Model Penerimaan Teknologi

Top PDF Model Penerimaan Teknologi:

PENGARUH MODEL PENERIMAAN TEKNOLOGI TERH

PENGARUH MODEL PENERIMAAN TEKNOLOGI TERH

Pengalaman membuktikan Model Penerimaan Teknologi adalah salah satu model yang memiliki tingkat kebenaran yang tinggi (high validity). MPT dikembangkan oleh Davis untuk menjelaskan perilaku pemakaian komputer (Davis, 1989; Davis dkk., 1989), yang diperoleh dari teory reasoned action (TRA). Dimana TRA meramalkan penerimaan pemakai berdasarkan pada pengaruh dua faktor: yaitu yaitu Manfaat Dirasakan (perceived usefulness) dan Mudah Penggunaannya (perceived easy of use). Menurut TRA, sikap ke arah suatu perilaku ditentukan oleh kepercayaan tingkah laku dimana konsekwensi dari perilaku (yang didasarkan pada informasi yang tersedia atau memperkenalkan kepada individu) dan cenderung melakukan evaluasi terhadap semua konsekwensi pada setiap individu. Kepercayaan digambarkan sebagai kemungkinan yang diperkirakan individu akan muncul dalam menumbuhkan perilaku akibat dari konsekwensi yang telah ditentukan. (Davis, F.D., 1989) 2.2 Konsep E-government
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Analisis Biaya-Manfaat dan Aplikasi Model Penerimaan Teknologi Pada Keputusan Outsourcing TI.

Analisis Biaya-Manfaat dan Aplikasi Model Penerimaan Teknologi Pada Keputusan Outsourcing TI.

Faktor motivator lain menurut Hurley dan Schaumann (1997) adalah memperbaharui fokus pada kompetensi inti bagi organisasi atau bagi staf teknologi informasi di dalam perusahaan. Tidak semua organisasi memiliki sumber daya untuk mengembangkan teknologi informasi yang berkualitas tinggi. Usaha mereka lebih baik dipergunakan untuk fokus secara strategik pada sisi bersaingnya. Selain itu organisasi teknologi informasi yang tidak efisien juga bisa memotivasi penggunaan outsourcing. Banyak perusahaan yang menggunakan outsourcing untuk mengatasi masalah seperti tidak tersedianya keahlian di dalam perusahaan, kualitas yang jelek atau produktifitas yang rendah, permintaan yang sifatnya sementara atas keahlian tertentu, atau siklus hidup pengembangan produk yang panjang. Namun dibalik semua motivasi tersebut, keputusan untuk meng-outsource harus dibuat berdasarkan perspektif yang strategis dan memiliki tujuan dan sasaran yang jelas agar perusahaan benar-benar mendapatkan manfaat dari keputusan yang diambil.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

MODEL PENERIMAAN TEKNOLOGI INFORMASI OLEH DOSEN PADA PERGURUAN TINGGI DI SURABAYA.

MODEL PENERIMAAN TEKNOLOGI INFORMASI OLEH DOSEN PADA PERGURUAN TINGGI DI SURABAYA.

Perilaku manusia merupakan salah satu aspek yang menentukan dalam keberhasilan penerapan teknologi informasi. Permasalahan yang muncul dari sisi aspek perilaku manusia, seperti sulitnya merubah perilaku dapat menjadi penghalang berkembangnya pemakaian teknologi informasi, maka perusahaan atau lembaga manapun akan mengalami kerugian karena dalam penerapan teknologi informasi memerlukan dana dalam jumlah yang cukup besar. Darma (2000) meneliti industri perhotelan di Bali menemukan bukti bahwa kepuasan pekerja dalam menggunakan teknologi informasi berhubungan secara positif dengan investasi pada sistem informasi. Hal ini membuktikan bahwa aspek perilaku merupakan pertimbangan penting dalam memutuskan penerapan teknologi informasi.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

