laju infiltrasi

Top PDF laju infiltrasi:

Perbedaan Laju Infiltrasi Pada Tanah Hutan Dan Bukan Hutan

Perbedaan Laju Infiltrasi Pada Tanah Hutan Dan Bukan Hutan

Laju infiltrasi suatu DAS atau suatu petak tanah dapat diukur di lapangan dengan mengukur curah hujan, aliran permukaan, dan menduga faktor-faktor siklus air lainnya, atau dengan analisis hidrograf. Luas daerah yang terliput harus diketahui dengan pasti. Dalam pengukuran ini diperlukan alat pengukur aliran permukaan. Jatuhnya hujan tidak dapat diukur, maka sprinkler dapat digunakan jika ingin membandingkan pengaruh berbagai perlakuan terhadap infiltrasi (Wilm,1943; Wisler dan Blater, 1959). Mengingat waktu dan biaya yang diperlukan bagi pengukuran skala DAS atau petak tanah besar, maka pengukuran infiltrasi juga dapat dilakukan pada luasan yang sangat kecil dengan menggunakan alat yang dinamai infiltrometer (Harold, 1951). Dengan cara ini air diberikan ke tanah dengan laju yang sama dengankapasitas infiltrasi. Jumlah air yang meresap dalam satu jangka waktu tertentu diukur. Infiltrometer ada yang bekerja secara otomatik (Pittman dan Kohnke, 1942). Akibat terjadinya rembesan lateral, maka hasil yang didapat dengan alat ini tidak mudah dieksploitasi ke dalam skala DAS atau petak. Untuk mengurangi pengaruh rembesan digunakan infiltrometer silinder ganda (double ring infiltrometer) (Arsyad, 2006).
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

UJI IN SITU KENAIKAN LAJU INFILTRASI AKI (1)

UJI IN SITU KENAIKAN LAJU INFILTRASI AKI (1)

Laju infiltrasi adalah laju air yang meresap kedalam tanah, yang besarnya dinyatakan dalam mm/jam. Laju infiltrasi ini sangat besar pemgaruhnya di dalam menentukan lama suatu genangan air di permukaan tanah, rancangan untuk cara pemberian air, periode dan lamanya pemberian air beserta besarnya air yang harus diberikan di suatu areal irigasi.

9 Baca lebih lajut

PENGUKURAN LAJU INFILTRASI LUBANG RESAPAN BIOPORI DENGAN PEMILIHAN JENIS DAN KOMPOSISI SAMPAH DI KAMPUS I UKRIDA TANJUNG DUREN JAKARTA MEASURING THE INFILTRATION RATE OF BIOPORE HOLES USING SELECTION AND COMPOSITION OF WASTE (A CASE STUDY CONDUCTED AT CAM

PENGUKURAN LAJU INFILTRASI LUBANG RESAPAN BIOPORI DENGAN PEMILIHAN JENIS DAN KOMPOSISI SAMPAH DI KAMPUS I UKRIDA TANJUNG DUREN JAKARTA MEASURING THE INFILTRATION RATE OF BIOPORE HOLES USING SELECTION AND COMPOSITION OF WASTE (A CASE STUDY CONDUCTED AT CAM

Lubang Resapan Biopori (LRB) merupakan salah satu rekayasa teknik konservasi air, berupa lubang-lubang yang dibuat pada permukaan bumi yang berperan sebagai pintu masuk bagi air hujan untuk dapat masuk ke dalam tanah. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis komposisi sampah yang dapat memberikan kontribusi terbesar terhadap laju infiltrasi lubang biopori. Pada setiap lubang dilakukan pengujian infiltrasi setiap minggu selama 10 minggu. Hasil setiap pengujian infiltrasi menghubungkan antara jenis dan komposisi sampah terhadap umur sampah. Jenis sampah yang digunakan adalah sampah daun kering, sampah ikan/daging, dan sampah dapur. Sampah basah 100% cenderung memberi pengaruh terhadap kenaikan persentase laju infiltrasi yang lebih besar (sebesar 98,365%) dibanding sampah kering 100% (sebesar 58,06%). Sampah jenis ikan/daging 100% membutuhkan waktu lebih lama (empat minggu) untuk mencapai persentase kenaikan maksimumnya dibandingkan dengan yang lain. Demikian juga komposisi dominan dari campuran sampah basah cukup berperan membuat laju infiltrasi cukup besar. Durasi lubang LRB yang dapat menghasilkan laju infiltrasi maksimum adalah pada minggu kedua hingga minggu keempat. Pengaruh-pengaruh, seperti kondisi keadaan lingkungan sekitar, cuaca, dan kondisi tanah sekitar dapat mempengaruhi hasil data yang diperoleh.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Laju Infiltrasi pada Lahan Gambut yang D

