Lahan Padi Pasang Surut

Top PDF Lahan Padi Pasang Surut:

INOVASI TEKNOLOGI LAHAN RAWA PASANG SURUT MENDUKUNG KEDAULATAN PANGAN NASIONAL (TECHNOLOGICAL INNOVATION TIDAL SWAMP LAND TO SUPPORT NATIONAL FOOD SOVEREIGNTY)

INOVASI TEKNOLOGI LAHAN RAWA PASANG SURUT MENDUKUNG KEDAULATAN PANGAN NASIONAL (TECHNOLOGICAL INNOVATION TIDAL SWAMP LAND TO SUPPORT NATIONAL FOOD SOVEREIGNTY)

Potensi lahan rawa pasang surut sangat besar, tersebar di Sumatera, Kalimantan, Papua, dan Sulawesi. Sebagian lahan tersebut sudah dibuka dan diusahakan. Namun perlu didukung oleh inovasi teknologi karena umumnya lahan rawa pasang surut memiliki beberapa kendala meliputi aspek teknis, infrastruktur, dan aspek sosial ekonomi serta kelembagaan. Dengan adanya sentuhan teknologi, lahan rawa pasang surut berpeluang besar untuk meningkatkan produksi padi di lahan rawa pasang surut sehingga berkontribusi signifikan terhadap produksi padi nasional, bahkan dapat dijadikan sebagai lumbung pangan nasional. Beberapa inovasi teknologi budidaya padi di lahan rawa pasang surut yang terkait dengan tanah dan air antara lain: penyiapan lahan, penataan lahan, pengelolaan air, pengelolaan hara dan pupuk. Apabila dilakukan optimalisasi lahan rawa pasang surut dengan dukungan inovasi teknologi pengelolaan dan budidaya yang baik, peningkatan intensitas pertanaman (IP 200), maka dapat diperoleh tambahan produksi sebesar 3,5 juta ton gabah per tahun. Pencapaian optimalisasi di atas dapat dilakukan secara bertahap, penerapan asas prioritas, berkesinambungan, sistematis, dan fokus.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

GATRA BUDIDAYA PADI DALAM PENGEMBANGAN PERTANIAN LAHAN PASANG SURUT MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN (Studi Kasus Danda Besar, Kabupaten Barito Kuala) RICE CULTIVATION ASPECTS OF DEVELOPMENT TIDAL SWAMPS AGRICULTURE SUPPORTED TO FOOD SECURITY (Case study of Dan

GATRA BUDIDAYA PADI DALAM PENGEMBANGAN PERTANIAN LAHAN PASANG SURUT MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN (Studi Kasus Danda Besar, Kabupaten Barito Kuala) RICE CULTIVATION ASPECTS OF DEVELOPMENT TIDAL SWAMPS AGRICULTURE SUPPORTED TO FOOD SECURITY (Case study of Dan

a. Pengelolaan lahan, meliputi: (1) Pengelolaan lahan luapan B dengan sistem surjan bertahap dan sistem surjan pada lahan luapan C (untuk meningkatkan diversifikasi tanaman). (2) Introduksi alat mesin pertanian pra panen dan pasca panen sesuai dengan karakteristik lahan dengan sistem usaha pelayanan jasa untuk mengatasi keterbatasan tenaga kerja mengingat rerata pemilikan lahan dua ha tiap keluarga. b. Pengelolaan air: Pengelolaan air di petak tersier (tata air mikro). Ini merupakan pengelolaan air di lahan usahatani yang menentukan secara langsung kondisi lingkungan bagi pertumbuhan tanaman, menjadi tanggung jawab petani dan dikelola secara kelompok. Pada lahan tipe luapan B perlu diterapkan pengaturan air sistem satu arah, sedang pada tipe luapan C pengaturan airnya dengan sistem tabat dengan memasang pintu ”stoplog” pada saluran tertier dengan memanfaatkan air hujan atau konservasi air di bagian hulu.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

