Lahan Kering

Top PDF Lahan Kering:

1 Identitas dan Deskripsi Pengelolaan Lahan Kering dan Lahan Basah

1 Identitas dan Deskripsi Pengelolaan Lahan Kering dan Lahan Basah

Mata kuliah ini membahas jenis-jenis tanah lahan pertanian (tanah-tanah lahan kering dan tanah- tanah lahan basah); pengelolaan tanah-tanah lahan kering (Alfisol, Andisol, Aridisol, Entisol, Inceptisol, Mollisol, Oxisol, Spodosol, Ultisol, dan Vertisol); serta pengelolaan tanah-tanah lahan basah (Gelisol; Histosol dan subgrup Histic; Aquent; tanah berglei/Aquept; tanah salin dan alkali/Solonchak, Solonetz, Solodi, Kastanozem dan Chernozem; tanah lahan basah berliat tinggi/Aqualf, Aquox, Aquult, Aquert; serta tanah lahan basah lainnya/Aquand, Aquoll dan Aquod). Mata kuliah Pengelolaan Lahan Kering dan Lahan Basah diberikan pada semester VII (ganjil) dan bersifat wajib bagi mahasiswa Program Studi Ilmu Tanah di Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

PEMBANGUNAN PERTANIAN LAHAN KERING  BERKELANJUTAN

PEMBANGUNAN PERTANIAN LAHAN KERING BERKELANJUTAN

melanjutkan usahanya· Pendapatan petani yang cukup tinggi sehingga petani dapat mendisain masa depan keluarganya dari pendapatan usahataninya.· Teknologi yang diterapkan baik teknologi produksi maupun teknologi konservasi dapat diterima dengan senang hati dan diterapkan sesuai kemampuan petani sendiri sehingga sistem usahatani tersebut dapat diteruskan tanpa intervensi dari luar.· Komoditi yang diusahakan cukup beragam, sesuai kondisi biofisik, sosial dan ekonomi · Erosi lebih kecil dari erosi yang dapat ditoleransikan sehingga produksi yang tinggi tetap dapat dipertahankan atau ditingkatkan dengan fungsi hidrologis tetap terpelihara dengan baik.· Sistem penguasaan/pemilikan lahan dapat menjamin keamanan investasi jangka panjang dan menggairahkan petani untuk tetap berusahatani. Perencanaan penggunaan lahan pada dasarnya adalah inventarisasi dan penilaian keadaan, potensi sumberdaya dan faktor-faktor pembatas dari suatu daerah. Dengan permasalahan yang lebih kompleks di dalam sistem usahatani lahan kering maka teknologi yang diperlukan tidak dapat diperlakukan sama pada semua tempat, melainkan dibutuhkan pendekatan yang lebih terencana sesuai kondisi biofisik dan sosial ekonomi setempat. Aspek teknologi yang perlu dipertimbangkan adalah teknologi konservasi tanah dan air (ketersediaan teknologi dan tingkat adopsi) serta teknologi pemantauan kegiatan pengelolaan lahan
Baca lebih lanjut

3 Baca lebih lajut

MODEL PARTISIPASI PETANI LAHAN KERING DALAM KONSERVASI LAHAN

MODEL PARTISIPASI PETANI LAHAN KERING DALAM KONSERVASI LAHAN

bersifat irreplaceable. Konke dan Bertrand (Su- warto, 2010), menekankan bahwa apabila lahan (top soil) telah hilang, terendap di dasar sungai, dan dasar laut maka dikatakan tidak mungkin dikembalikan lagi dengan pengetahuan dan teknologi yang kita miliki sekarang ini. Apabila tanah subur telah hilang maka diperlukan wak- tu bertahun-tahun atau bahkan ratusan tahun untuk mengembalikan tanah menjadi subur kembali. Sejalan dengan hal tersebut Santoso, D.J. et al., (2004) dan Daiah, A. et al., (McLeod dan Rahmianna (2009) menjelasdkan bahwa usahatani tanaman pangan secara intensif dan menetap pada lahan kering di daerah hujan tro- pis dihadapkan pada masalah penurunan pro- duktivitas lahan. Salah satu penyebabnya ada- lah tanahnya peka terhadap erosi, berlereng, bereaksi asam, dan miskin unsur hara. Oleh karena itu untuk mencapai usahatani keberlan- jutan maka usahatani harus menerapkan kon- servasi lahan.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

MODEL PARTISIPASI PETANI LAHAN KERING DALAM KONSERVASI LAHAN.