Laju Infiltrasi pada Lahan Gambut yang D

Hubungan laju infiltrasi terhadap waktu. Pada awal hujan waktu (t) kecil sekali, maka semua air hujan diserap oleh tanah, laju infiltrasi sangat cepat. Setelah adanya genangan, maka bagian permukaan tanah sudah mulai jenuh, laju infiltrasi lambat. t > tp, t = Waktu infiltrasi, tp = Waktu ponding (waktu genangan ), Dari hasil percobaan infiltrasi, hubungan laju infiltrasi terhadap waktu adalah: Bila waktu infiltrasi lebih kecil, maka kapasitas infiltrasi besar; Bila waktu infilrasi lebih lama, maka kapasitas infiltrasi lebih kecil; Pada kurva kumulatif infiltrasi vs waktu bisa dilihat bahwa bila waktu yang digunakan sedikit, maka kurva berbentuk melengkung, sedangkan bila waktu yang digunakan lama, maka kurva berbentuk garis lurus (linier).
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

PENGARUH KEPADATAN TANAH TERHADAP LAJU INFILTRASI DIKAWASAN PENGEMBANGAN KOTA PADANG

PENGARUH KEPADATAN TANAH TERHADAP LAJU INFILTRASI DIKAWASAN PENGEMBANGAN KOTA PADANG

Penelitian dilakukan pada 15 titik lokasi di kawasan Dadok Tunggul Hitam kota Padang (9 titik lahan hasil pengembangan dan 6 titik lahan asli). Penelitian di lapangan menggunakan alat Double Ring Infiltrometer untuk pendugaan laju infiltrasinya dan Sandcone untuk mengukur kepadatan tanah, sedangkan data kadar air tanah dilakukan di laboratorium Mekanika Tanah. Laju infiltrasi dianalisis menggunakan Model Horton dengan mencari data laju infiltrasi (f), laju infiltrasi pada saat konstan (fc), dan laju infiltrasi awal (fo). Kemudian laju infiltrasi dilakukan analisis regresi menggunakan untuk mendapatkan seberapa besar pengaruh laju infiltrasi terhadap parameter kepadatan tanah.
Baca lebih lanjut

50 Baca lebih lajut

Perbedaan Laju Infiltrasi Pada Tanah Hutan Dan Bukan Hutan

Perbedaan Laju Infiltrasi Pada Tanah Hutan Dan Bukan Hutan

Hutan berperan sebagai spons raksasa, menyerap air hujan selama musim penghujan dan perlahanlahan melepaskannya selama musim kering. Hutan menyediakan sistem infiltrasi alami dan penyimpanan yang memasok sekitar 75 % air yang dapat digunakan secara global. Perakaran pohon dan serasah dedaunan menciptakan kondisi yang mendorong infiltrasi air hujan ke dalam tanah dan kemudian ke dalam air tanah, menyediakan pasokan air selama masa-masa kering (Cifor, 2013).

3 Baca lebih lajut

Analisis Infiltrasi Tanah pada Berbagai Penggunaan Lahan di Kebun Percobaan Cikabayan, Dramaga

Analisis Infiltrasi Tanah pada Berbagai Penggunaan Lahan di Kebun Percobaan Cikabayan, Dramaga

Laju infiltrasi tanah konstan pada lahan Kebun Karet lebih tinggi dibandingkan dengan Kebun Durian dan Lahan Terbuka yaitu sebesar 6,00 cm/jam. Berdasarkan klasifikasi laju infiltrasi Kohnke (1968), laju infiltrasi konstan tersebut termasuk dalam kelas laju infiltrasi sedang. Gambar 5 menunjukkan kurva perbandingan laju infiltrasi tanah pada berbagai penggunaan lahan. Kurva laju infiltrasi pada lahan Kebun Karet cenderung mengalami penurunan laju yang lebih sedikit dibandingkan dengan penggunaan lahan lainnya. Hal ini menunjukkan pori tanah yang terdapat pada lahan Kebun Karet dapat lebih dipertahankan sehingga laju infiltrasi konstannya lebih tinggi. Selain itu, akar tanaman juga membantu pembentukan saluran-saluran air dan udara akibat perakaran yang membusuk dapat meningkatkan laju air yang masuk ke dalam tanah. Oleh karena itu, laju infiltrasi tanah konstan pada lahan Kebun Karet lebih tinggi dibandingkan dengan Kebun Durian dan Lahan Terbuka.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Evaluasi Kinerja Beton Berongga Terhadap Laju Infiltrasi Pasir.

