Lahan Pertanian

Top PDF Lahan Pertanian:

PENDAHULUAN  Analisis Alih Fungsi Lahan Pertanian ke Non Pertanian di Desa Ajibarang Wetan, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas.

PENDAHULUAN Analisis Alih Fungsi Lahan Pertanian ke Non Pertanian di Desa Ajibarang Wetan, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas.

Masalah pangan merupakan masalah yang sangat penting karena menyangkut kebutuhan dasar hidup manusia, untuk menghadapi masalah ini pemerintah harus menjamin ketersediaan lahan. Lahan merupakan faktor produksi utama yang tidak dapat digantikan dalam usaha tani. Penyediaan lahan pertanian berkaitan dengan kapasitas produksi pangan, yang ditentukan oleh luas lahan produksi, produktivitas lahan, tingkatan kebutuhan konsumsi pangan (ketergantungan pada beras), laju luasan konversi, dan jumlah penduduk (Rusdiadi, 2008 dalam Nugraheni, 2009). Proses alih fungsi lahan yang marak terjadi saat ini berdampak pada ketersediaan lahan untuk pertanian semakin menurun, ketersedian lahan untuk masa yang akan datang dapat dilihat dengan mengetahui tingkat keinginan petani untuk melakukan alih fungsi lahan. Tingkat keinginan petani untuk melakukan alih fungsi lahan diklasifikasikan berdasarkan rentang waktu petani mempunyai keinginan melakukan alih fungsi lahan pertaniannya. Berdasarkan Tabel 1.3 terdapat 3 kelas tingkat keinginan petani melakukan alih fungsi lahan pertanian, yaitu tingkat keinginan tinggi, sedang, dan rendah.
Baca lebih lanjut

33 Baca lebih lajut

POTENSI SUMBERDAYA LAHAN PERTANIAN

POTENSI SUMBERDAYA LAHAN PERTANIAN

Selanjutnya Irianto (2009) menambahkan bahwa dengan adanya rencana pembuatan jalan tol Trans Jawa, maka ketersediaan lahan subur dan intensif akan terancam dan diperkirakan akan terjadi alih fungsi lahan pertanian lebih dari 4.500 ha. Selain itu, akan terjadi alih fungsi lahan secara tidak langsung sebagai dampak dari pengembangan wilayah akibat adanya pembuatan jalan tol Trans Jawa, dan dapat mencapai 10-20 kali lipat selama lima tahun kemudian. Hal ini akan menjadi ancaman tersendiri bagi keberlanjutan swasembada beras dan rencana swasembada komoditas lainnya, dimana inovasi teknologi yang serba unggul sekalipun diperkirakan tidak akan mampu bertahan dengan makin hilangnya lahan pertanian produktif tersebut, kecuali dengan peningkatan indeks pertanaman (IP) yang cukup tinggi, misalnya IP Padi 400 yang tentunya membutuhkan teknologi dan penanganan khusus.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Lahan Pertanian Dan Swasembada Pangan

Lahan Pertanian Dan Swasembada Pangan

Hal itu menggambarkan potret pertanian modern yang hanya mementingkan hasil secara cepat, tanpa mempertimbangkan kepentingan terjaganya ekosistem lahan pertanian. Dalam kondisi seperti itu, ruang konservasi menjadi penting untuk dihadirkan dalam setiap usaha pertanian. Konservasi lahan pasca panen menjamin kelangsungan usaha pertanian; terjaganya kesuburan tanah (pemulihan humus tanah yang telah terkuras selama proses tanam sebelumnya) dan memperbaiki struktur tanah yang rusak.

4 Baca lebih lajut

alih fungsi lahan pertanian

alih fungsi lahan pertanian

Alih fungsi lahan pertanian terus terjadi menjadi kawasan perkebunan, industri dan perumahan. Meski telah memiliki UU yang mengatur larangan alih fungsi lahan pertanian sejak beberapa tahun lalu, saat ini kurang dari separuh kabupaten/kota menindaklanjutinya. Aba Kumbara, petani, tengah berjalan di pematang sawah di Kampung caringin, Desa Sukamakmur, Cikarang Utara. Dia baru saja menyelesaikan pekerjaannya merawat tanaman yang mulai ditumbuhi bulir-bulir padi.

