Model PBL

Top PDF Model PBL:

PENERAPAN MODEL PBL PADA PELAJARAN BIOLO

PENERAPAN MODEL PBL PADA PELAJARAN BIOLO

Perencanaan penelitian dilaksanakan bersama-sama oleh dosen dan guru Biologi (guru mitra). Kegiatan yang dilakukan pada bagian ini adalah (1) merencanakan penerapan model PBL untuk mengatasi masalah yang telah diidentifikasi yang dituangkan dalam Silabus dan Rencana Pelajaran (RP), (2) menyusun materi bahan ajar yang berupa suplemen bahan ajar, (3) menyusun LKS yang sesuai dengan penerapan model PBL, (4) menyusun tes tulis mengadaptasi bentuk tes (SOLO) Taxonomy beserta rubrik yang digunakan, tes unjuk kerja (performance assessment), dan menyusun tes sikap yang mengadaptasi dari Enger and Yager (2001), (5) merencanakan teknik pengumpulan data, dan (6) melatih guru dalam menerapkan pembelajaran, yaitu pembelajaran model PBL dan menerapkan asesmen yang digunakan.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

PENERAPAN MODEL PBL PROBLEM BASED LEARNI

PENERAPAN MODEL PBL PROBLEM BASED LEARNI

Berdasarkan pengamatan dari tiap siklus, penggunaan model PBL pada saat pembelajaran semakin me- ningkat. Keterampilan peneliti dalam setiap pembelajaran semakin baik. Hal ini dapat dilihat dari skor yang diper- oleh yaitu dari 18 pada siklus I, 22 pada siklus II, dan 27 pada siklus III. Secara keseluruhan sudah baik, namun perlu peningkatan dalam membimbing siswa saat melakukan penelitian, mem- bimbing siswa dalam menarik kesim- pulan, dan membimbing siswa dalam merumuskan hipotesis.

6 Baca lebih lajut

T1__BAB IV Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Peningkatan Keterampilan Generik Sains dan Hasil Belajar Kognitif Melalui Model PBL Materi Sistem Gerak Manusia Siswa Kelas XI IPA 1 SMA Kartika III1 Banyubiru T1  BAB IV

T1__BAB IV Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Peningkatan Keterampilan Generik Sains dan Hasil Belajar Kognitif Melalui Model PBL Materi Sistem Gerak Manusia Siswa Kelas XI IPA 1 SMA Kartika III1 Banyubiru T1 BAB IV

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran PBL dapat meningkatkan keterampilan generik sains dan hasil belajar kognitif siswa kelas XI IPA 1 SMA Kartika III-1 Banyubiru. Peningkatan keterampilan generik sains siswa dapat dilihat dari rerata pada setiap siklusnya, pada siklus I sebesar 3,62 (baik), siklus II sebesar 3,78 (baik), dan siklus III sebesar 3,68 (baik). Peningkatan nilai kognitif dapat dilihat dari rerata pada setiap siklusnya, pada siklus I sebesar 70,27, siklus II sebesar 81,87, dan siklus III sebesar 94,90. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa model pembelajaran PBL sudah terlaksana 100% pada siklus I pembelajaran dengan model PBL memiliki kualitas cukup, pada siklus II memiliki kualitas baik, dan pada siklus III memiliki kualitas sangat baik. dengan model PBL ini siswa menjadi lebih aktif untuk melakukan pembelajaran dan juga dapat melatih siswa berfikir untuk memecahkan masalah dan memberikan solusi dari permasalahan yang terjadi pada kehidupan nyata.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Penerapan Model PBL Menggunakan Alat Per

Penerapan Model PBL Menggunakan Alat Per

Rendahnya hasil belajar peserta didik SMK Negeri 2 Manokwari pada mata pelajaran fisika diakibatkan oleh beberapa hal yaitu kegiatan pembeajaran yang berorientasi pada pendidik seperti menggunakan metode ceramah dan latihan soal sehingga peserta didik kurang terlibat aktif dalam pembelajaran. Pendidik juga kurang memanfaatkan alat peraga sebagai sarana pembelajaran sehingga peserta didik sulit untuk memahami konsep dan teori fisika. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur perbedaan yang signifikan antara hasil belajar sebelum dan setelah diterapkan model PBL menggunakan alat peraga sederhana. Penelitian kuasi eksperimen ini menggunakan Time Series Design. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling dengan melibatkan kelas X TKJ B. Pada penelitian ini peneliti membandingkan hasil belajar pretest dan postest. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pretest sebesar 23,72 ± SD 22,11 kategori sangat kurang sedangkan posttest sebesar 43,91 ± SD 24,14 kategori cukup, hal ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran PBL menggunakan alat peraga sederhana lebih meningkatkan hasil belajar peserta didik SMK Negeri 2 Manokwari. Sejalan dengan hasil pengolahan data menggunakan Paired sample t-test, dengan taraf signifikan α = 5% diperoleh t hitung
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Dopplet   Model PBL

Dopplet Model PBL

Piaget (1969) described the pupil as a scientist who tries to understand the world through meaningful learning as an activity of constructing ideas and not as a process of memorizing information. Nevertheless, schools continue to test pupils on their ability to recall memorized procedures and information. Schools continue to examine skills that are the least impor- tant to life (Sternberg 1998). Learning is a process of constructing knowledge in the pupil’s mind. Creating an engineering prototype such as in this study, in real world situations supports the constructionist theory (Papert 1991). Project-based learning has a nature of exploring new areas, discovering new scientific issues and integrating knowledge from different subjects (Barak & Raz 1998; Barak & Doppelt 2000). Computerized tech- nological systems provide a rich learning environment and expose the learner to a variety of representations and configurations, such as: true model, simulation, building models that represent formulas, algorithms, graphics and animation. One of the better-known examples of such a rich computerized learning environment is the LEGO-Logo system (Kromholtz 1998; Jarvinen 1998; Jarvela 1995). Resnick and Ocko (1991) state that this learning environment puts children in control since they formulate their own designs and experiments, and work on projects that they care about personally, instead of recreating someone else’s experiment. Project based learning in technology encourages students to work in teams (Barak & Maymon 1998; Denton 1994). In this way, students combine ‘hands-on’ activities with what Papert (1980) has termed ‘heads-in’ activities. Learning environments such as LEGO/Logo enable the construction of concepts in the learner’s mind (Resnick & Ocko 1991). When pupils create projects, they experience meaningful study that enables the exercising of sophisti- cated ideas that arise from their own projects (Doppelt & Barak 2002). Experiencing learning within a high-tech modern engineering environment contributes to the pupils’ self-image and their motivation to succeed in their studies (Barak et al. 1997).
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING PADA SUB MATERI TATA NAMA SENYAWA HIDROKARBON TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA KELAS XI MIA SMA NEGERI 1 PEMANGKAT

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING PADA SUB MATERI TATA NAMA SENYAWA HIDROKARBON TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA KELAS XI MIA SMA NEGERI 1 PEMANGKAT

Hasil penelitian Wasonowati (2014) menyatakan bahwa hasil belajar siswa pada ranah pengetahuan pada materi Hukum-hukum Dasar Kimia dengan model pembelajaran PBL dilengkapi dengan LKS dikategorikan baik dengan rata-rata nilai 81. Persentase hasil belajar siswa pada ranah pengetahuan dengan model PBL dilengkapi dengan LKS mencapai 78%. Hasil dari peneliti tersebut terdapat perbedaan hasil dari penelitian sebelumnya. Pengaruh model pembelajaran PBL pada materi Tata Nama Senyawa Hidrokarbon dengan nilai rata-rata 88,31. Persentase belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran PBL yaitu 86,1%. Hasil penelitian sebelumnya dan hasil dari peneliti dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan model pembelajaran PBL dapat dikategorikan baik karena memperoleh persentase yang tinggi. Hasil penelitian Sitindaon (2015) tentang efektivitas model pembelajaran PBL dan pembelajaran Kooperatif untuk meningkatkan prestasi belajar siswa SMA pada pengajaran kelarutan dan hasil kelarutan. PBL ternyata dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dalam materi kelarutan hasil kali kelarutan. Dapat diketahui melalui hasil penelitian menunjukkan perbandingan prestasi belajar siswa kelas eksperimen lebih tinggi prestasi belajar siswa dengan menggunakan metode konvensional dan kedua kelas berbeda signifikan (t hitung 9 , 87 > t tabel 1,7). Hal ini dapat disimpulkan bahwa
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

EKSPERIMENTASI MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING (PBL) DENGAN MIND MAPPING DITINJAU DARI GAYA BELAJAR PADA MATERI OPERASI ALJABAR SISWA KELAS VIII SMP NEGERI DI KABUPATEN SRAGEN TAHUN PELAJARAN 2014 2015 | Primasari | 9133 19442 1 SM

EKSPERIMENTASI MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING (PBL) DENGAN MIND MAPPING DITINJAU DARI GAYA BELAJAR PADA MATERI OPERASI ALJABAR SISWA KELAS VIII SMP NEGERI DI KABUPATEN SRAGEN TAHUN PELAJARAN 2014 2015 | Primasari | 9133 19442 1 SM

komparasi ganda antar sel. Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa dapat disimpulkan bahwa dilihat dari masing-masing tipe gaya belajar, model pembelajaran PBL dengan Mind Mapping menghasilkan prestasi belajar lebih baik dibandingkan model pembelajaran PBL dan klasikal, serta model pembelajaran PBL menghasilkan prestasi belajar lebih baik dibandingkan model pembelajaran klasikal. Terdapat perbedaan hasil penelitian dengan hipotesis penelitian yang menyatakan bahwa pada masing-masing tipe gaya belajar, pembelajaran menggunakan model PBL dengan Mind Mapping memberikan prestasi belajar matematika yang sama baiknya dengan menggunakan model PBL dan pembelajaran klasikal, pembelajaran menggunakan model PBL memberikan prestasi belajar matematika yang sama baiknya dengan model pembelajaran klasikal. Hasil ini juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Zainal Arifin (2013) yang memberikan hasil bahwa tidak terdapat interaksi antara model pembelajaran dan gaya belajar siswa terhadap prestasi belajar matematika. Hal ini diduga : (1) Pada pembelajaran model PBL dengan Mind Mapping , model PBL, maupun model klasikal terjadi adanya diskusi di kelas dalam menyelesaikan soal operasi aljabar. (2) Pada umumnya siswa cenderung mempunyai pemahaman konsep yang sama tentang materi operasi aljabar khususnya operasi penjumlahan dan perkalian aljabar. Oleh karena itu, meskipun siswa memiliki gaya belajar yang berbeda, namun mereka memiliki pemahaman yang cenderung sama tentang operasi aljabar.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PENGARUH PROBLEM BASED LEARNING DISERTAI PETA KONSEP TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN AFEKTIF PESERTA DIDIK KELAS X SMA (Quasi Eksperimen pada Peserta Didik Kelas X MIA Semester 1 SMA Negeri 1 Seputih Agung Tahun Ajaran 2018/2019) - Raden Intan Repo

PENGARUH PROBLEM BASED LEARNING DISERTAI PETA KONSEP TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN AFEKTIF PESERTA DIDIK KELAS X SMA (Quasi Eksperimen pada Peserta Didik Kelas X MIA Semester 1 SMA Negeri 1 Seputih Agung Tahun Ajaran 2018/2019) - Raden Intan Repo

Beberapa penelitian menunjukan mengenai model pembelajaran PBL diantaranya adalah penelitian yang dilakukan oleh Heni Purwaningsih mengenai penggunaan peta konsep pada model PBL dapat mempengaruhi metakognisi peserta didik dikelas IX SMP 15 Yogyakarta yang menunjukan bahwa kontribusi nilai yang diperoleh sebesar 47,8%. 13 Pada penelitian Ery Fitriani mengenai efektifitas penggunaan peta konsep dalam meningkatkan hasil belajar matematika peserta didik pada materi suku banyak kelas X MA Negeri Kendal Semarang menunjukan bahwa rata-rata hasil belajar peserta didik yang menggunakan pembelajaran ekspositori (kelas kontrol) yaitu sebesar 61,55% dan rata-rata yang diperoleh peserta didik pada kelas eksperimen yaitu sebesar 72,74%. 14 Pada penelitian Devi Diyas Sari kemampuan berpikir kritis peserta didik dikelas VII SMP Negeri 5 Sleman dapat ditingkatkan melalui penerapan model PBL. Peningkatan kemampuan berpikir kritis dari hasil klarifikasi masalah dari nilai 83% menjadi 85%. 15 Dan pada penelitian U. Setyorini, S.E, Model PBL mengajak peserta didik agar mampu melatih kemampuan siswa dalam memecahkan masalah sehingga dapatmeningkatkan kemampuan berpikir kritis peseta didik. Data penelitian berupa kemampuan berpikir kritis siswa diambil dengan teknik tes dan praktikum, dengan tes diperoleh hasil 75% siswa memiliki kemampuan berpikir kritis
Baca lebih lanjut

110 Baca lebih lajut

T PD 1303022 Chapter 5

T PD 1303022 Chapter 5

Penerapan model Problem Based Learning (PBL) dalam pembelajaran IPS di sekolah dasar dapat dikatakan baik, karena dengan menggunakan model PBL siswa menjadi lebih mengenal dan memahami keadaan di sekitar mereka, siswa akan terus menggali rasa ingin tahu mengenai masalah di sekitar mereka, siswa akan terlatih untuk lebih akurat dalam hal mengambil keputusan serta memecahkan masalah kehidupan sehari-hari mereka yang berkaitan dengan masalah global.

3 Baca lebih lajut

PENGEMBANGAN KEMAMPUAN BERPIKIR FORMAL S (1)

PENGEMBANGAN KEMAMPUAN BERPIKIR FORMAL S (1)

Gambaran tentang profil kemampuan berpikir formal seperti yang disajikan pada tabel 03 menunjukkan bahwa PBL lebih efektif daripada LCM dan jauh lebih efktif daripada MPK serta model LCM lebih efektif daripada MPK dalam mengembangkan kemampuan berpikir formal siswa. Proses pembelajaran Fisika yang diawali dengan penyajian masalah dan dilanjutkan dengan analisis masalah oleh siswa dalam kelompok-kelompok kecil sampai pada penemuan konsep, ataupun prinsip Fisika untuk memecahkan masalah merupakan wahana yang sangat baik dalam mengasah dan melatih kemampuan berpikir tingkat tinggi, termasuk kemampuan berpikir formal. Di sisi lain, pembelajaran Fisika dengan model LCM yang kegiatan utamanya adalah melakukan eksperimen memberi peluang yang banyak kepada siswa untuk merancang eksperimen, mengendalikan variabel, merumuskan hipotesis, menganalisis data, dan mengambil kesimpulan melalui proses induktif. Peluang-peluang tersebut juga ada pada model PBL. Jika proses pembelajaran berlangsung melalui model konvensional (ekspositori), kesempatan siswa untuk mengasah dan melatih kemampuan penalaran formalnya sangat rendah. Kondisi itulah yang menyebabkan adanya perbedaan yang tajam antara model PBL dan LCM dengan model konvensional (MPK) dalam pengembangan kemampuan berpikir formal siswa.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

t ipa 1007147 chapter1

t ipa 1007147 chapter1

dalam pembelajaran berbasis masalah siswa dihadapkan pada masalah yang harus dipecahkan melalui bimbingan guru. Khoirumas (2012) juga mengungkapkan bahwa model PBL sangat efektif untuk mengembangkan berpikir tingkat tinggi. Pembelajaran ini membantu siswa untuk memproses informasi yang sudah jadi dalam benaknya dan menyusun pengetahuan mereka sendiri tentang dunia sosial dan sekitarnya. Penelitian yang dilakukan oleh Aryana (2007) menunjukkan bahwa model PBL dapat: (1) meningkatkan pemahaman konsep Biologi siswa, (2) meningkatkan kemampuan memecahkan masalah Biologi, (3) meningkatkan kemampuan menerapkan konsep-konsep Biologi, (4) meningkatkan sikap positif siswa terhadap pelajaran Biologi, dan (5) meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