MODEL PARTISIPASI PETANI LAHAN KERING DALAM KONSERVASI LAHAN.

Selari (Suwarto, 2010) menjelaskan bahwa dewasa ini lahan kering memiliki arti yang semakin strategis karena berbagai pertimbangan seperti: (1) terus meningkatnya kebutuhan pangan dan hasil-hasil pertanian lainnya, (2) semakin terbatasnya lahan-lahan yang cocok untuk pembuatan sawah baru, mahalnya biaya pembuatan sawah pada setiap kesatuan luasnya, serta banyaknya konversi penggunaan sawah untuk keperluan pembangunan lainnya, (3) masih terus bertambahnya angkatan kerja baru yang terjun ke sektor pertanian karena terbatasnya kesempatan kerja pada luar sektor pertanian, dan (4) konsekuensi dari pembangunan itu sendiri. Sejalan dengan itu, Hidayat dan Mulyani dalam Dariah, A. et al ., (2004) dan M.K.McLeod dan Rahmianna (2009) mengemukakan bahwa lahan kering merupakan sumberdaya lahan yang memiliki potensi besar untuk menunjang pembangunan pertanian di Indonesia. Lahan kering di Indonesia meliputi luasan lebih dari 140 juta ha (Hidayat dan Mulyani dalam Dariah et al, 2004), kurang lebih 56 juta ha diantaranya (di luar Maluku dan Papua) sudah dipergunakan untuk pertanian (BPS, 2001).
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

Alternatif Pemulihan Lahan Kering Masam

Alternatif Pemulihan Lahan Kering Masam

Penelitian dilakukan pada lahan kering masam Kebun Percobaan Taman Bogo, Lampung Timur yang terletak pada koordinat 05 0 00.406'S dan 105 0 29.405'E pada bulan Januari- April 2009. Jenis tanah KP Taman Bogo adalah Typic Kanhapludults dengan karakteristik seperti tertera pada Tabel 1. Biochar yang digunakan adalah biochar sekam padi (SP) dan biochar tempurung kelapa sawit (KS) yang diproduksi melalui pembakaran tanpa oksigen (pirolisys) selama 3,5 jam dengan temperatur 250-350 0 C. Kedua jenis biochar tersebut (SP dan KS) diformulasikan dengan bahan lain (kompos pupuk kandang) sehingga diperoleh tiga foemula yaitu SP-50, SP-75, dan KS-50. Kualitas formula pembenah tanah yang dignakan tertera pada Tabel 2.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Potensi lahan kering di Indonesia

Potensi lahan kering di Indonesia

Di Indonesia, Alang-alang (Imperata cylindrica L. Beauv) merupakan salah satu gulma terpenting dan termasuk sepuluh gulma bermasalah di dunia. Melalui biji dan rimpang, alang - alang dapat tumbuh dan menyebar luas pada hampir semua kondisi lahan. Teknologi pengendalian alang-alang telah banyak dikenal namun belum dapat menjamin eradikasi populasi alang-alang secara berkelanjutan tanpa diikuti oleh kultur teknis dan pola budidaya tanaman pangan sepanjang tahun. Hasil penelitian menunjukan bahwa lahan alang -alang dapat dikendalikan/dikelola menjadi lahan produktif setelah direhabilitasi dengan tanaman legume (Mucuna sp.) untuk usaha tani tanaman pangan lahan kering berorientasi konservasi tanah. Bahan hijauan tanaman Mucuna dapat meningkatkan kadar C-organik, memperbaiki sifat fisika, kimia tanah dan meningkatkan produksi tanaman pangan.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

(m-P3BI) Lahan Rawa Lebak Dan Lahan Kering Di Bengkulu

(m-P3BI) Lahan Rawa Lebak Dan Lahan Kering Di Bengkulu

Pelaksanaan kegiatan m-P3BI lahan rawa (padi rawa lebak) dan lahan kering (integrasi kopi-sapi potong) akan dilaksanakan secara bertahap dengan menggunakan pendekatan Spectrum Diseminasi Multi Channel (SDMC), yaitu; pengembangan diseminasi berdasarkan pendekatan strategi atau model yang mampu memperluas jangkauan dengan memanfaatkan berbagai saluran komunikasi dan pemangku kepentingan ( stakeholder) terkait sesuai karakteristik masing-masing pelaku, sehingga dapat didistribusikan secara cepat kepada pengguna (petani dan kelompok, pemerintah daerah, penyuluh dan swasta) melalui berbagai media secara simultan dan terkoordinasi. I mplementasi kegiatan ini di lapang berbentuk unit percontohan berskala pengembangan berwawasan agribisnis, bersifat holistik dan komprehensif meliputi aspek perbaikan teknologi produksi, pengolahan limbah usahatani, aspek pemberdayaan masyarakat tani dan pengembangan maupun penguatan kelembagaan sarana pendukung agribisnis.
Baca lebih lanjut

79 Baca lebih lajut

Alat Penanam Padi Langsung Di Lahan Kering

Alat Penanam Padi Langsung Di Lahan Kering

Alat Penanam Padi Langsung Di Lahan Kering mirip dengan alat penanam padi langsung di lahan basah. Perbedaan yang paling menonjol adalah bahwa alat penanam untuk lahan basah selalu memiliki sepatu pengapung dan dioperasikan dengan cara di tarik. Bagian-bagian utama alat ini adalah : hopper, pemabgi benih, roda penggerak, sikat, saluran benih, pembuka alur, dan roda penutup. Ekanisme kerja alat ini mirip dengan alat penanam tipe "metering roll" untuk lahan basah. Proses penutupan alur dilakukan oleh roda yang terletak di bagian belakang alat. Spesifikasi alat penanam dua baris untuk lahan kering dapat dilihat pada gambar 11. Apabila tanah berbongkah-bongkah, alat penanam ini terpaksa dioperasikan dua orang, yaitu satu orangf menarik dan satu orang lainnya mendorong. Operator yang dibelakang selain bertugas mendorong alat dan menekan roda belakang agar dapat menutup alur juga bertugas menjaga agar alat bekerja dalam garis lurus dan tidak terjungkal. Selama operasi, alat perlu dijaga agar tidak melewati tempat becek, sebab tanah akan melekat di pembuka alur dan penutup alur serta menghambat jatuhnya benih di dalam alur.
Baca lebih lanjut

3 Baca lebih lajut

EVALUASI KESESUAIAN LAHAN UNTUK BERBAGAI TANAMAN LAHAN KERING   Evaluasi Kesesuaian Lahan Untuk Berbagai Tanaman Lahan Kering Di Kecamatan Nogosari Kabupaten Boyolali.

EVALUASI KESESUAIAN LAHAN UNTUK BERBAGAI TANAMAN LAHAN KERING Evaluasi Kesesuaian Lahan Untuk Berbagai Tanaman Lahan Kering Di Kecamatan Nogosari Kabupaten Boyolali.

Penelitian ini berjudul “Evaluasi Kesesuaian Lahan Untuk Berbagai Tanaman Lahan Kering Di Kecamatan Nogosari Kabupaten Boyolali” yang bertujuan untuk : (1) mengetahui tingkat kesesuaian lahan untuk berbagai tanaman lahan kering yang meliputi tanaman padi gogo, jagung, kedelai dan kacang tanah dan mengevaluasi persebaran kelas dan sub-kelas, (2) mengetahui faktor-faktor pembatas yang mempengaruhi kesesuaian lahan untuk berbagai tanaman lahan kering di daerah penelitian.

14 Baca lebih lajut

TAP.COM -   KARAKTERISTIK DAN KLASIFIKASI TANAH PADA LAHAN KERING DAN LAHAN YANG ... 115 222 2 PB

TAP.COM - KARAKTERISTIK DAN KLASIFIKASI TANAH PADA LAHAN KERING DAN LAHAN YANG ... 115 222 2 PB

dan pengambilan contoh tanah, analisis tanah serta penyususnan laporan. Penelitian diawali dengan mengumpulkan data-data sekunder guna mendapatkan informasi yang berkaitan dengan lokasi penelitian. Informasi yang dibutuhkan meliputi informasi jenis geologi, jenis tanah serta sejarah penggunaan lahan. Titik pengamatan dan pengambilan contoh tanah didasarkan pada kesamaan formasi geologi di daerah penelitian, yaitu Qa (alluvium). Dari formasi geologi tersebut, selanjutnya dipilih dua tipe lahan berdasarkan perlakuan penggenangan yang berbeda, yaitu lahan kering (tidak pernah disawahkan) dan lahan yang disawahkan (ditanami padi sawah terus-menerus). Dari 2 jenis penggunaan lahan tersebut, selanjutnya diambil 3 profil pada lahan kering (NS1, NS2, NS3) dan 3 profil lahan yang disawahkan (LS1, LS2, LS3). Lokasi keenam profil disajikan dalam Gambar 1. Pengamatan di lapangan meliputi pengamatan kondisi lahan sekitar dan morfologi tanah. Pengamatan di lapangan dilakukan pada musim kemarau dan pada sawah pada saat dikeringkan atau saat sawah tidak digenangi, yaitu setelah panen sampai menj elang pengolahan tanah awal pada musim tanam berikutnya. Pengamatan morfologi tanah dilakukan pada profil tanah yang dibuat dengan ukuran 1,5 x 1 meter dengan kedalaman 1,5 meter. Pengambilan contoh tanah utuh dan terganggu dilakukan pada masing-masing horison sesuai dengan Petunjuk Teknis Pengamatan Tanah (Balai Penelitian Tanah dan Agroklimat, 2004). Contoh tanah yang diambil di lapangan kemudian di analisis di laboratorium fisika dan kimia tanah. Jenis dan metode analisis tanah disajikan dalam Tabel 1.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

2 GBPP Pengelolaan Lahan Kering dan Lahan Basah

2 GBPP Pengelolaan Lahan Kering dan Lahan Basah

Deskripsi Singkat : Membahas jenis-jenis tanah lahan pertanian (tanah-tanah lahan kering dan tanah-tanah lahan basah); pengelolaan tanah-tanah lahan kering (Alfisol, Andisol, Aridisol, Entisol, Inceptisol, Mollisol, Oxisol, Spodosol, Ultisol, dan Vertisol); serta pengelolaan tanah-tanah lahan basah (Gelisol; Histosol dan subgrup Histic; Aquent; tanah berglei/Aquept; tanah salin dan alkali/Solonchak, Solonetz, Solodi, Kast anozem dan Chernozem; tanah lahan basah berliat tinggi/Aqualf, Aquox, Aquult, Aquert; serta tanah lahan basah lainnya/Aquand, Aquoll dan Aquod). Tujuan Instruksional Umum : Setelah menyelesaikan mata kuliah ini, diharapkan mahasiswa dapat menjelaskan jenis-jenis tanah lahan pertanian, pengelolaan tanah-tanah
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Solar Power Irrigation di Lahan Kering

Solar Power Irrigation di Lahan Kering

Permasalahan ketersediaan air berdampak pada produktivitas lahan kering yang tidak memiliki infrastruktur irigasi dan mengandalkan hujan. Akibatnya produktivitas lahan menurun. Untuk mengatasi hal tersebut adalah menjaga ketersediaan air yang cukup untuk setiap kali tanam. Inovasi ini menawarkan sistem irigasi otomatis bertenaga surya yang bekerja dengan menjaga kelembutan tanah pada rentang air tersedia, sehingga tidak terjadi evaporasi berlebih dan kehilangan air

2 Baca lebih lajut

Pengelolaan kedelai di lahan kering masa

Pengelolaan kedelai di lahan kering masa

Kedelai tidak memiliki preferensi terhadap jenis tanah tertentu, sedikit membutuhkan air dan lebih produktif ditanam pada musim kemarau. Pada lahan kering, kedelai ditanam sesudah padi gogo atau jagung. Untuk wilayah Sumatera Barat, waktu tanam dianjurkan bulan Oktober- Januari (Musim Hujan I=MH I) atau akhir MH II (Februari-Mei)/awal musim kemarau. Kadang-kadang diikuti pertanaman ketiga apabila memungkinkan yaitu antara bulan Juni-September. Waktu tanam ini dapat juga disesuaikan dengan kondisi iklim setempat. Curah hujan yang cukup selama pertumbuhan dan berkurang saat pembungaan dan menjelang pemasakan biji akan meningkatkan hasil kedelai (Nurdin dan Atman. 1998).
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

