Letusan Gunung Merapi 2010

Top PDF Letusan Gunung Merapi 2010:

Pola Erosi dan Sedimentasi Sungai Progo Setelah Letusan Gunung Merapi 2010 Studi Kasus Jembatan Bantar Kulon Progo

Pola Erosi dan Sedimentasi Sungai Progo Setelah Letusan Gunung Merapi 2010 Studi Kasus Jembatan Bantar Kulon Progo

Selama musim hujan material sedimen tersebut akan terbawa aliran air sehingga aliran akan mengandung bedload dengan konsentrasi tinggi. Tentunya hal ini akan memberi dampak perubahan morfologi sungai yang signifikan pada musim hujan. Perubahan morfologi sungai sangat tergantung dari kondisi aliran dan material sedimen yang ada (Duan dan Julien, 2005). Kondisi topografi sungai juga berpengaruh pada proses perubahan morfologi sungai. Di sungai sebelah hulu biasanya kemiringan dasar sungai adalah curam sehingga kondisi aliran umumnya superkritis. Sedangkan jenis aliran di sebelah hilir sungai biasanya subkritis. Melihat kondisi hidraulika tersebut maka butiran sedimen yang kasar cenderung terdeposit di sebelah hulu dan material yang lebih halus akan terendap di sebelah hilir sungai. Mengingat jumlah material sedimen yang ada di sepanjang sungai Progo akibat letusan Gunung Merapi sangat besar, maka kondisi dasar sungai akan mengalami perubahan yang sangat signifikan dalam waktu yang cukup singkat. Kondisi hidraulika sungai sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan kondisi struktur sungai yang ada.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

DESKRIPSI OBJEK PENELITIAN  MEDIA CETAK DAN PEMBERITAAN BENCANA LETUSAN GUNUNG MERAPI (Analisis Wacana Pemberitaan Letusan Gunung Berapi Pada Headline Surat Kabar Kedaulatan Rakyat Periode 27 Oktober 2010 sampai 26 November 2010).

DESKRIPSI OBJEK PENELITIAN MEDIA CETAK DAN PEMBERITAAN BENCANA LETUSAN GUNUNG MERAPI (Analisis Wacana Pemberitaan Letusan Gunung Berapi Pada Headline Surat Kabar Kedaulatan Rakyat Periode 27 Oktober 2010 sampai 26 November 2010).

A. Media Cetak dan Pemberitaan Bencana Letusan Gunung Merapi 2010 Gunung Merapi memuntahkan lahar dan awan panas pada tanggal 26 Oktober 2010. Letusan dahsyat itu mengakibatkan ratusan korban meninggal dan hilang. Tidak hanya kehilangan sanak saudara, tetapi para korban merapi harus berbesar hati melihat rumah serta harta bendanya terkubur. Belum lagi kerusakan lingkungan dan infrastruktur di kawasan bencana tersebut. Kondisi kejiwaan dan mental para korban pun tak luput dari perhatian. Dalam keadaan seperti itu media dengan gesit memburu informasi seakurat mungkin untuk menunjukkan eksistensi media. Media adalah sebuah institusi yang memiliki ideologi serta bersifat profit
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

MEDIA CE MEDIA CETAK DAN PEMBERITAAN BENCANA LETUSAN GUNUNG MERAPI (Analisis Wacana Pemberitaan Letusan Gunung Berapi Pada Headline Surat Kabar Kedaulatan Rakyat Periode 27 Oktober 2010 sampai 26 November 2010).

MEDIA CE MEDIA CETAK DAN PEMBERITAAN BENCANA LETUSAN GUNUNG MERAPI (Analisis Wacana Pemberitaan Letusan Gunung Berapi Pada Headline Surat Kabar Kedaulatan Rakyat Periode 27 Oktober 2010 sampai 26 November 2010).

