Kultur Sputum

Top PDF Kultur Sputum:

Hubungan Diabetes Melitus dengan Waktu untuk Konversi Kultur Sputum  pada Pasien TB-MDR di RSUP H. Adam Malik

Hubungan Diabetes Melitus dengan Waktu untuk Konversi Kultur Sputum pada Pasien TB-MDR di RSUP H. Adam Malik

Berkembangnya kasus TB-MDR di seluruh dunia kemudian memunculkan sejumlah penelitian yang menghubungkan TB-MDR dengan DM. Telah diketahui bahwa DM berperan dalam mencetuskan infeksi TB dan memperberat prognosisnya namun belum banyak diketahui mengenai efek DM terhadap TB- MDR. Beberapa penelitian melaporkan bahwa prevalensi DM ditemukan tinggi pada pasien TB-MDR dan ditemukannya hubungan yang signifikan antar keduanya setelah mengendalikan faktor-faktor perancu (Magee et al., 2014). Penelitian-penelitian lain mencoba menemukan hubungan antara DM dengan keberhasilan pengobatan pada kasus TB-MDR yang mana pasien TB-MDR menerima regimen dan durasi pengobatan yang berbeda. Namun, tidak ditemukan hubungan bermakna. Suatu studi di Amerika Serikat menemukan tidak ada perbedaan pada waktu yang diperlukan untuk konversi kultur sputum antara pasien TB-MDR dengan DM dan pasien TB-MDR tanpa DM (Magee et al., 2014). Di Indonesia juga telah dilakukan penelitian serupa dan menemukan hasil yang tak jauh berbeda, yaitu tidak terdapat perbedaan bermakna pada waktu untuk konversi sputum antara pasien TB-MDR dengan DM dan pasien TB-MDR tanpa DM (Reviono et al., 2013).
Baca lebih lanjut

59 Baca lebih lajut

Hubungan Diabetes Melitus dengan Waktu untuk Konversi Kultur Sputum pada Pasien TB-MDR di RSUP H. Adam Malik

Hubungan Diabetes Melitus dengan Waktu untuk Konversi Kultur Sputum pada Pasien TB-MDR di RSUP H. Adam Malik

Berbagai penelitian yang bertujuan untuk mencari hubungan antara DM dan TB menjadikan konversi kultur sputum sebagai salah satu variabel yang diteliti untuk menilai pengaruh DM terhadap outcome TB. Suatu studi kohort prospektif yang dilaksanakan di Indonesia menemukan secara signifikan bahwa pasien TB dengan DM lebih banyak yang memiliki hasil kultur sputum yang masih positif setelah fase 6 bulan pengobatan dibandingkan dengan pasien TB tanpa DM, meskipun temuan ini tidak berbeda secara statistik untuk evaluasi kultur sputum setelah fase 2 bulan pengobatan TB (fase intensif) (Alisjahbana et al., 2007). Studi lain yang dilakukan di Maryland, Amerika Serikat, menemukan adanya kecenderungan konversi kultur sputum yang lebih cepat pada pasien TB tanpa DM dibandingkan pasien TB dengan DM, namun proporsi tingkat konversi kultur sputum antar kedua kelompok setelah fase 2 bulan pengobatan tidak berbeda secara statistik. Meskipun studi tersebut menemukan bahwa DM merupakan faktor komorbid pada pasien dengan TB aktif dan meningkatkan risiko meninggal dunia selama pengobatan (Dooley et al., 2009).
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Hubungan Diabetes Melitus dengan Waktu untuk Konversi Kultur Sputum pada Pasien TB-MDR di RSUP H. Adam Malik

Hubungan Diabetes Melitus dengan Waktu untuk Konversi Kultur Sputum pada Pasien TB-MDR di RSUP H. Adam Malik

Tujuan dari penelitian ini ialah untuk menemukan hubungan antara DM dan waktu untuk konversi kultur sputum pada pasien TB-MDR. Penelitian ini merupakan cohort retrospective study yang menggunakan rekam medis untuk memperoleh data seluruh pasien TB-MDR yang menjalani pengobatan di Poli TB- MDR RSUP H. Adam Malik sejak Februari 2012 hingga Desember 2014. Dari populasi, 62 pasien memenuhi kriteria penelitian dan dimasukkan sebagai sampel. Data kemudian dianalisa menggunakan Mann Whitney U Test .

2 Baca lebih lajut

Hubungan Diabetes Melitus dengan Waktu untuk Konversi Kultur Sputum pada Pasien TB-MDR di RSUP H. Adam Malik

Hubungan Diabetes Melitus dengan Waktu untuk Konversi Kultur Sputum pada Pasien TB-MDR di RSUP H. Adam Malik

Rata-rata waktu untuk konversi kultur sputum pada 23 pasien TB dengan riwayat DM (37,1%) adalah 2,22 ± 0,198 bulan, sementara pada 39 pasien TB tanpa riwayat DM (62,9%) adalah 2,15 ± 0,210 bulan. Tidak ada perbedaan signifikan antara rata-rata dari kedua kelompok ( p =0,465) maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara DM dan waktu untuk konversi kultur sputum pada pasien TB-MDR dalam penelitian ini.

12 Baca lebih lajut

Hubungan Diabetes Melitus dengan Waktu untuk Konversi Kultur Sputum pada Pasien TB-MDR di RSUP H. Adam Malik

Hubungan Diabetes Melitus dengan Waktu untuk Konversi Kultur Sputum pada Pasien TB-MDR di RSUP H. Adam Malik

positif Mycobacterium tuberculosis menjadi negatif setelah fase pengobatan merupakan salah satu indikator keberhasilan pengobatan TB maupun TB-MDR. Kultur sputum dinyatakan telah konversi bila pemeriksaan kultur sputum yang dilakukan 2 kali berurutan dengan jarak pemeriksaan 30 hari menunjukkan hasil yang negatif. Tanggal pertama pengambilan spesimen kultur dengan hasil konversi negatif dijadikan tanggal konversi. Pemeriksaan kultur sputum dilakukan setiap bulan selama fase intensif dan setiap 2 bulan pada fase lanjutan (WHO, 2014).
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Hubungan Diabetes Melitus dengan Waktu untuk Konversi Kultur Sputum pada Pasien TB-MDR di RSUP H. Adam Malik

Hubungan Diabetes Melitus dengan Waktu untuk Konversi Kultur Sputum pada Pasien TB-MDR di RSUP H. Adam Malik

Telah lama diketahui bahwa terdapat hubungan yang erat antara diabetes melitus (DM) dan tuberkulosis (TB). Mekanisme yang menyebabkan pasien DM rentan terkena infeksi TB juga sudah dipahami, namun belum diketahui apakah DM secara langsung mempengaruhi keberhasilan pengobatan TB meskipun terdapat data bahwa pasien TB dengan riwayat DM memiliki prognosis yang lebih buruk dan lebih beresiko untuk meninggal selama pengobatan dibandingkan pasien tanpa riwayat DM. Seiring meningkatnya kasus multidrug resistant tuberculosis (TB-MDR), DM kembali dihubungkan dengan keberhasilan pengobatan TB yang mana pada TB-MDR pasien menerima regimen obat lini kedua. Konversi kultur sputum merupakan salah satu indikator keberhasilan pengobatan TB.
Baca lebih lanjut

59 Baca lebih lajut

Hubungan Diabetes Melitus dengan Waktu untuk Konversi Kultur Sputum pada Pasien TB-MDR di RSUP H. Adam Malik

Hubungan Diabetes Melitus dengan Waktu untuk Konversi Kultur Sputum pada Pasien TB-MDR di RSUP H. Adam Malik

Reviono, Juliana I., Harsini, Aphridasari J., Sutanto Y. S, 2013. Perbandingan Klinis, Radiologis dan Konversi Kultur Penderita Multidrug Resistant Tuberculosis dengan Diabetes dan Non Diabetes di Rumah Sakit Dr. Moewardi. J Respir Indo , 33(2): 103-9.

3 Baca lebih lajut

Hubungan Diabetes Melitus dengan Waktu untuk Konversi Kultur Sputum pada Pasien TB-MDR di RSUP H. Adam Malik

Hubungan Diabetes Melitus dengan Waktu untuk Konversi Kultur Sputum pada Pasien TB-MDR di RSUP H. Adam Malik

Distribusi Frekuensi Diabetes Melitus Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid DM 23 37,1 37,1 37,1 Non DM 39 62,9 62,9 100,0 Total 62 100,0 100,0 Distribusi Freku[r]

13 Baca lebih lajut

Pneumonia Aspirasi

Pneumonia Aspirasi

Pemberian antibiotika berdasarkan hasil kultur sputum, aspirat trakea, atau aspirat yang diperoleh dari protected cathether bronchoscopy lebih tepat daripada antibiotika empiris. Namun, karena bronkus yang mengalami cedera kimia sangat rentan terhadap infeksi bakteri, maka pemberian antibiotika dapat diterima berdasarkan probabilitas infeksi bakteri, beratnya pneumonia, dan faktor risiko inang (misalnya malnutrisi, penyakit komorbid), faktor intervensi (misalnya penggunaan antibiotika sebelumnya, kortikosteroid, obat sitotoksik, dan NGT), serta lama rawat inap. 3
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang - Analisa Aspergillus fumigatus dengan Menggunakan Polymerase Chain Reaction (PCR) dan Kultur Pada Sputum Penderita Batuk Kronis

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang - Analisa Aspergillus fumigatus dengan Menggunakan Polymerase Chain Reaction (PCR) dan Kultur Pada Sputum Penderita Batuk Kronis

Menurut penelitian yang dilakukan di India pada tahun 2002 sampai 2003 dengan kultur sputum pasien yang positif tuberculosis paru kronis dan telah mendapatkan pengobatan, didapatkan bahwa dari 500 pasien dijumpai 200 pasien yang menderita infeksi jamur (46%). Dimana jenis jamur yang terbanyak adalah Aspergillus fumigatus, Aspergillus niger, Histoplasma capsulatum, dan Cryptococcus neoforman. Dari 50 pasien yang mempunyai gejala seperti tuberculosis, terdapat 23 pasien yang positif terinfeksi jamur tersebut. (Bansod dan Rai, 2008)

8 Baca lebih lajut

Validitas Antigen M. Tuberculosis Rapid Immunochromatography Test terhadap Kultur M. Tuberculosis Sampel Sputum pada Media Ogawa.

Validitas Antigen M. Tuberculosis Rapid Immunochromatography Test terhadap Kultur M. Tuberculosis Sampel Sputum pada Media Ogawa.

Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti tertarik melakukan penelitian untuk mengetahui sensitivitas dan spesifisitas r apid ICT MTB antigen test dengan menggunakan sampel sputum yang akan diuji terhadap pemeriksaan gold standard untuk diagnosis TB paru yaitu kultur sputum pada media Ogawa.

19 Baca lebih lajut

Pola Kuman Pada Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) Eksaserbasi Akut di RSUP H. Adam Malik dan RS. Pirnga di Medan

Pola Kuman Pada Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) Eksaserbasi Akut di RSUP H. Adam Malik dan RS. Pirnga di Medan

Suradi dkk. di Surakarta tahun 2011 mendapatkan bahwa 46 (71%) pasien yang mengalami eksaserbasi mempunyai hasil kultur dahak yang positif mengandung bakteri pada Rumah Sakit Dr Moewardi Surakarta. Bakteri patogen yang sering terisolasi saat eksaserbasi adalah Klebsiella spp (30,4%). Antibiotik yang paling sensitif adalah Meropenem (80%) dan terdapat hubungan yang bermakna antara derajat eksaserbasi dan obstruksi dengan kultur sputum yang positif mengandung bakteri. (Suradi, 2012)

4 Baca lebih lajut

Kesesuaian Hasil Interpretasi Mikroskopik Basil Tahan Asam (BTA) M. Tuberculosis Metode Zig-Zag dan Horizontal pada Sediaan Apus Sputum Pewarnaan Ziehl Neelsen.

Kesesuaian Hasil Interpretasi Mikroskopik Basil Tahan Asam (BTA) M. Tuberculosis Metode Zig-Zag dan Horizontal pada Sediaan Apus Sputum Pewarnaan Ziehl Neelsen.

Diagnosis TB dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, dan radiologi. Pemeriksaan laboratorium yang diusulkan untuk penderita TB paru terdiri dari pemeriksan darah rutin disertai laju endap darah (LED) dan pemeriksaan mikrobiologi dengan bahan pemeriksaaan (sampel) dahak (sputum) penderita yaitu sediaan apus sputum untuk identifikasi basil tahan asam (BTA), dan kultur sputum untuk identifikasi MTB. Pemeriksaan Gold standard (baku emas) diagnosis infeksi TB paru adalah kultur untuk identifikasi isolat MTB pada medium khusus untuk BTA yaitu Lowenstein Jensen atau Ogawa dengan sensitivitas 99% dan spesifisitas 100%, sedangkan masa inkubasi MTB pada media kultur butuh waktu cukup lama 6-8 minggu (Tuberculosis, 2009).
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Hubungan Pola Kuman Dengan Derajat Obstruksi (VEP1) Pada Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) Eksaserbasi Akut di RSUP H. Adam Malik dan RS. Pirngadi Medan

Hubungan Pola Kuman Dengan Derajat Obstruksi (VEP1) Pada Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) Eksaserbasi Akut di RSUP H. Adam Malik dan RS. Pirngadi Medan

Suradi dkk. di Surakarta tahun 2011 mendapatkan bahwa 46 (71%) pasien yang mengalami eksaserbasi mempunyai hasil kultur dahak yang positif mengandung bakteri pada Rumah Sakit Dr Moewardi Surakarta. Bakteri patogen yang sering terisolasi saat eksaserbasi adalah Klebsiella spp (30,4%). Antibiotik yang paling sensitif adalah Meropenem (80%) dan terdapat hubungan yang bermakna antara derajat eksaserbasi dan obstruksi dengan kultur sputum yang positif mengandung bakteri. (Suradi, 2012)

4 Baca lebih lajut

Pengaruh zinc pada kadar netrofil sputum dan  rawat inap penderita penyakit paru obstruktif kronik eksaserbasi JURNAL. JURNAL

Pengaruh zinc pada kadar netrofil sputum dan rawat inap penderita penyakit paru obstruktif kronik eksaserbasi JURNAL. JURNAL

Penyakit paru obstruktif kronik memiliki karakteristik terjadinya obstruksi pada saluran napas kecil yang bersifat tidak sepenuhnya reversible dan remodelling struktur paru (Chung et al 2008). Inflamasi yang bersifat kronis terjadi pada penyakit ini. Eksaserbasi pada PPOK merupakan suatu keadaan dimana inflamasi kronis yang terjadi menjadi lebih berat dibanding kondisi pada PPOK stabil. Eksaserbasi pada PPOK ditandai dengan ditemukannya peningkatan sel inflamasi netrofil pada sputum (PDPI 2011). Netrofil sputum pada PPOK bisa menjadi marker dan pemikiran untuk ditemukannya target baru pada penatalaksanaan PPOK, yaitu dengan cara menurunkan netrofil sputum sehingga elastase dapat dikurangi dan diharapkan akan mengurangi progresifitas pada PPOK (Chung KF et al 2008, Larsson K 2007).
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Merokok 2.1.1. Definisi Merokok - Hubungan Derajat Berat Merokok Dengan Karakteristik Gejala PPOK Yang Dinilai Berdasarkan Kriteria Diagnosis Grup Pada Penderita PPOK Di RSUP Haji Adam Malik Medan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Merokok 2.1.1. Definisi Merokok - Hubungan Derajat Berat Merokok Dengan Karakteristik Gejala PPOK Yang Dinilai Berdasarkan Kriteria Diagnosis Grup Pada Penderita PPOK Di RSUP Haji Adam Malik Medan

Penggunaan istilah Penyakit Paru Obstruktif Kronik sesungguhnya kurang tepat, karena PPOK bukanlah suatu penyakit, melainkan sekumpulan penyakit (Seaton, 2000). PPOK adalah istilah untuk mendeskripsikan berbagai macam penyakit paru kronik yang ditandai obstruksi aliran udara sebagai ciri khasnya, dengan gejala utama sesak nafas, batuk, produksi sputum, dan mengi yang berkembang progresif (Harding et all, 2004). GOLD (2012) mendefinisikan PPOK sebagai penyakit yang ditandai dengan keterbatasan aliran udara yang tidak sepenuhnya reversibel, biasanya progresif, dan berhubungan dengan abnormalitas respon inflamasi paru-paru terhadap partikel atau gas berbahaya.
Baca lebih lanjut

30 Baca lebih lajut

KORELASI HASIL PEMERIKSAAN SPUTUM BTA TERHADAP FOTO TORAKS DI BALAI BESAR KESEHATAN PARU MASYARAKAT(BBKPM)

KORELASI HASIL PEMERIKSAAN SPUTUM BTA TERHADAP FOTO TORAKS DI BALAI BESAR KESEHATAN PARU MASYARAKAT(BBKPM)

Penyakit Tuberkulosis (TBC) adalah suatu infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Kuman ini pertamaka kali ditemukan oleh Robert Koch pada tahun 1882. Infeksi ini paling sering mengenai paru, akan tetapi dapat juga meluas mengenai organ-organ tertentu. Sampai saat ini penyakit TBC masih merupakan masalah kesehatan masyarakat didunia. Sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi kuman tuberkulosis dan menurut regional WHO jumlah terbesar kasus TB terjadi di Asia tenggara yaitu 33 % dari seluruh kasus TB di dunia, namun bila dilihat dari jumlah penduduk terdapat 182 kasus per 100.000 penduduk. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui korelasi pemeriksaan sputum BTA terhadap foto thoraks di BBKPM Makassar periode januari-september 2010. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan teknik pengambilan sampel menggunakan nonprobability sampling. Jumlah sampel sebanyak 115 orang dari hasil pemeriksaan. Pengolahan data dengan menggunakan program SPSS dan analisis data pada penelitian ini adalah univariat dan bivariat.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

PENGARUH ZINC PADA KADAR NETROFIL SPUTUM DAN LAMA RAWAT INAP PENDERITA PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK EKSASERBASI.

PENGARUH ZINC PADA KADAR NETROFIL SPUTUM DAN LAMA RAWAT INAP PENDERITA PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK EKSASERBASI.

Netrofil merupakan 70% dari jumlah lekosit dalam sirkulasi yang akan bertahan selama 10 jam dalam darah. Netrofil banyak ditemukan di sputum atau melalui broncho alveolar lavage (BAL) penderita PPOK dan akan menempati jaringan selama 1-2 hari. (Baratawidjaja KG 2006) Makrofag yang teraktivasi akibat paparan asap rokok akan menghasilkan neutrophilic chemoattractants. Mediator-mediator inilah yang bertugas menarik netrofil dari pembuluh darah ke saluran napas (White AJ et al 2003, Stockley RA 2002). Penghitungan netrofil sputum bisa menjadi marker untuk menilai beratnya PPOK (Chung KF et al 2008). Enzim protease yang dihasilkan oleh netrofil akan menyebabkan destruksi dinding alveol (emfisema) dan hipersekresi mukus (bronkitis kronik) (Barnes PJ 2008, Shapiro et al 2010).
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

Hubungan antara konsentrasi rifampisin plasma dengan konversi BTA sputum pada penderita TB Paru di Kupang.

Hubungan antara konsentrasi rifampisin plasma dengan konversi BTA sputum pada penderita TB Paru di Kupang.

the pharmacokinetic lab, Faculty af Medicine, Unpad. Sputum microscopic examination were performed before starting the treatment and at the end of intensive phase of TB treatment (8 weeks odf treatment), using Ziehl Neelsen methods, Differences in rifampicin plasma concentration were tested with the independent t-test, and p-values of less than 0.05 were judged sisnificant.

2 Baca lebih lajut

HUBUNGAN PEROKOK PASIF DAN KEJADIAN KONVERSI BTA SPUTUM SETELAH PEMBERIAN TERAPI TUBERKULOSIS TAHAP INTENSIF SKRIPSI Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran

HUBUNGAN PEROKOK PASIF DAN KEJADIAN KONVERSI BTA SPUTUM SETELAH PEMBERIAN TERAPI TUBERKULOSIS TAHAP INTENSIF SKRIPSI Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran

Latar belakang: Penyakit tuberkulosis paru (TB paru) masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat secara global yang menduduki peringkat kedua sebagai penyebab utama kematian akibat penyakit menular. Indikator yang digunakan dalam mengevaluasi dan meningkatkan keberhasilan pengobatan TB paru adalah angka kesembuhan dan angka konversi. Konversi yang tinggi akan diikuti dengan kesembuhan yang tinggi. Asap rokok menjadi faktor eksternal yang mempengaruhi konversi jika orang tersebut terpapar asap rokok dari lingkungannya yang disebut sebagai perokok pasif (secondhand smoker). pajanan asap rokok akan meningkatkan risiko infeksi, sakit, kekambuhan bahkan kematian pada TB. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan perokok pasif dan kejadian konversi BTA sputum setelah pemberian terapi tuberkulosis tahap intensif.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Show all 2455 documents...