masyarakat adat cireundeu

Top PDF masyarakat adat cireundeu:

STUDY ETHNOMATHEMATICS: MENGUNGKAP IDE MATEMATIS PADA PENANAMAN DAN PEMBUATAN BERAS SINGKONG MASYARAKAT ADAT CIREUNDEU - repository UPI S MAT 1206193 Title

STUDY ETHNOMATHEMATICS: MENGUNGKAP IDE MATEMATIS PADA PENANAMAN DAN PEMBUATAN BERAS SINGKONG MASYARAKAT ADAT CIREUNDEU - repository UPI S MAT 1206193 Title

STUDY ETHNOMATHEMATICS: MENGUNGKAP IDE MATEMATIS PADA PENANAMAN DAN PEMBUATAN BERAS SINGKONG MASYARAKAT ADAT CIREUNDEU Oleh Meta Nurjayanti Sebuah skripsi yang diajukan untuk meme[r]

3 Baca lebih lajut

TRANSFORMASI NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT ADAT CIREUNDEU - repository UPI S SOS 1100777 Title

TRANSFORMASI NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT ADAT CIREUNDEU - repository UPI S SOS 1100777 Title

TRANSFORMASI NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT ADAT CIREUNDEU SKRIPSI diajukan untuk memenuhi sebagian syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Program Studi Pendidikan Sosiologi O[r]

3 Baca lebih lajut

TRANSFORMASI NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT ADAT CIREUNDEU.

TRANSFORMASI NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT ADAT CIREUNDEU.

Meskipun Kampung Cireundeu sudah terkenal bahkan dinobatkan sebagai desa percontohan ketahanan pangan namun menjadi sebuah ironi ketika Rw 10 Kampung Cireundeu merupakan tiga besar dari 20 Rw di Kelurahan Leuwi Gajah yang mendapatkan bantuan raskin. Ketika terlalu banyak bantuan yang diberikan hanya kepada sebagian golongan atau kelompok saja maka akan terjadi suatu ketimpangan di masyarakat. Masyarakat adat Cireundeu penganut keyakinan sunda wiwitan atau pun bukan, seharusnya dapat bekerja sama dalam mensejahterakan diri karena bukanlah suatu masyarakat jika tak bisa menyatukan dan mensejajarkan setiap diri mereka masing-masing seperti yang terdapat dalam pepatah sunda dan filosofis awal mula nama Cireundeu yang dikemukakan oleh sesepuh mereka “ sareundeu saigel, saketek sabeakna sauyunan ” (semua hal harus dilakukan secara bersama-sama).
Baca lebih lanjut

35 Baca lebih lajut

S SOS 1100777 Chapter5

S SOS 1100777 Chapter5

Hal tersebut membuat masyarakat adat Cireundeu memiliki suatu keyakinan yang berbeda dan diimplementasikan dalam kehidupan mereka sehari-hari yakni dengan berpuasa memakan beras sebagai makanan pokoknya. Yang membedakan masyarakat adat Cireundeu dengan masyarakat Indonesia lainnya adalah keyakinan Sunda wiwitan yang mereka anut dan rasi sebagai makanan pokoknya.

4 Baca lebih lajut

T LING 1302449 Abstract

T LING 1302449 Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh asumsi bahwa ungkapan tradisional Sunda mengandung nilai-nilai kearifan lokal yang perlu dikaji secara ilmiah. Kearifan lokal tersebut diharapkan dapat membantu dalam membentuk karakter bangsa yang menjadi sorotan berbagai pihak saat ini . Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengidentifikasi ungkapan tradisional Sunda yang digunakan dalam keseharian oleh partisipan penelitian, mendeskripsikan makna uangkapan tersebut dengan menggunakan teori signifikasi Barthes, dan mengklasifikasikannya berdasarkan tujuan dan fungsi ungkapan tersebut di dalam masyarakat. Metode etnografi digunakan dalam penelitian ini. Data dikumpulkan dengan teknik observasi dan wawancara. Sumber data adalah key actors dari masyarakat adat Cireundeu yang terdiri atas tokoh-tokoh masyarakat dan beberapa generasi muda. Hasil penelitian ini menemukan 86 ungkapan tradisional Sunda yang terdiri atas kekecapan, babasan, paribasa, cacandran, dan uga. Proses signifikasi menemukan bahwa ungkapan-ungkapan tersebut mengandung mitos yang memengaruhi konsepsi dan aktifitas yang membangun kehidupan sosial partisipan penelitian, diantaranya, membangun cara pandang masyarakat terhadap sesuatu, membentuk karakter masyarakat, pedoman hidup bermasyarakat, dll. Mitos yang terbentuk dari ungkapan-ungkapan tersebut mengandung nilai-nilai kearifan lokal yang bertujuan untuk menciptakan kedamaian dan kesejahteraan masyarakat penuturnya.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