Evaluasi Kinerja Beton Berongga Terhadap Laju Infiltrasi Pasir.

Pada penelitian ini dilakukan pengujian porositas, infiltrasi, dan kuat tekan untuk tiga campuran beton berongga yaitu campuran I dengan agregat kasar 100%, campuran II dengan agregat kasar 100% + agregat halus 50%, dan campuran III dengan agregat kasar 100% + agregat halus 100%. Uji kuat tekan pada silinder berukuran diameter 15 cm dan tinggi 30 cm dilakukan pada umur 3, 7, 14, dan 28 hari. Hasil ke tiga tes pengujian tersebut, campuran I memiliki nilai porositas, infiltrasi, dan kuat tekan yang paling baik diantara campuran yang lain.

21 Baca lebih lajut

Perbedaan Laju Infiltrasi Pada Tanah Hutan Dan Bukan Hutan

Perbedaan Laju Infiltrasi Pada Tanah Hutan Dan Bukan Hutan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan laju infiltrasi pada tanah hutan dan bukan hutan di Taman Hutan Raya (Tahura) Tongkoh Kabupaten Tanah Karo (untuk tanah hutan), Kelurahan Sei Agul Kecamatan Medan Barat Kota Medan (untuk tanah perkotaan), dan di Kelurahan Belawan Dua Kecamatan Medan Belawan (untuk tanah pesisir pantai). Penelitian dilakukan sebanyak tiga titik di satu lokasi, sehingga diperoleh 9 titik pengukuran. Pengukuran laju infiltrasi dilakukan menggunakan alat infiltrometer cincin ganda. Beberapa faktor yang mempengaruhi laju infiltrasi yaitu tekstur tanah, kerapatan tanah, bahan organik tanah, dan porositas tanah. Dari pengukuran dilapangan, diperoleh laju infiltrasi pada tanah hutan adalah 98,62 cm/jam atau yang paling cepat, pada tanah perkotaan dan tanah pesisir pantai 2,60 cm/jam atau sama-sama yang paling lambat. Dari analisis laboratorium yang dilakukan, pada tanah hutan bertekstur lempung berpasir, kerapatan tanah 0,54 g/cm 3 , bahan organik 3,91 %, dan porositas tanah 79,60 %. Tanah perkotaan bertekstur lempung, kerapatan tanah 1,31 g/cm 3 , bahan organik 3,67 %, dan porositas tanah 50,60 %. Tanah pesisir pantai bertekstur lempung berpasir, kerapatan tanah 1,47 g/cm 3 , bahan organik 1,31 %, dan porositas tanah 44,46 %.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Perbedaan Laju Infiltrasi Pada Tanah Hutan Dan Bukan Hutan

Perbedaan Laju Infiltrasi Pada Tanah Hutan Dan Bukan Hutan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan laju infiltrasi pada tanah hutan dan bukan hutan di Taman Hutan Raya (Tahura) Tongkoh Kabupaten Tanah Karo (untuk tanah hutan), Kelurahan Sei Agul Kecamatan Medan Barat Kota Medan (untuk tanah perkotaan), dan di Kelurahan Belawan Dua Kecamatan Medan Belawan (untuk tanah pesisir pantai). Penelitian dilakukan sebanyak tiga titik di satu lokasi, sehingga diperoleh 9 titik pengukuran. Pengukuran laju infiltrasi dilakukan menggunakan alat infiltrometer cincin ganda. Beberapa faktor yang mempengaruhi laju infiltrasi yaitu tekstur tanah, kerapatan tanah, bahan organik tanah, dan porositas tanah. Dari pengukuran dilapangan, diperoleh laju infiltrasi pada tanah hutan adalah 98,62 cm/jam atau yang paling cepat, pada tanah perkotaan dan tanah pesisir pantai 2,60 cm/jam atau sama-sama yang paling lambat. Dari analisis laboratorium yang dilakukan, pada tanah hutan bertekstur lempung berpasir, kerapatan tanah 0,54 g/cm 3 , bahan organik 3,91 %, dan porositas tanah 79,60 %. Tanah perkotaan bertekstur lempung, kerapatan tanah 1,31 g/cm 3 , bahan organik 3,67 %, dan porositas tanah 50,60 %. Tanah pesisir pantai bertekstur lempung berpasir, kerapatan tanah 1,47 g/cm 3 , bahan organik 1,31 %, dan porositas tanah 44,46 %.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

