materi kesetimbangan kimia

Top PDF materi kesetimbangan kimia:

Keterampilan berpikir kritis siswa pada materi kesetimbangan kimia melalui pembelajaran berbasis masalah

Keterampilan berpikir kritis siswa pada materi kesetimbangan kimia melalui pembelajaran berbasis masalah

Hal yang menarik juga kenapa siswa pada kelompok rendah bisa mendapat nilai lebih tinggi dari siswa pada kelompok tinggi dengan presentase 41,68%. Dari jawaban siswa dapat dilihat bahwa ada beberapa siswa pada kelompok rendah dapat menyebutkan apa yang terjadi jika suhu dan tekanan diturunkan dengan memberikan dua hal yang berbeda namun, siswa pada kelompok rendah tidak menjelaskan dengan baik kenapa kesetimbangan dapat bergeser kearah yang berbeda. Menurut Ennis, dalam membuat dan mempertimbangkan suatu nilai keputusan berdasarkan fakta harus dilakukan dengan teliti, karena kita harus bisa membedakan mana suatu fakta atau bukan fakta. Oleh karena itu ada beberpa hal yang dapat dipertimbangkan siswa pada kelompok tinggi, kelompok sedang, dan kelompok rendah dalam membuat dan mempertimbangkan nilai keputusan, yaitu: klaim yang factual, fakta yang belum jelas dan konsekuensi. 12
Baca lebih lanjut

172 Baca lebih lajut

PROFIL MODEL MENTAL SISWA PADA MATERI KESETIMBANGAN KIMIA DENGAN MENGGUNAKAN TDM-TWO-TIER.

PROFIL MODEL MENTAL SISWA PADA MATERI KESETIMBANGAN KIMIA DENGAN MENGGUNAKAN TDM-TWO-TIER.

Model mental merepresentasikan pikiran tiap individu yang digunakan untuk menggambarkan dan menjelaskan suatu fenomena ketika belajar sains (Harrison & Treagust dalam Jansoon, dkk. 2009, hlm. 147 ). Model mental siswa dibangun berdasarkan pengalaman, interpretasi dan penjelasan ketika belajar kimia. Model mental biasanya berkembang sesuai dengan kebutuhannya dalam membuat prediksi dan menyelesaikan permasalahan dalam belajar kimia (Halim, dkk. 2013, hlm. 2). Chittleborough (2004, hlm. 75) juga mengatakan bahwa model mental bersifat esensial untuk membuat prediksi dan menyelesaikan permasalahan dalam kimia. Sehingga ketika siswa memiliki model mental yang utuh, siswa akan mampu membuat penjelasan yang baik mengenai permasalahan dalam kimia, sebaliknya jika siswa memiliki model mental yang salah ataupun tidak utuh, maka siswa akan kesulitan dalam menyelesaikan permasalahan kimia atau bahkan memiliki miskonsepsi. Oleh karena itu sangatlah penting dalam membangun model mental siswa yang utuh.
Baca lebih lanjut

77 Baca lebih lajut

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR INOVATIF BERBASIS MULTIMEDIA PADA MATERI KESETIMBANGAN KIMIA.

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR INOVATIF BERBASIS MULTIMEDIA PADA MATERI KESETIMBANGAN KIMIA.

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan menginovasi bahan ajar berbasis multimedia pada materi kesetimbangan kimia. Jenis penelitian adalah penelitian pengembangan Research and Development (R&D) yang menggunakan pengembangan produk Borg dan Gall yang telah dimodifikasi sesuai kebutuhan. Populasi penelitian adalah seluruh mahasiswa pendidikan kimia yang telah mempelajari kimia umum dan Dosen kimia di Universitas Negeri Medan. Sampel penelitian diambil secara purpossive sampling. Tahap awal penelitian dilakukan dengan pengajuan beberapa usulan materi ajar kimia umum dari silabus atau garis – garis besar pembelajaran perkuliahan (GBPP) beberapa Universitas pada materi kesetimbangan kimia untuk dikembangkan, tahap kedua menganalisis beberapa buku kimia umum dan menginovasi bahan ajar kimia dengan mengintegrasikan media ajar interaktif dengan menggunakan teknologi komputer berupa e – book, dan pada tahap akhir dilakukan standarisasi bahan ajar dengan membagikan angket standar penilaian dari BNSP kepada Mahasiswa dan Dosen untuk mengetahui apakah bahan ajar sudah valid atau tidak valid. Berdasarkan penilaian, diperoleh hasil standarisasi kelayakan isi sebesar 3,54, standarisasi kelayakan bahasa sebesar 3,60 dan standarisasi kelayakan penyajian sebesar 3,37. Hasil nilai rata-rata yang diperoleh untuk masing – masing analisis standar kelayakan yang diajukan berada pada kisaran 3,26 – 4,00 yang berarti Dosen dan mahasiswa jurusan kimia di Universitas Negeri Medan setuju dengan bahan ajar kimia inovatif berbasis multimedia pada materi kesetimbangan kimia yang diajukan dan tidak perlu direvisi kembali. Dengan melihat hasil penilaian standarisasi bahan ajar inovatif berbasis multimedia pada materi kesetimbangan kimia yang berbentuk buku elektronik (e-book) ini layak digunakan sebagai media pembelajaran yang dapat digunakan baik dosen maupun mahasiswa yang mengajar dan mempelajari kimia dasar universitas.
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

ANALISIS DAN PENGEMBANGAN PENUNTUN PRAKTIKUM KIMIA SMA KELAS XI PADA MATERI KESETIMBANGAN KIMIA.

ANALISIS DAN PENGEMBANGAN PENUNTUN PRAKTIKUM KIMIA SMA KELAS XI PADA MATERI KESETIMBANGAN KIMIA.

Tujuan umum penelitian ini adalah untuk memperoleh penuntun praktikum yang standar untuk siswa kelas XI SMA/MA semester I pada materi kesetimbangan kimia. Populasi dalam penelitian ini adalah penuntun praktikum kimia SMA yang beredar disekolah, seluruh guru kimia di MAN Pematangsiantar, seluruh dosen kimia di Universitas Negeri Medan dan seluruh siswa kelas XI di MAN Pematangsiantar. Sampel penelitian diambil secara purposive sampling. Penelitian ini bersifat deskriptif dan pengembangan eksperimen (development and research). Langkah penelitian meliputi : a) Analisis penuntun praktikum yang dipergunakan dikelas XI semester I; b) Pengembangan penuntun praktikum untuk materi kesetimbangan kimia; c) Validasi penuntun praktikum oleh dosen, guru dan siswa; d) Uji coba penggunaan penuntun praktikum dalam pembelajaran untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penuntun praktikum yang telah dikembangkan untuk siswa kelas XI SMA semester I pada materi kesetimbangan kimia telah layak/standar sesuai dengan BSNP. Penuntun praktikum untuk materi kesetimbangan kimia terdiri dari percobaan pengaruh konsentrasi pada reaksi kesetimbangan, pengaruh suhu pada reaksi kesetimbangan, dan pengaruh tekanan/volume pada reaksi kesetimbangan. Standarisasi penuntun praktikum yang dilakukan oleh dosen dan guru memberikan respon yang positif terhadap penuntun praktikum yang telah dikembangkan yang terdiri dari 3 komponen yaitu kelayakan isi, kelayakan bahasa, dan kelayakan penyajian dengan nilai rata-rata dari dosen sebesar 3,40 adalah valid dan tidak perlu direvisi dan nilai rata-rata guru sebesar 3,62 adalah valid dan tidak perlu direvisi. Uji coba dilakukan pada percobaan pengaruh suhu pada reaksi kesetimbangan. Hasil uji coba menunjukkan bahwa implementasi penuntun praktikum yang telah dikembangkan memberikan hasil pemahaman siswa MAN Pematangsiantar sangat tinggi pada percobaan kesetimbangan kimia dengan nilai pretest sebesar 42,83 sedangkan untuk postest sebesar 85,66. Itu menunjukkan bahwa penuntun praktikum yang telah dikembangkan baik dan layak digunakan untuk pembelajaran kimia di SMA/MA.
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN LEARNING CYCLE 3E PADA MATERI KESETIMBANGAN KIMIA DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENGKOMUNIKASIKAN DAN INFERENSI

EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN LEARNING CYCLE 3E PADA MATERI KESETIMBANGAN KIMIA DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENGKOMUNIKASIKAN DAN INFERENSI

