Menyusun Kalimat

Top PDF Menyusun Kalimat:

ANALISIS KEMAMPUAN ANAK DALAM MENYUSUN KALIMAT BERDASARKAN MEDIA GAMBAR

ANALISIS KEMAMPUAN ANAK DALAM MENYUSUN KALIMAT BERDASARKAN MEDIA GAMBAR

Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan pembelajaran kemampuan anak dalam menyusun kalimat berdasarkan media gambar pada usia 5-6 tahun. Mengingat pentingnya mempersiapkan anak untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya, maka penelitian ini dilakukan agar anak lebih mudah mengikuti pembelajaran. Bila anak sudah mampu mengikuti proses pembelajaran, maka saat belajar anak akan merasa nyaman dan senang. Selain itu, menyusun kalimat merupakan salahsatu indikator yang harus dicapai saat memasuki Pendidikan Anak Usia Dini. Metode deskriptif kualitatif digunakan karena penelitian yang kami lakukan sesuai dengan fakta yang terdapat di lapangan. Jumlah populasi kelas B terdapat duapuluh anak, sampel yang diteliti sepuluh anak. Adapun yang menjadi tolok ukur dalam penelitian ini adalah kemampuan anak dalam menguasai jumlah kosa kata, kemampuan dalam penguasaan fungsi kalimat, dan kemampuan anak dalam memadukan unsur kalimat atau yang disebut kohesi dan koherensi. Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kemampuan anak dalam berbicara atau menyusun kalimat, yakni faktor usia anak, lingkungan keluarga, dan faktor fisik. Kata Kunci: Kompetensi Anak, Media Gambar, Kalimat
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

AKSELERASI PEMAHAMAN TENSES DALAM MENYUSUN KALIMAT NEGATIVE DENGAN MAGIC ROUND

AKSELERASI PEMAHAMAN TENSES DALAM MENYUSUN KALIMAT NEGATIVE DENGAN MAGIC ROUND

Penelitian ini merupakan hasil uji coba produk pengembangan media Magic Round seri 2 pada skala terbatas yang difungsikan untuk mengakselerasi pemahaman siswa ketika menyusun kalimat negative berbahasa Inggris pada semua jenis tenses. Sehingga tujuan dilakukannya penelitian ini adalah mengetahui signifikansi pengaruh penggunaan media yang dimaksud terhadap pemahaman siswa dalam menyusun kalimat negative. Penelitian ini dilaksanakan di MAN 2 Kabupaten Tasikmalaya dengan jumlah sampel sebanyak 38 siswa di kelas XI IIK-1. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah sampling jenuh dengan pendekatan kuantitatif dan metode eksperimen yaitu Pre-Ekperimental Designs. Data penelitian dikumpulkan dengan teknik soal objektif. Data yang dikumpulkan, selanjutnya diolah dan dianalisis secara kuantitatif untuk mengetahui pengaruh penggunaan media tersebut pada penyusunan kalimat negative. Hasil dari pengolahan dan analisis data didapat rata-rata nilai pretest 55,32 dengan kategori sedang dan rata- rata nilai posttest 81,39 dengan kategori sangat tinggi. Berdasarkan uji-t Paired Samples T-Test menghasilkan Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar 0,000. Sesuai dengan ketentuan, karena nilai probabilitas Asymp. Sig. (2-tailed) < 0,05, maka H 0 ditolak maka yang menjadi jawaban dari
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENYUSUN KALIMAT MENGGUNAKAN METODE SNOWBALL THROWING PADA SISWA AUTIS KELAS III DI SD TAMAN MUDA IBU PAWIYATAN TAMANSISWA YOGYAKARTA.

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENYUSUN KALIMAT MENGGUNAKAN METODE SNOWBALL THROWING PADA SISWA AUTIS KELAS III DI SD TAMAN MUDA IBU PAWIYATAN TAMANSISWA YOGYAKARTA.

Hasil pra tindakan menunjukkan bahwa kemampuan menyusun kalimat siswa autis kelas III masih rendah dan belum mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) yaitu 75. Hal ini dibuktikan dengan hasil pra tindakan subjek SS yang memperoleh nilai 40. Hasil ini diperoleh siswa setelah melakukan tes pra tindakan. Siswa belum mampu menyusun kata-kata yang acak yang terdiri dari tiga kata atau lebih. Selain itu, siswa hanya mampu menyusun kalimat yang terdiri dari dua kata. Kemampuan menyusun kalimat yang dimiliki siswa masih terdari tergolong dalam kemampuan minimal menyusun kalimat. Hal ini sesuai dengan pernyataan Abdul Chaer (2006: 329- 330) yang menyatakan bahwa kalimat sederhana dibentuk dari klausa yang unsur-unsurnya berupa kata atau frase sederhana. Dalam hasil pekerjaan siswa pada pra tindakan siswa mampu menulis dua kata sederhana.
Baca lebih lanjut

165 Baca lebih lajut

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENYUSUN KALIMAT EFEKTIF DENGAN METODE EXPLICIT INSTRUCTION   PENINGKATAN KEMAMPUAN MENYUSUN KALIMAT EFEKTIF DENGAN METODE EXPLICIT INSTRUCTION PADA SISWA KELAS VII SMP N 3 KARTASURA TAHUN AJARAN 2010/2011.