S TS 1105140 Chapter1

S TS 1105140 Chapter1

1. Sebagai pengetahuan tentang besar laju infiltrasi tertinggi dan terendah dibeberapa tata guna lahan di Kawasan DAS Cibeureum Bandung agar dapat mengetahui tata guna lahan mana yang harus dijaga dan dikembangkan menjadi area infiltrasi, sehingga dengan mengetahui laju infiltrasi diharapkan dapat mengoptimalisasikan dan meningkatkan laju infiltrasi itu sendiri dan dapat menjamin keberlanjutan ketersediaan air tanah (ground water).

Baca lebih lajut

Kapasitas Infiltrasi pada Beberapa Penggunaan Lahan di Desa Sei Silau Barat Kecamatan Setia Janji Kabupaten Asahan

Kapasitas Infiltrasi pada Beberapa Penggunaan Lahan di Desa Sei Silau Barat Kecamatan Setia Janji Kabupaten Asahan

Data laju infiltrasi dapat dimanfaatkan untuk menduga kapan suatu limpasan permukaan (run-off) akan terjadi bila suatu jenis tanah telah menerima sejumlah air tertentu, baik melalui curah hujan ataupun irigasi dari suatu tandon air di permukaan tanah. Oleh karena itu, infor-masi besarnya kapasitas infiltrasi tanah tersebut berguna, baik dalam pengelolaan irigasi (Noveras, 2002), maupun dalam perencanaan konservasi tanah dan air. Dengan mengamati atau menguji sifat ini dapat memberikan gambaran tentang kebutuhan air irigasi yang diperlukan bagi suatu jenis tanah untuk jenis tanaman tertentu pada suatu saat (Siradz dkk, 2000).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Perbedaan Laju Infiltrasi Pada Tanah Hutan Dan Bukan Hutan

Perbedaan Laju Infiltrasi Pada Tanah Hutan Dan Bukan Hutan

Wawan, H., dn Setiawan. 2003. Tata Cara Pengukuran Laju Infiltrasi Dengan Menggunakan Infiltrometer Cincin Ganda. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air. Badan Penelitian dan Pengembangan. Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah. Diakses dari: http://www.pusair.go.id/dete/final-sni/final-infiltrasi/- wawan-setiawan/isi.doc

2 Baca lebih lajut

INFILTRASI PADA BERBAGAI TEGAKAN HUTAN DI ARBORETUM UNIVERSITAS LAMPUNG

INFILTRASI PADA BERBAGAI TEGAKAN HUTAN DI ARBORETUM UNIVERSITAS LAMPUNG

campuran diduga disebabkan oleh pengaruh banyaknya keragaman jenis tumbuhan penyusun tegakan dan kerapatan tajuk tanaman yang tinggi sehingga memberikan kontribusi terhadap pembentukan bahan organik tanah. Hal ini juga didukung oleh Kumalasari (2011) yang menyatakan bahwa dengan adanya berbagai komposisi tegakan tanaman yang berbeda-beda akan mempengaruhi kondisi tanah baik pada sifat fisik maupun kimia tanah. Masing-masing komposisi tegakan tanaman tersebut mempunyai jenis vegetasi yang beragam, dominasi tegakan tanaman maupun penutupan oleh tajuk tanaman yang semuanya akan mempengaruhi kondisi tanah di bawahnya terutama pada sifat fisika dan kimia tanah. Semakin tinggi bahan organik suatu lahan dimana banyak seresah yang menutupi permukaan tanah akan meningkatkan aktifitas mikroorganisme dalam mendekomposisikan bahan organik akan menjaga struktur tanah, sedangkan daerah yang tanpa seresah kemungkinan akan mengeras dan membentuk lapisan kerak akibat tingginya aliran permukaan (Rahayu, 2009 dalam Budianto, 2012). Rachman (1988), mengemukakan bahwa bahan organik tanah juga merupakan sumber energi dan makanan bagi organisme tanah serta bahan penyemen untuk pembentukan agregat yang lebih stabil. Organisme yang berkembang ini selanjutnya akan merangsang pembentukan struktur tanah yang lebih sarang sehingga dapat meningkatkan laju infiltrasi tanah.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Laju Infiltrasi Pada Lahan Sawah Di Mikro Das Cibojong, Sukabumi

