lahan rawa lebak

Top PDF lahan rawa lebak:

Potensi pengembangan lahan rawa lebak untuk perluasan lahan padi di Kabupaten Hulu Sungai Utara Kalimantan Selatan

Potensi pengembangan lahan rawa lebak untuk perluasan lahan padi di Kabupaten Hulu Sungai Utara Kalimantan Selatan

Pembangunan dititikberatkan pada pertumbuhan sektor-sektor yang dapat memberikan kontribusi pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Pada pembangunan pertanian secara khusus dan pembangunan ekonomi secara umum, sub sektor pertanian tanaman pangan mempunyai posisi yang strategis sebagai penghasil bahan makanan pokok untuk ketahanan pangan nasional. Untuk itu perlu diupayakan melalui peningkatan produksi beras terutama yang dihasilkan dari lahan sawah. Namun pulau jawa yang merupakan wilayah produksi beras terbesar terus mengalami penyusutan luas areal sawah akibat konversi yang terus meningkat. Hal ini menuntut alternatif wilayah lain yang potensial untuk dikembangkan, salah satunya adalah lahan rawa, terutama rawa lebak yang tersebar di beberapa pulau besar di Indonesia. Kabupaten Hulu Sungai Utara adalah salah satu yang memiliki lahan rawa lebak yang luas dan potensial untuk dikembangkan. Namun dalam pengembangan budidaya pertanian di lahan rawa lebak harus diperhatikan keseimbangan ekosistem agar keberlanjutan budidaya tetap terjaga.
Baca lebih lanjut

105 Baca lebih lajut

Model pengelolaan lahan rawa lebak berbasis sumberdaya lokal untuk pengembangan Usahatani berkelanjutan (studi kasus di Kecamatan Sungai Raya dan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya - Kalimantan Barat)

Model pengelolaan lahan rawa lebak berbasis sumberdaya lokal untuk pengembangan Usahatani berkelanjutan (studi kasus di Kecamatan Sungai Raya dan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya - Kalimantan Barat)

Indonesia mempunyai lahan rawa seluas 33,40 juta hektar yang terdiri atas rawa pasang surut dan rawa lebak dan umumnya tersebar di Pulau Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Di Kalimantan Barat, terdapat rawa lebak seluas 35 436 hektar dan baru dimanfaatkan sekitar 27,6%. Secara umum, pemanfaatan rawa lebak masih terbatas dan hanya bersifat untuk menopang kehidupan sehari-hari dan masih tertinggal jika dibandingkan dengan agroekosistem lain, seperti lahan kering atau lahan irigasi. Hal itu disebabkan oleh berbagai kendala, baik kendala fisik lahan maupun non fisik. Penelitian sebelumnya menunjukkan beberapa faktor non fisik sebagai penyebab sehingga pengusahaan rawa lebak masih jauh dari harapan dan belum memberikan hasil yang maksimal, antara lain 1) adanya persepsi dari petani yang keliru bahwa usahatani yang dijalani sekarang telah menghasilkan pendapatan yang tinggi, 2) kurangnya modal, 3) akses teknologi yang rendah, 4) sifat subsistem petani dan 5) berusahatani karena kebiasaan. Penelitian bertujuan (1) untuk mengidentifikasi karakteristik rawa lebak dan petani yang memanfaatkan rawa lebak, (2) menganalisis kesesuaian lahan beberapa tanaman utama yang diusahakan di rawa lebak, (3) menganalisis kelayakan usahatani saat ini di rawa lebak, (4) mengetahui indeks dan status keberlanjutan usahatani di rawa lebak, (5) mengetahui variabel-variabel dominan model pengelolaan rawa lebak berkelanjutan berdasarkan lima dimensi keberlanjutan, dan (6) merumuskan model pengelolaan lahan rawa lebak berbasis sumberdaya lokal untuk usahatani berkelanjutan.
Baca lebih lanjut