STUDI MODEL PENERIMAAN TEKNOLOGI (TAM) PADA INSTANT MESSENGER LINE OLEH MAHASISWA ILMU KOMUNIKASI FISIP UNILA

STUDI MODEL PENERIMAAN TEKNOLOGI (TAM) PADA INSTANT MESSENGER LINE OLEH MAHASISWA ILMU KOMUNIKASI FISIP UNILA

pengaruhnya hanya sebesar 15,1% dengan kekuatan hubungan (R) sebesar 0,388 termasuk kategori lemah (rendah). Dari kedua persepsi yang menjadi anteseden minat penggunaan sebuah teknologi, ternyata persepsi kebermanfaatan memiliki pengaruh lebih besar terhadap minat penggunaan LINE pada mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UNILA, dilihat dari lebih besarnya angka pengaruh persepsi kebermanfaatan dibanding angka pengaruh persepsi kemudahan. Ketika sebuah teknologi bermanfaat maka minat menggunakannya akan jauh lebih besar. Walaupun kemudahan juga berpengaruh dalam hal ini, namun kedudukannya belum dapat menyaingi minat atas kebermanfaatan.
Baca lebih lanjut

52 Baca lebih lajut

Analisis Biaya-Manfaat dan Aplikasi Model Penerimaan Teknologi Pada Keputusan Outsourcing TI.

Analisis Biaya-Manfaat dan Aplikasi Model Penerimaan Teknologi Pada Keputusan Outsourcing TI.

Teirlynck (1998) menyatakan pengembangan strategi outsourcing bisa dibagi ke dalam empat tahap. Pertama, tahap persiapan. Pada tahap ini perusahaan harus menentukan keahlian inti dan bukan inti yang dimilikinya, menilai kinerja saat ini, mengevaluasi peluang outsourcing untuk yang bukan keahlian inti, menguraikan implikasi outsourcing bagi organisasi, dan memilih model hubungan untuk membangun hubungan dengan penyedia (provider) outsourcing. Kedua, melakukan seleksi. Tahap ini merupakan penentuan kriteria penilaian bagi provider, menyaring provider, dan mengevaluasi proposal dari provider. Ketiga adalah tahap negosiasi, meliputi audit terhadap calon yang terdaftar, pemilihan prioritas calon, penentuan ruang lingkup dan struktur kontrak, dan transfer rincian perencanaan pada provider. Sedangkan tahap keempat merupakan tahap implementasi, meliputi re-engineering perantara, penyesuaian internal organisasi, dan penetapan sistem pengukuran provider. Xue et al. (2005) menyatakan bahwa kesuksesan outsourcing teknologi informasi terutama yang dilakukan diluar perusahaan (offshore), berhubungan erat dengan kinerja virtual team. Oleh karena perusahaan yang melakukan outsourcing dan provider outsourcing bekerja sama dalam jarak yang jauh, diperlukan kolaborasi dari seluruh anggota virtual team yang terdistribusi secara geografis.
Baca lebih lanjut

84 Baca lebih lajut

Confirmatory Factor Analysis (CFA) Model Penerimaan Teknologi Berbasis Keamanan Informasi

Confirmatory Factor Analysis (CFA) Model Penerimaan Teknologi Berbasis Keamanan Informasi

Penilaian model fit terdiri atas 19 penilaian, yaitu meliputi Chi-square atau p-value, GFI (Goodness of Fit Index), RMR (Root Mean Square Residual), RMSEA (Root Mean Square Error of Approximation) ECVI (Expected Cross- Validation Index), TLI/NNFI (Non-Normed Fit Index), NFI (Normed Fit Index), PNFI (Parsimony Normed Fit Index), AGFI (Adjusted Goodness of Fit Index), RFI (Relative Fit Index), CFI (Comparative Fit Index), AIC (Akaike’s Information Criterion), CAIC (Consistent Akaike’s Information Criterion), CN (Critical N), IFI(Incremental Fit Index), PGFI (Parsimony Goodness of Fit Index), NCP (Non-centrality Parameter), CMIN/Df dan SRMR (Standardized RMR). Penilaian suatu model tidak dapat diacu hanya kepada satu bentuk pengujian model saja, tetapi harus di uji kepada bentuk pengujian model lainnya.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

MENJELASKAN PENERIMAAN PENGGUNA MOBILE BANKING SEBUAH PERSPEKTIF DARI PERLUASAN MODEL PENERIMAAN TEKNOLOGI MENGGUNAKAN VARIABEL PERSEPSI NILAI MOBILITAS DAN PERSEPI KENIKMATAN

MENJELASKAN PENERIMAAN PENGGUNA MOBILE BANKING SEBUAH PERSPEKTIF DARI PERLUASAN MODEL PENERIMAAN TEKNOLOGI MENGGUNAKAN VARIABEL PERSEPSI NILAI MOBILITAS DAN PERSEPI KENIKMATAN

