Macam Macam Perjanjian Dalam Perdata

Top PDF Macam Macam Perjanjian Dalam Perdata:

PERBANDINGAN HUKUM PERDATA PERIKATAN ATAU PERJANJIAN

PERBANDINGAN HUKUM PERDATA PERIKATAN ATAU PERJANJIAN

Ketentuan tentang perikatan pada umumnya ini berlaku juga terhadap perikatan yang lahir dari perjanjian tertentu, seperti jual beli, sewa menyewa, pinjam meminjam, dan lain-lain. Akan tetapi dalam pembahasan mengenai tentang perikatan, disini dijelaskan tidak hanya berdasarkan KUH Perdata saja, tapi dibahas juga mengenai perikatan menurut Kompilasi Hukum Ekonomi syariah. Jadi nanti bisa mengetahui perbandingan-perbandingan yang terdapat didalam kedua sumber hukum tersebut tentang perikatan.

11 Baca lebih lajut

BAB II PERJANJIAN MENURUT KUH PERDATA. A. Pengertian Perjanjian dan Perjanjian Kredit. atas prestasi dan pihak lainnya wajib memenuhi prestasi itu.

BAB II PERJANJIAN MENURUT KUH PERDATA. A. Pengertian Perjanjian dan Perjanjian Kredit. atas prestasi dan pihak lainnya wajib memenuhi prestasi itu.

Pada rumusan yang terdapat dalam Pasal 1313 dan Pasal 1314 KUH Perdata tersebut dikembangkan lebih jauh, dengan menyatakan bahwa atas prestasi yang wajib dilakukan oleh debitur dalam perjanjian tersebut, debitur yang berkewajiban tersebut dapat meminta dilakukannnya kontra-prestasi dari lawan pihaknya tersebut. Kedua rumusan tersebut memberikan banyak arti bagi ilmu hukum. Dengan adanya kedua rumusan yang saling melengkapi tersebut dapat dikatakan bahwa pada dasarnya perjanjian dapat melahirkan perikatan yang bersifat sepihak (dimana hanya satu pihak yang wajib berprestasi) dan perikatan yang bertimbal balik (dengan kedua belah pihak saling berprestasi). Dengan demikian dimungkinkan suatu perjanjian melahirkan lebih dari satu perikatan, dengan kewajiban berprestasi yang saling bertimbal balik. Pada saat yang bersamaan, debitur pada satu sisi menjadi kreditur pada sisi yang lain. Ini adalah karakteristik khusus dari perikatan yang lahir dari perjanjian. Pada perikatan yang lahir dari undang-undang, hanya ada satu pihak yang menjadi debitur dan pihak lain yang menjadi kreditur yang berhak atas pelaksanaan prestasi debitur.
Baca lebih lanjut

31 Baca lebih lajut

AKIBAT HUKUM PASAL 1266 KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA DALAM PERJANJIAN TERHADAP DEBITUR YANG TIDAK AKTIF DALAM MELAKSANAKAN PERJANJIAN.

AKIBAT HUKUM PASAL 1266 KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA DALAM PERJANJIAN TERHADAP DEBITUR YANG TIDAK AKTIF DALAM MELAKSANAKAN PERJANJIAN.

Pembatalan merupakan pernyataan batalnya suatu perbuatan hukum atas tuntutan pihak yang menurut Undang-Undang dibenarkan untuk menuntut pembatalan seperti itu. Pembatalan dilakukan oleh hakim berdasarkan atas tuntutan pihak yang diberikan hak oleh Undang-Undang untuk menuntut seperti itu, akibat pembatalan berlaku surut setelah pernyataan batal oleh hakim (Satrio, 1996:173). Apabila dihubungkan dengan Pasal 1266 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, maka dalam perjanjian timbal balik terdapat hak dan kewajiban para pihak yang saling berhadapan. Hak dan kewajiban pihak yang satu berhadapan dengan hak dan kewajibannya pihak yang lain (Syahrani, 2004:229). Pasal 1266 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, menyatakan bahwa syarat batal dianggap selamanya dicantumkan dalam perjanjian timbal balik ketika salah satu pihak tidak memenuhi kewajibanya atau wanprestasi. Hal ini dimaksud bahwa salah satu pihak diperbolehkan untuk menuntut pembatalan, apabila lawan janjinya wanprestasi (Satrio, 1999:301).
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

Pembatalan Perjanjian Jual Beli Kapal Barang Menurut Hukum Perdata

Pembatalan Perjanjian Jual Beli Kapal Barang Menurut Hukum Perdata

Di zaman era globalisasi sekarang ini hubungan jual beli yang dilakukan antar negara telah mengalami kemajuan yang harus diikuti dengan aturan-aturan hukum dinegara kita termasuk juga di dalamnya jual beli kapal yang didalamnya melibatkan unsur asing, baik penjual ataupun sipembelinya yang mempunyai kewarganegaraan yang berbeda. Perjanjian jual beli kapal berbendera asing merupakan salah satu dari ketentuan perundang-undangan yang masuk pengaturan Hukum Perdata Internasional Indonesia. Jadi disini yang ditekankan adalah perbedaan dalam lingkungan kuasa, tempat dan soal-soal serta pembedaan dalam sistem hukum suatu negara dengan lain negara, artinya adanya unsur luar negerinya ( Foreign element ) 4 Untuk memudahkan terjadinya proses jual beli kapal-barang, atau kapal kapal berbendera asing yang dibeli oleh orang atau badan hukum Indonesia perlu adanya suatu payung hukum yang jelas karena hanya sedikit sekali aturan hukum yang mengatur tentang jual beli kapal yang dilakukan di wilayah hukum Indonesia, baik itu yang berkaitan dengan tata cara pelaksanaan jual beli kapal maupun dalam hal terjadinya sengketa terhadap jual beli kapal yang melibatkan unsur asing. Dengan kapal-kapal timbul juga masalah Hukum Perdata Internasional, karena bendera dari kapal ini berbeda dari orang-orang yang mengadakan hubungan dengan kapal itu. Untuk kapal, bendera adalah seperti kewarganegaraan untuk
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

SKRIPSI TINJAUAN YURIDIS PERJANJIAN PERDAMAIAN DALAM PENYELESAIAN PERKARA PERDATA

SKRIPSI TINJAUAN YURIDIS PERJANJIAN PERDAMAIAN DALAM PENYELESAIAN PERKARA PERDATA

Alhamdulillah puja dan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Tinjauan Yuridis Perjanjian Perdamaian dan Penyelesaian Perkara Perdata”. Sholawat serta salam tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa perubahan zaman dari zaman jahilliyah menuju zaman yang dapat kita rasakan saat ini serta senantiasa kita tunggu syafaatnya di yaumul akhir kelak.

13 Baca lebih lajut

BAB II PELAKSANAAN PERJANJIAN KREDIT DENGAN JAMINAN DI INDONESIA. A. Pengertian dan Syarat Sah Perjanjian Menurut KUH Perdata

BAB II PELAKSANAAN PERJANJIAN KREDIT DENGAN JAMINAN DI INDONESIA. A. Pengertian dan Syarat Sah Perjanjian Menurut KUH Perdata

Prestasi merupakan isi dari perikatan. Apabila debitur tidak memenuhi prestasi sebagaimana yang telah ditentukan dalam perjanjian, maka ia dikatakan wanprestasi (kelalaian). Wanprestasi dengan memperhatikan ketentuan Pasal 1243 Kitab Undang ‐undang Hukum Perdata dapat terjadi karena, tidak melakukan apa yang disanggupi akan dilakukannya, melaksanakan apa yang dijanjikannya tetapi tidak dilakukan dengan semestinya, menjalankan hal yang dijanjikan akan tetapi terlambat melaksanakannya, atau melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh dilakukannya. Sehingga dapat dikatakan wanprestasi seorang debitur dapat berupa, sama sekali tidak memenuhi prestasi, tidak tunai memenuhi prestasi, terlambat memenuhi prestasi, keliru memenuhi prestasi. 31 Perkataan wanprestasi berasal dari bahasa Belanda, yang artinya prestasi buruk. Adapun yang dimaksud wanprestasi adalah suatu keadaan yang dikarenakan kelalaian atau kesalahannya, debitur tidak dapat memenuhi prestasi seperti yang telah ditentukan dalam perjanjian 32
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Tinjauan Yuridis Perjanjian Perdamaian Dalam Penyelesaian Perkara Perdata.

