Masyarakat Tionghoa

Top PDF Masyarakat Tionghoa:

Masyarakat Tionghoa Benteng di Tangerang (1978 – 1998)

Masyarakat Tionghoa Benteng di Tangerang (1978 – 1998)

dengan organisasi etnis Tionghoa maupun multietnis yang mengarah pada tindakan antisipasi diskriminatif dan persaudaraan sesama Warga Negara Indonesia, seperti contoh Solidaritas Pemuda Pemudi untuk Keadilan (SIMPATIK), Gerakan Perjuangan Anti-Diskriminasi (Gandi), dan Solidaritas Nusa Bangsa. Mereka banyak bergabung, untuk memberikan wawasan yang luas terhadap masyarakat, agar tidak terjadi diskriminasi rasial atau agama. Selain itu juga untuk memperkuat kesatuan mereka, untuk menolak apa bila suatu saat nanti akan ada tindakan diskriminasi yang dilakukan oleh kalangan-kalangan oknum tertentu. 30 Menteri Kehakiman pada saat itu, Muladi juga berjanji menghapuskan diskriminasi bagis masyarakat etnis Tionghoa. Seperti contoh kode di KTP akan dihapus, masyarakat Tionghoa diperbolehkan memasuki bidang-bidang pekerjaan yang dulu tertutup bagi mereka, seperti contoh Pegawai Negeri Sipil (PNS). Bahkan Menteri Urusan Agama saat itu, Malik Fadjar mengatakan bahwa agama Konghucu akan diakui kembali. Bahkan bahasa Tionghoa sebagai bahasa asing akan diperbolehkan diajarkan di sekolah bahkan di sekolah-sekolah negeri. Semua ini menunjukan keruntuhan Orde Baru banyak membawa dampak positif bagi masyarakat etnis Tionghoa. Bagi masyarakat Tionghoa Benteng sendiri, hal ini menjadi pendukung mereka dalam melaksanakan kehidupan berbangsa dan bernegara tanpa harus memikul beratnya legalitas mereka di negara sendiri.
Baca lebih lanjut

105 Baca lebih lajut

BAB II - Masyarakat Tionghoa Benteng di Tangerang (1978 – 1998)

BAB II - Masyarakat Tionghoa Benteng di Tangerang (1978 – 1998)

didirikan pada tahun 1910. Aliran orientasi nasionalisme Tiongkok ini menyerukan anti kolonialisme, hampir sama seperti gerakan nasionalisme Indonesia. Walau pun bisa dikatakan antikolonialisme di Indonesia, namun mereka tidak memiliki kesamaan dengan nasionalisme Indonesia karena menganggap bahwa Tiongkok adalah tanah air mereka. Bagi para pendukung aliran Sin Po, negara Tiongkok adalah pelindung mereka dan semua masyarakat Tionghoa perantauan. Bagi mereka, masyarakat Tionghoa peranakan akan selalu dapat hidup kalau mereka mempunyai ikatan dengan Negeri Tiongkok. Kaum ini menganjurkan persatuan antara kaum peranakan Tionghoa dengan kaum Tionghoa totok, selain itu menuntut status hukum sama dengan orang Eropa bagi kaum masyarakat Tionghoa lokal serta pendidikan adat dan tradisional Tionghoa terhadap anak-anak kaum peranakan Tionghoa. Padahal tidak semua masyarakat Tionghoa yang seperti itu, bahkan ada yang sangat mendukung nasionalisme bangsa seperti Partai Tionghoa Indonesia (PTI). Sekelompok orang Tionghoa yang pro-Indonesia juga ada, mereka merupakan kalangan masyarakat Tionghoa yang menganggap bahwa masyarakat Tionghoa di Indonesia harus menjadi
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Pergeseran Hukum Pewarisan Masyarakat Tionghoa di Kota Pekalongan

Pergeseran Hukum Pewarisan Masyarakat Tionghoa di Kota Pekalongan

2. Masyarakat Tionghoa Peranakan. Masyarakat Tionghoa Peranakan seharusnya memakai sistem pewarisan individual parental, di mana dalam pembagian warisnya dibagi-bagi di antara para ahli waris laki-laki dan perempuan, sesuai dengan yang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Dalam hal ini tidak ada perbedaan anak laki-laki dan perempuan, mereka mendapat bagian yang sama dari harta warisan orang tuanya. Tetapi dalam kenyataannya, pelaksanaan pembagian waris menganut sistem pewarisan seperti golongan Khek (Totok) yaitu sistem pewarisan patrilineal di mana harta warisan jatuh kepada anak laki-laki. Dalam hal ini bisa dimaklumi karena sebenarnya
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