Although TAM is a model applicable to a variety of technologies (Adams et al., 1992; Chin and Todd, 1995; Doll et al., 1998), it has been criticized for not providing adequate information on individuals’ opinions of novel systems (Mathieson, 1991; Moon and Kim, 2001; Perea y Monsuwe et al., 2004; in Huang et al., 2006). Davis (1989) observed that external variables enhance the ability of TAM to predict acceptance of future technology. In other words, the constructs of TAM need to be extended by incorporating additional factors. Choosing additional factors depends on the target technology, main users and context (Moon and Kim in Huang et al., 2006). Wang et al. (2003) in Huang et al. (2006) noted that variables relating to individual differences play a vital role in the implementation of technology. Additionally, empirical research based on TAM has discovered strong relationships between individual differences and information technology acceptance (Agarwal and Prasad in Venkatesh, 2000).
Baca lebih lanjut

76 Baca lebih lajut

Technology Readiness dan Model Penerimaan Teknologi Informasi Mahasiswa

Technology Readiness dan Model Penerimaan Teknologi Informasi Mahasiswa

di tempat kerja (Parasuraman, 2000). Lebih lanjut dijelaskan Parasuraman bahwa TR mencakup empat dimensi yaitu: (1) optimisme atau pandangan positif atas teknologi dan keyakinan yang menawarkan seseorang meningkatkan pengendalian, efisiensi, dan fleksibilitas dalam hidupnya; (2) inovasi atau kecenderungan untuk menjadi pengguna pertama dari teknologi dan menjadi pemimpin opini; (3) ketidaknyamanan atau adanya persepsi tidak dapat mengendalikan teknologi dan merasa repot oleh teknologi; (4) ketidakamanan atau mencurigai teknologi dan ragu tentang kemampuan kerja teknologi. Di antara empat dimensi, optimisme dan inovasi adalah memungkinkan kesiapan terhadap teknologi, sedangkan ketidaknyamanan dan ketidakamanan adalah inhibitor (sesuatu yang mencegah pertumbuhan) (Parasuraman, 2000). Dengan demikian, orang yang optimis dan inovatif serta nyaman dan aman lebih cenderung menerima dan menggunakan teknologi.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Investigasi Empiris Penerimaan Teknologi e-Transportasi di Indonesia Menerapkan Technology Acceptance Model (TAM)

Investigasi Empiris Penerimaan Teknologi e-Transportasi di Indonesia Menerapkan Technology Acceptance Model (TAM)

Hasil pengujian model struktural ditampilkan pada Tabel 4, Tabel 5, dan Tabel 6. Hasil pengujian menunjukkan bahwa mayoritas hipotesis yang diusulkan diterima, kecuali hipotesis 3. Hipotesis 3 yang menyatakan bahwa persepsi kegunaan aplikasi e-transportasi dapat mempengaruhi sikap terhadap niat menggunakan, tidak memenuhi karena nilai p yang dimiliki tidak signifikan. Hasil ini berbeda dari umumnya penelitian yang menggunakan TAM, dimana persepsi kegunaan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap sikap pengguna. Perbedaan ini dapat kita análisis dari sejarah kemunculan aplikasi e-transportasi di Indonesia.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

ANALISA PENERIMAAN DAN PENGGUNAAN TEKNOLOGI INFORMASI E-VOTE MENGGUNAKAN TECHNOLOGY ACCEPTANCE MODEL (TAM)

ANALISA PENERIMAAN DAN PENGGUNAAN TEKNOLOGI INFORMASI E-VOTE MENGGUNAKAN TECHNOLOGY ACCEPTANCE MODEL (TAM)