Berawal dari menjadi relawan selama hampir 2 bulan di Posko Merapi GKJ Klaten yang menampung para pengungsi korban Merapi dari Desa Bawukan dan Desa Gemampir, Klaten. Di Tempat itulah peneliti mendapat banyak pengalaman hidup. Duka mereka, semangat mereka, senyum dan tangis mereka menjadi motivasi peneliti untuk membuat skripsi ini. Begitu antusiasnya mereka menyaksikan berita informasi tentang Merapi di TV yang disediakan di Posko. Mereka menyaksikan dengan serius, terlebih lagi ketika media menyiarkan penderitaaan para korban. Begitukah sikap media memberitakan bencana di media massa elektronik seperti TV? Lalu bagaimana dengan media cetak? Hal ini lah yang menjadi pertanyaan mendasar bagaimana peneliti mengambil topik bencana Letusan Gunung Merapi 2010 dan Media Cetak.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

SISTEM INFORMASI MANAJEMEN KOMANDO TANGGAP DARURAT BENCANA LETUSAN GUNUNG MERAPI

SISTEM INFORMASI MANAJEMEN KOMANDO TANGGAP DARURAT BENCANA LETUSAN GUNUNG MERAPI

Setiap gunung api memiliki karakteristik tersendiri jika ditinjau dari jenis muntahan atau produk yang dihasilkannya. Akan tetapi apapun jenis produk tersebut kegiatan letusan gunung api tetap membawa bencana bagi kehidupan. Bahaya letusan gunung api memiliki resiko merusak dan mematikan. Bahaya yang ditimbulkan Gunung Merapi dibagi menjadi bahaya primer yaitu awan panas, lontaran material (pijar), hujan abu lebat, lava, gas beracun, tsunami dan bahaya sekunder berupa aliran lahar dingin yang terjadi akibat penumpukan material dalam berbagai ukuran di puncak dan lereng bagian atas. Pada saat musim hujan tiba, sebagian material tersebut akan terbawa oleh air hujan dan tercipta adonan lumpur turun ke lembah sebagai banjir bebatuan, banjir tersebut disebut lahar.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

INVENTARISASI TUMBUHAN PADA KETINGGIAN YANG BERBEDA PASCA LETUSAN GUNUNG MERAPI JALUR  Inventarisasi Tumbuhan Pada Ketinggian Yang Berbeda Pasca Letusan Gunung Merapi Jalur Pendakian Balerante Kecamatan Kemalang Kabupaten Klaten.

INVENTARISASI TUMBUHAN PADA KETINGGIAN YANG BERBEDA PASCA LETUSAN GUNUNG MERAPI JALUR Inventarisasi Tumbuhan Pada Ketinggian Yang Berbeda Pasca Letusan Gunung Merapi Jalur Pendakian Balerante Kecamatan Kemalang Kabupaten Klaten.

Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah SWT, atas rahmat dan hidayah- Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “ Inventarisasi Tumbuhan Pada Ketinggian Yang Berbeda Pasca Letusan Gunung Merapi Jalur Pendakian Balerante Kecamatan Kemalang Kabupaten Klaten ”. Menjadi suatu kebanggaan tersendiri telah melewati berbagai rintangan suka cita dan duka dalam menyelesaikan skripsi ini. Adapun maksud penyusunan skripsi ini adalah untuk memenuhi sebagian tugas dan syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan S-1 Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

INVENTARISASI TUMBUHAN PADA KETINGGIAN YANG BERBEDA PASCA LETUSAN GUNUNG MERAPI JALUR  Inventarisasi Tumbuhan Pada Ketinggian Yang Berbeda Pasca Letusan Gunung Merapi Jalur Pendakian Balerante Kecamatan Kemalang Kabupaten Klaten.

INVENTARISASI TUMBUHAN PADA KETINGGIAN YANG BERBEDA PASCA LETUSAN GUNUNG MERAPI JALUR Inventarisasi Tumbuhan Pada Ketinggian Yang Berbeda Pasca Letusan Gunung Merapi Jalur Pendakian Balerante Kecamatan Kemalang Kabupaten Klaten.