EFEKTIVITAS PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA ( Studi pada Siswa Kelas VII Semester Genap SMP Negeri 2 Way Seputih Tahun Pelajaran 2014/2015)

EFEKTIVITAS PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA ( Studi pada Siswa Kelas VII Semester Genap SMP Negeri 2 Way Seputih Tahun Pelajaran 2014/2015)

Penelitian eksperimen semu ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penerapan model problem based learning ditinjau dari kemampuan pemahaman konsep matematis siswa. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 2 Way Seputih Tahun Pelajaran 2014/2015 yang terdiri dari enam kelas. Sampel dipilih menggunakan teknik purposive random sampling. Desain yang digunakan adalah pretest – postest control design. Berdasarkan analisis data, diperoleh kesimpulan bahwa rata-rata skor gain pemahaman konsep matematis siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model PBL lebih tinggi daripada model pembelajaran konvensional, dan persentase siswa tuntas belajar pada kelas yang menggunakan model PBL mencapai 64%. Hal ini dapat disimpulkan bahwa model PBL tidak efektif terhadap kemampuan pemahaman konsep matematis siswa tetapi lebih efektif dibandingkan dengan pembelajaran konvensional.
Baca lebih lanjut

70 Baca lebih lajut

EKSPERIMENTASI MODEL PEMBELAJARAN PBL DAN GI PADA MATERI RELASI DAN FUNGSI DITINJAU DARI KECERDASAN INTRAPERSONAL SISWA KELAS VIII SE-KABUPATEN BOYOLALI | Nugroho | Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika 10817 22745 1 SM

EKSPERIMENTASI MODEL PEMBELAJARAN PBL DAN GI PADA MATERI RELASI DAN FUNGSI DITINJAU DARI KECERDASAN INTRAPERSONAL SISWA KELAS VIII SE-KABUPATEN BOYOLALI | Nugroho | Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika 10817 22745 1 SM

Berdasarkan Tabel 4 diperoleh nilai sebesar 0,54 kurang dari 0,05;24;287 = 2,37 sehingga 0 diterima. Hal ini berarti bahwa tidak ada interaksi antara model pembelajaran dan kecerdasan intrapersonal siswa terhadap prestasi belajar siswa. Hal ini berarti bahwa pada masing-masing model pembelajaran siswa yang memiliki tingkat kecerdasan intrapersonal tinggi lebih baik dari prestasi belajar siswa dengan tingkat kecerdasan intrapersonal sedang dan rendah, serta prestasi belajar siswa dengan tingkat kecerdasan intrapersonal sedang lebih baik dari prestasi belajar siswa dengan tingkat kecerdasan intrapersonal rendah. Hal ini dikarenakan pada setiap model pembelajaran siswa perlu melakukan refleksi pada apa yang telah dipelajari serta apa yang belum dipahami. Sehingga pada masing-masing model semakin tinggi tingkat kecerdasan intrapersonal siswa maka semakin tinggi prestasi belajar siswa. Selain itu pada setiap tingkat kecerdasan intrapersonal prestasi belajar siswa dengan model pembelajaran PBL memiliki rataan yang sama dengan siswa dengan pembelajaran menggunakan model GI, prestasi belajar siswa dengan model pembelajaran PBL lebih baik dari prestasi belajar siswa dengan model pembelajaran Langsung, serta prestasi belajar siswa dengan model pembelajaran GI lebih baik dari prestasi belajar siswa dengan model pembelajaran Langsung. Hal ini dikarenakan karakteristik pada model PBL dan GI memiliki beberapa kesamaan serta dipengaruhi oleh kelemahan serta kelebihan pada masing- masing model. Serta model pembelajaran PBL dan GI memiliki karakteristik yang sberbeda dengan model pembelajaran langsung. Sehingga pada setiap tingkat kecerdasan intrapersonal, prestasi siswa dengan model pembelajaran PBL dan GI lebih baik dari prestasi belajar siswa dengan model pembelajaran Langsung.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING DIPADUKAN MEDIA FLASHCARD TERHADAP KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS PADA MATA PELAJARAN IPA KELAS VIII SMPMTs Skripsi Diajukan untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Syarat-Syarat Guna Memperoleh Gelar Sar