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari tahu tentang gejala alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengeta- huan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Ilmu kimia merupakan bagian dari IPA, yang berkembang berdasarkan pada fenomena alam. Ada tiga hal yang berkaitan dengan kimia, yaitu kimia sebagai produk (pengetahuan yang berupa fakta, kon- sep, prinsip, hukum, dan teori), kimia sebagai proses, dan kimia sebagai sikap. Oleh sebab itu pembelajaran kimia harus memperhatikan karakteristik kimia sebagai produk, proses,dan sikap (BSNP, 2006).
Baca lebih lanjut

43 Baca lebih lajut

S KIM 1205870 Abstract

S KIM 1205870 Abstract

Buku teks merupakan bahan ajar yang berpengaruh terhadap kualitas pembelajaran. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kelayakan buku teks pelajaran Kimia SMA/MA Kelas XI yang paling banyak digunakan di Kota Bandung pada materi kesetimbangan kimia berdasarkan kriteria tahap seleksi dari 4S TMD. Jenis penelitian adalah penelitian evaluatif dengan metode analis konten. Terdapat tiga kriteria dari tahap seleksi pada 4S TMD, yaitu kesesuaian dengan kurikulum, kebenaran konsep, dan penanaman nilai. Kriteria pertama, kesesuaian dengan tuntutan kurikulum dapat ditinjau dari keluasan dan kedalaman materi. Berdasarkan keluasan materi, ditemukan 2 konsep yang dinyatakan kurang luas dan 13 konsep yang dinyatakan terlalu luas. Berdasarkan kedalaman materi, dari 19 konsep tuntutan kurikulum ditemukan 9 konsep dinyatakan kurang dalam dan 3 konsep terlalu dalam. Sehingga kesesuaian materi dengan tuntutan kurikulum belum sepenuhnya sesuai. Kriteria kedua, analisis kebenaran konsep menunjukkan dari 19 konsep tuntutan kurikulum, seluruh konsep dinyatakan benar secara keilmuan. Ketiga, penanaman nilai-nilai, dalam buku teks tersebut terdapat 5 nilai, yaitu rasa ingin tahu, kerja keras, cinta tanah air, menghargai prestasi, dan gemar membaca.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

DESKRIPSI KESALAHAN KONSEP SISWA PADA MATERI KESETIMBANGAN KIMIA DI SMAN 1 TELUK KERAMAT

DESKRIPSI KESALAHAN KONSEP SISWA PADA MATERI KESETIMBANGAN KIMIA DI SMAN 1 TELUK KERAMAT

menjawab kesetimbangan akan bergeser ke kiri jika tekanan diperbesar dikarenakan jumlah koefisien reaksi produk lebih kecil daripada jumlah koefisien reaktan. Pada poin b siswa menjawab kesetimbangan bergeser ke arah kanan jika volume ruangan diperbesar seperti yang terlihat pada Gambar 5. Berdasarkan jawaban tersebut siswa dikatakan belum memahami prinsip kesetimbangan dengan benar karena terdapat kekeliruan dari hasil jawaban yang diberikan. Saat menghitung jumlah koefisien reaksi, zat dengan wujud padat diikutsertakan dalam perhitungan. Penelitian yang dilakukan Mutiah menunjukkan bahwa sebagian mahasiswa mengalami kesulitan dalam memahami prinsip Le Chatelier, yaitu melibatkan konsentrasi zat fasa padat. Berdasarkan hasil wawancara, banyak siswa yang tidak tahu bahwa zat dengan wujud padat tidak mempengaruhi arah kesetimbangan, sehingga meskipun tekanan atau volume diperbesar maka hanya zat dengan wujud gas yang dihitung koefisiennya. Siswa yang keliru dikarenakan mengikutsertakan wujud zat padat pada perhitungan, sehingga siswa dengan jawaban
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