Laju Infiltrasi Pada Lahan Sawah Di Mikro Das Cibojong, Sukabumi

Proses infiltrasi yang merupakan bagian dari siklus hidrologi mempunyai peranan yang sangat penting dalam kelestarian sumberdaya alam. Kapasitas infiltrasi tanah rendah, akan menyebabkan sebagian besar curah hujan yang jatuh pada suatu daerah akan mengalir sebagai aliran permukaan dan hanya sebagian kecil yang masuk ke dalam tanah yang menjadi simpanan air tanah. Efeknya pada musim hujan besar kemungkinan terjadi banjir dan pada musim kemarau akan terjadi kekeringan. Sebaliknya kapasitas infiltrasi tanah tinggi akan merugikan karena dapat menurunkan produktivitas lahan pertanian atau perkebunan karena kapasitas infiltrasi yang besar dapat menyebabkan meningkatnya proses pencucian unsur hara tanah. Oleh karenanya nilai kapasitas infiltrasi tanah merupakan informasi penting dan berharga bagi perancangan dan penentuan jenis penggunaan lahan yang cocok untuk berbagai aktivitas kehidupan, seperti untuk bermukim, bertani, berkebun ataupun untuk pembuatan saluran irigasi. Dengan demikian pengukuran untuk mendapatkan nilai infiltrasi merupakan hal yang sangat penting dalam upaya untuk mendapatkan nilai infiltrasi yang bisa dijadikan patokan untuk menghitung dan mengetahui jumlah air hujan yang masuk ke dalam tanah dan yang menjadi limpasan permukaan.
Baca lebih lanjut

72 Baca lebih lajut

Laju Infiltrasi Pada Lahan Sawah Di Mikro Das Cibojong, Sukabumi

Laju Infiltrasi Pada Lahan Sawah Di Mikro Das Cibojong, Sukabumi

Proses infiltrasi yang merupakan bagian dari siklus hidrologi mempunyai peranan yang sangat penting dalam kelestarian sumberdaya alam. Kapasitas infiltrasi tanah rendah, akan menyebabkan sebagian besar curah hujan yang jatuh pada suatu daerah akan mengalir sebagai aliran permukaan dan hanya sebagian kecil yang masuk ke dalam tanah yang menjadi simpanan air tanah. Efeknya pada musim hujan besar kemungkinan terjadi banjir dan pada musim kemarau akan terjadi kekeringan. Sebaliknya kapasitas infiltrasi tanah tinggi akan merugikan karena dapat menurunkan produktivitas lahan pertanian atau perkebunan karena kapasitas infiltrasi yang besar dapat menyebabkan meningkatnya proses pencucian unsur hara tanah. Oleh karenanya nilai kapasitas infiltrasi tanah merupakan informasi penting dan berharga bagi perancangan dan penentuan jenis penggunaan lahan yang cocok untuk berbagai aktivitas kehidupan, seperti untuk bermukim, bertani, berkebun ataupun untuk pembuatan saluran irigasi. Dengan demikian pengukuran untuk mendapatkan nilai infiltrasi merupakan hal yang sangat penting dalam upaya untuk mendapatkan nilai infiltrasi yang bisa dijadikan patokan untuk menghitung dan mengetahui jumlah air hujan yang masuk ke dalam tanah dan yang menjadi limpasan permukaan.
Baca lebih lanjut

119 Baca lebih lajut

View of Penentuan Laju Irigasi di Lahan Pertanian Kecamatan Sangatta Selatan Menggunakan Model Infiltrasi Terpilih

View of Penentuan Laju Irigasi di Lahan Pertanian Kecamatan Sangatta Selatan Menggunakan Model Infiltrasi Terpilih

Kandungan liat tertinggi pada sampel pengukuran B3 yaitu 47.5 %, sedangkan terendah pada titik C1. Tanah dengan kandungan liat yang tinggi mempunyai gaya matrik yang tinggi sehingga menghambat laju infiltrasi, selain penyumbatan pori-pori makro oleh partikel liat, sehingga pada tanah kandungan liat tinggi infiltrasi kumulatif akan lebih kecil. Hasil yang berbeda diperlihatkan pada Gambar 2b. bahwa laju infiltrasi B3 lebih tinggi dibandingkan C1, hal ini disebabkan oleh rendahnya kadar air awal tanah yaitu 17.1 % sedangkan C1 sebesar 34,9 %.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Kemampuan Hutan Untuk Pelestarian Air Tanah di Berbagai Tutupan Lahan (Studi Kasus di Arboretum Arsitektur Lanskap IPB, Bogor)

