Model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray

Top PDF Model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray:

Pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe two stay two stray terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika siswa pada materi kubus dan balok di kelas viii mts Islamiyah Medan tahun ajaran 20162017  Repository UIN Sumatera Utara

Pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe two stay two stray terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika siswa pada materi kubus dan balok di kelas viii mts Islamiyah Medan tahun ajaran 20162017 Repository UIN Sumatera Utara

Sebagaimana Spencer Kagan dalam Indriyani, menyatakan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray merupakan suatu model pembelajaran yang memberi kesempatan kepada anggota kelompok untuk membagi hasil dan informasi dengan anggota kelompok lainnya dengan cara saling mengunjungi atau bertamu antar kelompok. Hal ini memungkinkan terjadinya transfer ilmu antar siswa sehingga siswa menjadi aktif mengikuti proses pembelajaran. Kemudian menurut Sugianto dalam Indriyani, bahwa model pembelajaran Two Stay Two Stray ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik. 64 Sementara pemberian materi pada saat proses pembelajaran tinggal menyesuaikan saja dengan langkah-langkah yang terdapat pada model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray.
Baca lebih lanjut

163 Baca lebih lajut

Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe two stay two stray (TSTS) pada pokok bahasan usaha dan energi kelas VIII Semester 1 di MTsN 1 Model Palangka Raya Tahun Ajaran 20142015  Digital Library IAIN Palangka Raya BAB V EP

Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe two stay two stray (TSTS) pada pokok bahasan usaha dan energi kelas VIII Semester 1 di MTsN 1 Model Palangka Raya Tahun Ajaran 20142015 Digital Library IAIN Palangka Raya BAB V EP

Berdasarkan grafik 5.4 d iatas menunjukkan bahwa THB pada soal tes akhir pertemuan sebanyak 30 siswa tuntas dan 8 siswa tidak tuntas. Siswa-siswa yang tuntas hasil belajarnya disebabkan antara lain siswa yang aktif dan antusias pada setiap pembelajaranny serta aktif dalam bertanya, berdiskusi dan mampu bekerjasama dengan baik terutama dalam mengerjakan LKS. Terlihat dari tiap pertemuan siswa telah cukup terampil dan mampu mergerjakan LKS, terampil dalam bertukar informasi dan aktif dalam bertamu maupun jadi tuan rumah sehingga mereka bisa mandiri memahami materi dan menciptakan pengetahuan sendiri. Keantusiasan siswa terhadap pembelajaran Two Stay Two Stay membuat suasana pembelajaran sangat menyenangkan sehingga berimbas pada hasil belajar siswa yang baik.
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

EKSPERIMENTASI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TWO STAY TWO STRAY (TSTS) DAN JIGSAW DITINJAU DARI AKTIVITAS BELAJAR SISWA ( Eksperimentasi pada kelas VII semester II SMP Muhammadiyah 1 Surakarta).

EKSPERIMENTASI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TWO STAY TWO STRAY (TSTS) DAN JIGSAW DITINJAU DARI AKTIVITAS BELAJAR SISWA ( Eksperimentasi pada kelas VII semester II SMP Muhammadiyah 1 Surakarta).

Model penyampaian masalah sangat berpengaruh terhadap keberhasilan siswa dalam mempelajari pokok bahasan tertentu. Bisa dikatakan bahwa ini merupakan kemasan yang dibuat untuk membungkus materi agar lebih mudah dipahami, menarik, tidak menjenuhkan sehingga tujuan dari pengajaran yang dilakukan dapat tercapai. Model pembelajaran biasanya dijadikan sebagai parameter untuk melihat sejauh mana siswa dapat menerima dan menerapkan materi yang disampaikan guru dengan mudah dan menyenangkan dengan model yang diterapkan.

8 Baca lebih lajut

Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe two stay two stray (TSTS) pada pokok bahasan usaha dan energi kelas VIII Semester 1 di MTsN 1 Model Palangka Raya Tahun Ajaran 20142015  Digital Library IAIN Palangka Raya

Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe two stay two stray (TSTS) pada pokok bahasan usaha dan energi kelas VIII Semester 1 di MTsN 1 Model Palangka Raya Tahun Ajaran 20142015 Digital Library IAIN Palangka Raya

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. 1 Berdasarkan pengertian tersebut, maka diperlukan suatu perencanaan yang matang sebelum proses pembelajaran berlangsung, sehingga akan menghasilkan suatu proses pembelajaran yang bermakna bagi peserta didik. Perencanaan disini tidak hanya menyangkut materi yang disampaikan tetapi juga menyangkut pendekatan, strategi, model dan metode yang akan digunakan. Dalam pendidikan terjadi suatu proses pembelajaran, sebagaimana pada sebuah dalil Al-quran dijelaskan:
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TWO STAY TWO STRAY TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA KOMPETENSI DASAR MENGANALISIS RANGKAIAN LISTRIK ARUS SEARAH DI KELAS X JURUSAN TITL SMK NEGERI 2 DOLOKSANGGUL T.A. 2016/2017.

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TWO STAY TWO STRAY TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA KOMPETENSI DASAR MENGANALISIS RANGKAIAN LISTRIK ARUS SEARAH DI KELAS X JURUSAN TITL SMK NEGERI 2 DOLOKSANGGUL T.A. 2016/2017.

Dari hasil wawancara langsung dengan Ibu Tampubolon, ia mengatakan bahwa selama mengajar di kelas ia memang kurang memvariasikan suatu model pembelajaran. Ibu Tampubolon mengaku bahwa dalam proses mengajar masih terpaku pada metode ceramah, Tanya jawab, diskusi, dan latihan/Tugas. Kegiatan belajar mengajar hanya terfokus pada guru dan sebagian besar waktu pelajaran digunakan untuk mendengar dan mencatat penjelasan guru. Pada saat guru membuat kelompok untuk mendiskusikan materi yang dipelajari hasilnya juga tidak begitu memuaskan karena siswa di dalam kelompok tidak semuanya berperan aktif.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Peningkatan Hasil Belajar Matematika dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Two Stay Two Stray Pada Kelas 5

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Peningkatan Hasil Belajar Matematika dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Two Stay Two Stray Pada Kelas 5

Guru menyiapkan alat yang akan digunakan namun belum bisa secara maksimal mempersiapkan ruang kelas dikarenakan kehabisan waktu ketika menata ruangan karena harus menata kursi yang banyak yang akan dijadikan untuk kerja kelompok nantinaya. Kemudian juga memeriksa kesiapan siswa mengikuti pembelajaran. Setelah mengecek semua kelengkapan guru memulai pembelajaran dengan salam juga ter;laksana. Hanya saja yang tidak terlaksanan adalah saat doa, karena pembelajaran dimulai jam 09-00-10.00 sedangkan siswa sudah berdoa didi jam 07.00 saat awal pembelajaran. Guru menanyakan kabar siswa serta mengecek kehadiran siswa. Guru melakukan kegiatan apersepsi dengan bertanya jawab dan menyampaikan tujuan yang akan dicapai. Akan tetapi dalam melakukan kegiatan tanya jawab guru kurang untuk memancing siswa untuk menjawab pertanyaan mengenai materi siswa nampak masih malu-malu dan canggung.
Baca lebih lanjut

39 Baca lebih lajut

IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TWO STAY TWO STRAY UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR AKUNTANSI SISWA KELAS X PROGRAM KEAHLIAN AKUNTANSI SMK MUHAMMADYAH 2 YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 2015/2016.

IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TWO STAY TWO STRAY UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR AKUNTANSI SISWA KELAS X PROGRAM KEAHLIAN AKUNTANSI SMK MUHAMMADYAH 2 YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 2015/2016.

adalah faktor dari sekolah meliputi metode mengajar guru. Seorang guru memiliki peranan penting karena merupakan tonggak utama pelaksana pembelajaran, namun tidak terlepas dari itu praktik pengembangan potensi siswa dalam pembelajaran juga sangat penting. Praktik pengembangan potensi siswa yaitu mengaktifkan mereka supaya lebih mandiri dalam menemukan suatu pengetahuan baru, memecahkan masalah, dan aktif bekerjasama dengan rekan belajarnya, oleh karena itu guru harus bisa memilih metode mengajar yang sesuai sehingga dapat mengaktifkan siswanya. Wina Sanjaya (2012:102) juga mengungkapakan bahwa mengajar jangan diartikan sebagai proses menyampaikan materi pembelajaran dimana seorang guru memberikan stimulus sebanyak- banyaknya kepada siswa dan siswa hanya sebagai objek untuk mendapat materi dari guru, akan tetapi lebih dipandang sebagai proses mengatur lingkungan agar siswa belajar sesuai dengan kemampuan dan potensi yang dimiliki. Apabila siswa aktif maka siswa dapat mengambil makna dari kegiatan pembelajaran tersebut sehingga diharapkan keaktifan siswa dapat berpengaruh terhadap prestasi belajarnya.
Baca lebih lanjut

274 Baca lebih lajut

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teori - Ragil Sugiarti BAB II

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teori - Ragil Sugiarti BAB II

Penelitian yang dilakukan oleh Mahyuni, Meter, dan Suara dengan judul penelitian Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Two Stay Two Stray (TSTS) Terhadap Prestasi Belajar IPA. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar IPA siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran Kooperatif Tipe Two Stay Two Stray (TSTS) dengan siswa yang dibelajarkan dengan pembelajaran konvensional terhadap prestasi belajar IPA siswa kelas V SD Negeri 8 Padangsambian, Kecamatan Denpasar Barat tahun ajaran 2013/2014. Hal tersebut dibuktikan dengan hasil t hitung lebih dari t tabel yaitu sebesar 6,336 > 2,000 dengan perolehan nilai rata-rata hasil belajar kelas eksperimen lebih dari pada kelas kontrol yaitu sebesar 78,50 > 70,58. Dengan demikian penggunaan model pembelajaran Kooperatif Tipe Two Stay Two Stray (TSTS) berpengaruh terhadap hasil belajar IPA siswa kelas V SD Negeri 8 Padangsambian, Kecamatan Denpasar Barat tahun ajaran 2013/2014.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

PERBEDAAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TWO STAY TWO STRAY DAN JIGSAW PADA KELAS VIII MTsN KUNIR BLITAR - Institutional Repository of IAIN Tulungagung

PERBEDAAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TWO STAY TWO STRAY DAN JIGSAW PADA KELAS VIII MTsN KUNIR BLITAR - Institutional Repository of IAIN Tulungagung

1. Ada perbedaan hasil belajar matematika siswa menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray dan Jigsaw pada kelas VII MTsN Kunir Blitar . Diperoleh dari nilai ℎ� �� ≥ �� yaitu 3,43 >2,00 yang artinya ada perbedaan hasil belajar matematika siswa menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray dan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw.

3 Baca lebih lajut

PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TWO STAY-TWO STRAY TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA POKOK BAHASAN HIDROKARBON DI KELAS X SMA NEGERI 1 GALANG.

PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TWO STAY-TWO STRAY TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA POKOK BAHASAN HIDROKARBON DI KELAS X SMA NEGERI 1 GALANG.

Berdasarkan hasil observasi peneliti terhadap siswa dan guru SMA Negeri 1 Galang diperoleh informasi bahwa masih banyak siswa yang terlihat kurang berminat dengan mata pelajaran kimia. Hal ini dapat di tunjukkan oleh nilai ulangan harian kimia yang relatif rendah dengan rentang 50 – 68 dibawah KKM sekolah yakni 70(dalam perangkat pembelajaran SMAN 1 Galang). Selain itu metode pembelajaran yang digunakan di sekolah itu yaitu hanya berupa metode ceramah, tanya jawab, dan pemberian tugas yang berulang-ulang dalam setiap pertemuannya.selain itu, media yang digunakan kurang maksimal menjadi salah satu faktor rendahnya hasil belajar kimia siswa.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERTIF TIPE TWO STAY-TWO STRAY TERHADAP KEMAMPUAN MEMBACA DAN KEMAMPUAN BERBICARA: Studi Kuasi Eksperimen pada Siswa Kelas VIII SMP Kristen YPKPM Ambon Tahun Ajaran 2012-2013.

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERTIF TIPE TWO STAY-TWO STRAY TERHADAP KEMAMPUAN MEMBACA DAN KEMAMPUAN BERBICARA: Studi Kuasi Eksperimen pada Siswa Kelas VIII SMP Kristen YPKPM Ambon Tahun Ajaran 2012-2013.

Pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay-Two Stray dalam pemahaman tentang materi membaca novel dan tanggapan siswa terhadap materi tersebut dalam kemampuan berbicara siswa diperoleh kemampuan dalam membaca bacaan kemudian menjawab pertanyaan diperoleh nilai rata-rata untuk kelas ekperimen 88,33 dan kelas kontrol memperoleh nilai rata-rata 84,10 dalam kategorisasi baik sekali, sedangkan keterampilan berbicara digunakan perbandingan hasil uji t antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol dan pembuktian hipotesis. Berdasarkan hasil statistik pada kelas ekperimen, diperoleh keterangan bahwa t hitung sebesar 10,69 dan untuk kelas kontrol diperoleh t hitung sebesar 6,23. Berdasarkan hal tersebut berarti hipotesis benar atau diterima.
Baca lebih lanjut

42 Baca lebih lajut

s pgsd kelas 1105208 chapter2

s pgsd kelas 1105208 chapter2

Pelaksanaan pembelajaran didasarkan oleh landasan formal yaitu Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 mengenai Sistem Pendidikan Nasional. Pembelajaran Bahasa Indonesia berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tertuju pada aspek pengembangan bahasa, yaitu aspek peningkatan kompetensi berbahasa. Aspek berbahasa tersebut yaitu keterampilan, menulis, keterampilan membaca, keterampilan mendengarkan, dan keterampilan egiatberbicara. Kegiataan yang bertujuan agar keempat aspek keterampilan, proses dan hasil belajar tercapai sering disebut dengan pembelajaran. Proses belajar mengajar tersebut mencakup kegiatan guru dan siswa. Begitu pula dengan pembelajaran Bahasa Indonesia harus mengarah pada kemampuan komunikasi siswa dengan menggunakan bahasa Indonesia baik secara lisan maupun tulisan.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Perbedaan Hasil Belajar Biologi Menggunakan Pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) Dan Think Pair Share (TPS) Pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Colomadu Karanganyar Tahun Pelajaran 2011/2012.

PENDAHULUAN Perbedaan Hasil Belajar Biologi Menggunakan Pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) Dan Think Pair Share (TPS) Pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Colomadu Karanganyar Tahun Pelajaran 2011/2012.

Sedikit berbeda dengan model pembelajaran kooperatif tipe TSTS yang lebih seimbang antara berbagi dan mencari informasi baik di dalam maupun di luar kelompok, pembelajaran kooperatif tipe TPS lebih cenderung untuk memikirkan secara individu materi yang diberikan oleh guru terlebih dahulu kemudian mulai berbagi informasi yang diketahui dengan teman lainnya.

Baca lebih lajut

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMAT

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMAT

mengembangkan pengetahuan, nilai, sikap dan keterampilan lain yang ingin dikembangkan dalam pembelajaran. Hal ini dikarenakan setiap saat mereka akan melakukan diskusi, saling berbagi pengetahuan, pemahaman, kemampuan serta saling mengoreksi antar peserta didik dalam belajar. Tumbuhnya rasa saling ketergantungan positif di antara peserta didik ini akan menimbulkan rasa kebersamaan dan kesatuan tekat untuk sukses bersama dalam belajar, dalam hal ini peserta didik diberi kesempatan yang memadai untuk memperoleh informasi yang dibutuhkannya guna melengkapi dan memperkaya pengetahuan yang dimilikinya dari anggota kelompok belajar lainnya dan selain tentunya dari guru itu sendiri.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PENGARUH MODEL PEMBELAJARANKOOPERATIFTIPE TSTS TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SISWA SD.

PENGARUH MODEL PEMBELAJARANKOOPERATIFTIPE TSTS TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SISWA SD.

Tes adalah alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dalam suasana, dengan cara dan aturan-aturan yang sudah ditentukan (Arikunto, 2010 hlm.53). Tes pemecahan masalah matematika pada penelitian ini soal tes yang digunakan adalah tes tipe subjektif (uraian). Keunggulan tes tipe subjektif (uraian) adalah dalam menjawab soal berbentuk uraian siswa dituntut untuk menjawabnya secara rinci, maka proses berpikir, ketelitian, sistematika penyusunan dapat dievaluasi. Hasil evaluasi dapat mencerminkan kemampuan siswa yang sebenarnya, selain itu, proses pengerjaan akan menimbulkan aktifitas positif siswa, karena tes tersebut menuntut siswa agar berpikir secara sisitematik, mengaitkan fakta-fakta yang relevan, menyampaikan pendapat dan argumentasi (Suherman dalam Fani, 2012).
Baca lebih lanjut

33 Baca lebih lajut

kd Tasik 1004168 Chapter5

kd Tasik 1004168 Chapter5

2. Proses pembelajaran matematika dengan penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray lebih berpusat pada siswa dan memberi kelompok untuk berdiskusi, dan beberapa anggota kelompok lainnya bertugas untuk memberikan hasil diskusi dengan kelompok lain. Metode ini membuat siswa terlibat aktif ketika proses pembelajaran dan dapat memberikan dampak yang positif terhadap kualitas interaksi diantara siswa. Siswa memiliki rasa percaya diri yang tinggi untuk mengemukakan pendapatnya, baik itu dalam bertanya, menjawab pertanyaan ataupun mengomentari pendapat temannya yang lain selama proses pembelajaran berlangsung
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - BAB I(ARY)

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - BAB I(ARY)

beberapa tipe model pembelajaran kooperatif salah satunya adalah tipe Two Stay Two Stray (TSTS). Model pembelajaran koopertaif tipe Two Stay Two Stray merupakan suatu model pembelajaran dimana siswa belajar memecahkan masalah bersama anggota kelompoknya, kemudian dua siswa dari kelompok tersebut bertukar informasi ke dua anggota kelompok lain yang tinggal. Model pembelajaran koopertaif tipe Two Stay Two Stray memungkinkan suatu kelompok untuk membagikan hasil atau informasi kepada kelompok lain
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TSTS (TWO STAY TWO STRAY) DENGAN PENDEKATAN CTL (CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS LISAN DAN KONEKSI MATEMATIS PADA SISWA KELAS X 2 SMA NEGERI 3 BOYOLALI TAHUN

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TSTS (TWO STAY TWO STRAY) DENGAN PENDEKATAN CTL (CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS LISAN DAN KONEKSI MATEMATIS PADA SISWA KELAS X 2 SMA NEGERI 3 BOYOLALI TAHUN

Pada proses masyarakat belajar terjadi komunikasi antara siswa dengan siswa atau siswa dengan guru, pada proses penemuan siswa akan menuliskan konsep yang mereka temukan dengan bahasa sendiri. Begitu juga pada tahap pemodelan siswa diharapkan dapat memodelkan masalah matematika ke dalam notasi matematika, dan semua itu merupakan bagian dari kemampuan komunikasi matematis. Oleh karena itu, penggunaan pendekatan pembelajaran CTL akan meningkatkan kemampuan koneksi matematis siswa karena dapat mendorong siswa dalam membuat keterkaitan antar konsep matematika itu sendiri ataupun keterkaitan antar konsep matematika dengan kehidupan sehari-hari. Sehingga melalui pembelajaran kooperatif tipe TSTS dengan pendekatan CTL diharapkan terjadi peningkatan kemampuan komunikasi lisan dan koneksi matematis siswa kelas X 2 SMA Negeri 3 Boyolali.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

MODEL KOOPERATIF TIPE TWO STAY TWO STRAY

MODEL KOOPERATIF TIPE TWO STAY TWO STRAY

Berdasarkan hasil temuan dan pembahasan dalam penelitian tentang penerapan model pembelajaran kooperatif tipe two stay two stray dalam pembelajaran PKn untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas IV SD Negeri 11 Sungai Raya Kabupaten Bengkayang dapat disimpulkan yaitu: (1) Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe two stay two stray dalam pembelajaran PKn pada kelas IV SD Negeri 11 Sungai Raya Kabupaten Bengkayang dapat dilakukan oleh guru dengan sangat baik terbukti dengan melihat peningkatan aktifitas guru rata-rata siklus I sebesar 69,23% pada siklus II naik menjadi 100% berarti sudah memenuhi kriteria pelaksanaan pembelajaran yang baik dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe two stay two stray . (2) Aktivitas belajar siswa pada kelas IV SD Negeri 11 Sungai Raya Kabupaten Bengkayang saat mengikuti pembelajaran PKn, dapat meningkat. Hal ini terlihat dengan adanya peningkatan dari setiap pertemuan yaitu dari peningkatan persentase rata-rata aktivitas siswa pada siklus I sebesar 28,96% meningkat menjadi 61,14% pada siklus II. Dengan demikian bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe two stay two stray dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa pada kelas IV SD Negeri 11 Sungai Raya Kabupaten Bengkayang, karena hampir semua siswa sudah melakukan aktivitas yang sangat signifikan, seperti aktif menjawab pertanyaan, aktif bertanya, aktif mengeluarkan pendapat, dan bersemangat dalam proses pembelajaran yang sifatnya tanpa paksaan. (3) Peningkatan hasil belajar siswa dari siklus I ke siklus II sebesar 17%. Pada siklus I rata-rata siswa sebesar 53,58% sedangkan pada siklus II naik menjadi 76,41%. Hal ini menandakan bahwa dengan diterapkannya model pembelajaran kooperatif tipe two stay two stray pada pembelajaran PKn dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SD Negeri 11 Sungai Raya Kabupaten Bengkayang yang juga berdampak pada peningkatan aktivitas belajarnya di kelas. Saran
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Deskripsi Teori 1. Pendidikan Karakter - BAB II LAELI SUNDARI PGSD'17

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Deskripsi Teori 1. Pendidikan Karakter - BAB II LAELI SUNDARI PGSD'17

Pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray harus dilaksanakan secara sistematis. Langkah- langkah model pembelajaran Two Stay Two Stray dalam Suprijono (2013: 93) menjelaskan bahwa langkah-langkah model Two Stay Two Stray (Dua Tinggal Dua Tamu) adalah “ diawali dengan pembagian kelompok kemudian guru memberikan tugas berupa permasalahan- permasalahan yang harus mereka diskusikan jawabannya. Apabila diskusi antar kelompok usai, dua orang dari masing-masing kelompok meninggalkan kelompoknya untuk bertemu ke dua kelompok yang lain. Anggota kelompok yang tidak mendapat tugas sebagai tamu mempunyai kewajiban menerima tamu dari kelompok lain. Tugas kedua siswa yang tinggal dalam kelompok adalah menyajikan hasil kerja kelompoknya kepada tamu tersebut. Jika siswa telah selesai menyelesaikan tugasnya, siswa kembali ke kelompoknya masing- masing atau kembali kekelompok asal, baik siswa yang bertugas bertamu maupun siswa yang bertugas menerima tamu mencocokan dan membahas hasil kerja yang telah siswa tunaikan”.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...