Kunjungan Antenatal Care

Top PDF Kunjungan Antenatal Care:

Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Ibu Hamil Trimester III Tentang Antenatal Care Terhadap Kesesuaian Kunjungan Antenatal Care Di Klinik Sumiariani Tahun 2013

Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Ibu Hamil Trimester III Tentang Antenatal Care Terhadap Kesesuaian Kunjungan Antenatal Care Di Klinik Sumiariani Tahun 2013

Berdasarkan tabel 5.4 menunjukkan bahwa hasil sikap responden tentang Antenatal Care dengan kunjungan Antenatal Care selama kehamilan sebanyak lima belas pernyataan yaitu nomor 1 sampai 15 menunjukkan bahwa jawaban yang paling banyak menyatakan sangat setuju yaitu ibu hamil dapat melaksanakan pemeriksaan kehamilan disarana kesehatan seperti Rumah Sakit, Puskesmas, Posyandu, Bidan Praktek Swasta dan Dokter Praktek, semakin tua kehamilan harus sering melakukan pemeriksaan ke petugas kesehatan, setiap ibu hamil harus memeriksakan kehamilannya minimal 4 kali agar perkembangan janinnya dapat dipantau, sedangkan pernyataan yang paling banyak dijawab sangat tidak setuju yaitu pernyataan suntikan tetanus toxoid sangat diperlukan ibu hamil selama kehamilan untuk mencegah tetanus pada bayi, setiap ibu hamil perlu mengkonsumsi tablet penambah darah minimal 90 tablet selama kehamilan.
Baca lebih lanjut

74 Baca lebih lajut

Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil tentang Resiko Tinggi Kehamilan dengan Kepatuhan Kunjungan Antenatal Care di RSUD Pandan Arang Boyolali

Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil tentang Resiko Tinggi Kehamilan dengan Kepatuhan Kunjungan Antenatal Care di RSUD Pandan Arang Boyolali

Distribusi responden menurut umur menunjukkan sebagian besar responden berusia di atas 20 tahun. Pertambahan umur seseorang diikuti oleh peningkatan kematangan seseorang. Nurjanah (2001) mengemukakan bahwa seseorang dalam usia produktif akan mencapai tingkat produktifnya baik dalam bentuk rasional maupun motorik. Berdasarkan distribusi umur responden tersebut, maka nampak bahwa sebagian besar responden berada pada umur produktif, sehingga kemampuan rasional responden dalam memahami adanya resiko kehamilan pada dirinya lebih baik. Kondisi ini membantu responden untuk memahami pentingnya fungsi antenatal care bagi pemeliharaan kandungannya yang diwujudkan dalam bentuk kepatuhan dalam kunjungan antenatal care. Distribusi responden menurut tingkat pendidikan nampak bahwa bahwa masih terdapat 13 responden (29%) memiliki tingkat pendidikan SD atau rendah. Tingkat pendidikan seseorang berhubungan dengan
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Faktor Yang Berhubungan Dengan Kunjungan Antenatal Care Pada Ibu Hamil Di Puskesmas Padangmatinggi Kecamatan Padangsidimpuan Selatan Kota Padangsidimpuan Tahun 2015

Faktor Yang Berhubungan Dengan Kunjungan Antenatal Care Pada Ibu Hamil Di Puskesmas Padangmatinggi Kecamatan Padangsidimpuan Selatan Kota Padangsidimpuan Tahun 2015

Penelitian bertujuan untuk menganalisis faktor yang berhubungan dengan kunjungan antenatal care di Puskesmas Padang Matinggi Kecamatan Padang Sidimpuan Selatan di Kota Padang Sidimpuan tahun 2015. Jenis penelitian adalah analitik dengan desain cross sectional. Populasi adalah seluruh ibu hamil yang berada di wilayah kerja Puskesmas Padang Matinggi sebanyak 81 orang, dan seluruhnya menjadi sampel. Data dianalisis dengan uji chi square dengan α = 0,05.

19 Baca lebih lajut

HUBUNGAN PERSEPSI IBU HAMIL TERHADAP PELAYANAN ANTENATAL CARE ( ANC ) DENGAN FREKUENSI KUNJUNGAN ANTENATAL CARE PADA IBU HAMIL DI BPS PIPIN YOGYAKARTA TAHUN 2012

HUBUNGAN PERSEPSI IBU HAMIL TERHADAP PELAYANAN ANTENATAL CARE ( ANC ) DENGAN FREKUENSI KUNJUNGAN ANTENATAL CARE PADA IBU HAMIL DI BPS PIPIN YOGYAKARTA TAHUN 2012

Tujuan penelitian adalah diketahuinya hubungan persepsi ibu hamil terhadap pelayanan Antenatal Care dengan frekuensi kunjungan Antenatal Care pada ibu hamil di BPS Pipin Heriyanti tahun 2012. Metode penelitian survey analitik dan pendekatan waktu cross sectional, cara pengambilan data dengan kuesioner dan buku KIA. Subyek penelitian adalah primigravida trimester III (>36 minggu) sebanyak 30 responden yang didapatkan dalam kurun waktu penelitian. Teknik analisis yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah uji Product Moment. Hasil penelitian menunjukan persepsi ibu hamil terhadap pelayanan Antenatal Care di BPS Pipin Heriyanti tahun 2012 paling banyak kategori baik, yaitu 22 responden (73%), dan frekuensi kunjungan Antenatal Care di BPS Pipin Heriyanti tahun 2012 paling banyak teratur, yaitu 20 responden (67%). Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan persepsi ibu hamil terhadap pelayanan Antenatal Care dengan frekuensi kunjungan Antenatal Care pada ibu hamil di BPS Pipin Heriyanti tahun 2012, berdasarkan hasil pengujian SPSS for Windows release 15 diperoleh p sebesar 0,620 (p 0,05) dan termasuk kategori keeratan hubungan kuat. Hasil analisis adalah bahwa semakin baik persepsi ibu hamil terhadap pelayanan Antenatal Care, maka ibu hamil memiliki frekuensi kunjungan yang teratur dalam melakukan Antenatal Care. Bidan dapat meningkatkan keteraturan frekuensi kunjungan ibu hamil dalam melakukan Antenatal Care dengan melaksanakan 7 standar minimal pelayanan Antenatal Care agar dapat mendeteksi faktor resiko ibu hamil.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

HUBUNGAN FAKTOR SOSIODEMOGRAFI DENGAN KUNJUNGAN ANTENATAL CARE

HUBUNGAN FAKTOR SOSIODEMOGRAFI DENGAN KUNJUNGAN ANTENATAL CARE

Abstrak: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan faktor sosiodemografi dengan kunjungan antenatal care. Jenis penelitian survei analitik dengan rancangan cross sectional. Pengambilan sampel dengan sampling kuota diperoleh 100 ibu hamil trimester 3. Analisis bivariat menggunakan uji chi-square. Analisa multivariat dengan uji regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang tidak berberhubungan dengan ANC adalah Usia (p-value=0,46), pekerjaan (p-value=0,55), pengetahuan (p-value=0,88), dan pendapatan (p- value=0,22 ). Sedangkan faktor pendidikan dan jarak kehamilan ada hubungan dengan kunjungan antenatal care (p-value<0,02). Simpulan- nya: usia, pekerjaan, pengetahuan dan pendapatan tidak berhubungan dengan kunjungan antenatal care sedangkan pendidikan dan jarak kehamilan ada hubungan dengan kunjungan antenatal care.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kunjungan Antenatal Care Pada Ibu Hamil Di Wilayah Puskesmas Sitinjak Kecamatan Angkola Barat Kabupaten Tapanuli Selatan

Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kunjungan Antenatal Care Pada Ibu Hamil Di Wilayah Puskesmas Sitinjak Kecamatan Angkola Barat Kabupaten Tapanuli Selatan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 38 orang ibu (52,1%) yang melakukan kunjungan Antenatal Care (ANC) dengan kategori baik. Ada hubungan faktor pengetahuan (p=0,000) dan dukungan suami (p=0,009) dengan kunjungan Antenatal Care. Tidak ada hubungan faktor umur, pendidikan, paritas, pendapatan, sikap, jarak rumah ke fasilitas kesehatan dan dukungan petugas kesehatan dengan kunjungan Antenatal Care.

18 Baca lebih lajut

Hubungan Dukungan Suami pada Ibu Hamil dengan Kunjungan Antenatal Care di Rumah Bersalin Hadijah Medan Tahun 2015

Hubungan Dukungan Suami pada Ibu Hamil dengan Kunjungan Antenatal Care di Rumah Bersalin Hadijah Medan Tahun 2015

Setelah mendapat penjelasan dari penelitian “Hubungan Dukungan Suami pada Ibu Hamil dengan Kunjungan Antenatal Care di Rumah Bersalin Hadijah Tahun 2015 ”. Maka dengan ini saya secara sukarela dan tanpa paksaan menyatakan bersedia ikut serta dalam penelitian tersebut.

25 Baca lebih lajut

FAKTORFAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU IBU HAMIL DALAM MELAKUKAN KUNJUNGAN ANTENATAL CARE (Studi Kasus di Wilayah Kerja Puskesmas Bawen)

FAKTORFAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU IBU HAMIL DALAM MELAKUKAN KUNJUNGAN ANTENATAL CARE (Studi Kasus di Wilayah Kerja Puskesmas Bawen)

berhubungan dengan keteraturan kunjungan antenatal yaitu pengetahuan (p=0,025), sikap (p=0,013) dan ketersediaan transportasi (p=0,048). Sedangkan 5 variabel lainnya tidak berhubungan dengan keteraturan kunjungan antenatal yaitu umur (p=0,472), tingkat pendidikan (p=0,234), jenis pekerjaan (p=0,177), paritas (p=0,220) dan dukungan suami (p=0,366) hal ini berbeda dengan penelitian yang di lakukan oleh Taruli Rohana Sinaga (2009) bahwa Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada pengaruh pengetahuan dengan kunjungan antenatal care (p=0,001), ada pengaruh pendidikan dengan kunjungan antenatal care (p=0,00) ada pengaruh sikap dengan kunjungan antenatal care (p=0,001), ada pengaruh pendapatan keluarga dengan kunjungan antenatal (p=0,00), ada pengaruh dukungan suami dengan kunjungan antenatal dan (p=0,00). Sedangkan menurut Soewignyo (2004) bahwa faktor – faktor yang berhubungan dengan keputusan ibu hamil memilih pelayanan ANC adalah pekerjaan (p=0,000), pendapatan (p=0,003), Usia kehamilan (p=0,000), Jumlah anggota keluarga (p=0,000), persepsi (p=0,000), peran orang tua / mertua (p=0,000), peran suami (p=0,041), peran saudara (p=0,016) dan peran tetangga (p=0,007), sementara yang tidak berhubungan adalah umur (p= 0,395) dan pendidikan (p=,166).
Baca lebih lanjut

79 Baca lebih lajut

DAFTAR PUSTAKA  Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Multigravida Dengan Kepatuhan Kunjungan Antenatal Care Di Wilayah Kerja Puskesmas Kartasura.

DAFTAR PUSTAKA Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Multigravida Dengan Kepatuhan Kunjungan Antenatal Care Di Wilayah Kerja Puskesmas Kartasura.

Mansyur, Ahmed.M.S.A., Rezaul, Karim M., Mahmudul, M Hoque., Chowdhury. (2013). Quality Of Antenatal Care In Primary Health Care Centers Of Bangladesh. Vol. 8, No. 4, Desember 2014. Journal of Family And Reproductive Health.