3 SAP Pengelolaan Lahan Kering dan Lahan Basah

3 SAP Pengelolaan Lahan Kering dan Lahan Basah

Pengelolaan Aridisol adalah Agar dapat diperoleh hasil yang baik dalam pemanfaatan tanah-tanah salin, maka diperlukan teknik dalam mengelola air irigasi dan menjaga agar tingkat kegaraman berada dalam batas yang tidak mengganggu tanaman. Keperluan air tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan tanaman saja, tetapi juga dibutuhkan untuk ameliorasi tanah dan mengurangi kegaraman tanah yang tinggi. Mengingat mutlaknya kebutuhan air dalam rangka pemanfaatan tanah-tanah salin, sedangkan air tersebut keberadaannya sangat langka, maka prospek pemanfaatan tanah ini kurang dapat diharapkan. Karena kesuburan tanah-tanah salin dinilai marginal bahkan tidak sesuai untuk lahan pertanian, maka biasanya digunakan sebagai padang pengembalaan alami yang tidak dikelola, dan juga sebagai usaha pembuatan garam. Menurut Arabia (2012) intensitas pengelolaan yang masih rendah juga disebabkan oleh taraf hidup masyarakat petani yang tinggal di daerah bergaram biasanya masih rendah. Pengelolaan tanah-tanah ini memerlukan kemampuan untuk mengatasi masalah-masalah tadi, hal ini menjadi penyebab mengapa intensitas pengelolaan tanahnya masih rendah.
Baca lebih lanjut

56 Baca lebih lajut

KENDALA DAN STRATEGI PENGEMBANGAN LAHAN

KENDALA DAN STRATEGI PENGEMBANGAN LAHAN

Idjudin, A. A., dan Marwanto, S. (2008) kembali menegaskan bahwa, minimnya sumberdaya dan banyaknya faktor pembatas untuk pengelolaan lahan kering adalah permasalahan yang sangat serius dan sangat perlu untuk diselesaikan. Karena saat ini lahan kering sangat diharapkanuntuk mampu mendukung pemantapan ketahanan pangan nasional mengingat jumlah penduduk Indonesia yang semakin meningkat (1,34% pertahun). Namun sayangnya, di saat lahan kering belum dapat termanfaatkan dengan baik untuk kegiatan pertanian, lahan produktif berupa sawah justru banyak yang teralihfungsikan menjadi penggunaan lahan non sawah hingga mencapai 1,6 juta ha dalam kurun waktu 1981-1999. Sementara itu di pihak lain terdapat pula masalah berupa perubahan pola konsumsi penduduk dari non beras ke beras, terjadi peningkatan konversi lahan sawah irigasi untuk kepentingan non pertanian, dan tingkat produktivitas padi sawah mengalami pelandaian (levelling off). Namun banyak kendala yang membatasi pendayagunaan lahan kering di Indonesia, sehingga sampai saat ini pemanfaatan lahan kering untuk kepentingan pertanian masih belum signifikan. Kendala-kendala ini meliputi beberapa sisi, salah satunya adalah kendala dari sisi ekologis dengan berbagai strategi pengembangannya.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Pemberdayaan Wanita dalam Pembangunan Pertanian Berkelanjutan untuk Meningkatkan Ekonomi dan Ketahanan Pangan Rumah Tangga

Pemberdayaan Wanita dalam Pembangunan Pertanian Berkelanjutan untuk Meningkatkan Ekonomi dan Ketahanan Pangan Rumah Tangga

Oleh karena sistem kekerabatan pada masyarakat petani Sunda tergolong bilenial, perempuan memiliki akses dan kontrol terhadap lahan baik yang diperoleh secara hibah, warisan maupun yang dibeli setelah menikah, sehingga ada 3 pola kepemilikan pada keluarga petani : milik isteri, milik suami dan milik bersama (gono-gini/tepung kaya). Di Desa Kemang, untuk lahan sawah, persentase rumah tangga yang belahan milik isteri (23 %), gono-gini (19,9 %) dan suami (15,9 %). Pola yang sama juga dijumpai di Desa Cisarua Sukabumi, yakni milik isteri 3,4 %. Gono-gini (9 %) isteri ( 4 %) dan suami (3,9 %). Dalam hal lahan kering, di Desa Kemang-Cianjur ditemukan lahan milik suami (23 %), gono-gini 20,7 %) dan isteri (17,6 %). Di Desa Caringin-Bogor persentase milik gono-gini (13,5 %), milik suami (10,6 %) dan milik isteri masing-masing (3,65 %); sementara di Desa Cisarua, milik gono-gini dominan (8 %), milik isteri sekitar (4%),dan milik suami hanya (2 %) saja. Menurut rata-rata luas lahan kering ,di Desa Kemang untuk milik gono-gini, milik suami dan milik isteri berturut-turut seluas 23,53 are, 14 are dan 9 are; sementara di Cisarua-Sukabumi seluas 11 are pada gono-gini, 1,2 are untuk suami dan hanya 0,12 are pada isteri. Adapun Desa Caringin, pada suami lebih luas 0,85 are, diikuti oleh gono-gini dan isteri, dengan luasan kurang dari separuhnya.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