Kemampuan Hutan Untuk Pelestarian Air Tanah di Berbagai Tutupan Lahan (Studi Kasus di Arboretum Arsitektur Lanskap IPB, Bogor)

lebih tinggi. Menurut klasifikasi Kohnke (1968) tentang laju infiltrasi pada lahan vegetasi rapat memiliki laju infiltrasi sebesar 38 mm/jam dan tergolong laju infiltrasi sedang hal ini disebabkan oleh tingginya porositas tanah dan bahan organik. Tingginya porositas pada lahan ini menyebabkan kemampuan tanah menyerap air semakin besar. sehingga laju infiltrasi tanahnya semakin besar. Pada lahan serasah memiliki nilai laju infiltrasi sebesar 33 mm/jam dan tergolong laju infiltrasi sedang. hal ini disebabkan oleh adanya sisa vegetasi (serasah) yang membantu dalam pembentukan agregat tanah yang membentuk granul-granul dan memperbesar volume pori-pori yang ada, sehingga cenderung menurunkan tingakat kepadatan tanah dan meningkatkan jumlah air yang dapat diserap oleh tanah. Pada lahan vegetasi jarang memiliki nilai laju infiltrasi minimum sebesar 26.3 mm/jam dan tergolong laju infiltrasi sedang. Lokasi vegetasi jarang terdapat tumbuhan bawah yang lebih bervariasi sehingga dapat meningkatkan laju infiltrasi. Pada lokasi lahan berumput memiliki nilai laju infiltrasi sebesar 17.6mm/jam dan tergolong sebagai laju infiltrasi sedang lambat. Sedangkan pada lahan terbuka memiliki nilai laju infiltrasi terkecil yaitu sebesar 2.6 mm/jam dan tergolong laju infiltrasi lambat. Hal ini disebabkan tidak adanya vegetasi yang tumbuh di lahan ini sehingga di dalam tanah tidak terdapat akar-akar yang berfungsi menyerap air. Lahan ini terkadang dijadikan untuk lahan parkir dan tingginya intensitas injakan manusia. maka agregat-agregat tanah akan hancur dan kepadatan tanah meningkat. sehingga kemampuan tanah menyerap air menjadi semakin rendah (Buckman and Brady 2002). Hal inilah yang menyebabkan laju infiltrasi lahan terbuka tegolong paling rendah. Berdasarkan hasil penelitian Sihotang (1990) menjelaskan bahwa penutupan lahan baik dalam meresapkan air di dalam tanah adalah pada penggunaan lahan dalam bentuk hutan, jika dibandingkan dengan penggunaan lahan sebagai kebun campuran dan sawah. Hal ini sesuai dengan penelitian ini yang menyatakan tutupan lahan vegetasi rapat memiliki laju infiltrasi terbesar. Vegetasi rapat memiliki komposisi struktur tegakan yang sama seperti lahan di hutan.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

S TS 1105140 Abstract

S TS 1105140 Abstract

Seiring dengan pertambahan jumlah penduduk yang semakin besar menyebabkan aktivitas penduduk dan perkembangan pembangunan di kawasan DAS Cibeureum menjadi semakin pesat. Hal ini berakibat pada semakin berkurangnya area infiltrasi air hujan. Dibutuhkan pengukuran laju infiltrasi pada tata guna lahan di kawasan DAS Cibeureum untuk mengetahui laju infiltrasi.

Baca lebih lajut

TIPIKAL KUANTITAS INFILTRASI MENURUT KARAKTERISTIK LAHAN (KAJIAN EMPIRIK DI DAS CIMANUK BAGIAN HULU)

TIPIKAL KUANTITAS INFILTRASI MENURUT KARAKTERISTIK LAHAN (KAJIAN EMPIRIK DI DAS CIMANUK BAGIAN HULU)

Darmawan, I. 1998. Kajian Laju Infiltrasi Berdasarkan Jenis Batuan dan Data Sifat Fisik Tanah (Studi Kasus: Kawasan Bandung Utara dan Wilayah Jakarta); Tesis Magister. Bidang Khusus Hidrogeologi, Program Studi Rekayasa Pertambangan, Program Pasca Sarjana - ITB. Darmawidjaja, Isa. 1990. Klasifikasi Tanah, Dasar Teori Bagi Peneliti Tanah dan Pelaksana

Baca lebih lajut

Show all 5080 documents...