T LING 1302449 Title

T LING 1302449 Title

ANALISIS UNGKAPAN TRADISIONAL SUNDA PADA MASYARAKAT ADAT CIREUNDEU: KAJIAN ETNOGRAFI BAHASA TESIS Diajukan untuk memenuhi sebagian dari persyaratan memperoleh gelar Magister Huma[r]

3 Baca lebih lajut

S MAT 1206193 Chapter5

S MAT 1206193 Chapter5

1. Bagi pelaku budaya, penelitian ini memberikan rekomendasi model matematika yang dapat memudahkan para petani dalam penanaman singkong. Selain itu, khususnya bagi masyarakat adat Cireundeu untuk melengkapi petunjuk memasak pada kemasan rasi.

3 Baca lebih lajut

S MAT 1206193 Table of content

S MAT 1206193 Table of content

29 Tabel 3.1 Kerangka Penelitian Study Ethnomathematics pada Penanaman dan Pembuatan Beras Singkong Masyarakat Adat Cireundeu.... 56 Tabel 4.1 Pola Tanam Pertama yang Digunakan Petani [r]

6 Baca lebih lajut

S SOS 1100777 Bibliography

S SOS 1100777 Bibliography

109 Puji Nurharyanto, 2015 TRANSFORMASI NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT ADAT CIREUNDEU Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu Sumber Jurn[r]

3 Baca lebih lajut

T LING 1302449 Table of content

T LING 1302449 Table of content

Masyarakat Adat Cireundeu .................... Error! Bookmark not defined. 4.1.1 Kekecapan ...................................... Error! Bookmark not defined. 4.1.2 Babasan .......................................... Error! Bookmark not defined. 4.1.3 Paribasa ......................................... Error! Bookmark not defined. 4.1.4 Cacandran ...................................... Error! Bookmark not defined. 4.1.5 Uga ................................................. Error! Bookmark not defined. 4.2 Signifikasi Ungkapan Tadisional Sunda dalam Masyarakat Adat
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

S SOS 1100777 Abstract

S SOS 1100777 Abstract

Era informasi menjadikan dunia menjadi satu jaringan informasi besar yang memungkinkan segalanya saling bertautan karena masyarakat dinamis demikian pula dengan budaya, hal tersebut menstimulus masyarakat untuk mengikuti proses transformasi sebagai akibat dari era informasi. Penelitian ini dilatar belakangi oleh meningkatnya partisipasi pendidikan anak- anak masyarakat adat Cireundeu dan tidak diakuinya Sunda wiwitan sebagai agama oleh Pemerintah. Penelitian ini dilakukan di Kampung Cireundeu Rukun Warga 10, Kelurahan Leuwigajah, Kota Cimahi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui proses transformasi yang terjadi pada nilai-nilai kearifan lokal masyarakat adat Cireundeu. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara mendalam dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Memakan rasi merupakan puasa bagi masyarakat adat Cireundeu penganut kepercayaan Sunda wiwitan namun tidak semua penganut kepercayaan Sunda wiwitan memakan rasi sebagai makanan pokoknya. Pemahaman masyarakat adat Cireundeu terhadap agama merupakan pemaknaan budaya. 2) Mulai meningkatnya partisipasi pendidikan masyarakat adat Cireundeu membuat mereka harus ikut serta mempelajari mata pelajaran agama tertentu di sekolah karena belum terdapatnya pengajar khusus bagi siswa penganut keyakinan Sunda wiwitan dan sebagai antisipasi agar tidak terpengaruh oleh keyakinan lain, para tokoh pemuda masyarakat adat Cireundeu mengadakan diskusi surasa sebagai pengganti mata pelajaran agama di luar sekolah yang dilaksanakan di Bale Adat setiap hari Sabtu jam lima sore. 3) Masyarakat adat Cireundeu mulai membuka diri untuk menikah dengan penganut agama lain sebagai upaya dalam menjamin masa depan mereka dan mendapatkan hak warga negara, selain itu masyarakat adat Cireundeu percaya bahwa pernikahan tidak bisa dipaksakan berdasarkan kehendak orang tua karena urusan jodoh merupakan takdir Tuhan. Tata cara pemakaman masyarakat adat Cireundeu penganut kepercayaan Sunda wiwitan mendapat pengaruh dari ajaran agama Islam dan agama Kristen. Berdasarkan hasil penelitian ini maka nilai-nilai kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat adat Cireundeu telah mengalami perubahan/transformasi.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

S MAT 1206193 Abstract

S MAT 1206193 Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan adanya keterkaitan antara matematika dengan budaya. Hal ini dikarenakan adanya opini masyarakat umum yang menganggap matematika tidak ada kaitannya dengan budaya. Pada dasarnya study ethnomathematics merupakan sebuah kajian terhadap budaya suatu kelompok yang dipandang sebagai suatu yang matematis. Penelitian ini dilakukan di Kampung Cireundeu, kota Cimahi, Jawa Barat. Masyarakat adat Cireundeu dikenal dengan ketahanan pangannya. Masyarakat adat Cireundeu mengonsumsi singkong sebagai bahan makanan pokok, hal ini dikarenakan adanya aturan adat yang melarang mengonsumsi beras yang berasal dari padi beserta olahannya. Sehingga fokus penelitian ini adalah mengungkap ide matematis pada penanaman dan pembuatan beras singkong yang dilakukan masyarakat adat Cireundeu. Untuk mendalami budaya masyarakat adat Cireundeu, penelitian ini menggunakan study ethnomathematics melalui pendekatan kualitatif dengan metode ethnography. Pengumpulan data yang dilakukan penelitian ini dengan observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Hasil temuan dari penelitian ini adalah mengungkap adanya ide matematis yang digunakan oleh masyarakat adat Cireundeu yaitu penggunaan barisan bilangan pada pola tanam penanaman singkong dan mengungkap hasil olahan singkong dengan pandangan matematika. Hasil temuan lainnya adalah sebuah model matematika untuk mengakomodasi penanaman batang singkong.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

S SOS 1100777 Table of content

S SOS 1100777 Table of content

Puji Nurharyanto, 2015 TRANSFORMASI NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT ADAT CIREUNDEU Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu DAFTAR ISI PER[r]

2 Baca lebih lajut

TINJAUAN KONSISTENSI MASYARAKAT KAMPUNG ADAT CIREUNDEU DALAM MELESTARIKAN ADAT ISTIADAT LELUHUR

TINJAUAN KONSISTENSI MASYARAKAT KAMPUNG ADAT CIREUNDEU DALAM MELESTARIKAN ADAT ISTIADAT LELUHUR

Wiwitan atau Sunda Karuhun ini perta- ma kali oleh Pangeran Madrais di tahun 1918. Pangeran Madrais atau dikenal juga dengan nama Pangeran Sadewa Alibassa adalah keturunan Kesultanan Gebang yang berada di wilayah Cire- bon Timur. Berkembangnya system ke- percayaan ini ketika Pangeran Madrais tinggal di Cireundeu dan bertemu den- gan Haji Ali, kakek dari abah Emen (ket- ua adat Cireundeu) pada tahun 1930-an. Pangeran Madrais mengajarkan falsafah dan ajaran moral tentang cara memba- wa diri dalam kehidupan. Berdasarkan ajaran itu pula maka ada dua pantangan bagi masyarakat adat Cireundeu yai- tu; 1) Jangan memakan keringat orang lain dalam hal ini tidak diperkenankan mengambil hak orang lain; 2) Tidak me- maksakan aliran kepercayaan dianut pada orang lain. Adapun nilai-nilai yang harus dilakukan oleh masyarakat adat yaitu; 1) Saur kudu dibubut (berbicara dengan hati-hati dan harus pada tempat yang sesuai); 2) Basa kedah dihampe- las (berbicara harus baik dan sopan); 3) Gotong royong; 4) Toleransi beragama.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