PENDAHULUAN Tinjauan Yuridis Perjanjian Perdamaian Dalam Penyelesaian Perkara Perdata.

Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas dapat diketahui bahwa upaya perdamaian dapat dilakukan oleh pihak dalam suatu perkara perdata, baik melalui jalur di luar pengadilan maupun melalui siding pengadilan. Keduanya secara hukum sah adanya. Upaya perdamaian membutuhkan kesepakatan bersama yang dibuat dalam suatu perjanjian perdamaian yang dibuat secara tertulis. Perdamaian ini harusnya mengakhiri suatu perkara. Namun ada kalanya salah satu pihak merasa dirugikan sehingga menganggap perkara yang diajukan ke pengadilan tetap berlanjut.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

PENYULUHAN TENTANG PERJANJIAN MENURUT KITAB UNDANG UNDANG HUKUM PERDATA

PENYULUHAN TENTANG PERJANJIAN MENURUT KITAB UNDANG UNDANG HUKUM PERDATA

Masing – masing penyuluh menyampaikan materi sesuai dengan bidang keahliannya masing – masing. Adapun bidang tersebut adalah Dr. Marzuki, SH., M.Hum dan Jauhari Ginting, SH., M.H bidang Hukum Tata Negara / Hukum Administrasi Negara. Serta Tajuddin Noor, SH., M.Hum, Sp. N dan Nurasiah Harahap, SH., M.Hum bidang Hukum Keperdataan. Adapun tema yang disampaikan adalah tentang Pemilihan Umum (Pemilu), Lingkungan Hidup, Pembelian Secara Online dan materi saya tentang Perjanjian Menurut Kitab Undang – Undang Hukum Perdata.

13 Baca lebih lajut

BAB II TINJAUAN UMUM PERJANJIAN DAMAI DALAM HUKUM PERDATA A. Pengertian Perjanjian Dan Perjanjian Damai - Efektifitas Perjanjian Damai Dalam Pengadilan (Akta Van Dading) Terhadap Perbuatan Melawan Hukum Dan Wanprestasi Dalam Penegakan Hukum Perdata (Studi

BAB II TINJAUAN UMUM PERJANJIAN DAMAI DALAM HUKUM PERDATA A. Pengertian Perjanjian Dan Perjanjian Damai - Efektifitas Perjanjian Damai Dalam Pengadilan (Akta Van Dading) Terhadap Perbuatan Melawan Hukum Dan Wanprestasi Dalam Penegakan Hukum Perdata (Studi

Hukum acara perdata yang berlaku dalam perjanjian damai diatur baik dalam Pasal 130 Herzien Indonesis Reglement (HIR) maupun Pasal 154 Rechtsreglement Buitengewesten (RBg), mendorong para pihak untuk menempuh proses perdamaian yang dapat diintensifkan dengan cara mengintegrasikan proses ini. Dalam ketentuan Pasal 130 HIR hakim wajib mendamaikan para pihak, meliputi perdamaian dalam persidangan dimana hakim akan membuat akta perdamaian yang mengikat dan berkekuatan hukum tetap bagi para pihak, dan perdamaian diluar persidangan dengan terlebih dahulu mencabut gugatan (tidak mengikat karena hanya sebagai persetujuan dan dapat diajukan gugatan kembali). Jika pada hari sidang yang telah ditetapkan kedua belah pihak hadir, maka hakim harus berusaha mendamaikan mereka. Pada saat inilah hakim dapat berperan secara aktif sebagaimana dikehendaki oleh HIR/ RBg. Untuk keperluan
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

SKRIPSI TINJAUAN YURIDIS PERJANJIAN PERDAMAIAN  Tinjauan Yuridis Perjanjian Perdamaian Dalam Penyelesaian Perkara Perdata.

SKRIPSI TINJAUAN YURIDIS PERJANJIAN PERDAMAIAN Tinjauan Yuridis Perjanjian Perdamaian Dalam Penyelesaian Perkara Perdata.

Tidak selamanya suatu sengketa perdata harus diselesaikan melalui jalur litigasi di Pengadilan. Upaya penyelesaian suatu kasus hukum dapat dilakukan dengan cara perdamaian. Pada dasarnya dalam suatu proses persidangan perkara perdata, hal pertama yang dilakukan oleh majelis hakim adalah mendamaikan kedua belah pihak yang berperkara. Karena perdamaian itu sendiri pada dasarnya harus mengakhiri perkara. Berdasarkan adanya perdamaian antara kedua belah pihak itu maka Hakim akan membuat putusan yang berupa akta perdamaian. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan yuridis normative, yang bersifat deskriptif. Menggunakan jenis data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan datanya dilakukan dengan cara melalui studi kepustakaan, dokumentasi, daftar pertanyaan dan wawancara. Dengan menggunakan analisis data secara kualitatif. Dapat disimpulkan bahwa mengenai akibat hukum yang timbul dari adanya putusan/akta perdamaian yang berkekuatan hukum tetap sebagaimana diuraikan diatas sudah sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Peraturan Perundang-Undangan yang berlaku, yaitu sesuai dengan Pasal 130 ayat (2) HIR dan Pasal 195 ayat (1) HIR. Akibat hukum dari putusan/akta perdamaian tersebut adalah sejak disepakati serta ditandatanganinya akta perdamaian tersebut maka berlaku sebagai Undang-Undang bagi para pihak yang membuatnya, para pihak harus wajib memenuhi dan mentaati isi dari perjanjian perdamaian yang tertuang dalam akta perdamaian tersebut. Akta perdamaian yang berkekuatan hukum tetap mempunyai kekuatan eksekutorial. Dan suatu putusan/akta perdamaian yang telah disepakati dan ditandatangani bersama oleh para pihak yang bersengketa tidak dapat dimintakan upaya hukum banding. Hal tersebut sebagaimana telah sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Pasal 130 ayat (3) HIR, yang menyatakan bahwa “Terhadap putusan sedemikian tidak dapat dimintakan banding”.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

KETENTUAN PENYELESAIAN WANPRESTASI DALAM PERJANJIAN GADAI (Ditinjau Dari Kitab Undang-undang Hukum Perdata)

KETENTUAN PENYELESAIAN WANPRESTASI DALAM PERJANJIAN GADAI (Ditinjau Dari Kitab Undang-undang Hukum Perdata)

Pasal 1313 Kitab Undang-undang Hukum Perdata menyebutkan bahwa suatu persetujuan adalah suatu perbuatan dengan mana 1 (satu) orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap 1 (satu) orang atau lebih”. Didalam perjanjian hutang piutang antara kreditur dan debitur sering diiringi dengan adanya jaminan. Jaminan tersebut antara lain adalah jaminan dengan benda bergerak, benda tidak bergerak maupun dengan jaminan perorangan. Didalam penulisan ini dikhususkan pada ketentuan penyelesaian wanprestasi dalam perjanjian gadai. gadai tersebut merupakan jaminan benda bergerak. Didalam bukunya H. Salim, mengenai Perkembangan Hukum Jaminan di Indonesia Gadai sendiri memiliki arti atau istilah gadai berasal dari kata pand (bahasa belanda) atau pledge atau pawn (bahasa ingris). Pengertian gadai tercantum dalam Pasal 1150 Kitab Undang-undang Hukum Perdata, gadai adalah “suatu hak yang diperoleh kreditur atas suatu barang bergerak yang diserahkan kepadanya oleh debitur atau oleh kuasanya, sebagai jaminan atas utangnya dan yang member wewenang kepada kreditur untuk mengambil pelunasan piutangnya dari barang itu dengan mendahului kreditur-kreditur lain; dengan pengecualian biaya penjualan sebagai pelaksanaan putusan atas tuntutan mengenai pemilikan atau penguasaan, dan biaya penyelamatan barang itu, yang dikeluarkan setelah barang itu diserahkan sebagai gadai yang harus didahulukan”. Gadai tersebut memiliki dasar hukum, dasar hukum gadai antara lain adalah
Baca lebih lanjut