13 Baca lebih lajut

APLIKASI TEKNIK PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK IDENTIFIKASI KERUSAKAN LAHAN PERTANIAN AKIBAT ERUPSI GUNUNG SINABUNG DI KABUPATEN KARO.

APLIKASI TEKNIK PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK IDENTIFIKASI KERUSAKAN LAHAN PERTANIAN AKIBAT ERUPSI GUNUNG SINABUNG DI KABUPATEN KARO.

Erupsi Gunung Sinabung yang terjadi di Kabupaten Karo pada akhir 2013 hingga memasuki awal tahun 2014 telah membawa banyak kerugian yang sangat besar bagi masyarakat Kabupaten Karo terutama dibidang pertanian. Semburan awan panas dan hujan abu vulkanik telah merusak ribuan hektar lahan pertanian di empat kecamatan yaitu: Kecamatan Payung, Kecamatan Simpang Empat, Kecamatan Naman Teran dan Kecamatan Tigan Derket di Kabupaten Karo. Semakin tingginya teknologi seperti sekarang ini memungkinkan dapat mengidentifikasi kerusakan lahan pertanian di Kabupaten Karo dengan menggunakan satelit. Dari hasil rekaman satelit tersebut diperoleh citra yang dapat dijadikan bahan dasar membuat peta kerusakan lahan pertanian dengan menggunakan teknik penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografis. Dari peta tersebut dapat di ketahui berapa luas lahan pertanian yang mengalami kerusakan. Selain itu dalam penginderaan jauh juga memerlukan uji keakuratan data Penginderaan Jauh (citra) yang menentukan seberapa efektif data tersebut digunakan untuk kegiatan interpretasi.
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

EVALUASI EKONOMI KONVERSI LAHAN PERTANIAN KE NON PERTANIAN DI DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) WADUK WONOGIRI (STUDI KASUS DI WILAYAH SUB DAS KEDUANG KABUPATEN WONOGIRI).

EVALUASI EKONOMI KONVERSI LAHAN PERTANIAN KE NON PERTANIAN DI DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) WADUK WONOGIRI (STUDI KASUS DI WILAYAH SUB DAS KEDUANG KABUPATEN WONOGIRI).

EVALUASI EKONOMI KONVERSI LAHAN PERTANIAN KE NON PERTANIAN DI DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) WADUK WONOGIRI (STUDI KASUS DI WILAYAH SUB DAS KEDUANG KABUPATEN WONOGIRI). Konversi lahan pertanian ke non pertanian akan berpengaruh pada kualitas lingkungan, akibat hilangnya manfaat multifungsi dari lahan pertanian tersebut, baik itu fungsi ekonomi, sosial maupun fungsi lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui laju konversi lahan pertanian ke nonpertanian di Sub-DAS Keduang; (2) mengetahui dampak konversi lahan pertanian ke non pertanian terhadap kualitas lingkungan, karena hilangnya multifungsi lahan pertanian, baik fungsi ekonomi, sosial maupun lingkungan; (3) mengetahui nilai manfaat multifungsi lahan pertanian yang hilang akibat konversi lahan pertanian ke non pertanian; (4) mengetahui kebijakan pemerintah tentang konversi lahan pertanian ke non pertanian di wilayah DAS waduk, terutama berkaitan dengan isi kebijakan, implementasi kebijakan dan pengendalian kebijakan, dan (5) menyusun arahan kebijakan dan strategi pengelolaan DAS Waduk Wonogiri.
Baca lebih lanjut

3 Baca lebih lajut

Analisis Spasial Konversi Lahan Pertanian Kota Padang Tahun 2003-2012.

Analisis Spasial Konversi Lahan Pertanian Kota Padang Tahun 2003-2012.

Terjadinya konversi lahan pada suatu wilayah dapat disebabkan oleh faktor sosial, ekonomi, dan kebijakan pemerintah. Selain aspek sosial dan ekonomi, aspek peraturan atau Undang-Undang yang mengatur tentang keberadaan dan berkelanjutan lahan-lahan pertanian saat ini juga tidak mampu membendung terjadinya konversi lahan pertanian ke non pertanian, terutama pada daerah perkotaan, salah satu contohnya adalah Kota Padang.

13 Baca lebih lajut

Identifikasi Perubahan Lahan Pertanian sebagai Pertimbangan Menyusun Kebijakan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan

Identifikasi Perubahan Lahan Pertanian sebagai Pertimbangan Menyusun Kebijakan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan

Beberapa kendala yang menjadi alasan kebijakan pengendalian konversi lahan sulit dilaksanakan yaitu: kebijakan yang kontradiktif, cakupan kebijakan yang terbatas; serta kendala konsistensi perencanaan (Nasoetion, 2003). Kebijakan yang kontradiktif, terjadi karena disatu pihak pemerintah berupaya melarang terjadinya alih fungsi, tetapi di sisi lain kebijakan pertumbuhan industri dan sektor non pertanian lainnya justru memicu terjadinya alih fungsi lahan- lahan pertanian. Kendala yang lain, cakupan kebijakan yang masih sangat terbatas. Peraturan-peraturan tersebut di atas baru dikenakan terhadap perusahaan skala besar yang akan menggunakan tanah/lahan pertanian ke non pertanian, disisi lain perubahan penggunaan tanah sawah ke non pertanian yang dilakukan secara individual atau peorangan belum tersentuh oleh peraturan. Kelemahan lain dalam peraturan perundangan yang ada yaitu Objek lahan pertanian yang dilindungi dari proses konversi ditetapkan berdasarkan kondisi fisik lahan, padahal kondisi fisik lahan relatif mudah direkayasa, sehingga konversi lahan dapat berlangsung tanpa melanggar peraturan yang berlaku. Peraturan yang ada cenderung bersifat himbauan dan tidak dilengkapi sanksi yang jelas, baik besarnya sanksi maupun penentuan pihak yang dikenai sanksi; Jika terjadi konversi lahan pertanian yang tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku sulit ditelusuri lembaga yang paling bertanggung jawab untuk menindak karena ijin konversi adalah keputusan kolektif berbagai instansi. Selain itu faktor strategis lain yang ikut mempengaruhi adalah petani sebagai pemilik lahan dan pemain dalam kelembagaan lokal belum banyak dilibatkan secara aktif dalam berbagai upaya pengendalian alih fungsi. Selain itu, belum terbangunnya komitmen, perbaikan sistem koordinasi, serta pengembangan kompetensi lembaga-lembaga formal dalam menangani alih fungsi lahan pertanian. Beberapa kelemahan dan keterbatasan tersebut di atas telah menyebabkan instrument kebijakan pengendalian alih fungsi lahan pertanian yang selama ini telah disusun tidak dapat menyentuh secara langsung simpul-simpul kritis yang terjadi di lapangan.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Analisis Potensi Lahan (Pertanian Pangan) Berdasarkan Nilai Indeks Potensi Lahan Kabupaten Bantul.

PENDAHULUAN Analisis Potensi Lahan (Pertanian Pangan) Berdasarkan Nilai Indeks Potensi Lahan Kabupaten Bantul.

Permasalahan tentang pertanian sangat kompleks dan sering dibincangkan akhir-akhir ini, dari penggunaan lahan pertanian yang telah mengalami alih fungsi lahan menjadi lahan guna permukiman akibat desakan pertumbuhan penduduk, kekeringan lahan pertanian akibat musim kemarau yang berkepanjangan, serta buruknya hasil pertanian akibat cuaca dan pemupukan yang kurang intensif. Kurangnya lahan pertanian dan kestrategisan lahan pertanian yang kurang dihiraukan serta kesesuaian guna lahan yang sangat kurang diperhatikan. Ini mengakibatkan produksi hasil pertanian yang kurang baik dan tidak maksimal. Indeks Potensi Lahan dapat menjadi salah satu solusi pemecahan permasalahan dari beberapa masalah pertanian yang terjadi saat ini. Indeks Potensi Lahan yang menglasifikasikan potensi-potensi yang ada, dari kelas tinggi sampai kelas yang rendah. Sehingga dihasilkan informasi mengenai potensi terbaik yang dapat dimanfaatkan secara maksimal sesuai dengan obyek tujuan kajian.
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

Statistik Lahan Pertanian

Statistik Lahan Pertanian

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat rahmat-Nya, buku Statistik Lahan Pertanian dapat diselesaikan. Buku Statistik ini berisi tentang data luas lahan pertanian Indonesia lima tahun terakhir (2009-2013) yaitu: 1) luas lahan sawah menurut provinsi dan menurut kabupaten, 2) luas lahan sawah irigasi menurut provinsi dan menurut kabupaten, 3) luas lahan sawah non irigasi menurut provinsi dan menurut kabupaten, 4) luas lahan tegal/kebun menurut provinsi dan menurut kabupaten, 5) luas lahan ladang/huma menurut provinsi dan menurut kabupaten, dan 6) luas lahan kering sementara tidak diusahakan menurut provinsi dan menurut kabupaten.
Baca lebih lanjut

216 Baca lebih lajut

Keterkaitan Pertumbuhan Penduduk dengan Perubahan Penggunaan Lahan Pertanian ke Non Pertanian dan Luas Lahan Kritis

Keterkaitan Pertumbuhan Penduduk dengan Perubahan Penggunaan Lahan Pertanian ke Non Pertanian dan Luas Lahan Kritis

penggunaan lahan pertanian terkait dengan beberapa faktor yaitu manusia, pertumbuhan penduduk, dan lingkungan fisik lahan. Kualitas manusia ditentukan umur, kepribadian, dan pendidikan, serta segala sesuatu yang menentukan kualitas manusia dalam menentukan keputusan. Misalkan petani muda berpendidikan yang memiliki pemikiran yang sudah maju akan lebih cepat menerima teknologi baru di bidang pertanian dibandingkan petani tua yang konservatif. Kualitas manusia dan jumlah penduduk mempengaruhi pola penggunaan lahan. Selain itu tingkat perubahan penggunaan lahan terkait dengan tingkat kesesuaian lahan dan lingkungan fisik lahan. Penggunaan lahan pada daerah datar lebih cepat berubah menjadi penggunaan lain dibandingkan dengan di daerah yang berlereng. Daerah datar lebih subur dibandingkan daerah berlereng, karena daerah yang berlereng lebih banyak terjadi erosi dan longsor akibat curah hujan yang terjadi sehingga bahan tanah yang subur yang berada diatas permukaan terbawa oleh air menuju daerah yang lebih rendah (Saeful Hakim dan Nasoetion, 1996).
Baca lebih lanjut

155 Baca lebih lajut

Jurusan Sosial Ekonomi, Fakultas Pertanian, Universitas Andalas, Padang (osmetttgmail.com) Abstrak - Memperkuat dan Melindungi Akses Petani atas Lahan Pertanian:Kelembagaan Formal Lahan Pertanian di Indonesia - Repositori Universitas Andalas

Jurusan Sosial Ekonomi, Fakultas Pertanian, Universitas Andalas, Padang (osmetttgmail.com) Abstrak - Memperkuat dan Melindungi Akses Petani atas Lahan Pertanian:Kelembagaan Formal Lahan Pertanian di Indonesia - Repositori Universitas Andalas

UUPA dan berbagai UU dan peraturan yang menyertainya bisa dikatakan lahir dengan niat untuk memfasilitasi suatu proses pertanian yang efisien, adil, dan berkelanjutan. Orientasi kelembagaan lahan pertanian seperti ini mestinya dimaksudkan untuk solusi masalah yang muncul dari situasi nyata pertanian Indonesia pada saat itu yang dicirikan oleh dominasi pertanian skala kecil dan besarnya jumlah pertanian bagi hasil — yang dalam literatur dianggap tidak saja tidak efisien tetapi juga tidak adil dan tidak berkelanjutan. UUPA dan berbagai UU dan peraturan yang menyertainya kelihatan jelas mengarah kepada suatu pola pertanian yang dilaksanakan oleh petani pemilik penggarap, petani yang sesungguhnya karena menggarap lahan pertanian miliknya sendiri. Pola pertanian seperti ini dianggap akan berlangsung secara efisien, adil, dan berkelanjutan. UU Bagi Hasil yang lahir mendahului UUPA, menurut sebuah sumber, dimaksudkan untuk menekan dampak negatif pertanian bagi hasil menjelang diberlakukannya UUPA yang akan meredistribusi lahan (land reform) dan secara bertahap menghabisi pertanian bagi hasil.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

BAB II LANDASAN TEORI A. ALIH FUNGSI LAHAN 1. Pengertian Alih Fungsi Lahan Pertanian - ANALISIS DAMPAK ALIH FUNGSI LAHAN PERTANIAN TERHADAP KESEJAHTERAAN PETANI DALAM PERSPEKTIF EKONOMI ISLAM (Studi Pada Lahan sawah Kecamatan Pagelaran Kabupaten peringsew

BAB II LANDASAN TEORI A. ALIH FUNGSI LAHAN 1. Pengertian Alih Fungsi Lahan Pertanian - ANALISIS DAMPAK ALIH FUNGSI LAHAN PERTANIAN TERHADAP KESEJAHTERAAN PETANI DALAM PERSPEKTIF EKONOMI ISLAM (Studi Pada Lahan sawah Kecamatan Pagelaran Kabupaten peringsew

Lahan merupakan sumber daya alam yang memiliki fungsi sangat luas dalam memenuhi berbagai kebutuhan manusia dari sisi ekonomi lahan merupakan input tetap yang utama bagi berbagai kegiatan produksi komoditas pertanian dan non-pertanian. Banyaknya lahan yang digunakan untuk setiap kegiatan produksi tersebut secara umum merupakan permintaan turunan dari kebutuhan dan permintaan komoditas yang dihasilkan. Oleh karena itu perkembagan kebutuhan lahan untuk setiap jenis kegiatan produksi akan ditentukan oleh perkembagan jumlah permintaan setiap komoditas. Pada umumnya komoditas pangan kurang elastis terhadap pendapatan dibandingkan permintaan komoditas nonpertanian, konsekuensinya adalah pembangunan ekonomi yang membawa kepada peningkatan pendapatan cenderung menyebabkan naiknya permintaan lahan untuk kegiatan di luar pertanian dengan laju lebih cepat dibandingkan kenaikan permintaan lahan untuk kegiatan pertanian 1
Baca lebih lanjut

46 Baca lebih lajut

Hubungan patron klien antara pemilik lahan dengan buruh tani (studi di Desa Sipangan Bolon kecamatan Girsang Sipangan Bolon Kabupaten Simalungun)

Hubungan patron klien antara pemilik lahan dengan buruh tani (studi di Desa Sipangan Bolon kecamatan Girsang Sipangan Bolon Kabupaten Simalungun)

Salah satu provinsi di Indonesia yang penduduknya terdapat banyak petani yaitu Sumatra Utara, khususnya kabupaten Simalungun.Kabupaten Simalungun merupakan salah satu kabupaten yang memiliki daerah yang cukup luas, yaitu dengan luas 4.386,60 Km menjadikannya sebagaidaerah terluas ketiga setelah kabupaten Madina dan kabupaten Langkat.Kabupaten Simalungun terdiri dari 31 kecamatan dan kecamatanGirsang Sipangan Bolon merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten simalungun. Luas wilayah Kecamatan Girsang Sipangan Bolon adalah 12.039 Ha atau sekitar 2,74% dari total luas Kabupaten Simalungun. Desa Sipangan Bolon adalah salah satu diantara dua desa dan tiga kelurahan di Kecamatan Girsang Sipangan Bolon yang memiliki luas wilayah 3975 Ha. Penggunaan lahan di Desa Sipangan Bolon adalah sebagian besar ladang gembala/hutan 1975 Ha dan kemudian penggunaan lahan perkebunan rakyat yaitu 1200 Ha, penggunaan lahan pertanian sawah yaitu 200 Ha, penggunaan lahan untuk bangunan/pekarangan yaitu 15 Ha, penggunaan lahan untuk permukiman 100 Ha dan luas prasarana umum lainnya 480 Ha. (Data Monografi Desa Sipangan Bolon, 2014).
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Pengaruh atau Efek Zat Kimia Berlebihan

Pengaruh atau Efek Zat Kimia Berlebihan

Dampak negatif yang menimpa lahan pertanian dan lingkungannya perlu mendapatkan perhatian yang serius, karena limbah industri yang mencemari lahan pertanian tersebut mengandung sejumlah unsur-unsur kimia berbahaya dan merusak tanah dan tanaman serta berakibat lebih jauh terhadap kesehatan makhluk hidup.

7 Baca lebih lajut

MAKANAN DAN PERTANIAN MAKANAN DAN PERTANIAN

MAKANAN DAN PERTANIAN MAKANAN DAN PERTANIAN

lingkungan. Misalnya upaya peningkatan produksi pangan dengan menambah luasan lahan pertanian dengan menebang hutan, hal ini memang akan meningkatkan produksi pertanian karena lahan yang ditanami akan semakin luas tapi akan berdampak buruk pada lingkungan karena semakin luas lahan hutan yang dibuka akan berdampak pada menurunnya kualitas lingkungan, berkurangnya cadangan air di musim kemarau, terganggunya mahkluk hidup yang hidup dalam hutan sehingga dapat menyerang penduduk karena daerah jelajahnya yang semakin sempit, sampai pada masalah menurunnya keanekaragaman hayati, bahkan kepunahan bagi spesies tertentu.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Community of Superfamily Papilionoidea Butterflies at Nature Educational Conservation Centre Bodogol, Sukabumi, West Java

Community of Superfamily Papilionoidea Butterflies at Nature Educational Conservation Centre Bodogol, Sukabumi, West Java

Kupu-kupu P. memnon banyak ditemukan di lahan pertanian (57 individu) dibandingkan hutan heterogen (4 individu) dan hutan pinus (1 individu). Berdasarkan pengamatan, kawasan lahan pertanian memiliki beberapa vegetasi utama seperti Citrus sp., Persea americana, Manihot esculenta, Zea mays, Musa sp., Morinda citrifolia, dan Ipomoea batatas. Sumber pakan bagi larva P. memnon ialah daun dari tanaman jeruk (Citrus sp.). Yukawa (2000) melaporkan, P. memnon merupakan hama bagi tanaman jeruk. Troides vandepolli hanya ditemukan 1 individu di kawasan hutan pinus. Berdasarkan Nagypal (2000), T. vandepolli sangat sensitif terhadap destruksi habitat. Perubahan kawasan hutan menjadi kawasan pertanian merupakan ancaman bagi kelestarian spesies tersebut. Spesies ini masih ditemukan di kawasan hutan tertutup di bagian utara Sumatera dengan jumlah individu yang sedikit.
Baca lebih lanjut

104 Baca lebih lajut

Kontribusi Buruh Tani (Aron) Perempuan Terhadap Kehidupan Sosial Ekonomi Keluarga di Desa Beganding Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Karo

Kontribusi Buruh Tani (Aron) Perempuan Terhadap Kehidupan Sosial Ekonomi Keluarga di Desa Beganding Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Karo

Desa Beganding Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Karo merupakan daerah yang pada umumnya sumber pendapatannya berasal dari perkebunan buah- buahan dan sayur-mayur. Perempuan di desa ini tidak lagi hanya bekerja di rumah, tetapi juga bekerja sebagai buruh aron yang mengelola lahan pertanian milik orang lain. Buruh aron perempuan tidak lagi mengerjakan pekerjaan yang biasa dilakukan perempuan. Di desa ini perempuan juga mengerjakan pekerjaan yang biasa dilakukan laki-laki seperti menyemprot pestisida dan mengangkat alat-alat pertanian. Waktu yang digunakan para buruh aron perempuan di desa ini dalam mengelola lahan pertanian memanng tidak lebih banyak dari pada laki-laki dikarenakan setelah bekerja di lahan pertanian mereka juga harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti memasak, mencuci, dan lain-lain.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...