S SOS 1100890 Chapter1

S SOS 1100890 Chapter1

Harapan bagi pemuda sangat besar untuk kemajuan bangsa, pemuda merupakan tulang punggung bangsa yang kelak akan menentukan arah perkembangan bangsa. Pemuda juga dikenal sebagai jiwa pemberani, pemimpin, mandiri, disiplin, bekerja keras serta memiliki jiwa kebersamaan yang tinggi. Pernyataan sebelumnya telah menjelaskan, bahwa akan ada suatu hal yang hebat dari pemuda apabila hendak melakukan hal yang positif maupun negatif, mereka akan selalu berpengaruh pada alur perkembangan zaman. Keberadaan karang taruna, membuat pemuda dapat mengumpulkan semua aspirasi yang nantinya akan menjadi sebuah program kerja yang disesuaikan dengan wilayah, keadaan sosial, maupun potensi yang ada di daerahnya, agar mendapatkan hal yang sesuai dengan apa yang diperlukan oleh masyarakat sekitar.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Masyarakat Adat dan Desa Adat

Masyarakat Adat dan Desa Adat

Penyelesaian sengketa adat dan peradilan adat sebagaimana diatur dalam Pasal 103 huruf (e) memerlukan pengaturan lanjutan untuk menegaskan kedudukan, kewenangan, fungsi, peran, tugas dan tanggungjawab peradilan tersebut serta apakah perlu pemisahan antara kewenangan penyelesaian sengketa dengan kewenangan mengadili – yang pada umumnya dalam kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat merupakan satu kewenangan yang melekat pada lembaga-lembaga adat yang dijalankan oleh para tua adat, alias kewenangan tersebut tidak dipisah-pisahkan sebagaimana yang dilakukan pada zaman kolonial Belanda maupun berbagai referensi yang mengulas peradilan adat. UU 6/2014 melakukan hal yang sama dengan membuat dua kategori berbeda, yakni penyelesaian sengketa dan peradilan adat. Padahal pemisahan ini bersumber pada konsepsi yang salah tentang kewenangan lembaga adat menyelesaikan sengketa dan mengadili perkara yang diwarisi oleh para peneliti dan penulis era kolonial yang konsepsi teoritiknya dipengaruhi ilmu hukum Eropa Kontinental yang mengenal pemisahan kewenangan antara menyelesaikan sengketa dengan mengadili perkara. Dalam konteks pemisahan demikian, pengaturan tentang peradilan adat dalam UU 6/2014 berhadapan dengan UU 48/2009 tentang Kekuasaan Kehakiman yang mengatur jenis-jenis badan peradilan, kedudukan dan kewenangan lembaga-lembaga tersebut – yang mana Peradilan Adat tidak masuk dalam kategori lembaga peradilan karena peradilan ini secara yuridis telah dihapus keberadaannya oleh UU Darurat No. 1 Tahun 1951 sebagaimana ditulis oleh HUMA bahwa “melalui UU ini dipertegas niatan untuk mewujudkan unifikasi sistem peradilan. UU ini berisi 4 hal pokok yaitu: 1) Penghapusan beberapa pengadilan yang tidak lagi sesuai dengan susunan negara kesatuan; 2) Penghapusan secara berangsur-angsur pengadilan swapraja didaerah-daerah tertentu dan semua pengadilan adat... 15 . Kewenangan mengadili suatu badan
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Back To Nurture (Sekelumit analisis Hukum Adat)

Back To Nurture (Sekelumit analisis Hukum Adat)

Masyarakat adat adalah masyarakat yang masih memiliki nurture” (Soedjono Soekanto). Kalimat tersebut adalah pemikiran dari seorang ahli hukum adat tentang masyarakat adat, di desa tempat praktik KKN-ku ini aku tidak menemukan masyarakat adat mungkin. Masyarakat adat menurut F.D Hollman memiliki beberapa ciri yaitu, komunal-konkret dan magis-religius. Secara ciri khas, masyarakat tersebut tidak ditemukan, namun aku melihat terdapat nurture di desa ini, Caringin. Nurture secara bahasa berarti pemberdayaan, perlindungan, dan juga dapat diartikan pemeliharaan. Hal tersebut kutemukan disini, di Caringin, nurture seperti apa? Pemeliharaan yang dimaksud adalah pemeliharaan dari segi adat budaya dan dari segi agama.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

S SOS 1100890 Chapter3

S SOS 1100890 Chapter3

Cara mengumpulkan data melalui peninggalan tertulis, seperti arsip, termasuk juga buku tentang teori, pendapat, dalil atau hukum, dan lain-lain yang berhubungan dengan masalah penelitian disebut teknik dokumenter atau studi dokumentasi. (dalam Zuriah, 2007,hlm.191). Disini peniliti akan mencari hasil penelitian terdahulu mengenai Kampung Cireundeu, agar peneliti tau bahwa penelitian yang peneliti teliti tidak ada kesamaan dengan peneliti sebelumnya. Kemudian dalam hal pengumpulan data keanggotaan karang taruna peneliti akan meminta dokumen-dokumen yang ada dalam karang taruna, berupa susunan angota, AD/ART, serta susunan program kerja yang didokumentasikan pada periode karang taruna sebelumnya. Peneliti juga mengabadikan kegiatan peneliti dengan menggunakan camera, yang hasilnya menjadi salah satu bukti peneliti benar-benar mendapatkan data yang sah dan bukan kebohongan semata.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

MODEL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM MEMPERTAHANKAN KEARIFAN LOKAL : Etnografi Pada Masyarakat Adat Kampung Cireundeu Kota Cimahi - repository UPI T PLS 1302690 Title

MODEL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM MEMPERTAHANKAN KEARIFAN LOKAL : Etnografi Pada Masyarakat Adat Kampung Cireundeu Kota Cimahi - repository UPI T PLS 1302690 Title

Ema Sumiati, 2015 MODEL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM MEMPERTAHANKAN KEARIFAN LOKAL Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu MODEL PEMBERDAYAAN MA[r]

3 Baca lebih lajut

S SOS 1100890 Chapter5

S SOS 1100890 Chapter5

Berdasarkan hasil penelitian, Karang Taruna RW 10 yang berada di Cireundeu, tidak menjalankan organisasi sesuai dengan fungsinya. Fungsi karang taruna sebagai pemersatu warga, pengembangan pemuda, dan pengembangan potensi yang dimiliki Cireundeu tidak tersentuh sama sekali. Pembentukannya yang tidak jelas, didukung oleh tidak adanya atribut yang menyelimuti tubuh karang taruna membuat pergerakannya tidak jelas. Faktor kepemimpinan yang kurang baik dari pemimpin karang taruna merupakan penyebab utama terjadinya karang taruna yang tidak aktif tersebut. Akibat buruknya kepemimpinan yang dimiliki oleh karang taruna berdampak pada kerja sama antar anggota yang tidak berjalan. Dampak dari kerja sama yang tidak berjalan, mengakibatkan tumbuhnya rasa tidak peduli dari warga Cireundeu yang sama sekali tidak merasakan dampak adanya karang taruna. Program penyelarasan sangat dibutuhkan oleh masyarakat adat, pengaruh diberikannya pengelolaan desa sebagai desa wisata keadatan membuat masyarakat adat membutuhkan sosok lembaga masyarakat formal yang bisa berhubungan dengan pemerintah. Komunikasi yang buruk yang membuat tidak terlaksananya hingga sekarang program penyelarasan tersebut. Dukungan yang kurang dari RT dan RW setempat terhadap karang taruna RW 10 membuat mereka malas akan membuat suatu kegiatan maupun program kerja.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...