MODEL PENGEMBANGAN WILAYAH BERBASIS PERTANIAN DI KABUPATEN OGAN KOMERING ULU TIMUR PASCA PEMEKARAN - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

MODEL PENGEMBANGAN WILAYAH BERBASIS PERTANIAN DI KABUPATEN OGAN KOMERING ULU TIMUR PASCA PEMEKARAN - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Komoditas padi (pertanian lahan basah) merupakan spesifikasi aktivitas pertanian yang tidak di- miliki oleh dua kabupaten lain (OKU dan OKU Selatan). Komo- ditas padi merupakan kompetensi inti yang dimiliki oleh OKU Timur sebagai kekuatan pengembangan. Sementara kelapa sawit dan karet (pertanian lahan kering) dimiliki oleh kabupaten lain, tetapi OKU Timur memiliki potensi pengem- bangan lahan kering yang tidak

Baca lebih lajut

Analisis Perubahan Tutupan Lahan di Daerah Aliran Sungai Wampu, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara

Analisis Perubahan Tutupan Lahan di Daerah Aliran Sungai Wampu, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara

Pada tahun 2015 perubahan hutan mangrove dan hutan lahan kering primer menjadi kebun karet sangat besar. Salah satu penyebab perubahan ini adalah tingginya kebutuhan masyarakat dari segi ekonomi. Perubahan menjadi karet banyak dipilih oleh masyarakat karena karet memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi. Menurut Setyamidjaya(1993), karet merupakan bahan baku lebih dari 50.000 jenis barang. Dari produksi karet, 46% digunakan untuk pembuatan ban dan selebihnya untuk karet busa, sepatu, dan beribu jenis barang lainnya. Karet dihasilkan oleh tidak kurang dari 20 negara di dunia. Negara-negara penghasil karet terbesar terletak di Asia Tenggara, yaitu Malaysia, Indonesai dan Thailand.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

POLA PEMELIHARAAN TERNAK SAPI BALI DI LA

POLA PEMELIHARAAN TERNAK SAPI BALI DI LA

Dalam kurun waktu lima tahun terakhir terjadi penurunan populasi ternak sapi hinggan 11,9% (BPS 2003). Pengiriman bibit sapi ke luar daerah secara terus menerus dalam kurun waktu yang lama bisa mengakibatkan terjadinya penurunan mutu, bobot jual saat ini berkisar 250-350 kg sementara potensi sapi Bali berkisar 450-500 kg. Perbaikan kualitas mengalami cukup banyak hambatan dengan sistem pemeliharaan yang ada. Puspadi dkk., 2004, menyatakan bahwa penurunan produksi sapi Bali di NTB disebabkan oleh faktor teknis dan sosial. Ditinjau dari faktor teknis, pemeliharaan sapi yang dilakukan peternak relatif sederhana dengan tingkat penerapan teknologi tepat guna sangat rendah. Kondisi yang demikian disebabkan oleh faktor sosial masyarakat, dimana belum adanya perubahan sifat usaha ternak sapi yang masih menganggap sebagai usaha sampingan pada sistem usahatani secara umum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pemeliharaan dan permasalahan yang dihadapi dalam menghasilkan ternak sapi Bali pada lahan kering dataran rendah.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

MANAJEMEN USAHATANI PADALAHAN KERING DI KABUPATEN GUNUNG KIDUL DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

MANAJEMEN USAHATANI PADALAHAN KERING DI KABUPATEN GUNUNG KIDUL DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

Selama ini pemanfaatan lahan kering kurang dapat diandalkan, hal ini karena sifat dan karakreristik lahan ini yang tidak mendukung produksi. Tingkat kesuburan yang rendah menyebabkan produktivitas menjadi rendah.Dari sisi letak, lahan kering pada umumnya memiliki tingkat kemiringan yang curam sehingga peka terhadap erosi, terutama bila diusahakan untuk tanaman semusim. Faktor keterbatasan sumber air menyebabkan usahatani tidak dapat dilakukan dengan optimal. Faktor pembatas itulah yang menjadi kendala dalam pengembangan usahatani di lahan kering. Oleh karena itu diperlukan beberapa tindakan untuk mengatasinya.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...