OPTIMALISASI LAHAN RAWA PASANG SURUT UNTUK PENINGKATAN PRODUKTIVITAS PADI DI PROVINSI SUMATERA UTARA

OPTIMALISASI LAHAN RAWA PASANG SURUT UNTUK PENINGKATAN PRODUKTIVITAS PADI DI PROVINSI SUMATERA UTARA

Hasil analisis sidik ragam terhadap parameter panjang malai (Tabel 1) menunjukkan bahwa perlakuan varietas berpengaruh nyata, sedangkan perlakuan pemupukan dan kombinasi perlakuan varietas dan pemupukan berpengaruh tidak nyata. Rata-rata panjang malai yang tertinggi terdapat pada perlakuan V2P3 (Varietas Inpara 3) yaitu 26,88 cm dan terendah pada perlakuan V1P1 (Varietas Inpara 2) yaitu 20,77 cm. Berdasarkan hasil uji lanjut terhadap parameter panjang malai diketahui bahwa perlakuan varietas berbeda nyata antara V1 dengan V2 dan V3, namun V2 tidak berbeda nyata dengan V3 sedangkan perlakuan pemupukan, perlakuan V1P1 berbeda nyata terhadap kombinasi perlakuan lainnya. Bervariasinya penampilan tinggi tanaman, jumlah anakan produktif, dan panjang malai yang diuji disebabkan oleh faktor genetik tanaman. Dari ketiga varietas yang diuji yakni Indragiri, Inpara 2, dan Inpara 3, varietas Inpara 2 dan Inpara 3 menunjukkan pertumbuhan yang baik di lahan pasang surut di Desa Paluh manan, Kecamatan Hamparan Perak Kabupaten Deli Serdang. Hal ini menunjukkan bahwa varietas Inpara 2 dan Inpara 3 sesuai untuk ditanam di lahan rawa pasang surut di Desa Paluh Manan, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang. Hasil penelitian ini menguatkan hasil penelitian sebelumnya bahwa varietas Inpara memiliki kemampuan beadaptasi lebih tinggi di lahan rawa dibandingkan varietas unggul padi sawah irigasi lainnya ( Nugraha et al, 2011).
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

DAYA HASIL GENOTIPE PADI PADA MUSIM TANAM BERBEDA DI LAHAN PASANG SURUT KABUPATEN PELALAWAN

DAYA HASIL GENOTIPE PADI PADA MUSIM TANAM BERBEDA DI LAHAN PASANG SURUT KABUPATEN PELALAWAN

Kesulitan utama untuk meningkatkan indeks pertanaman (IP) di lahan pasang surut adalah cekaman kekeringan, banjir, dan intensitas serangan hama yang tinggi sehingga lahan tidak dapat ditanami sepanjang musim. Petani padi pasang surut di Provinsi Riau umumnya menanam padi satu kali setahun dengan varietas lokal. Musim tanam jatuh pada bulan Agustus hingga Februari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pergeseran musim tanam terhadap daya hasil genotipe padi dan peluang untuk meningkatkan IP. Penanaman dilaksanakan pada bulan Maret-Juni 2013, Juli-Oktober 2013, Oktober 2013- Januari 2014. Penelitian dirancang sesuai rancangan acak kelompok lengkap yang diulang tiga kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa musim tanam mempengaruhi hasil padi. Hasil tertinggi genotipe terbaik sebesar 7.87 t/ha GKG diperoleh pada MT Juli-Oktober, disusul hasil pada MT Oktober-Januari sebesar 7,27-7,49 t ha -1 GKG. Hasil pada MT Maret-Juni hanya
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Keragaan Varietas Inpara di Lahan Rawa Pasang Surut Performance of Varieties Inpara in Swampland

Keragaan Varietas Inpara di Lahan Rawa Pasang Surut Performance of Varieties Inpara in Swampland

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa varietas Inpara memiliki peluang yang cukup baik untuk dikembangkan di lahan rawa pasang surut menggantikan varietas Margasari dan varietas lokal. Selama ini padi lokal mendominasi pertanaman padi di lahan rawa terutama lahan rawa pasang surut. Hasil padi lokal antara 1,0 - 2,5 t/ha dengan umur 6 - 9 bulan. Pemanfaatan lahan rawa secara optimum dengan peningkatan luas tanam dan indeks pertanaman akan memberikan kontribusi cukup besar dalam peningkatan produksi beras nasional. Kontribusi varietas unggul terhadap peningkatan produksi padi di lahan rawa juga sangat signifikan. Penggantian varietas padi lokal yang berumur 6 - 9 bulan ke padi unggul yang berumur 4 bulan (varietas Inpara) akan meningkatkan produksi padi di lahan rawa secara signifikan antara 50 – 100 persen. Hal ini akan menunjukkan bahwa lahan rawa dapat memberi sumbangan besar
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

ANALISIS PENDAPATAN DAN KESEJAHTERAAN PETANI PADI LOKAL LAHAN PASANG SURUT DI KAPUAS LOCAL RICE FARMERS INCOME AND WELFARE ANALYSIS AT TIDAL LAND IN KAPUAS Jhon Wardie

ANALISIS PENDAPATAN DAN KESEJAHTERAAN PETANI PADI LOKAL LAHAN PASANG SURUT DI KAPUAS LOCAL RICE FARMERS INCOME AND WELFARE ANALYSIS AT TIDAL LAND IN KAPUAS Jhon Wardie

Rata-rata penggunaan pupuk, kapur, dan obat-obatan di dua lokasi penelitian masing-masing sampel bervariasi dan belum sesuai dengan anjuran. Hal ini disebabkan karena kondisi lahan dan kemampuan ekonomi petani berbeda, sehingga tidak semua petani dapat menggunakan pupuk, kapur, dan obat-obatan sesuai dengan anjuran. Pada umumnya para petani ini sadar akan manfaat pupuk, kapur, dan obat- obatan untuk kesuburan tanaman, namun karena keterbatasan dana yang dimiliki dan menyesuaikan dengan kondisi yang ada, maka penggunaannya bervariasi antara petani yang satu dan yang lainnya. Namun demikian, diharapkan petani dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia dan obat-obatan sintetis dengan beralih menambah penggunaan pupuk organik dan obat-obatan alami, sehingga sangat bermanfaat untuk meningkatkan kualitas
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

IRIGASI LAHAN LEBAK DAN PASANG SURUT TAM

IRIGASI LAHAN LEBAK DAN PASANG SURUT TAM

Ketersediaan pangan dalam jumlah cukup, mudah diakses dan dengan harga terjangkau merupakan salah satu pondasi pendukung ketahanan nasional. Gangguan terhadap ketersediaan pangan akan mengganggu keamanan dan stabilitas nasional. Oleh karena itu Pemerintah selalu dan terus berusaha agar kebutuhan pangan rakyat dapat terpenuhi dengan harga yang terjangkau. Berdasarkan hal tersebut Pemerintah telah menyusun program Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (RPPK). Dalam RPPK tersebut diamanatkan bahwa bangsa I ndonesia perlu membangun ketahanan pangan yang mantap dengan memfokuskan pada peningkatan kapasitas produksi nasional untuk lima komoditas pangan strategis, yaitu padi, jagung, kedelai, tebu dan daging sapi.
Baca lebih lanjut

50 Baca lebih lajut

Analisis Genetik Potensi Ratun Genotipe Padi (Oryza Sativa L) Spesifik Lahan Pasang Surut

Analisis Genetik Potensi Ratun Genotipe Padi (Oryza Sativa L) Spesifik Lahan Pasang Surut

Semakin tinggi batang yang disisakan pada saat panen, maka semakin banyak buku yang berisi bakal tunas tersisa dan berpotensi semakin banyak pula ratun yang akan tumbuh dan jumlah rumpun hilang akan berkurang. Jumlah buku sisa bukan hanya sebagai komponen agronomis, tetapi berkaitan dengan regulasi fisiologis tanaman ratun. Anakan yang tumbuh pada buku yang paling atas lebih cepat memasuki masa panen. Menurut Chauhan et al. (1985) dan Sun et al. (1988) dalam Vergara et al. (1998), uji viabilitas bakal tunas setelah tanaman utama dipotong, menunjukkan banyak bakal tunas yang mati pada buku yang dekat ke tanah. Hal ini merupakan alasan bahwa pemotongan yang lebih rendah menyebabkan banyak rumpun yang hilang, sehingga anakan berkurang. Tinggi pemotongan optimum menurut Quddus (1981) dan Samson (1980) dalam Vergara et al. (1988) adalah 15-20 cm. Selanjutnya menurut Harrell et al. (2009), menurunkan tinggi pemotongan tanaman utama pada saat panen diyakini mengubah parameter pertumbuhan dan hasil ratun. Ketika tinggi pemotongan diturunkan dari 40 cm menjadi 20 cm, pertumbuhan tanaman ratun diubah melalui pemindahan titik asal munculnya malai dan menunda pemasakan. Menurut Samonte et al. (2006), jumlah buku pada anakan utama padi berpengaruh langsung positif terhadap jumlah anakan maksimum, tinggi tanaman, dan bobot jerami saat panen. Menurut Huossainzade et al. (2011), tinggi pemotongan berpengaruh nyata terhadap hasil dan jumlah anakan produktif ratun
Baca lebih lanjut

166 Baca lebih lajut

Pengaruh CaCl2 dan Gum Guar terhadap Kualitas Bihun Sukun (Effects of CaCl

Pengaruh CaCl2 dan Gum Guar terhadap Kualitas Bihun Sukun (Effects of CaCl

2 Maret 2013 JURNAL TEKNOLOGI PERTANIAN UNIVERSITAS MULAWARMAN Review Pengelolaan dan Pengembangan Alsintan untuk Mendukung Usahatani Padi di Lahan Pasang Surut Management and Dev[r]

10 Baca lebih lajut

Pengaruh CaCl2 dan Gum Guar terhadap Kualitas Bihun Sukun (Effects of CaCl

Pengaruh CaCl2 dan Gum Guar terhadap Kualitas Bihun Sukun (Effects of CaCl

2 Maret 2013 JURNAL TEKNOLOGI PERTANIAN UNIVERSITAS MULAWARMAN Review Pengelolaan dan Pengembangan Alsintan untuk Mendukung Usahatani Padi di Lahan Pasang Surut Management and Dev[r]

10 Baca lebih lajut

Pengaruh CaCl2 dan Gum Guar terhadap Kualitas Bihun Sukun (Effects of CaCl

Pengaruh CaCl2 dan Gum Guar terhadap Kualitas Bihun Sukun (Effects of CaCl

2 Maret 2013 JURNAL TEKNOLOGI PERTANIAN UNIVERSITAS MULAWARMAN Review Pengelolaan dan Pengembangan Alsintan untuk Mendukung Usahatani Padi di Lahan Pasang Surut Management and Dev[r]

9 Baca lebih lajut

Respons Pertumbuhan dan Produksi Kacang Tanah  (Arachis hypogaea L.) Terhadap Pemberian Kompos Jerami Padi, Rhizobium Serta Pupuk Ca (Kalsium) pada Lahan Pasang Surut di Desa Selotong Kabupaten Langkat

Respons Pertumbuhan dan Produksi Kacang Tanah (Arachis hypogaea L.) Terhadap Pemberian Kompos Jerami Padi, Rhizobium Serta Pupuk Ca (Kalsium) pada Lahan Pasang Surut di Desa Selotong Kabupaten Langkat

T. BOUMEDINE HAMID Z, 2012. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian kompos jerami padi, rhizobium serta pupuk Ca (Kalsium) terhadap pertumbuhan dan produksi kacang tanah pada lahan pasang surut di Desa Selotong Kabupaten Langkat. Penelitian dilaksanakan di Desa Selotong Kabupaten Langkat dengan ketinggian tempat < 1 m dpl selama 4 bulan ( Mei – September 2011). Menggunakan Rancangan Petak-Petak Terpisah (RPPT) yang terdiri atas 3 faktor yaitu Faktor pertama : Kompos Jerami (petak utama) terdiri atas 3 taraf, K 0 (tanpa kompos), K 1 ( 3 ton/ha atau 1,4 kg/plot)) , K 2 (
Baca lebih lanjut

112 Baca lebih lajut

Contestation of science with farmers’ local knowledge on South Kalimantan Tidal Swampland

Contestation of science with farmers’ local knowledge on South Kalimantan Tidal Swampland

Kegiatan gotong royong yang menjadi ciri khas petani dalam suatu handil kini sudah mulai memudar dan mulai diganti dengan sistem upah. Kegiatan gotong royong dalam usahatani padi yang masih ada seperti kegiatan tanam, tetapi anggotanya semakin sedikit. Dalam kegiatan gotong royong seperti menanam padi, dahulu diikuti 30-50 petani, tetapi kini hanya diikuti sekitar 10-15 petani saja. Kegiatan gotong royong pembersihan handil yang dilakukan setahun sekali oleh semua petani dalam handil tersebut kini juga jarang dilakukan. Menurut petani, kegiatan gotong royong ini mulai berkurang sejak pemerintah memberikan bantuan pengerukan dan pembersihan handil dengan menggunakan alat berat (excavator). Para petani beranggapan bahwa handil- handil tersebut merupakan tanggung jawab pemerintah dalam rangka membantu petani untuk meningkatkan produksi padi di lahan rawa pasang surut. Kondisi ini mengindikasikan adanya konflik akibat kelompok tani yang dibentuk dan dibina melalui campur tangan pemerintah tidak mampu memberdayakan petani dalam memelihara saluran air yang ada. Ikatan dan solidaritas sosial petani dalam kelompok tani tidak sekuat seperti mereka yang terhimpun dalam kelompok handil. Apalagi kini, kelompok tani dibentuk berdasarkan kedekatan domisili dan bukan atas kedekatan hamparan usahatani. Sebaliknya, kelompok handil anggotanya didasarkan atas kedekatan hamparan usahatani. Hal lain adalah umumnya antar anggota dalam suatu handil memiliki kedekatan geneologis (asal daerah) serta adanya ikatan emosisonal yang kuat dengan kepala handil.
Baca lebih lanjut

279 Baca lebih lajut

Mekanisme Adaptasi dan Penekanan Akumulasi Fe dan Al untuk Meningkatkan Produktivitas Padi di Lahan Pasang Surut

Mekanisme Adaptasi dan Penekanan Akumulasi Fe dan Al untuk Meningkatkan Produktivitas Padi di Lahan Pasang Surut

Kultur Hara : Pertama-tama untuk benih umur empat minggu terlebih dahulu disemai. Tahapan-tahapannya adalah benih padi direndam dengan air bebas ion selama dua hari, kemudian benih disemai di atas kertas semai selama empat hari, tempat semai diatur tetap dalam kondisi basah. Selanjutnya benih dipindah ke dalam bak media larutan adaptasi yang sudah berisi aquadest ditambah komposisi hara Yoshida setengah konsentrasi. Selama benih berada dalam larutan adaptasi, tetap dilakukan pengecekan terhadap media larutan, dan larutan yang hilang akibat penguapan dilakukan penambahan dengan larutan yang sama dan volume larutan di dalam bak dipertahankan. Setelah tanaman berada dua atau empat minggu di larutan adaptasi, kemudian masing-masing genotipe diberi perlakuan (stres Fe) sesuai dengan konsentrasi pada masing-masing umur bibit (dua dan/atau empat minggu) dan nilai pH larutan ditetapkan menjadi pH=4. Parameter yang diamati antara lain: nilai pH larutan, persentase bronzing di daun, plak besi di permukaan akar, distribusi Fe dalam jaringan akar, ukuran aerenchyma akar, kadar Fe di akar, kadar Fe di tajuk.
Baca lebih lanjut

115 Baca lebih lajut

Studi pengendalian keracunan besi pada padi di lahan pasang surut melalui keragaman genotipe padi dan ameliorasi lahan

Studi pengendalian keracunan besi pada padi di lahan pasang surut melalui keragaman genotipe padi dan ameliorasi lahan

Penelitian bertujuan untuk 1) mempelajari pengaruh dua level konsentrasi Fe dalam larutan hara terhadap gejala keracunan besi dan pertumbuhan tanaman, 2) mempelajari mekanisme toleransi tanaman padi terhadap keracunan besi, dan 3) mendapatkan genotipe padi yang toleran atau agak toleran terhadap keracunan besi untuk ditanam di lapang. Penelitian dilaksanakan di rumah kaca menggunakan media larutan hara Yoshida yang ditambah Fe sesuai perlakuan. Penelitian merupakan percobaan faktorial dengan 2 faktor yaitu konsentrasi Fe (143 dan 325 ppm) dan 20 genotipe padi. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan konsentrasi besi dari 143 ppm menjadi 325 ppm Fe meningkatkan gejala keracunan besi pada tanaman, menurunkan jumlah anakan, bobot tajuk dan bobot akar tanaman. Genotipe peka mengakumulasi Fe di daun lebih tinggi dari genotipe toleran. Genotipe toleran menahan Fe lebih banyak di permukaan akar (plak Fe) dan mempunyai ratio Fe batang/daun yang lebih tinggi dibandingkan genotipe peka. Adanya kemampuan genotipe toleran untuk menahan Fe di permukaan akar menunjukkan adanya mekanisme avoidance (penghindaran) terhadap keracunan besi. Berdasarkan skor gejala keracunan besi umur 4 minggu pada perlakuan cekaman 325 ppm Fe, diperoleh 5 genotipe dengan skor terendah (agak toleran) yaitu genotipe Inpara-1, Inpara-2, Inpara-4, galur TOX4136-5-1-1- KY-3 dan BP1031F-PN-25-2-4-KN-2.
Baca lebih lanjut