94 Baca lebih lajut

Perjanjian Jual Beli Barang Secara Internasional Menurut UPICCs Dan CISG Serta KUH Perdata

Perjanjian Jual Beli Barang Secara Internasional Menurut UPICCs Dan CISG Serta KUH Perdata

melepaskan sesuatu hal. 33 Hubungan kedua orang yang bersangkutan mengakibatkan timbulnya suatu ikatan yang berupa hak dan kewajiban kedua belah pihak atas suatu prestasi. Sementara itu menurut M. Yahya Harahap, suatu perjanjian adalah “Suatu hubungan hukum kekayaan antara dua orang atau lebih, yang memberikan kekuatan hak pada suatu pihak yang memperoleh prestasi dan sekaligus mewajibkan kepada pihak lain untuk melaksanakan prestasi”. 34 Menurut Rahman Hasanudin, kontrak adalah perjanjian yang dibuat secara tertulis. 35 Sebagai perwujudan tertulis dari perjanjian, kontrak adalah salah satu dari dua dasar hukum yang ada selain undang- undang (Kitab Undang-undang Hukum Perdata Pasal 1233) yang dapat menimbulkan perikatan. Perikatan adalah suatu keadaan hukum yang mengikat satu atau lebih subjek hukum dengan kewajiban-kewajiban yang berkaitan satu sama lain. 36
Baca lebih lanjut

39 Baca lebih lajut

Perjanjian Jual Beli Barang Secara Internasional Menurut UPICCs Dan CISG Serta KUH Perdata

Perjanjian Jual Beli Barang Secara Internasional Menurut UPICCs Dan CISG Serta KUH Perdata

Pembahasan dalam penelitian ini yaitu, pertama, pengaturan hak dan kewajiban penjual dan pembeli dalam perjanjian jual beli internasional di tinjau dari ketentuan UPICCs, konvensi CISG dan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Indonesia, kedua, berlakunya suatu perjanjian jual beli internasional bagi para pihak sesuai dengan ketentuan UPICCs, konvensi CISG dan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Indonesia, ketiga ketentuan biaya ganti rugi akibat tidak terpenuhinya perjanjian jual beli menurut UPICCs, konvensi CISG dan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis normatif dengan sifat penelitian deskriptif analisis dan deskriptif komparatif.
Baca lebih lanjut

3 Baca lebih lajut

Perjanjian Jual Beli Barang Secara Internasional Menurut UPICCs Dan CISG Serta KUH Perdata

Perjanjian Jual Beli Barang Secara Internasional Menurut UPICCs Dan CISG Serta KUH Perdata

Pembahasan dalam penelitian ini yaitu, pertama, pengaturan hak dan kewajiban penjual dan pembeli dalam perjanjian jual beli internasional di tinjau dari ketentuan UPICCs, konvensi CISG dan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Indonesia, kedua, berlakunya suatu perjanjian jual beli internasional bagi para pihak sesuai dengan ketentuan UPICCs, konvensi CISG dan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Indonesia, ketiga ketentuan biaya ganti rugi akibat tidak terpenuhinya perjanjian jual beli menurut UPICCs, konvensi CISG dan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis normatif dengan sifat penelitian deskriptif analisis dan deskriptif komparatif.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  PERJANJIAN JUAL BELI MELALUI INTERNET ( E-COMMERCE) DITINJAU DARI ASPEK HUKUM PERDATA.

PENDAHULUAN PERJANJIAN JUAL BELI MELALUI INTERNET ( E-COMMERCE) DITINJAU DARI ASPEK HUKUM PERDATA.

Jual beli menurut KUH Perdata pasal 1457 adalah suatu perjanjian dengan mana pihak yang satu menikatkan dirinya untuk menyerahkan suatu benda dan pihak lain membayar harga yang telah di janjikan. Sedangkan dalam pasal 1313 KUH Perdata suatu persetujuan adalah perbuatan dimana satu orang atau lebih mengikatkan diri terhadap satu orang atau lebih. Bila pembeli melakukan kata/persetujuan sepakat dengan penjual maka terjadilah jual beli tersebut. Adapun syarat persetujuan. Terjadinya persetujuan jual beli tersebut juga dinyatakan di dalam pasal 1458 KUH Perdata yang berbunyi “jual beli dianggap telah terjadi segera setelah orang-orang itu telah mencapai kesepakatan tentang barang tersebut beserta harganya, meskipun barang itu belum diserahkan dan harganya belum dibatar.”
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

KEKUATAN HUKUM PERJANJIAN PENGIKATAN JUAL BELI (PPJB) TANAH MENURUT HUKUM PERDATA

KEKUATAN HUKUM PERJANJIAN PENGIKATAN JUAL BELI (PPJB) TANAH MENURUT HUKUM PERDATA

Tanah merupakan suatu bagian penting bagi kehidupan manusia. Seiring dengan berkembangnya jumlah penduduk, kebutuhaan akan tanah terus meningkat dan untuk mendapatkan tanah di peroleh dari warisan, wasiat, hibah atau pun jual beli. Jual beli dapat dilakukan dengan membuat akta di bawah tangan dan dapat juga dilakukan di hadapan pejabat berwenang yang daerah kerjanya meliputi daerah tempat tanah yang diperjualbelikan itu berada, namun apabila para pihak belum dapat memenuhi persyaratan jual beli di hadapan notaris, maka para pihak dapat membuat perjanjian pengikatan jual beli (PPJB) sebagai perjanjian pendahuluan melalui notaris. Penelitian ini mengkaji mengenai kekuatan hukum perjanjian pengikatan jual beli (PPJB) tanah menurut hukum perdata. Pokok bahasan dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimanakah kekuatan hukum dalam akta pengikatan jual beli yang dibuat di hadapan notaris serta status hak dari akta tersebut?, (2) Bagaimanakah perlindungan hukum dari perjanjian pengikatan jual beli (PPJB) tanah jika salah satu pihak melakukan wanprestasi?
Baca lebih lanjut

60 Baca lebih lajut

PERJANJIAN PERKAWINAN DITINJAU DARI KITAB UNDANG- UNDANG HUKUM PERDATA DAN HUKUM ISLAM

PERJANJIAN PERKAWINAN DITINJAU DARI KITAB UNDANG- UNDANG HUKUM PERDATA DAN HUKUM ISLAM

1. Mengenai perjanjian perkawinan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata diatur dalam pasal 139 sampai dengan pasal 179. Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata bahwa perjanjian perkawinan harus dibuat dengan akta notaris diadakan sebelum perkawinan. Bentuk dari perjanjian perkawinan ini antara lain perjanjian kawin dengan kebersamaan untung rugi, perjanjian kawin dengan kebersamaan hasil dan peniadaan kebersamaan harta kekayaan. Di masyarakat khususnya masyarakat Kota Makassar belum terlalu memperhatikan mengenai pembuatan perjanjian perkawinan hal tersebut terlihat dari jumlah pasangan yang mendaftarkan perjanjian perkawinan pada Kantor Catatan Sipil dalam lima tahun terakhir lebih sedikit jika dibandingkan dengan jumlah pasangan yang mendaftarkan perkawinan tanpa perjanjian perkawinan.
Baca lebih lanjut

