk itu peneliti menggunakan minyak kelapa sawit sebagai bahan untuk membuat sabun.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Pembuatan Sabun dengan Menggunakan Kulit Buah Kapuk (Ceiba petandra) Sebagai Sumber Alkali

Pembuatan Sabun dengan Menggunakan Kulit Buah Kapuk (Ceiba petandra) Sebagai Sumber Alkali

Abu dari buah kulit kapuk randu banyak mengandung senyawa Kalium Karbonat (78,95 %) . Hasil ekstraksi kulit buah kapuk Randu disebut Soda qiu. Pelarut soda qiu akan membuat Kalium Karbonat menjadi Kalium Hidroksida yang dapat digunakan sebagai sumber alkali (basa) alami dalam pembuatan sabun [6].

4 Baca lebih lajut

Pembuatan Sabun dengan Menggunakan Kulit Buah Kapuk (Ceiba petandra) Sebagai Sumber Alkali

Pembuatan Sabun dengan Menggunakan Kulit Buah Kapuk (Ceiba petandra) Sebagai Sumber Alkali

Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh waktu reaksi dan suhu reaksi terhadap produk sabun yang terbentuk. Penelitian ini diawali dengan mengeringkan kulit buah kapuk dan dilakukan pembakaran untuk memperoleh abu kulit buah kapuk. Pembakaran dilakukan dengan menggunakan muffle furnace pada suhu 500 o C selama 3 jam. Kemudian dilakukan ekstraksi pada abu dengan menggunakan aquadest dengan perbandingan 1 : 3 untuk memperoleh alkali. Alkali ini direaksikan dengan minyak goreng kelapa sawit pada proses saponifikasi dengan variabel tetap volume minyak 30 ml, kecepatan pengadukan 250 rpm dan volume minyak : volume alkali 1 : 2 (ml). Sedangkan untuk variabel bebasnya suhu reaksi 60 o C, 70 o C, 80 o C, waktu pengadukan 60 menit, 90 menit, 120 menit. Respon yang diamati adalah densitas, Keasaman (pH), bilangan penyabunan dan alkali bebas. Hasil yang terbaik diperoleh pada suhu 80 o C dan waktu pengadukan 120 menit dengan densitas 1,34 gr/ml, pH 9,1, bilangan penyabunan 200,349 dan kadar alkali bebasnya 0,07 %.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Pembuatan Sabun dengan Menggunakan Kulit Buah Kapuk (Ceiba petandra) Sebagai Sumber Alkali

Pembuatan Sabun dengan Menggunakan Kulit Buah Kapuk (Ceiba petandra) Sebagai Sumber Alkali

Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh waktu reaksi dan suhu reaksi terhadap produk sabun yang terbentuk. Penelitian ini diawali dengan mengeringkan kulit buah kapuk dan dilakukan pembakaran untuk memperoleh abu kulit buah kapuk. Pembakaran dilakukan dengan menggunakan muffle furnace pada suhu 500 o C selama 3 jam. Kemudian dilakukan ekstraksi pada abu dengan menggunakan aquadest dengan perbandingan 1 : 3 untuk memperoleh alkali. Alkali ini direaksikan dengan minyak goreng kelapa sawit pada proses saponifikasi dengan variabel tetap volume minyak 30 ml, kecepatan pengadukan 250 rpm dan volume minyak : volume alkali 1 : 2 (ml). Sedangkan untuk variabel bebasnya suhu reaksi 60 o C, 70 o C, 80 o C, waktu pengadukan 60 menit, 90 menit, 120 menit. Respon yang diamati adalah densitas, Keasaman (pH), bilangan penyabunan dan alkali bebas. Hasil yang terbaik diperoleh pada suhu 80 o C dan waktu pengadukan 120 menit dengan densitas 1,34 gr/ml, pH 9,1, bilangan penyabunan 200,349 dan kadar alkali bebasnya 0,07 %.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Ekstraksi Kalium dari Kulit Buah Kapuk (Ceiba Petandra)

Ekstraksi Kalium dari Kulit Buah Kapuk (Ceiba Petandra)

Gambar L3.2 Hasil Pembakaran Kulit Buah Kapuk Kering 33 Gambar L3.3 Abu kulit buah kapuk dilarutkan dalam aquadest 34 Gambar L4.4 Hasil penyaringan larutan abu kulit buah kapuk dalam aquadest 34 Gambar L3.5 Larutan abu kulit buah kapuk dalam aquadest setelah ditetesi phenoltalein 35 Gambar L3.6 Larutan abu kulit buah dalam aquadest setelah titrasi asam 35 Gambar L4.1 Hasil Analisis K 2 O dengan Metode AAS 36

