masyarakat suku dani

Top PDF masyarakat suku dani:

SUKU DANI di atas kulit

SUKU DANI di atas kulit

Kesenian masyarakat suku Dani dapat dilihat dari cara membangun tempat kediaman, seperti disebutkan di atas dalam satu silimo ada beberapa bangunan, seperti : Honai, Ebeai, dan Wamai. Selain membangun tempat tinggal, masyarakat Dani mempunyai seni kerajinan khas, anyaman kantong jaring penutup kepala dan pegikat kapak. Orang Dani juga memiliki berbagai peralatan yang terbuat dari bata, peralatan tersebut antara lain : Moliage, Valuk, Sege, Wim, Kurok, dan Panah sege.

4 Baca lebih lajut

T1 712010040 Full text

T1 712010040 Full text

Ritual bakar batu juga mampu menyatukan masyarakat suku Dani secara khusus yang ada di kota Semarang. Kalau ada kegiatan gerejawi atau kegiatanyang diselenggarakan oleh paguyuban-paguyuban, anggota kelompok yang menghadiri kegiatan tersebut dalam jumlah sedikit. Tetapi, ketika ritual bakar batu diadakan dalam kegiatan-kegiatan tersebut minat dari anggota kelompok untuk bergabungan lebih banyak. 73 Selain itu ritual bakar batu juga memiliki makna tersendiri bagi orang-orang yang merantau cukup lama serta bekerja dikota Semarang.Seorang narasumber mengatakan bahwa iasudah tinggal dikota semarang sejak tahun 2005 karena menjalankan tugas dinas. di kota Semarang saya datang bersama dengan keluarga yaitu istri dan dua orang anak. Dengan adanya ritual bakar batu anak-anak saya dapat mengetahui budaya dan juga komunitas mereka. 74 Bagi para orang tua yang sudah lama menetap di kota Semarang diadakannya ritual bakar batu menolong mereka untuk memberikan pelajaran dan pemahaman akan budaya luluhur kepada anak-anak mereka. Hal serupa juga dikatakan oleh bapak JD (inisial) “Saya sudah cukup lama hidup di Jawa sekitar lima belas tahun. Saya bekerja di salah satu yayasan milik Papua yang memfasilitasi anak-anak yang sekolah dan kuliah di luar kota secara khusus di Semarang, istri saya bukan berasal dari Suku Dani dan anak saya dilahirkan di Semarang. Saya sering mengajak anak menghadiri setiap acara yang diadakan oleh komunitas orang Dani di Semarang karena di saat itu saya memperkenalkan kepada anak saya kebudayaan leluhurnya sehingga anak-anak mengetahui jati dirinya sebagai seorang Dani walaupun kini ia hidup di tengah-tengah lingkungan yang bukan orang Dani.
Baca lebih lanjut

50 Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Dukacita Suku Dani dalam Ritual Niki Paleg Suatu Analisis Psikologi Indigenous T2 832009008 BAB V

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Dukacita Suku Dani dalam Ritual Niki Paleg Suatu Analisis Psikologi Indigenous T2 832009008 BAB V

hal ini adalah masyarakat suku Dani pelaku ritus niki paleg yang menentukan bagaimana temuan ini disebarluaskan. Pengumpulan data dalam studi ini mengikuti apa yang dideskripsikan oleh Viney (1988) sebagai mutual-orientation dimana “data kolektor maupun kontributor memberikan sesuatu kepada, dan mendapatkan sesuatu dari, pengumpulan datanya” (Enriquez 1994; h.61). Dalam studi ini orang suku Dani lah (partisipan culture-bearer) yang menjadi penentu cakupan penelitian, mendefinisikan permasalahan, menentukan cara atau metode tepat guna untuk mendapatkan informasi, mengumpulkan data, dan menentukan penggunaannya. Dengan kata lain partisipan telah menjadi peneliti indigenous-nya atau peneliti riilnya (Enriquez 1994). metode indigenous ini tidak hanya sensitif dan tepat secara kultural, namun berorientasi-masyarakat (Enriquez 1992).
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