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING DIPADUKAN MEDIA FLASHCARD TERHADAP KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS PADA MATA PELAJARAN IPA KELAS VIII SMPMTs Skripsi Diajukan untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Syarat-Syarat Guna Memperoleh Gelar Sar

Melatih berpikir kritis peserta didik merupakan suatu hal yang baik untuk diterapkan. Karena hal tersebut dapat memicu peserta didik untuk mengasah pola berpikirnya yang imajinatif. Pelaksanaan model PBL dengan tahapannya dapat melatih komponen-komponen berpikir kritis, terutama pada tahap memberikan orientasi permasalahan di mana peserta didik akan dilatih dalam hal bertanya dan menjawab pertanyaan, serta pada tahap membantu investigasi kelompok, peserta didik akan belajar dalam mengidentifikasi asumsi dan tahap menganalisis dan mengevaluasi proses mengatasi masalah, anak didik akan belajar menganalisis masalah dan menentukan suatu tindakan. Di samping itu, model PBL memiliki ciri untuk melatih peserta didik berpikir kritis dan dapat meningkatkan pengetahuannya serta bertanggung jawab dalam kelompok. 1 Sedangkan,
Baca lebih lanjut

196 Baca lebih lajut

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING BERBASIS KONSTRUKTIVISME UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP SISWA KELAS VII

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING BERBASIS KONSTRUKTIVISME UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP SISWA KELAS VII

Pada kenyataanya masih terdapat beberapa permasalahan yang muncul dalam pembelajaran sains pada satuan pendidikan tertentu. Secara umum guru sains fisika cenderung menggunakan model ceramah dan diskusi kelompok biasa. Pembelajaran yang kurang melibatkan siswa secara aktif menyebabkan kurang seimbangnya kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik siswa. Sebagian besar dari peserta didik juga tidak mampu menghubungkan antara apa yang dipelajari dengan bagaimana pengetahuan tersebut akan dimanfaatkan atau dipergunakan. Tentu saja hal tersebut cenderung membuat siswa terbiasa menggunakan sebagian kecil saja dari potensi atau kemampuan pikirnya dan menjadikan siswa malas untuk berpikir serta terbiasa malas berpikir mandiri.
Baca lebih lanjut

205 Baca lebih lajut

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PBL DAN MOTI (1)

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PBL DAN MOTI (1)

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya : interaksi antara model PBL (Problem Based Learning) dan motivasi terhadap hasil belajar kimia siswa, interaksi antara model DI (Direct Instruction) dan motivasi terhadap hasil belajar kimia siswa, korelasi yang signifikan antara motivasi dan hasil belajar kimia siswa. Motivasi dalam penelitian ini dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu motivasi belajar siswa yang tinggi dan motivasi belajar siswa yang rendah.

1 Baca lebih lajut

KONTRIBUSI PBL DAN DL TERHADAP KEMANDIRIAN BELAJARDITINJAU DARI ALAT PEMBELAJARAN  Contributions Learning Strategy Problem Based Learning and Discovery Learning Independence Against Children Seen From Availability Equipment Biology Education Class X SMAN

KONTRIBUSI PBL DAN DL TERHADAP KEMANDIRIAN BELAJARDITINJAU DARI ALAT PEMBELAJARAN Contributions Learning Strategy Problem Based Learning and Discovery Learning Independence Against Children Seen From Availability Equipment Biology Education Class X SMAN

The objectives of this study was to test: 1) the difference of students’ independent between Problem Based Learning and Discovery Learning. 2) the difference of learning activity between the well-equiped and not-well-equiped in learning Biology. 3) The interaction between the using of learning strategy with the study independent and the learning equipment availability. This study was experimental study. The variable of this study were dependent variable which was learning activity, the independent variable which were the PBL and the DL, and the moderator variable was the learning equipment availability. The population of this study was all of the students of grade X in SMA N 2 Salatiga in number of 308 students. The sample of this study were grade X1 of 35 students and grade X3 of 35 students which were choosen by using cluster random sampling. The data collection was using questionair and the data analysis was using T-Test. Based on the study, the result showed that: 1) the PBL gave a better influence than the DL toward the students’ independent in learning activity, where the average result of the PBL, 88,400 higher than the average result of the DL which was 81,0286. 2) the students with well-equiped tool gave better influence than those with not-well-equped tools toward the students’ learning independent where the average result of the PBL equipment availability 88,7143 higher than the DL equipment availability which was 79,48 57. 3) The learning strategy and the availability of the equipment has the influence interaction that very significant toward the learning independent.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

PENGARUH MODEL PROBLEM BASED-LEARNING (PBL) DENGAN T EKNIK PROBING TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SISWA SMP - repository perpustakaan

PENGARUH MODEL PROBLEM BASED-LEARNING (PBL) DENGAN T EKNIK PROBING TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SISWA SMP - repository perpustakaan

Aktifitas observasi (mengamati, mengukur, mencatat data), menjawab pertanyaan, dan mengajukan pertanyaan atau sanggahan dalam teknik probing juga memerlukan persiapan dan waktu yang banyak dan peserta didik pada kelas rendah akan susah dalam menjalankan teknik ini. Jadi dapat disimpulkan bahwa model PBL dengan teknik probing memiliki beberapa kelemahan, antara lain memiliki kelemahan terutama dalam masalah waktu yang lama dalam hal persiapan, perlunya motivasi kuat dari peserta didik untuk mempelajari masalah yang ada dalam materi pembelajaran, dan tidak semua materi dalam pelajaran matematika dapat menggunakan model ini.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

6. BAB IIsdf

6. BAB IIsdf

Berdasarkan dari beberapa uraian mengenai definisi PBL dapat disimpukan bahwa PBL merupakan model pembelajaran yang mendorong mahasiswa untuk lebih aktif dan memaksimalkan kemampuan berpikir kritis untuk mendapatkan solusi dari masalah pada dunia nyata. Dengan kurikulum PBL, dapat membuat mahasiswa mahir dalam memecahkan dan mengambil solusi dari suatu masalah, dalam kurikulumnya juga dirancang masalah-masalah yang memotivasi mahasiswa untuk mendapatkan pengetahuan yang penting sehingga mahasiswa memiliki strategi belajar sendiri serta kecakapan berpartisipasi dalam kelompok diskusi. Proses pembelajarannya menggunakan pendekatan yang sistemik untuk memecahkan masalah atau tantangan yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari (Amir, 2009).
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

ANGKET RESPON SISWA TERHADAP PEMBELAJARA

ANGKET RESPON SISWA TERHADAP PEMBELAJARA

Angket ini diajukan oleh peneliti yang saat ini sedang melakukan penelitian mengenai respon siswa terhadap pembelajaran menggunakan model PBL. Demi tercapainya hasil yang diinginkan, dimohon kesediaan adik-adik untuk berpartisipasi dengan mengisi angket ini secara lengkap. Perlu saya informasikan bahwa tidak ada yang dinilai benar atau salah, pilih sesuai dengan apa yang anda ketahui atau rasakan. Akhir kata saya ucapkan banyak terima kasih atas perkenan adik-adik berpartisipasi dalam survey ini.

2 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...