Mechanical Milling

Top PDF Mechanical Milling:

Pengaruh Penambahan Al2O3 Terhadap Sifat Listrik Dan Termal Material Zn(1-X)AlxO Dengan Metode Mechanical Milling Sebagai Kandidat Material Termoelektrik - ITS Repository

Pengaruh Penambahan Al2O3 Terhadap Sifat Listrik Dan Termal Material Zn(1-X)AlxO Dengan Metode Mechanical Milling Sebagai Kandidat Material Termoelektrik - ITS Repository

(c/a) 1.601732 1.601798 1.601801 1.601808 Berdasarkan Tabel 4.1 terdapat peningkatan nilai A Full Width a Half Maximum (FWHM), hal ini diindikasikan karena pengaruh peningkatan konsentrasi doping, yang menyebabkan intensitas dari puncak menurun beriringan dengan meningkatnya nilai FWHM sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh A.N Malika et al (2014). Melebarnya FWHM juga di indikasikan karena adanya pengaruh akibat mechanical milling sesuai yang dilaporkan oleh L.C Domonte et al (2004) dan Long Phan et al (2012), pengaruh dari deformasi mekanis akibat mechanical milling mengakibatkan ukuran grain size yang mengecil dan mengalami pengaruh tegangan internal yang menyebabkan melebarnya FWHM. Selain itu, menurut Tamil Many, et al (2015) FWHM sendiri juga mempengaruhi derajat kristanilitas suatu sistem kristal, ketika FWHM melebar derajat kristanilitas menurun.
Baca lebih lanjut

179 Baca lebih lajut

Analisis Pengaruh Penambahan Nikel (Ni) terhadap Pembentukan Mg2 Ni Hasil Mechanical Milling dan Pengaruh terhadap Hidrogenasi

Analisis Pengaruh Penambahan Nikel (Ni) terhadap Pembentukan Mg2 Ni Hasil Mechanical Milling dan Pengaruh terhadap Hidrogenasi

Serbuk hasil mechanical milling diuji sebanyak 0,5 gram untuk pengujian difraksi sinar. Gambar 1 menunjukan pola difraksi sinar-x paduan 35, 33, 31 dan 29 at% hasil mechanical milling. Belum ada perubahan fasa yang terjadi selama proses reactive ball milling. Pengamatan terhadap perilaku puncak Mg(OH) 2 dimana Mg(OH) 2 menghambat

5 Baca lebih lajut

Analisa Penambahan Aluminium (Al) terhadap Sifat Hidrogenasi Paduan Mg 2-x Alx Ni Hasil Sintesa Mechanical Milling dan Heat Treatment

Analisa Penambahan Aluminium (Al) terhadap Sifat Hidrogenasi Paduan Mg 2-x Alx Ni Hasil Sintesa Mechanical Milling dan Heat Treatment

treatment, dilakukan pengamatan morfologi seperti pada Gambar 12. Serbuk dengan penambahan aluminium pada Gambar 12 memperlihatkan partikel nikel terlihat menggumpal disekitar partikel serta di permukaan magnesium. Jika dibandingkan dengan serbuk hasil mechanical miling, serbuk setelah heat treatment memiliki permukaan yang lebih halus. Hal ini dikarenkan semakin kuatnya partikel-partikel nikel dan aluminium menempel pada permukaan serbuk magnesium serta panas yang diberikan menghilangkan tegangan sisa dari hasil mechanical milling.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Substitusi Ion Fe dan Co pada Barium Hexaferrite dengan Metode Mechanical Milling | Fauzi | Jurnal Materi dan Pembelajaran Fisika 7777 16293 1 SM

Substitusi Ion Fe dan Co pada Barium Hexaferrite dengan Metode Mechanical Milling | Fauzi | Jurnal Materi dan Pembelajaran Fisika 7777 16293 1 SM

Telah dilakukan penelitian dengan mensubsitusi ion Fe dan Co pada barium hexaferrite tipe M . Diharapkan sintesis tersebut membentuk fasa tipe W barium hexaferrite ( dan ), Proses sintesis ini dilakukan dengan mechanical milling. Hasil sintesis disintering dengan temperature selama 4 jam. Hasil sintesis dikarakterisasi dengan XRD untuk mengamati struktur kristalnya dan permagraph untuk mengamati sifat magnetiknya. Hasil XRD bahwa terjadi perubahan parameter kisi, dengan adanya atom Co menunjukan parameter kisi naik. hasil dari permagraph bahwa terjadi perubahan sifat magnetik yang cukup signifikan dengan hadirnya unsur Co dalam struktur. Karena terjadi perubahan koersivitas dari 75,15 kA/m menjadi 3,90 kA/m. hal ini menunjukkan bahwa terlah terjadi perubahan konstanta anisotropi dan struktur kristalnya.
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

Modification of Pseudobrookite Fe2 XMnxTiO5 with Solid State Reaction Method using a Mechanical Milling

Modification of Pseudobrookite Fe2 XMnxTiO5 with Solid State Reaction Method using a Mechanical Milling

materials by solid-state reaction using a wet milling process. The addition of nickel (Mn) atoms is expected able to replace most of the position of the iron (Fe) atoms so that the interaction between the magnetic spin Fe 3+ ions with Mn 3+ occur it and can affect the magnetic properties of this material. Thus, the aim of this study is to synthesize and characterize pseudobrookite Fe 2-x Mn x TiO 5 material

13 Baca lebih lajut

Pengaruh Waktu Dry Mechanical Milling dan Heat Treatment Terhadap Mikrostruktur, Densitas dan Sifat Magnet dari NdFeB

Pengaruh Waktu Dry Mechanical Milling dan Heat Treatment Terhadap Mikrostruktur, Densitas dan Sifat Magnet dari NdFeB

Bahan yang digunakan adalah serpihan NdFeB. Waktu milling yang menjadi parameter penelitian divariasikan selama 8 jam, 16 jam, 24 jam dan 48 jam. Kemudian serbuk NdFeB diukur diameter partikel serbuk dengan PSA, analisis struktur kristal dengan XRD, pengamatan mikrostruktur dengan SEM-EDX dan kurva histeresis dengan VSM. Untuk pengujian densitas, sifat magnetik (fluks density) dan kurva B-H dengan Permagraph dilakukan pada sampel berbentuk pelet. Sampel dalam bentuk serpihan yang telah dimilling dengan berbagai variasi waktu milling, dicetak dengan gaya 7 tonf selama 2 menit, dan dengan ditambahkan bahan perekat celuna sebanyak 3 wt%, hingga membentuk pelet dengan diameter ±1,6 cm. Selanjutnya sampel pelet di heat treatment selama 1 jam pada suhu 110 ᵒ C , 150 ᵒ C dan 170 ᵒ C. Sampel pelet kemudian dicoating dengan sirlak. Kemudian, sampel pelet diukur densitasnya dengan menggunakan jangka sorong. Sampel pelet yang telah dilakukan heat treatment, dimagnetisasi dengan impulse magnetizer pada tegangan 1500V DC. Sampel pelet yang telah dimagnetisasi diukur fluks density menggunakan Gaussmeter. Dari nilai densitas fluks magnet sampel, diperoleh sampel terbaik yaitu sampel hasil milling selama 48 jam pada suhu heat treatment 170 ᵒ C dan diperoleh fluks magnet sebesar 485,8 Gauss. Densitas tertinggi sebesar 5,740 gr/cm 3 dan koersivitas pelet NdFeB yaitu 1,171 kOe dan BH maks sebesar 0,62 MGOe.
Baca lebih lanjut

102 Baca lebih lajut

Development Of Hydroxyapatite/Chitosan Composite Powder Via Mechanical Milling Method.

Development Of Hydroxyapatite/Chitosan Composite Powder Via Mechanical Milling Method.

Bone consists of 69 wt. % calcium phosphate (mainly hydroxyapatite (HA)), 21% collagen, 9%water and 1% other constituents. It has a composite nature which is composed of mainly ceramic and polymeric components with a complex hierarchical microstructure difficult to imitate which gives most of the superior mechanical properties to bone. Extensive research has been conducted on bone substitute composite materials composed of mainly hydroxyapatite and a polymer (chitosan).

24 Baca lebih lajut

Pengaruh Waktu Dry Mechanical Milling dan Heat Treatment Terhadap Mikrostruktur, Densitas dan Sifat Magnet dari NdFeB

Pengaruh Waktu Dry Mechanical Milling dan Heat Treatment Terhadap Mikrostruktur, Densitas dan Sifat Magnet dari NdFeB

Hasil dry milling 48 jam Diketahui : Massa : 7,88 gr Perhitungan yang sama dapat dilakukan untuk Heat Treatment pada temperatur 150ᵒC dan temperatur 170ᵒC pada setiap variasi waktu dr[r]

5 Baca lebih lajut

EFFECT OF RATTAN BARK NANOFIBER MICROSTRUCTURE WITH HIGH ENERGY MILLING METHOD TO QUALITY MECHANICAL BIOCOMPOSITES

EFFECT OF RATTAN BARK NANOFIBER MICROSTRUCTURE WITH HIGH ENERGY MILLING METHOD TO QUALITY MECHANICAL BIOCOMPOSITES

HEM using three-dimensional motion and rotation in the vial so that the mechanism of nanoparticle formation process amorfisasi and more quickly and effectively. HEM can be used for mixing, homogenizing, mechanical milling, mechanical alloying, and make the emulsion. The advantage is manufacturing nanoparticles without the addition of chemicals, smoothing material to the nanometer scale, to mixing (mixing) and uniformity (homogenization), making alloys making mechanical-chemical reactions. 4

8 Baca lebih lajut

this PDF file SYNTHESIS AND  OF TiO2Fe2O3 COMPOSITE USING HEMATITE FROM IRON SAND FOR  REMOVAL OF DYE | Lubis | Jurnal Natural 1 PB

this PDF file SYNTHESIS AND OF TiO2Fe2O3 COMPOSITE USING HEMATITE FROM IRON SAND FOR REMOVAL OF DYE | Lubis | Jurnal Natural 1 PB

spherical form and slightly agglomerated probably due to the formation of high heat energy during the mechanical milling process. Energy dispersive X-ray spectroscopy (EDX) was used to determine the Fe to Ti mass ratio. The result exhibited that Fe and Ti was 53.72% and 33.51% (weight %) and thus the mass ratio of Fe to Ti was about 3:2.

6 Baca lebih lajut

Optimization Of Machining Parameters In High Speed Milling Of Aluminum 6061.

Optimization Of Machining Parameters In High Speed Milling Of Aluminum 6061.

A machining centers is an advanced, computer controlled machine tools that is capable of performing a variety of machining operations on different surfaces and different orientations of a workpiece without having to remove it from its workholding device or fixture. The workpiece is generally stationary, and the cutting tools rotate as they do in milling, drilling, honing, tapping, and similar operations. Whereas in transfer lines or in typical shops and factories the workpiece is brought to the machine, note that in machining centers, it is the machining operation that is brought to the workpiece. CNC machine allow more operation to be done on a part in one setup instead of moving from machine to machine for various operations. These machines greatly increase productivity because the time formerly used to move a part from machine to machine is eliminated. [1]
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

METODE PEMADUAN MEKANIK DAN PERLAKUAN PANAS SEBAGAI MATERIAL SUPERKONDUKTOR SKRIPSI

METODE PEMADUAN MEKANIK DAN PERLAKUAN PANAS SEBAGAI MATERIAL SUPERKONDUKTOR SKRIPSI

Analisa kuantitatif hasil uji XRD terhadap FeSe berupa komposisi fase. Komposisi fase β-FeSe, δ-FeSe dan Fe yang diperoleh dari hasil perhitungan ditunjukkan pada Tabel 4.9. Komposisi fase β-FeSe yang terbentuk hanya sebesar 55,37% sedangkan sisanya merupakan fase δ-FeSe sebesar 38,48% dan Fe sebesar 6,15%. Hal ini menunjukkan bahwa fase pengotor pada sampel hampir setengah dari total komposisi fase yang terbentuk. Komposisi fase δ-FeSe yang besar disebabkan karena Se belum seluruhnya berdifusi ke dalam Fe selama proses milling sehingga masih terdapat kelebihan Se. Kelebihan Se ini menyebabkan terjadinya pembentukan fase δ-FeSe ketika proses sintering. Sedangkan fase Fe termetalisasi diakibatkan oleh unsur Fe yang belum berikatan dengan Se. Komposisi fase β-FeSe, δ-FeSe dan Fe dalam FeSe ditunjukkan pada Tabel 4.9.
Baca lebih lanjut

155 Baca lebih lajut

Comparison between up-milling and down-milling operations on tool wear in milling Inconel 718.

Comparison between up-milling and down-milling operations on tool wear in milling Inconel 718.

From Fig. 1(c), the effect of cutting speed is clearly shown that the flank wear is increased with increase of cutting speed. The experiment was done with a constant DOC; 0.5 mm and feed rate; 0.1 mm/tooth. The result also concluded that as the cutting speed is increased, abrasive and adherence of workpiece on the flank face can be clearly seen as illustrated in Fig. 2(b). In general, this phenomenon is mainly due to the generation of high contact pressure and temperature between workpiece and tool, where most of the wear mechanism of carbide tool is abrasive and adhesive wear [14]. In term of chip morphology, up-milling operation tends to generate a segmented chip with a typical saw-tooth shape as shown in Fig. 2(c). This phenomenon showed that the local rate of heat build- up in the material is large enough that thermal softening overwhelms the effect of strain hardening. The segmented chip will result an increase in tool wear and degradation of workpiece surface finish [15].
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

CNC Tools   Nikken (1)

CNC Tools Nikken (1)

around the cutting tool shank. This provides maximum gripping power as well as concentric positioning of the cutting tool. Collets are available for all Ultra-Lock Milling Chucks in inch and metric sizes including coolant thru styles. Cutting tool shank tolerance is H7.

14 Baca lebih lajut

e Learning, e Education, and Online Training pdf  pdf

e Learning, e Education, and Online Training pdf pdf

The famous educator Whitehead said: “The reason for the existence of university is that university enables the integration of young and old, and makes imaginative exploration to scholarship, which can build bridges between knowledge and pursuit of life’s pas- sion, and impart knowledge in an imaginative way. This kind of imaginative explo- ration can produce exciting ambiance, and knowledge is full of vitality, which inspires our dreams like a poet, set goals like a designer, it is no longer the burden of memory. Of course, the imagination is unable to be divorced with reality, if the young full of imagination are able to be strengthen by exercise, the vitality full of imagination is likely to remain for long time, and the task of university is to combine the imagination with experience.” American educator Hutchins pointed out: “What is education, edu- cation is to help students to learn to think independently, to make independent judg- ments, and to work as a responsible citizen.” Freud believed that the purpose of education is to make young people healthy, capable, adapted to their environment, and successful from the concept of the society. However the present education is just the opposite, in the teaching of mechanical manufacturing technology course, more attention is payed to imparting knowledge, which leads to out of touch between theory and practice, and limits the ability of independent learning and imagination. In recent years, the industry come to realize that professional engineering college graduates are difficult to meet the requirements of industrial production in reality because of being seriously out of the practice, the university engineering education must actively adjust the training model to meet the requirements of industrial production fields [4]. Therefore, a signi fi cant characteristic of CDIO engineering education model is prone to focusing on manufacture practice based on continuing to strengthen the learning of basic theory.
Baca lebih lanjut

387 Baca lebih lajut

PENGARUH PARAMETER PEMOTONGAN PADA PROSE (1)

PENGARUH PARAMETER PEMOTONGAN PADA PROSE (1)

Beberapa penelitian telah dilakukan yang berkaitan dengan hubungan parameter pemotongan terhadap proses pemesinan sebagaimana yang dinyatakan oleh Ramos dan kawan-kawan (2003) pada penelitian tentang analisa kekasaran permukaan yang dihasilkan dengan tiga macam strategi pemesinan milling yang berbeda yaitu tipe radial, raster dan 3D offset untuk komponen yang mengandung geometri kompleks seperti bentuk cembung dan cekung disimpulkan bahwa ketiga strategi pemesinan menghasilkan kekasaran permukaan yang berbeda dan type 3D offset adalah yang paling cocok untuk pemesinan komponen yang mengandung geometri kompleks.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Efek Waktu Milling Menggunakan Hem (High Energy Milling) Pada Pembuatan Magnet Bonded Pr-Fe-B

Efek Waktu Milling Menggunakan Hem (High Energy Milling) Pada Pembuatan Magnet Bonded Pr-Fe-B

Powder Praseodymium Iron Boron (PrFeB) Bonded magnetheve been made with the effect of milling time on the microstructure and magnetic properties of powder PrFeB. The raw material used is powder Pr-Fe-B with type-MQEP 16-7 that uses high- energy milling with a variation of milling time and milling different conditions .Variation milling times are 0.5 minute, 1 minute, 5 minute,research results obtained average diameter of the smallest powder dry milling treatment of 10 minutes is 14,63µm, the highest density values also 10 minute powder dry milling is 7.84 g / cm ³, and of the highest bulk density testing can dry milling of treatment at 10 min milling time is 5.810 g / cm ³ and most powerful magnetic fields as high as 2136.5 G.
Baca lebih lanjut

78 Baca lebih lajut

PENERAPAN METODE RETAD UNTUK MENGURANGI WAKTU SET UP PADA MESIN MILLING P1 DAN P2 DEPARTEMEN MACHINING DI PT. KUBOTA INDONESIA - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

PENERAPAN METODE RETAD UNTUK MENGURANGI WAKTU SET UP PADA MESIN MILLING P1 DAN P2 DEPARTEMEN MACHINING DI PT. KUBOTA INDONESIA - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

PT. Kubota Indonesia adalah perusahaan yang memproduksi berbagai jenis model mesin diesel. Dalam proses produksinya PT. Kubota Indonesia menggunakan berbagai macam jenis mesin produksi, salah satu diantaranya adala mesin Milling Vertikal P1 dan P2 pada Departemen Machining di Cylinder Head Line. Dalam melakukan proses milling pada part di mesin Milling Vertikal P1 dan P2 operator masih melakukan elemen kerja yang tidak produktif yang menyebabkan waktu setup semakin lama, yaitu untuk elemen kerja membersihkan jig dari geram operator masih harus mencari penyemprot atau kuas yang digunakan untuk membersihkan jig. Untuk mengurangi waktu setup diperlukan suatu cara untuk membantu operator dalam melaksanakan proses milling sehingga dapat meminimalkan waktu setup serta dapat menghilangkan elemen kerja yang tidak produktif tersebut. Metode RETAD (Rapid Exchange of Tooling and Dies) merupakan pengembangan dari metode SMED (Single Minuite Exchang of Dies) yang bertujuan mengurangi waktu setup, menghapus scrap dan rework. Dengan penerapan metode RETAD ini diharapkan mampu mengurangi waktu setup dengan menghilangkan gerakan atau elemen kerja yang tidak produktif. Dari hasil pengolahan data dan analisis untuk proses milling pada mesin Milling Vertikal P1, waktu elemen kerja membersihkan jig dari geram dapat dikurangi dari 5.53 detik sebelum perbaikan menjadi 1.54 detik setelah perbaikan dan untuk mesin Milling Vertikal P2, waktu elemen kerja membersihkan jig dari geram dapat dikurangi dari 5.15 detik manjadi 1.54 detik. Hasil ini diperoleh setelah perbaikan dengan perancangan alat bantu yang berfungsi untuk membersihkan jig dari geram sisa proses milling. Dari hasil di atas maka dapat disimpulkan bahwa terjadi perbaikan waktu setup pada proses milling pada mesin Milling Vertikal P1 dan P2 di Cylinder Head Line, perbandingan waktu standar proses milling dari 258.505 detik sebelum perbaikan menjadi 254.518 detik setelah perbaikan pada mesin Milling Vertikal P1 dan 256.002 detik sebelum perbaikan menjadi 252.392 detik setelah perbaikan pada mesin Milling Vertikal P2. Untuk penelitian ini hasil tersebut merupakan hasil maksimal yang dapat dicapai, namun dapat dikembangkan lebih lanjut pada mesin-mesin produksi lainnya.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

PENERAPAN METODE RETAD UNTUK MENGURANGI WAKTU SET UP PADA MESIN MILLING P1 DAN P2 DEPARTEMEN MACHINING DI PT. KUBOTA INDONESIA - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

PENERAPAN METODE RETAD UNTUK MENGURANGI WAKTU SET UP PADA MESIN MILLING P1 DAN P2 DEPARTEMEN MACHINING DI PT. KUBOTA INDONESIA - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

PT. Kubota Indonesia adalah perusahaan yang memproduksi berbagai jenis model mesin diesel. Dalam proses produksinya PT. Kubota Indonesia menggunakan berbagai macam jenis mesin produksi, salah satu diantaranya adala mesin Milling Vertikal P1 dan P2 pada Departemen Machining di Cylinder Head Line. Dalam melakukan proses milling pada part di mesin Milling Vertikal P1 dan P2 operator masih melakukan elemen kerja yang tidak produktif yang menyebabkan waktu setup semakin lama, yaitu untuk elemen kerja membersihkan jig dari geram operator masih harus mencari penyemprot atau kuas yang digunakan untuk membersihkan jig. Untuk mengurangi waktu setup diperlukan suatu cara untuk membantu operator dalam melaksanakan proses milling sehingga dapat meminimalkan waktu setup serta dapat menghilangkan elemen kerja yang tidak produktif tersebut. Metode RETAD (Rapid Exchange of Tooling and Dies) merupakan pengembangan dari metode SMED (Single Minuite Exchang of Dies) yang bertujuan mengurangi waktu setup, menghapus scrap dan rework. Dengan penerapan metode RETAD ini diharapkan mampu mengurangi waktu setup dengan menghilangkan gerakan atau elemen kerja yang tidak produktif. Dari hasil pengolahan data dan analisis untuk proses milling pada mesin Milling Vertikal P1, waktu elemen kerja membersihkan jig dari geram dapat dikurangi dari 5.53 detik sebelum perbaikan menjadi 1.54 detik setelah perbaikan dan untuk mesin Milling Vertikal P2, waktu elemen kerja membersihkan jig dari geram dapat dikurangi dari 5.15 detik manjadi 1.54 detik. Hasil ini diperoleh setelah perbaikan dengan perancangan alat bantu yang berfungsi untuk membersihkan jig dari geram sisa proses milling. Dari hasil di atas maka dapat disimpulkan bahwa terjadi perbaikan waktu setup pada proses milling pada mesin Milling Vertikal P1 dan P2 di Cylinder Head Line, perbandingan waktu standar proses milling dari 258.505 detik sebelum perbaikan menjadi 254.518 detik setelah perbaikan pada mesin Milling Vertikal P1 dan 256.002 detik sebelum perbaikan menjadi 252.392 detik setelah perbaikan pada mesin Milling Vertikal P2. Untuk penelitian ini hasil tersebut merupakan hasil maksimal yang dapat dicapai, namun dapat dikembangkan lebih lanjut pada mesin-mesin produksi lainnya.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

PENERAPAN METODE RETAD UNTUK MENGURANGI WAKTU SET UP PADA MESIN MILLING P1 DAN P2 DEPARTEMEN MACHINING DI PT. KUBOTA INDONESIA - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

PENERAPAN METODE RETAD UNTUK MENGURANGI WAKTU SET UP PADA MESIN MILLING P1 DAN P2 DEPARTEMEN MACHINING DI PT. KUBOTA INDONESIA - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

PT. Kubota Indonesia adalah perusahaan yang memproduksi berbagai jenis model mesin diesel. Dalam proses produksinya PT. Kubota Indonesia menggunakan berbagai macam jenis mesin produksi, salah satu diantaranya adala mesin Milling Vertikal P1 dan P2 pada Departemen Machining di Cylinder Head Line. Dalam melakukan proses milling pada part di mesin Milling Vertikal P1 dan P2 operator masih melakukan elemen kerja yang tidak produktif yang menyebabkan waktu setup semakin lama, yaitu untuk elemen kerja membersihkan jig dari geram operator masih harus mencari penyemprot atau kuas yang digunakan untuk membersihkan jig. Untuk mengurangi waktu setup diperlukan suatu cara untuk membantu operator dalam melaksanakan proses milling sehingga dapat meminimalkan waktu setup serta dapat menghilangkan elemen kerja yang tidak produktif tersebut. Metode RETAD (Rapid Exchange of Tooling and Dies) merupakan pengembangan dari metode SMED (Single Minuite Exchang of Dies) yang bertujuan mengurangi waktu setup, menghapus scrap dan rework. Dengan penerapan metode RETAD ini diharapkan mampu mengurangi waktu setup dengan menghilangkan gerakan atau elemen kerja yang tidak produktif. Dari hasil pengolahan data dan analisis untuk proses milling pada mesin Milling Vertikal P1, waktu elemen kerja membersihkan jig dari geram dapat dikurangi dari 5.53 detik sebelum perbaikan menjadi 1.54 detik setelah perbaikan dan untuk mesin Milling Vertikal P2, waktu elemen kerja membersihkan jig dari geram dapat dikurangi dari 5.15 detik manjadi 1.54 detik. Hasil ini diperoleh setelah perbaikan dengan perancangan alat bantu yang berfungsi untuk membersihkan jig dari geram sisa proses milling. Dari hasil di atas maka dapat disimpulkan bahwa terjadi perbaikan waktu setup pada proses milling pada mesin Milling Vertikal P1 dan P2 di Cylinder Head Line, perbandingan waktu standar proses milling dari 258.505 detik sebelum perbaikan menjadi 254.518 detik setelah perbaikan pada mesin Milling Vertikal P1 dan 256.002 detik sebelum perbaikan menjadi 252.392 detik setelah perbaikan pada mesin Milling Vertikal P2. Untuk penelitian ini hasil tersebut merupakan hasil maksimal yang dapat dicapai, namun dapat dikembangkan lebih lanjut pada mesin-mesin produksi lainnya.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Show all 1362 documents...