Model Konseling Kognitif-Perilaku

Top PDF Model Konseling Kognitif-Perilaku:

MODEL KONSELING KOGNITIF – PERILAKU UNTUK M ENGOPTIMALKAN KEMAMPUAN KOGNITIF DAN PERILAKU ADAPTIF ANAK ADHD ( ATTENTION DEFICITE HYPERACTIVITY DISORDERS ).

MODEL KONSELING KOGNITIF – PERILAKU UNTUK M ENGOPTIMALKAN KEMAMPUAN KOGNITIF DAN PERILAKU ADAPTIF ANAK ADHD ( ATTENTION DEFICITE HYPERACTIVITY DISORDERS ).

Salah satu model konseling yang dapat dikembangan untuk membantu mengoptimalkan kemampuan kognitif dan perilaku adaptif anak ADHD adalah model konseling kognitif-perilaku, karena model ini diyakini dan memungkinkan dapat memfasilitasi perkembangan anak ADHD sesuai dengan potensi dan kebutuhan belajar mereka. Selain itu, berdasarkan hasil studi yang telah dilakukan oleh beberapa peneliti terdahulu menunjukkan hasil yang cukup memuaskan penerapan model konseling kognitif-perilaku ini dalam membantu menangani permasalahan belajar baik secara akademik maupun kemadirian dalam belajar. Beberapa alasan yang mengokohkan model konseling kognitif-perilaku sebagai modus untuk membantu mengoptimalkan kemampuan kognitif dan perilaku adaptif anak ADHD. di antaranya kemudahan dalam prosedur yang digunakan serta tidak banyak menyita waktu berinteraksi antara konseli dengan klien.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

MODEL KONSELING KOGNITIF-PERILAKU UNTUK MENINGKAT KAN KEMAMPUAN KONTROL DIRI PERILAKU SEKSUAL REMAJA: Studi terhadap Siswa Madrasah Aliyah Negeri Ciparay dan Madrasah Aliyah Swasta Al-Mukhlisin di Kabupaten Bandung.

MODEL KONSELING KOGNITIF-PERILAKU UNTUK MENINGKAT KAN KEMAMPUAN KONTROL DIRI PERILAKU SEKSUAL REMAJA: Studi terhadap Siswa Madrasah Aliyah Negeri Ciparay dan Madrasah Aliyah Swasta Al-Mukhlisin di Kabupaten Bandung.

Model ini memiliki asumsi bahwa problem perilaku bersumber pada pikiran-pikiran yang salah (error think), keyakinan yang keliru (‘irrational belief’) yang kemudian berpengaruh terhadap sikap, cara merasa, cara berpikir dan cara bertindak/berperilaku (Spiegler & Guevremont,2003 :310). Model konseling kognitif-perilaku bertujuan untuk memperbaiki pikiran- pikiran dan keyakinan yang salah dari konseli yang berpengaruh kepada sikap dan perilakunya (VandenBos, 2007: 188). Tahapan-tahapan konseling yang dilakukan secara garis besar meliputi tahap identifikasi masalah (pengenalan terhadap inti masalah), tahap penentuan teknik konseling yang relevan, dan tahap penerapan teknik dalam membantu konseli keluar dari masalah (Curwen, Palmer & Ruddel, 2008:30). Tahapan pengenalan inti masalah dilakukan dengan pengisian angket, berdasarkan hasil isian angket itu akan diketahui level masalah yang dialami konseli, dapat juga dilakukan dengan wawancara jika pendekatan dilakukan secara individual (Spiegler & Guevremont, 2003:305). Tahap pemilihan dan penentuan teknik konseling dilakukan dengan mengingat atau mengenal ragam teknik konseling yang biasa digunakan dalam KKP yang selanjutnya dilakukan pengambilan terhadap teknik-teknik yang relevan dengan karakteristik masalah (Hackney dan Cormier,2009 :246; Safaria,2004 : 74-91). Di antara teknik itu sudah merupakan teknik yang secara spesifik diperuntukkan bagi pengembangan control diri antara lain dikembangkan oleh Kadzin (1989: 269), meliputi self monitoring, self initiating dan alternate behavior training. Tahapan
Baca lebih lanjut

77 Baca lebih lajut

MODEL KONSELING KOGNITIF-PERILAKU UNTUK MENINGKATKAN RESILIENSI MAHASISWA : Studi Terhadap Mahasiswa STAIN Ponorogo - repository UPI D BP 0800826 Title

MODEL KONSELING KOGNITIF-PERILAKU UNTUK MENINGKATKAN RESILIENSI MAHASISWA : Studi Terhadap Mahasiswa STAIN Ponorogo - repository UPI D BP 0800826 Title

Umi Rohmah, 2014 MODEL KONSELING KOGNITIF-PERILAKU UNTUK MENINGKATKAN RESILIENSI MAHASISWA Studi Terhadap Mahasiswa STAIN Ponorogo Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.e[r]

3 Baca lebih lajut

MODEL KONSELING KOGNITIF-PERILAKU UNTUK MENINGKATKAN RESILIENSI MAHASISWA : Studi Terhadap Mahasiswa STAIN Ponorogo.

MODEL KONSELING KOGNITIF-PERILAKU UNTUK MENINGKATKAN RESILIENSI MAHASISWA : Studi Terhadap Mahasiswa STAIN Ponorogo.

4. Model konseling kognitif-perilaku untuk meningkatkan resiliensi mahasiswa yang dikembangkan terdiri dari dua bagian yaitu substansi model (panduan teoretik) dan suplemen model (panduan praktik). Aspek substansi model (panduan teoretik) terdiri atas rumusan tentang rasional, tujuan, asumsi, kompetensi, garis besar isi intervensi, evaluasi, dan indikator keberhasilan. Aspek suplemen model (panduan praktik) lebih bersifat teknis-operasional yang berisi rumusan tentang deskripsi model, karakteristik hubungan, norma kelompok, komposisi kelompok, peran konselor-konseli, dan adegan layanan. Hasil validasi rasional pakar bimbingan dan konseling terhadap model hipotetik konseling kognitif-perilaku untuk meningkatkan resiliensi mahasiswa menunjukkan bahwa model yang dikembangkan dinilai layak sebagai suatu model intervensi resiliensi mahasiswa.
Baca lebih lanjut

105 Baca lebih lajut

MODEL KONSELING KOGNITIF – PERILAKU UNTUK M ENGOPTIMALKAN KEMAMPUAN KOGNITIF DAN PERILAKU ADAPTIF ANAK ADHD ( ATTENTION DEFICITE HYPERACTIVITY DISORDERS ) - repository UPI D BK 0707589 Cover

MODEL KONSELING KOGNITIF – PERILAKU UNTUK M ENGOPTIMALKAN KEMAMPUAN KOGNITIF DAN PERILAKU ADAPTIF ANAK ADHD ( ATTENTION DEFICITE HYPERACTIVITY DISORDERS ) - repository UPI D BK 0707589 Cover

HIDAYAT, 2015 MODEL KONSELING KOGNITIF PRILAKU UNTUK MENGOPTIMALKAN KEMAMPUAN KOGNITIF DAN PERILAKU ADAPTIF ANAK ADHD ATTENTION DEFICITE HYPERATIVITY DISORDERS Universitas Pendidika[r]

1 Baca lebih lajut

D BK 0707589 Abstract

D BK 0707589 Abstract

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif yang secara terpadu. Penelitian ini dilakukan melalui empat tahapan sebagai berikut: Tahap pertama menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif untuk menjawab pertanyaan penelitian pertama dan kedua. Teknik analisis kualitatifnya dengan menggunakan metode deskriptif analitis Tahap kedua menggunakan studi pustaka (literature study) untuk menjawab pertanyaan penelitian ketiga. Penelitian tahap ketiga, menggunakan metode diskusi kelompok terfokus (focus group discussion) untuk menjawab pertanyaan penelitian keempat, dan tahap keempat menggunakan metode quasi eksperimen dengan desain pre-tes dan pos-tes untuk menguji keefektifan model konseling kognitif-perilaku untuk mengoptimalkan kemampuan kognitif dan perilaku adaptif anak ADHD di sekolah?
Baca lebih lanjut