444 Baca lebih lajut

DISPLAY VARIETAS INPARI PADA DUA TIPOLOGI LAHAN RAWA LEBAK DI KABUPATEN OGAN ILIRSUMATERA SELATAN

DISPLAY VARIETAS INPARI PADA DUA TIPOLOGI LAHAN RAWA LEBAK DI KABUPATEN OGAN ILIRSUMATERA SELATAN

Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Kotadaro 1 pada lahan rawa lebak dangkal dan Kotadaro 2 pada lahan rawa lebak tengahan, Kecamatan Rantau Panjang, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, dimulai pada musim kemarau 2014. Tujuan dari kegiatan ini untuk mengevaluasi daya hasil varietas inpari dan sifat agronomis sesuai dengan tipologi rawa lebak dangkal dan tengahan. Jumlah varietas yang diperagakan sebanyak 4 varietas yaitu Inpari 1, Inpari 4, Inpari 6 dan Inpari 13. Persemaian dilakukan 2 kali pindah. Bibit yang ditanam berumur 30 hari setelah semai (HSS). Sistem tanam legowo 4:1 (50 x 25 x 12,5 cm) dan jumlah bibit 2-3 bibit/lubang. Pupuk yang digunakan 150 kg Urea, 100 kg SP-36 dan 100 kg KCl/ha. Pemupukan dilakukan 2 kali yaitu pada umur 1 minggu setelah tanam (MST) dengan takaran 75 kg urea, 100 kg SP-36 dan 100 kg KCl/ha dan pada umur 4 minggu setelah tanam (MST) dengan takaran 75 kg urea/ha. Data yang dikumpulkan meliputi: tinggi tanaman, jumlah anakan produktif, panjang malai, jumlah gabah per malai, persentase gabah isi per malai, dan produksi. Metoda yang digunakan adalah pengamatan di lapangan. Data yang diperoleh disusun secara tabulasi dan dianalisis secara kuantitatif dan deskriptif. Hasil menunjukkan bahwa pertumbuhan tinggi tanaman dari varietas Inpari yang diperagakan tergolong pendek baik yang ditanam di rawa lebak dangkal maupun lebak tengahan. Jumlah anakan produktif varietas Inpari yang diperagakan tergolong sedang (11,4-13,2 batang/rumpun) di rawa lebak dangkal begitu juga di rawa lebak tengahan yaitu 14,6-16,8 batang/rumpun. Produksi gabah varietas yang diuji di rawa lebak tengahan rata-rata 6,95 ton gkp/ha lebih tinggi dari rawa lebak dangkal rata-rata 6,45 ton gkp/ha. Produksi gabah tertinggi dicapai oleh Inpari 6, Inpari 4 dan Inpari 1 dan Inpari 13 berturut-turut yaitu 7,7 ton gkp/ha, 7,4 ton gkp/ha, 6,6 ton gkp/ha dan 6,1 ton gkp/ha di rawa lebak tengahan.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Optimalisasi Pemupukan Dan Pengapuran Untuk Pertumbuhan Dan Produksi Kedelai Di Lahan Rawa Lebak Dengan Budidaya Jenuh Air

Optimalisasi Pemupukan Dan Pengapuran Untuk Pertumbuhan Dan Produksi Kedelai Di Lahan Rawa Lebak Dengan Budidaya Jenuh Air

Lahan rawa lebak adalah rawa yang dipengaruhi oleh adanya genangan dengan lamanya waktu genangan lebih dari 3 bulan dan tinggi genangan lebih dari 50 cm. Penciri utama lahan rawa lebak adalah tinggi dan waktu terjadinya genangan. Lahan rawa lebak menurut jangkauan pengaruh pasang dan intrusi air laut termasuk ke dalam zone III (lampiran 1) atau peraiaran air tawar pedalaman yang bebas dari pengaruh pasang, fluktuasi muka air dipengaruhi oleh curah hujan dan banjir kiriman. Berdasarkan lama dan tingginya genangan wilayah rawa lebak dibagi dalam empat tipologi, yaitu lebak dangkal, lebak tengahan, lebak dalam, dan lebak sangat dalam (Balitbangtan 2013). Masalah utama yang dihadapi dalam pengembangan lahan rawa lebak adalah pH tanah yang rendah-sedang, ketersediaan unsur hara dalam tanah relatif rendah.
Baca lebih lanjut