6 Baca lebih lajut

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KUNJUNGAN ANTENATAL CARE DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PUNDONG BANTUL TAHUN 2016 Naskah Publikasi - FAKTOR -FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KUNJUNGAN ANTENATAL CARE DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PUNDONG BANTUL TAHUN 2016 - D

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KUNJUNGAN ANTENATAL CARE DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PUNDONG BANTUL TAHUN 2016 Naskah Publikasi - FAKTOR -FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KUNJUNGAN ANTENATAL CARE DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PUNDONG BANTUL TAHUN 2016 - D

Dalam hal pendidikan sebagian besar responden berpendidikan tinggi (SLTA atau PT) sebanyak 77%. Hubungan yang signifikan antara pendidikan dengan pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan. Satu studi di Amerika menunjukkan bahwa satu grup dengan tingkat pendidikan rendah memiliki kemungkinan lebih kecil untuk melakukan pemeriksaan rutin ke tenaga kesehatan (10). Satu studi di Canada menunjukkan grup dengan pendapatan kecil dan tingkat pendidikan rendah, memiliki kemungkinan lebih kecil untuk kontak dengan dokter keluarga. Hasil penelitian ini sejalan dengan studi yang dilakukan oleh bahwa ibu yang pernah mengenyam pendidikan dasar memiliki kecenderungan untuk melakukan kunjungan antenatal care dibandingkan ibu hanya dapat membaca dan menulis (OR=0,24; 95% CI: 0,14-0,39) (11). Ada hubungan yang bermakna antara pendidikan (p<0.001) dengan kunjungan ANC. Peningkatan level pendidikan terakhir dari seorang wanita memiliki kecenderungan 7,11 kali lebih besar (OR=7.11; 95% CI: 3.28-15.44) melakukan kunjungan ANC empat kali atau lebih dibandingkan dengan yang berpendidikan rendah. Studi yang dilakukan di Uganda menunjukkan bahwa pentingnya seorang wanita memperoleh edukasi sehingga bisa memahami apa saja kompenen yang perlu didapatkan dalam pemeriksaan ANC (12).
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

KORELASI KUNJUNGAN ANTENATAL CARE BURUH PABRIK DENGAN HASIL LUARAN BAYI DI KABUPATEN KUDUS

KORELASI KUNJUNGAN ANTENATAL CARE BURUH PABRIK DENGAN HASIL LUARAN BAYI DI KABUPATEN KUDUS

Penelitian di Sudan menyebutkan kejadian stillbirth sangat tinggi pada ibu dengan status kesehatan jelek dan tidak melakukan kunjungan ANC. Antenatal yang adekuat dan teratur berhubungan dengan hasil luaran dalam persalinan diantaranya bayi baru lahir. Hal ini berbeda dengan ibu yang berisiko, tetap meningkatkan kejadian stillbirth meskipun ibu itu melakukan kunjungan ANC, berpendidikan dan memiliki pendapatan tetap. 15 Hal ini berarti bahwa kunjungan ANC yang

9 Baca lebih lajut

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN STATUS PARITAS DENGAN KETERATURAN KUNJUNGAN ANTENATAL CARE (ANC) PADA IBU HAMIL DI RSUD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL - DIGILIB UNISAYOGYA

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN STATUS PARITAS DENGAN KETERATURAN KUNJUNGAN ANTENATAL CARE (ANC) PADA IBU HAMIL DI RSUD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL - DIGILIB UNISAYOGYA

terhadap suatu objek (stimulus) tertentu. Pengindraan terjadi melalui pancaindera manusia, yaitu indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba (Ariani, 2014). Pengetahuan ibu hamil tentang ANC merupakan pengetahuan ibu hamil tentang kunjungan kehamilan yang meliputi pengertian, tujuan, manfaat, waktu pelaksanaan, akibat atau dampak bila tidak melakukan kunjungan secara teratur

11 Baca lebih lajut

PENGARUH DUKUNGAN SUAMI TERHADAP KEPATUHAN KUNJUNGAN ANTENATAL CARE PADA IBU HAMIL

PENGARUH DUKUNGAN SUAMI TERHADAP KEPATUHAN KUNJUNGAN ANTENATAL CARE PADA IBU HAMIL

nasional tahun 2010 sekitar 92,7%, sedang di Kabupaten Sragen angka kunjungan antenatal care sebesar 4.295 ibu hamil, sedang di Kecamatan Kalijambe sebesar 200 ibu hamil (Dinkes Kabupaten Sragen, 2010). Kepatuhan kunjungan ANC bagi ibu hamil perlu ditingkatkan diantaranya dukungan suami. Dukungan dan peran suami selama kehamilan meningkatkan kesiapan ibu hamil dalam menghadapi kehamilan dan persalinan bahkan dapat memicu produksi ASI. Tugas suami yaitu memberikan perhatian dan membina hubungan baik dengan istri, sehingga istri mengkonsultasikan setiap masalah yang dihadapinya selama kehamilan. Penelitian yang dimuat dalam artikel “ What Your Partner Might Need From You During Pregnancy ” yang diterbitkan Allina Hospitals dan Clinics (2001), Amerika Serikat mengatakan keberhasilan seorang istri dalam mencukupi kebutuhan ASI untuk bayinya kelak sangat ditentukan oleh seberapa besar besar peran dan keterlibatan suami dalam masa kehamilan (Lusa, 2015).
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU HAMIL TENTANG ANTENATAL CARE DENGAN FREKUENSI KUNJUNGAN ANTENATAL CARE DI PUSKESMAS UMBULHARJO 1 YOGYAKARYA

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU HAMIL TENTANG ANTENATAL CARE DENGAN FREKUENSI KUNJUNGAN ANTENATAL CARE DI PUSKESMAS UMBULHARJO 1 YOGYAKARYA

Tingkat pengetahuan ibu hamil tentang antenatal care juga dapat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan seseorang. Pendidikan menghasilkan banyak perubahan seperti tercermin pada survei pegetahuan, sikap dan perbuatan. Fungsi sekolah yang utama adalah pendidikan intelektual yakni mengisi otak dengan berbagai macam pengetahuan (Soekanto, 2006).Hal ini sesuai dengan data hasil penelitian yang menunjukan bahwa dari 40 responden sebanyak 2 (5%) responden dengan pendidikan terakhir perguruan tinggi, sebanyak 26 (65%) responden dengan pendidikan terakhir SMA, sebanyak 7 (17,5%) responden dengan pendidikan terakhir SMP, dan sebanyak 5 (12,5%) responden dengan pendidikan terakhir SD, sehingga sebagian besar pengetahuan ibu hamil tentang antenatal care dalam kategori tinggi Hasil penelitian tentang sikap Ibu Hamil tentang Antenatal Care di Puskesmas Umbulharjo 1 Yogyakarta. Sikap tentang ANC pada ibu hamil sangat penting untuk mencapai pelayanan ANC yang unggul dan optimal. Pencapaian sikap dari tidak baik menjadi baik atau bahkan sangat baik membutuhkan beberapa tahapan pada ibu hamil. Sikap terdiri dari berbagai tingkatan yaitu menerima, merespon, menghargai dan bertanggung jawab (Notoatmodjo, 2010). Begitu pula sikap ibu hamil tentang antenatal care dapat dibentuk dari interaksi antara tenaga kesehatan, keluarga dan lingkungan masyarakat dapat membentuk berbagai tingkatan sikap yaitu sangat baik, baik, tidak baik dan sangat tidak baik(Hidayat, 2010).Hal ini sesuai dengan data hasil penelitian yang menunjukkan dari 40 responden sebanyak 28 (70%) responden dengan sikap ibu hamil tentang antenatal care sangat baik, sebanyak 12 (30%) responden dengan sikap ibu hamil tentang antenatal care baik dan tidak ada responden yang memiliki kategori sikap ibu hamil tentang antenatal care tidak baik maupun sangat tidak baik.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Faktor Dukungan Suami Dengan Keberhasilan Kunjungan Antenatal Care Berdasarkan Frekuensi Antenatal Care Di Kabupaten Kudus

Faktor Dukungan Suami Dengan Keberhasilan Kunjungan Antenatal Care Berdasarkan Frekuensi Antenatal Care Di Kabupaten Kudus

The Japan Obstetrics and Gynecolog y (JSOG) merekomendasikan kira-kira 14 kali melakukan kunjungan antenatal care, kunjungan pertama pada usia kehamilan 11 minggu atau pada trimester I. Kunjungan antenatal care kurang dari 14 kali dikatakan cukup apabila berkualitas dan pada kehamilan dengan risiko rendah. Pada tahun 2009 World Health Organization (WHO) merekomendasikan bahwa pemantauan terhadap kuantitas dan periode kunjungan antenatal care minimal 4 kali selama kehamilan dengan kunjungan pertama sebelum usia kehamilan 16 minggu. 7, 9
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kunjungan Antenatal Care Pada Ibu Hamil Di Wilayah Puskesmas Sitinjak Kecamatan Angkola Barat Kabupaten Tapanuli Selatan Chapter III VI

Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kunjungan Antenatal Care Pada Ibu Hamil Di Wilayah Puskesmas Sitinjak Kecamatan Angkola Barat Kabupaten Tapanuli Selatan Chapter III VI

Hasil uji statistik di dapat nilai p=0,009, artinya terdapat hubungan yang bermakna antara dukungan sumi dengan kunjungan antenatal care di wilayah Puskesmas Sitinjak. Dalam penelitian ini dukungan suami kategori baik lebih banyak yang melakukan antenatal care lengkap. Hal ini menunjukkan bahwa dukungan suami memiliki peluang yang lebih tinggi untuk meningkatkan ibu melakukan kunjungan antenatal care. Dukungan yang diberikan suami akan mempengaruhi emosi seorng istri, istri akan menyetujui keputusan yang diberikan suami terutama dalam hal pemeriksaan kehamilan apalagi jika suami ikut mendampingi istrinya untuk melakukan pemeriksaan kehamilan bukan hanya sekedar memberikan materil.
Baca lebih lanjut

50 Baca lebih lajut

Jumlah Kunjungan dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pelaksanaan Antenatal Care

Jumlah Kunjungan dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pelaksanaan Antenatal Care

Ibu multigravida merasa sudah berpengalaman dalam kehamilan yang tidak beresiko tanpa ada jadwal pemeriksaan antenatal care dan kurang mengetahui bahwa dalam setiap proses kehamilan tidak ada yang sama dengan proses kehamilan sebelumnya, sehingga hal ini membuat ibu multigravida merasa tidak perlu melaksanakan antenatal care. Hal yang sama disebutkan penelitian Suprapto (1993) paritas tinggi akan meyebabkan kurangnya perhatian ibu terhadap kehamilannya karena kesibukan mengurus keluarga dan anak yang jarak kelahiran anak yang satu dengan yang lain sangat dekat sehingga tidak melaksanakan kunjungan antenatal sesuai standar. Hal ini sejalan dengan penelitian Budiarti (2012) tentang tingkat kepatuhan dalam melakukan kujungan antenatal yang menyatakan bahwa ibu multigravida cenderung tidak patuh dalam melakukan kunjungan antenatal care. Swenson (2004) dalam Siregar (2011) juga menyatakan paritas tinggi cenderung kurang memanfaatkan perawatan kehamilan, lebih percaya diri tentang kehamilannya dan merasa kurang perlu untuk melakukan perawatan kehamilan.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

HUBUNGAN DUKUNGAN SUAMI DENGAN KETEPATAN ANTENATAL CARE DI DESA BAGI KABUPATEN MADIUN

HUBUNGAN DUKUNGAN SUAMI DENGAN KETEPATAN ANTENATAL CARE DI DESA BAGI KABUPATEN MADIUN

Ibu hamil yang tepat dalam melakukan kunjungan ANC berdasarkan studi dokumen sebesar 41,5% (17 orang) dan yang tidak tepat sebesar 58,5% (24 orang). Hal ini kurang baik dikarenakan dengan tidak tepatnya ibu melakukan kunjungan antenatal care maka ibu tidak memperoleh keuntungan-keuntungan antenatal care seperti tidak dapat dilakukan deteksi dini terhadap komplikasi ibu dan janin. Manuaba menyatakan keuntungan pengawasan antenatal adalah diketahuinya secara dini keadaan resiko tinggi ibu dan janin, sehingga dapat melakukan pengawasan yang lebih intensif, melakukan rujukan untuk mendapat tindakan yang adekuat segera dilakukan terminasi kehamilan. Pernyataan Manuaba (2010, 240) juga menjelaskan untuk menegakkan kehamilan risiko tinggi pada ibu dan janin adalah dengan cara melakukan anamnesa yang intensif (baik), melakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang seperti (pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan roentgen, pemeriksaan ultrasonografi, pemeriksaan lain yang dianggap perlu). Berdasarkan waktu, keadaan risiko tinggi ditetapkan pada menjelang kehamilan, saat hamil muda, saat hamil pertengahan, saat inpartu, dan setelah persalinan.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG KELUHAN FISIOLOGIS MASA KEHAMILAN DENGAN KETERATURAN FREKUENSI ANTENATAL CARE PADA IBU HAMIL TRIMESTER III DI BPS KARTIYEM KULON PROGO

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG KELUHAN FISIOLOGIS MASA KEHAMILAN DENGAN KETERATURAN FREKUENSI ANTENATAL CARE PADA IBU HAMIL TRIMESTER III DI BPS KARTIYEM KULON PROGO

diharapkan mempunyai kesadaran yang tinggi untuk melakukan kunjungan antenatal care secara teratur. Keteraturan kunjungan antenatal care dapat ditunjukkan melalui frekuensi kunjungan (data diperoleh melalui cakupan K1, K4). Oleh karena itu, semakin tinggi tingkat pengetahuan seseorang maka kesadaran untuk melakukan asuhan antenatal care secara teratur akan semakin tinggi (Notoatmodjo, 2003). Untuk daerah Kabupaten Bantul Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, cakupan kunjungan ibu hamil ditargetkan sampai dengan K7 (Dinkes Kab. Bantul, 2008).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Volome 8 Nomor 1 | http: jurnal.syedzasaintika.ac.id HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU HAMIL DENGAN KUNJUNGAN K4 ANTENATAL CARE DIWILAYAH KERJA PUSKESMAS LUBUK KILANGAN PADANG Meldafia Idaman STIKES SYEDZA SAINTIKA PADANG meldafia_idamanyahoo.co.

Volome 8 Nomor 1 | http: jurnal.syedzasaintika.ac.id HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU HAMIL DENGAN KUNJUNGAN K4 ANTENATAL CARE DIWILAYAH KERJA PUSKESMAS LUBUK KILANGAN PADANG Meldafia Idaman STIKES SYEDZA SAINTIKA PADANG meldafia_idamanyahoo.co.

Dari hasil penelitian yang penelitian lakukan maka peneliti dapat menarik kesimpulan yaitu terdapat hubungan tingkat pengetahuan dan sikap ibu hamil dengan kunjungan K4 antenatal care di Puskesmas Lubuk Kilangan Padang. Diharapakan kepada pimpinan Puskesmas Lubuk Kilangan Padang agar dapat membuat kebijakan agar pencapaian K4 Antenatal Care dapat tercapai 100% yaitu dengan melakukan kunjungan rumah ibu hamil serta memberikan edukasi kesehatan seputar kehamilan, persalinan dan bayi, anak baik pada ibu maupun keluarga. DAFTAR PUSTAKA
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 5674 documents...