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENYUSUN KALIMAT EFEKTIF DENGAN METODE EXPLICIT INSTRUCTION PENINGKATAN KEMAMPUAN MENYUSUN KALIMAT EFEKTIF DENGAN METODE EXPLICIT INSTRUCTION PADA SISWA KELAS VII SMP N 3 KARTASURA TAHUN AJARAN 2010/2011.

Penelitian ini bertujuan untuk (a) meningkatkan kemampuan menyusun kalimat efektif dengan metode explicit instruction pada siswa kelas VII SMP N 3 Kartasura tahun ajaran 2010/2011, (b) mengetahui motivasi belajar siswa kelas VII SMP N 3 Kartasura tahun ajaran 2010/2011 dalam kegiatan menyusun kalimat efektif dengan metode explicit instruction, (c) mengkaji persepsi dan tanggapan siswa kelas VII SMP N 3 Kartasura tahun ajaran 2010/2011 mengenai pembelajaran menyusun kalimat efektif dengan metode explicit instruction. Setting penelitian ini di SMP N 3 Kartasura.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Perancangan Dan Implementasi Pembangkit Puzzle Otomatis Untuk Permainan Edukasi Menyusun Kalimat Matematika - ITS Repository

Perancangan Dan Implementasi Pembangkit Puzzle Otomatis Untuk Permainan Edukasi Menyusun Kalimat Matematika - ITS Repository

Untuk pembangkitan kalimat matematika perkalian mula mula nilai terbesarlah yang diacak terlebih dahulu. karena di sini hasil menjadi nilai terbesar maka hasil diacak dengan range tiga per empat dari angka maksimal(angka yang terbesar yang mungkin keluar dalam suatu level) hingga angka maksimal, lalu yang diacak setelah hasil adalah satu dari dua angka sisa paling kiri untuk kalimat matematika mendatar dan paling atas untuk kalimat matematika menurun, sehingga yang diacak berikutnya adalah operand pertama yang diacak dengan range dari angka satu hingga setengah kali angka maksimal yang mana merupakan faktor dari angka terbesar, dan untuk operand ke dua adalah hasil pembagian dari angka terbesar (hasil) dan operand pertama.
Baca lebih lanjut

132 Baca lebih lajut

PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN LEARNING CELL DALAM PEMBELAJARAN BAHASA ARAB UNTUK MENINGKATKAN MAHAAROH AL-KALAAM PADA SISWA MADRASAH TSANAWIYAH DI PROVINSI RIAU

PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN LEARNING CELL DALAM PEMBELAJARAN BAHASA ARAB UNTUK MENINGKATKAN MAHAAROH AL-KALAAM PADA SISWA MADRASAH TSANAWIYAH DI PROVINSI RIAU

Mahaarat al-kalam adalah salah satu aspek yang terpenting dalam pembelajaran bahasa. Maharat al-kalam artinya adalah kemahiran berbicara. Kemahiran berbicara adalah kemampuan menyusun kalimat yang benar dalam bentuk praktis (Depag RI, 2002) sesuai dengan struktur kalimat yang dipelajari. Maharah al-kalam dalam bahasa Arab adalah kemampuan untuk menyusun kalimat yang benar yang muncul di dalam pikiran dan perasaan seseorang dengan kalimat yang benar dan jelas atau dengan kata lain kemampuan siswa untuk

16 Baca lebih lajut

Soal UAS Bahasa Arab Kelas 8 SMP MTs Semester 1 (Ganjil) (Kisi Kisi)

Soal UAS Bahasa Arab Kelas 8 SMP MTs Semester 1 (Ganjil) (Kisi Kisi)

Menyusun Kalimat dari kata-kata yang diacak tentang kegiatan belajar bahasa arab di sekolah Menjawab pertanyaa tentang kegiatan siswa di perpustakaan Menterjemahkan dari Bahasa Indonesia ke dalam Bahasa Arab tentang pelajaran di sekolah Menyusun kalimat menjadi paragraf tentang urutan kaifiyat shalat.

10 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Peningkatan Kemampuan Verbal Dalam Bercerita Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Melalui Metode Team Quiz Pada Siswa Kelas IV SD negeri sugihan 1 toroh grobogan tahun 2012/2013.

PENDAHULUAN Peningkatan Kemampuan Verbal Dalam Bercerita Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Melalui Metode Team Quiz Pada Siswa Kelas IV SD negeri sugihan 1 toroh grobogan tahun 2012/2013.

