Model Pembelajaran Konstruktivistik

Top PDF Model Pembelajaran Konstruktivistik:

PELAKSANAAN MODEL PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISTIK DALAM KURIKULUM 2013 DI SD MUHAMMADIYAH CONDONGCATUR.

PELAKSANAAN MODEL PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISTIK DALAM KURIKULUM 2013 DI SD MUHAMMADIYAH CONDONGCATUR.

maupun struktural. Seperti halnya, tidak semua pendidik menerima pelaksanaan Kurikulum 2013. Banyak wali murid yang mendapat keluhan dari anaknya sehingga meminta sekolah untuk kembali ke kurikulum sebelumnya. Sarana prasarana di sekolah yang belum mewadahi sepenuhnya pelaksanaan pembelajaran Kurikulum 2013. Dari segi proses pembelajaran juga terdapat beberapa kendala, seperti pemahaman pendidik tentang konsep pembelajaran Kurikulum 2013 yaitu dengan model pembelajaran konstruktivistik belum semua menguasai. Kurangnya persiapan pendidik dalam mengajar. Kultur pembelajaran belum sepenuhnya mencerminkan budaya student centered learning. Karakteristik peserta didik yang tidak semua aktif bertanya, bereksperimen, atau melakukan tindakan. Pelaksanaan penilaian autentik dengan segala formatnya dirasa rumit sehingga menjadikan pendidik pasrah. Media dan fasiltias pembelajaran yang belum mendukung. Selain itu juga belum adanya data atau penelitian yang menunjukan baik tidaknya pendidik di SD Muhammadiyah Condongcatur dalam melaksanakan proses pembelajaran Kurikulum 2013.
Baca lebih lanjut

272 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISTIK PADA MATA PELAJARAN FIQIH MATERI MU’AMALAH UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA DI MA AL-IKHLAS TLOGOWUNGU PATI TAHUN AJARAN 2016/2017 - STAIN Kudus Repository

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISTIK PADA MATA PELAJARAN FIQIH MATERI MU’AMALAH UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA DI MA AL-IKHLAS TLOGOWUNGU PATI TAHUN AJARAN 2016/2017 - STAIN Kudus Repository

Dari berbagai pernyataan diatas dapat diketahui bahwa pembelajaran Pendidikan Agama Islam sangat berperan penting dalam pembentukan karakteristik siswa agar sesuai dengan rumusan tujuan yang ditetapkan. Diharapkan pembelajaran PAI mampu membentuk peserta didik yang aktif dalam membangun pengetahuannya sendiri melalui pengalaman nyata atau realitas dari lapangan. Maka dari itu penulis ingin melakukan penelitian tentang penerapan model pembelajaran konstruktivistik pada mata pelajaran fiqih materi mu’amalah yang

7 Baca lebih lajut

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISTIK DENGAN PENDEKATAN SIKLUS BELAJAR DALAM PEMBELAJARAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL :Studi Peningkatan Pemahaman Materi IPS dan Keterampilan Berpikir Peserta Didik Kelas Awal MTs Negeri Model dan MTs Al Hikmah 2 Kabup

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISTIK DENGAN PENDEKATAN SIKLUS BELAJAR DALAM PEMBELAJARAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL :Studi Peningkatan Pemahaman Materi IPS dan Keterampilan Berpikir Peserta Didik Kelas Awal MTs Negeri Model dan MTs Al Hikmah 2 Kabup

Pada tahap studi pendahuluan ini penulis melakukan penelaahan kepustakaan dan observasi awal. Penelaahan kepustakaan dimaksudkan untuk mengkaji dan memperoleh penjelasan teoretik mengenai model pembelajaran konstruktivistik berpendekatan siklus belajar. Sedangkan observasi awal bertujuan untuk mengidentifikasi aspek-aspek model pembelajaran yang selama ini diterapkan oleh guru IPS di MTs yang diteliti, aktivitas peserta didik dalam proses pembelajaran, dan kinerja guru dalam pembelajaran, pendayagunaan sumber dan bahan ajar, serta evaluasi pembelajaran. Hasil observasi awal ini penulis gunakan sebagai bahan pengembangan model konstruktivistik berpendekatan siklus belajar dalam pembelajaran IPS di MTs yang diteliti.
Baca lebih lanjut