69 Baca lebih lajut

Kondisi Sosial Ekonomi Wanita Tani dan Pengaruhnya Terhadap Ketahanan Pangan Rumahtangga Petani Padi di Lahan Rawa Lebak Socio-Economic Condition of Women Farmers and Its Effect on Household Food Security of Rice Farmers in Lowland Swamp

Kondisi Sosial Ekonomi Wanita Tani dan Pengaruhnya Terhadap Ketahanan Pangan Rumahtangga Petani Padi di Lahan Rawa Lebak Socio-Economic Condition of Women Farmers and Its Effect on Household Food Security of Rice Farmers in Lowland Swamp

1. Kondisi sosial ekonomi wanita tani dilihat dari umur, tingkat pendidikan, jumlah anggota rumahtangga dan luas lahan adalah sebanyak 92,5 persen wanita tani berumur di kisaran usia produktif, 87,5 persen berpendidikan rendah hanya sebatas Sekolah Dasar (SD), wanita tani yang mempunyai anggota keluarga lebih dari 5 orang sebanyak 55 persen dan luas garapan untuk usahatani padi rata-rata seluas 1,2 hektar. 2. Ketahanan pangan rumahtangga wanita tani padi di lahan rawa lebak dilihat dari sisi

6 Baca lebih lajut

Model pengelolaan lahan rawa lebak berbasis sumberdaya lokal untuk pengembangan Usahatani berkelanjutan (studi kasus di Kecamatan Sungai Raya dan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya   Kalimantan

Model pengelolaan lahan rawa lebak berbasis sumberdaya lokal untuk pengembangan Usahatani berkelanjutan (studi kasus di Kecamatan Sungai Raya dan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya Kalimantan

Indonesia mempunyai lahan rawa seluas 33,40 juta hektar yang terdiri atas rawa pasang surut dan rawa lebak dan umumnya tersebar di Pulau Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Di Kalimantan Barat, terdapat rawa lebak seluas 35 436 hektar dan baru dimanfaatkan sekitar 27,6%. Secara umum, pemanfaatan rawa lebak masih terbatas dan hanya bersifat untuk menopang kehidupan sehari-hari dan masih tertinggal jika dibandingkan dengan agroekosistem lain, seperti lahan kering atau lahan irigasi. Hal itu disebabkan oleh berbagai kendala, baik kendala fisik lahan maupun non fisik. Penelitian sebelumnya menunjukkan beberapa faktor non fisik sebagai penyebab sehingga pengusahaan rawa lebak masih jauh dari harapan dan belum memberikan hasil yang maksimal, antara lain 1) adanya persepsi dari petani yang keliru bahwa usahatani yang dijalani sekarang telah menghasilkan pendapatan yang tinggi, 2) kurangnya modal, 3) akses teknologi yang rendah, 4) sifat subsistem petani dan 5) berusahatani karena kebiasaan. Penelitian bertujuan (1) untuk mengidentifikasi karakteristik rawa lebak dan petani yang memanfaatkan rawa lebak, (2) menganalisis kesesuaian lahan beberapa tanaman utama yang diusahakan di rawa lebak, (3) menganalisis kelayakan usahatani saat ini di rawa lebak, (4) mengetahui indeks dan status keberlanjutan usahatani di rawa lebak, (5) mengetahui variabel-variabel dominan model pengelolaan rawa lebak berkelanjutan berdasarkan lima dimensi keberlanjutan, dan (6) merumuskan model pengelolaan lahan rawa lebak berbasis sumberdaya lokal untuk usahatani berkelanjutan.
Baca lebih lanjut

231 Baca lebih lajut

Sistem Tanam Padi Kontinyu di Lahan Rawa Lebak Continuous Rice Planting System Was on the paddy Fields Swamp

Sistem Tanam Padi Kontinyu di Lahan Rawa Lebak Continuous Rice Planting System Was on the paddy Fields Swamp