E-Vote merupakan teknologi informasi untuk melakukan Pemilihan Raya Mahasiswa yang digunakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa di Fakultas Sains dan Teknologi UIN Suska. Namun pada kenyataannya masih terdapat masalah dan hambatan dalam penerapan teknologi tersebut. Hal ini disebabkan kurangnya sosialisai mengenai E-Vote sehingga memberi pengaruh terhadap minat pengguna dan pengetahuan akan kemudahan dan kegunaan teknologi serta sikap dalam menggunakan teknologi E-Vote tersebut. Untuk mengetahuinya sejauh mana penerimaan mahasiswa terhadap teknologi informasi E-Vote, maka dilakukan analisis penerimaan teknologi informasi E-Vote dengan kerangka TAM (Technology Acceptance Model) dan dengan menggunakan metode analaisis PLS- SEM (Partial Least Square). Hasil dari pengujian hipotesis yang telah dilakukan bahwa semua variabel yang digunakanyaitu perceived usefulness, perceived ease of use, attitude, behavior intention, berpengaruh positif terhadap penerimaan mahasiswa terhadap teknologi E-Vote. Namun dari uji statistik yang dilakukan, tingkat pengaruh yang lebih tinggi dalam penerimaan mahasiswa terhadap E- Vote adalah kemudahan penggunaan terhadap sikap menggunakan teknologi informasi E-Vote dengan nilai sebesar 33.970. Sedangkan tingkat pengaruh yang lebih rendah dalam penerimaan adalah kegunaan terhadap sikap pengguna dengan nilai sebesar 2.432.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PENERIMAAN TEKNOLOGI DAN INFORMASI OLEH GURU DENGAN PENDEKATAN TECHNOLOGY ACCEPTANCE MODEL (TAM)

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PENERIMAAN TEKNOLOGI DAN INFORMASI OLEH GURU DENGAN PENDEKATAN TECHNOLOGY ACCEPTANCE MODEL (TAM)

3. Pengaruh Perceived Ease of Use terhadap Attitude Toward to Using Dari hasil penelitian persepsi kemudahan penggunaan (perceived ease of use) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap sikap dalam penggunaan (Attitude Toward to Using). Kemudahan menggunakan sistem komputer menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi sikap pengguna terhadap penggunaan teknologi. Hal ini dibuktikan dari hasil pengamatan di lapangan bahwa guru yang merasa mudah dalam menggunakan teknologi akan bersikap untuk selalu ingin melibatkan teknologi dalam proses pembelajarannya maupun kegiatan lainnya baik di sekolah maupun di luar sekolah. Tapi sebaliknya jika guru merasa menggunakan teknologi itu sulit ataupun ribet maka dia akan bersikap untuk tidak melibatkan penggunaan teknologi dalam setiap kegiatannya. Artinya kemudahan dalam menggunakan sistem komputer mendorong guru menunjukkan sikap yang baik atau buruk dalam menggunakan sistem teknologi tersebut. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Khakim (2013) dan Akbar (2013), yang menemukan hubungan yang signifikan antara peresepsi kemudahan penggunaan (perceive ease of use) terhadap Sikap Penggunaan (AttitudeToward Using).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Analisis Penerimaan Teknologi Student In

Analisis Penerimaan Teknologi Student In

Gambar 1. Theory Reasoned Action (TRA) Technology Acceptance Model (TAM) Berdasarkan pada penelitian Fishbein dan Azjen (1975) telah berhasil meramalkan dan menjelaskan perilaku dalam suatu kajian yang luas. Peneliti mengangap TRA sebagai suatu kajian yang umum sehingga perlu melakukan pengembangan TAM untuk menjelaskan perilaku penggunaan sistem informasi secara rinci. Pada model tersebut telah diperkenalkan adanya variabel eksternal dan kaitannya dengan persepsi penggunaan dan persepsi kemudahan penggunaan. Konstruk Technology Acceptance Model (TAM) yang diperkenalkan Fred D. Davis dapat dilihat pada Gambar 2.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Analisis Penerapan Sistem Informasi Mana

Analisis Penerapan Sistem Informasi Mana

Keberhasilan pemanfaatan sistem informasi di suatu organisasi dapat dilihat dari aspek kepuasaan pengguna. Kepuasaan pengguna ini didapatkan dari aspek kemudahan penggunaan sistem informasi (user friendly) yang dirasakan oleh pengguna. Aspek kepuasaan pengguna dapat diukur melalui evaluasi penerimaan sistem dengan penggunaan beberapa model diantaranya yaitu Task Technology Fit (TTF), Unified Theory of Acceptance and Usage of Technology (UTAUT), Technology Acceptance Model (TAM) dan sebagainya. Evaluasi sistem informasi dengan penggunaan metode TAM telah banyak dilakukan, salah satunya dilakukan pada Sistem Komputerisasi Registrasi dan Rawat Jalan di RSU Mayjen H.A. Thalib Kabupaten Kerinci. Hasilnya pengguna setuju terhadap implementasi SIMRS dengan aplikasi SIMRS yang sederhana dan user friendly, serta bermanfaat untuk meningkatkan kinerja pengguna [4].
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

POLA PROSES PENYEBARAN DAN PENERIMAAN INFORMASI TEKNOLOGI KAMERA DSLR (Studi Kasus Tentang Pola Proses Penyebaran dan Penerimaan Informasi Teknologi Kamera Dari Kamera Analog Menjadi DSLR Pada Fotografer Profesional di Kota Solo dan Yogyakarta).