33 Baca lebih lajut

peningkatan hasil belajar ips melalui model konstruktivistik berbantuan media pembelajaran yusri dan

peningkatan hasil belajar ips melalui model konstruktivistik berbantuan media pembelajaran yusri dan

Tujuan penelitian ini adalah untuk mening- katkan hasil belajar IPS pada Standar Kompetensi 3.Memahami masalah penyimpangan sosial. Kompetensi Dasar 3.1 Mengidentiikasi berbagai penyakit sosial (miras, judi, narkoba, HIV/Aids, PSK, dan sebagainya) sebagai akibat penyim- pangan sosial dalam keluarga dan masyarakat dan Kompetensi Dasar 3.2 Mengidentiikasi ber - bagai usaha pencegahan penyimpangan sosial dalam keluarga dan masyarakat. Materi disesuai- kan dengan program semester, alasan lain adalah maraknya isu perilaku menyimpang pada siswa SMP khususnya dan masyarakat pada umumnya. Melalui media masa maupun media elektronika para siswa terbiasa disuguhi berbagai tayangan kekerasan dan perilaku menyimpang. Setelah proses pembelajaran melalui penerapan model pembelajaran konstruktivistik berbantuan media selesai siswa diharapkan mampu untuk meng- hindari perilaku menyimpang dan atau tindak kekerasan serta mampu meningkat hasil bela- jarnya. KKM yang ditetapkan untuk mata pela- jaran IPS di SMP Negeri 1 Sentolo adalah 75, setelah diterapkannya model konstrutivistik ber- bantuan media siswa yang tuntas secara individu mencapai ≥75% dan mencapai ketuntasan klak - sikal ≥75%.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah - FILE 4 BAB I

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah - FILE 4 BAB I

Berdasarkan pada judul skripsi ini yang membahas tentang Implementasi Model Pembelajaran Konstruktivistik dan berbasis Pengalaman (Experiental Learning) dalam Meningkatkan Kemandirian Belajar Peserta Didik pada Mata Pelajaran Akidah Akhlak di MTs Bandar Alim Jungpasir Wedung Demak. Yang menjadi sorotan aktifitas adalah bagaimana upaya guru Akidah Akhlak dalam menerapkan strategi tersebut kepada peserta didik sehingga peserta didik mampu meningkatkan kemandirian dalam belajar melalui pengalaman yang diperoleh peserta didik dari kehidupan sehari-hari.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Model Konstruktivistik Pada Pembelajaran. pdf

Model Konstruktivistik Pada Pembelajaran. pdf

Konstruktivistik memandang belajar sebagai proses aktif pelajar (siswa) mengkonstruksi arti baik dalam bentuk teks, dialog, pengalaman fisi ataupun bentuk lainnya (Sukiman, 2008). Model pembelajaran konstruktivistik lebih menekankan pada proses dan kebebasan dalam menggali pengetahuan serta upaya dalam mengkonstruksi pengalaman atau dengan kata lain teori ini memberikan keaktifan terhadap siswa untuk belajar menemukan sendiri kompetensi, pengetahuan atau teknologi, dan hal lain yang diperlukan guna mengembangkan dirinya sendiri. Konstruktivistik pada proses pembelajaran memberi kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan gagasannya dengan bahasa sendiri, berfikir tentang pengalamannya
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Helma kosntruk Jurnal Al Falah

Helma kosntruk Jurnal Al Falah

Pendidikan mendapatkan tantangan berat dalam tanggung jawabnya terhadap pencegahan permasalahan sosial seperti di atas. Menghadapi problem tersebut pendidikan seharusnya berperan aktif dalam mengaitkan pelajaran dengan realitas yang ada di dalam kehidupan siswa. Salah satu pendekatan pembelajaran yang mampu untuk merangkum berbagai permasalahan sosial dalam upaya memahamkan siswa terhadap hal tersebut dapat ditempuh melalui model pembelajaran konstruktivistik. Dari sini siswa dapat mengaitkan pengalaman dan pengetahuannya dan mengaitkannya dengan pembelajaran di sekolah. Siswa akan mampu untuk melihat dan memahami realitas, mengembangkan kemampuan berpikir dan melibatkan perasaan yang memotivasi mereka untuk berbuat sesuatu yang konkrit. Hal ini dikarenakan melalui pembelajaran konstruktivistik, siswa membingkai ulang realitas yang bermakna bagi diri mereka. Lewat model pembelajaran konstruktivistik siswa belajar untuk peka terhadap permasalahan, mengembangkan kemampuan berpikir, membentuk sikap dan melatih keterampilan hidup.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

KONSTRUKTIVISTIK DAN PEMBELAJARAN Berdas (1)

KONSTRUKTIVISTIK DAN PEMBELAJARAN Berdas (1)

Pendidikan yang berkembang saat ini dikembangkan berdasarkan pada hasil penelitian-penelitian para ahli yang terdahulu. Tak dapat dipungkiri bahwa proses dan penyelenggaraan pendidikan haruslah selalu berkembang. Hal ini dimaksudkan agar tercipta manusia-manusia yang memiliki tingkat intelektual lebih tinggi dari pada sebelumnya. Meskipun paradigma pembelajaran kontruktivistik telah dikenal sejak tahun 1710, tetapi pada kenyataannya pradigma pembelajaran yang dikembangkan di sekolah lebih didominasi oleh pembelajaran behavioristik. Atas dasar beberapa kajian ternyata model behavioristik memiliki beberapa kelemahan antara lain terlalu mekanistik dan kurang mampu mengembangkan potensi siswa secara optimal. Sehingga sebagai jawaban atas kelemahan tersebut maka diskusi dan kajian model pembelajaran konstruktivistik menjadi makin marak karena dianggap lebih baik daripada model behavioristik dalam mengembangkan potensi yang dimiliki oleh peserta didik.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

TAPPDF.COM  PDF DOWNLOAD 47 PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN  DENGAN ... 1 SM

TAPPDF.COM PDF DOWNLOAD 47 PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN DENGAN ... 1 SM

Penelitian yang dilakukan oleh Sadia (1996) menunjukkan bahwa pembelajaran dengan model konstruktivistik sangat efektif untuk meningkatkan kemampuan berpikir formal peserta didik SLTP dalam pembelajaran IPS, serta secara signifikan dapat meningkatkan prestasi belajar yang dicapai oleh peserta didik. Temuan penelitian terdahulu dan pandangan teoretik sebagaimana yang diuraikan di atas menegaskan bahwa model konstruktivistik dapat dijadikan alternatif pemecahan masalah rendahnya kualitas hasil pembelajaran IPS pada jenjang MTs. Dibandingkan dengan model konvensional, model pembelajaran konstruktivistik cukup teruji efektivitasnya dalam meningkatkan perolehan belajar peserta didik. Berpijak pada beberapa keunggulan tersebut, penelitian ini diarahkan pada penemuan dan pengembangan model konstruktivistik yang efektif dalam pembelajaran IPS bagi peserta didik kelas awal MTs. Oleh karena itu perlu penelitian lebih lanjut untuk mengetahui efektivitas model pembelajaran konstruktivistik berpendekatan siklus belajar untuk meningkatkan pemahaman materi dan keterampilan berpikir peserta didik dalam pembelajaran IPS di MTs.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Harmonisasi model konstruktivistik dan model teknokratis dalam pengembangan kawasan konservasi laut di Indonesia

Harmonisasi model konstruktivistik dan model teknokratis dalam pengembangan kawasan konservasi laut di Indonesia

Pengembangan MPA selama ini berjalan sentralistik dan cenderung menafikan peran masyarakat setempat dalam pengelolaan. Akibatnya nelayan tradisional merasa terpinggirkan sebagai akibat tertutupnya akses dalam pemanfaatan dan control terhadap sumberdaya perikanan karena telah berubahnya wilayah penangkapan sebagai kawasan konservasi. Konflik antara pemerintah (pihak taman nasional) dan masyarakat seringkali terjadi dalam kawasan taman nasional. Ekslusifitas kawasan konservasi yang bercorak teknokratis ini bukan hanya meminggirkan nelayan tradisional tetapi juga menegasikan peran masyarakat setempat dalam pengelolaan. Padahal masyarakat sebetulnya mempunyai konstruksi sendiri terhadap konservasi yang bisa saja berjalan beriringan dengan kawasan konservasi yang digarap oleh pemerintah baik taman nasional maupun kawasan konservasi laut daerah (KKLD). Maka tujuan dari penelitian ini adalah menemukan potensi dan permasalahan pada masing-masing model konservasi yang teknokratis maupun konstruktivistik. Selanjutnya mencari model alternatif yang merupakan bentuk perpaduan atau penggabungan atau kolaborasi antar unsur-unsur positif dalam kedua model tersebut.
Baca lebih lanjut