Gunung Merapi (ketinggian puncak 2.968 m.dpl) merupakan gunung berapi di bagian tengah Pulau Jawa dan merupakan salah satu gunung api teraktif di Indonesia. Lereng sisi selatan berada dalam administrasi Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan sisanya berada dalam wilayah Provinsi Jawa Tengah, yaitu Kabupaten Magelang di sisi barat, Kabupaten Boyolali di sisi utara dan timur, serta Kabupaten Klaten di sisi tenggara. Kawasan hutan di sekitar puncaknya menjadi kawasan Taman Nasional Gunung Merapi sejak tahun 2004. Gunung Merapi adalah gunung termuda dalam rangkaian gunung berapi yang mengarah ke selatan dari Gunung Ungaran. Gunung ini terbentuk karena aktivitas di zona subduksi Lempeng Indo-Australia yang bergerak ke bawah Lempeng Eurasia menyebabkan munculnya aktivitas vulkanik di sepanjang bagian tengah Pulau Jawa (Anonim, 2005).
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

132306 AKJ 2006 05 04 1000 Tahun Letusan Gunung Merapi

132306 AKJ 2006 05 04 1000 Tahun Letusan Gunung Merapi

Terbentuknya gunung merapi / merupakan akibat dari pertemuan dua sesar melintang / dengan arah utara-selatan yang memotong antara jawa tengah dan jawa timur / dan garis sesar membujur berarah timur-barat / yang membentuk zona batas perbukitan kendeng sebelah barat dengan sub-zona ngawi jawa timur // akibat dari gesekan sesar tersebut / terjadi tekanan dan panas yang tinggi di dalam bumi // suhu yang panas ini / menyebabkan batuan meleleh dan membentuk magma yang bersifat encer // dengan adanya tekanan yang semakin meningkat ini / magma kental yang bersifat andesitik dan riolitik beserta bahan-bahan fragmental lainnya terdorong keluar mengendap di sekitar kawah dan membentuk tubuh gunung api strato yang membentuk kerucut //
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Gunung Merapi Gunung Merapi Gunung Merapi

Gunung Merapi Gunung Merapi Gunung Merapi

Peningkatan status dari "normal aktif" menjadi "waspada" pada tanggal 20 September 2010 direkomendasi oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta. Setelah sekitar satu bulan, pada tanggal 21 Oktober status berubah menjadi "siaga" sejak pukul 18.00 WIB. Pada tingkat ini kegiatan pengungsian sudah harus dipersiapkan. Karena aktivitas yang semakin meningkat, ditunjukkan dengan tingginya frekuensi gempa multifase dan gempa vulkanik, sejak pukul 06.00 WIB tangggal 25 Oktober BPPTK Yogyakarta merekomendasi peningkatan status Gunung Merapi menjadi "awas" dan semua penghuni wilayah dalam radius 10 km dari puncak harus dievakuasi dan diungsikan ke wilayah aman.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

KESIMPULAN DAN SARAN  MEDIA CETAK DAN PEMBERITAAN BENCANA LETUSAN GUNUNG MERAPI (Analisis Wacana Pemberitaan Letusan Gunung Berapi Pada Headline Surat Kabar Kedaulatan Rakyat Periode 27 Oktober 2010 sampai 26 November 2010).

KESIMPULAN DAN SARAN MEDIA CETAK DAN PEMBERITAAN BENCANA LETUSAN GUNUNG MERAPI (Analisis Wacana Pemberitaan Letusan Gunung Berapi Pada Headline Surat Kabar Kedaulatan Rakyat Periode 27 Oktober 2010 sampai 26 November 2010).

pula maksud yang diungkapkan secara tersamar, misalnya diksi ‘mengamuk’ yang menekankan pada penyebab Merapi mengamuk atau meletus yang ditujukan kepada warga lereng sekitar Merapi yang menjadi penyebab Merapi meletus. Wartawan juga memakai perubahan urutan untuk menentukan berita yang bebar- benar ingin ditonjolkan.

9 Baca lebih lajut

ANALISIS PERBANDINGAN ERUPSI GUNUNG SINA

ANALISIS PERBANDINGAN ERUPSI GUNUNG SINA

Dalam penulisan makalah ini, metode yang digunakan adalah studi literatur dari buku, berbagai jurnal ilmiah dan data dari internet yang berhubungan dengan pembahasan makalah ini. Sumber literatur utama yang digunakan adalah jurnal yang berjudul The August 2010 Phreatic Eruption of Mount Sinabung, North Sumatra yang disusun oleh I.S.Sutawidjaja, O.Prambada, dan D.A. Siregar pada tahun 2013 dan jurnal yang berjudul The 2010 explosive eruption of Java’s Merapi volcano - a ‘100 - year’ event yang disusun oleh M. Surono, P. Jousset, J. Pallister, M. Boichu, M. F. Buongiorno, A. Budisanto, F. C. Rodriguez, S. Andreastuti, F. Prata, D. Schneider, L. Clarisse, H. Humaida, S. Sumarti, C. Bignam, J. Griswold, S. Carn, C. Oppenheimer, dan F. Lavigne.
Baca lebih lanjut

35 Baca lebih lajut

DAFTAR PUSTAKA  Keanekaragaman tumbuhan survival di bagian selatan Bukit tlogodringo tawangmangu karanganyar.

DAFTAR PUSTAKA Keanekaragaman tumbuhan survival di bagian selatan Bukit tlogodringo tawangmangu karanganyar.

Aisha, Siti dan Istikomah, Ita Rosita. (2014). “Komposisi Anggrek Tanah dan Vegetasi Lantai Hutan di Jalur Pendakian Utama Gunung Andong, Magelang, Jawa Tengah.” Jurnal Kaunia. Vol. X No. 1. ISSN 1829-5266 (print) ISSN 2301-8550 (online).

5 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Inventarisasi Tumbuhan Pada Ketinggian Yang Berbeda Pasca Letusan Gunung Merapi Jalur Pendakian Balerante Kecamatan Kemalang Kabupaten Klaten.

PENDAHULUAN Inventarisasi Tumbuhan Pada Ketinggian Yang Berbeda Pasca Letusan Gunung Merapi Jalur Pendakian Balerante Kecamatan Kemalang Kabupaten Klaten.

Puspitaningtyas (2004), melakukan penelitian mengenai Inventarisasi tumbuhan, tentang Studi Keragaman Anggrek di Cagar Alam Gunung Simpang, Jawa Barat menyimpulkan bahwa Kawasan Cagar Alam Gunung Simpang memiliki keragaman anggrek kurang lebih 137 jenis yang termasuk dalam 51 marga, terdiri dari 95 jenis anggrek epifit dan 42 jenis anggrek tanah. Plocoglottis javanica merupakan anggrek tanah yang dominan tumbuh di kawasan Cagar Alam Gunung Simpang. Jenis anggrek tanah lainnya yang cukup banyak populasinya adalah Phaius pauciflorus, Liparis rheedii, Diglyphosa latifolia, Neuwiedia zollingeri var. javanica, Calanthe ceciliae, Calanthe speciosa dan Phaius callosus. Jenis-jenis anggrek epifit yang banyak ditemukan adalah Agrostophyllum majus, Coelogyne speciosa, Dendrobium mutabile, Agrostophyllum bicuspidatum, Pholidota ventricosa dan Eria javanica. Beberapa jenis anggrek yang menarik sangat potensial untuk dikembangkan sebagai tanaman hias, antara lain Vanda tricolor, Phaius callosus, Phaius tankervilleae, Arundina graminifolia, Bulbophyllum lobbii, Coelogyne speciosa,Calanthe ceciliae, C. triplicata dan C. speciosa .
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PENELITIAN HUKUM/SKRIPSI  PELAKSANAAN REHABILITASI KERUSAKAN HUTAN LINDUNG TAMAN NASIONAL GUNUNG MERAPI (TNGM) AKIBAT LETUSAN GUNUNG MERAPI MELALUI PENGHIJAUAN DI KABUPATEN SLEMAN PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA.

PENELITIAN HUKUM/SKRIPSI PELAKSANAAN REHABILITASI KERUSAKAN HUTAN LINDUNG TAMAN NASIONAL GUNUNG MERAPI (TNGM) AKIBAT LETUSAN GUNUNG MERAPI MELALUI PENGHIJAUAN DI KABUPATEN SLEMAN PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA.

Dengan ini penulis menyatakan bahwa penulisan yang berjudul Pelaksanaan Rehabilitasi Kerusakan Hutan Lindung Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) Akibat Letusan Gunung Merapi Melalui Penghijauan Di Kabupaten Sleman Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan karya asli penulis. Menurut penulis belum pernah ditulis sebelumnya dan bukan merupakan dublikasi ataupun plagiasi dari hasil karya penulis lain. Letak kekhususan dari penelitian ini adalah penulis ingin mengetahui dengan adanya pelaksanaan rehabilitasi kerusakan hutan lindung Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) akibat letusan Gunung Merapi melalui penghijauan.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Hubungan antara stres kronis pasca letusan gunung merapi dengan penurunan libido seksual pada pria

Hubungan antara stres kronis pasca letusan gunung merapi dengan penurunan libido seksual pada pria

Beberapa hasil penelitian telah menemukan hubungan antara kondisi jiwa dengan gangguan libido seksual. Sebuah studi wawancara terstruktur melaporkan bahwa 55 % laki-laki dengan hasrat seksual rendah memiliki riwayat depresi berat, 12 % melaporkan peningkatan hasrat seksual dalam kondisi stres, sedangkan 51 % melaporkan penurunan hasrat seksual dalam kondisi stres (Brotto, 2010). Keadaan stres dapat bersumber pada frustasi, konflik, tekanan, atau krisis. Salah satu bentuk frustasi yang datangnya dari luar adalah bencana alam (Maramis, 2005a).
Baca lebih lanjut

51 Baca lebih lajut

SEJARAH LETUSAN GUNUNG MERAPI BERDASARKA (1)

SEJARAH LETUSAN GUNUNG MERAPI BERDASARKA (1)

pada tebing-tebing bekas penambangan pasir dan tebing-tebing sungai yang memiliki lembah yang dalam. Sedangkan pada bagian tengah yang merupakan wilayah transisi antara fasies medial dan distal, endapan lahar ditemukan di persawahan yang terletak di tepi sungai dan sebagian terletak agak jauh dari sungai. Hal ini mengindikasikan bahwa lembah sungai telah mengalami perpindahan. Selain itu, Tabel 1 juga menunjukkan bahwa batuan konglomerat yang menjadi ciri fasies distal ditemukan pada bagian tengah sampai hilir DAS Bedog. Batuan aglomerat ini hanya ditemukan di dalam alur sungai. Hal ini karena pada wilayah tengah sampai dengan hilir DAS Bedog didominasi dengan proses pengendapan material sehingga tidak ditemukan singkapan batuan. Selain itu, ditemukan juga batuan gamping napalan yang merupakan bagian dari Formasi Sentolo. Formasi ini bukan merupakan bagian dari fasies Gunungapi Merapi.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Awan Panas Letusan Tipe Saint Vincent 2010 dan Dampaknya terhadap Lereng Selatan Gunung Merapi

Awan Panas Letusan Tipe Saint Vincent 2010 dan Dampaknya terhadap Lereng Selatan Gunung Merapi

Salah satu gunungapi yang paling sering meletus adalah Gunungapi Merapi. Gunungapi tersebut boleh dikatakan selalu aktif sejak tahun 1900 sampai dengan sekarang, terjadi 24 kali erupsi dengan periode diam atau istirahat yang pendek (rata-rata tidak lebih dari 3,5 tahun). Sebagai pembanding G. Kelud di Jawa Timur mempunyai siklus letusan 15 tahun sekali (Voight, et al, 2000). G. Merapi mempunyai tipe letusan khusus yang berbeda dengan tipe yang lainnya yang sudah banyak dikenal (seperti tipe Vulcanian, tipe Peleean, dan tipe St Vincent) yaitu tipe letusan dengan ciri khas awan panas guguran atau sering disebut Tipe Merapi (Voight, et al, 2000). Penduduk di sekitar lereng G. Merapi menyebut awan panas sebagai wedhus gembel karena gerakannya ketika menuruni lereng seperti gerombolan wedus gembel yang sedang `berlari` menuruni lereng. Berbeda dengan tipe awan panas vulcanian yang penyebaran awan panasnya lebih luas, arah gerakan awan panas Tipe Merapi memusat ke satu arah, sehingga daerah bahaya awan panas Tipe Merapi bersifat sektoral untuk lereng yang dituju.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Status Dan Keanekaragaman Fungi Mikoriza Arbuskula (Fma) Pada Tanah Bekas Erupsi Gunung Sinabung Di Kabupaten Karo

Status Dan Keanekaragaman Fungi Mikoriza Arbuskula (Fma) Pada Tanah Bekas Erupsi Gunung Sinabung Di Kabupaten Karo

Letusan gunung merapi mempengaruhi biologi organisme baik secara langsung maupun tidak langsung. Efek langsung menyebabkan perubahan dalam jangka panjang. Pada efek langsung setiap organisme tertentu terpapar langsung pada larva yang dikeluarkan oleh gunung merapi, uap panas yang dikeluarkan terjebak dilingkungan tanah dan lainnya dimana cukup banyak ditransfer langsung ke lingkungan organisme dan menaikan suhu yang cukup untuk membunuh atau merusak organisme. Efek tidak langsung biasanya menyebabkan menyebabkan perubahan jangka pendek dalam lingkungan yang mempengaruhikehidupan dari biologis (biota tanah). Efek tidak langsung ini dapat melibatkan persaingan untuk habitat, perediaan makanan dan perubahan yang lebih halus lain yang mempengaruhi pembentukan kembali suksesi tanaman dan hewan (Verma dan Jayakumar, 2012).
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

125155 AKJ 2006 04 20 RS Sarjito Siapkan Tempat Tidur

125155 AKJ 2006 04 20 RS Sarjito Siapkan Tempat Tidur

Kesiapan pihak rs. Sarjito juga terlihat dengan penyediaan jumlah obat-obatan yang melebihi target// tenaga psikologi untuk menekan rasa prustasi dan traumatik pada korban// 30 dokter dan 30 pasien yang akan ditempatkan di rumah sakit lapangan jetis cangkringan ngemplak sleman// demikian disampaikan oleh Prof. Dr. Sutaryo SPAK// koordinator unit penanganan korban bencanan gunung merapi//

1 Baca lebih lajut

Proposal PKM P 2015 TINGKAT KESIAPSIAGAA

Proposal PKM P 2015 TINGKAT KESIAPSIAGAA

Kajian mengenai kegunung apian pada umumnya difokuskan pada identifikasi yang berkaitan dengan keaktifan gunung berapi, proses geologi dan proses geomorfologinya, serta proses dan karakteristik material erupsi (Alexa and Collin dalam Subagyono, 2013). Gunung Merapi merupakan gunung paling aktif di dunia. Gunung yang berada diantara Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Provinsi Jawa Tengah mempunyai tipikal letusan yang selalu berubah–ubah, sehingga dampak dari letusan tidak dapat diprediksi secara menyeluruh.
Baca lebih lanjut

27 Baca lebih lajut

kelayakan sistem evakuasi kawasan rawan becana letusan gunung merapi di kabupaten sleman.

kelayakan sistem evakuasi kawasan rawan becana letusan gunung merapi di kabupaten sleman.

3 terjadi letusan freatik, masyarakat KRB khususnya Desa Hargobinangun langsung melakukan evakuasi dengan sistem evakuasi letusan Gunung Merapi tahun 2014. Kondisi jalan-jalan evakuasi beberapa ruas mengalami kerusakan karena kegiatan normalisasi Sungai Gendol, berupa jalan lokal yang berada di Kecamatan Cangkringan. Jalan yang mengalami kerusakan di jalan yang berada dalam dusun digunakan untuk akses menuju titik kumpul dan jalan lokal yang mengalami kerusakan digunakan untuk jalur evakuasi dari titik kumpul menuju barak pengungsian. Selain itu, sebagian masyarakat KRB merasakan tidak mendengarkan bunyi sirine sistem peringatan dini / early warning system yang sampai ke dusun mereka. Sebagian masyarakat KRB yang berada di Kecamatan Cangkringan dalam keadaan yang membahayakan karena jalur evakuasi melewati jembatan sungai memotong Sungai Kuning yang biasa menjadi aliran lahar panas maupun dingin. Sebagian masyarakat mengeluhkan tidak nyaman saat di barak pengungsian karena jumlah pengungsi yang sangat banyak. Pada sistem evakuasi bencana letusan Gunung Merapi 2014 hendaknya dapat memberikan kenyamanan, keselamatan dan keberlanjutan kehidupan di Kawasan Rawan Bencana Gunung Merapi. Maka penelitian ini dibuat untuk melihat kelayakan sistem evakuasi bencana letusan Gunung Merapi tahun 2014.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...