Marsirumpa pada masyarakat Batak toba

Top PDF Marsirumpa pada masyarakat Batak toba:

Tradisi Marsirumpa Pada Masyarakat Batak Toba Di Kecamatan Palipi: Kajian Tradisi Lisan

Tradisi Marsirumpa Pada Masyarakat Batak Toba Di Kecamatan Palipi: Kajian Tradisi Lisan

Dalam penelitian ini penulis mambahas tentang Tradisi marsirumpapada masyarakat Batak Toba di Kecamatan Palipi Samosir. Masalah dalam penelitian ini adalah tahapan-tahapan marsirumpa, prosedur marsirumpa, nilai, dan ungkapan-ungkapan perumpamaan (umpama dan umpasa). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana tahap-tahap marsirumpa, prosedur marsirimpa dan ungkapan-ungkapan perumpamaan (umpaman dan umpasa) yang ada di kecamatan Palipi Samosir tersebut.

1 Baca lebih lajut

Tradisi Marsirumpa Pada Masyarakat Batak Toba Di Kecamatan Palipi: Kajian Tradisi Lisan

Tradisi Marsirumpa Pada Masyarakat Batak Toba Di Kecamatan Palipi: Kajian Tradisi Lisan

Metode yang dipergunakan dalam menganalis masalah penelitian ini ialah metode kualitatif dengan tehnik lapangan. Penelitian ini menggunakan teori tradisi lisan. Adapun tradisi marsirumpa pada masyarakat Batak Toba pada bidang sistem pencaharian, siklus kehidupan dan pekerjaan umum harus didasari dengan kesepakan untuk melaksanakan marsirumpa, kekompakan yang harus di tanamkan dalam masyarakat sehingga terjalin kekeluargaan yang saling kerja sama dalam suatu kegiatan dapat diselesaikan sesuai dengan yang diharapkan. Membinan tanggung jawab dalam melakukan suatu kegiatan sehigga tidak terjadi kesalah pahaman antara sesama masyarakat.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Tradisi Marsirumpa Pada Masyarakat Batak Toba Di Kecamatan Palipi: Kajian Tradisi Lisan

Tradisi Marsirumpa Pada Masyarakat Batak Toba Di Kecamatan Palipi: Kajian Tradisi Lisan

Kearifan Lokal terdiri dari dua kata yaitu, kearifan (wisdem) yang artinya kebijaksanaan, sedangkan kata lokal (local) artinya setempat. Oleh sebab itu, kearifan lokal atau kearifan setempat (local wisdem) dapat kita diartikan sebagai gagasan-gagasan dan pengetahuan setempat yang bersifat bijaksana, penuh kerifan, bernilai baik, berbudaya, berbudi luhur yang dimiliki, dipedomani, dan dilakukan oleh anggota masyarakat. Kearifan lokal dapat dilihat atau diperoleh melalui tradisi budaya atau tradisi lisan, karena kearifan lokal merupakan bagian dari tradisi lisan atau tradisi budaya yang diwarisi secara turun-temurun dan dimanfaatkan untuk menata kehidupan sosial masyarakat dalam segala bidang untuk mengatur struktur sosial kehidupan komunitasnya.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Tradisi Marsirumpa Pada Masyarakat Batak Toba Di Kecamatan Palipi: Kajian Tradisi Lisan

Tradisi Marsirumpa Pada Masyarakat Batak Toba Di Kecamatan Palipi: Kajian Tradisi Lisan

Tradisi gotong-royong pada masyarakat Batak Toba dalam siklus mata pencaharian, upacara adat, dan pekerjaan umum adalah bagian dari kajian tradisi lisan. Sibarani (2014:2) Tradisi lisan adalah satu cara untuk menyampaikan sejarah lisan melalui tutur/lisan dari generasi ke generasi selanjutnya

11 Baca lebih lajut

Tradisi Marsirumpa Pada Masyarakat Batak Toba Di Kecamatan Palipi: Kajian Tradisi Lisan

