mikrokristalin selulosa

Top PDF mikrokristalin selulosa:

PREPARASI DAN KARAKTERISASI MIKROKRISTALIN SELULOSA DARI LIMBAH SERBUK KAYU PENGGERGAJIAN.

PREPARASI DAN KARAKTERISASI MIKROKRISTALIN SELULOSA DARI LIMBAH SERBUK KAYU PENGGERGAJIAN.

Limbah serbuk penggergajian dibuat menjadi mikrokristalin selulosa dengan menggunakan multistage pulping atau pembuburan bertingkat yang bertujuan untuk menghilangkan lignin dari sampel sehingga didapatkan alfa selulosa. Metode ini terbukti menghasilkan alfa selulosa yang homogen dan selanjutnya dihidrolisa dengan HCl 2,5 N untuk mendapatkan MCC. (Ohwoavworhua, et al ., 2009). Pembuatan MCC dimulai dengan membersihkan serbuk kayu penggergajian dari kotoran–kotoran, dicuci, dan dikeringkan agar sampel yang digunakan bersih dan tidak bercampur dengan material–material yang tidak diinginkan. Selanjutnya sampel direfluks dengan campuran heksan dan etanol selama 6 jam. Hal tersebut dilakukan untuk menghilangkan zat ekstraktif yang terdapat pada serbuk kayu seperti senyawa: fenolat, lemak, protein, terpen, lilin, dan sebagainya.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Pembuatan Bioplastik dari Pati Kulit Singkong (Manihot esculenta) Berpengisi Mikrokristalin Selulosa AvicelPH-101 (Wood pulp) dengan Plastisizer Sorbitol

Pembuatan Bioplastik dari Pati Kulit Singkong (Manihot esculenta) Berpengisi Mikrokristalin Selulosa AvicelPH-101 (Wood pulp) dengan Plastisizer Sorbitol

Pemanjangan pada saat putus atau proses pemanjangan merupakan perubahan panjang maksimum pada saat terjadi peregangan hingga sampel film putus. Dari hasil yang diperoleh dapat dilihat bahwa penambahan pengisi mikrokristalin selulosa terbukti menurunkan persen pemanjangan pada saat putus bioplastik. Hal ini dikarenakan pada sintesis plastik biodegradabel tersebut terdapat ikatan hidrogen yang terjadi antara pati dan selulosa. Ikatan tersebut mengakibatkan kekuatan material menjadi semakin meningkat sehingga persen pemanjangan pada saat putus semakin menurun [115]. Adanya ikatan hidrogen pada bioplastik juga dapat dilihat dari hasil FTIR dimana terdapat penurunan nilai bilangan gelombang serta daerah serapan gugus OH yang semakin lebar. Terdapat penyimpangan dimana terjadi peningkatan nilai pemanjangan pada saat putus pada bioplastik berpengisi mikrokristalin selulosa 4% dengan sorbitol 25%. Menurut Darni, dkk., (2014), gugus fungsional rantai selulosa adalah gugus hidroksil yang dapat berinteraksi membentuk ikatan hidrogen dimana semakin banyak ikatan hidrogen yang terbentuk menyebabkan rantai semakin panjang. Rantai ikatan hidrogen yang semakin panjang akan meningkatkan fleksibilitas dari bioplastik [134]. Oleh karena itu, terjadi peningkatan perpanjangan saat penambahan MCC 4%. Tetapi, persen pemanjangan pada saat putus kembali menurun pada penambahan MCC 6% yang menunjukkan titik jenuh pembentukan ikatan hidrogen sehingga selulosa sulit untuk menyebar (terdispersi).
Baca lebih lanjut