Rumah bundar - Repositori Institusi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Rumah bundar - Repositori Institusi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Selanjutnya adalah menggali tanah di sekitar tiang berbentuk lingkaran. Papan cincang yang berujung tajam ditancapkan atau ditanam mengikuti lingkaran yang sudah digali. Jarak papan cincang dengan tiang utama disesuaikan dengan luas honai yang akan dibuat. Setiap kali papan ditanam, harus diikat dengan tali rotan supaya dinding papan rapat dan berdiri kokoh. Masyarakat suku Dani paling ahli dalam membuat bentuk lingkaran honai. Tidak ada yang mengajarkan caranya. Mereka juga tidak menggunakan jangka atau alat khusus. Seseorang pernah berkata bahwa kemampuan itu berasal dari hati.
Baca lebih lanjut

72 Baca lebih lajut

Buku Dengan Ilustrasi Mengenai Nilai Moral Yang Terkandung Dalam Upacara Bakar Batu Suku Dani

Buku Dengan Ilustrasi Mengenai Nilai Moral Yang Terkandung Dalam Upacara Bakar Batu Suku Dani

upacara bakar batu untuk menyelesaikan masalah yang sulit menemukan jalan keluar karena loyalitas terhadap teman satu kelompoknya.Di sisi lain bagi masyarakat Suku Dani, memberlakukan hukum adat adalah sesuatu yang wajib, karena hukum sudah menjadi pedoman hidup mereka yang membuat mereka tetap mempertahankan eksistensi sampai sekarang. Selain itu penerapan hukum adat didalam kehidupan Suku Dani ini tidak terlepas dari peranan kepala suku, dimana kepala suku ini dipandang sebagai sosok yang begitu bijaksana, arif dan adil di mata rakyatnya yaitu Suku Dani hal ini tercermin dari setiap keputusan yang diambil oleh kepala suku dalam setiap menyelesaikan konflik.
Baca lebih lanjut

105 Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Makna Ritual Bakar Batu Bagi Masyarakat Kristen Suku Dani di Kota Semarang ditinjau dari Perspektif Sosio-Antropologi

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Makna Ritual Bakar Batu Bagi Masyarakat Kristen Suku Dani di Kota Semarang ditinjau dari Perspektif Sosio-Antropologi

Tradisi bakar batu merupakan sebuah ritus yang sangat bermakna dalam kehidupan masyarakat suku Dani. Dalam tindakan ritual terkandung seluruh nilai-nilai kehidupan yang dianut oleh masyarakat tersebut. Ritual-ritual yang dilakukan tidak terpisahkan dari bentuk kepercayaan, norma dan nilai-nilai luhur yang terdapat dalam masyarakat. Ritual bakar batu merupakan ritual yang dilakukan dalam kehidupan masyarakat suku Dani. Ada dua makna umum ritual bakar batu dalam kehidupan masyarakat suku Dani yaitu: sebagai bentuk pemujaan, dan sarana mediasi. Berdasarkan hasil penelitian di lapangan, ritual bakar batu yang dilakukan oleh masyarakat Kristen suku Dani di kota Semarang mangalami penambahan makna. Makna baru tersebut berkaitan dengan kehidupan mereka yang menyadang gelar baru sebagai perantauan. Ritual bakar batu yang dilakukan merupakan bentuk pelestarian budaya leluhur, penjaga identitas sosial, sebagai salah satu sarana pewarisan budaya kepada generasi penerus, dan memperkenalkan budaya suku Dani kepada Masyarakat kota Semarang. Teori yang dipakai sebagai alat analisa adalah identitas sosial, simbol dan ritual. Dalam penilitian ini metode yang digunakan ialah deskriptif dengan pendekatan kualitatif.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

ADAT DAN BUDAYA SUKU DANI DI TANAH PAPUA (1)

ADAT DAN BUDAYA SUKU DANI DI TANAH PAPUA (1)

Suku Dani adalah sebuah suku yang mendiami satu wilayah di Lembah Baliem, suku ini telah dikenal sejak ratusan tahun lalu sebagai petani yang terampil dan mampu menggunakan alat atau perkakas pertanian. Selain itu masyarakat Suku Dani telah mengenal teknologi penggunaan kapak batu, pisau yang dibuat dari tulang binatang, bambu dan juga tombak yang dibuat menggunakan kayu galian yang terkenal sangat kuat dan berat. Mereka hidup diantara belukar, masih memelihara serta mengangkat babi sebagai hewan peliharaannya atau bisa dikatan hewan buruannya. Masyarakat Suku Dani masih menggunakan teknologi Neolitik dari dunia masa lalu. Saat ini, masyarakat Suku Dani masih banyak yang menggunakan koteka yang terbuat dari kunden atau labu kuning dan para wanita menggunakan pakaian wah yang berasal dari rumput atau serat dan tinggal di “honai-honai”. Upacara-upacara besar dan keagamaan serta perang suku masih dilaksanakan meskipun tidak sebesar dahulu.
Baca lebih lanjut

34 Baca lebih lajut

Kisah Anak Durhaka yang Menderita Kehidu

Kisah Anak Durhaka yang Menderita Kehidu

Dani inilah hukuman bagi anak yang durhaka terhadap orang tuanya, menyakiti orang yang telah mengandung, melahirkan dan mengasuh hingga dewasa. Rela menjadi toilet bila popok kehabisan, rela tidak tidur semalaman, hanya karena merawat dan menenangkan sang anak agar tertidur pulas, memberinya makanan dan pakaian, memenuhi apa yang diinginkan anak, tetapi begitu dewasa ternyata menjadi durhaka. *****

7 Baca lebih lajut

PENGARUH KENYAMANAN DAN KEAMANAN BERMUKIM TERHADAP BENTUK PERMUKIMAN TRADISIONAL SUKU DANI DI WAMENA KABUPATEN JAYAWIJAYA, PAPUA.

PENGARUH KENYAMANAN DAN KEAMANAN BERMUKIM TERHADAP BENTUK PERMUKIMAN TRADISIONAL SUKU DANI DI WAMENA KABUPATEN JAYAWIJAYA, PAPUA.

Konsep Rumah Tradisional dalam suatu lingkungan permukiman kecil suku Dani di Wamena disebut lingkungan satu keluarga yang terdiri dari bapak, istri, anak dan keluarga yang berdiam bersama dalam satu kompleks ( silimo ). Silomo adalah letak pekarangan rumah dalam suatu unit perkampungan atau halaman rumah keluarga suku Dani di Lembah Baliem Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua. Cuaca dingin di malam hari diatasi dengan membuat api unggun dalam ruangan Honai. Kehidupan sehari-hari perempuan dan laki-laki suku Dani. Dunia perempuan suku Dani dalam aktifitasnya hariannya meliputi : ebe ai, lesema/hunila, lalekenma, hipirakama . Suku Dani mengenal sistem ladang berpindah, dalam suatu wilayah tertentu. Bila kesuburan tanah berkurang akan ditinggalkan untuk beberapa waktu agar semak belukar bisa tumbuh agar kesuburan tanah dapat dipulihkan kembali.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

BENTUK KOMUNIKASI DALAM AKULTURASI BUDAYA DI SAMARINDA (Studi Pada Masyarakat Suku Jawa dan Suku Banjar di Kelurahan Pelita, Kecamatan Samarinda Ilir, Kota Samarinda) M. Syaikhu Nuris1 Abstrak - Index of /site/wp-content/uploads/2013/05

BENTUK KOMUNIKASI DALAM AKULTURASI BUDAYA DI SAMARINDA (Studi Pada Masyarakat Suku Jawa dan Suku Banjar di Kelurahan Pelita, Kecamatan Samarinda Ilir, Kota Samarinda) M. Syaikhu Nuris1 Abstrak - Index of /site/wp-content/uploads/2013/05

budaya yang dikenal individu dengan budaya asing dapat menyebabkan individu sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru, demikian halnya dengan masyarakat Suku Jawa dan Suku Banjar ini. Bagaimana fenomena yang akan mereka alami ketika keluar dari suatu budaya ke budaya lain sebagai reaksi ketika berpindah dan hidup dengan orang-orang yang berbeda dengan mereka serta bagaimana upaya yang mereka lakukan untuk mengatasi perbedaan budaya yang dirasakan menuju suatu adaptasi yang baik dan komunikasi antarbudaya yang efektif. Banyak hal yang dapat mempengaruhi proses penyesuaian diri, seperti variabel-variabel komunikasi dalam akulturasi, yakni faktor personal (intrapersona), seperti karakteristik personal, motivasi individu, persepsi individu, pengetahuan individu dan pengalaman sebelumnya, selain itu juga dipengaruhi oleh keterampilan (kecakapan) komunikasi individu dalam komunikasi sosial (antarpersonal) serta suasana lingkungan komunikasi budaya baru tersebut (Mulyana dan Rakhmat, 2005: 141-144). Manusia yang memasuki suatu lingkungan baru mungkin akan menghadapi banyak hal yang berbeda seperti cara berpakaian, cuaca, makanan, bahasa, orang-orang, sekolah dan nilai-nilai yang berbeda. Tetapi ternyata budaya tidak hanya meliputi cara berpakaian maupun bahasa yang digunakan, namun budaya juga meliputi etika, nilai, konsep keadilan, perilaku, hubungan pria wanita, konsep kebersihan, gaya belajar, gaya hidup, motivasi bekerja, ketertiban lalulintas, kebiasaan dan sebagainya (Mulyana dan Rahkmat, 2005: 97). Namun dalam penelitian ini, peneliti membatasi bentuk komunikasi dalam akulturasi budaya di Samarinda, dalam hal ini masyarakat yang bertempat tinggal di Kelurahan Pelita. Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka peneliti tertarik untuk meneliti mengenai “Bentuk Komunikasi Dalam Akulturasi Budaya di Samarinda, Studi pada Masyarakat Suku Jawa dan Suku Banjar di Kelurahan Pelita Kecamatan Samarinda Ilir Kota Samarinda”. Rumusan Masalah
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

SUKU ASMAT DAN SUKU DANI

SUKU ASMAT DAN SUKU DANI

Dasar kekerabatan masyarakat Asmat adalah keluarga inti monogami, atau kadang-kadang poligini, yang tinggal bersama-sama dalam rumah panggung (rumah keluarga) seluas 3 m x 5 m x 4 m yang sering disebut dengan sytem. Walaupun demikian, ada kesatuan-kesatuan keluarga yang lebih besar, yaitu keluarga luas uxorilokal (keluarga yang sesudah menikah menempati

54 Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Komunitas Dibo-dibo: studi tentang aktivitas sosio-ekonomi komunitas Dibo-dibo di Sahu Kabupaten Halmahera Barat T2 092006104 BAB I

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Komunitas Dibo-dibo: studi tentang aktivitas sosio-ekonomi komunitas Dibo-dibo di Sahu Kabupaten Halmahera Barat T2 092006104 BAB I

Demikian adalah kisah kecil dari aktivitas sehari-hari seorang ibu yang berprofesi sebagai dibo-dibo. Dibo-dibo merupakan salah satu bahasa yang lazim dipakai masyarakat Halmahera untuk menunjuk pada sebuah komunitas yang membeli hasil kebun seperti pisang, singkong, ubi jalar, rempah-rempah (tomat, cabai), sayur- sayuran dan juga buah-buahan (durian, rambutan, langsat, cempedak) dari masyarakat (selanjutnya penulis memakai hasil panen masyarakat untuk mengacu pada keseluruhan hasil kebun tersebut). Mereka adalah kelompok yang dalam bahasa daerah diartikan sebagai pembeli atau tengkulak. Mereka merupakan kelompok yang memiliki jaringan yang sangat luas untuk mendistribusikan barang hasil panen masyarakat suku Sahu 7 -Jailolo 8 ke
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Feminisme tokoh wanita dalam novel Sali : Kisah Seorang Wanita Suku Dani karya Dewi Linggasari.

Feminisme tokoh wanita dalam novel Sali : Kisah Seorang Wanita Suku Dani karya Dewi Linggasari.

Tahun 2002 buku Realitas di Balik Indanya Ukiran (Kunci Ilmu) telah terbit, buku ini berkisah tentang indanya ukiran Asmat yang telah dikenal seantero dunia, namun tidak seindah nasib yang dialami para perajinnya. Buku lain tentang potret hidup wanita Asmat yang semakin hari semakin tertindas, dilukiskannya lewat buku Yang Perkasa, Yang Tertindas (Bigraf, 2004). Sebuah novel berjudul Kapak (Kunci Ilmu, 2005) juga pernah Dewi tulis, bertutur tentang kerasnya hidup yang dilalui seorang anak Asmat dalam mempertahankan hidup dengan tidak diimbangi gizi yang mencukupi. Tahun 2007 (Kunci Ilmu) Dewi mengelurkan novel berjudul Sali: Kisah Seorang Wanita Suku Dani. Lewat novel ini, Dewi ingin memperlihatkan bila masih terjadi ketidakadilan terhadap sesama kaumnya akibat masih kuatnya dominasi laki-laki dan masih rendanya arus keutamaan gender.
Baca lebih lanjut

149 Baca lebih lajut

Feminisme tokoh wanita dalam novel Sali  Kisah Seorang Wanita Suku Dani karya Dewi Linggasari

Feminisme tokoh wanita dalam novel Sali Kisah Seorang Wanita Suku Dani karya Dewi Linggasari

Hal inilah yang mendasari penulis untuk menganalisa permasalahan yang terdapat dalam novel Sali: Kisah Seorang Wanita Suku Dani karya Dewi Linggasari dalam persektif karya sastra feminisme. Dasar pemikiran dalam penelitian sastra berperspektif feminis adalah upaya pemahaman kedudukan dan peran perempuan seperti tercermin dalam karya sastra. Pertama, kedudukan dan peran tokoh perempuan dalam karya sastra Indonesia menunjukkan masih didominasi oleh laki-laki. Dengan demikian, upaya pemahaman merupakan keseharusan untuk mengetahui ketimpangan jender dalam karya sastra, seperti terlihat dalam realitas sehari-hari masyarakat. Kedua, dari resepsi pembaca karya sastra Indonesia, secara sepintas terlihat bahwa para tokoh perempuan dalam karya sastra Indonesia tertinggal dari laki-laki, misalnya dalam latar sosial pendidikannya, pekerjaannya, peranannya dalam masyarakat, dan pendeknya derajat mereka sebagai integral dan susunan masyarakat. Ketiga, masih adanya resepsi pembaca karya sastra Indonesia yang menunjukan bahwa hubungan antara laki-laki dan perempuan hanyalah merupakan hubungan yang didasarkan pada pertimbngan biologis dan sosial-ekonomi semata-mata (Sugihastuti & Suharto, 2010:15).
Baca lebih lanjut

147 Baca lebih lajut

Pola Komunikasi Masyarakat Kampung Bali (Studi Deskriptif Etnografi Pola Komunikasi Masyarakat Suku Bali dalam Berinteraksi dengan Masyarakat yang Multietnis di Desa Cipta Dharma)

Pola Komunikasi Masyarakat Kampung Bali (Studi Deskriptif Etnografi Pola Komunikasi Masyarakat Suku Bali dalam Berinteraksi dengan Masyarakat yang Multietnis di Desa Cipta Dharma)

Dari hasil wawancara dan pengamatan peneliti di lapangan, masyarakat di Kampung Bali memiliki hubungan yang akrab dan harmonis. Perbedaan suku, budaya, dan agama tidak menjadi alasan mereka saling berselisih paham. Bentuk hubungan interkasi mereka dapat dilihat dari masyarakat yang saling berkunjung ke rumah masyarakat lainnya di saat Hari Raya keagamaan, seperti Hari Raya Idul Fitri atau Galungan. Selain itu, setiap hajatan dan pesta yang diadakan, mereka juga saling mengundang dan mengunjung satu sama lainnya. Perbedaan budaya dan keyakinan tidak menjadi alasan bagi mereka untuk tidak melakukan hal tersebut, karena mereka dapat mensiasatinya dengan baik. Dalam hal makanan contohnya, ketika ada hajatan di rumah masyarakat Suku Bali, maka mereka akan mempersiapkan makanan untuk teman dan tetangga mereka yang beragama Islam di salah satu rumah warga yang juga beragama Islam, agar tidak ada keragu- raguan dalam mengkonsumsi makanan tersebut. Di luar hal tersebut, makanan yang disediakn untuk masyarakat Bali dan Muslim juga berbeda, karena masyarakat Bali tidak dapat mengkonsumsi daging sapi sehingga mereka mengkonsumsi daging babi sementara hal yang sebaliknya berlaku bagi masyarakat Muslim.
Baca lebih lanjut

203 Baca lebih lajut

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep - Nasionalisme dalam Novel 5 cm. Karya Donny Dhirgantoro: Analisis Strukturalisme

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep - Nasionalisme dalam Novel 5 cm. Karya Donny Dhirgantoro: Analisis Strukturalisme

Novel 5 cm. juga pernah diteliti oleh Silvia Ratna Juwita pada tahun 2012 yang berjudul ”Nilai Moral Novel 5 cm. Karya Donny Dhirgantoro dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran Sastra di Sekolah”. Metode yang digunakan dalam penulisan penelitian tersebut adalah metode kualitatif yang bertujuan untuk mengetahui nilai-nilai moral yang terdapat dalam novel 5 cm. karya Donny Dhirgantoro, selain itu penulisan penelitian tersebut juga menggunakan pendekatan psikologi sosial yang membahas tentang hubungan antar individu dan tanggapan masyarakat terhadap individu karena dalam penelitian tersebut mencoba menguraikan nilai moral yang terkandung dalam novel 5 cm. karya Donny Dhirgantoro. Namun yang membedakan dengan penelitian ini adalah cara menganalisis kajiannya. Silvia menganalisis nilai moral yang terdapat dalam Novel 5 cm. kemudian menghubungkannya dengan proses pembelajaran sastra di sekolah tingkat SMA kelas XI (sebelas). Dalam analisisnya Silvia mendapatkan nilai moral yang terkadung dalam novel 5 cm. seperti: kejujuran, bertanggungjawab, disiplin, visioner, adil, peduli, dan kerja keras. Kemudian nilai-nilai moral tersebut diimplikasikan pada pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di tingkat SMA kelas XI (sebelas) dalam aspek mendengarkan. Sedangkan penelitian ini, peneliti menganalisis nasionalisme berdasarkan kajian strukturalisme, artinya peneliti memaparkan keterkaitan unsur-unsur dalam teks sastra secara totalitas sehingga menghasilkan makna nasionalisme. Unsur-unsur yang dianalisis seperti tema, peristiwa atau kejadian, latar atau setting, penokohan atau perwatakan, alur atau plot, sudut pandang, dan gaya bahasa berdasarkan indikator nasionalisme.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Index of /site/wp-content/uploads/2013/05

Index of /site/wp-content/uploads/2013/05

seintensif orang dewasa dalam bekerja, namun komunikasi interpersonal yang terjadi tersebut cukup dapat menggambarkan bahwa masyarakat suku Jawa dan masyarakat suku Banjar secara bersama-sama melakukan komunikasi interpersonal. Dari pengamatan peneliti di lokasi penelitian, di dapat masyarakat suku Jawa dan masyarakat suku Banjar saling bekerjasama melalui komunikasi interpersonal. Seperti yang dikatakan oleh Deddy Mulyana (2008:81) menyatakan bahwa komunikasi interpersonal adalah komunikasi antar dua orang secara tatap muka yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal ataupun non verbal. Masyarakat suku Jawa dan masyarakat suku Banjar merencanakan dan merealisasikan sebuah kegiatan dengan menyesuaikan pikiran mereka agar terbentuklah sebuah kegiatan seperti yang mereka harapkan. Peneliti melihat masyarakat suku Jawa dan masyarakat suku Banjar melakukan komunikasi interpersonal. Komunikasi interpersonal merupakan salah satu faktor pendukung terjadinya komunikasi sosial di dalam masyarakat. Tanpa adanya komunikasi interpersonal tentu komunikasi sosial tidak akan terjadi. Adapun kerjasama yang dilakukan oleh masyarakat suku Jawa dan masyarakat suku Banjar yang ada di kelurahan Pelita adalah berupaya mencapai integrasi sosial. Integrasi atau kerjasama dari seluruh anggota masyarakat mulai dari individu, keluarga, lembaga, dan masyarakat secara keseluruhan sehingga menghasilkan persenyawaan-persenyawaan berupa adanya konsensus nilai-nilai yang sama- sama dijunjung tinggi (Ahmadi, 2009: 292).
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

PERBEDAAN TINDAK TUTUR ILOKUSI ANTARA MASYARAKAT SUKU SAMIN DENGAN MASYARAKAT SUKU JAWA DI BLORA: KAJIAN SOSIOPRAGMATIK.

PERBEDAAN TINDAK TUTUR ILOKUSI ANTARA MASYARAKAT SUKU SAMIN DENGAN MASYARAKAT SUKU JAWA DI BLORA: KAJIAN SOSIOPRAGMATIK.

Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi yang berlaku secara nasional, namun demikian Bahasa Jawa dituturkan oleh sebagian besar Suku Jawa. Bahasa Jawa yang dituturkan di Jawa Timur memiliki beberapa dialek. Di daerah Mataraman (Karesidenan Madiun dan Kediri), Bahasa Jawa yang dituturkan hampir sama dengan Bahasa Jawa Tengahan (Bahasa Jawa Solo). Di daerah pesisir utara bagian barat (Tuban dan Bojonegoro), dialek Bahasa Jawa yang dituturkan mirip dengan yang dituturkan di daerah Blora-Rembang di Jawa Tengah.

8 Baca lebih lajut

(STUDI KASUS KECEMBURUHAN SOSIAL DALAM PEMBAGIAN HASIL TAMBANG PT FREEPORT INDONESIA ANTARA SUKU AMUNGME DENGAN SUKU DANI DI DESA BANTI KEC. TEMBAGAPURA KAB. MIMIKA-PAPUA)

(STUDI KASUS KECEMBURUHAN SOSIAL DALAM PEMBAGIAN HASIL TAMBANG PT FREEPORT INDONESIA ANTARA SUKU AMUNGME DENGAN SUKU DANI DI DESA BANTI KEC. TEMBAGAPURA KAB. MIMIKA-PAPUA)

Adapun tata cara penyelesaian konflik perang antar suku secara adat di pegunungan tengah provinsi Papua, salah satunya di Kabupaten Mimika, ketika ada perang suku di suatu tempat kemudian untuk merealisasikan perdamaian atau menyelesaikan perang antar suku biasanya mengambil suatu keputusan (decision making) atau membuat sebuah kesepakatan bersama dari kedua pihak masing-masing woemum atau penyelenggaran perang suku itu, untuk menyelesaikan/mengakhiri perang dan merealisasikan perdamaian. Proses perdamaian dilakukan dengan digelar prosesi acara bakar batu memberi makan kaum laki-laki dan kaum perempuan secara bertahap. Acara bakar batu adalah tanda jika mereka yang melibatkan perang supaya membersihkan diri dari pernak ernik perang. Selanjutnya proses perdamaian juga dilakukan dengan upacara peletakan anak panah secara sinkron/simultan untuk disimpam, itu membuktikan bahwa perang sudah berakhir dan damai, kemudian dilakukan saling berjabatangan di antara kedua kubu yang berkonflik perang.
Baca lebih lanjut

74 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...