Tradisi Marsirumpa Pada Masyarakat Batak Toba Di Kecamatan Palipi: Kajian Tradisi Lisan

Sistem Gotong-Royong Dalam Masyarakat pedesaan Daerah sumatera Barat.Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Makmur, Mariana dan Brutu, Lister.. Sistem Gotong-royong Pada Masyara[r]

1 Baca lebih lajut

Tradisi Marsirumpa Pada Masyarakat Batak Toba Di Kecamatan Palipi: Kajian Tradisi Lisan

Tradisi Marsirumpa Pada Masyarakat Batak Toba Di Kecamatan Palipi: Kajian Tradisi Lisan

Repreresentasi keberadaan , gambaran kearifan lokal pada ungkapan yang berupa umpasa, umpama masyarakat Batak Toba  Masa melakukan gotong-royong • Bagaimanakah keberadaan umpasa dan [r]

17 Baca lebih lajut

Tradisi Marsirumpa Pada Masyarakat Batak Toba Di Kecamatan Palipi: Kajian Tradisi Lisan Chapter III V

Tradisi Marsirumpa Pada Masyarakat Batak Toba Di Kecamatan Palipi: Kajian Tradisi Lisan Chapter III V

menanam kopi. Hal ini dilakukan karena mengerjakan ladang pada saat menanam kopi sangat membutuhkan tenaga yang lebih sehingga masyarakat memerlukan teman untuk menyelesaikan ladangnya. Untuk mengerjakan ladang dimulai dari mencangkul (mangobak/mangalubang). Masyarakat yang di Kecamatan Palipi untuk melakukan marsialapari mereka memerluka teman sebanyak 4 orang untuk mengerjakan ladangnya. Untuk mengumpulkan 4 orang pemilik lahan pergi mengajak temannya untuk melakukan marsialapari. Setelah yang 4 orang sudah ditemukan mereka terlebih dahulu membuat kesepakatan bersama dari lahan siapa yang terlebih dahulu dikerjakan kemudian menentukan kapan dimulai kegiatan tersebut. Masyarakat akan mebagi-bagi waktu dalam lima hari karena hari senin biasanya masyrakat pergi kepajak sehingga masyarakat melakukan pekerjaan marsialaparimulai hari selasa. Masing-masing anggota marsialapari akan mendapatkan satu hari dalam satu minggu. Peralatan yang digunakan untuk mencangkul adalah cangkul (hudali) yang biasanya dibawa masing-masing para pekerja marsialapari.
Baca lebih lanjut

52 Baca lebih lajut

Tradisi Marsirumpa Pada Masyarakat Batak Toba Di Kecamatan Palipi: Kajian Tradisi Lisan

Tradisi Marsirumpa Pada Masyarakat Batak Toba Di Kecamatan Palipi: Kajian Tradisi Lisan

pelaksanaan perbaikan tali air (pauli bondar) dilakukan, setelah disepakati bersama maka mereka akan datang secara bersamaan dengan membawa peralatan masing-masing berupa cangkul (hudali), pisau (parang) untuk digunakan pada saat perbaikan tali air (pauli bondar). Akan tetapi tahapan pauli bondar (irigasi) berbeda halnya untuk saat ini di Kecamatan Palipi, karena pauli bondar (irigasi) sudah diambil alih oleh pemerintah sehingga pada saat masyarakat melakukan pauli bondar sudah dibiayai oleh pemerintah dan orang yang melakukan pauli bondar berdasarkan hasil pilihan kepala desa berkisar 15 orang dari setiap desa. Kemudian untuk yang 15 orang ini akan bekumpul sebelum melaukan kegiatan pauli bondar untuk menentukan orang yang bertanggung jawab disetiap bidang karena setelah mereka menyelesaikan kegiatan pauli bondar mereka akan membuat laporan kepada Lurah.
Baca lebih lanjut

114 Baca lebih lajut

Representasi Kearifan Lokal Gotong-Royong dalam Cerita Rakyat Batak Toba

Representasi Kearifan Lokal Gotong-Royong dalam Cerita Rakyat Batak Toba

Sedangkan mangarumpa atau marsirumpa adalah saling memberikan bantuan umum. Misalnya, jika desa tersebut membersihkan jalan umum ataupun membangun balai desa, semua warga masyarakat ikut serta bekerja sama dalam pelaksanaan pekerjaan tersebut. Warga masyarakat tidak akan mendapatkan upah. Semua saling memberikan bantuan baik itu tenaga maupun makanan dan minuman untuk para pekerja. Tetapi kebiasaan gotong-royong tersebut sudah semakin memudar.

14 Baca lebih lajut

TEANTEANAN DALAM MASYARAKAT BATAK TOBA: KAJIAN

TEANTEANAN DALAM MASYARAKAT BATAK TOBA: KAJIAN

Penulis terlebih dahulu mengucapkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas kasih dan rahmat-Nya yang telah memberikan kesehatan, kekuatan, serta pertolongan kepada penulis, sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara. Adapun judul skripsi ini yaitu “Teanteanan Dalam Masyarakat Batak Toba: Kajian Sosial Budaya.

14 Baca lebih lajut

Tradisi Andung Pada Masyarakat Batak Toba

Tradisi Andung Pada Masyarakat Batak Toba

Junita Batu Bara (2006), VIO: Opera Monolog. Makalah ini mengggambarkan seorang perempuan dari suku Batak Toba dengan nama Vio, di mana dalam Opera monolog ini menggambarkan seorang wanita yang ditinggal suaminya meninggal dan dengan penuh kesedihan meratapi suaminya atau disebut andung pada MBT dengan menyanyikan kebaikan-kebaikan suami selama hidup. Opera monolog ini adalah drama yang terdiri dari beberapa bagian yaitu vokal, instrumen, dan gerakan-gerakan yang bersifat deskriptif, naratif dan filosofis. dengan menggabungkan ketiga sifat musik opera tersebut dengan ekspresi dan imajinasi yang berdasarkan pada adat istiadat MBT yaitu upacara kematian matipul ulu dengan sebuah bentuk komposisi musikal bergaya modern yang digabung dengan teknik teater. Konsep dari karya Vio : Opera Monolog ini adalah ambiguitas seorang wanita dalam sistem kekerabatan Batak Toba dan bagaimana ketegangan hidup, persaingan, konflik, serta perjuangan keras seorang perempuan setelah ditinggal mati oleh suaminya. Di mana kesedihan istri yang dengan meratap(andung) di padukan dengan nuansa musikal.
Baca lebih lanjut

55 Baca lebih lajut

Tradisi Andung Pada Masyarakat Batak Toba

Tradisi Andung Pada Masyarakat Batak Toba

Sastra merupakan suatu wujud dan hasil dari kebudayaan. Sastra dan kebudayaan memiliki objek yang sama, yaitu manusia dalam masyarakat, masyarakat sebagai fakta sosial, manusia sebagai makhluk kultural (Ratna, 2005:14). Sastra terjadi dalam konteks sosial sebagai bagian dari kebudayaan yang menyiratkan masalah tradisi, konvensi, norma, genre, simbol, dan mitos. Hal itu terjadi karena sastrawan dipengaruhi dan memengaruhi masyarakat (Wellek dan Austin, 1989:120). Sastra yang ditulis pada suatu waktu kurun tertentu langsung berkaitan dengan norma-norma dan adat istiadat zaman itu. Sastra pun dipergunakan sebagai sumber untuk menganalisis sistem masyarakat. Ini sesuai dengan pendapat Luxemburg, dkk. . Isi kebudayaan sering juga disebut unsur-unsur kebudayaan universal terdiri dari tujuh unsur, yaitu: (1) bahasa, (2) sistem pengetahuan, (3) organisasi sosial, (4) sistem peralatan hidup dan teknologi, (5) sistem mata pencaharian hidup, (6) sistem religi, dan (7) kesenian.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Tradisi Andung Pada Masyarakat Batak Toba

Tradisi Andung Pada Masyarakat Batak Toba

istriku...ke mana tempat pengaduanku istriku anak-anak kita ini yang tiga orang ini hanya cuma aku yang ke bukit dan ke bawah yang menjaga anak-anak kita yang tiga orang itu oh istriku[r]

14 Baca lebih lajut

Tradisi Andung Pada Masyarakat Batak Toba

Tradisi Andung Pada Masyarakat Batak Toba

Hodges, W. Robert. 2006. “Tu Dia Ho, Dung Mate Ho?” Manifestasi dan Mediasi Disonansi Kognitif dalam Konteks Lagu-lagu Ratapan Di Kalangan Kristen Protestan Batak Toba. Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Seni. Vol.2. No.1. Departemen Etnomusikologi Universitas Sumatera Utara.

5 Baca lebih lajut

Hubungan Perilaku Martarombo dengan Kepedulian Suku Batak Toba Terhadap Sesama Batak Toba

Hubungan Perilaku Martarombo dengan Kepedulian Suku Batak Toba Terhadap Sesama Batak Toba

Suku Batak Toba merupakan salah satu sub bagian dari suku bangsa Batak (Vergouwen, 2004). Suku Batak adalah salah satu dari ratusan suku yang terdapat di Indonesia, suku Batak terdapat di wilayah Sumatera Utara. Menurut legenda yang dipercayai sebagian masyarakat Batak bahwa suku batak berasal dari pusuk buhit daerah sianjur Mula Mula sebelah barat Pangururan di pinggiran danau toba. Kalau versi ahli sejarah Batak mengatakan bahwa si Raja Batak dan rombonganya berasal dari Thailand yang menyeberang ke Sumatera melalui Semenanjung Malaysia dan akhirnya sampai ke Sianjur Mula mula dan menetap disana. Sedangkan dari prasasti yang ditemukan di Portibi yang bertahun 1208 dan dibaca oleh Prof. Nilakantisari seorang Guru Besar ahli kepurbakalaan yang berasal dari Madras, India menjelaskan bahwa pada tahun 1024 kerajaan Cola dari India menyerang Sriwijaya dan menguasai daerah Barus.pasukan dari kerajaan Cola kemunggkinan adalah orang-orang Tamil karena ditemukan sekitar 1500 orang Tamil yang bermukim di Barus pada masa itu.Tamil adalah nama salah satu suku yang terdapat di India (Sibarani, 2007).
Baca lebih lanjut

106 Baca lebih lajut

Tradisi Andung Pada Masyarakat Batak Toba

Tradisi Andung Pada Masyarakat Batak Toba

Penelitian tesis ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan dan pergeseran andung, menganalisis fungsi dan makna andung, menacari nilai budaya Batak yang terdapat pada andung serta menganalisis nilai kearifan lokal yang terdapat pada tradisi andung. Untuk itu digunakan teori arketaipel dan semiotika. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Data Penelitian merupakan tradisi andung yang direkam langsung pada upacara kematian masyarakat Batak Toba.

2 Baca lebih lajut

Tradisi Andung Pada Masyarakat Batak Toba

Tradisi Andung Pada Masyarakat Batak Toba

In the discussion of the results found that the lament of tradition at pre- funerals Batak Toba society began to disappear and become extinct and are influenced by the changing times with the following factors: Religion, Education, culture and the economic. Function and meaning has shifted along with the times. Cultural values are also contained in lament tradition is 3H (hagabeon, hasangapon, hamoraon) and the value of kinship. Local moral values contained in the tradition of honoring, health, honesty and courtesy of language. The results of the discussion it was concluded from this thesis show that the lament at the pre-funeral traditions of Batak Toba Society is an oral tradition and cultural values has an excellent local knowledge therefore needs to be preserved as an oral tradition Batak Toba Society .
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

Deskripsi Struktur Dan Fungsi Musik Taganing Pada Repertoar Si Pitu Gondang Dalam Ensambel Gondang Sabangunan Yang Disajikan Oleh Maningar Sitorus

Deskripsi Struktur Dan Fungsi Musik Taganing Pada Repertoar Si Pitu Gondang Dalam Ensambel Gondang Sabangunan Yang Disajikan Oleh Maningar Sitorus

Onan (pasar tradisional) merupakan tempat yang sangat penting bagi perekonomian masyarakat. Hari onan berbeda pada setiap tempat. Contohnya hari onan di Dolok Sanggul dan Balige adalah hari Jumat, sedangkan di Bakkara hari Rabu, di Laguboti hari Senin, di Muara hari Selasa, dan seterusnya. Selain tempat jual beli, onan merupakan tempat pertemuan orang dari kampung yang berbeda. Pada jaman dulu onan merupakan pusat interaksi antar masyarakat dan pusat informasi. Onan juga merupakan tempat dalam menyelesaikan perselisihan, pertemuan raja-raja, pesta bius, dan sebagainya.

9 Baca lebih lajut

ORIENTASI NILAI BUDAYA BATAK TOBA PADA PRIA BATAK TOBA PERANTAU DI SEMARANG - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

ORIENTASI NILAI BUDAYA BATAK TOBA PADA PRIA BATAK TOBA PERANTAU DI SEMARANG - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Analisis data yang digunakan diawali dengan deskripsi tekstural, kemudian data dihorisonalisasi untuk mendapatkan unit-unit makna sesuai tujuan penelitian. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa orientasi nilai budaya Batak pada Batak Toba perantau sangat tergantung dari intensitas pewarisan budaya dari orang tua dan proses akulturasi yang dialami di perantauan.

1 Baca lebih lajut

Persepsi Masyarakat Suku Batak Toba Dan Batak Karo Dalam Konteks Komunikasi Antarbudaya (Studi Kasus Masyarakat Suku Batak Toba di Desa Unjur Dan Masyarakat Batak Karo di Desa Surbakti Terhadap Suku Batak Toba Dalam Mempersepsi Nilai-Nilai Perkawinan Anta

Persepsi Masyarakat Suku Batak Toba Dan Batak Karo Dalam Konteks Komunikasi Antarbudaya (Studi Kasus Masyarakat Suku Batak Toba di Desa Unjur Dan Masyarakat Batak Karo di Desa Surbakti Terhadap Suku Batak Toba Dalam Mempersepsi Nilai-Nilai Perkawinan Anta

I : Bapak oke oke saja, bapak perbolehkan. Semua suku baik itu Batak Karo dan Batak Toba kan punya sisi baik dan sisi buruknya masing-masing. Kalau anak zaman sekarang, jika tidak diijinkan bisa dia nanti jadi lari dari jalan yang benar, jadi ngapain kita halang-halangi kan? Bagi bapak sendiri, semua suku itu sama. Prinsip bagi bapak dan ibu di rumah itu, kalau masalah pacaran, pernikahan atau perkawinan itu bebas suku, yang penting orangnya beradat. Hanya saja mungkin kalau anak bapak pacaran dengan orang Batak Toba atau mungkin nantinya menikah, yang paling bapak soroti adalah perbedaan bahasa, tetapi bahasa kan bisa dipelajari sih nak. Kami tidak mengerti bahasa Batak Toba, gimana mau berkomunikasi dengan baik, apalagi kalau orang tua yang umurnya sekitar 50 tahun lebih gitu mana ngerti. Dulu kebanyakan tidak sekolah, bahasa yang dimengerti itu hanya sebatas bahasa sukunya saja, bahasa batak karo. Kemudian yang kedua adalah rumitnya adat budaya orang Batak Toba ini. Batak Karo adat budayanya sangat simpel. Ketiga adalah banyaknya biaya yang habis di suku Batak Toba, salah satunya tukur (harga yang diberikan pihak laki-laki kepada pihak perempuan), sementara kami suku Batak Karo ini paling tinggi sekitar Delapan ratus ribu saja. Intinya semua itu nak, adanya kesepakatan untuk masalah biaya, dan ada pembelajaran untuk kedua suku, jngan fanatik kali dengan suku sendiri.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...