3 Baca lebih lajut

dari behavioristik ke konstruktivistik

dari behavioristik ke konstruktivistik

Degeng 20 MASALAH BELAJAR DAN PEMBELAJARAN MASALAH BELAJAR DAN PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISTIK • Tujuan pembelajaran me-nekankan pada penciptaan pemahaman, yang menuntut aktivitas[r]

33 Baca lebih lajut

Invasi 2 Dinas Pendidikan Kota

Invasi 2 Dinas Pendidikan Kota

sujarwo@uny.ac.id 21 MASALAH BELAJAR DAN PEMBELAJARAN MASALAH BELAJAR DAN PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISTIK • Tujuan pembelajaran me-nekankan pada penciptaan pemahaman, yang menun[r]

32 Baca lebih lajut

TEORI KONSTRUKTIVISME Makalah ini Dituli

TEORI KONSTRUKTIVISME Makalah ini Dituli

b. Scaffolding merupakan pemberian sejumlah bantuan kepada siswa selama tahap-tahap awal pembelajaran, kemudian mengurangi bantuan dan memberikan kesempatan untuk mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar setelah ia dapat melakukannya (Slavin, 1997). Scaffolding merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa untuk belajar dan memecahkan masalah. Bantuan tersebut dapat berupa petunjuk, dorongan, peringatan, menguraikan masalah ke dalam langkah-langkah pemecahan, memberikan contoh, dan tindakan-tindakan lain yang memungkinkan siswa itu belajar mandiri.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

204029261 Kelas 07 SMP Matematika Guru

204029261 Kelas 07 SMP Matematika Guru

Tujuan tahapan ini adalah untuk mengetahui keefektifan hasil diskusi dan hasil kerja kelompok pada tahapan sebelumnya. Dalam penyajiannya, kelompok penyaji akan diuji oleh kelompok lain dan guru tentang penguasaan dan pemahaman mereka atas penyelesaian masalah yang dilakukan. Dengan cara tersebut dimungkinkan tiap-tiap kelompok mendapatkan pemikiran-pemikiran baru dari kelompok lain atau alternatif jawaban yang lain yang berbeda. Sehingga pertimbangan-pertimbangan secara objektif akan muncul di antara siswa. Tujuan lain tahapan ini adalah melatih siswa terampil menyajikan hasil kerjanya melalui penyampaian ide-ide di depan umum (teman satu kelas). Keterampilan mengomunikasikan ide-ide tersebut adalah salah satu kompetensi yang dituntut dalam pembelajaran berdasarkan masalah, untuk memampukan siswa berinteraksi/berkolaborasi dengan orang lain.
Baca lebih lanjut

624 Baca lebih lajut

semnas ptbb ft uny 2005 penerapan pembelajaran konstruktivistik

semnas ptbb ft uny 2005 penerapan pembelajaran konstruktivistik

terlepas dari dunia tekstil. Kita ketahui bahwa tekstil merupakan bahan dasar dari busana, sehingga segala hal yang berhubungan dengan masalah tekstil sudah sewajarnya dan seharusnya dipelajari. Oleh karena itu mata kuliah Pengetahuan Tekstil ini mempunyai tujuan untuk membekali mahasiswa dengan pengetahuan tentang tekstil, baik mengenai definisi dan pengertian dari tekstil itu sendiri, serat tekstil, benang, dan ataupun kain/bahan tekstil beserta seluk beluknya dari mulai pengertiannya, bahan dasarnya, cara pembuatannya, cara pengolahan dan penyempurnaannya, karakteristiknya, cara penanganan dan perawatannya, dan hal-hal lainnya. Dengan memiliki pengetahuan tersebut di atas, maka diharapkan mahasiswa akan memiliki pemahaman yang benar terhadap tekstil yang selanjutnya dapat mengaplikasikannya dalam dunia busana/fashion sesuai bidang keahliannya. Dan dengan memiliki bekal dan pengetahuan yang cukup tentang tekstil tersebut, maka mahasiswa juga akan berkemampuan untuk memilih bahan tekstil secara baik dan benar, dapat menggunakannya sesuai dengan karakteristiknya, dan dapat merawat/memeliharanya dengan baik dan benar, sehingga nantinya dapat mendukung keahlian mahasiswa dalam bidang busana. Untuk mencapai hal tersebut, maka diperlukan pendekatan pembelajaran yang tepat, salah satunya adalah dengan melalui pendekatan pembelajaran konstruktivisme.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PEMBELAJARAN KONSEP LUAS DAERAH SEGIEMPAT DAN SEGITIGA  MELALUI PENDEKATAN KONSTRUKTIVISTIK

PEMBELAJARAN KONSEP LUAS DAERAH SEGIEMPAT DAN SEGITIGA MELALUI PENDEKATAN KONSTRUKTIVISTIK

dari luas daerah bangun jajargenjang. Lain halnya dengan konsep luas daerah persegipanjang dan jajargenjang, sebab terdapat peragaan yang cukup signifikan, sehingga siswa dapat memahami bahwa istilah panjang dan lebar pada persegi panjang dapat berubah menjadi alas dan tinggi pada jajargenjang. Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Scheerer (Orton, 1992: 90), bahwa jika seorang siswa telah mengetahui cara menentukan luas daerah jajargenjang, maka dia akan memikirkan dan terantuk kenyataan bahwa jajargenjang akan terlihat seperti persegipanjang , yaitu memiliki tonjolan, sedang sisi yang lain memiliki lekukan; kemudian tonjolan ini sama dengan lekukannya. Guru masih ragu-ragu dalam menerapkan pembelajaran yang bernuansa konstruktivistik, karena dia belum terbiasa dengan model pembelajaran tersebut. Respon siswa terhadap pembelajaran juga belum positif sebab siswa belum mengerti sepenuhnya maksud instruksi-instruksi guru.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

HUBUNGAN MULTIMEDIA DENGAN TEORI BELAJAR

HUBUNGAN MULTIMEDIA DENGAN TEORI BELAJAR

Dengan pembelajaran kontruktivistik pembelajaran tidak terpusat pada pendidik, konstruktivistik membantu pebelajar menginternalisasi dan mentransformasi informasi baru  Menekankan bah[r]

13 Baca lebih lajut

TEORI KONSTRUKTIVISTIK PADA PEMBELAJARAN LUAS BANGUN DATAR Suyoto

TEORI KONSTRUKTIVISTIK PADA PEMBELAJARAN LUAS BANGUN DATAR Suyoto

Berdasarkan pada ketiga hal tersebut di atas, yaitu pembelajaran luas bangun datar, fakta adanya teori belajar kontruktivistik, serta penggunaan multimedia, maka penting diadakan suatu pembelajaran luas bangun datar yang didasarkan pada teori belajar kontruktivistik berbantukan multimedia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (a) bagaimana proses pembelajaran materi luas bangun datar berbasis teori belajar konstruktivistik; serta (b) keefektivan pembelajaran tersebut dalam meningkatkan prestasi belajar.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Menggagas sebuah software pembelajaran mandiri yang konstruktivistik melalui macromedia flash

Menggagas sebuah software pembelajaran mandiri yang konstruktivistik melalui macromedia flash

4). Pertimbangan Software yang digunakan; Software pembelajaran yang akan dihasilkan harus memperhatikan aspek strategi belajar, diantaranya urutan presentasi materi dan urutan kegiatan belajar. Urutan presentasi materi menurut Setiadi. et al,(2001) mengandung arti bahwa program harus menyediakan fasilitas seperti : indeks, peta isi, keluar masuk setiap saat menuju indeks atau peta, meloncat ke depan atau belakang dari posisi yang dihadapi, menelusuri informasi sepanjang presentasi. Materi disajikan dalam bentuk multimedia meliputi text, gambar, foto, animasi dan suara. Animasi yang digunakan, baik pada penjelasan konsep maupun contoh-contoh, selain berupa animasi statis auto-run (loop) atau diaktifkan melalui penekanan tombol, juga bisa berupa animasi interaktif, di mana pengguna (siswa) diberi kemungkinan berperan aktif dengan merubah nilai atau posisi bagian tertentu dari animasi tersebut.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects