Menjalin Relasi Pertemanan

Top PDF Menjalin Relasi Pertemanan:

Perilaku Komunikasi Pengguna Media Sosial Tinder Dalam Menjalin Relasi Pertemanan Di Kalangan Mahasiswa UNIKOM (Studi Deskriptif Mengenai Perilaku Komunikasi Pengguna Media Sosial Tinder Dalam Menjalin Relasi Pertemanan Di Kalangan Mahasiswa UNIKOM)

Perilaku Komunikasi Pengguna Media Sosial Tinder Dalam Menjalin Relasi Pertemanan Di Kalangan Mahasiswa UNIKOM (Studi Deskriptif Mengenai Perilaku Komunikasi Pengguna Media Sosial Tinder Dalam Menjalin Relasi Pertemanan Di Kalangan Mahasiswa UNIKOM)

Media sosial Tinder merupakan sarana komunikasi interpersonal yang yang menarik bagi siapapun yang menggunakannya. Selain untuk mencari pasangan media sosial Tinder juga dapat di gunakan untuk memperluas jaringan dan pergaulan serta membina relasi. Tinder terhubung dengan orang- orang di seluruh dunia dengan begitu banyak perbedaan suku, bahasa, ras dan agama. Hal itu pula bisa di manfaatkan oleh pengguna Tinder untuk menjalin pertemanan dan menambah wawasan dengan berhubungan dengan orang-orang tersebut. Media sosial Tinder merupakan media sosial baru yang cukup menarik. Konten dan cara seseorang untuk berkenalan juga berbeda dengan media sosial lainnya. Hal ini merupakan kelebihan tersendiri yang dimiliki oleh media sosial Tinder, cara-cara yang di lakukan seseorang untuk mencari dan menjalin relasi pertemanan dapat di lakukan disini dengan cara yang unik.Sebelum media sosial Tinder muncul, ada berbagai macam media sosial sejenis yaitu di antaranya MiRc, Yahoo Messenger, BeeTalk, Wechat, Kakako talk, MySpace, Friendster, dan juga Facebook. Setelah itu Tinder muncul dengan tampilan yang sederhana dan lebih private. Itulah salah satu keunggulan media sosial Tinder di bandingkan media sosial lainnya. Jika di media sosial lain, kita bisa berinteraksi atau mengirim pesan tanpa harus berteman dahulu dengan orang tersebut, namun dalam media sosial Tinder, kita bisa mengirim pesan jika hanya kita sudah matched dengan orang yang di inginkan untuk di ajak berinteraksi. Jadi media sosial Tinder ini menghindari spam sehingga tidak mengganggu kenyamanan para penggunanya. Keunggulan lain yang dimiliki media sosial Tinder yaitu dari cara pemilihan teman. Kita bisa memilih teman chat yang di inginkan atau pun sesuai dengan kriteria kita.
Baca lebih lanjut

80 Baca lebih lajut

S PPB 1105191 Chapter1

S PPB 1105191 Chapter1

Nurdianah (2010) di tingkat PT menunjukkan bahwa adanya keragaman dalam menjalin relasi pertemanan mahasiswa dengan hasil menunjukkan pada dukungan emosional 77,96%, aspek inisiatif 76,64%, menyangkal pernyataan negatif 76,20%, pengungkapan diri 72,65% dan manajemen konflik 68,61%. Sementara itu penelitian Rachman (2010) menunjukkan bahwa secara umum kemampuan menjalin relasi pertemanan santri pondok pesantren Sahid Bogor Tahun Ajaran 2009/2010 berada pada kategori sedang. Berdasarkan aspek- aspeknya, aspek inisiatif memiliki presentase tinggi, sedangkan menyangkal pernyataan negatif memiliki persentase yang paling rendah, dan adanya perbedaan antara kemampuan menjalin relasi pertemanan santri putra dan santri putri pada aspek inisiatif dan dukungan emosional.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

S PPB 1105191 Bibliography

S PPB 1105191 Bibliography

Haniah, I. (2010). Bimbingan pribadi-sosial untuk meningkatkan kemampuan menjalin relasi pertemanan siswa Sekolah Menengah Atas. Skripsi, Psikologi Pendidikan dan Bimbingan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Pendidikan Indonesia.

4 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA RELASI PERTEMANAN DENGAN GAYA HIDUP HEDONIS PADA EKSEKUTIF MUDA  Hubungan Antara Relasi Pertemanan Dengan Gaya Hidup Hedonis Pada Eksekutif Muda.

HUBUNGAN ANTARA RELASI PERTEMANAN DENGAN GAYA HIDUP HEDONIS PADA EKSEKUTIF MUDA Hubungan Antara Relasi Pertemanan Dengan Gaya Hidup Hedonis Pada Eksekutif Muda.

Pertemanan pada para eksekutif muda memiliki peranan penting terhadap sikap dan perilaku individu itu sendiri karena pertemanan bukanlah sesuatu yang bersifat statis tetapi merupakan proses yang dinamis. Sebagai sebuah proses, maka pertemanan dapat dibentuk dan dikembangkan oleh siapa saja. Faktor yang amat menentukan adalah individu itu sendiri. Beberapa karakteristik pribadi yang tepat dalam menjalin relasi pertemanan adalah keaktifan dan inisiatif untuk bergaul, kebaikan hati, suka menolong, menghargai diri sendiri maupun orang lain, serta suka memberi dukungan sosial. Sebaliknya sifat agresif secara verbal maupun nonverbal, sikap curiga, memusuhi, dan anti sosial justru akan menjauhkan pertemanan. Berkaitan dengan hal ini Hurlock (2007) mengemukakan faktor yang dapat
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

S PPB 1105191 Chapter5

S PPB 1105191 Chapter5

Berdasarkan jenis kelamin menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam menjalin hubungan pertemanan, sementara itu berdasarkan jenis pondok pesantrennya menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kemampuan santri remaja dalam menjalin hubungan pertemanan. Hal tersebut menunjukkan bahwa sistem pembelajaran, aturan yang diterapkan dan asal santri mempengaruhi hubungan sosial santri remaja dalam menjalin hubungan pertemanan.

2 Baca lebih lajut

Ecology of child parenting : adolescents perception toward parenting style, media exposure and adolescents psychosocial development in Bandung

Ecology of child parenting : adolescents perception toward parenting style, media exposure and adolescents psychosocial development in Bandung

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi peubah-peubah yang berpengaruh terhadap gaya pengasuhan orang tua yang dipersepsi oleh remaja, paparan media dan perkembangan psikososial remaja. Secara teoritik peubah- peubah yang dimaksud memberikan kontribusi baik terhadap gaya pengasuhan orang tua, terpaparnya individu terhadap media dan perkembangan psikososial pada remaja. Menurut Bronfenbrenner (Berns 1997), konteks sosial dari interaksi dan pengalaman individu menentukan derajat seorang individu dapat mengembangkan kemampuan dan merealisasikan potensi yang dimilikinya. Merujuk pada Model Bronfenbrenner, terdapat empat struktur dasar yakni relasi dan interaksi membentuk pola yang mempengaruhi perkembangan manusia, yaitu sistem mikro, sistem meso, sistem ekso dan sistem makro.Sistem mikro merujuk pada aktivitas dan hubungan dengan orang-orang yang memiliki arti yang dialami melalui perkembangan individu dalam setting utama seperti keluarga, sekolah, media, peer group atau masyarakat. Sistem meso terdiri dari ikatan dan interrelasi di antara dua orang atau lebih orang-orang yang ada pada sistem mikro, seperti keluarga dan sekolah atau keluarga dan peer group. Sistem ekso merujuk pada setting yakni anak tidak aktif sebagai partisipan akan tetapi mempengaruhi orang- orang pada sistem mikro, seperti pekerjaan orang tua, lembaga pemerintah kota, dan jaringan dukungan sosial orang tua. Sistem makro terdiri dari masyarakat tempat individu berkembang dan sistem budaya yang merujuk pada sistem kepercayaan, gaya hidup dan opini, serta pola pertukaran sosial.
Baca lebih lanjut

496 Baca lebih lajut

BAB IV INTEGRASI DAN DISINTEGRASI ANTAR UMATBERAGAMA DI DESA BANDAR SETIA A. Kehidupan Beragama Masyarakat - PERSPEKTIF MINORITAS KRISTEN DI DAERAH MAYORITAS MUSLIM TERHADAP KERUKUNAN UMAT BERAGAMA (Studi Kasus Desa Bandar Setia, Kecamatan Percut Sei Tuan

BAB IV INTEGRASI DAN DISINTEGRASI ANTAR UMATBERAGAMA DI DESA BANDAR SETIA A. Kehidupan Beragama Masyarakat - PERSPEKTIF MINORITAS KRISTEN DI DAERAH MAYORITAS MUSLIM TERHADAP KERUKUNAN UMAT BERAGAMA (Studi Kasus Desa Bandar Setia, Kecamatan Percut Sei Tuan

Pendeta Justri Hutagalung S.Pd.K selaku pendeta di gereja Pante Kosta Indonesia yang ada di dusun 10 Desa Bandar Setia mengatakan sejauh pengamatan beliau di desa ini antara umat Islam dan Kristen saling membina pertemanan, seperti menghadiri acara syukuran dan perkawinan ketika diundang dan melayat ketika ada yang meninggal walau untuk selalu berinteraksi itu ada, tapi tidak begitu mendalam, karena dikhawatirkan adanya perspektif ataupun curiga ketika kami sebagai minoritas terlalu dekat dengan umat Islam itu sendiri. Namun, untuk hal-hal umum secara keseluruhan hubungan yang ada sangat baik. 17
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

S PPB 1105191 Table of content

S PPB 1105191 Table of content

Kecenderungan Umum Kemampuan Santri Remaja dalam Menjalin Hubungan Perteman an Berdasarkan Jenis Kelamin……………….. . Kecenderungan Kemampuan Santri Remaja di Pondok Pesantren Daarut Tauhiid dan Pondok Pesantren Radhathul Alfhal Lebak Huni

4 Baca lebih lajut

S PPB 1105191 Chapter3

S PPB 1105191 Chapter3

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Pendekatan kuantitatif ini merupakan pendekatan untuk menguji teori, membangun fakta, menunjukkan hubungan dan pengaruh serta perbandingan antar variabel, memberikan deskripsi statistik, menaksir dan meramalkan hasilnya (Siregar, 2011, hlm. 121). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif untuk mengetahui kecenderungan mengenai keterampilan remaja dalam menjalin hubungan pertemanan di Pondok Pesantren Darut Tauhid Bandung dan Pondok Pesantren Radhathul Alfhal Lebak Huni Al-Musri Bandung yang akan lebih baik apabila disertai degan tabel, grafik, gambar, bagan, dan tampilan lain yang mendukung.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Kegiatan internal relations dalam menjalin relasi dengan karyawan di Hotel Inna Garuda Yogyakarta COVER

Kegiatan internal relations dalam menjalin relasi dengan karyawan di Hotel Inna Garuda Yogyakarta COVER

commit to user KATA PENGANTAR Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan YME sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini dengan judul “ KEGIATAN INTERNAL RELATIONS DAL[r]

12 Baca lebih lajut

JARINGAN RELASI PERTEMANAN DALAM KETERLEKATAN RELASIONAL ANTAR PELAKU BISNIS MULTI LEVEL MARKETING (MLM) SOPHIE PARIS DI SUKOHARJO.

JARINGAN RELASI PERTEMANAN DALAM KETERLEKATAN RELASIONAL ANTAR PELAKU BISNIS MULTI LEVEL MARKETING (MLM) SOPHIE PARIS DI SUKOHARJO.

1. Tesis yang berjudul “JARINGAN RELASI PERTEMANAN DALAM KETERLEKATAN RELASIONAL ANTAR PELAKU BISNIS MULTI LEVEL MARKETING (MLM) SOPHIE PARIS DI SUKOHARJO” ini adalah karya penelitian Saya sendiri dan tidak terdapat karya ilmiah yang diajukan oleh orang lain untuk memperoleh gelar akademik serta tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang tertulis dengan acuan yang disebutkan sumbernya, baik dalam naskah karangan atau daftar pustaka. Apabila ternyata ada di dalam naskah tesis ini dapat dibuktikan terdapat unsur- unsur plagiasi, maka Saya bersedia menerima sanksi, baik Tesis beserta gelar Magister Saya dibatalkan serta diproses sesuai dengan peraturan perundang- undangan yang berlaku.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

STRATEGI MEDIA RELATIONS HUMAS PEMERINTAH KABUPATEN GROBOGAN DALAM MELAKSANAKAN PUBLISITAS Strategi Media Relations Humas Pemerintah Kabupaten Grobogan Dalam Melaksanakan Publisitas (Studi Deskriptif Kualitatif Tentang Strategi Media Relations Dalam Melak

