lahan rawa lebak

Top PDF lahan rawa lebak:

PENINGKATAN PRODUKTIVITAS PADI DAN PENDAPATAN PETANI MELALUI INTRODUKSI VARIETAS UNGGUL BARU DI LAHAN RAWA LEBAK

PENINGKATAN PRODUKTIVITAS PADI DAN PENDAPATAN PETANI MELALUI INTRODUKSI VARIETAS UNGGUL BARU DI LAHAN RAWA LEBAK

Pengkajian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan produktivitas padi dan pendapatan petani melalui introduksi varietas unggul baru (VUB) di lahan rawa lebak dangkal. Pengkajian dilaksanakan di Kecamatan Rantau Pajang, Kabupaten Ogan Ilir, Provinsi Sumatera Selatan pada musim kemarau (MK) 2014. Kegiatan pengkajian dilaksanakan di lahan rawa lebak dangkal di lahan petani (on farm research) bekerja sama dengan petani sebagai menyediakan lahan pertanian, Dinas Pertanian Kabupaten Ogan Ilir, BPP, PPL dan BPTP sebagai pemandu teknologi. Teknologi utama yang dikaji adalah varietas unggul Inpari 1, Inpari 13; Inpari 15; Inpari 20, dan Situbagendit, dengan mengunakan teknologi pengelolaan tanaman terpadu (PTT) rawa lebak. Penanaman dilakukan dengan sistem tanam jajar legowo 4:1 (25 cm x 12,5 cm x 50 cm) dengan luas tanam 2,0 ha. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa varietas unggul memberikan produktivitas masing-masing 5,0 t/ha; 6,9 t/ha; 5,4 t/ha; 6,0 dan 5,4 t/ha. dan diperoleh pendapatan finansial masing- masing Rp 9.200.000 (Inpari 1); Rp 15.850.000,- (Inpari 13); Rp 10.600.000,- (Inpari 15); Rp 12.700.000 (Inpari 20) dan Rp 10.600.000,- (Situbagendit). Penggunaan varietas unggul yang adaptif layak dikembangkan di lahan rawa lebak dangkal.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

ANALISIS KESESUAIAN LAHAN RAWA LEBAK UNTUK PENGEMBANGAN TANAMAN PADI DI KABUPATEN TEBO PROVINSI JAMBI

ANALISIS KESESUAIAN LAHAN RAWA LEBAK UNTUK PENGEMBANGAN TANAMAN PADI DI KABUPATEN TEBO PROVINSI JAMBI

Bagi sebagian besar petani yang memiliki lahan rawa lebak bukan sebagai sumber penghasilan utama keluarga. Motivasi utamanya adalah untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, umumnya mereka mengandalkan penghasilan dari perkebunan karet dan sawit baik sebagai pemilik maupun sebagai buruh (sadap karet dan mendodos sawit), atau sumber penghasilan lain yang cukup terbuka. Diversifikasi usahatani belum terjadi, karena lahannya belum ditata yang memungkinkan. Seperti ditata sebagai surjan sehingga tanaman yang dapat diusahakan lebih beragam, atau ditata sehingga memungkinkan untuk menerapkan pola usaha mina tani (Tanaman-ikan). (N. I. Minsyah, Busyra dan Araz Meylin. 2014).
Baca lebih lanjut

97 Baca lebih lajut

Kondisi Sosial Ekonomi Wanita Tani dan Pengaruhnya Terhadap Ketahanan Pangan Rumahtangga Petani Padi di Lahan Rawa Lebak Socio-Economic Condition of Women Farmers and Its Effect on Household Food Security of Rice Farmers in Lowland Swamp

Kondisi Sosial Ekonomi Wanita Tani dan Pengaruhnya Terhadap Ketahanan Pangan Rumahtangga Petani Padi di Lahan Rawa Lebak Socio-Economic Condition of Women Farmers and Its Effect on Household Food Security of Rice Farmers in Lowland Swamp

1. Kondisi sosial ekonomi wanita tani dilihat dari umur, tingkat pendidikan, jumlah anggota rumahtangga dan luas lahan adalah sebanyak 92,5 persen wanita tani berumur di kisaran usia produktif, 87,5 persen berpendidikan rendah hanya sebatas Sekolah Dasar (SD), wanita tani yang mempunyai anggota keluarga lebih dari 5 orang sebanyak 55 persen dan luas garapan untuk usahatani padi rata-rata seluas 1,2 hektar. 2. Ketahanan pangan rumahtangga wanita tani padi di lahan rawa lebak dilihat dari sisi

6 Baca lebih lajut

Sistem Tanam Padi Kontinyu di Lahan Rawa Lebak Continuous Rice Planting System Was on the paddy Fields Swamp

Sistem Tanam Padi Kontinyu di Lahan Rawa Lebak Continuous Rice Planting System Was on the paddy Fields Swamp

Perbedaan waktu tanam padi di sawah lahan rawa lebak berdampak terhadap tinggi- rendah genangan air yang diperoleh padi, dan untuk petak sawah yang ditanam padi pada bulan april minggu pertama menghasilkan perbedaan penampilan tanaman padi yang ditanam pada minggu ketiga. Perbedaan waktu tanam dua minggu antar petak pada bulan april ternyata menyebabkan lama genangan air yang tidak sama, dan untuk petak A mengalami penggenangan air sampai panen padi, dan untuk petak B ternyata genangan air sampai fase pengisian padi. Selanjutnya, waktu tanam padi di sawah rawa lebak yang berbeda bulan menyebabkan lama genangan air di sawah juga berbeda, dan untuk tanam padi pada bulan juni ternyata air genangan sampai fase anakan produktif. Perbedaan waktu tanam dengan umur bibit yang sesuai dengan rekomendasi ternyata belum dapat memperbaiki kondisi kecukupan air dalam satu siklus hidup padi di lahan rawa lebak. Air sangat berperan dalam menciptakan kondisi lumpur sehingga proses absorbsi air dan hara oleh akar padi dapat berjalan optimal. Pola penggenangan air yang tidak sama terutama lama waktu basah dan kering permukaan tanah sawah dapat berakibat seperti pengaruh prequensi pemberian air terhadap padi. Kurang air di lahan sawah menyebabkan daun padi banyak yang menggulung dan akan menurunkan laju fotosintesis padi yang selanjutnya menurunkan akumulasi fotosintat dan hasil padi (Sulistyono, 2012). Perbedaan lama air yang berkecukupan di lahan sawah akan menghasilkan penampilan pertumbuhan dan hasil padi yang menjadi berbeda, dan dalam banyak kasus tanaman padi rawa lebak pematang yang ditanam pada bulan mei dan juni mengalami tidak cukup air sehingga tanah sawah menjadi kering. Kekurangan air yang lama pada padi dapat memperlambat pembungaan, pengisian gabah dan juga hasil tanaman (Fischer and Fukai. 2003).
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

APLIKASI PUPUK KANDANG KOTORAN SAPI PADA PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN CABAI RAWIT (Capsicum frustescens L.) DI LAHAN RAWA LEBAK

APLIKASI PUPUK KANDANG KOTORAN SAPI PADA PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN CABAI RAWIT (Capsicum frustescens L.) DI LAHAN RAWA LEBAK

sepanjang tahun minimal tiga bulan dengan genangan minimal 50 cm. Sifat fisik lahan rawa lebak umumnya tergolong masih mentah, sebagian melumpur, kandungan lempung tinggi, atau gambut tebal dengan berbagai taraf kematangan dari mentah sampai matang. Lapisan bawah dapat berupa lapisan pirit (FeS 2 ) yang berpotensi masam atau pasir

7 Baca lebih lajut

DISPLAY VARIETAS INPARI PADA DUA TIPOLOGI LAHAN RAWA LEBAK DI KABUPATEN OGAN ILIRSUMATERA SELATAN

DISPLAY VARIETAS INPARI PADA DUA TIPOLOGI LAHAN RAWA LEBAK DI KABUPATEN OGAN ILIRSUMATERA SELATAN

Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Kotadaro 1 pada lahan rawa lebak dangkal dan Kotadaro 2 pada lahan rawa lebak tengahan, Kecamatan Rantau Panjang, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, dimulai pada musim kemarau 2014. Tujuan dari kegiatan ini untuk mengevaluasi daya hasil varietas inpari dan sifat agronomis sesuai dengan tipologi rawa lebak dangkal dan tengahan. Jumlah varietas yang diperagakan sebanyak 4 varietas yaitu Inpari 1, Inpari 4, Inpari 6 dan Inpari 13. Persemaian dilakukan 2 kali pindah. Bibit yang ditanam berumur 30 hari setelah semai (HSS). Sistem tanam legowo 4:1 (50 x 25 x 12,5 cm) dan jumlah bibit 2-3 bibit/lubang. Pupuk yang digunakan 150 kg Urea, 100 kg SP-36 dan 100 kg KCl/ha. Pemupukan dilakukan 2 kali yaitu pada umur 1 minggu setelah tanam (MST) dengan takaran 75 kg urea, 100 kg SP-36 dan 100 kg KCl/ha dan pada umur 4 minggu setelah tanam (MST) dengan takaran 75 kg urea/ha. Data yang dikumpulkan meliputi: tinggi tanaman, jumlah anakan produktif, panjang malai, jumlah gabah per malai, persentase gabah isi per malai, dan produksi. Metoda yang digunakan adalah pengamatan di lapangan. Data yang diperoleh disusun secara tabulasi dan dianalisis secara kuantitatif dan deskriptif. Hasil menunjukkan bahwa pertumbuhan tinggi tanaman dari varietas Inpari yang diperagakan tergolong pendek baik yang ditanam di rawa lebak dangkal maupun lebak tengahan. Jumlah anakan produktif varietas Inpari yang diperagakan tergolong sedang (11,4-13,2 batang/rumpun) di rawa lebak dangkal begitu juga di rawa lebak tengahan yaitu 14,6-16,8 batang/rumpun. Produksi gabah varietas yang diuji di rawa lebak tengahan rata-rata 6,95 ton gkp/ha lebih tinggi dari rawa lebak dangkal rata-rata 6,45 ton gkp/ha. Produksi gabah tertinggi dicapai oleh Inpari 6, Inpari 4 dan Inpari 1 dan Inpari 13 berturut-turut yaitu 7,7 ton gkp/ha, 7,4 ton gkp/ha, 6,6 ton gkp/ha dan 6,1 ton gkp/ha di rawa lebak tengahan.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Potensi pengembangan lahan rawa lebak untuk perluasan lahan padi di Kabupaten Hulu Sungai Utara Kalimantan Selatan

Potensi pengembangan lahan rawa lebak untuk perluasan lahan padi di Kabupaten Hulu Sungai Utara Kalimantan Selatan

Pembangunan dititikberatkan pada pertumbuhan sektor-sektor yang dapat memberikan kontribusi pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Pada pembangunan pertanian secara khusus dan pembangunan ekonomi secara umum, sub sektor pertanian tanaman pangan mempunyai posisi yang strategis sebagai penghasil bahan makanan pokok untuk ketahanan pangan nasional. Untuk itu perlu diupayakan melalui peningkatan produksi beras terutama yang dihasilkan dari lahan sawah. Namun pulau jawa yang merupakan wilayah produksi beras terbesar terus mengalami penyusutan luas areal sawah akibat konversi yang terus meningkat. Hal ini menuntut alternatif wilayah lain yang potensial untuk dikembangkan, salah satunya adalah lahan rawa, terutama rawa lebak yang tersebar di beberapa pulau besar di Indonesia. Kabupaten Hulu Sungai Utara adalah salah satu yang memiliki lahan rawa lebak yang luas dan potensial untuk dikembangkan. Namun dalam pengembangan budidaya pertanian di lahan rawa lebak harus diperhatikan keseimbangan ekosistem agar keberlanjutan budidaya tetap terjaga.
Baca lebih lanjut

195 Baca lebih lajut

Optimalisasi Pemupukan Dan Pengapuran Untuk Pertumbuhan Dan Produksi Kedelai Di Lahan Rawa Lebak Dengan Budidaya Jenuh Air

Optimalisasi Pemupukan Dan Pengapuran Untuk Pertumbuhan Dan Produksi Kedelai Di Lahan Rawa Lebak Dengan Budidaya Jenuh Air

Lahan rawa lebak adalah rawa yang dipengaruhi oleh adanya genangan dengan lamanya waktu genangan lebih dari 3 bulan dan tinggi genangan lebih dari 50 cm. Penciri utama lahan rawa lebak adalah tinggi dan waktu terjadinya genangan. Lahan rawa lebak menurut jangkauan pengaruh pasang dan intrusi air laut termasuk ke dalam zone III (lampiran 1) atau peraiaran air tawar pedalaman yang bebas dari pengaruh pasang, fluktuasi muka air dipengaruhi oleh curah hujan dan banjir kiriman. Berdasarkan lama dan tingginya genangan wilayah rawa lebak dibagi dalam empat tipologi, yaitu lebak dangkal, lebak tengahan, lebak dalam, dan lebak sangat dalam (Balitbangtan 2013). Masalah utama yang dihadapi dalam pengembangan lahan rawa lebak adalah pH tanah yang rendah-sedang, ketersediaan unsur hara dalam tanah relatif rendah.
Baca lebih lanjut

69 Baca lebih lajut

Strategi Alokasi Tenaga Kerja Rumahtangga Petani Padi Di Lahan Rawa Lebak Untuk Peningkatan Pendapatan Dan Mengurangi Tingkat Kemiskinan

Strategi Alokasi Tenaga Kerja Rumahtangga Petani Padi Di Lahan Rawa Lebak Untuk Peningkatan Pendapatan Dan Mengurangi Tingkat Kemiskinan

Tentu saja bila kurs dollar makin tinggi (rupiah melemah) maka standar kemiskinan yang didapatkan juga makin turun sehingga akan semakin banyak yang tergolong miskin. Merujuk pada standar BPS Indonesia yang membuat standar kemiskinan pengeluaran 1 dollars per kapita per hari; artinya bila hanya mempunyai pengeluaran 1 dollars per hari atau kurang maka individu tersebut tergolong miskin. Berdasar standar kemiskinan BPS tersebut hanya ada 6 % petani responden yang tergolong miskin. Namun bila menggunakan standar Bank Dunia dengan pengeluaran minimal 2 dollars per kapita per hari maka rumahtangga petani padi lahan rawa lebak Kabupaten HSU masih tergolong miskin. Ada sekitar 76% rumahtangga petani responden yang tergolong miskin bila menggunakan standar ini.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Model pengembangan lahan rawa lebak Berbasis sumberdaya lokal untuk peningkatan Produktivitas lahan dan pendapatan petani

Model pengembangan lahan rawa lebak Berbasis sumberdaya lokal untuk peningkatan Produktivitas lahan dan pendapatan petani

Prosiding Seminar Hasil - Hasil Penelitian IPB 2010 252 MODEL PENGEMBANGAN LAHAN RAWA LEBAK BERBASIS SUMBERDAYA LOKAL UN TUK PENINGKATAN PRODUKTIVITAS LAHAN DAN PENDAPATAN PETANI [r]

2 Baca lebih lajut

KAJIAN PENERAPAN MEKANISASI PERTANIAN DI LAHAN RAWA LEBAK DESA PUTAK - MUARA ENIM

KAJIAN PENERAPAN MEKANISASI PERTANIAN DI LAHAN RAWA LEBAK DESA PUTAK - MUARA ENIM

pakai, maka dibentuklah suatu lembaga pengelola. Lembaga pengelola yang fungsinya antara lain: menyediakan operator dan helper traktor, minyak, olie, pengelola keuangan, dan perbengkelan bila terjadi kerusakan. Lembaga ini di bawah organisasi kelompok tani dengan maksud akan mengutamakan pengolahan lahan di anggota kelompok tani kemudian kepada petani di sekitar dan bahkan dapat dikembangkan ke luar Desa Putak. Dalam usaha untuk menerapkan teknologi baru disuatu daerah tidaklah mudah akan segera diterima oleh masyarakat setempat. Menurut Didit Herdikiagung, (1992), bahwa di dalam penerapannya, teknologi akan berhadapan dengan faktor budaya, perilaku, dan nilai-nilai dimasyarakat. Disamping itu tidak akan lepas dari latar belakang sosiokulture, tingkat pendidikan dan resistensi terhadap perubahan yang berlainan akan menimbulkan persepsi yang berlainan pula terhadap penerapan teknologi dimasyarakat. Reaksi yang timbul dapat berupa penerimaan atau penolokan terhadap teknologi, disamping itu dampak ekologi yang ditimbulkannya. Secara tradisional petani sangat sulit menerima introduksi berbagai hal baru, demikian juga dalam mengintroduksi komoditas usahatani baru. Berbagai upaya perlu dilakukan untuk meyakinkan petani agar mau menerima dan menerapkan teknik budidaya di lahan rawa lebak.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Potensi pengembangan lahan rawa lebak untuk perluasan lahan padi di Kabupaten Hulu Sungai Utara Kalimantan Selatan

Potensi pengembangan lahan rawa lebak untuk perluasan lahan padi di Kabupaten Hulu Sungai Utara Kalimantan Selatan

Pembangunan dititikberatkan pada pertumbuhan sektor-sektor yang dapat memberikan kontribusi pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Pada pembangunan pertanian secara khusus dan pembangunan ekonomi secara umum, sub sektor pertanian tanaman pangan mempunyai posisi yang strategis sebagai penghasil bahan makanan pokok untuk ketahanan pangan nasional. Untuk itu perlu diupayakan melalui peningkatan produksi beras terutama yang dihasilkan dari lahan sawah. Namun pulau jawa yang merupakan wilayah produksi beras terbesar terus mengalami penyusutan luas areal sawah akibat konversi yang terus meningkat. Hal ini menuntut alternatif wilayah lain yang potensial untuk dikembangkan, salah satunya adalah lahan rawa, terutama rawa lebak yang tersebar di beberapa pulau besar di Indonesia. Kabupaten Hulu Sungai Utara adalah salah satu yang memiliki lahan rawa lebak yang luas dan potensial untuk dikembangkan. Namun dalam pengembangan budidaya pertanian di lahan rawa lebak harus diperhatikan keseimbangan ekosistem agar keberlanjutan budidaya tetap terjaga.
Baca lebih lanjut

105 Baca lebih lajut

PERTUMBUHAN DAN HASIL 3 VARIETAS PADI (Oryza sativa L.) DENGAN BERBAGAI DOSIS PUPUK HAYATI DI LAHAN RAWA LEBAK

PERTUMBUHAN DAN HASIL 3 VARIETAS PADI (Oryza sativa L.) DENGAN BERBAGAI DOSIS PUPUK HAYATI DI LAHAN RAWA LEBAK

Pencapaian produktivitas padi yang tinggi harus terus ditingkatkan dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan, diantaranya pemanfaatan pupuk hayati dan ada yang dikombinasikan dengan pupuk organik (bioorganik) mengandung unsur hara dan sejumlah mikroorganisme (Isroi, 2013). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui (i) pengaruh interaksi varietas dan pemberian pupuk hayati, (ii) pengaruh varietas padi (iii) pengaruh pupuk hayati, (iv) interaksi terbaik varietas padi dan pemberian pupuk hayati (v) varietas padi terbaik dan (vi) dosis terbaik pupuk hayati terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman padi di lahan rawa lebak.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

(m-P3BI) Lahan Rawa Lebak Dan Lahan Kering Di Bengkulu

(m-P3BI) Lahan Rawa Lebak Dan Lahan Kering Di Bengkulu

Pada lahan rawa lebak untuk mengetahui peningkatan pengetahuan dan keterampilan petani dimulai dengan pengambilan data existing penanaman padi, selanjutnya dilakukan pertemuan penjelasan inovasi teknologi budidaya padi lahan rawa dan penerapan inovasi teknologi budidaya padi lahan rawa di lapangan. Sedangkan untuk mengetahui peningkatan produktivitas padi rawa, dilakukan dengan cara membandingkan produktivitas hasil penerapan inovasi teknologi budidaya padi lahan rawa dengan produktivitas hasil existing. I novasi teknologi budidaya padi lahan rawa yang diterapkan merupakan inovasi PTT lahan rawa yang terdiri dari komponen dasar dan komponen pilihan. Komponen dasar terdiri dari : (a) varietas unggul baru. varietas unggul baru yang digunakan yaitu I npara 2, (b) bibit bermutu, (c) Pemupukan ditentukan berdasarkan hasil analisis tanah menggunakan perangkat uji tanah sawah (PUTS). Komponen pilihan terdiri dari : (a) sistem tanam legowo. 4: 1 atau 2: 1, (b) bibit muda paling lambat umur 21 hari, (c) pembuatan caren sekeliling lahan untuk mudah pengendalian keong mas. Sedangkan untuk inovasi integrasi kopi-sapi potong diarahkan untuk menghasilkan produk berkualitas yang dapat meningkatkan produktivitas memanfaatkan limbah, berupa teknologi; pengolahan kulit kopi, pakan sapi dan kompos, aplikasi pupuk organik pada lahan kopi, pendampingan kelembagaan, berupa teknologi; pengolahan kulit kopi, pakan sapi dan kompos, aplikasi pupuk organik pada lahan kopi, pendampingan kelembagaan. Data yang diamati meliputi : (a) teknologi existing budidaya padi dan (b) data komponen pertumbuhan, komponen hasil dan hasil tanaman padi rawa, (c) pertambahan berat badan sapi, (d) tingkat pengetahuan petani dan peternak, kemudian dianalisis menggunakan metode deskriptif, membandingkan hasil dicapai dengan sebelumnya (before and after) atau dengan pembanding sekitarnya (with and without), serta tingkat adopsi dan penyebaran inovasi diukuran menggunakan rumus indikator kinerja terkait
Baca lebih lanjut

79 Baca lebih lajut

1211 PENINGKATAN PRODUKTIVITAS KEDELAI VARIETAS TANGGAMUS DENGAN TEKNOLOGI BUDIDAYA JENUH AIR DI LAHAN RAWA LEBAK DANGKAL

1211 PENINGKATAN PRODUKTIVITAS KEDELAI VARIETAS TANGGAMUS DENGAN TEKNOLOGI BUDIDAYA JENUH AIR DI LAHAN RAWA LEBAK DANGKAL

Lahan rawa lebak berpotensi cukup besar untuk pengembangan dan meningkatkan produksi tanaman pangan. Budidaya jenuh air merupakan penanaman dengan memberikan irigasi terus menerus, dan membuat tinggi muka air tanah tetap (sekitar 5 cm di bawah permukaan tanah) sehingga lapisan di bawah permukaan tanah jenuh air.Tujuan penelitian adalah untuk meningkatkan produksi kedelai dan meningkatkan indeks pertanaman di lahan rawa lebak dangkal. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan faktorial dalam rancangan lingkungan acak kelompok dengan 3 ulangan. Faktor ke-satu: 4 taraf dosis pupuk N yaitu 0, 11.25, 22.50 dan 33.75 kg N ha -1 , faktor ke-dua: 4 taraf dosis pupuk P yaitu 0, 36,72 dan 108 kg P 2 0 5 ha -1 ,
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Model pengelolaan lahan rawa lebak berbasis sumberdaya lokal untuk pengembangan Usahatani berkelanjutan (studi kasus di Kecamatan Sungai Raya dan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya   Kalimantan

Model pengelolaan lahan rawa lebak berbasis sumberdaya lokal untuk pengembangan Usahatani berkelanjutan (studi kasus di Kecamatan Sungai Raya dan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya Kalimantan