335 Baca lebih lajut

Agronomi ratun genotipe-genotipe padi potensial untuk lahan pasang surut

Agronomi ratun genotipe-genotipe padi potensial untuk lahan pasang surut

Ratun tanaman padi merupakan tunas yang tumbuh dari tunggul batang yang telah dipanen dan menghasilkan anakan baru hingga dapat dipanen (Krishnamurthy 1988). Praktek budidaya tanaman padi-ratun telah lama dilakukan petani di daerah tropis dan di daerah beriklim sedang (Gardner et al. 1991). Di Indonesia, budidaya ini banyak dilakukan untuk padi lokal yang berumur panjang. Hasil ratun sering disebut sebagai padi singgang atau turiang. Padi lokal yang berumur panjang, setelah panen tanaman utama, akan dibiarkan oleh petani hingga musim tanam tahun berikutnya. Dalam periode tersebut petani akan memanen ratun dalam waktu sekitar setengah dari periode tanaman utama, dengan produksi berkisar antara 40-60% dari panen tanaman utamanya (Vergara et al. 1988). Beberapa keuntungan yang dapat diperoleh dari penerapan ratun antara lain : (a) biaya produksi lebih rendah karena tidak perlu pengolahan tanah dan penanaman ulang, (b) pupuk yang dibutuhkan lebih sedikit, yaitu setengah dari dosis yang diberikan pada tanaman utama, (c) umur panen lebih pendek, dan (d) hasil yang diperoleh dapat memberikan tambahan produksi dan meningkatkan produktivitas (Krishnamurthy 1988; Nair dan Rosamma 2002).
Baca lebih lanjut

225 Baca lebih lajut

Studi pengendalian keracunan besi pada padi di lahan pasang surut melalui keragaman genotipe padi dan ameliorasi lahan

Studi pengendalian keracunan besi pada padi di lahan pasang surut melalui keragaman genotipe padi dan ameliorasi lahan

Penelitian bertujuan untuk 1) mempelajari pengaruh dua level konsentrasi Fe dalam larutan hara terhadap gejala keracunan besi dan pertumbuhan tanaman, 2) mempelajari mekanisme toleransi tanaman padi terhadap keracunan besi, dan 3) mendapatkan genotipe padi yang toleran atau agak toleran terhadap keracunan besi untuk ditanam di lapang. Penelitian dilaksanakan di rumah kaca menggunakan media larutan hara Yoshida yang ditambah Fe sesuai perlakuan. Penelitian merupakan percobaan faktorial dengan 2 faktor yaitu konsentrasi Fe (143 dan 325 ppm) dan 20 genotipe padi. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan konsentrasi besi dari 143 ppm menjadi 325 ppm Fe meningkatkan gejala keracunan besi pada tanaman, menurunkan jumlah anakan, bobot tajuk dan bobot akar tanaman. Genotipe peka mengakumulasi Fe di daun lebih tinggi dari genotipe toleran. Genotipe toleran menahan Fe lebih banyak di permukaan akar (plak Fe) dan mempunyai ratio Fe batang/daun yang lebih tinggi dibandingkan genotipe peka. Adanya kemampuan genotipe toleran untuk menahan Fe di permukaan akar menunjukkan adanya mekanisme avoidance (penghindaran) terhadap keracunan besi. Berdasarkan skor gejala keracunan besi umur 4 minggu pada perlakuan cekaman 325 ppm Fe, diperoleh 5 genotipe dengan skor terendah (agak toleran) yaitu genotipe Inpara-1, Inpara-2, Inpara-4, galur TOX4136-5-1-1- KY-3 dan BP1031F-PN-25-2-4-KN-2.
Baca lebih lanjut

182 Baca lebih lajut

Bahan Tayang Balittra 25 29 April 2016 Draf Final

Bahan Tayang Balittra 25 29 April 2016 Draf Final

RPL Padi Rekomendasi Pengelolaan Lahan untuk Pengembangan Padi di Lahan Rawa Pasang Surut, A terluapi pasang kecil, dataran rendah, iklim basah VARIETAS REKOMENDASI : Siam Arjan, Siam [r]

56 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...