STRATEGI MEDIA RELATIONS HUMAS PEMERINTAH KABUPATEN GROBOGAN DALAM MELAKSANAKAN PUBLISITAS Strategi Media Relations Humas Pemerintah Kabupaten Grobogan Dalam Melaksanakan Publisitas (Studi Deskriptif Kualitatif Tentang Strategi Media Relations Dalam Melak

Setiap instansi baik pemerintah, perusahaan, ataupun lembaga lainnya pasti mempunyai humas. Humas mempunyai tugas dan fungsi untuk bertanggung jawab dan mempertahankan citra positif yang telah ada pada suatu instansi atau perusahaan serta mencitrakan lebih baik kembali dimana tempat instansi atau perusahaan itu berada, berperan menyampaikan suatu kebijakan atau semua informasi yang dilaksanakan oleh instansi atau suatu perusahaan. Menurut Vovk(2015) Public Relations merupakan upaya jangka panjang dari organisasi difokuskan pada menciptakan dan memelihara hubungan yang baik dan saling pengertian serta menjalin komunikasi dengan semua pemangku kepentingan, yang dapat memberikan kontribusi signifikan. “ Public Relations bisa dikatakan sebagai fungsi manajemen strategis yang fokus pada membangun, mengembangkan, memelihara dan mengelola suatu hubungan antara masyarakat dan organisasi dengan karakteristik yang berbeda. Meliputi usaha untuk mempunyai hubungan jangka panjang yang positif dan berdasarkan pada prinsip yang saling menguntungkan, kepercayaan, pengertian dan goodwill ” (Boztepe, 2016). Humas pemerintah sendiri mempunyai fungsi untuk meningkatkan citra positif, menjadi wadah untuk saling berinteraksi, meningkatkan reputasi, menjalin hubungan yang baik antar stakeholder , serta membangun kepercayaan kepada instansi dan masyarakat. Humas pemerintah dapat dikatakan sebagai wakil dari pemerintah yang memberikan informasi dari pemerintah kepada masyarakat, humas juga menyampaikan informasi kepada pemerintah dari pendapat-pendapat masyarakat baik kritik ataupun saran. Seperti menurut Gleen Broom dan David Dozier (dalam Karlina, 2014) tugas humas adalah menjembatani bagi organisasi dengan publiknya dalam mencari solusi yang akan mewadahi kepentingan kedua belah pihak. Sebagi fasilitator komunikasi bisa dikatakan tugas humas pemerintah terdiri dari dua macam, yaitu internal (kedalam), dan eksternal (keluar). Dalam hal kedalam berupa hubungan dengan para pegawai. Seorang pemimpin sebuah organisasi khususnya di humas juga harus berkomunikasi dengan bawahannya dan juga melakukan kegiatan seperti mengadakan rapat, menerbitkan majalah intern, memasang pengumuman, mengadakan pertemuan untuk menampung pendapat bagi kepentingan organisasi. Sedangkan dalam hal keluar yang berhadapan langsung dengan rakyat ( community relations ), hubungan dengan jawatan antar instansi pemerintah, dan hubungan dengan pers ( press relations ).
Baca lebih lanjut

30 Baca lebih lajut

Studi Deskriptif Mengenai Tipe Self-Esteem pada Remaja yang Tinggal di Panti Asuhan "X" Tasikmalaya.

Studi Deskriptif Mengenai Tipe Self-Esteem pada Remaja yang Tinggal di Panti Asuhan "X" Tasikmalaya.

data bahwa sebanyak 3 orang remaja (30%) menyatakan tidak disiplin pada peraturan panti seperti suka keluar panti melebihi waktu yang diberikan, memiliki prestasi di Sekolah baik secara akademik maupun non akademik, tidak dapat mengontrol emosi seperti suka tersinggung dengan sikap orang lain terhadapnya, hal ini mengarah pada elemen self- competence. Sebanyak 7 orang remaja (70%) menyatakan memiliki perasaan tidak diterima oleh teman-teman bukan dari panti seperti ketika akan menjalin relasi lebih memilih yang bisa menerima mereka , perasaan takut ditolak ketika akan bergabung dalam suatu kelompok, dan perasaan berbeda dengan orang yang bukan anak panti karena remaja yang masuk ke panti asuhan tersebut memiliki ekonomi yang rendah, hal ini mengarah pada self-worthiness.
Baca lebih lanjut

30 Baca lebih lajut

INTERAKSI SOSIAL REMAJA ETNIK DAYAK DENGAN REMAJA ETNIK JAWA DALAM PERSPEKTIF INTERAKSIONISME SIMBOLIK.

INTERAKSI SOSIAL REMAJA ETNIK DAYAK DENGAN REMAJA ETNIK JAWA DALAM PERSPEKTIF INTERAKSIONISME SIMBOLIK.

dapat mengalami kendala dalam menjalin interaksi misalnya kurang mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan teman yang berbeda dengan lingkungan keluarga. Kendala tersebut ditambah lagi dengan kehidupan lingkungan di sekitarnya yang terdiri dari berbagai etnik yang berbeda membuat berbagai pilihan tindakan dalam melakukan interaksi. Pengamatan di Desa Salatiga sebelumnya menemukan bahwa para remaja etnik Dayak berinteraksi positif tidak hanya dengan sesama etniknya tetapi dengan remaja lain yang ada di sekitarnya. Begitu juga dengan remaja etnik Jawa selain berusaha menjalin relasi dengan sesama orang Jawa juga berinteraksi dengan remaja Dayak yang dari bahasa kedua etnik tersebut berbeda, selain itu perbedaan agama, tradisi atau budaya Dayak yang juga berbeda tetapi proses interaksi yang terjadi berlangsung secara positif.
Baca lebih lanjut

28 Baca lebih lajut

Hubungan antara kelekatan tidak aman dan komitmen pada wanita dewasa awal yang berpacaran di Yogyakarta.

Hubungan antara kelekatan tidak aman dan komitmen pada wanita dewasa awal yang berpacaran di Yogyakarta.

dirinya yang akan berbeda antara satu orang dengan yang lain (Bowlby dalam Feeney & Noller, 1996). Tipe kelekatan seseorang mempengaruhi relasi seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang yang memiliki tipe kelekatan tidak aman dengan pengasuh utama mereka sejak kecil akan menemui berbagai kesulitan ketika membangun keintiman di masa depan (Cassidy & Shaver, 2008). Kelekatan yang pernah dialami seseorang akan menunjukkan perbedaan perilaku interpersonal seseorang (misalnya mencari hubungan dekat atau menghindari hubungan intim), perbedaan sistem operasi dalam perilaku (misalnya caregiving, seks), serta memberikan kontribusi terhadap kualitas interaksi sosial dalam suatu hubungan yang umum maupun hubungan yang dekat (Mikulincer & Philip, 2007).
Baca lebih lanjut

150 Baca lebih lajut

Pertemanan usaha tani Pertemanan usaha tani

Pertemanan usaha tani Pertemanan usaha tani

Dilihat dari aspek finansial, analisis pendapatan usahatani padi menunjukkan bahwa usahatani tersebut mampu memberikan keuntungan yang lebih besar bagi petani yaitu sebesar Rp 67.672.866[r]

108 Baca lebih lajut

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Ciri-ciri individu dengan tipe kelekatan ini memandang dirinya sebagai orang yang berharga, penuh dengan dorongan dan beranggapan bahwa orang lain sebagai orang yang bersahabat, dipercaya, dan penuh kasih sayang. Ketika menjalin suatu hubungan yang romantis, maka mereka akan saling mempercayai (Levy & Davis dalam Feeney & Noller, 1990). Pada umumnya, seorang individu dengan kelekatan ini akan mengekspresikan rasa percayanya pada pasangan, tidak mudah marah dan mencurigai pasangan, serta beranggapan bahwa konflik yang ada akan dapat memberi dampak yang positif dan membangun bagi hubungannya.
Baca lebih lanjut

120 Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Studi tentang Alasan Penerimaan Para Pendiri Negara terhadap Pancasila sebagai Dasar Negara T2 752010008 BAB II

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Studi tentang Alasan Penerimaan Para Pendiri Negara terhadap Pancasila sebagai Dasar Negara T2 752010008 BAB II

Seorang aktor bertingkah laku secara rasional-bertujuan ketika dia memilih tujuan dari suatu cakrawala nilai yang jelas dan mengorganisasi sarana-sarana yang sesuai dengan mempertimbangkan konsekuensi alternatif yang mungkin muncul. Tindakan sosial dapat dibedakan menurut mekanisme koordinasi tindakan individu, misalkan apakah suatu relasi sosial didasarkan pada posisi kepentingan semata atau didasarkan pada kesepakatan normatif. Koordinasi tindakan yang hanya terbentuk melalui kepentingan yang saling melengkapi dapat secara normatif ditata ulang dengan cara melakukan validitas yang didasarkan pada kesepakatan. Interaksi yang didasarkan pada kepentingan yang saling melengkapi tidak hanya berbentuk adat kebiasaan, namun juga pada level perilaku kompetitif rasional, di mana partisipan telah membentuk suatu kesadaran yang jelas tentang komplementaritas (melengkapi) sekaligus
Baca lebih lanjut

33 Baca lebih lajut

Ecology of child parenting adolescents perception toward parenting style, media exposure and adolescents psychosocial development in Bandung

Ecology of child parenting adolescents perception toward parenting style, media exposure and adolescents psychosocial development in Bandung

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi peubah-peubah yang berpengaruh terhadap gaya pengasuhan orang tua yang dipersepsi oleh remaja, paparan media dan perkembangan psikososial remaja. Secara teoritik peubah- peubah yang dimaksud memberikan kontribusi baik terhadap gaya pengasuhan orang tua, terpaparnya individu terhadap media dan perkembangan psikososial pada remaja. Menurut Bronfenbrenner (Berns 1997), konteks sosial dari interaksi dan pengalaman individu menentukan derajat seorang individu dapat mengembangkan kemampuan dan merealisasikan potensi yang dimilikinya. Merujuk pada Model Bronfenbrenner, terdapat empat struktur dasar yakni relasi dan interaksi membentuk pola yang mempengaruhi perkembangan manusia, yaitu sistem mikro, sistem meso, sistem ekso dan sistem makro.Sistem mikro merujuk pada aktivitas dan hubungan dengan orang-orang yang memiliki arti yang dialami melalui perkembangan individu dalam setting utama seperti keluarga, sekolah, media, peer group atau masyarakat. Sistem meso terdiri dari ikatan dan interrelasi di antara dua orang atau lebih orang-orang yang ada pada sistem mikro, seperti keluarga dan sekolah atau keluarga dan peer group. Sistem ekso merujuk pada setting yakni anak tidak aktif sebagai partisipan akan tetapi mempengaruhi orang- orang pada sistem mikro, seperti pekerjaan orang tua, lembaga pemerintah kota, dan jaringan dukungan sosial orang tua. Sistem makro terdiri dari masyarakat tempat individu berkembang dan sistem budaya yang merujuk pada sistem kepercayaan, gaya hidup dan opini, serta pola pertukaran sosial.
Baca lebih lanjut

257 Baca lebih lajut

Posting  2. PEDAGOGI SMP D

Posting 2. PEDAGOGI SMP D

Salah satu tugas perkembangan yang harus dikuasai remaja yang berada dalam fase perkembangan masa remaja madya dan remaja akhir adalah memiliki keterampilan sosial (sosial skill) untuk dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan sehari-hari. Keterampilan-keterampilan sosial tersebut meliputi kemampuan berkomunikasi, menjalin hubungan dengan orang lain, menghargai diri sendiri & orang lain, mendengarkan pendapat atau keluhan dari orang lain, memberi atau menerima feedback, memberi atau menerima kritik, bertindak sesuai norma dan aturan yang berlaku, dsb. Apabila keterampilan sosial dapat dikuasai oleh remaja pada fase tersebut maka ia akan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya. Hal ini berarti pula bahwa sang remaja tersebut mampu mengembangkan aspek psikososial dengan maksimal. Jadi tidak mengherankan jika pada masa ini remaja mulai mencari perhatian dari ingkungannya dan berusaha mendapatkan status atau peranan, misalnya mengikuti kegiatan remaja dikampung dan dia diberi peranan dimana dia bisa menjalankan peranan itu dengan baik. Sebaliknya jika remaja tidak diberi peranan, dia akan melakukan perbuatan untuk menarik perhatian lingkungan sekitar dan biasanya cenderung ke arah perilaku negatif.
Baca lebih lanjut

65 Baca lebih lajut

Show all 2896 documents...