122 Baca lebih lajut

102 PEMBUATAN MIKROKRISTALIN SELULOSA DARI BATANG RUMPUT GAJAH (Pennisetum purpureum Schumach)

102 PEMBUATAN MIKROKRISTALIN SELULOSA DARI BATANG RUMPUT GAJAH (Pennisetum purpureum Schumach)

Crystalline cellulose ® , Fibrocel ® , Tabulose ® , dan Vivapur ® , Vivacel ® , Fitrat ® , Heweten ® , dan Farmacel ® (Voigh, 1994 ; Rowe, et al., 2006). Mikrokristalin Selulosa umumnya digunakan sebagai bahan tambahan dalam pembuatan obat- obatan, terutama sebagai pengikat pada formulasi tablet dan kapsul. Contohnya, Avicel dapat digunakan untuk semua metoda pembuatan tablet, tapi avicel lebih efektif digunakan untuk tablet cetak langsung. Avicel dapat meningkatkan kekerasan dan friabilitas tablet, dapat memperbaiki sifat alir granul. Kapilaritas dari avicel dapat meningkatkan penetrasi cairan atau air ke dalam tablet, merusak ikatan kohesi antar partikel sehingga tablet cepat hancur. Peningkatan gaya kompresi pada pencetakan tablet akan merusak struktur ruang intermolekul dan merusak sifat kapilaritas sehingga berpengaruh pada waktu hancur tablet. Tablet dapat menjadi lunak karena avicel sensitif terhadap lembab (Rowe, et al., 2006; Allen, et al., 2005).
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Pembuatan Bioplastik dari Pati Kulit Singkong (Manihot esculenta) Berpengisi Mikrokristalin Selulosa AvicelPH-101 (Wood pulp) dengan Plastisizer Sorbitol

Pembuatan Bioplastik dari Pati Kulit Singkong (Manihot esculenta) Berpengisi Mikrokristalin Selulosa AvicelPH-101 (Wood pulp) dengan Plastisizer Sorbitol

Bioplastik merupakan plastik yang dapat digunakan seperti layaknya plastik konvensional, namun akan hancur terurai oleh aktivitas mikroorganisme menjadi air dan karbon dioksida. Pati merupakan bahan polimer alami yang dapat digunakan untuk produksi bioplastik. Penambahan partikel penguat terbukti dapat memperbaiki sifat mekanik bioplastik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan filler pada hasil akhir bioplastik. Pembuatan bioplastik merujuk pada metode melt intercalation , dimana tidak diperlukan penambahan pelarut dalam pembuatan bioplastik. Pada penelitian ini digunakan massa pati kulit singkong sebesar 10 gram, dengan variasi massa mikrokristalin selulosa Avicel PH101 yang digunakan adalah 0; 2; 4; dan 6% (wt/wt), sedangkan volume sorbitol yang digunakan adalah 20; 25; dan 30% (wt). Temperatur pemanasan larutan bioplastik yang digunakan adalah 76 o C. Bioplastik yang dihasilkan dianalisis sifat fisika dan kimianya, meliputi analisis FT-IR, SEM, RVA, kekuatan tarik, pemanjangan pada saat putus, penyerapan air, dan densitas. Dari hasil analisis FT-IR ditunjukkan adanya perluasan gugus C=O pada rentang 1118,71 cm -1 dan 1168,86 cm -1 serta perluasan gugus OH pada rentang 2870,08 cm -1 dan
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Optimasi Hidrolisis Asam Pada Preparasi Mikrokristalin Selulosa dari Tandan Kosong Kelapa Sawit - UNS Institutional Repository

Optimasi Hidrolisis Asam Pada Preparasi Mikrokristalin Selulosa dari Tandan Kosong Kelapa Sawit - UNS Institutional Repository

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul “ Optimasi Hidrolisis Asam Pada Preparasi Mikrokristalin Selulosa dari Tandan Kosong Kelapa Sawit ” belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga belum pernah ditulis atau dipublikasikan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

17 Baca lebih lajut

Pembuatan Bioplastik dari Pati Kulit Singkong (Manihot esculenta) Berpengisi Mikrokristalin Selulosa AvicelPH-101 (Wood pulp) dengan Plastisizer Sorbitol

Pembuatan Bioplastik dari Pati Kulit Singkong (Manihot esculenta) Berpengisi Mikrokristalin Selulosa AvicelPH-101 (Wood pulp) dengan Plastisizer Sorbitol

D.3 HASIL FTIR BIOPLASTIK PATI KULIT SINGKONG TANPA PENGISI MIKROKRISTALIN SELULOSA DAN TANPA PLASTICIZER SORBITOL Gambar D.3 Hasil FTIR Bioplastik Pati Kulit Singkong Tanpa P[r]

17 Baca lebih lajut

MODIFIKASI PERMUKAAN DAN KARAKTERISASI MIKROKRISTALIN SELULOSA DARI LIMBAH TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT DENGAN SENYAWA AMINOSILAN

MODIFIKASI PERMUKAAN DAN KARAKTERISASI MIKROKRISTALIN SELULOSA DARI LIMBAH TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT DENGAN SENYAWA AMINOSILAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul “MODIFIKASI PERMUKAAN DAN KARAKTERISASI MIKROKRISTALIN SELULOSA DARI LIMBAH TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT DENGAN SENYAWA AMINOSILAN” belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga belum pernah ditulis atau dipublikasikan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

14 Baca lebih lajut

Pembuatan Bioplastik dari Pati Kulit Singkong (Manihot esculenta) Berpengisi Mikrokristalin Selulosa AvicelPH-101 (Wood pulp) dengan Plastisizer Sorbitol

Pembuatan Bioplastik dari Pati Kulit Singkong (Manihot esculenta) Berpengisi Mikrokristalin Selulosa AvicelPH-101 (Wood pulp) dengan Plastisizer Sorbitol

Bioplastik merupakan plastik yang dapat digunakan seperti layaknya plastik konvensional, namun akan hancur terurai oleh aktivitas mikroorganisme menjadi air dan karbon dioksida. Pati merupakan bahan polimer alami yang dapat digunakan untuk produksi bioplastik. Penambahan partikel penguat terbukti dapat memperbaiki sifat mekanik bioplastik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan filler pada hasil akhir bioplastik. Pembuatan bioplastik merujuk pada metode melt intercalation, dimana tidak diperlukan penambahan pelarut dalam pembuatan bioplastik. Pada penelitian ini digunakan massa pati kulit singkong sebesar 10 gram, dengan variasi massa mikrokristalin selulosa Avicel PH101 yang digunakan adalah 0; 2; 4; dan 6% (wt/wt), sedangkan volume sorbitol yang digunakan adalah 20; 25; dan 30% (wt). Temperatur pemanasan larutan bioplastik yang digunakan adalah 76 o C. Bioplastik yang dihasilkan dianalisis sifat fisika dan kimianya, meliputi analisis FT-IR, SEM, RVA, kekuatan tarik, pemanjangan pada saat putus, penyerapan air, dan densitas. Dari hasil analisis FT-IR ditunjukkan adanya perluasan gugus C=O pada rentang 1118,71 cm -1 dan 1168,86 cm -1 serta perluasan gugus OH pada rentang 2870,08 cm -1 dan 2989,66 cm -1 . Hasil analisa FTIR ini tidak menunjukkan adanya gugus fungsi baru yang terbentuk. Hasil SEM menunjukkan morfologi bioplastik dimana masih terdapat filler MCC yang tidak terdispersi dengan baik atau aglomerasi yang secara tidak langsung mempengaruhi sifat mekanik bioplastik. Dari analisa pati kulit singkong diperoleh kadar pati 75,9061%, kadar amilosa 25,1921%, kadar amilopektin 49,9139%, kadar air 9,45%, kadar abu 1,5%, kadar lemak 1,58%, kadar protein 4,25%, suhu gelatinisasi 76,685 o C dengan viskositas puncak sebesar 4225,5 cP dan viscosity breakdown sebesar 2566,5 cP. Pada penelitian ini diperoleh bioplastik dengan kondisi terbaik pada penggunaan massa mikrokristalin selulosa 6% dan sorbitol 20%, dengan nilai kuat tarik 9,12 Mpa, persen perpanjangan pada saat putus 0,29%, nilai densitas 1,05 gr/cm 3 dan persen penyerapan air 40,18%.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

Pembuatan Bioplastik dari Pati Kulit Singkong (Manihot esculenta) Berpengisi Mikrokristalin Selulosa AvicelPH-101 (Wood pulp) dengan Plastisizer Sorbitol

Pembuatan Bioplastik dari Pati Kulit Singkong (Manihot esculenta) Berpengisi Mikrokristalin Selulosa AvicelPH-101 (Wood pulp) dengan Plastisizer Sorbitol

Selulosa adalah komponen struktural yang banyak ditemukan pada dinding sel tanaman terrestrial dan laut, juga diproduksi oleh beberapa tanaman laut dan bakteri [7]. Avicel atau mikrokristalin selulosa adalah serbuk kristalin berpori warna putih, yang tak berbau dan tak berasa, stabil walaupun higroskopis. Avicel PH101 umumnya dipilih karena tidak lengket serta memiliki ikatan hidrogen yang kuat [8].

6 Baca lebih lajut

Pembuatan Bioplastik dari Pati Kulit Singkong (Manihot esculenta) Berpengisi Mikrokristalin Selulosa AvicelPH-101 (Wood pulp) dengan Plastisizer Sorbitol

Pembuatan Bioplastik dari Pati Kulit Singkong (Manihot esculenta) Berpengisi Mikrokristalin Selulosa AvicelPH-101 (Wood pulp) dengan Plastisizer Sorbitol

Selama terjadinya kavitasi, energi potensial dari gelembung dikonversikan menjadi energi kinetik dalam bentuk pancaran cairan ( liquid jet ) yang bergerak menuju ke bagian dalam gelembung dan menembus dinding gelembung lainnya hingga menubruk permukaan MCC [63]. Proses penubrukan ini menyebabkan pembelahan melintang pada aksis longitudinal dari struktur mikrofibril selulosa yang mana menghasilkan serat atau fibril yang panjang [64]. Selain menyebabkan penguraian serat pada mikrokristalin selulosa, proses ultrasonikasi juga menyebabkan pengurangan ukuran serat selulosa yang diperoleh melalui adanya gaya antar partikel yang saing bertubrukan dan gaya geser pada partikel [39].
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

PEMBUATAN MIKROKRISTALIN SELULOSA ROTAN MANAU (Calamus manan sp.) SERTA KARAKTERISASINYA

PEMBUATAN MIKROKRISTALIN SELULOSA ROTAN MANAU (Calamus manan sp.) SERTA KARAKTERISASINYA

Rotan merupakan salah satu kekayaan hayati Indonesia yang mengisi sepuluh persen hutan di Indonesia yang memiliki kadar selulosa mencapai 30-40%. Kadar selulosa yang cukup tinggi membuat rotan sangat berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku mikrokristalin selulosa (MCC). Rotan manau dikarakterisasi menggunakan metode Chesson. Pembuatan mikrokristalin selulosa terdiri atas dua tahap, yaitu alkalisasi dan hidrolisi asam. Tahap alkalisasi dilakukan dengan merendam rotan di dalam larutan NaOH 17,5% selama 8 jam. Tahap hidrolisis asam dilakukan dengan menggunakan asam sulfat pada berbagai konsentrasi, yakni 0,1; 0,3 dan 0,5 M selama 4, 6, 8, dan 10 jam. Kristalinitas dari MCC yang dihasilkan diukur dengan menggunakan XRD. Untuk mengetahui komposisi kimia serta kristalinitas MCC secara kualitatif, telah dilakukan karakterisasi dengan menggunakan FTIR. Pada penelitian ini, telah berhasil dibuat MCC yang bersumber dari rotan manau. Kristalinitas MCC tertinggi dihasilkan dengan perlakuan hidrolisis asam dengan konsentrasi 0,5 M selama 10 jam, yaitu sebesar 72,42%. Seiring dengan peningkatan konsentrasi serta waktu hidrolisis, kristalinitas MCC yang dihasilkan semakin tinggi.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Pembuatan Bioplastik dari Pati Kulit Singkong (Manihot esculenta) Berpengisi Mikrokristalin Selulosa AvicelPH-101 (Wood pulp) dengan Plastisizer Sorbitol

Pembuatan Bioplastik dari Pati Kulit Singkong (Manihot esculenta) Berpengisi Mikrokristalin Selulosa AvicelPH-101 (Wood pulp) dengan Plastisizer Sorbitol

“Pembuatan Dan Karakterisasi Bioplastik Dari Poly-3-Hidroksialkanoat PHA Yang Dihasilkan Ralstonia Eutropha Pada Hidrolisat Pati Sagu Dengan Penambahan Dimetil Ftalat DMF.” Skripsi, Pro[r]

10 Baca lebih lajut

Formulasi Tablet Hisap Ekstrak Etanol Sirih (Piper betle L.) Dan Kapur Sirih (CaCO3) Dengan Mikrokristalin Selulosa (Avicel) Sebagai Pengikat Serta Pengaruhnya Terhadap Kadar CD4 Dalam Darah

Formulasi Tablet Hisap Ekstrak Etanol Sirih (Piper betle L.) Dan Kapur Sirih (CaCO3) Dengan Mikrokristalin Selulosa (Avicel) Sebagai Pengikat Serta Pengaruhnya Terhadap Kadar CD4 Dalam Darah

Variasi konsentrasi avicel yang digunakan diharapkan dapat memberikan formulasi yang optimum untuk sediaan tablet hisap dari ekstrak daun sirih dan kapur sirih.. Imunomodulator adalah su[r]

147 Baca lebih lajut

FORMULASI DAN EVALUASI FISIK FAST DISSOLVING TABLET  Formulasi dan Evaluasi Fisik Fast Dissolving Tablet Aloe vera (Aloe barbadensis Miller).

FORMULASI DAN EVALUASI FISIK FAST DISSOLVING TABLET Formulasi dan Evaluasi Fisik Fast Dissolving Tablet Aloe vera (Aloe barbadensis Miller).

Hasil uji t ketiga formula menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara formula I dan II, serta formula I dan III karena diperoleh nilai Sign. p dengan sama 0,000. Perbedaan signifikan ini artinya perbedaan jumlah mikrokristalin selulosa pada formula I dan II serta formula I dan III mempengaruhi kecepatan hancur tablet. Pada formula II dan III tidak menunjukkan adanya perbedaan signifikan yang artinya perbedaan jumlah mikrokristalin selulosa formula II dan III tidak mempengaruhi kecepatan hancur tablet. Mikrokristalin selulosa memiliki kapasitas penyerapan yang baik. Tablet dengan mikrokristalin selulosa lebih cepat hancur karena bagian air cepat terserap ke dalam tablet mengakibatkan pecahnya ikatan hidrogen.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Pengaruh Suhu Vulkanisasi dan Pembebanan Selulosa Mikrokristalin dari Tepung Kulit Singkong dengan Penambahan Alkanolamida sebagai Bahan Penyerasi Alkanolamida pada Pembuatan Film Lateks Karet Alam

Pengaruh Suhu Vulkanisasi dan Pembebanan Selulosa Mikrokristalin dari Tepung Kulit Singkong dengan Penambahan Alkanolamida sebagai Bahan Penyerasi Alkanolamida pada Pembuatan Film Lateks Karet Alam

Kulit singkong merupakan salah satu limbah industri yang mengandung selulosa sebesar 37,9% dan memiliki potensi untuk dihidrolisis menjadi selulosa mikrokristalin. Selulosa mikrokristalin dari kulit singkong dapat menjadi alternatif pemanfaatan limbah dan memiliki potensi sebagai pengisi dalam film lateks karet alam. Kajian tentang pengaruh suhu vulkanisasi dan pembebanan pengisi pada pembuatan film lateks karet alam berpengisi selulosa mikrokristalin dari tepung kulit singkong dengan penyerasi alkanolamida telah dilakukan untuk memperoleh suhu vulkanisasi dan pembebanan pengisi pada film lateks karet alam berpengisi selulosa mikrokristalin dari tepung kulit singkong dalam menghasilkan densitas sambung silang dan sifat mekanik seperti kekuatan tarik, pemanjangan saat putus, dan modulus tarik yang terbaik. Pembuatan film lateks karet alam dilakukan dengan teknik pencelupan berkoagulan. Penelitian ini dimulai dengan proses pra-vulkanisasi lateks karet alam pada suhu 70°C dengan pembebanan pengisi sebesar 0 phr, 5 phr, 10 phr, 15 phr, 20 phr dan 25 phr. dan diikuti dengan proses vulkanisasi pada suhu 100°C dan 120°C selama 20 menit. Dari hasil karakterisasi FTIR diperoleh bahwa selulosa mikrokristalin dari tepung kulit singkong dengan penyerasi alkanolamida mampu berikatan dalam matriks lateks karet alam. Hasil pengujian sifat-sifat mekanik menunjukkan bahwa suhu vulkanisasi yang lebih tinggi akan meningkatkan terjadinya reaksi sambung silang yang ditunjukkan dengan meningkatnya sifat mekanik produk lateks karet alam pada suhu vulkanisasi 120°C dibandingkan dengan 100°C. Hasil uji mekanik selanjutnya didukung oleh analisa scanning electron microscopy (SEM) yang menunjukkan adanya permukaan patahan yang mulus dan pengisi yang terdistribusi merata pada film lateks karet alam dengan penambahan pembebanan pengisi sebesar 10 phr.
Baca lebih lanjut

127 Baca lebih lajut

Karakterisasi selulosa mikrokristalin dari eceng gondok (Eichornia crassipes) hasil hidrolisis enzim selulase dari Bacillus subtilis Sstrain SF01 - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository

Karakterisasi selulosa mikrokristalin dari eceng gondok (Eichornia crassipes) hasil hidrolisis enzim selulase dari Bacillus subtilis Sstrain SF01 - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository

Eceng gondok dianggap sebagai gulma pada perairan Indonesia dan mempunyai banyak dampak negatif, sehingga banyak cara yang digunakan untuk memanfaatkan eceng gondok. Eceng gondok mempunyai kandungan selulosa yang cukup tinggi yaitu 60%, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai sumber selulosa untuk pembuatan selulosa mikrokristalin. Serbuk eceng gondok diekstraksi dengan NaOH 30% untuk mengisolasi α-selulosa. Alfa selulosa yang didapatkan kemudian dihidrolisis secara enzimatik menggunakan enzim selulase Bacillus subtilis strain SF01. Karakterisasi serbuk mikrokristalin selulosa (MCC) eceng gondok dilakukan dengan uji pH, uji kadar air, X-Ray Diffraction (XRD), spektrofotometri IR, dan Scanning Electron Microscope (SEM) dengan Avicel PH101 sebagai standar. Uji pH serbuk MCC eceng gondok memberikan hasil yang berbeda bermakna dengan standar (p<0,05) dan pH rata-rata yang kurang memenuhi persyaratan yaitu 7,70 ± 0,10. Uji kadar air yang dilakukan juga menunjukkan perbedaan yang bermakna terhadap standar (p<0,05), namun kadar air MCC eceng gondok masih memenuhi persyaratan yaitu 3,38 ± 0,18. Serbuk MCC eceng gondok mempunyai persentase indeks kristalin 46,76%. Hasil penelitian menunjukkan kemiripan gelombang dengan standar Avicel PH101 pada hasil spektrofotometri IR yaitu munculnya pita pada 3305 cm -1 , 2890 cm -1 , 1597 cm -1 , 1157 cm -1 , 1059 cm -1 , dan 894 cm -1 yang mengindikasikan adanya regang (O-H), regang (C-H), ikatan O-H dari penyerapan air, regang C-O-C, regang C-O, dan ikatan β-glukosida, serta pada daerah fingerprint yaitu 1416 cm -1 dan 1366 cm -1 yang mengindikasikan ikatan C-H2 dan ikatan C-H. Pada uji SEM terdapat bentuk menyerupai serat dengan ukuran partikel 98,8862 μm
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

PENGARUH KONSENTRASI HCl DALAM PROSES HIDROLISIS α-SELULOSA DARI AMPAS TEBU (Saccharum officinarum, L.) TERHADAP KARAKTERISTIK MIKROKRISTALIN.

PENGARUH KONSENTRASI HCl DALAM PROSES HIDROLISIS α-SELULOSA DARI AMPAS TEBU (Saccharum officinarum, L.) TERHADAP KARAKTERISTIK MIKROKRISTALIN.

mikrokristalin selulosa jika dilarutkan dalam air, etanol 95% dan asam encer praktis tidak akan larut. Jika produk mikrokristalin yang dihasilkan larut dalam pengamatan secara kualitatif baik dalam air, asam encer maupun etanol 95 % ini menunjukan bahwa proses hidrolisis yang dilakukan untuk mengubah α -selulosa menjadi mikrokristalin tidak berlangsung sebagai mana mestinya, bisa jadi produk yang terbentuk bukan mikrokristalin selulosa. Kelarutan suatu senyawa bergantung pada sifat fisika dan kimia zat terlarut dan pelarut, temperatur, tekanan, pH larutan dan untuk jumlah yang lebih kecil bergantung pada hal terbaginya zat terlarut (Martin, Swarbick dan Cammarata, 1990).
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Formulasi dan Evaluasi Fisik Fast Dissolving Tablet Aloe vera (Aloe barbadensis Miller).

PENDAHULUAN Formulasi dan Evaluasi Fisik Fast Dissolving Tablet Aloe vera (Aloe barbadensis Miller).

Penelitian ini menggunakan superdisintegrant mikrokristalin selulosa (MCC) karena pada penelitian sebelumnya yang dilakukan Madan et al. (2009), tablet yang menggunakan superdisintegrant MCC menunjukkan kecepatan disintegrasi dan pembasahan yang paling baik dibanding disintegrant lain. MCC mempunyai absorbsi yang baik. Ada banyak jenis superdisintegrant dengan mekanismenya masing-masing. Kebanyakan suatu superdisintegrant digunakan dalam kadar yang sangat kecil dihitung terhadap bobot tablet. Sebagai contoh mikrokristalin selulosa (MCC) digunakan sebagai disintegrant dalam pembuatan FDT dalam range 8,2-9,1% (Sharma, 2008).
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Perancangan proses pembuatan selulosa asetat dari selulosa mikrobial untuk membran ultrafiltrasi

Perancangan proses pembuatan selulosa asetat dari selulosa mikrobial untuk membran ultrafiltrasi

sedang dikembangkan antara lain untuk diafragma speaker mutu tinggi ( high fidelity audio speaker diaphragma), bahan pembuatan kertas sangat kuat ( ultrahigh strength paper), campuran pada produk perawat luka (wound care products), sumber selulosa pada pembuatan mikrokristalin selulosa (MCC) dan sebagai bahan penyerap (diaper). Selulosa jenis ini bersifat dapat diperbarui ( renewable). Disamping itu selulosa mikrobial mempunyai beberapa keunggulan antara lain (1) relatif murni sehingga tidak membutuhkan proses delignifikasi , (2) sifat hidrofilik yang sangat tinggi dan (3) dapat diproduksi dari berbagai macam substrat yang relatif mudah dan murah. Berdasarkan keunggulan yang dimiliki tersebut maka selulosa jenis ini merupakan alternatif sebagai sumber selulosa yang relatif murni pada produksi selulosa asetat.
Baca lebih lanjut

118 Baca lebih lajut

Show all 1120 documents...