Pengembangan program pembelajaran kemampuan verbal pada usia sekolah dasar antara lain bertujuan agar anak dapat berbicara dengan lancar, dapat menyusun kata-kata, menyusun kalimat yang memiliki makna dan dapat di pahami oleh orang lain. Fakta menunjukkan bahwa proses pembelajaran yang terjadi selama ini memposisikan diri anak sebagai pendengar yang setia sementara guru aktif berbicara dan bercerita, sehingga anak tidak terbiasa dengan merangkai kata-kata dan menyusun kalimat yang bermakna dan yang dapat dipahami oleh orang lain. Akibatnya anak pun banyak yang berbicara malu-malu, terbata-bata, suka mengulang kata yang itu-itu saja sehingga menjadikan berbicarapun tidak lancar dan mereka akan mengalami kesulitan dalam berkomunikasi. Sedangkan siswa lainnya yang memiliki keaktifan lebih akan lebih mendominasi dalam setiap kegiatan berbahasa dan tidak memberikan kesempatan kepada teman yang lainnya untuk berbicara dengan leluasa. Dalam hal ini penulis sangat ingin mengubah kebiasaan yang akan berakibat tidak baik tersebut dengan melakukan penelitian dengan metode yang inovatif.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PENINGKATAN KETERAMPILAN MEMBACA PERMULAAN MELALUI PENDEKATAN WHOLE LANGUAGE DI KELOMPOK B1 TK PEDAGOGIA GUGUS III KECAMATAN MANTRIJERON YOGYAKARTA.

PENINGKATAN KETERAMPILAN MEMBACA PERMULAAN MELALUI PENDEKATAN WHOLE LANGUAGE DI KELOMPOK B1 TK PEDAGOGIA GUGUS III KECAMATAN MANTRIJERON YOGYAKARTA.

Kegiatan pembelajaran keterampilan membaca permulaan melalui pendekatan whole language di kelompok TK B1 TK Pedagogia Gugus III Kecamatan Mantrijeron Yogyakarta masih kurang. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan peneliti masih banyak anak yang belum mengetahui dan menyuarakan simbol huruf, mengenal tulisan beserta gambarnya yang sesuai, mengulang kalimat, menggambar dengan tulisan, membaca di dalam hati, membaca bersama, membaca, menulis dan bercerita sesuai dengan gambar. Kurangnya lingkungan kelas yang menstimulasi anak untuk senang membaca. Kegiatan bercerita atau mendengarkan cerita jarang dilakukan guru. Kegiatan masih berpusat pada guru, guru kurang inovatif dalam pembelajaran, dan pembelajaran masih monoton. Dengan adanya proses pembelajaran seperti di atas menjadikan anak kurang aktif dan merasa cepat bosan dalam pembelajaran membaca permulaan. Sehinggga menjadikan kondisi anak kurang antusias dalam pembelajaran. Serta keterampilan membaca anak kurang berkembang dengan optimal.
Baca lebih lanjut

228 Baca lebih lajut

S JRM 1100726 Chapter1

S JRM 1100726 Chapter1

Kesulitan lain yang dialami penulis sebagai pembelajar bahasa Jerman yaitu menentukan susunan kata dan posisi Modalverb ‘verba bantu modal’ dalam menyusun kalimat yang benar. Pemikiran pembelajar dalam membuat kalimat berbahasa Jerman yang masih menggunakan aturan tata bahasa Indonesia tanpa memperhatikan tata bahasa Jerman. Hal tersebut terlihat dalam contoh kalimat di bawah ini:

7 Baca lebih lajut

LAPORAN INDIVIDU PRAKTIK PENGALAMAN LAPANGAN.

LAPORAN INDIVIDU PRAKTIK PENGALAMAN LAPANGAN.

Agar peserta didik semakin terbiasa mengonjugasikan kata kerja, praktikan menyajikan permainan susun kalimat. Permainan ini mengharuskan peserta didik menyusun kartu-kartu kata menjadi tiga sampai empat kalimat lengkap. Kalimat-kalimat ini mengandung subjek-subjek yang harus disesuaikan dengan konjugasi kata kerja yang tersedia. Untuk memainkannya, peserta didik dibagi menjadi enam kelompok. Setiap kelompok mendapatkan kartu-kartu kata untuk disusun. Setelah berhasil disusun, kalimat-kalimat ini dicatat oleh peserta didik dalam buku catatan. Lalu kartu-kartu itu kembali diacak dan ditukarkan dengan milik kelompok lain. Permainan berakhir ketika semua kelompok telah lima kali menukarkan kartu kata.
Baca lebih lanjut

117 Baca lebih lajut

Lampiran Nomor 74 Tahun 2009

Lampiran Nomor 74 Tahun 2009

Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam bentuk karangan sederhana, kosakata yang bervariasi dan kalimat efektif dalam kehidupan sehari-hari, petunjuk surat, pengumuman dialog, formulir, teks pidato, laporan, ringkasan, parafrase, serta berbagai karya sastra untuk anak berbentuk cerita anak, puisi, dan pantun, secara terpadu, struktur kalimat yang tepat, ejaan, dan pilihan katanya.

26 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects