literasi kesehatan

Top PDF literasi kesehatan:

LITERASI KESEHATAN MENTAL PADA TENAGAKESEHATAN Literasi Kesehatan Mental pada Tenaga Kesehatan.

LITERASI KESEHATAN MENTAL PADA TENAGAKESEHATAN Literasi Kesehatan Mental pada Tenaga Kesehatan.

Abstrak. Tujuan penelitian ini adalah menggali tingkat pemahaman dan kemampuan yang dimiliki oleh perawat dan bidan dalam mengenali, mengelola dan mencegah gangguan mental sesuai dengan kompetensi yang dimiliki dan berdasarkan peran fungsi dalam pelayanan kesehatan dasar gangguan mental. Penelitian menggunakan pendekatan action research, informan penelitian melibatkan 32 orang informan yang terdiri dari bidan dan perawat. Karakteristik informan pada penelitian ini adalah berprofesi sebagai perawat atau bidan di Puskesmas Baki, berusia 25 45 tahun, dan bersedia mengikuti proses penelitian yang dinyatakan dengan lembar informed consent. Pengumpulan data menggunakan 3 (tiga) metode yaitu, survei, focus group discussion (FGD), dan wawancara. Hasil penelitian dianalisi dengan teknik triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan kemampuan informan dalam mengenali gejala gangguan mental masih rendah. Informan memiliki pengetahuan kesehatan mental tetapi belum mampu mengimplementasikan sehingga terjadi perbedaan proses asesmen dan pelayanan pasien. Selain itu, informan belum memiliki ketertarikan mengenai pengetahuan kesehatan mental. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa literasi kesehatan mental pada tenaga kesehatan masih rendah. Rendahnya literasi kesehatan mental pada tenaga kesehatan dapat berpengaruh pada proses diagnosis, pelayanan dan penanganan pasien, serta pemahaman keluarga tentang kondisi, dan cara memperlakukan pasien.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

LITERASI KESEHATAN PADA PENDERITA PENYAKIT KRONIS TB PARU DI KABUPATEN SUMENEP SKRIPSI

LITERASI KESEHATAN PADA PENDERITA PENYAKIT KRONIS TB PARU DI KABUPATEN SUMENEP SKRIPSI

Kapasitas individu dari berbagai penelitian yang dilakukan di berbagai tempat terbukti memiliki keterkaitan dengan literasi kesehatan. Kapasitas Individu dapat berupa kefasihan untuk membaca bahan materi kesehatan, memahami dan bertindak berdasarkan bahan materi yang dibaca. Namun pemahaman membaca individu berbeda – beda bergantung pada ketertarikannya pada isi teks bahan bacaan. Makin menarik suatu bahan bacaan bagi individu, maka individu cenderung akan makin ingin memahami isi bacaan tersebut. Lebih-lebih jika pesan bahan bacaan itu sangat erat menyentuh kebutuhan individu di bidang kesehatan, misalnya untuk sembuh dari penyakit kronis TB Paru. Oleh karena itu literasi kesehatan di lihat dari sisi lain yang berkaitan dengan kesehatan menjadi penting juga untuk memprediksi pemanfaatan pelayanan kesehatan, perilaku berisiko kesehatan, dan bahkan outcome kesehatan. (Rudd ReRenzulli, 2004). Kapasitas individu merupakan rangkaian sumberdaya, hal mana individu harus mengerti, tidak hanya tentang informasi kesehatan secara efektif, petugas pemberi pelayanan kesehatan, melainkan pula sistem pelayanan kesehatan. Pada uraian berikut ini difokuskan pada 2 kapasitas sub domain individu. Pertama, kefasihan membaca (reading fluency). Kedua, pengetahuan yang diperoleh pada masa lalu (prior knowledge).
Baca lebih lanjut

180 Baca lebih lajut

DAFTAR PUSTAKA Literasi Kesehatan Mental pada Tenaga Kesehatan.

DAFTAR PUSTAKA Literasi Kesehatan Mental pada Tenaga Kesehatan.