3 Baca lebih lajut

D BP 0800826 Chapter3

D BP 0800826 Chapter3

Dalam penelitian ini, metode kuantitatif dan kualitatif digunakan secara bersama-sama. Menurut Creswell (2008: 516), terdapat tiga model kualitatif- kuantitatif, yaitu: (1) two-phase design, (2) dominant-less dominant design, dan (3) mixed method design sequence. Dalam penelitian ini dipilih mixed method design sequence karena metode kuantitatif dan kualitatif digunakan secara terpadu dan saling mendukung. Metode kuantitatif digunakan untuk mengkaji dinamika resiliensi mahasiswa dan keefektifan model konseling kognitif-perilaku dalam meningkatkan resiliensi mahasiswa. Sementara itu, metode kualitatif digunakan untuk mengetahui validitas rasional model hipotetik konseling kognitif-perilaku untuk meningkatkan resiliensi mahasiswa. Pada tataran teknis dilakukan langkah- langkah sebagai berikut: metode analisis deskriptif, metode partisipatif kolaboratif dan metode quasi eksperimen.
Baca lebih lanjut

45 Baca lebih lajut

D BP 0800826 Table of Content

D BP 0800826 Table of Content

Umi Rohmah, 2014 MODEL KONSELING KOGNITIF-PERILAKU UNTUK MENINGKATKAN RESILIENSI MAHASISWA Studi Terhadap Mahasiswa STAIN Ponorogo Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.e[r]

7 Baca lebih lajut

S PPB 0907179 Bibliography

S PPB 0907179 Bibliography

Agustin, M. (2009). Model Konseling Kognitif-Perilaku untuk Menangani Kejenuhan Belajar Mahasiswa (Studi Pengembangan Model Konseling Pada Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia Tahun Akademik 2008/2009). Disertasi Pada Program Studi Bimbingan dan Konseling Sekolah Pascasarjana UPI Bandung: tidak diterbitkan.

6 Baca lebih lajut

S TM 0707343 Bibliography

S TM 0707343 Bibliography

Agustin, Mubiar. (2009). Model Konseling Kognitif-Perilaku Untuk Menangani Kejenuhan Belajar Mahasiswa: Studi pengembangan model konseling pada mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia tahun akademik 2008/2009. UPI Bandung: Tidak Diterbitkan.

2 Baca lebih lajut

T BP 1201563 Bibliography

T BP 1201563 Bibliography

Tajiri, Hajir. (2012). Model konseling kognitif-perilaku untuk meningkatkan kemampuan kontrol diri perilaku seksual remaja: Studi terhadap siswa Madrasah Aliyah Negeri Ciparay dan Madrasah Aliyah Swasta Al- Mukhlisin di Kabupaten Bandung. (Disertasi) Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.

7 Baca lebih lajut

D BK 1201615 Chapter3

D BK 1201615 Chapter3

Tujuan akhir penelitian ini adalah tersusunnya rumusan strategi konseling kelompok kognitif perilaku singkat kognitif perilaku singkat untuk meningkatkan resiliensi remaja terhadap perilaku seksual berisiko. Kerangka isi dan komponen model disusun berdasarkan kajian konsep dan teori resiliensi, kajian konsep konseling, analisis permasalahan resiliensi terhadap perilaku seksual berisiko, dan kajian empiris tentang kondisi aktual layanan bimbingan dan konseling yang terkait dengan resiliensi terhadap perilaku seksual berisiko.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Penggunaan Konseling Kreatif dalam Bingkai Kognitif Perilaku untuk Mengatasi Kejenuhan Belajar Siswa - Universitas Negeri Padang Repository

Penggunaan Konseling Kreatif dalam Bingkai Kognitif Perilaku untuk Mengatasi Kejenuhan Belajar Siswa - Universitas Negeri Padang Repository

Kejenuhan belajar siswa merupakan masalah yang harus segera ditangani dengan baik. Salah satu upaya mengurangi kejenuhan belajar adalah konseling akademik, yaitu upaya membantu klien mengatasi kesulitan belajar, mengembangkan cara belajar efektif agar mampu menyesuaikan diri terhadap semua tuntutan pendidikan (Nurihsan, 2003). Agar kejenuhan belajar siswa dapat ditangani maka diperlukan pendekatan konseling dengan tepat. Guru BK/konselor sudah melaksanakan berbagai macam layanan, namun masih banyak siswa yang mengalami kejenuhan dalam belajar. Melalui pembahasan artikel ini ditawarkan model konseling kreatif, inovatif yang efektif untuk mengatasi kejenuhan belajar yang diprediksi mampu meminimalkan gejala-gejala kejenuhan belajar melalui modifikasi kognitif perilaku.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

TAP.COM -   KESMAS: NATIONAL PUBLIC HEALTH JOURNAL - JOURNAL UI

TAP.COM - KESMAS: NATIONAL PUBLIC HEALTH JOURNAL - JOURNAL UI

(CBT) atau terapi perilaku kognitif yang merupakan salah satu bentuk konseling untuk membantu klien agar menjadi lebih sehat, memperoleh pengalaman yang me- muaskan, dan dapat memenuhi gaya hidup tertentu, dengan memodifikasi pola pikir dan perilaku tertentu. Konseling perilaku kognitif terfokus pada kegiatan me- ngelola dan memonitor pola pikir klien sehingga mengu- rangi pikiran negatif dan mengubah isi pikiran agar diperoleh emosi yang lebih positif yang dilakukan dengan memberikan latihan relaksasi dan edukasi. 7 Teknik relak-

4 Baca lebih lajut

. Efektivitas Pendekatan Konseling Kognitif Perilaku dengan Menggunakan Teknik Self-management Untuk Mengembangkan Perilaku Tidak Konsumtif Peserta Didik : Penelitian Eksperimen Kuasi terhadap peserta didik kelas X SMA Negeri 3 Bandar Lampung Tahun Ajaran

. Efektivitas Pendekatan Konseling Kognitif Perilaku dengan Menggunakan Teknik Self-management Untuk Mengembangkan Perilaku Tidak Konsumtif Peserta Didik : Penelitian Eksperimen Kuasi terhadap peserta didik kelas X SMA Negeri 3 Bandar Lampung Tahun Ajaran

Tambunan (2001, hlm 1) menjelaskan bagi produsen, kelompok usia remaja adalah salah satu pasar yang potensial, remaja menjadi pasar penting bukan hanya karena mereka menguntungkan, tetapi karena pola konsumsi seseorang terbentuk pada usia remaja. Disamping itu, remaja biasanya mudah terbujuk rayuan iklan, suka ikut-ikutan teman, tidak realistis, dan cenderung boros dalam menggunakan uangnya. Sifat-sifat remaja inilah yang dimanfaatkan oleh sebagian produsen untuk memasuki pasar remaja. Remaja cenderung memiliki keinginan untuk tampil menarik. Hal tersebut dilakukan remaja dengan menggunakan busana dan aksesoris, seperti sepatu, tas, jam tangan, dan sebagainya yang dapat menunjang penampilan mereka. Para remaja juga tidak segan-segan untuk membeli barang yang menarik dan mengikuti trend yang sedang berlaku, karena jika tidak mereka akan dianggap kuno, kurang “gaul” dan tidak trend. Akibatnya, para remaja tidak memperhatikan kebutuhannya ketika membeli barang. Hal tersebut senada dengan pendapat Sumartono (2002, hlm 110) secara kasat mata beberapa remaja yang larut dalam pembiusan keadaan hanya sekedar ingin memperoleh legimitasi “modern” atau setidaknya mereka senang apabila stempel “kuno” atau “kuper” (kurang pergaulan) tidak diberikan kepada mereka. Hal itulah yang membuat mereka cenderung membeli barang yang mereka inginkan bukan yang mereka butuhkan secara berlebihan dan tidak wajar. Sikap atau perilaku remaja yang mengkonsumsi barang secara berlebihan dan tidak wajar inilah yang disebut dengan perilaku konsumtif.
Baca lebih lanjut

50 Baca lebih lajut

t bk 0809399 table of content

t bk 0809399 table of content

Proses Konseling dan Perubahan Perilaku KOnseli AO…………..... Konseling Pertama ...[r]

4 Baca lebih lajut

EFEKTIVITAS TEKNIK KONSELING RESTRUKTURISASI KOGNITIF UNTUK MEREDUKSI PERILAKU AGRESIF SISWA : Penelitian Kuasi Eksperimen Terhadap 118 Siswa SMAN 8 Bekasi Tahun Ajaran 2014/2015.

EFEKTIVITAS TEKNIK KONSELING RESTRUKTURISASI KOGNITIF UNTUK MEREDUKSI PERILAKU AGRESIF SISWA : Penelitian Kuasi Eksperimen Terhadap 118 Siswa SMAN 8 Bekasi Tahun Ajaran 2014/2015.

Remaja sering digambarkan sebagai periode storm and drang. Dalam periode ini remaja sering mengalami gejala emosi dan tekanan jiwa sehingga perilaku mereka mudah menyimpang dan menimbulkan perilaku agresif. Perilaku agresif pada remaja terjadi karena banyak faktor yang mempengaruhi, atau memperbesar peluang munculnya, seperti faktor biologis, temperamen yang sulit, dan pengaruh pergaulan yang negatif. Penelitian bertujuan menguji efektivitas restrukturisasi kognitif untuk mereduksi perilaku agresif siswa. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kuantitatif, sedangkan desain penelitian yang digunakan adalah eksperimen kuasi. Sampel penelitian seluruh siswa kelas XI SMA yang berjumlah 118 siswa. Jenis instrumen penelitian yang digunakan adalah inventori berdasarkan teori agresif dari Krahe. Jumlah butir pernyataan yang digunakan sebanyak 66 butir pernyataan dengan lima alternatif pilihan jawaban. Hasil studi menunjukkan sebanyak 30 siswa termasuk dalam kategori agresif dan 88 siswa termasuk dalam kategori tidak agresif. Pemberian intervensi konseling restrukturisasi kognitif sebanyak enam sesi. Hasil uji empirik menunjukkan bahwa konseling restrukturisasi kognitif efektif untuk mereduksi perilaku agresif siswa. Tidak terdapat perbedaan keefektifan dalam aspek dan jenis kelamin dalam perilaku agresif siswa. Rekomendasi untuk guru BK atau konselor sekolah dalam melakukan teknik restrukturisasi kognitif yang perlu diperhatikan adalah proses dinamika perubahan yang dialami dalam diri konseli, terutama dalam proses berfikir konseli sebelum bertindak.
Baca lebih lanjut

47 Baca lebih lajut

Slide PRISOS PRESENTASI [Compatibility Mode]

Slide PRISOS PRESENTASI [Compatibility Mode]

Spesifikasi kasus remaja adiktif yang akan diintervensi dengan menggunakan konseling kognitif-perilaku dengan menggunakan konseling kognitif-perilaku difokuskan pada perilaku sosialnya[r]

32 Baca lebih lajut

Pengaruh Konseling Obat Terhadap Pengetahuan dan Kepatuhan Pasien Congestive Heart Failure

Pengaruh Konseling Obat Terhadap Pengetahuan dan Kepatuhan Pasien Congestive Heart Failure

Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah pemberian konseling obat yang menjadi bagian dari pelayanan kefarmasian (pharmaceutical care) [9,10]. Akan tetapi, hanya sedikit penelitian yang dilaporkan untuk mengevaluasi pengaruh konseling obat terhadap kepatuhan terapi pada pasien CHF [1]. Bertolak pada hal tersebut, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh konseling obat terhadap kepatuhan terapi pasien CHF di IRNA Jantung RSUP DR. M. Djamil Padang.

8 Baca lebih lajut

09 idat muqodas cbt solusi konseling di indonesia

09 idat muqodas cbt solusi konseling di indonesia

CBT tidak melarang konselor untuk mempergunakan teknik lain yang lebih kreatif agar konseling dapat berjalan dengan baik. Prinsip tersebut menunjukan CBT dipengaruhi oleh teknik-teknik atau teori konseling yang sebelumnya telah ada. Artinya munculnya teori CBT bukan berarti mematahkan teori atau teknik yang telah ada bahkan CBT menganggap teknik yang terdahulu dapat dipergunakan untuk melengkapi teknik CBT. Hal ini menunjukan bahwa dalam proses konseling CBT terdapat proses hypnosis, walau Beck (Aladin, 2008: ix) menyebut dirinya tidak melakukan hypnosis. Hypnosis dalam CBT dapat dipergunakan untuk mengdiagnosis proses kognitif yang menyimpang. Selain itu, restrukturisasi kognitif pun dapat mempergunakan teknik hypnotherapy desensitization systematic, dissociation, ideo- sensory, parts therapy. Langkah terakhir yang selalu disebut-sebut dalam CBT yaitu self-help, dapat menggunakan pendekatan self-hypnosis. Inti dari self-help dan self- hypnosis tidaklah berbeda, yaitu untuk memprogram diri konseli agar melakukan sesuatu tindakan yang mendukung proses konseling.
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...