JALAN BAKTI DALAM UPAYA INKULTURASI INJIL KRISTUS DI TENGAH MASYARAKAT TIONGHOA KRISTEN DI INDONESIA

JALAN BAKTI DALAM UPAYA INKULTURASI INJIL KRISTUS DI TENGAH MASYARAKAT TIONGHOA KRISTEN DI INDONESIA

tetapi, kini dalam situasi baru masyarakat Tionghoa di Indonesia, arketipe etos-bakti yang semula berkaitan dengan tindakan primordial mitis para kaisar Tiongkok kuno itu telah kehilangan konteks aslinya, sehingga ‘laku- bakti yang asali itu’ akan menjadi irelevan dalam konteksnya yang baru di Indonesia. Karenanya, pelaksanaan ritus bakti secara harafiah, ekslusivistis, dan membuta oleh sebagian warga Tionghoa di Indonesia bisa jadi justru memperlihatkan sikap hidup yang anakronistik, irelevan, dan inotentik. Oleh karena itu, masyarakat dan keluarga Tionghoa di Indonesia yang alamiahnya mewarisi arketipe etos-bakti sebagai ‘isi bawah sadar kolektif leluhurnya’ perlu memiliki sikap reflektif-kritis atas etos-bakti, agar diberi hikmat yang memadai untuk dapat mentransformasikan isi-lama bawah sadar kolektifnya dengan muatan bawah sadar kolektif yang baru. Muatan baru ini diharapkan memuat etos-baru yang juga mencetuskan tindakan mitis paradigmatik baru, yang secara religius lebih otentik, dan secara etis juga lebih relevan serta kontekstual, di tengah interaksinya dengan masyarakat religius di Indonesia.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Upacara Dan Makna Minum Teh Bagi Masyarakat Tionghoa

Upacara Dan Makna Minum Teh Bagi Masyarakat Tionghoa

d. Penyaringan teh sangat dibutuhkan dalam menyeduh teh agar air teh yang akan diminum jernih dan tanpa kotoram. Sesuai dengan kebiasaan minum teh pada masyarakat Tionghoa yang menginginkan air teh yang akan diminum bebas dari kotoran dari daun teh tersebut. Setelah mengetahui ketujuh peralatan menyeduh dan menyajikan teh, hal yang paling penting adalah pada proses persiapan, penyeduhan, penyajian, dan cara meminum teh. Dalam pelaksanaan Gong-fu Cha memerlukan ruangan yang mencukupi. Menurut prosedur dari Gong-fu Cha dibutuhkan meja yang cukup untuk meletakkan seluruh perangkat teh yang akan digunkan. Pada umumnya digunakan meja yang berbentuk lingkaran, karena bentuk lingkaran memiliki bentuk nilai filosofis yang melambangkan siklus kehidupan yang terus berputar tanpa terputus, sehingga diharapkan hubungan baik diantara peminum teh tetap tersambung. Idelanya suasana disekitar raung tersebut tenang dan santai. Suasana seperti itu biasanya diciptakan dengan menggunakan menyan, bunga, music yang lembut, dan nyanyian burung.
Baca lebih lanjut

114 Baca lebih lajut

MASYARAKAT TIONGHOA BENTENG DI TANGERANG (1978-1998)

MASYARAKAT TIONGHOA BENTENG DI TANGERANG (1978-1998)

Secara umum skripsi bertujuan untuk mengungkap dan mengetahui dampak dari Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI) terhadap masyarakat Tionghoa Benteng di Kota Tangerang. Mulai dari awal mula munculnya masyarakat Tionghoa Benteng, dan mengapa disebut Tionghoa Benteng sampai masa kerusuhan 98. Tionghoa Benteng sendiri merupakan masyarakat Tionghoa yang mempunyai kultur campuran dengan pribumi, dan walau sudah berasimilasi mereka tetap memegang kultur Tionghoa. Selain kultur, masyarakat Tionghoa Benteng juga memiliki keunikan yang lain, yaitu mempunyai kulit coklat seperti pribumi pada umumnya.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

MASYARAKAT TIONGHOA DI YOGYAKARTA 1877-1920

MASYARAKAT TIONGHOA DI YOGYAKARTA 1877-1920

Pada dasarnya, dalam mata pencaharian orang-orang Tionghoa di Nusantara, tidak melulu menjadi pedagang. Banyak di antara orang-orang Tionghoa yang ada di Nusantara menjadi petani, tukang atau buruh, atau bahkan menduduki jabatan pada sistem birokrasi lokal. Dalam perkembangannya, keberadaan orang-orang Tionghoa itu dianggap membahayakan dominasi ekonomi pemerintah Hindia Belanda. Selain bidang ekonomi, dalam bidang politik etnis Tionghoa juga dianggap berbahaya bagi pemerintah kolonial Belanda. Jumlah populasi mereka yang semakin berkembang, dan hubungan mereka yang sangat baik dengan orang-orang Jawa kelas atas, adalah ancaman yang dapat membahayakan dominasi pemerintah kolonial Belanda. Oleh karena itu, pemerintah Belanda banyak mengeluarkan peraturan atau kebijakan yang cenderung merugikan masyarakat Tionghoa. Salah satunya adalah peraturan Zoning Stelsel yang dikeluarkan pada tahun 1863. 2 Peraturan ini memaksa semua penduduk Tionghoa di wilayah Nusantara menetap pada area yang secara khusus diperuntukkan bagi orang Tionghoa. Area khusus bagi orang Tionghoa itu biasanya berada di dekat pasar. Wilayah inilah yang kemudian dikenal dengan nama pecinan. Peraturan Pemerintah kolonial Belanda ini jelas mengganggu proses asimilasi antara masyarakat Tionghoa dengan masyarakat pribumi. Peraturan tersebut telah membentengi terjadinya asimilasi antara masyarakat                                                             
Baca lebih lanjut

100 Baca lebih lajut

Studi Deskriptif Upacara Sacap Me Dan Penggunaan Musikpada Sembahyang Malam Tahun Baru Gong Xi Fat Cai Di Vihara Pekong Kelurahan Polonia Dalam Budaya Masyarakat Tionghoa Agama Budha Kota Medan

Studi Deskriptif Upacara Sacap Me Dan Penggunaan Musikpada Sembahyang Malam Tahun Baru Gong Xi Fat Cai Di Vihara Pekong Kelurahan Polonia Dalam Budaya Masyarakat Tionghoa Agama Budha Kota Medan

Dalam kaitannya dengan pertunjukan religi sacapme, maka waktu pertunjukannya dilakukan pada malam hari menjelang tahun baru China atau disebut juga dengan Gong Xi Fat Cai. Waktunya sekitar pukul 23.00 sampai 01.00 WIB. Waktu ini tentu saja bias ianggap relatif panjang dibandingkan dengan pertunjukan musik dan tari hiburan di atas pentas. Pertunjukan sacapme ini juga terdiri dari masa awal atau persiapan, isi pertunjukan, dan akhir. Upacara ini juga merupakan sebuah institusi kuno dalam radisi masyarakat China yang diorganisasikan secara rapi dan sifatnya nonformal, yaitu digerakkan oleh masyarakat Tionghoa. Di Medan khususnya oleh masyarakat Tionghoa yang beragama Buddha. Upacara ini didukung oleh beberapa orang sepert perantara trance, pemusik, dan orng-orang yang sembahyang, terutama orang Tionghoa yang beragama Buddha. Yang menjadi penonton atau penikmat upacara adalah segenap mereka yang hadir. Tempat pertunjukan upacara ini adalah di Vihara Pekong Medan, yang mengindikasikan bahawa ini adalah pertunjukan riual bukan untuk tujuan utamanya hiburan atau estetika. Kesempatan atau waktu pertunjukan adalah setahun sekali menjelang tahun baru China. Teori ini akan dijabarkan lebih lanjut dalam mendeskripsikan jalannya upacara sacapme paa Bab IV.
Baca lebih lanjut

119 Baca lebih lajut

Jaringan Komunikasi dan Kesadaran Bernegara (Studi Korelasional Mengenai Jaringan Komunikasi Antar Masyarakat Tionghoa Di Berastagi Dalam Menumbuhkan Kesadaran Bernegara)

Jaringan Komunikasi dan Kesadaran Bernegara (Studi Korelasional Mengenai Jaringan Komunikasi Antar Masyarakat Tionghoa Di Berastagi Dalam Menumbuhkan Kesadaran Bernegara)

Dari 38 responden ada 3 nama yang paling menonjol yaitu. Ati, Asiau, dan Along. Menurut mereka orang-orang ini lah yang layak dijadikan opinion leader, namun karena belum adanya organisasi terstruktur maka mereka tidak tetapkan sebagai opinion leader tapi kebanyakan masyarakat Tionghoa juga terkadang melakukan diskusi denga tokoh-tokoh tersebut. Jika saja jaringan komunikasi tersebut terbentuk secara struktural maka banyak manfaatnya bagi pemerintah setempat. Seperti dalam teori Simbolic Convergence Theory yang dimana mengupas tentang fenomena pertukaran pesan yang memunculkan kesadaran kelompok yang berimplikasi pada hadirnya makna, motif, dan persamaan bersama. Artinya teori ini berusaha menerangkan bagaimana orang-orang secara kolektif membangun kesadaran simbolik bersama melalui suatu proses pertukaran pesan.
Baca lebih lanjut

98 Baca lebih lajut

INTERNALISASI SEMPOA DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT TIONGHOA DI KOTA MEDAN

INTERNALISASI SEMPOA DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT TIONGHOA DI KOTA MEDAN

The title of this thesis is “Internalisasi Sempoa dalam Kehidupan Masyarakat Tionghoa di Kota Medan”. The aim of this writing is to find out the internalization of sempoa in Tionghoa’s life at Medan City. The research is based on the development of the abacus as a counting tool into children’s brain intelligence of tools that can balance both the children's brain. The methodology used in this thesis is descriptive analysis. The theory used to analyzing the topic is education theory that used to analyze the internalization of abacus on Tionghoa’s life at Medan City. The result shows that abacus can affect children’s paradigm.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Perdagangan sembako masyarakat Tionghoa di kabupaten Melawi Kalimantan Barat 2004 2008

Perdagangan sembako masyarakat Tionghoa di kabupaten Melawi Kalimantan Barat 2004 2008

Perkembangan setelah kemerdekaan Indonesia, banyak masyarakat Cina atau sering disebut orang Tionghoa yang menetap dan menjadi warga negara Indonesia. Mereka yang awalnya bekerja dipertambangan emas dan perkebunan telah beralih profesi, ada yang menjadi pedagang kecil, pemilik modal usaha, dan pembisnis. Peralihan profesi ini terjadi karena beberapa faktor seperti mulai sulitnya mencari lahan untuk pertambangan emas, pemilik lahan pertambangan yang sudah tidak mengoperasikan pertambangan emas, dan mulai banyak yang pindah keperkebunan serta usaha lainnya. Terlebih khusus masyarakat Tionghoa yang berada di kabupaten Melawi, mereka telah beralih profesi dari pekerja tambang menjadi pemilik modal usaha dan pedagang sembako untuk menghidupi diri dan keluarga mereka, hal tersebut dilakukan karena untuk bertahan hidup dengan alasan mencari pertambangan emas sudah sangat sulit untuk dewasa ini.
Baca lebih lanjut

93 Baca lebih lajut

BENTUK, FUNGSI, DAN MAKNA FENG SHUI BAGI KEHIDUPAN MASYARAKAT TIONGHOA KOTA MEDAN 印尼棉兰华裔对风水的理解和意义分析研究 (Yìnní Mián Lán Huáyì Duì Fēngshuǐ De Lǐjiě Hé Yìyì Fēnxī Yánjiū)

BENTUK, FUNGSI, DAN MAKNA FENG SHUI BAGI KEHIDUPAN MASYARAKAT TIONGHOA KOTA MEDAN 印尼棉兰华裔对风水的理解和意义分析研究 (Yìnní Mián Lán Huáyì Duì Fēngshuǐ De Lǐjiě Hé Yìyì Fēnxī Yánjiū)

3. Sebagian kecil dari masyarakat Tionghoa yang menjadi objek penelitian belum memaknai tentang Feng Shui, namun tetap menerapkan Feng Shui. Hal ini dikarenakan Feng Shui hanya dianggap sebagai suatu kebudayaan turun temurun dan dipercaya bisa mendatangkan keberuntungan.

3 Baca lebih lajut

BAB I Pendahuluan - Masyarakat Tionghoa Benteng di Tangerang (1978 – 1998)

BAB I Pendahuluan - Masyarakat Tionghoa Benteng di Tangerang (1978 – 1998)

keturunan ini banyak berdatangan pada kira-kira abad ke-16 sampai abad ke-19. Setelah perpindahan ini maka mulai terjadi percampuran budaya Tionghoa dengan Betawi atau Sunda di daerah tersebut. Percampuran perkawinan antara pemuda Tionghoa dengan wanita pribumi inilah maka muncul masyarakat Tionghoa Benteng. Kata “Benteng” sendiri diambil pada masa setelah pemberontakan masyarakat Tionghoa terhadap penguasa VOC di Batavia pada tahun 1740 (peristiwa kali Angke), yang dimana sebagian besar masyarakat Tionghoa yang ada di Tangerang tinggal di sekitar benteng Belanda di luar kota Batavia, dan mereka selalu disebut dengan istilah Tionghoa Benteng.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

BAHASA DAN IDENTITAS KULTURAL (Studi Kasus Kalangan Warga Masyarakat Tionghoa Yang Tergabung Dalam Paguyuban Perkumpulan Masyarakat Surakarta).

BAHASA DAN IDENTITAS KULTURAL (Studi Kasus Kalangan Warga Masyarakat Tionghoa Yang Tergabung Dalam Paguyuban Perkumpulan Masyarakat Surakarta).

1. Tesis saya yang berjudul : ”Bahasa dan Identitas Kultural (Studi Kasus Kalangan Warga Masyarakat Tionghoa Yang Tergabung Dalam Paguyuban Perkumpulan Masyarakat Surakarta)” ini adalah karya penelitian saya sendiri dan tidak terdapat karya ilmiah yang pernah diajukan oleh orang lain untuk memperoleh gelar akademik serta tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang tertulis dengan acuan yang disebutkan sumbernya, baik dalam naskah karangan dan daftar pustaka. Apabila ternyata di dalam naskah tesis ini dapat dibuktikan terdapat unsur-unsur plagiasi, maka saya bersedia menerima sangsi, baik Tesis beserta gelar magister saya dibatalkan serta diproses sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

EKSISTENSI MASYARAKAT TIONGHOA TERHADAP

EKSISTENSI MASYARAKAT TIONGHOA TERHADAP

Tionghoa pada saat itu antara lain : Khoe woen Sioe, Tan po Goan, Auwyong Peng Koen, Tan Siang Lian, Siauw Giok Tjhan dan mereka ini cukup aktif dalam Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia (BAPERKI). Namun disayangkan kehadiran mereka dalam kancah politik tidak serta merta disambut baik, bahkan ada kecurigaan dan ada pembatasan dalam aktivitas mereka dalam dunia politik. Merasa sebagai orang yang tertinggal akhirnya masyarakat Tionghoa banyak berkumpul dan mendirikan perkumpulan. Sebab kesadaran akan eksistensi mereka sudah mulai tumbuh. Beberapa oraganisasi perkumpulan mereka adalah, Tiong Hoa Hwee Koan, , Chung Hwa Hwee, Siang Hwee dan mulai aktif dari berbagai bidang termasuk bidang sosial yang selama ini jauh dari mereka. Realita ini oleh George Ritzer dinyatakan sebagai adanya keinginan untuk mengembalikan keadaan yang didambakan. Keadaan yang tertib dan damai.Keadaan bahwa mereka memiliki hak da kewajiban yang sama sebagai bagian dari bangsa ini. Keadaan yang sebenarnya selama ini ingin mereka lakukan, mereka juga tidak ingin dikotak kotakkan tetapi penguasa tidak memberi kesempatan tersebut.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Makna Warna Bagi Masyarakat Tionghoa.

Makna Warna Bagi Masyarakat Tionghoa.

Kemudian perayaan imlek juga dimeriahkan dengan Mercon, kembang api serta lampion berwarna merah yang digantung dirumah-rumah atau vihara dan klenteng sebagai hiasan yang melambangkan keberuntungan. Menurut legenda pada zaman dahulu setiap akhir tahun muncul sejenis binatang buas yang bernama Nian yang memangsa apa saja yang dijumpainya. Binatang ini muncul tepat pada saat menjelang tahun baru Imlek. Kemudian, lama-kelamaan Nian memiliki arti yaitu Tahun dan di dalam penanggalan Imlek dilambangkan dengan 12 jenis binatang yang dikenal dengan shio-shio Naga, Ular, Kuda, Kambing, Monyet, Ayam, Anjing, Babi, Tikus, Kerbau, Macan dan Kelinci. Untuk menjaga diri dari serangan Nian Show, menjelang tahun baru, semua pintu dan jendela di pemukiman penduduk ditutup rapat hingga hari maut itu berlalu. Masing-masing keluarga berkumpul di rumah. Setelah beberapa tahun ternyata Nian tersebut tidak lagi muncul pada tahun baru Imlek, hal ini membuat kecemasan masyarakat pun hilang dan tahun baru dirayakan dengan leluasa dan sampai akhirnya pada suatu tahun makhluk ini kembali muncul dan membuat kekacauan. Beberapa rumah penduduk ternyata terhindar dari serangan, konon hal ini dikarenakan Nian Show takut pada benda-benda yang berwarna merah, juga pada mercon. Sejak itu setiap akhir tahun masyarakat Tionghoa menggantung kain, lampion dan kertas merah di rumah-rumah dengan dilengkapi puisi-puisi indah dalam tulisan, serta memasang mercon dan kembang api untuk mengusir makhluk Nian Show yang berupa hawa jahat.
Baca lebih lanjut

70 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN - Barongsai Pada Kebudayaan Masyarakat Tionghoa Benteng Di Klenteng Boen Hay Bio Kota Tangerang: Kajian Terhadap Pertunjukan Dan Makna Gerak

BAB I PENDAHULUAN - Barongsai Pada Kebudayaan Masyarakat Tionghoa Benteng Di Klenteng Boen Hay Bio Kota Tangerang: Kajian Terhadap Pertunjukan Dan Makna Gerak

Seperti halnya wilayah Tangerang yang lain, Kota Tangerang Selatan juga memiliki tempat yang menyimpan sejarah serta budaya masyarakat Tionghoa. Tempat yang dimaksud adalah Klenteng Boen Hay Bio yang terletak di Jalan Pasar Lama Serpong, Desa Cilenggang, Tangerang.

7 Baca lebih lajut

PERKAWINAN GAMYA GAMANA ANTARA MASYARAKAT TIONG HOA DENGAN MASYARAKAT BATUR DI SESA BATUR KECAMATAN KINTAMANI KABUPATEN BANGLI (Kajian Aksiologi)

PERKAWINAN GAMYA GAMANA ANTARA MASYARAKAT TIONG HOA DENGAN MASYARAKAT BATUR DI SESA BATUR KECAMATAN KINTAMANI KABUPATEN BANGLI (Kajian Aksiologi)

Masyarakat Batur dengan masyarakat TiongHoadilarang menikah karena sistem keyakinan yang mereka miliki dari leluhur yang turun temurun hingga kini masih dipercayai oleh masyarakat Batur. Desa Batur merupakan Desa Kuno yang ada di Bali, memiliki keunikan, sejarah dan mitos dibalik setiap upacara yang dilaksanakan. Larangan yang dimaksud adalah pernikahan GamyaGamanayang hanya berlaku di Desa Batur antara masyarakat Batur dengan masyarakat TiongHoa. Perkawinan ini dilihat dari sistemnya sudah berbeda bahkan telah melenceng dari UU No.1 tahun 1974 tentang Perkawinan, dan tidak tercantum dibeberapa pustaka-pustaka Agama Hindu. Masyarakat di Desa Batur mempercayai bahwa pernikahan GamyaGamanayang dilakukan oleh masyarakat Batur dengan masyarakat TiongHoadiyakini akan membawa malapetaka seperti kehidupan yang tidak sejahtera, mengalami sakit, pertengkaran yang tidak jelas, tidak harmonis dalam keluarga dan juga mengakibatkan kematian bagi pasangan yang melangsungkan perkawinan GamyaGamana.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Pandangan Tiga Orang Tionghoa Generasi Tua Samarinda Terhadap Makna Bunga Mei dan Tanaman Jeruk Pada Perayaan Imlek | Haryanto | Century 4106 7834 1 SM

Pandangan Tiga Orang Tionghoa Generasi Tua Samarinda Terhadap Makna Bunga Mei dan Tanaman Jeruk Pada Perayaan Imlek | Haryanto | Century 4106 7834 1 SM

Di kota Samarinda, hampir seluruh keluarga keturunan Tionghoa melaksanakan tradisi memasang bunga mei dan tanaman jeruk pada perayaan Imlek. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana pemaknaan bunga mei dan tanaman jeruk bagi generasi tua masyarakat Tionghoa Samarinda dan alasan mereka masih melakukan tradisi ini setiap tahunnya. Skripsi ini menggunakan pendekatan kualitatif dan mewawancarai tiga orang narasumber yang berusia 65 tahun atau lebih yang paham akan makna bunga mei dan tanaman jeruk pada saat perayaan Imlek. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ketiga narasumber memiliki pemahaman yang umum terhadap makna bunga mei dan tanaman jeruk. Generasi tua masih melaksanakan tradisi ini dan sangat berharap pada generasi muda untuk terus melestarikan tradisi yang ada, karena tradisi merupakan salah satu tolok ukur identitas bagi etnis Tionghoa sendiri.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...