Nutbeam, D. (2000). Health Literacy as a Public Health Goal: a Challenge for Contemporary Health Education and Communication Strategies into the 21 st Century. Journal Health Promotion International Vol. 15, No. 3: 259-267. Oktavianus, K. M. (2012). Literasi Kesehatan Mental Melalui Web dan Chatbot

6 Baca lebih lajut

TINGKAT LITERASI KESEHATAN PADA MASYARAK

TINGKAT LITERASI KESEHATAN PADA MASYARAK

Literasi kesehatan merupakan kemampuan untuk mendapatkan, memproses, dan memahami informasi dan pelayanan kesehatan dasar yang dibutuhkan untuk membuat keputusan kesehatan yang tepat (Brega et al., 2012). Kemampuan literasi sangat dibutuhkan dalam akses berbagai informasi, khususnya di bidang kesehatan.

12 Baca lebih lajut

Tingkat Literasi Kesehatan Pada Keluarga Penderita Penyakit Diabetes Mellitus di RSUD Dr. M. Soewandhie Surabaya Repository - UNAIR REPOSITORY

Tingkat Literasi Kesehatan Pada Keluarga Penderita Penyakit Diabetes Mellitus di RSUD Dr. M. Soewandhie Surabaya Repository - UNAIR REPOSITORY

Literasi informasi kesehatan menjadikan masyarakat untuk lebih paham dan memiliki keterampilan dengan berupa cara mengakses, membaca atau memahami, menilai dan menerapkan informasi yang telah diterima guna membuat keputusan, mencegah timbulnya suatu penyakit dan juga dalam mempromosikan kesehatan. Dalam sistem pelayanan kesehatan masih ada beberapa masyarakat dengan literasi kesehatan yang rendah dalam menangani masalah penyakit seperti penyakit kronis tidak menular yaitu diabetes mellitus, dimana penyakit ini seringkali ditemukan diberbagai wilayah di Indonesia terutama wilayah Jawa Timur. Merawat penderita penyakit diabetes mellitus membutuhkan bantuan dari orang sekitar terutama keluarga karena merekalah dapat memberikan bantuan berupa dukungan mental, informasional, moril maupun spiritual maka keluarga dituntut untuk memiliki kemampuan dalam literasi kesehatan yang baik untuk keluarga maupun dirinya sendiri. Tujuan dari penelitian ini untuk menentukan dan mengukur tingkat literasi kesehatan pada keluarga penderita penyakit diabetes mellitus. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif yang menggambarkan dan meringkas berbagai kondisi serta situasi tentang tingkat literasi kesehatan yang dimiliki keluarga penderita penyakit diabetes mellitus di Surabaya. Pemilihan responden dilakukan di Surabaya dengan keluarga yang memiliki penderita rawat jalan penyakit diabetes mellitus dan berdomisili di Surabaya dengan jumlah 89 responden, dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling agar data yang dibutuhkan terpenuhi sesuai dengan kriteria responden. Hasil data penelitian tingkat literasi kesehatan pada keluarga penderita penyakit diabetes mellitus di RSUD Dr. M Soewandhie terdapat pada posisi tingkat literasi kesehatan interaktif dengan prosentase 86,5% dan frekunesi 77 responden.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN Literasi Kesehatan Mental pada Tenaga Kesehatan.

PENDAHULUAN Literasi Kesehatan Mental pada Tenaga Kesehatan.

Gejala yang banyak dialami oleh masyarakat adalah perasaan cemas, tegang, dan khawatir. Semakin banyak gejala yang dialami seperti depresi, cemas, gejala kognitif, somatik maupun penurunan energi, maka semakin tinggi tingkat kecendrungan mengalami gangguan mental emosional. Gangguan emosional merupakan suatu kondisi perubahan emosi yang dapat berkembang menjadi patologis jika terus berlanjut (Surjaningrum, 2012). Oleh karena itu, perlu dilakukan langkah pencegahan agar kesehatan mental masyarakat tetap terjaga. Langkah yang bisa dilakukan adalah dengan memberikan pendekatan terkait kesehatan mental, yaitu dengan literasi kesehatan mental (Kelly, Jorm, dan Wright, 2007).
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

LITERASI KESEHATAN MENTAL PADA TENAGAKESEHATAN Literasi Kesehatan Mental pada Tenaga Kesehatan.

LITERASI KESEHATAN MENTAL PADA TENAGAKESEHATAN Literasi Kesehatan Mental pada Tenaga Kesehatan.

Tujuan penelitian ini adalah menggali tingkat pemahaman dan kemampuan yang dimiliki oleh perawat dan bidan dalam mengenali, mengelola dan mencegah gangguan mental sesuai dengan kompetensi yang dimiliki dan berdasarkan peran fungsi dalam pelayanan kesehatan dasar gangguan mental. Penelitian menggunakan pendekatan action research, informan penelitian melibatkan 32 orang informan yang terdiri dari bidan dan perawat. Karakteristik informan pada penelitian ini adalah berprofesi sebagai perawat atau bidan di Puskesmas Baki, berusia 25 45 tahun, dan bersedia mengikuti proses penelitian yang dinyatakan dengan lembar informed consent. Pengumpulan data menggunakan 3 (tiga) metode yaitu, survei, focus group discussion (FGD), dan wawancara. Hasil penelitian dianalisi dengan teknik triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan kemampuan informan dalam mengenali gejala gangguan mental masih rendah. Informan memiliki pengetahuan kesehatan mental tetapi belum mampu mengimplementasikan sehingga terjadi perbedaan proses asesmen dan pelayanan pasien. Selain itu, informan belum memiliki ketertarikan mengenai pengetahuan kesehatan mental. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa literasi kesehatan mental pada tenaga kesehatan masih rendah. Rendahnya literasi kesehatan mental pada tenaga kesehatan dapat berpengaruh pada proses diagnosis, pelayanan dan penanganan pasien, serta pemahaman keluarga tentang kondisi, dan cara memperlakukan pasien.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

2. Kebijakan MSS dan Penerapan Literasi Kesehatan

2. Kebijakan MSS dan Penerapan Literasi Kesehatan

5/30/2016 18 Penerapa n Pelayanan Kesehatan dalam Model Sekolah/ Madrasah Sehat Penjaringan Kesehatan dan Pemeriksaan Berkala Kegiatan pemeriksaan kesehatan peserta didik melip[r]

50 Baca lebih lajut

K ESEHATANDIF ASILITAS P ELAYANAN K ESEHATAN: S YSTEMATICR EVIEW

K ESEHATANDIF ASILITAS P ELAYANAN K ESEHATAN: S YSTEMATICR EVIEW

Untuk di Indonesia, penelitian literasi kesehatan di Indonesia masih sangat terbatas atau sulit menemukan penelitian yang terpublikasi. Padahal informasi dan data mengenai literasi kesehatan sangat dibutuhkan untuk mengetahui sejauh mana tingkat literasi kesehatan masyarakat di Indonesia, faktor yang memengaruhinya serta outcome kesehatan yang dihasilkan selama ini sehingga dapat digunakan sebagai bahan acuan atau pertimbangan bagi pemangku kebijakan maupun stakeholder dalam menyusun kebijakan serta dan menjalankan langkah-langkah yang diperlukan untuk memajukan kesehatan di Indonesia.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

instruksi milad aisyiyah 100 tahun

instruksi milad aisyiyah 100 tahun

Tuntunan Milad 100 Tahun ‘‘Aisyiyah 1917 – 2017 M 2 4. ‘Aisyiyah dalam memuliakan martabat umat dan bangsa tidak hanya dalam alam pikiran, tetapi diwujudkan dalam praksis nyata. Berbagai macam usaha praksis yang memajukan kehidupan dan memuliakan martabat umat manusia melalui penguatan keagamaan, pendidikan, gerakan literasi, kesehatan, pelayanan sosial, pemberdayaan ekonomi, kesadaran hukum dan politik, dan kegiatan-kegiatan ‘Aisyiyah lainnya dalam memajukan kehidupan umat dan bangsa selama satu abad dalam setiap episode sejarah perjalanan Indonesia menjadi bukti kehadiran ‘Aisyiyah sebagai gerakan perempuan Islam berkemajuan. Semua usaha ‘Aisyiyah dalam pergerakan tersebut merupakan bagian dari ikhtiar memuliakan martabat umat dan kemajuan bangsa secara luas sebagai perwujudan Islam Rahmatan lil alamin.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

TAMAN BACAAN MASYARAKAT SEBAGAI UPAYA ME

TAMAN BACAAN MASYARAKAT SEBAGAI UPAYA ME

Solusi Yang Dapat Ditawarkan Taman Bacaan Masyarakat Dalam Membangun Dan Meningkatkan Pendidikan Yang Berdaya Saing • Literasi Informasi literasi kesehatan, kewirausahaan, teknologi,[r]

17 Baca lebih lajut

HUBUNGAN AKSES INFORMASI KESEHATAN DENGAN HEALTH LITERACY MAHASISWA UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO SEMARANG - UDiNus Repository

HUBUNGAN AKSES INFORMASI KESEHATAN DENGAN HEALTH LITERACY MAHASISWA UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO SEMARANG - UDiNus Repository

Berdasarkan penelitian Nurjanah dan Yustin Manglapy yang menilai health literacy pada mahasiswa semester I Fakultas Kesehatan Universitas Dian Nuswantoro Semarang pada tahun 2014 didapat hasil bahwa 31,9% responden memiliki tingkat literasi kesehatan yang masih rendah. Responden yang memiliki literasi kesehatan yang baik cenderung lebih aktif menggunakan pelayanan kesehatan seperti dokter dan cenderung lebih banyak mengajukan pertanyaan selama konsultasi dengan dokter. (7)

8 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN Pengaruh Program Stimulasi Literasi Terhadap Aktivitas Literasi dan Kemampuan Literasi Awal Pada Anak Prasekolah.

PENDAHULUAN Pengaruh Program Stimulasi Literasi Terhadap Aktivitas Literasi dan Kemampuan Literasi Awal Pada Anak Prasekolah.

Anak-anak yang dapat melakukan tugas literasi awal (membaca beberapa kalimat dan menulis beberapa kata) sebelum masuk sekolah akan memiliki prestasi membaca yang lebih tinggi di kelas IV (hasil penelitian PIRLS, 20฀฀). Hal tersebut dikarenakan anak pada usia dini mengalami perkembangan kemampuan secara pesat, salah satunya adalah perkembangan bahasa. Slavin (dalam Rusijono, 2007) mengatakan anak usia 3 tahun sudah dapat membedakan tulisan dan lukisan. Anak pada usia prasekolah dapat membaca buku dari awal sampai akhir dengan menafsirkan gambar pada setiap halaman, dapat memahami alur cerita, dan dapat memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya pada cerita sederhana.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

SARASEHAN LITERASI SEKOLAH 2

SARASEHAN LITERASI SEKOLAH 2

P eraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti menjadi dasar bagi lahirnya program Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Salah satu tujuan Permendikbud ini yaitu menjadikan pendidikan sebagai gerakan yang melibatkan pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat, dan keluarga. Maka, sejak 2016, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah gencar menyosialisasikan GLS melalui beragam jalur kegiatan dalam bentuk pelatihan (workshop), bimbingan teknis, dan rapat koordinasi. Berbagai pemangku kepentingan dilibatkan, antara lain Dinas Pendidikan Provinsi, Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan, unit utama di lingkungan Kemendikbud, Perpustakaan Nasional, penerbit, kementerian lain, dan perguruan tinggi.
Baca lebih lanjut

52 Baca lebih lajut

Komponen Pendukung Pengembangan Minat Ba

Komponen Pendukung Pengembangan Minat Ba

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengembangkan kemampuan para pelajar adalah dengan menyisipkan materi tentang literasi dalam mata pelajaran atau mata kuliah. Misalnya dengan ceramah, diskusi dan pemberian tugas kepada siswa atau mahasiswa. Selain hal itu pemberian pelajaran mengenai literasi informasi dapat dilakukan di lingkungan perpustakaan dengan menawarkan petunjuk atau menawarkan bantuan yang dilakukan oleh pustakawan.

8 Baca lebih lajut

- Materi Pembekalan Gerakan Literasi Sekolah - KKN Literasi 2016 gls kkn literasi

- Materi Pembekalan Gerakan Literasi Sekolah - KKN Literasi 2016 gls kkn literasi

– Meskipun tanpa tagihan tugas yang bersifat rutin, beberapa kegiatan lanjut dapat dilakukan, misalnya: • bercerita dengan bahasa sendiri dan membuat peta cerita story mapping untuk d[r]

27 Baca lebih lajut

05. GLN   Literasi Digital (Literasi Dasar)

05. GLN Literasi Digital (Literasi Dasar)

Seiap individu perlu memahami bahwa literasi digital merupakan hal pening yang dibutuhkan untuk dapat berparisipasi di dunia modern sekarang ini. Literasi digital sama peningnya dengan membaca, menulis, berhitung, dan disiplin ilmu lainnya. Generasi yang tumbuh dengan akses yang idak terbatas dalam teknologi digital mempunyai pola berpikir yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Seiap orang hendaknya dapat bertanggung jawab terhadap bagaimana menggunakan teknologi untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Teknologi digital memungkinkan orang untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan keluarga dan teman dalam kehidupan sehari-hari. Sayangnya, dunia maya saat ini semakin dipenuhi konten berbau berita bohong, ujaran kebencian, dan radikalisme, bahkan prakik-prakik penipuan. Keberadaan konten negaif yang merusak ekosistem digital saat ini hanya bisa ditangkal dengan membangun kesadaran dari iap-iap individu.
Baca lebih lanjut

43 Baca lebih lajut

LITERASI ISLAM and LITERASI SAINS SEBAGA

LITERASI ISLAM and LITERASI SAINS SEBAGA

Hasil studi PISA mendefinisikan literasi sains sebagai kapasitas individu dalam menggunakan pengetahuan ilmiah, mendefinisikan pertanyaan, menarik kesimpulan dan mengambil keputusan berdasarkan bukti yang dipahami tentang dunia dan interaksi manusia (OECD, 2012). Hasil penilaian terbaru PISA tahun 2012 terhadap kemampuan literasi sains Indonesia adalah 375 dari nilai rata-rata 494 dan berada di peringkat 63 dari 64 anggota. Skor penilaian ini lebih rendah 1.9 poin dari skor yang diperoleh pada saat Indonesia pertama kali bergabung pada tahun 2000, sedangkan untuk kemampuan membaca meningkat 2.3 poin pada tahun yang sama. Lebih lanjut, penilaian PISA terhadap proporsi tingkat pencapaian anak-anak Indonesia terhadap literasi matematika mayoritas pada level 0 dan level 1 (76%) sehingga masih masuk kategori low achievers (Baswedan, 2014). Hasil ini menunjukkan bahwa kemampuan berliterasi manusia Indonesia masih rendah. Di lingkup Asia Tenggara (ASEAN) posisi Indonesia masih di belakang Vietnam (411), Thailand (427), dan Malaysia (421).
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Peningkatan Kemampuan Literasi Awal Anak Prasekolah Melalui Program Stimulasi | Hapsari | Jurnal Psikologi 16929 74369 1 PB

Peningkatan Kemampuan Literasi Awal Anak Prasekolah Melalui Program Stimulasi | Hapsari | Jurnal Psikologi 16929 74369 1 PB

Abstrak. Program stimulasi merupakan perlakuan dengan memberikan paket literasi berisi buku panduan aktivitas dan satu set media literasi pada anak serta sosialisasi untuk ibu. Tujuan penelitian untuk menguji efektivitas program stimulasi dalam meningkatkan kemampuan literasi pada anak prasekolah. Hipotesis yang diajukan yaitu program stimulasi literasi efektif dalam meningkatkan kemampuan literasi awal pada anak prasekolah. Metode yang digunakan yaitu quasi experiment dengan desain non-equivalent control group. Subjek merupakan 30 anak usia 3-5 tahun yang terbagi menjadi kelompok eksperimen dan kontrol. Berdasarkan hasil analisis dengan uji statistik non-parametrik Mann-Whitney U, diketahui bahwa terdapat perbedaan peningkatan kemampuan literasi awal pada kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol. Analisis kualitatif menunjukan peningkatan kemampuan literasi dengan mengamati perubahan hasil pengukuran. Hasil penelitian ini penting sebagai kajian baru dalam menemukan alternatif metode stimulasi anak prasekolah.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

SARASEHAN LITERASI SEKOLAH 1

SARASEHAN LITERASI SEKOLAH 1

P ada tahun 2003, saat Unesco mengeluarkan dokumen tentang literasi, Indonesia meresponnya dengan program pem beran tasan buta aksara. Sebab, saat itu, jumlah penduduk Indonesia yang masih buta aksara sangat besar, sekitar 16 juta orang. Pada 2015, ketika penduduk Indonesia yang melek aksara (baca-tulis-hitung) sudah mencapai sekitar 98%, maka pemerintah menjalankan program literasi melalui Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti.

46 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...