limbah kemasan

Top PDF limbah kemasan:

Kajian awal Pemanfaatan PulP dari limbah Kemasan asePtiK untuK Pembuatan selulosa asetat

Kajian awal Pemanfaatan PulP dari limbah Kemasan asePtiK untuK Pembuatan selulosa asetat

Pada tahun 2008 hingga 2010, penggunaan kemasan aseptik di Indonesia cenderung meningkat dari 21.000 menjadi 28.000 ton (Santosa, 2009). Limbah kemasan aseptik tersebut dapat menimbulkan masalah lingkungan. Peredaran kemasan aseptik di Indonesia mencapai 4 miliar kemasan setiap tahun atau sekitar 333 juta per bulan. Jumlah itu dipasok dari dua produsen kemasan aseptik yang ada di Indonesia yakni PT. Tetrapak dan Combibloc. Dari jumlah 4 miliar tersebut hanya sekitar 1% limbah kemasan terserap ke industri besar daur ulang (Rini, 2013). Salah satu upaya untuk memanfaatkan sampah tersebut adalah melalui proses daur ulang. Proses daur ulang limbah kemasan aseptik ini dapat dijadikan substitusi bahan baku salah satu produk derivat selulosa. Mengingat limbah kemasan aseptik bekas memiliki kandungan pulp virgin serat panjang sebanyak 72% (Falconer dkk., 1995). Pulp serat panjang yang diperoleh dari proses daur ulang limbah kemasan aseptik dapat dijadikan bahan baku alternatif produk derivat selulosa yaitu selulosa asetat teknis. Selain itu, diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah limbah tersebut. Bidang penelitian yang sangat mendasar bagi perkembangan teknologi pembuatan selulosa asetat dan sangat tergantung dari bahan bakunya. Bahan baku polimer alam yang biasanya digunakan adalah pulp dissolving.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

STUDI AWAL PENGAMBILAN KEMBALI ALUMINIUM DARI LIMBAH KEMASAN SEBAGAI ALUMINA

STUDI AWAL PENGAMBILAN KEMBALI ALUMINIUM DARI LIMBAH KEMASAN SEBAGAI ALUMINA

Pada dewasa ini, selain besi, aluminium merupakan logam yang paling banyak digunakan di sektor industri dibandingkan dengan logam lain, salah satunya sebagai kemasan. Kemasan yang terbuat dari aluminium ini banyak digunakan untuk mengemas produk makanan dan minuman, yang jika sudah digunakan isinya, maka wadah kemasan ini akan menjadi sampah. Sampah ini termasuk sampah anorganik yang tidak akan terurai secara alami dan memerlukan pengolahan tertentu untuk menguraikannya. Proses pengambilan kembali aluminium dari limbah ini dilakukan dengan metode gravimetri yaitu melarutkan limbah tersebut dengan HCl 18%. Untuk memisahkan ion-ion yang tidak diinginkan, maka digunakan pereaksi tambahan seperti asam suksinat 5%, 2 gram urea dan 5 gram ammonium klorida. Untuk menghilangkan kandungan air dari endapan maka dilakukan proses pembakaran. Pembakaran ini juga berfungsi untuk menghasilkan endapan murni yang diperoleh dari proses pengambilan aluminium sebagai alumina dari limbah kemasan tersebut.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Pengaruh tekanan kompaksi pressure sintering terhadap ketahanan impak dan kekuatan tarik limbah kemasan aluminium foil AWAL

Pengaruh tekanan kompaksi pressure sintering terhadap ketahanan impak dan kekuatan tarik limbah kemasan aluminium foil AWAL

Gambar 4.1 Hubungan pengaruh tekanan kompaksi terhadap densitas ................ 28 Gambar 4.2 Foto makro void dengan variasi tekanan: (a) 2 bar, (b) 8 bar. .......... 28 Gambar 4.3 Hubungan pengaruh tekanan kompaksi terhadap kekuatan tarik ...... 28 Gambar 4.4 Foto makro penampang patahan (a) retak, (b)patah………… ... 28 Gambar 4.5 Foto spesimen hasil uji tarik variasi tekanan: (a) 2 bar, (b) 8 bar ..... 29 Gambar 4.6 Hubungan tekanan dan regangan spesimen limbah kemasan

15 Baca lebih lajut

RANCANG BANGUN ALAT PENGHANCUR LIMBAH KEMASAN ALUMINIUM FOIL.

RANCANG BANGUN ALAT PENGHANCUR LIMBAH KEMASAN ALUMINIUM FOIL.

Bungkus berlapis aluminium foil merupakan kemasan produk yang sering ditemui di masyarakat. Sebagian besar bungkus berlapis aluminium foil ini hanya digunakan sebagai pembungkus produk sekali pakai antara lain makanan, minuman, deterjen, dan lain-lain. Tingkat konsumsi masyarakat yang tinggi terhadap produk-produk berkemasan berupa bungkus berlapis aluminium foil ini membuat sampah-sampah tersebut kian menjamur di tempat pemrosesan akhir, tidak seperti botol-botol plastik yang dapat berakhir di tangan para pendaur ulang plastik. Sampah yang jumlahnya sangat banyak ini tentunya membutuhkan mekanisme pengelolaan sehingga penekanan jumlah sampah di TPA (Tempat Pemrosesan Akhir) dapat dilakukan.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

S IPS 1205065 Chapter5

S IPS 1205065 Chapter5

menarik dan bernilai, pada tahap kedua yaitu menekan penggunaan limbah kemasan dengan membiasakan peserta didik untuk membawa tempat makan dan tempat minum yang di gunakan untuk kegiatan konsumsi pada saat jajan di kantin sekolah. Persentase yang di dapatkan dalam pembuatan produk peserta didik yaitu pada siklus pertama semua kelompok mendapatkan nilai rata-rata sebesar 53.70, produk yang dibuat masih kurang baik, kemudian dalam siklus kedua rata-rata yang didapatkan yaitu 75.91 sudah terdapat peningkatan yang cukup baik, dan produk yang dibuat dalam siklus ketiga mendapatkan hasil 98.14, produk yang dibuat sudah mendapatkan nilai yang baik, produk dibuat dalam setiap siklusnya berbeda-beda bahan utamanya, yang pertama peserta didik membuat dari botol plastik bekas, siklus kedua dari berbahan koran bekas, dan yang ketiga dari berbahan kardus bekas. Pada indikator yang masih sama peserta didik membuat komitmen bersama untuk menekan penggunaan limbah kemasan dengan cara yang sederhana yaitu membiasakan diri membawa tempat makan dan tempat minum dari rumah, membiasakan mereka membawa bekal dari rumah menjadikan kesehatan diri yang diutamakan, jika mereka tidak sempat menyiapkan bekal dari rumahnya masing- masing peserta didik, harus membiasakan diri untuk jajan dikantin dengan cara tidak menggunakan plastik akan tetapi menggunakan dari tempat makan dan tempat minum yang mereka bawa, hal ini adalah cara sederhana peserta didik untuk menekan perilaku negatif terhadap pemahaman ecoliteracy disekolah. Adapun peningkatan yang didapatkan yaitu dalam siklus pertama terdapat hasil rata-rata 18.92, dalam hal ini masih sedikit sekali peserta didik yang membawa tempat makan dan minum kesekolah, adapun dalam siklus kedua yaitu mendapatkan rata-rata 55.40 yang diman peserta didik cukup baik peningkatannya, namun butuh hasil yang lebih dari itu, dan dalam pelaksanan siklus ketiga terdapat hasil 97.29 terdapat peningkatan yang sangat baik dalam siklus ketiga ini.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

S IPS 1202879 Chapter5

S IPS 1202879 Chapter5

peningkatan pada siklus ketiga memiliki peningkatan yang signifikan dari sklus kedua yakni sebesar 19.11%, adapun siklus kedua memiliki peningkatan dari siklus kesatu yakni sebesar 19.5%. Sesuai dari data tersebut dapat dikatakan bahwa peningkatan ecoliteracy peserta didik dalam memanfaatkan limbah kemasan sebagai media pembelajaran dalam mata pelajaran IPS semakin hari semakin meningktan dan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Dengan demikian melihat data yang diperoleh sudah cenderung konsisten, maka peneliti menyimpulkan bahwa penelitian ini sudah berhasil, dan nilai yang diperoleh pun sudah terlihat jenuh, sehingga penelitian dicukupkan selesai pada siklus ketiga, dan tidak perlu dilakukan tindakan penelitian pada siklus berikutnya.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

TEKNIK PENGEMASAN DAN LABELING PRODUK MAKANAN

TEKNIK PENGEMASAN DAN LABELING PRODUK MAKANAN

Fungsi Kemasan secara mendasar adalah untuk mewadahi dan melindungi produk dari kerusakan-kerusakan. Hal ini sesuai dengan pendapat Simamora (2007) fungsi kemasan yaitu 1) fungsi protektif dan 2) fungsi promosional. Fungsi Protektif dimaksudkan sebagai upaya untuk menghindari berbagai kemungkinan kerusakan produk, baik karena iklim, prasarana transportasi, distribusi, dan lainnya. Sehingga dengan protektif ini para konsumen tidak perlu menanggung resiko barang rusak. Fungsi kedua yaitu promosional. Kemasan yang baik secara warna, ukuran, dan penampilan akan memiliki daya tarik tersendiri bagi pembeli untuk membeli produk tersebut.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Pengujian Berbagai Kombinasi Aktivator pada Pengomposan Limbah Teh

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Pengujian Berbagai Kombinasi Aktivator pada Pengomposan Limbah Teh

Teh merupakan minuman yang populer di Indonesia, sehingga banyak industri yang memproduksinya. Oleh karena hal itu, banyak pula limbah ampas teh yang dihasilkan tiap industrinya. Sejauh ini, limbah teh belum ditangani dengan baik sehingga diperlukan suatu usaha pemanfaatan limbah yaitu salah satunya dengan pembuatan kompos. Penelitian yang dilakukan ini bertujuan untuk : a) Mengetahui pengaruh pemberian berbagai macam kombinasi aktivator dalam pengomposan limbah ampas teh kemasan, b) Mengukur kualitas kompos ampas teh kemasan yang ditambahkan berbagai macam kombinasi aktivator dengan standard SNI 19-7030-2004.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Karakterisasi Edible Film dari Campuran Ekstraksi Keratin limbah bulu Ayam dan Pati jagung Sebagai Kemasan Layak Makan

Karakterisasi Edible Film dari Campuran Ekstraksi Keratin limbah bulu Ayam dan Pati jagung Sebagai Kemasan Layak Makan

Telah dilakukan penelitian tentang pembuatan film layak makan dari pati jagung dengan pengisi keratin hasil ekstraksi limbah bulu ayam dan sorbitol sebagai bahan plasticizer. Dalam penelitian ini film kemasan paduan pati jagung dan sorbitol telah di buat dengan komposisi 10 : 2 dan variasi konsentrasi keratin 0, 3, 5, 7 dan 9%. Fllm yang dihasilkan di analisis sifat mekanik dengan uji kuat tarik, gugus fungsi dengan spektrometer inframerah, sifat termal deferensial thermal analysis, laju transmisi uap air (WVTR) dan sifat serapan air. Data yang di peroleh dari hasil penelitian di analisa untuk melihat sifat layak makan untuk kemasan makanan dengan laju transmisi uap air yang rendah dengan nilai sebesar 0,00334 g/cm 2 /hari. Dari pengujian sifat mekanik untuk kuat tarik dan kemuluran, persentase optimum penambahan keratin adalah sebesar 9% dengan nilainya masing-masing adalah 25,02 MPa dan 3,64%. Analisa termal dan gugus fungsi dengan penambahan keratin menaikkan temperatur leleh dan temperatur dekomposisi dan pencampuran terjadi secara fisik. Dari keseluruhan pengujian, persentase penambahan keratin terbaik terdapat pada komposisi keratin 9%. Penambahan keratin terbukti dapat meningkatkan sifat mekanik film dan juga layak makan.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Analisis pengaruh kemasan terhadap minat beli konsumen : studi kasus pada kemasan mie instan merk Indomie terhadap mahasiswa Universitas Sanata Dharma - USD Repository

Analisis pengaruh kemasan terhadap minat beli konsumen : studi kasus pada kemasan mie instan merk Indomie terhadap mahasiswa Universitas Sanata Dharma - USD Repository

berpuluh-puluh jumlahnya. Bagi kemasan yang mempergunakan unsur grafis dan warna dengan lebih seksama tentu akan tampil sebagai pemikat utama bagi calon pembeli. Apalagi bila disadari bahwa daya ingat manusia terhadap bentuk lebih lamban dibanding terhadap warna dan orang dapat lupa terhadap nama sebuah produk tapi sukar lupa terhadap warna kemasnya. Sebagai contoh hal ini jelas terlihat pada kemasan film, Kodak (kuning), Fuji Color (hijau), Corned beef Cip/Pronas dan sardencis (merah), Sari Ayu (coklat tua), Mustika Ratu (merah tua).

139 Baca lebih lajut

Karakterisasi Edible Film dari Campuran Ekstraksi Keratin limbah bulu Ayam dan Pati jagung Sebagai Kemasan Layak Makan

Karakterisasi Edible Film dari Campuran Ekstraksi Keratin limbah bulu Ayam dan Pati jagung Sebagai Kemasan Layak Makan

Terlihat bahwa film yang paling baik digunakan sebagai kemasan yaitu film dengan konsentrasi keratin 9%, dengan nilai laju transmisi uap air sebesar 44,5x10 -4 (g/cm 2 /hari) sebab pada kondisi tersebut film memiliki nilai yang lebih kecil di bandingkan film dengan konsentrasi 0% keratin. Menurut Garcia, dkk (2000) dari Gontar, 1993. menyebutkan bahwa, migrasi uap air umumnya terjadi pada bagian film yang hidrofilik. Dengan demikian ratio antara bagian yang hidrofilik dan hidrofobik komponen film akan mempengaruhi nilai laju transmisi uap air film tersebut. Semakin besar hidrofobitas film, maka nilai laju transmisi uap air film tersebut akan semakin menurun. (Rachmawati A, 2009). Dalam hal ini keratin merupakan protein serat yang bersifat hidrofobik, sehingga peningkatan konsentrasi keratin cenderung menurunkan laju transmisi uap air edible film. Apabila di bandingkan dengan edible film dari campuran 0% keratin yang memiliki laju transmisi uap air sebesar 105,6x10 -4 (g/cm 2 /hari) maka edible film dengan berpengisi keratin 9% ini memiliki kemampuan dalam menahan laju transmisi uap air yang lebih besar.
Baca lebih lanjut

87 Baca lebih lajut

PERANCANGAN KEMASAN INOVATIF GADO-GADO ARJUNA PAK SATUMIN SURABAYA | Handojo | Jurnal DKV Adiwarna 4405 8390 1 SM

PERANCANGAN KEMASAN INOVATIF GADO-GADO ARJUNA PAK SATUMIN SURABAYA | Handojo | Jurnal DKV Adiwarna 4405 8390 1 SM

Selain dari produk yang menggunakan bahan yang khas, Gado-Gado Arjuna Pak Satumin juga konsisten dalam melakukan penyajian gado-gadonya. Untuk konsumen yang ingin mengonsumsi gado-gado di luar, atau take away, Gado-Gado Arjuna Pak Satumin menyajikan gado-gadonya dengan karakteristik kemasan yang berbentuk balok dengan permukaan yang halus pada lapisan luar dan lapisan dalam yang kedap air serta minyak. Kemasan ini menjaga agar bumbu tidak bocor sampai keluar. Untuk saus kacang dan kerupuk, penyajian dibuat terpisah dan masing-masing menggunakan plastik. Setelah itu kemasan sayur, bumbu beserta kerupuk dimasukkan ke dalam satu buah kantung kresek berbahan plastik.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Karakterisasi Edible Film dari Campuran Ekstraksi Keratin limbah bulu Ayam dan Pati jagung Sebagai Kemasan Layak Makan

Karakterisasi Edible Film dari Campuran Ekstraksi Keratin limbah bulu Ayam dan Pati jagung Sebagai Kemasan Layak Makan

Pertama-tama penulis panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT Tuhan yang maha esa atas segala limpahan rahmat dan karunianya sehingga dapat menyelesaikan tesis ini yang berjudul : “ Karakterisasi Edible Film dari Campuran Ekstraksi Keratin limbah bulu Ayam dan Pati jagung Sebagai Kemasan Layak Makan”.

17 Baca lebih lajut

Karakteristik dan Penggunaan Kemasan Sekunder Pada “Dodol Bali” - Digital Repository Warmadewa University

Karakteristik dan Penggunaan Kemasan Sekunder Pada “Dodol Bali” - Digital Repository Warmadewa University

Dari tabel 9 dapat dilihat bahwa total Kapan yang dihasilkan pada perlakuan istimewa ketan putih dan dodol ketan hitam berbeda tidak nyata karena bahan yang dipakai hampir sama sehingga total kapang yang dihasilkan juga tidak jauh berbeda. Pada tabel 9 juga dapat dilihat bahwa pada perlakuan pengemasan sekunder pada masing-masing jenis dodol ketan berpengaruh sangat nyata. Total kapang tertinggi didapat pada perlakuan tanpa kemasan sekunder dan kemasan plastik mika yaitu 1,70 x 10 2 koloni/gram dan terendah terdapat pada perlakuan kemasan besek yaitu 1,25 x 10 2 koloni/gram. Hal ini disebabkan karena pengemasan dengan
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

S IPS 1205065 Abstrcat

S IPS 1205065 Abstrcat

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya permasalahan yang peneliti temukan pada kegiatan pra-penelitian yakni rendahnya kemampuan ecoliteracy peserta didik dalam pembelajaran IPS di kelas VII-G SMP Negeri 45 Bandung terlihat dari keadaan kelas yang kotor saat proses pembelajaran dikelas. Tujuan dilakukan penelitian ini yaitu untuk memperbaiki permasalahan rendahnya kemampuan ecoliteracy peserta didik. Rendahnya kemampuan ecoliteracy merupakan suatu masalah dalam proses pembelajaran. Keadaan kelas yang kotor dan guru tidak bersama-sama untuk mengajak menjaga kebersihan kelas, proses pembelajaran pun hanya mengandalkan penugasan rangkuman saja. Desain pembelajaran menggunakan media pembelajaran pemanfatan limbah kemasan menjadi alternatif. Indikator yang digunakan dalam penelitian ini adalah pertama, mengembangkan empati terhadap segala bentuk kehidupan, kedua, menyatukan keberlanjutan sebagai praktik kelompok, ketiga, membuat yang tidak terlihat menjadi terlihat, keempat, mengantisipasi konsekuensi yang tidak diinginkan, kelima, memahami bagaimana alam menopang kehidupan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan desain yang dikembangkan oleh Kemmis dan MC Taggart yang setiap siklusnya terdiri dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi tindakan, dan refleksi. Penelitian ini dilaksanakan sebanyak tiga siklus, dan setiap siklusnya terdiri dari dua tindakan. Kegiatan penelitian terkait dengan “Meningkatkan Ecoliteracy peserta didik pada mata pelajaran IPS” yang telah dilakukan melalui tahapan tersebut memperoleh hasil yang baik. Hal tersebut terlihat dari data yang diperoleh pada setiap siklusnya, yakni pada siklus satu, kemampuan ecoliteracy peserta didik baru mencapai kategori kurang”. Kemudian, pada siklus dua mengalami peningkatan yang cukup tinggi, sehingga hasil yang diperoleh berada dalam kategori “cukup”. Lalu, pada siklus tiga terjadi peningkatan dari kategori cukup menjadi “baik”. Indikator yang tinggi dalam penelitian ini yaitu membuat yang tidak terlihat menjadi terlihat, dan indikator yang rendah yaitu memahami bagaimana alam menopang kehidupan. Kesimpulannya bahwa penggunaan pemanfaatan limbah kemasan sebagai media pembelajaran dalam mata pelajaran IPS dapat meningkatkan ecoliteracy peserta didik.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

PENGARUH PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN LATIHAN/DRILL TERHADAP HASIL BELAJAR PELAJARAN KETERAMPILAN SISWA KELAS VII SMP NEGERI 9 MEDAN. PADA TAHUN AJARAN 2015/2016.

PENGARUH PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN LATIHAN/DRILL TERHADAP HASIL BELAJAR PELAJARAN KETERAMPILAN SISWA KELAS VII SMP NEGERI 9 MEDAN. PADA TAHUN AJARAN 2015/2016.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada pengaruh hasil belajar keterampilan siswa membuat tempat pensil dari limbah kemasan botol mineral dan koran dengan menggunakan metode latihan (drill) di kelas VII SMP Negeri 9 Medan Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2015. Lokasi penelitian di SMP Negeri 9 Medan.

23 Baca lebih lajut

Pengaruh Komposisi Limbah Sekam Padi Dan Abu Sekam Padi Sebagai Pengisi Komposit Hibrid Limbah Botol Plastik Kemasan Minuman Dengan Penambahan Gliserol Sebagai Plasticizer

Pengaruh Komposisi Limbah Sekam Padi Dan Abu Sekam Padi Sebagai Pengisi Komposit Hibrid Limbah Botol Plastik Kemasan Minuman Dengan Penambahan Gliserol Sebagai Plasticizer

Sampah plastik menjadi masalah utama di kalangan masyarakat bisa ditemukan hampir di mana-mana khususnya di tempat pembuangan sampah. Oleh karena itu, limbah plastik dapat menyebabkan pencemaran lingkungan karena tidak biodegradable [7]. Jika sampah basah lebih mudah diolah menjadi pupuk, tidak demikian dengan sampah kering terlebih lagi plastik, dimana membutuhkan waktu yang lama bagi bumi untuk menguraikannya [8].

6 Baca lebih lajut

Limbah medis ke 5 B

Limbah medis ke 5 B

sakit adalah semua sampah dan limbah yang dihasilkan oleh kegiatan rumah sakit dan kegiatan penunjang lainnya. Secara umum sampah dan limbah rumah sakit dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu sampah/limbah klinis dan non klinis baik padat maupun cair.

30 Baca lebih lajut

ART  Puput O, Suprihati, Bistok H Simanjuntak   Pengujian Berbagai Kombinasi Full text

ART Puput O, Suprihati, Bistok H Simanjuntak Pengujian Berbagai Kombinasi Full text

Limbah ampas teh kemasan apabila tidak ditangani akan menjadi masalah bagi lingkungan. Oleh karena itu perlu diupayakan usaha-usaha penge- lolaan atau pemanfaatan limbah tersebut. Ampas yang berasal dari pabrik minuman teh adalah salah satu limbah yang dapat digunakan sebagai pupuk organik (Sari, 2005). Selain itu, ampas teh juga dapat bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman seperti mahkota dewa (Phaleria macrocarpa) yang aplikasinya dikombinasi dengan air kelapa (Galuh, 2010). Pengelolaan dengan cara yang tepat tidak saja dapat memberikan nilai tambah bagi industri minuman teh kemasan, namun juga dapat mengatasi masalah lingkungan.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

BAB 1 Kerajinan Limbah Lunak

BAB 1 Kerajinan Limbah Lunak

Beberapa referensi menyatakan bahwa kertas merupakan bagian dari limbah lunak organik. Hal ini karena kertas dapat terurai dalam tanah. Sifat kertas memiliki pori-pori yang lebar sehingga mudah hancur, selain itu mudah menyerap air dalam waktu singkat. Kandungan lemnya tidak begitu besar sehingga tidak menghalanginya untuk proses pelapukan. Meskipun kertas mudah hancur jika terkena air, namun jika digunakan sebagai bahan dasar produk kerajinan kertas dapat diolah sedemikian rupa agar tidak mudah hancur, yaitu dengan menambah kandungan lem atau zat pelindung anti air seperti melanin/politur, dapat pula dengan dilapisi plastik. Hal ini dimaksudkan agar produk kerajinan yang dihasilkan dari kertas dapat tahan lama, tidak mudah rusak, dan terlihat lebih kuat sehingga unsur kelemahan yang ada pada kertas tidak nampak, sedangkan keunikan limbah kertasnya dapat dipertahankan.
Baca lebih lanjut

52 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...