99 Baca lebih lajut

Perjanjian Jual Beli Barang Secara Internasional Menurut UPICCs Dan CISG Serta KUH Perdata

Perjanjian Jual Beli Barang Secara Internasional Menurut UPICCs Dan CISG Serta KUH Perdata

Untuk menyatakan masalah dalam hal hukum perdata, para pihak dapat dengan kontrak mereka mengecualikan ketentuan hukum nasional yang berlaku bahwa para pihak dapat memilih tempat pengiriman ditentukan oleh CISG bukan oleh hukum nasional, tetapi mereka mungkin tidak mengecualikan ketentuan-ketentuan hukum nasional yang mengutamakan ketertiban umum (misalnya ketentuan wajib dari hukum nasional yang membutuhkan menulis untuk keabsahan modifikasi kontrak). Pasal 29 CISG menyatakan bahwa kontrak dapat diubah tanpa modifikasi yang secara tertulis akan menimpa ketentuan hukum nasional yang bertentangan. Namun, Pasal 29 yang sama jika itu bukan bagian dari konvensi internasional dan bukan bagian dari hukum nasional, tetapi hanyalah sebuah istilah kontrak yang dipilih oleh para pihak tidak dapat mengesampingkan ketentuan wajib hukum nasional yang memerlukan modifikasi untuk dibuat secara tertulis. Oleh karena itu CISG ketika dimasukkan ke kontrak sebagai istilah kontrak mungkin tidak memiliki efek yang sama seperti CISG diterapkan sebagai perjanjian atau sebagai bagian dari hukum nasional. Ini karena membawa ukuran tertentu ketidakpastian.
Baca lebih lanjut

177 Baca lebih lajut

EKSISTENSI DAN AKIBAT HUKUM PASAL 1266 KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA  EKSISTENSI DAN AKIBAT HUKUM PASAL 1266 KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA DALAM PERJANJIAN TERHADAP DEBITUR YANG TIDAK AKTIF DALAM MELAKSANAKAN PERJANJIAN.

EKSISTENSI DAN AKIBAT HUKUM PASAL 1266 KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA EKSISTENSI DAN AKIBAT HUKUM PASAL 1266 KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA DALAM PERJANJIAN TERHADAP DEBITUR YANG TIDAK AKTIF DALAM MELAKSANAKAN PERJANJIAN.

Pujian dan ucapan syukur dipersembahkan kepada Tuhan Yesus Kristus dan Bunda-NYA yang Kudus, karena hanya rahmat Tuhan sehingga penulisan t esis yang berjudul: “Eksistensi Dan Akibat Hukum Pasal 1266 Kitab Undang - Undang Hukum Perdata Dalam Perjanjian Terhadap Debitur Yang Tidak Aktif Dalam Melaksanakan Perjanjian ” , dapat diselesaikan. Semuanya bukan karena kehebatan penulis, melainkan karena berkat kemurahan Tuhan. Penulisan ini merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan studi, guna memperoleh gelar Magister Humaniora pada Program Pascasarjana, Program Studi Magister Ilmu Hukum Universitas Atma Jaya Yogyakarta.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

KEKUATAN HUKUM PERJANJIAN PERDAMAIAN DALAM PENYELESAIAN SENGKETA PERDATA DI LUAR SIDANG PENGADILAN

KEKUATAN HUKUM PERJANJIAN PERDAMAIAN DALAM PENYELESAIAN SENGKETA PERDATA DI LUAR SIDANG PENGADILAN

Suatu sengketa perdata apabila dapat diakhiri dengan perdamaian maka akan menambah kewibawaan dan kepercayaan masyarakat terhadap penyelesaian yang dibuat di luar sidang pengadilan, sekaligus masyarakat akan melihat manfaat dari adanya suatu perjanjian perdamaian, yaitu proses yang sederhana, cepat serta biaya ringan.

17 Baca lebih lajut

Show all 8412 documents...