15 Baca lebih lajut

Ekstraksi Kalium dari Kulit Buah Kapuk (Ceiba Petandra)

Ekstraksi Kalium dari Kulit Buah Kapuk (Ceiba Petandra)

Tujuan Penelitian ini adalah menentukan waktu dan suhu pembakaran terbaik kulit pada pembuatan abu dari kulit buah kapuk ( Ceiba petandra ) untuk memperoleh kalium terbanyak. Penelitian ini diawali dengan mengeringkan kulit buah kapuk selama 24 jam di ovenpada suhu 110 o C dan dilakukan pembakaran untuk memperoleh abu dari kulit buah kapuk. Pembakaran dilakukan dengan menggunakan muffle furnace dengan variasi waktu 3, 4, 5, dan 6 jam. Kandungan kalium pada abu akan diekstraksi aquadest sebanyak 30 ml selama 24 jam. Respon yang diamati adalah normalitas, pH, rendemen, dan kandungan kalium oksida ( % K 2 O ). Hasil abu yang terbaik adalah pada waktu 3 jam 500 o C Abu tersebut
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Ekstraksi Kalium dari Kulit Buah Kapuk (Ceiba Petandra)

Ekstraksi Kalium dari Kulit Buah Kapuk (Ceiba Petandra)

Kulit buah kapuk mengandung kalium sebesar 20% - 25%[4]. Senyawa alkali yang terkandung dalam kulit buah randu, diharapkan dapat diubah menjadi suatu produk yang dapat dimanfaatkan, seperti bahan baku pembuatan sabun dan sampo. Soda Q merupakan ekstrak hasil pembakaran kulit kapuk. Terdapat beberapa tahapan proses pembuatan Soda Quntuk menghasilkan produk yang maksimal.Tahapan-tahapan yang dimaksud adalah ekstraksi, evaporasi, dan kristalisasi.Soda Q mengandung 50,78% K 2 CO 3 , 26,27%
Baca lebih lanjut

3 Baca lebih lajut

Ekstraksi Kalium dari Kulit Buah Kapuk (Ceiba Petandra)

Ekstraksi Kalium dari Kulit Buah Kapuk (Ceiba Petandra)

[2] Naliawati Prastya Ningrum dan Muhammad Alfin Indra Kusuma “ Pemanfaatan Minyak Goreng Bekas dan Abu Kulit Buah Kapuk Randu (Soda Qie) Sebagai Bahan Baku Pembuatan Sabun Organik Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan. Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, 2013

4 Baca lebih lajut

Pembuatan Sabun dengan Menggunakan Kulit Buah Kapuk (Ceiba petandra) Sebagai Sumber Alkali Chapter III V

Pembuatan Sabun dengan Menggunakan Kulit Buah Kapuk (Ceiba petandra) Sebagai Sumber Alkali Chapter III V

Karakteristik AAS alkali dari kulit buah kapuk (Ceiba Petandra) dilakukan untuk mengidentifikasi kandungan kalium yang ada pada kulit buah kapuk. Dari hasil analisa AAS yang dilakukan diperoleh persentase kalium yang ada pada kulit buah kapuk sebesar 29,8 % pada suhu pembakaan 500 o C dan waktu 3 jam. Dibawah ini merupakan gambar sabun yang terbentuk, untuk gambar proses pembuatan sabun dan anlisa dapat dilihat pada lampiran C.

23 Baca lebih lajut

Ekstraksi Kalium dari Kulit Buah Kapuk (Ceiba Petandra)

Ekstraksi Kalium dari Kulit Buah Kapuk (Ceiba Petandra)

Hidroksida (NaOH) 4,37%. Data tersebut berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Laboratorium Sulfindo. Sampai sekarang abu kulit buah kapuk sebatas hanya digunakan untuk tambahan pada industri sabun dan soda kue, belum ada usaha yang mumpuni untuk memisahkan kalium dari abu kulit buah kapuk padahal manfaat kalium cukup banyak salah satunya bahan dasar pembuatan pupuk [15].