PEMBELAJARAN BERDASARKAN MASALAH PADA MATA KULIAH KIMIA DASAR I MAHASISWA SI PRODI PENDIDIKAN KIMIA FKIP UNRI ipi32293

PEMBELAJARAN BERDASARKAN MASALAH PADA MATA KULIAH KIMIA DASAR I MAHASISWA SI PRODI PENDIDIKAN KIMIA FKIP UNRI ipi32293

Hasil belajar mahasiswa pada Siklus I diperoleh nilai tertinggi 83 dan nilai terendah 30. Penyebaran dan frekwensi data hasil belajar dari materi Struktur Atom dan Sistem Periodik dapat dilihat pada Table1. Dari hasil analisis data, individu yang tuntas 52 %, hal ini berarti ketuntasan belajar mahasiswa pada Siklus I ini belum tuntas seperti dicantum pada Tabel 4.2. Berdasarkan observasi pada pembelajaran Siklus I dengan materi Struktur Atom dan Sistem Periodik adalah; Pertama ; strategi pembelajaran yang dilaksanakan secara klasikal dengan model pembelajaran berdasarkan masalah. Kedua , mahasiswa tidak semuanya mempunyai bahan bacaan kimia dan tidak ada lembaran kerja. Ketiga , pembagian waktu pembelajaran , yaitu persiapan pembelajaran 5 menit, penjelasan materi secara umum oleh dosen 15 menit, diskusi belajar secara klasikal selama 70 menit dan penjelasan dosen merangkum materi 10 menit.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Bab 4 Kesetimbangan Kimia

Bab 4 Kesetimbangan Kimia

Misalkan kita mempunyai bejana bentuk huruf U yang berisi air, seperti pada gambar 4.4. Oleh karena permukaan air di ruas kiri sama tingginya dengan permukaan air di ruas kanan, kita boleh mengatakan bahwa air dalam bejana itu berada dalam keadaan kesetimbangan. Apabila kita “meng- ganggu” kesetimbangan itu dengan melakukan aksi tertentu, misalnya menambahkan air dari luar kepada salah satu ruas, sudah tentu akan terjadi pergeseran jumlah air, supaya keadaannya tetap setimbang. Jika ke ruas kiri kita tambahkan air, maka ruas kiri akan memberikan sebagian airnya ke ruas kanan. Tetapi jika air di ruas kiri sebagian kita kurangi (diambil ke luar), maka ruas kiri akan mengambil sebagian air dari ruas kanan.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

KESETIMBANGAN KIMIA SOAL DAN PEMBAHASAN

KESETIMBANGAN KIMIA SOAL DAN PEMBAHASAN

Pada suhu tetap, penambahan serbuk besi tidak mempengaruhi kesetimbangan. Hal ini karena serbuk besi merupakan padatan. Penambahan katalis pun tidak mempengaruhi kesetimbangan karena katalis hanya membantu mempercepat tercapainya kesetimbangan, tidak mengubah komposisi kesetimbangan. Sementara itu, adanya pembesaran tekanan juga tidak mempengaruhi kesetimbangan karena jumlah koefisien di kedua ruas (ruas kiri dan kanan) adalah sama. Lain halnya jika pada volum tetap dilakukan penaikan suhu. Karena reaksi endoterm, maka kesetimbangan akan bergeser ke arah endoterm (ke kanan). Namun jika suhu diturunkan, maka kesetimbangan akan bergeser ke arah yang lainnya (ke kiri).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

kesetimbangan kimia Kelas11 kimia2

kesetimbangan kimia Kelas11 kimia2

Konstanta kesetimbangan berdasarkan tekanan dinyatakan dengan simbol K p , yaitu hasil kali tekanan parsial gas-gas hasil reaksi dibagi dengan hasil kali tekanan parsial gas-gas pereaksi, setelah masing-masing gas dipangkatkan dengan koefisiennya menurut persamaan reaksi. Jadi, konstanta kesetimbangan pada reaksi: m A(g) + n B(g) p C(g) + q D(g) yaitu:

Baca lebih lajut

A. PENDAHULUAN - KESETIMBANGAN KIMIA

A. PENDAHULUAN - KESETIMBANGAN KIMIA

Tahapan yang utama adalah tahapan kedua yang mengandung reaksi kesetimbangan. Reaksi kesetimbangan pada pembuatan asam sulfat menurut proses kontak yang optimum setelah diteliti adalah dilakukan dalam suhu sekitar 500°C, tekanan normal (1 atm), dan dengan katalis V 2 O 5 .

Baca lebih lajut

EFEKTIVITAS MODEL SIKLUS BELAJAR PDEODE PADA MATERI POKOK KESETIMBANGAN KIMIA DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN PREDIKSI DAN KETERAMPILAN KOMUNIKASI SISWA

EFEKTIVITAS MODEL SIKLUS BELAJAR PDEODE PADA MATERI POKOK KESETIMBANGAN KIMIA DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN PREDIKSI DAN KETERAMPILAN KOMUNIKASI SISWA

Pembelajaran kimia harus memperhatikan karakteristik kimia sebagai proses, pro- duk, dan sikap. Untuk memahami hakikat ilmu kimia secara utuh, siswa harus memiliki keterampilan proses sains (KPS). Melatihkan KPS kepada siswa dapat membekali siswa dengan suatu keterampilan berpikir dan bertindak melalui sains untuk menyelesaikan masalah serta menjelaskan fenomena-fenomena yang ada dalam kehidupannya sehari-hari. Oleh sebab itu diperlukan model pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan KPS sehing- ga pembelajaran menjadi lebih bermakna. Salah satu model pembelajaran yang dapat melatih dan mengembangkan KPS siswa adalah model siklus belajar Predict – Discuss – Explain – Observe – Discuss - Explain (PDEODE).
Baca lebih lanjut

53 Baca lebih lajut

Kesetimbangan Kimia Dalam Industri (1)

Kesetimbangan Kimia Dalam Industri (1)

latar belakang penyusunan makalah ini adalah untuk mengetahui apakah yang dimaksud dengan kesetimbangan kimia, apa saja faktor-faktor yang mempengaruhinya, Tetapan kesetimbangan, perhitungan tetapan kesetimbangan, dan bagaimana penerapan kesetimbangan kimia dalam industri.

6 Baca lebih lajut

PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN ANIMASI SUBMIKROSKOPIK BERBASIS FLASH PADA MATERI KESETIMBANGAN KIMIA

PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN ANIMASI SUBMIKROSKOPIK BERBASIS FLASH PADA MATERI KESETIMBANGAN KIMIA

Salah satu cara yang dapat membantu siswa memahami konsep abstrak materi kesetimbangan kimia pada level submikroskopik adalah melalui media pembelajaran. Andyana (2013) mengatakan untuk meningkatkan pemahamaman siswa pada aspek submikroskopik dan simbolik dapat melalui media animasi. Animasi dalam media pembelajaran dapat merepresentasikan materi kesetimbangan kimia pada level submikrokopik. Secara umum, suatu tampilan menarik, grafis statis maupun dinamis, yang disebabkan oleh perubahan tiap frame (frame by frame), perubahan posisi bergerak (motion tween) maupun perubahan bentuk diikuti pergerakan (motion shape) disebut animasi (Riadi,2013).
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

A. Pengertian Kesetimbangan - MATERI KESETIMBANGAN KIMIA

A. Pengertian Kesetimbangan - MATERI KESETIMBANGAN KIMIA

Dalam sistem kesetimbangan dinamis, reaksi yang menuju hasil reaksi dan reaksi yang menuju pereaksi berlangsung secara bersamaan dengan laju yang sama sehingga konsentrasi masing-masing zat dalam sistem kesetimbangan tidak berubah (tetap). Jika kita dapat melihat sistem kesetimbangan dinamis secara molekuler, akan tampak partikel-partikel dalam sistem kesetimbangan tidak tetap sebagai pereaksi atau hasil reaksi, melainkan bereaksi terus dalam dua arah secara dinamis. Pereaksi akan berubah menjadi hasil reaksi diimbangi oleh hasil reaksi berubah menjadi pereaksi. Jadi, kesetimbangan kimia disebut kesetimbangan dinamis karena secara mikroskopis zat-zat tersebut berubah setiap saat, tetapi secara makroskopis tidak ada perubahan yang dapat diamati atau diukur, tidak ada perubahan wujud maupun perubahan konsentrasi masing-masing zat.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

EFEKTIVITAS MODEL SIKLUS BELAJAR PDEODE PADA MATERI POKOK KESETIMBANGAN KIMIA DALAM MENINGKATKAN PENGUASAAN KONSEP SISWA

EFEKTIVITAS MODEL SIKLUS BELAJAR PDEODE PADA MATERI POKOK KESETIMBANGAN KIMIA DALAM MENINGKATKAN PENGUASAAN KONSEP SISWA

mengajarnya, yakni dengan menekankan pembelajaran pada penguasaan sejumlah konsep, hukum-hukum dan teori-teori saja, seperti halnya pada materi pokok kesetimbangan kimia yang lebih dikondisikan untuk dihafal oleh siswa tanpa memperhatikan bahwa informasi/konsep pada siswa dapat saja kurang bermanfaat bahkan tidak bermanfaat sama sekali kalau hal tersebut hanya dikomunikasikan oleh guru kepada siswa melalui satu arah seperti menuang air ke dalam sebuah gelas (Trianto, 2010).

Baca lebih lajut

STUDI KOMPARASI PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF METODE TEAM ASSISTED INDIVIDUALIZATION (TAI) DAN NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) DILENGKAPI LEMBAR KERJA SISWA (LKS) TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA PADA MATERI POKOK KESETIMBANGAN KIMIA KELAS XI SMA

STUDI KOMPARASI PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF METODE TEAM ASSISTED INDIVIDUALIZATION (TAI) DAN NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) DILENGKAPI LEMBAR KERJA SISWA (LKS) TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA PADA MATERI POKOK KESETIMBANGAN KIMIA KELAS XI SMA

Metode TAI merupakan metode pembelajaran secara kelompok dengan seorang siswa yang lebih mampu berperan sebagai asisten yang bertugas membantu secara individual siswa lain yang kurang mampu dalam kelompok itu. Dalam hal ini, peran pendidik hanya sebagai fasilitator dan mediator dalam proses belajar mengajar. Pendidik cukup mengusahakan kondisi lingkungan belajar yang kondusif bagi peserta didiknya. Metode TAI akan memotivasi siswa untuk saling membantu anggota kelompoknya sehingga tercipta semangat dalam sistem kompetensi dengan lebih mengutamakan peran individu tanpa mengorbankan aspek kooperatif. Menurut penelitian pada materi Stoikiometri menjelaskan bahwa penggunaan metode pembelajaran TAI lebih baik dari pada penggunaan metode STAD [4]. Materi Stoikiometri memiliki karakteristik yang hampir sama dengan materi Kesetimbangan Kimia dalam hal perlunya pemahaman konsep yang mendalam dan soal-soal hitungannya sehingga diharapkan dengan menggunakan metode pembelajaran Team Assisted Individualization (TAI), prestasi belajar siswa pada materi pokok
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

BAB IV KESETIMBANGAN KIMIA - Modul Kesetimbangan Kimia

BAB IV KESETIMBANGAN KIMIA - Modul Kesetimbangan Kimia

Sebagian besar proses pembuatan zat kimia melibatkan reaksi kesetimbangan. Kondisi reaksi yang diusahakan adalah yang dapat menghasilkan produk yang maksimum, dengan cara menggeser kesetimbangan ke arah produk dan meminimalkan reaksi balik. Berikut akan dibahas bagaimana prinsip kesetimbangan yang diterapkan pada pembuatan amonia dan asam sulfat.

Baca lebih lajut

S KIM 1105121 Chapter3

S KIM 1105121 Chapter3

Dalam mengembangkan instrumen penilaian kinerja dilakukan pengujian validitas oleh para ahli menggunakan lembar validasi pengembangan instrumen penilaian kinerja pada praktikum pengaruh konsentrasi terhadap pergeseran arah kesetimbangan. Selanjutnya untuk menguji instrumen penilaian yang dikembangkan dan untuk menguji keefektifan jumlah siswa dalam satu kelompok untuk melakukan praktikum pengaruh konsentrasi terhadap pergeseran arah kesetimbangan maka dilakukan uji coba I (uji coba terbatas). Uji coba II (uji aplikasi) dilakukan setelah uji coba terbatas. Pada uji coba II ini, instrumen penilaian yang dikembangkan sudah dapat diterapkan dilapangan. Untuk penilaian kinerja siswa selama praktikum dibuat format penilaian berupa lembar observasi. Data hasil penilaian kinerja siswa kemudian diolah sehingga di dapatkan nilai reliabilitas dan gambaran tentang keterampilan siswa terhadap instrumen yang dikembangkan.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...