Berdasarkan hasil orientasi lapangan dan informasi yang dihimpun dari beberapa petani dan aparat desa pada saat penelitian, menunjukkan bahwa kondisi lahan rawa lebak di kedua lokasi penelitian sejak tahun 2004 dengan adanya reklamasi sungai, relatif tidak mengalami penggenangan yang cukup lama, kecuali pada beberapa lokasi masih terjadi banjir apabila hujan lebat. Dan apabila terjadi banjir, penggenangan hanya berlangsung paling lama sekitar 2 minggu. Menurut penduduk setempat hal itu disinyalir akibat dari: (1) kapasitas sungai ambangah dan sungai pasak piang di bagian hilir tidak dapat menampung beban debit banjir akibat terjadinya pendangkalan karena banyaknya sedimen pada bagian dasar sungai, sedimen yang terbentuk sebagai akibat adanya aktivitas penebangan hutan di bagian hulu sungai. Sebagaimana yang ditemukan oleh Noor (2007) bahwa selain aktivitas penebangan hutan, juga adanya aktivitas berat seperti pertambangan, perlandangan intensif dan hutan yang gundul dapat berakibat pendangkalan sungai di bagian hilir. (2) tinggi genangan untuk lahan sawah hanya sekitar 40 cm khususnya sawah-sawah yang terletak di dekat sungai. Kondisi ini, apabila menggunakan batasan menurut kriteria Subagjo pada halaman 10, maka dari total luasan rawa lebak di Desa Sungai Ambangah yang mencapai 260 hektar dan 221 hektar di Desa Pasak Piang tidak masuk dalam kategori lahan rawa lebak karena batasan tinggi atau lama genangan pada kedua lokasi penelitian tersebut tidak terpenuhi. Menurut Noor (2007) rawa lebak yang telah mengalami pengatusan (drainase) setelah dilakukan reklamasi sehingga muka air turun dan lahan tidak lagi tergenang secara permanen, kecuali hanya beberapa hari apabila hujan lebat, semestinya tidak lagi dapat dikategorikan sebagai lahan rawa lebak. Lahan semacam ini lebih sesuai dikategorikan sebagai lahan tadah hujan karena karakter rawa lebak yang terkait genangan tidak lagi melekat secara inherence. Lahan semacam ini umumnya sudah dikembangkan menjadi lahan kelapa sawit, karet, jeruk, dan sebagainya.
Baca lebih lanjut

231 Baca lebih lajut

Model pengelolaan lahan rawa lebak berbasis sumberdaya lokal untuk pengembangan Usahatani berkelanjutan (studi kasus di Kecamatan Sungai Raya dan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya - Kalimantan Barat)

Model pengelolaan lahan rawa lebak berbasis sumberdaya lokal untuk pengembangan Usahatani berkelanjutan (studi kasus di Kecamatan Sungai Raya dan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya - Kalimantan Barat)

Berdasarkan hasil orientasi lapangan dan informasi yang dihimpun dari beberapa petani dan aparat desa pada saat penelitian, menunjukkan bahwa kondisi lahan rawa lebak di kedua lokasi penelitian sejak tahun 2004 dengan adanya reklamasi sungai, relatif tidak mengalami penggenangan yang cukup lama, kecuali pada beberapa lokasi masih terjadi banjir apabila hujan lebat. Dan apabila terjadi banjir, penggenangan hanya berlangsung paling lama sekitar 2 minggu. Menurut penduduk setempat hal itu disinyalir akibat dari: (1) kapasitas sungai ambangah dan sungai pasak piang di bagian hilir tidak dapat menampung beban debit banjir akibat terjadinya pendangkalan karena banyaknya sedimen pada bagian dasar sungai, sedimen yang terbentuk sebagai akibat adanya aktivitas penebangan hutan di bagian hulu sungai. Sebagaimana yang ditemukan oleh Noor (2007) bahwa selain aktivitas penebangan hutan, juga adanya aktivitas berat seperti pertambangan, perlandangan intensif dan hutan yang gundul dapat berakibat pendangkalan sungai di bagian hilir. (2) tinggi genangan untuk lahan sawah hanya sekitar 40 cm khususnya sawah-sawah yang terletak di dekat sungai. Kondisi ini, apabila menggunakan batasan menurut kriteria Subagjo pada halaman 10, maka dari total luasan rawa lebak di Desa Sungai Ambangah yang mencapai 260 hektar dan 221 hektar di Desa Pasak Piang tidak masuk dalam kategori lahan rawa lebak karena batasan tinggi atau lama genangan pada kedua lokasi penelitian tersebut tidak terpenuhi. Menurut Noor (2007) rawa lebak yang telah mengalami pengatusan (drainase) setelah dilakukan reklamasi sehingga muka air turun dan lahan tidak lagi tergenang secara permanen, kecuali hanya beberapa hari apabila hujan lebat, semestinya tidak lagi dapat dikategorikan sebagai lahan rawa lebak. Lahan semacam ini lebih sesuai dikategorikan sebagai lahan tadah hujan karena karakter rawa lebak yang terkait genangan tidak lagi melekat secara inherence. Lahan semacam ini umumnya sudah dikembangkan menjadi lahan kelapa sawit, karet, jeruk, dan sebagainya.
Baca lebih lanjut

444 Baca lebih lajut

Tanggap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kacang Tanah (Arachis hypogea L.) Terhadap Pemberian Abu Sekam Padi Pada Lahan Rawa Lebak

Tanggap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kacang Tanah (Arachis hypogea L.) Terhadap Pemberian Abu Sekam Padi Pada Lahan Rawa Lebak

2002). Unsur N ini dibutuhkan tanaman untuk menunjang pertumbuhan tunas dan batang. Disamping itu juga, selain berfungsi merangsang perkembangan akar, unsur P juga mampu merangsang pertumbuhan awal tanaman agar pertumbuhannya lebih cepat dan tidak kerdil (Novizan, 2002). Pada pH 6,0 penyerapan hara baik bagi pertumbuhan tanaman kacang tanah, lahan tidak terlalu becek dan kering serta tanah gembur / bertekstur ringan dan subur ( Tim Bina Karya Tani, 2009).

12 Baca lebih lajut

Pola Usahatani, Pendapatan dan Ketahanan Pangan Rumah Tangga Petani Padi Lahan Rawa Lebak di Sumatera Selatan Farming Pattern, Income and Household Food Security Level of Lowland Rice Farmers on South Sumatra Indonesia

Pola Usahatani, Pendapatan dan Ketahanan Pangan Rumah Tangga Petani Padi Lahan Rawa Lebak di Sumatera Selatan Farming Pattern, Income and Household Food Security Level of Lowland Rice Farmers on South Sumatra Indonesia

Selanjutnya lahan ditanami padi, waktu penanaman dilakukan pada bulan Mei sampai dengan bulan September. Usahatani padi di lahan lebak hanya dilakukan satu kali musim tanam dalam setahun. Penyemaian tanaman padi dilakukan ketika bulan Mei dan dapat dipanen setelah 4-5 bulan setelah disemai. Ketika pemanenan padi dilakukan, penyemaian cabai dimulai. Hal ini disebabkan untuk mengefisienkan waktu agar petani mendapatkan keuntungan yang besar. Benih cabai yang telah berumur 15-17 hari atau telah memiliki 3 atau 4 daun, siap dipindah tanam pada lahan yang ada. Sayuran cabai dapat dipanen pertama kali pada umur 70-75 hari setelah tanam. Artinya, pada bulan November tanaman cabai sudah ditanam di lahan dan berumur 2 bulan. Pada bulan Februari, tanaman sayuran cabai sudah dapat dipanen. Pemanenan sayuran cabai berikutnya dapat dilakukan 3 sampai 4 hari sekali atau paling lambat seminggu sekali. Kemudian setelah pemanenan cabai selesai ada masa bera selanjutnya untuk menanam kangkung dan padi. Masa bera yaitu pada bulan Maret selama 1 bulan. Selanjutnya setelah 1 bulan, tanah ditanami kangkung dan padi kembali.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...