8 Baca lebih lajut

Pembuatan Sabun dengan Menggunakan Kulit Buah Kapuk (Ceiba petandra) Sebagai Sumber Alkali

Pembuatan Sabun dengan Menggunakan Kulit Buah Kapuk (Ceiba petandra) Sebagai Sumber Alkali

Setelah mengalami proses pembakaran hingga menjadi abun, kapuk randu(Ceiba Petandra) mengandung beberapa senyawa alkali yang bermanfaat bagi kehidupan. Abu kulit buah kapuk randu yang lebih dikenal dengan istilah soda Q mengandung senyawa Kalium Karbonat (K2CO3) 50,78 %, Natrium Karbonat (Na2CO3) 26,27%, dan Natrium Hidroksida (NaOH) 4,37%. Data tersebut berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Laboratorium Sulfindo. Sampai sekarang abu kulit buah kapuk sebatas hanya digunakan untuk tambahan pada industri sabun dan soda kue, belum ada usaha yang mumpuni untuk memisahkan kalium dari soda Q padahal manfaat kalium cukup banyak salah satunya bahan dasar pembuatan pupuk [23].
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Pembuatan Sabun dengan Menggunakan Kulit Buah Kapuk (Ceiba petandra) Sebagai Sumber Alkali

Pembuatan Sabun dengan Menggunakan Kulit Buah Kapuk (Ceiba petandra) Sebagai Sumber Alkali

[22] Agus Imam Mughni, “ Uji Aktivitas Ekstrak Etanol 70% Kulit Batang Kapuk Randu Sebagai Penghambat Pembentukan Batu Ginjal pada Tikus Putih Jantan “, Jurusan Farmasi, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2013.

5 Baca lebih lajut

Pembuatan Sabun dengan Menggunakan Kulit Buah Kapuk (Ceiba petandra) Sebagai Sumber Alkali

Pembuatan Sabun dengan Menggunakan Kulit Buah Kapuk (Ceiba petandra) Sebagai Sumber Alkali

LA-1 LAMPIRAN A DATA HASIL PERCOBAAN LA.1 DATA HASIL PERCOBAAN PEMBUATAN SABUN Berikut merupakan data hasil percobaan pembuatan sabun dengan berbagai variable: Tabel LA.1 Data Has[r]

10 Baca lebih lajut

Ekstraksi Kalium dari Kulit Buah Kapuk (Ceiba Petandra)

Ekstraksi Kalium dari Kulit Buah Kapuk (Ceiba Petandra)

Asam yang digunakan : asam asetat CH3COOH Konsentrasi asam : 0,1 N 1.1 Data Berat Rendemen Abu yang Diperoleh Tabel LA.1 Data Berat Rendemen Abu yang Diperoleh Waktu Jam Suhu °C B[r]

15 Baca lebih lajut

Study Application Time of Calcium to Control Yellow Latex and Quality of Mangosteen Fruit

Study Application Time of Calcium to Control Yellow Latex and Quality of Mangosteen Fruit

Kalsium merupakan salah satu unsur hara makro yang diperlukan oleh tanaman dan diserap dalam bentuk Ca 2+ . Kalsium (Ca) merupakan salah satu unsur hara yang bersifat immobil, sama seperti Sulfur (S), Iron (Fe), Boron (B) dan Cooper (Cu) sehingga gejala kekurangan Ca mula-mula akan terlihat pada daun-daun muda yang baru keluar dari pucuk dan titik tumbuh (Leiwakabessy dan Sutandi 2004).Penyebaran kalsium dalam tanaman tidak merata, bagian bunga dan biji mengandung sedikit Ca, sedangkan daun berkadar tinggi. Pada beberapa tanaman Ca dijumpai dalam bentuk Ca-oksalat di dalam sel parenkim dan berbentuk ion dalam cairan sel (Marschner 1995; Leiwakabessy dan Sutandi 2004). Saure (2004) melaporkan bahwa konsentrasi kalsium pada buah apel dapat berubah selama perkembangan buah dan tidak seragam di seluruh bagian buah. Selama fase pertama perkembangan buah, kalsium akan mencapai semua bagian buah, dan tidak ada perbedaan distribusi kalsium. Kemudian, kandungan kalsium tidak akan seragam pada seluruh bagian buah. Pada buah apel matang, konsentrasi kalsium tertinggi dijumpai pada kulit.
Baca lebih lanjut

63 Baca lebih lajut

II. TINJAUAN PUSTAKA PENINGKATAN KUALITAS DAN UMUR SIMPAN KENTANG (Solanum tuberosum L.) KUPAS DENGAN PEMBERIAN EDIBLE COATING DARI PEKTIN KULIT BUAH KAKAO (Theobroma cacao L.).

II. TINJAUAN PUSTAKA PENINGKATAN KUALITAS DAN UMUR SIMPAN KENTANG (Solanum tuberosum L.) KUPAS DENGAN PEMBERIAN EDIBLE COATING DARI PEKTIN KULIT BUAH KAKAO (Theobroma cacao L.).

karbohidrat. Selain itu, kulit buah kakao yang dibenamkan ke dalam tanah dapat berfungsi sebagai penambah unsur hara. Akan tetapi, pada umumnya kulit buah kakao yang dihasilkan dari panen biji kakao dari buah yang telah matang hanya dibiarkan membusuk di sekitar area perkebunan kakao tersebut. Hal tersebut dapat menyebabkan munculnya hama-hama yang berasal dari proses pembusukan kulit buah kakao, sehingga mengakibatkan gangguan bagi kelangsungan hidup dari tanaman kakao itu sendiri (Sari dkk., 2012).

27 Baca lebih lajut

Study Application Time of Calcium to Control Yellow Latex and Quality of Mangosteen Fruit (Garcinia mangostana L.).

Study Application Time of Calcium to Control Yellow Latex and Quality of Mangosteen Fruit (Garcinia mangostana L.).

Bahan kapur seperti kaptan mampu meningkatkan kelarutan hara dan daya serap hara oleh tanaman. Peranan Ca dalam tanaman sangat erat kaitannya dengan aktivitas jaringan meristem dan sebagai perekat antara dinding sel yang satu dengan dinding sel yang lain (Marschner 1995). Pada saluran sekretori getah kuning, kalsium yang berfungsi sebagai perekat antar dinding sel akan meningkatkan integritas antara sel-sel epitel penyusun saluran sekretori getah kuning. Tanaman yang tidak mendapat suplai Ca yang cukup sangat berisiko mengalami kerusakan pada tingkat sel, termasuk pecahnya saluran getah kuning. Pemberian kalsium akan menjaga agar getah kuning tetap berada pada salurannya. Kalsium merupakan salah satu unsur hara makro yang bersifat immobil dalam tanaman, sehingga Ca harus diberikan pada saat dibutuhkan. Selama perkembangan buah manggis, kebutuhan Ca pada dinding sel mengalami peningkatan dan akan menurun menjelang pemasakan (Rigney dan Wills 1981;
Baca lebih lanjut

114 Baca lebih lajut

KADAR VITAMIN C DAN KUALITAS ES KRIM TRADISIONAL DENGAN PENAMBAHAN BUAH SIRSAK  Kadar Vitamin C Dan Kualitas Es Krim Tradisional Dengan Penambahan Buah Sirsak Dan Kulit Buah Naga Merah.

KADAR VITAMIN C DAN KUALITAS ES KRIM TRADISIONAL DENGAN PENAMBAHAN BUAH SIRSAK Kadar Vitamin C Dan Kualitas Es Krim Tradisional Dengan Penambahan Buah Sirsak Dan Kulit Buah Naga Merah.

Buah yang memiliki bentuk seperti jantung ini memiliki rasa manis keasaman, segar dan mudah dijumpai di pasaran. Buah sirsak memiliki kadar vitamin C yang dominan dibandingkan dengan vitamin yang lainnya. Astawan (2008), Kandungan zat gizi dan serat pangan per 100 gram daging buah sirsak memiliki vitamin C (20 mg). Buah Sirsak biasanya langsung dimakan atau hanya dibuat jus saja. Buah sirsak merupakan buah yang mudah busuk dan tidak tahan lama dalam penyimpanan. Mengingat sifatnya, buah sirsak dapat dimanfaatkan sebagai bahan campuran pembuatan dodol, yoghurt, sorbet dan fruit leather. Bahan baku pembuatan es krim tradisional diantaranya santan, garam, pewarna makanan, essence, agar-agar, air matang dan gula sebagai pemanis.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Penelitian Terdahulu - FORMULASI DAN UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN LIPSTIK LIKUID EKSTRAK ETANOL KULIT BUAH NAGA MERAH (Hylocereus polyrhizus L.) - repository perpustakaan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Penelitian Terdahulu - FORMULASI DAN UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN LIPSTIK LIKUID EKSTRAK ETANOL KULIT BUAH NAGA MERAH (Hylocereus polyrhizus L.) - repository perpustakaan

Bagian dari buah naga 30-35% merupakan kulit buah namun seringkali hanya dibuang sebagai sampah. Kulit buah naga mengandung zat warna alami antosianin cukup tinggi. Antosianin merupakan zat warna yang berperan memberikan warna merah berpotensi menjadi pewarna alami untuk pangan dan dapat dijadikan alternatif pengganti pewarna sintetis yang lebih aman bagi kesehatan (Citramukti, 2008).

14 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...