Maxillary Alveolar Ridge

Top PDF Maxillary Alveolar Ridge:

Perbedaan Ketinggian Maxillary Alveolar Ridge Pada Wanita Edentulus Dan Bergigi Menggunakan Radiografi Panoramik

Perbedaan Ketinggian Maxillary Alveolar Ridge Pada Wanita Edentulus Dan Bergigi Menggunakan Radiografi Panoramik

Hasil penelitian ini menunjukkan perbedaan ketinggian maxillary alveolar ridge antar regio, regio anterior pada titik insisif memiliki nilai ketinggian paling besar dan titik molar memiliki nilai ketinggian paling kecil. Hal ini sesuai dengan penelitian Reich et al (2011) di France, yang mendapatkan hasil bahwa regio anterior memiliki nilai ketinggian paling besar dan regio posterior memiliki nilai ketinggian paling kecil. 5 Penelitian Zhang et al (2015) di USA, mendapatkan hasil bahwa pada bagian anterior maksila, resorpsi alveolar ridge pada insisivus lateralis adalah paling kecil. Pada wanita edentulus, resorpsi paling kecil terjadi pada bagian gigi anterior. 10 Hal ini dapat disebabkan beberapa faktor. Pertama, ketinggian alveolar ridge pada keadaan normal yang paling rendah terletak pada regio posterior yaitu molar, kemudian diikuti premolar dan paling tinggi di anterior sesuai dengan kurva spee. Kedua, pada regio anterior mandibula terdapat perlekatan otot genial, sehingga gaya yang diberikan daerah tersebut pada saat oklusi menstimulasi adaptasi metabolisme alveolar ridge di maksila sehingga memiliki ketinggian yang lebih besar.
Baca lebih lanjut

66 Baca lebih lajut

Perbedaan Ketinggian Maxillary Alveolar Ridge Pada Wanita Edentulus Dan Bergigi Menggunakan Radiografi Panoramik

Perbedaan Ketinggian Maxillary Alveolar Ridge Pada Wanita Edentulus Dan Bergigi Menggunakan Radiografi Panoramik

Salah satu struktur yang terlihat pada radiografi panoramik adalah alveolar ridge. Saat terjadi kehilangan gigi, struktur ini mengalami penurunan ketinggian. Pasien dengan rahang tidak bergigi atau kehilangan seluruh geligi pada rahang menyebabkan terjadinya penurunan struktur ini. Ketinggian maxillary alveolar ridge pada pasien edentulus dapat diperkirakan dengan menghitung ketinggian alveolar ridge melalui radiografi panoramik. Ketinggian maxillary alveolar ridge dapat dinyatakan sebagai jarak antara garis infraorbita dan alveolar crest pada maksila baik pada pasien edentulus maupun bergigi. 6
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Perbedaan Ketinggian Maxillary Alveolar Ridge Pada Wanita Edentulus Dan Bergigi Menggunakan Radiografi Panoramik Chapter III VI

Perbedaan Ketinggian Maxillary Alveolar Ridge Pada Wanita Edentulus Dan Bergigi Menggunakan Radiografi Panoramik Chapter III VI

Pada tabel 6, menggunakan hasil uji Levene, diketahui nilai Sig. sebesar 0,25 (>0,05). Hasil pada baris equal variances assumed menggunakan Sig. (2-tailed) didapatkan nilai sebesar 0,07 (>0,05). Maka secara statistik terdapat perbedaan namun tidak signifikan (perbedaan tipis secara statistik) antara ketinggian maxillary alveolar ridge gigi molar kanan wanita bergigi dengan wanita edentulus.

19 Baca lebih lajut

Perbedaan Ketinggian Maxillary Alveolar Ridge Pada Wanita Edentulus Dan Bergigi Menggunakan Radiografi Panoramik

Perbedaan Ketinggian Maxillary Alveolar Ridge Pada Wanita Edentulus Dan Bergigi Menggunakan Radiografi Panoramik

Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata sampel kelompok bergigi lebih besar dibandingkan kelompok edentulus. Kelompok wanita bergigi didapatkan nilai rata-rata paling besar pada titik insisif sebesar 37,57mm ± 3,34mm dan paling kecil pada titik molar kanan sebesar 33,87mm ± 2,81mm. Kelompok wanita edentulus didapatkan nilai rata-rata paling besar pada titik insisif sebesar 35,30mm ± 2,79mm dan paling kecil pada titik molar kanan sebesar 31,84mm ± 3,85mm. Kesimpulan penelitian adalah terdapat perbedaan ketinggian maxillary alveolar ridge secara signifikan pada wanita edentulus dan bergigi kecuali gigi molar kanan. Rata-rata ketinggian maxillary alveolar ridge pada wanita edentulus adalah 33,35mm ± 3,43mm dan pada wanita bergigi adalah 35,66mm ± 3,21mm.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Perbedaan Ketinggian Maxillary Alveolar Ridge Pada Wanita Edentulus Dan Bergigi Menggunakan Radiografi Panoramik

Perbedaan Ketinggian Maxillary Alveolar Ridge Pada Wanita Edentulus Dan Bergigi Menggunakan Radiografi Panoramik

Penelitian Canger et al (2010) di Turki dengan menggunakan radiografi panoramik¸ mendapatkan hasil bahwa pada pasien edentulus resorpsi alveolar ridge pada maksila lebih kecil daripada mandibula. Resorpsi lebih besar terjadi pada rahang tidak bergigi dibandingkan dengan rahang bergigi. 7

1 Baca lebih lajut

Perbedaan Ketinggian Maxillary Alveolar Ridge Pada Wanita Edentulus Dan Bergigi Menggunakan Radiografi Panoramik

Perbedaan Ketinggian Maxillary Alveolar Ridge Pada Wanita Edentulus Dan Bergigi Menggunakan Radiografi Panoramik

Telepon/ HP : Setelah mendapat penjelasan mengenai penelitian dan paham akan apa yang akan dilakukan, diperiksa, didapatkan penelitian yang berjudul: “PERBEDAAN KETINGGIAN MAXILLARY AL[r]

15 Baca lebih lajut

Perbedaan Ketinggian Maxillary Alveolar Ridge Pada Wanita Edentulus Dan Bergigi Menggunakan Radiografi Panoramik

Perbedaan Ketinggian Maxillary Alveolar Ridge Pada Wanita Edentulus Dan Bergigi Menggunakan Radiografi Panoramik

Bone height measurement of maxillary and mandibular bones in panoramic radiographs of edentulous patients.. Atrophy of the residual alveolar ridge following tooth loss in a historical p[r]

3 Baca lebih lajut

Perbedaan Ketinggian Maxillary Alveolar Ridge Pada Wanita Edentulus Dan Bergigi Menggunakan Radiografi Panoramik

Perbedaan Ketinggian Maxillary Alveolar Ridge Pada Wanita Edentulus Dan Bergigi Menggunakan Radiografi Panoramik

Penelitian Zhang et al (2015) di USA dengan menggunakan radiografi cone beam computerized tomography (CBCT), mendapatkan hasil bahwa pada bagian anterior maksila, resorpsi alveolar ridge pada insisivus lateralis adalah paling kecil. Resorpsi di bagian anterior gigi lebih kecil terjadi pada wanita edentulus dibandingkan dengan pria edentulus.

3 Baca lebih lajut

isprsarchives XL 1 W3 315 2013

isprsarchives XL 1 W3 315 2013

2.2.1 Ridge Line Extraction and Refinement: In this method, extracted ridge lines are the basis for the 3D model. Therefore the location of the ridge line in buildings with tilted roofs should be extracted carefully. The quality of the final model depends strongly on the extracted ridge lines. In order to extract the ridge line, three feature descriptors such as surface normal, local maxima and canny edges are extracted from DSM and orthoimages which were refined in several ways in previous steps. The surface normal is a perpendicular vector to the surface which represents the orientation of a pixel and its neighborhood in the surface. The surface normal is estimated based on a bicubic fit of data, and then a cross product is performed to get the normal (Jain and Dubes, 20xx). This feature is used to eliminate edges such as eaves which exhibit sharp height jumps at the edges of buildings. The other feature is local maxima which are extracted from the DSM by using image reconstruction based on geodesic dilation (Arefi and Hahn, 2005). In this method, two images are considered as mask and marker. The mask image is predefined, here it is considered as the DSM. The marker image is built by a height offset to the mask image. In iterative steps, the marker image is dilated and compared with the mask image. Then the distances of the pixels considered between mask and marker image are calculated and pixel with lower heights are replaced. This means that the marker image is limited to the mask image. In the final step, stability is reached and local maxima are obtained. The third feature for ridge line extraction is canny edges from modified ortho-panchromatic image. These three features are used to extract the ridge points. Next, Random Sample Consensus (RANSAC) algorithm (Fischler and Bolles, 1981) is employed to extract the final ridge lines from the ridge points. Figure 4 illustrates the steps of ridge line extraction.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

IDENTIFIKASI SIDIK JARI DENGAN MENGGUNAKAN STRUKTUR MINUTIA

IDENTIFIKASI SIDIK JARI DENGAN MENGGUNAKAN STRUKTUR MINUTIA

Minutia memiliki berbagai macam bentuk, namun yang digunakan dalam metode Minutiae Based Matching adalah bentuk Ridge Ending dan Bifurcation, fitur yang harus digali dari 2 bentuk minutia diatas adalah posisi koordinat relatif dan sudut kemiringan minutia. Maka, masalah yang timbul dalam pemanfaatan Minutiae Based Matching adalah:

11 Baca lebih lajut

Morfometrik Akar Gigi Posterior Dengan Dinding Sinus Maksilaris Ditinjau Dari Radiografi Panoramik Pada Mahasiswa Suku India FKG USU Padausia 20 Hingga 25 Tahun

Morfometrik Akar Gigi Posterior Dengan Dinding Sinus Maksilaris Ditinjau Dari Radiografi Panoramik Pada Mahasiswa Suku India FKG USU Padausia 20 Hingga 25 Tahun

1. Didilescu A, Rusu M, Săndulescu M, Georgescu C, Ciuluvică R.Morphometric analysis of the relationships between the maxillary first molar and maxillary sinus floor. Open Journal of Stomatology 2012;2:352-7 2. Vyas S, Sabnis R, Satish M, Pandit M. Prediction of possible maxillary sinus membrane perforation during dental extraction using panoramic radiography. Indian Journal Of Dental Reserch And Review APR-SEPT 2011;2-3.

2 Baca lebih lajut

Peningkatan Kualitas Citra Sidik Jari Menggunakan FFT (Fast Fourier Transform)

Peningkatan Kualitas Citra Sidik Jari Menggunakan FFT (Fast Fourier Transform)

Teknologi biometrik memiliki beberapa kelebihan seperti tidak mudah hilang, tidak bisa dipalsukan, dan tidak mudah rusak. Sistem pengenalan sidik jari bertujuan untuk mengidentifikasi sidik jari seseorang sehingga dapat dikenali ciri unik dari orang tersebut. Hasil dari ekstraksi ciri sidik jari sangat bergantung pada kualitas dari citra sidik jari itu sendiri, dan kualitas citra sidik jari berhubungan dengan kejelasan ridge structure pada citra sidik jari. Citra yang baik akan memiliki kontras yang baik dan akan dengan baik menggambarkan ridges dan valleys, ada beberapa alasan yang menyebabkan citra sidik jari tidak baik, diantaranya yaitu adanya lipatan atau luka membuat ridges tidak kontinyu (putus). Jenis sidik jari dengan kondisi lingkungan didefinisikan diantaranya: sidik jari berminyak yang memiliki piksel ridges cenderung sangat tebal, sidik jari kering yang memiliki ridges yang kasar pada tingkat lokal dan terdapat piksel putih/ valley yang banyak, serta sidik jari netral atau disebut juga sidik jari normal yang cecara umum tidak memiliki sifat khusus seperti berminyak dan kering. untuk mendapatkan citra yang baik pada citra kering, ridges yang ditingkatkan dengan mengekstraksi garis tengahnya dan menghapus piksel putih/ valley. Salah satu metode yang digunakan untuk meningkatkan kualitas citra adalah image enhancement yakni proses peningkatan kualitas pada citra. Penelitian ini menggunakan metode FFT karena FFT merupakan salah satu algoritma yang dapat menghitung secara cepat, karena sistem yang diproses secara real time. Dengan metode FFT citra sidik jari dengan ridges yang terputus dianalisa dan dihitung probabilitasnya dari ridge frequency dan ridge orientation, setelah ditingkatkan kualitasnya dengan menggunakan FFT mendapatkan peningkatan piksel ridge dari 97.44 % sampai dengan 97.52 %, dengan Tingkat keberhasilan verifikasi citra sidik jari didapat bahwa 54,29% diterima (Matching) pada k=0,6
Baca lebih lanjut

123 Baca lebih lajut

Bab 5 Bentangalam Endogen (Kontruksional) 2012 47 Copyright@2012 By Djauhari Noor 5 5 Bentangalam Endogenik 5.1. Pendahuluan

Bab 5 Bentangalam Endogen (Kontruksional) 2012 47 Copyright@2012 By Djauhari Noor 5 5 Bentangalam Endogenik 5.1. Pendahuluan

Morfologi “Pressure Ridge” (Bentangalam Punggung Tertekan) adalah bentangalam yang berbentuk bukit dan terjadi karena gaya yang bekerja pada suatu sesar mendatar dan akibat tekanan tersebut mengakibatkan batuan yang berada disepanjang patahan terpatahkan menjadi beberapa bagian yang kemudian menekan batuan tersebut kearah atas.

20 Baca lebih lajut

Mispronunciation of English final alveolar alveolar and velar alveolar consonant clusters by the Students of SMA Santa Maria Yogyakarta

Mispronunciation of English final alveolar alveolar and velar alveolar consonant clusters by the Students of SMA Santa Maria Yogyakarta

There are two major objectives of the study to achieve in conducting this study. First, this study is to find out what kind of mispronunciations of English final alveolar-alveolar and velar-alveolar consonant clusters made by the students of SMA Santa Maria Yogyakarta whose first language is Indonesian. This will be the proof of the theory that is used in this study related to the different rules about sound system between English and Indonesian.

94 Baca lebih lajut

ANALISIS SEKATAN DAN KARAKTERISTIK SESAR PADA FORMASI KUJUNG REEF DI KOMPLEKS LAPANGAN KE, CEKUNGAN JAWA TIMUR: IMPLIKASI TERHADAP MIGRASI HIDROKARBON

ANALISIS SEKATAN DAN KARAKTERISTIK SESAR PADA FORMASI KUJUNG REEF DI KOMPLEKS LAPANGAN KE, CEKUNGAN JAWA TIMUR: IMPLIKASI TERHADAP MIGRASI HIDROKARBON

 Sesar E-11 berarah utara - selatan dengan kemiringan sesar 40-50 o ke arah timur dengan panjang sesar 19.4 km berupa sesar normal yang berada di bagian tenggara dari JS-1 ridge dengan lingkungan pengendapan pada pinggir slope sehingga perkembangan terumbu semakin habis yang terlihat pada lapangan S-A. Tetapi, pada bagian sisi barat sesar ini masih berkembang reef, hal ini dibuktikan oleh sumur di lapangan S-B (Gambar 15). Sesar ini merupakan sesar besar dengan pergerakan dari 100-2000 ft, sehingga juxtaposition antar reservoir hanya terdapat pada sedikit area yang telah di
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Mispronunciation of English final alveolar-alveolar and velar-alveolar consonant clusters by the Students of SMA Santa Maria Yogyakarta.

Mispronunciation of English final alveolar-alveolar and velar-alveolar consonant clusters by the Students of SMA Santa Maria Yogyakarta.

There are two major objectives of the study to achieve in conducting this study. First, this study is to find out what kind of mispronunciations of English final alveolar-alveolar and velar-alveolar consonant clusters made by the students of SMA Santa Maria Yogyakarta whose first language is Indonesian. This will be the proof of the theory that is used in this study related to the different rules about sound system between English and Indonesian.

97 Baca lebih lajut

Linggir Alveolar Yang Resorpsi Pada Pembuatan Jembatan.

Linggir Alveolar Yang Resorpsi Pada Pembuatan Jembatan.

pendukung perlu diperhatikan.. Pada keadaan lingir yang belum terjadi resorpsi pembuatan jembatan tidak merupakan masalah, tetapi jika telah terjadi resorpsi perlu penanganan khusus.. Pembuatan gigi tiruan untuk menggantikan gigi asli yang hilang dapat dibuat secara lepasan, cekat, tergantung kondisi yang ada. Tulang alveolar merupakan bagian tulang cranio-maxillofacial yang memberikan dukungan pada gigi, lingir alveolar yang merupakan salah satu pendukung gigi tiruan sering kali merupakan faktor pertimbangan dalam menentukan rencana perawatan. 3 . Resorpsi tulang alveolar terjadi setelah pencabutan gigi
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Penentuan Jenis Kelamin Berdasarkan Kerapatan Alur Sidik Jari

Penentuan Jenis Kelamin Berdasarkan Kerapatan Alur Sidik Jari

14. Omidiora, E.O., et al. 2012. Analysis, Design, And Implementasi Of Human Fingerprint Patterns System “Towards Age & Gender Determination, Ridge Thickness To Valley Thickness Ratio (RTVTR) & Ridge Count On Gender Detection. Nigeria: (IJARAI) International Journal of Advanced Research in Artificial Intelligence. Available from:

5 Baca lebih lajut

Directory UMM :Journals:Journal_of_mathematics:SMA:

Directory UMM :Journals:Journal_of_mathematics:SMA:

Abstract . Statistical literature has several methods for coping with multicollinearity. This paper introduces a new shrinkage estimator, called modified unbiased ridge (MUR). This estimator is obtained from unbiased ridge regression (URR) in the same way that ordinary ridge regression (ORR) is obtained from ordinary least squares (OLS). Properties of MUR are derived. Results on its matrix mean squared error (MMSE) are obtained. MUR is compared with ORR and URR in terms of MMSE. These results are illustrated with an example based on data generated by Hoerl and Kennard [8].

2 Baca lebih lajut

Show all 311 documents...