Perbedaan waktu tanam padi di sawah lahan rawa lebak berdampak terhadap tinggi- rendah genangan air yang diperoleh padi, dan untuk petak sawah yang ditanam padi pada bulan april minggu pertama menghasilkan perbedaan penampilan tanaman padi yang ditanam pada minggu ketiga. Perbedaan waktu tanam dua minggu antar petak pada bulan april ternyata menyebabkan lama genangan air yang tidak sama, dan untuk petak A mengalami penggenangan air sampai panen padi, dan untuk petak B ternyata genangan air sampai fase pengisian padi. Selanjutnya, waktu tanam padi di sawah rawa lebak yang berbeda bulan menyebabkan lama genangan air di sawah juga berbeda, dan untuk tanam padi pada bulan juni ternyata air genangan sampai fase anakan produktif. Perbedaan waktu tanam dengan umur bibit yang sesuai dengan rekomendasi ternyata belum dapat memperbaiki kondisi kecukupan air dalam satu siklus hidup padi di lahan rawa lebak. Air sangat berperan dalam menciptakan kondisi lumpur sehingga proses absorbsi air dan hara oleh akar padi dapat berjalan optimal. Pola penggenangan air yang tidak sama terutama lama waktu basah dan kering permukaan tanah sawah dapat berakibat seperti pengaruh prequensi pemberian air terhadap padi. Kurang air di lahan sawah menyebabkan daun padi banyak yang menggulung dan akan menurunkan laju fotosintesis padi yang selanjutnya menurunkan akumulasi fotosintat dan hasil padi (Sulistyono, 2012). Perbedaan lama air yang berkecukupan di lahan sawah akan menghasilkan penampilan pertumbuhan dan hasil padi yang menjadi berbeda, dan dalam banyak kasus tanaman padi rawa lebak pematang yang ditanam pada bulan mei dan juni mengalami tidak cukup air sehingga tanah sawah menjadi kering. Kekurangan air yang lama pada padi dapat memperlambat pembungaan, pengisian gabah dan juga hasil tanaman (Fischer and Fukai. 2003).
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

ANALISIS KESESUAIAN LAHAN RAWA LEBAK UNTUK PENGEMBANGAN TANAMAN PADI DI KABUPATEN TEBO PROVINSI JAMBI

ANALISIS KESESUAIAN LAHAN RAWA LEBAK UNTUK PENGEMBANGAN TANAMAN PADI DI KABUPATEN TEBO PROVINSI JAMBI

Bagi sebagian besar petani yang memiliki lahan rawa lebak bukan sebagai sumber penghasilan utama keluarga. Motivasi utamanya adalah untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, umumnya mereka mengandalkan penghasilan dari perkebunan karet dan sawit baik sebagai pemilik maupun sebagai buruh (sadap karet dan mendodos sawit), atau sumber penghasilan lain yang cukup terbuka. Diversifikasi usahatani belum terjadi, karena lahannya belum ditata yang memungkinkan. Seperti ditata sebagai surjan sehingga tanaman yang dapat diusahakan lebih beragam, atau ditata sehingga memungkinkan untuk menerapkan pola usaha mina tani (Tanaman-ikan). (N. I. Minsyah, Busyra dan Araz Meylin. 2014).
Baca lebih lanjut

97 Baca lebih lajut

1211 PENINGKATAN PRODUKTIVITAS KEDELAI VARIETAS TANGGAMUS DENGAN TEKNOLOGI BUDIDAYA JENUH AIR DI LAHAN RAWA LEBAK DANGKAL

1211 PENINGKATAN PRODUKTIVITAS KEDELAI VARIETAS TANGGAMUS DENGAN TEKNOLOGI BUDIDAYA JENUH AIR DI LAHAN RAWA LEBAK DANGKAL

faktor ke-tiga : Pupuk hayati penambat N dan Pelarut P yaitu tanpa pupuk hayati, pakai pupuk hayati. Data penelitian dianalisis sidik ragam dengan uji F, apabila terdapat pengaruh yang nyata dilanjutkan dengan uji DMRT (Duncan Multiple Range Test) untuk melihat perbedaan ant ar perlakuan pada taraf α 0.05. Hasil penelitian menunjukkan produktivitas kedelai varietas Tanggamus pada lahan rawa lebak dangkal dengan budidaya jenuh air pada tingkat kesuburan tanah sedang mencapai 4 ton ha -1 . Penerapan pengelolaan air dengan sistem budidaya jenuh air, pengelolaan hara sesuai kebutuhan tanaman dan waktu tanam yang tepat pada lahan rawa lebak akan menghasilkan produksi kedelai yang optimal.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Potensi pengembangan lahan rawa lebak untuk perluasan lahan padi di Kabupaten Hulu Sungai Utara Kalimantan Selatan

