Kunjungan Antenatal Care

Top PDF Kunjungan Antenatal Care:

Hubungan Dukungan Suami pada Ibu Hamil dengan Kunjungan Antenatal Care di Rumah Bersalin Hadijah Medan Tahun 2015

Hubungan Dukungan Suami pada Ibu Hamil dengan Kunjungan Antenatal Care di Rumah Bersalin Hadijah Medan Tahun 2015

Setelah mendapat penjelasan dari penelitian “Hubungan Dukungan Suami pada Ibu Hamil dengan Kunjungan Antenatal Care di Rumah Bersalin Hadijah Tahun 2015 ”. Maka dengan ini saya secara sukarela dan tanpa paksaan menyatakan bersedia ikut serta dalam penelitian tersebut.

25 Baca lebih lajut

HUBUNGAN KUNJUNGAN ANTENATAL CARE DENGAN PENGETAHUAN IBU TENTANG RESIKO TINGGI KEHAMILAN DI PUSKESMAS I KEMBARAN KABUPATEN BANYUMAS - repository perpustakaan

HUBUNGAN KUNJUNGAN ANTENATAL CARE DENGAN PENGETAHUAN IBU TENTANG RESIKO TINGGI KEHAMILAN DI PUSKESMAS I KEMBARAN KABUPATEN BANYUMAS - repository perpustakaan

Segala puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan Hidayahnya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikanskripsi yang berjudul“Hubungan Kunjungan Antenatal Care Dengan Pengetahuan Ibu Tentang Resiko Tinggi Kehamilan di Puskesmas I Kembaran Kabupaten Banyumas”. Tujuan dalam penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan kunjungan antenatal care dengan pengetahuan ibu tentang resiko tinggi kehamilan di Puskesmas I Kembaran Kabupaten Banyumas.

16 Baca lebih lajut

FAKTORFAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU IBU HAMIL DALAM MELAKUKAN KUNJUNGAN ANTENATAL CARE (Studi Kasus di Wilayah Kerja Puskesmas Bawen)

FAKTORFAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU IBU HAMIL DALAM MELAKUKAN KUNJUNGAN ANTENATAL CARE (Studi Kasus di Wilayah Kerja Puskesmas Bawen)

berhubungan dengan keteraturan kunjungan antenatal yaitu pengetahuan (p=0,025), sikap (p=0,013) dan ketersediaan transportasi (p=0,048). Sedangkan 5 variabel lainnya tidak berhubungan dengan keteraturan kunjungan antenatal yaitu umur (p=0,472), tingkat pendidikan (p=0,234), jenis pekerjaan (p=0,177), paritas (p=0,220) dan dukungan suami (p=0,366) hal ini berbeda dengan penelitian yang di lakukan oleh Taruli Rohana Sinaga (2009) bahwa Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada pengaruh pengetahuan dengan kunjungan antenatal care (p=0,001), ada pengaruh pendidikan dengan kunjungan antenatal care (p=0,00) ada pengaruh sikap dengan kunjungan antenatal care (p=0,001), ada pengaruh pendapatan keluarga dengan kunjungan antenatal (p=0,00), ada pengaruh dukungan suami dengan kunjungan antenatal dan (p=0,00). Sedangkan menurut Soewignyo (2004) bahwa faktor – faktor yang berhubungan dengan keputusan ibu hamil memilih pelayanan ANC adalah pekerjaan (p=0,000), pendapatan (p=0,003), Usia kehamilan (p=0,000), Jumlah anggota keluarga (p=0,000), persepsi (p=0,000), peran orang tua / mertua (p=0,000), peran suami (p=0,041), peran saudara (p=0,016) dan peran tetangga (p=0,007), sementara yang tidak berhubungan adalah umur (p= 0,395) dan pendidikan (p=,166).
Baca lebih lanjut

79 Baca lebih lajut

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU HAMIL TENTANG ANTENATAL CARE DENGAN FREKUENSI KUNJUNGAN ANTENATAL CARE DI PUSKESMAS UMBULHARJO 1 YOGYAKARYA

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU HAMIL TENTANG ANTENATAL CARE DENGAN FREKUENSI KUNJUNGAN ANTENATAL CARE DI PUSKESMAS UMBULHARJO 1 YOGYAKARYA

Hasil penelitian tentang frekuensi kunjungan Antenatal Care di Puskesmas Umbulharjo 1 Yogyakartamenunjukan dari 40 responden semua responden yaitu 40 (100%) responden melakukan kunjungan ANC dengan frekuensi lengkap dan tidak ada responden yang melakukan kunjungan ANC tidak lengkap. Kunjungan antenatal care (ANC) adalah kunjungan ibu hamil ke bidan atau dokter sedini mungkin semenjak ia merasa dirinya hamil untuk mendapatkan pelayanan/asuhan antenatal. Pelayanan antenatal ialah untuk mencegah adanya komplikasi obstetri bila mungkin dan memastikan bahwa komplikasi dideteksi sedini mungkin serta ditangani secara memadai (Saifuddin, dkk., 2008).
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Faktor Yang Berhubungan Dengan Kunjungan Antenatal Care Pada Ibu Hamil Di Puskesmas Padangmatinggi Kecamatan Padangsidimpuan Selatan Kota Padangsidimpuan Tahun 2015

Faktor Yang Berhubungan Dengan Kunjungan Antenatal Care Pada Ibu Hamil Di Puskesmas Padangmatinggi Kecamatan Padangsidimpuan Selatan Kota Padangsidimpuan Tahun 2015

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 39 orang ibu (48,1%) yang melakukan kunjungan Antenatal Care (ANC) dengan kategori baik. Ada pengaruh pendidikan ibu (p= 0,025), dengan OR sebesar 8,204, Jumlah anak (p=0,008), OR sebesar 6,186, pengetahuan (p= 0,005), OR sebesar 9,362, sikap (p= 0,047), OR sebesar 6,475 dan dukungan suami (p= 0,019), OR sebesar 5,081 terhadap pemanfaatan Antenatal Care (ANC).

19 Baca lebih lajut

Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil tentang Kunjungan Antenatal Care di Puskesmas Teladan Kecamatan Medan Kota Tahun 2015

Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil tentang Kunjungan Antenatal Care di Puskesmas Teladan Kecamatan Medan Kota Tahun 2015

Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kematian ibu masih tinggi, yaitu diperkirakan sebanyak 289.000 kematian setiap tahun. Maka dicanangkan program safe motherhood dan peningkatan pelayanan dalam pemeriksaan kehamilan. Pemeriksaan kehamilan sangat penting untuk memantau kehamilan dan mendeteksi dini adanya adanya risiko dalam kehamilan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu hamil tentang kunjungan antenatal care di Puskesmas Teladan. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif. Jumlah sampel sebanyak 58 orang dengan tingkat ketepatan relatif (d) sebesar 0,1. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan teknik consecutive sampling. Pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner. Analisa data dengan menggunakan statistik deskriptif. Hasil uji tingkat pengetahuan ibu hamil tentang kunjungan antenatal care sebesar 51,7% dikategorikan cukup. Tingkat pengetahuan ibu hamil berdasarkan usia 30-40 tahun memiliki pengetahuan yang lebih baik (23,6%), berdasarkan pendidikan terakhir D3/S1 memiliki pengetahuan lebih baik(37,5%), berdasarkan status kerja ibu hamil yang memiliki pekerjaan memiliki pengetahuan lebih baik (37,5%), berdasarkan jumlah kehamilan, ibu dengan kehamilan pertama memiliki pengetahuan lebih baik (26,7%). Itu karena adanya faktor lain yang memengaruhi tingkat pengetahuan. Dari hasil penelitian tersebut maka diharapkan petugas kesehatan dapat meningkatkan pengetahuan ibu hamil tentang kunjungan antenatal care melalui penyuluhan yang berkaitan dengan kehamilan berupa edukasi dan sosialisasi tentang antenatal care pada ibu hamil.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

HUBUNGAN PELAKSANAAN TUGAS KESEHATAN KELUARGA DENGAN KUNJUNGAN ANTENATAL CARE DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS ARJASA KABUPATEN JEMBER

HUBUNGAN PELAKSANAAN TUGAS KESEHATAN KELUARGA DENGAN KUNJUNGAN ANTENATAL CARE DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS ARJASA KABUPATEN JEMBER

Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 50% tugas kesehatan keluarga belum tercapai, hal ini ditunjukkan sebanyak 18 responden (62,1%) menyatakan pelaksanaan tugas kesehatan keluarga belum tercapai, dan ibu hamil yang melakukan kunjungan antenatal care tidak sesuai standar sebanyak 15 ibu hamil (51,7%) , dan 14 ibu hamil (48,3%) yang lainnya melakukan kunjungan antenatal care sesuai standar.

18 Baca lebih lajut

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KUNJUNGAN ANTENATAL CARE DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PUNDONG BANTUL TAHUN 2016 Naskah Publikasi - FAKTOR -FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KUNJUNGAN ANTENATAL CARE DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PUNDONG BANTUL TAHUN 2016 - D

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KUNJUNGAN ANTENATAL CARE DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PUNDONG BANTUL TAHUN 2016 Naskah Publikasi - FAKTOR -FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KUNJUNGAN ANTENATAL CARE DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PUNDONG BANTUL TAHUN 2016 - D

Dalam hal pendidikan sebagian besar responden berpendidikan tinggi (SLTA atau PT) sebanyak 77%. Hubungan yang signifikan antara pendidikan dengan pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan. Satu studi di Amerika menunjukkan bahwa satu grup dengan tingkat pendidikan rendah memiliki kemungkinan lebih kecil untuk melakukan pemeriksaan rutin ke tenaga kesehatan (10). Satu studi di Canada menunjukkan grup dengan pendapatan kecil dan tingkat pendidikan rendah, memiliki kemungkinan lebih kecil untuk kontak dengan dokter keluarga. Hasil penelitian ini sejalan dengan studi yang dilakukan oleh bahwa ibu yang pernah mengenyam pendidikan dasar memiliki kecenderungan untuk melakukan kunjungan antenatal care dibandingkan ibu hanya dapat membaca dan menulis (OR=0,24; 95% CI: 0,14-0,39) (11). Ada hubungan yang bermakna antara pendidikan (p<0.001) dengan kunjungan ANC. Peningkatan level pendidikan terakhir dari seorang wanita memiliki kecenderungan 7,11 kali lebih besar (OR=7.11; 95% CI: 3.28-15.44) melakukan kunjungan ANC empat kali atau lebih dibandingkan dengan yang berpendidikan rendah. Studi yang dilakukan di Uganda menunjukkan bahwa pentingnya seorang wanita memperoleh edukasi sehingga bisa memahami apa saja kompenen yang perlu didapatkan dalam pemeriksaan ANC (12).
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

DAFTAR PUSTAKA  Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Multigravida Dengan Kepatuhan Kunjungan Antenatal Care Di Wilayah Kerja Puskesmas Kartasura.

DAFTAR PUSTAKA Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Multigravida Dengan Kepatuhan Kunjungan Antenatal Care Di Wilayah Kerja Puskesmas Kartasura.

Damayanti, Erni, Nur, A Winarsih (2009). Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Resiko Tinggi Kehamilan Dengan Kepatuhan Kunjungan Antenatal Care Di RSUD Boyolali. Jurnal Keperawatan. Universitas Muhammadiyah Surakarta.

6 Baca lebih lajut

Hubungan dukungan suami dengan kepatuhan kunjungan Antenatal Care (ANC) pada ibu hamil primigravida di Puskesmas Pacar Keling Surabaya - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository

Hubungan dukungan suami dengan kepatuhan kunjungan Antenatal Care (ANC) pada ibu hamil primigravida di Puskesmas Pacar Keling Surabaya - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository

Proses persalinan adalah sesuatu hal yang baru yang akan dialami terutama bagi ibu hamil pertama. Dengan adanya dukungan suami, ibu hamil menunjukkan emosi lebih tenang dan perubahan fisik dirasakan tetap nyaman serta mempunyai motivasi yang tinggi terhadap pemeriksaan antenatal care. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara variabel dukungan suami dengan kepatuhan kunjungan antenatal care. Desain penelitian ini adalah deskriptif korelatif. Variabel independen adalah dukungan suami, sedangkan variabel dependen adalah kepatuhan kunjungan ANC. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu hamil yang memeriksakan kehamilannya di Puskesmas Pacar Keling Surabaya dengan jumlah rata-rata 104 orang setiap bulan. Sampel dipilih dengan menggunakan teknik consecutive sampling dengan kriteria inklusi ibu hamil primigravida aterm dengan jumlah 29 orang. Alat ukur untuk dukungan suami adalah kuesioner skala Likert dan kepatuhan kunjungan ANC adalah buku KIA milik ibu hamil. Uji hipotesis menggunakan statistik korelasi Rank Spearman. Hasil penelitian dan hubungan yang bermakna antara dukungan suami terhadap kepatuhan kunjungan antenatal care pada ibu hamil primigravida aterm. Dukungan baik dari suami dapat memberikan ketenangan batin dan perasaan senang dalam diri istri, sehingga istri termotivasi untuk melakukan pemeriksaan kehamilan.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

PENGARUH DUKUNGAN SUAMI TERHADAP KEPATUHAN KUNJUNGAN ANTENATAL CARE PADA IBU HAMIL

PENGARUH DUKUNGAN SUAMI TERHADAP KEPATUHAN KUNJUNGAN ANTENATAL CARE PADA IBU HAMIL

Berdasarkan tabel 4 hasil penelitian ini mengenai dukungan suami terhadap kunjungan antenatal care sebagian besar adalah mendukung, yaitu masing-masing sebesar 22 responden (73,33%), dan yang tidak mendapat dukungan suami baik sebanyak 8 responden (26,66%). Hal ini menunjukkan bahwa suami telah memiliki perilaku yang sehat dalam mendukung istri dalam menghadapi kehamilannya. Dukungan dan peran suami selama kehamilan meningkatkan kesiapan ibu hamil dalam menghadapi kehamilan dan persalinan bahkan dapat memicu produksi ASI. Tugas suami yaitu memberikan perhatian dan membina hubungan baik dengan istri, sehingga istri mengkonsultasikan setiap masalah yang dihadapinya selama kehamilan. Penelitian yang dimuat dalam artikel “ What Your Partner Might Need From You During Pregnancy ” yang diterbitkan Allina Hospitals dan Clinics (2001), Amerika Serikat mengatakan keberhasilan seorang istri dalam mencukupi kebutuhan ASI untuk bayinya kelak sangat ditentukan oleh seberapa besar peran dan keterlibatan suami dalam masa kehamilan (Lusa, 2015).
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Ibu Hamil Trimester III Tentang Antenatal Care Terhadap Kesesuaian Kunjungan Antenatal Care Di Klinik Sumiariani Tahun 2013

Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Ibu Hamil Trimester III Tentang Antenatal Care Terhadap Kesesuaian Kunjungan Antenatal Care Di Klinik Sumiariani Tahun 2013

Berdasarkan tabel 5.4 menunjukkan bahwa hasil sikap responden tentang Antenatal Care dengan kunjungan Antenatal Care selama kehamilan sebanyak lima belas pernyataan yaitu nomor 1 sampai 15 menunjukkan bahwa jawaban yang paling banyak menyatakan sangat setuju yaitu ibu hamil dapat melaksanakan pemeriksaan kehamilan disarana kesehatan seperti Rumah Sakit, Puskesmas, Posyandu, Bidan Praktek Swasta dan Dokter Praktek, semakin tua kehamilan harus sering melakukan pemeriksaan ke petugas kesehatan, setiap ibu hamil harus memeriksakan kehamilannya minimal 4 kali agar perkembangan janinnya dapat dipantau, sedangkan pernyataan yang paling banyak dijawab sangat tidak setuju yaitu pernyataan suntikan tetanus toxoid sangat diperlukan ibu hamil selama kehamilan untuk mencegah tetanus pada bayi, setiap ibu hamil perlu mengkonsumsi tablet penambah darah minimal 90 tablet selama kehamilan.
Baca lebih lanjut

74 Baca lebih lajut

Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kunjungan Antenatal Care Pada Ibu Hamil Di Wilayah Puskesmas Sitinjak Kecamatan Angkola Barat Kabupaten Tapanuli Selatan

Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kunjungan Antenatal Care Pada Ibu Hamil Di Wilayah Puskesmas Sitinjak Kecamatan Angkola Barat Kabupaten Tapanuli Selatan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 38 orang ibu (52,1%) yang melakukan kunjungan Antenatal Care (ANC) dengan kategori baik. Ada hubungan faktor pengetahuan (p=0,000) dan dukungan suami (p=0,009) dengan kunjungan Antenatal Care. Tidak ada hubungan faktor umur, pendidikan, paritas, pendapatan, sikap, jarak rumah ke fasilitas kesehatan dan dukungan petugas kesehatan dengan kunjungan Antenatal Care.

18 Baca lebih lajut

HUBUNGAN FAKTOR SOSIODEMOGRAFI DENGAN KUNJUNGAN ANTENATAL CARE

HUBUNGAN FAKTOR SOSIODEMOGRAFI DENGAN KUNJUNGAN ANTENATAL CARE

Abstrak: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan faktor sosiodemografi dengan kunjungan antenatal care. Jenis penelitian survei analitik dengan rancangan cross sectional. Pengambilan sampel dengan sampling kuota diperoleh 100 ibu hamil trimester 3. Analisis bivariat menggunakan uji chi-square. Analisa multivariat dengan uji regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang tidak berberhubungan dengan ANC adalah Usia (p-value=0,46), pekerjaan (p-value=0,55), pengetahuan (p-value=0,88), dan pendapatan (p- value=0,22 ). Sedangkan faktor pendidikan dan jarak kehamilan ada hubungan dengan kunjungan antenatal care (p-value<0,02). Simpulan- nya: usia, pekerjaan, pengetahuan dan pendapatan tidak berhubungan dengan kunjungan antenatal care sedangkan pendidikan dan jarak kehamilan ada hubungan dengan kunjungan antenatal care.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil tentang Resiko Tinggi Kehamilan dengan Kepatuhan Kunjungan Antenatal Care di RSUD Pandan Arang Boyolali

Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil tentang Resiko Tinggi Kehamilan dengan Kepatuhan Kunjungan Antenatal Care di RSUD Pandan Arang Boyolali

Distribusi responden menurut umur menunjukkan sebagian besar responden berusia di atas 20 tahun. Pertambahan umur seseorang diikuti oleh peningkatan kematangan seseorang. Nurjanah (2001) mengemukakan bahwa seseorang dalam usia produktif akan mencapai tingkat produktifnya baik dalam bentuk rasional maupun motorik. Berdasarkan distribusi umur responden tersebut, maka nampak bahwa sebagian besar responden berada pada umur produktif, sehingga kemampuan rasional responden dalam memahami adanya resiko kehamilan pada dirinya lebih baik. Kondisi ini membantu responden untuk memahami pentingnya fungsi antenatal care bagi pemeliharaan kandungannya yang diwujudkan dalam bentuk kepatuhan dalam kunjungan antenatal care. Distribusi responden menurut tingkat pendidikan nampak bahwa bahwa masih terdapat 13 responden (29%) memiliki tingkat pendidikan SD atau rendah. Tingkat pendidikan seseorang berhubungan dengan
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Faktor Dukungan Suami Dengan Keberhasilan Kunjungan Antenatal Care Berdasarkan Frekuensi Antenatal Care Di Kabupaten Kudus

Faktor Dukungan Suami Dengan Keberhasilan Kunjungan Antenatal Care Berdasarkan Frekuensi Antenatal Care Di Kabupaten Kudus

The Japan Obstetrics and Gynecolog y (JSOG) merekomendasikan kira-kira 14 kali melakukan kunjungan antenatal care, kunjungan pertama pada usia kehamilan 11 minggu atau pada trimester I. Kunjungan antenatal care kurang dari 14 kali dikatakan cukup apabila berkualitas dan pada kehamilan dengan risiko rendah. Pada tahun 2009 World Health Organization (WHO) merekomendasikan bahwa pemantauan terhadap kuantitas dan periode kunjungan antenatal care minimal 4 kali selama kehamilan dengan kunjungan pertama sebelum usia kehamilan 16 minggu. 7, 9
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

HUBUNGAN PERSEPSI IBU HAMIL TERHADAP PELAYANAN ANTENATAL CARE ( ANC ) DENGAN FREKUENSI KUNJUNGAN ANTENATAL CARE PADA IBU HAMIL DI BPS PIPIN YOGYAKARTA TAHUN 2012

HUBUNGAN PERSEPSI IBU HAMIL TERHADAP PELAYANAN ANTENATAL CARE ( ANC ) DENGAN FREKUENSI KUNJUNGAN ANTENATAL CARE PADA IBU HAMIL DI BPS PIPIN YOGYAKARTA TAHUN 2012

Tujuan penelitian adalah diketahuinya hubungan persepsi ibu hamil terhadap pelayanan Antenatal Care dengan frekuensi kunjungan Antenatal Care pada ibu hamil di BPS Pipin Heriyanti tahun 2012. Metode penelitian survey analitik dan pendekatan waktu cross sectional, cara pengambilan data dengan kuesioner dan buku KIA. Subyek penelitian adalah primigravida trimester III (>36 minggu) sebanyak 30 responden yang didapatkan dalam kurun waktu penelitian. Teknik analisis yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah uji Product Moment. Hasil penelitian menunjukan persepsi ibu hamil terhadap pelayanan Antenatal Care di BPS Pipin Heriyanti tahun 2012 paling banyak kategori baik, yaitu 22 responden (73%), dan frekuensi kunjungan Antenatal Care di BPS Pipin Heriyanti tahun 2012 paling banyak teratur, yaitu 20 responden (67%). Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan persepsi ibu hamil terhadap pelayanan Antenatal Care dengan frekuensi kunjungan Antenatal Care pada ibu hamil di BPS Pipin Heriyanti tahun 2012, berdasarkan hasil pengujian SPSS for Windows release 15 diperoleh p sebesar 0,620 (p 0,05) dan termasuk kategori keeratan hubungan kuat. Hasil analisis adalah bahwa semakin baik persepsi ibu hamil terhadap pelayanan Antenatal Care, maka ibu hamil memiliki frekuensi kunjungan yang teratur dalam melakukan Antenatal Care. Bidan dapat meningkatkan keteraturan frekuensi kunjungan ibu hamil dalam melakukan Antenatal Care dengan melaksanakan 7 standar minimal pelayanan Antenatal Care agar dapat mendeteksi faktor resiko ibu hamil.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kunjungan Antenatal Care Pada Ibu Hamil Di Wilayah Puskesmas Sitinjak Kecamatan Angkola Barat Kabupaten Tapanuli Selatan Chapter III VI

Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kunjungan Antenatal Care Pada Ibu Hamil Di Wilayah Puskesmas Sitinjak Kecamatan Angkola Barat Kabupaten Tapanuli Selatan Chapter III VI

Hal ini sejalan dengan penelitian Nuraijah (2013), di wilayah kerja Puskesmas Sosopan Kabupaten Padang Lawas yang menunjukkan tidak ada hubungan antara umur dengan pemanfaatan antenatal care. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan Manurung (2015), yang menunjukkan bahwa ibu dengan usia < 20 tahun dan usia > 35 tahun masih banyak yang tidak melakukan kunjungan antenatal care sesuai dengan standar maka hal ini akan dapat meningkatkan terjadinya berbagai permasalahan dalam kehamilan ibu. Usia <20 tahun dan >35 tahun meningkatkan risiko komplikasi obstetri juga peningkatan kesakitan dan kematian perinatal. Ibu hamil dengan usia < 20 tahun akan memiliki resiko yang lebih besar dari ibu yang mengalami kehamilan pada usia > 35 tahun, resiko tinggi dapat terjadi jika usia ibu lebih muda yaitu mengalami pendarahan berat saat melahirkan anak, anak lahir mati, anak lahir dengan berat badan rendah dan proses kelahiran yang sulit, oleh karena itu ibu hamil dengan usia <20 tahun dan >35 tahun harus mendapatkan perawatan yang lebih intensif sehingga sudah seharusnya mereka lebih sering melakukan pemeriksaan kehamilannya.
Baca lebih lanjut

50 Baca lebih lajut

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN STATUS PARITAS DENGAN KETERATURAN KUNJUNGAN ANTENATAL CARE (ANC) PADA IBU HAMIL DI RSUD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL - DIGILIB UNISAYOGYA

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN STATUS PARITAS DENGAN KETERATURAN KUNJUNGAN ANTENATAL CARE (ANC) PADA IBU HAMIL DI RSUD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL - DIGILIB UNISAYOGYA

Latar Belakang: Antenatal Care adalah suatu pemeriksaan yang dilakukan oleh petugas kesehatan terhadap ibu hamil beserta janinnya secara berkala untuk mengawasi kondisi kesehatan ibu serta pertumbuhan dan perkembangan janin. Faktor Tingkat pengetahuan dan status paritas mempengaruhi keteraturan kunjungan Antenatal Care. Ibu hamil yang memiliki pengetahuan tinggi akan mengetahui tanda bahaya kehamilannya, dan juga ibu yang memiliki status paritas yang tinggi akan beresiko terhadap kehamilannya, sehingga ibu akan selalu waspada dan berhati-hati dengan cara selalu rutin memeriksakan kehamilannya.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

KORELASI KUNJUNGAN ANTENATAL CARE BURUH PABRIK DENGAN HASIL LUARAN BAYI DI KABUPATEN KUDUS

KORELASI KUNJUNGAN ANTENATAL CARE BURUH PABRIK DENGAN HASIL LUARAN BAYI DI KABUPATEN KUDUS

Jumlah kunjungan ANC ibu pekerja buruh pabrik sebagian besar 4 kali (41,4%), yang artinya bahwa jumlah kunjungan yang telah dilakukan ibu pekerja buruh pabrik sudah sesuai dengan ketentuan pemerintah yang menyatakan pemeriksaan kehamilan minimal 4 kali selama hamil pada trimester I, 1 kali, trimester II 1 kali dan trimester III 2 kali. dengan harapan pada tiap trimester kehamilan ibu dapat terpantau, apabila ada ketidaknormalan pada tiap trimester akan mudah terdeteksi.

9 Baca lebih lajut

Show all 5674 documents...