Potensi pengembangan lahan rawa lebak untuk perluasan lahan padi di Kabupaten Hulu Sungai Utara Kalimantan Selatan

Pembangunan dititikberatkan pada pertumbuhan sektor-sektor yang dapat memberikan kontribusi pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Pada pembangunan pertanian secara khusus dan pembangunan ekonomi secara umum, sub sektor pertanian tanaman pangan mempunyai posisi yang strategis sebagai penghasil bahan makanan pokok untuk ketahanan pangan nasional. Untuk itu perlu diupayakan melalui peningkatan produksi beras terutama yang dihasilkan dari lahan sawah. Namun pulau jawa yang merupakan wilayah produksi beras terbesar terus mengalami penyusutan luas areal sawah akibat konversi yang terus meningkat. Hal ini menuntut alternatif wilayah lain yang potensial untuk dikembangkan, salah satunya adalah lahan rawa, terutama rawa lebak yang tersebar di beberapa pulau besar di Indonesia. Kabupaten Hulu Sungai Utara adalah salah satu yang memiliki lahan rawa lebak yang luas dan potensial untuk dikembangkan. Namun dalam pengembangan budidaya pertanian di lahan rawa lebak harus diperhatikan keseimbangan ekosistem agar keberlanjutan budidaya tetap terjaga.
Baca lebih lanjut

195 Baca lebih lajut

KIPWIL Indonesia Barat 2007 Rujito

KIPWIL Indonesia Barat 2007 Rujito

Dalam konteks budidaya tanaman, perlakukan khusus juga perlu dilakukan mengingat tingginya muka air di lahan rawa yang kadang-kadang tidak dapat diprediksi. Waluyo dan Supartha (1992) menyebutkan bahwa petani yang menanam varietas padi lokal melakukan pembibitan selama 50 – 90 hari sebelum dipindahkan ke tempat penanaman, namun demikian produksi padi di lahan rawa lebak optimal dengan satu kali pembibitan dan dengan periode bibit 35 – 50 hari (Waluyo et al., 1992). Hasil penelitian Suwignyo et al. (1998) menunjukkan bahwa varietas padi memberikan respon yang berbeda terhadap perbedaan metode pembibitan tersebut. Varietas Si Putih menghasilkan pertumbuhan dan produksi tinggi melalui dua kali periode pembibitan, yaitu 21 hari pembibitan pertama dan 14 hari pembibitan kedua. Sedangkan galur B 5565 menunjukkan hasil yang lebih tinggi dengan sistem pembibitan tiga tahap dan periode pembibitan 50 hari setelah semai.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Peluang Dan Kendala Pengembangan Pertanian Pada Agroekosistem Rawa Lebak : Kasus Desa Kota Daro II di Kecamatan Rantau Panjang Kabupaten Ogan Ilir Sumatera Selatan Agricultural Development Opportunities And Obstacles in Swamp Lebak agroecosystems : Case K

Peluang Dan Kendala Pengembangan Pertanian Pada Agroekosistem Rawa Lebak : Kasus Desa Kota Daro II di Kecamatan Rantau Panjang Kabupaten Ogan Ilir Sumatera Selatan Agricultural Development Opportunities And Obstacles in Swamp Lebak agroecosystems : Case K

Lahan rawa lebak juga dapat dibedakan berdasarkan ada atau tidaknya pengaruh sungai sekitarnya. Lahan rawa lebak yang genangannya dipengaruhi oleh sungai sekitarnya disebut lebak sungai, sedang lahan lebak yang bebas atau tidak dipengaruhi oleh sungai disebut lebak terkurung (Kosman dan Jumberi, 1996). Walaupun rawa lebak dipandang sebagai wilayah marginal, tetapi potensi sumber daya lahan dan air rawa lebak sebagai sumber pertumbuhan produksi pertanian, perikanan dan peternakan cukup besar apabila dikelola dengan baik dan tepat. Komoditas pertanian yang dapat dibudidayakan dilahan rawa lebak umunya padi, sayuran dan hortikultura , tanaman tahunan (jeruk, mangga, kelapa, rambutan, duku, durian). Untuk perikanan lahan rawa lebak merupakan sumber perikanan tangkap terutama untuk jenis ikan sepat siam, gabus, toman. Untuk peternakan seperti itik pegagan dan kerbau rawa.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PENINGKATAN PRODUKTIVITAS PADI DAN PENDAPATAN PETANI MELALUI INTRODUKSI VARIETAS UNGGUL BARU DI LAHAN RAWA LEBAK

PENINGKATAN PRODUKTIVITAS PADI DAN PENDAPATAN PETANI MELALUI INTRODUKSI VARIETAS UNGGUL BARU DI LAHAN RAWA LEBAK

Pengkajian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan produktivitas padi dan pendapatan petani melalui introduksi varietas unggul baru (VUB) di lahan rawa lebak dangkal. Pengkajian dilaksanakan di Kecamatan Rantau Pajang, Kabupaten Ogan Ilir, Provinsi Sumatera Selatan pada musim kemarau (MK) 2014. Kegiatan pengkajian dilaksanakan di lahan rawa lebak dangkal di lahan petani (on farm research) bekerja sama dengan petani sebagai menyediakan lahan pertanian, Dinas Pertanian Kabupaten Ogan Ilir, BPP, PPL dan BPTP sebagai pemandu teknologi. Teknologi utama yang dikaji adalah varietas unggul Inpari 1, Inpari 13; Inpari 15; Inpari 20, dan Situbagendit, dengan mengunakan teknologi pengelolaan tanaman terpadu (PTT) rawa lebak. Penanaman dilakukan dengan sistem tanam jajar legowo 4:1 (25 cm x 12,5 cm x 50 cm) dengan luas tanam 2,0 ha. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa varietas unggul memberikan produktivitas masing-masing 5,0 t/ha; 6,9 t/ha; 5,4 t/ha; 6,0 dan 5,4 t/ha. dan diperoleh pendapatan finansial masing- masing Rp 9.200.000 (Inpari 1); Rp 15.850.000,- (Inpari 13); Rp 10.600.000,- (Inpari 15); Rp 12.700.000 (Inpari 20) dan Rp 10.600.000,- (Situbagendit). Penggunaan varietas unggul yang adaptif layak dikembangkan di lahan rawa lebak dangkal.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Welcome to ePrints Sriwijaya University - UNSRI Online Institutional Repository

Welcome to ePrints Sriwijaya University - UNSRI Online Institutional Repository

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk (1) mengetahui karakteristik sosial ekonomi wanita tani padi rawa lebak, (2) mengkaji tingkat ketahanan pangan rumahtangga wanita tani padi rawa lebak dan (3) menjajaki pengaruh karakteristik sosial ekonomi wanita tani dan faktor-faktor lainnya yang mempengaruhi ketahanan pangan rumahtangga petani padi rawa lebak. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Penentuan lokasi penelitian menggunakan metode purposive, yaitu di Desa Lebung Jangkar dan Desa Sembadak, Kecamatan Pemulutan, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Adapun jumlah sampel yang diambil dengan metode simple random sampling sebanyak 60 responden. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif dan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan karakteristik sosial ekonomi wanita tani padi lahan rawa lebak di Kecamatan Pemulutan dilihat dari umur, tingkat pendidikan, jumlah anggota rumahtangga dan luas lahan adalah sebanyak 90 persen wanita tani berumur di kisaran usia produktif, 75 persen berpendidikan rendah hanya sebatas Sekolah Dasar (SD), wanita tani yang mempunyai anggota keluarga lebih dari 5 orang sebanyak 58,33 persen dan luas garapan untuk usahatani padi rata-rata seluas 1,275 hektar. Tingkat ketahanan pangan rumahtangga wanita tani padi rawa lebak di Kecamatan Pemulutan, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, yaitu sebanyak 40 persen tahan pangan; 16,67 persen rentan pangan; 41,67 persen kurang pangan dan 1,67 persen rawan pangan. Adapun faktor sosial ekonomi wanita tani dan faktor lainnya yang mempengaruhi tingkat ketahanan pangan rumahtangga petani di lahan rawa lebak adalah umur, jumlah anggota keluarga, jumlah konsumsi beras dan harga telur.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

KAJIAN PENERAPAN MEKANISASI PERTANIAN DI LAHAN RAWA LEBAK DESA PUTAK - MUARA ENIM

KAJIAN PENERAPAN MEKANISASI PERTANIAN DI LAHAN RAWA LEBAK DESA PUTAK - MUARA ENIM

Kendala tersebut dapat terjadi dari petani sebagai pengguna dan pengusaha sebagai penyedia. Sedangkan permasalahan yang dihadapai oleh petani, antara lain ; lahannya sempit, produktivitas lahan rendah, belum adanya jaminan pasar yang mantap dari produk petani, dan kerjasama antara kelompok tani dan kelembagaan desa masih sangat rendah, kondisi seperti ini berakibat pendapatan petani rendah. Sedangkan dari pihak pengusaha yang akan menginvestasikan modalnya dibidang pertanian disebabkan kurangnya informasi tentang potensi desa dan bunga kredit untuk mengusahakan alat mekanis pertanian masih terlalu tinggi.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Pola Usahatani, Pendapatan dan Ketahanan Pangan Rumah Tangga Petani Padi Lahan Rawa Lebak di Sumatera Selatan Farming Pattern, Income and Household Food Security Level of Lowland Rice Farmers on South Sumatra Indonesia

Pola Usahatani, Pendapatan dan Ketahanan Pangan Rumah Tangga Petani Padi Lahan Rawa Lebak di Sumatera Selatan Farming Pattern, Income and Household Food Security Level of Lowland Rice Farmers on South Sumatra Indonesia

Selanjutnya lahan ditanami padi, waktu penanaman dilakukan pada bulan Mei sampai dengan bulan September. Usahatani padi di lahan lebak hanya dilakukan satu kali musim tanam dalam setahun. Penyemaian tanaman padi dilakukan ketika bulan Mei dan dapat dipanen setelah 4-5 bulan setelah disemai. Ketika pemanenan padi dilakukan, penyemaian cabai dimulai. Hal ini disebabkan untuk mengefisienkan waktu agar petani mendapatkan keuntungan yang besar. Benih cabai yang telah berumur 15-17 hari atau telah memiliki 3 atau 4 daun, siap dipindah tanam pada lahan yang ada. Sayuran cabai dapat dipanen pertama kali pada umur 70-75 hari setelah tanam. Artinya, pada bulan November tanaman cabai sudah ditanam di lahan dan berumur 2 bulan. Pada bulan Februari, tanaman sayuran cabai sudah dapat dipanen. Pemanenan sayuran cabai berikutnya dapat dilakukan 3 sampai 4 hari sekali atau paling lambat seminggu sekali. Kemudian setelah pemanenan cabai selesai ada masa bera selanjutnya untuk menanam kangkung dan padi. Masa bera yaitu pada bulan Maret selama 1 bulan. Selanjutnya setelah 1 bulan, tanah ditanami kangkung dan padi kembali.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

(m-P3BI) Lahan Rawa Lebak Dan Lahan Kering Di Bengkulu

(m-P3BI) Lahan Rawa Lebak Dan Lahan Kering Di Bengkulu

Pelaksanaan kegiatan m-P3BI lahan rawa (padi rawa lebak) dan lahan kering (integrasi kopi-sapi potong) akan dilaksanakan secara bertahap dengan menggunakan pendekatan Spectrum Diseminasi Multi Channel (SDMC), yaitu; pengembangan diseminasi berdasarkan pendekatan strategi atau model yang mampu memperluas jangkauan dengan memanfaatkan berbagai saluran komunikasi dan pemangku kepentingan ( stakeholder) terkait sesuai karakteristik masing-masing pelaku, sehingga dapat didistribusikan secara cepat kepada pengguna (petani dan kelompok, pemerintah daerah, penyuluh dan swasta) melalui berbagai media secara simultan dan terkoordinasi. I mplementasi kegiatan ini di lapang berbentuk unit percontohan berskala pengembangan berwawasan agribisnis, bersifat holistik dan komprehensif meliputi aspek perbaikan teknologi produksi, pengolahan limbah usahatani, aspek pemberdayaan masyarakat tani dan pengembangan maupun penguatan kelembagaan sarana pendukung agribisnis.
Baca lebih lanjut

79 Baca lebih lajut

Prosiding Seminar Inovasi Teknologi Pertanian 2012

Prosiding Seminar Inovasi Teknologi Pertanian 2012

Jika dilihat dari luasannya maka lahan rawa lebak di Provinsi Bengkulu memiliki potensi yang sangat besar dalam mendukung swasembada beras khususnya untuk provinsi ini. Namun rawa lebak mempunyai kendala dan hambatan yang harus diatasi. Umumnya lahan ini mempunyai rejim air yang fluktuatif dan sulit diduga serta resiko kebanjiran di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau. Dengan kondisi biofisik yang demikian, maka pengembangan lahan rawa lebak untuk usaha pertanian khususnya tanaman pangan, hortikultura, peternakan dan perikanan dalam skala luas memerlukan pengelolaan lahan dan air serta penerapan teknologi yang sesuai dengan kondisi wilayahnya (spesifik lokalita) agar diperoleh hasil yang optimal.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

KEARIFAN BUDAYA LOKAL DALAM PEMANFAATAN LAHAN LEBAK UNTUK PERTANIAN DI KALIMANTAN SELATAN Norginayuwati dan Achmad Rafieq Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa PENDAHULUAN - Kearipan budaya lokal-3 Rafieq

KEARIFAN BUDAYA LOKAL DALAM PEMANFAATAN LAHAN LEBAK UNTUK PERTANIAN DI KALIMANTAN SELATAN Norginayuwati dan Achmad Rafieq Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa PENDAHULUAN - Kearipan budaya lokal-3 Rafieq

Petani di lahan lebak pada umumnya masih menggunakan gejala- gejala alam sebagai indikator dalam meramalkan iklim dan menentukan kesuburan tanah dalam usahatani mereka hingga saat ini. Pengetahuan ini mereka peroleh melalui belajar dari orang tua mereka. Pengetahuan ini terus diwariskan dari generasi ke generasi selama mereka masih menekuni usaha pertanian. Pemuda di desa Tambangan yang mengusahakan semangka dan kacang tanah telah menguasai dan menggunakan pengetahuan lokal ini dalam menjalankan usahanya. Sebaliknya pemuda di desa Pakan Dalam yang tidak tertarik lagi dengan sektor pertanian sudah tidak lagi mengetahui mengenai gejala alam yang menjadi indikator peramalan iklim ini. Sebagian pemuda di Mentaas masih mengetahui pengetahuan lokal ini, walupun anak- anak yang beranjak dewasa sudah tidak lagi terlibat dalam usahatani padi. Mereka lebih menyukai usaha penangkapan ikan karena dapat memperoleh uang secara tunai setiap hari.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Analisis ergonomi pada penyiapan lahan sawah lebak menggunakan alat tradisional tajak di Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan

Analisis ergonomi pada penyiapan lahan sawah lebak menggunakan alat tradisional tajak di Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan

Kearifan budaya lokal (indegeneus knowledge) yang telah dilakukan selama ratusan tahun telah mengajarkan kepada petani lokal tradisional di Kalimantan Selatan untuk melakukan penyiapan lahan secara konvensional menggunakan alat tradisional yang dinamakan tajak. Alat ini berfungsi menebas gulma dan membalik sedikit lapisan top soil tanpa menyebabkan terangkatnya pirit (minimum tillage). Namun demikian pengoperasian alat ini sangat sulit dan berbahaya, serta hanya dapat digunakan dengan baik oleh operator yang berpengalaman. Oleh karena itu, studi ergonomi pada pengoperasian tajak perlu dilakukan. Sehingga tajak dapat dioperasikan dengan aman, nyaman dan efektif. Hasil studi ergonomi ini diharapkan menjadi dasar pengembangan alat yang lebih modern dan sesuai dengan antropometri masyarakat setempat.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...