POLA PROSES PENYEBARAN DAN PENERIMAAN INFORMASI TEKNOLOGI KAMERA DSLR (Studi Kasus Tentang Pola Proses Penyebaran dan Penerimaan Informasi Teknologi Kamera Dari Kamera Analog Menjadi DSLR Pada Fotografer Profesional di Kota Solo dan Yogyakarta).

Puji syukur kepada Allah SWT sumber dari semesta alam yang memberi nikmat kesehatan dan nikmat pikiran karena hanya dengan segala ridho-Nya penulis dapat menyelesaikan tesis dengan judul “POLA PROSES PENYEBARAN DAN PENERIMAAN INFORMASI TEKNOLOGI KAMERA DSLR (Studi Kasus Tentang Pola Proses Penyebaran dan Penerimaan Informasi Teknologi Kamera Dari Kamera Analog Menjadi DSLR Pada Fotografer Profesional di Kota Solo dan Yogyakarta)”. sebagai tugas akhir dalam menempuh pendidikan pada Program Pascasarjana Magister Manajemen Komunikasi Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

ANALYSIS OF ACCEPTANCE AND INTENTION TO USE TECHNOLOGY AMONG MICRO SMALL AND MEDIUM ENTERPRISES: USING UTAUT MODEL.

ANALYSIS OF ACCEPTANCE AND INTENTION TO USE TECHNOLOGY AMONG MICRO SMALL AND MEDIUM ENTERPRISES: USING UTAUT MODEL.

The computer technology can be used by micro, small and medium entrepreneurs, such as inventory controlling, financial reporting, and other business analyzing. This technology will give more benefits if it were connected to internet technology. However, the using of computer technology is still considered to be very rare among micro, small, and medium enterprises. This research aims to analyze further understanding of issues surrounding acceptance and use of computer technology among micro, small and medium enterprises (MSMEs). The Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT) model was conducted in this research. Questionnaires were collected from 50 MSME owners in Bandar Lampung, Province of Lampung, who do not use computer technology in their business activities. Data was examined using Structural Equation Modeling (SEM) technique and utilized Partial Least Square (PLS) tool. The empirical test results showed that intention to use technology was significant influenced by effort expectancy and social influence. But, performance expectancy was not significant influencing of intention to use technology. The result also showed that behavior intention was significant influenced by intention to use and facilitating condition.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

PENGUKURAN TINGKAT PENERIMAAN TEKNOLOGI PADA LAYANAN INFORMASI PEMERINTAH BERBASIS WEB MENGGUNAKAN TECHNOLOGY ACCEPTANCE MODEL

PENGUKURAN TINGKAT PENERIMAAN TEKNOLOGI PADA LAYANAN INFORMASI PEMERINTAH BERBASIS WEB MENGGUNAKAN TECHNOLOGY ACCEPTANCE MODEL

Kemajuan dan kebutuhan terhadap teknologi informasi dan komunikasi yang semakin meningkat mendorong pemerintah menyediakan informasi melalui teknologi informasi dan setiap lapisan masyarakat dituntut untuk dapat menggunakan teknologi tersebut dengan maksimal. Mengatasi kebutuhan untuk menerapkan layanan informasi berbasis teknologi informasi melalui eGovernment, pemerintah Indonesia telah membuat aturan-aturan bagaimana implementasi eGovernment melalui Instruksi Presiden RI No.3/2003 tentang Kebijakan Dan Strategi Nasional Pengembangan eGovernment mengamanatkan bahwa Pengembangan eGovernment merupakan upaya untuk mengembangkan penyelenggaraan kepemerintahan yang berbasis elektronik dalam rangka meningkatkan kualitas layanan publik secara efektif dan efisien [1]. Dengan konsep G-to-C (Government to Citizens), Pemerintah Kota Tasikmalaya sebagai penyelenggara pemerintahan di Kota Tasikmalaya telah membangun berbagai portofolio teknologi informasi dengan tujuan untuk memperbaiki hubungan interaksi dengan masyarakat.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Analisis Penerimaan Teknologi Informasi Balai Desa Di Kabupaten Kudus dengan Menggunakan Technology Acceptance Model (TAM)

Analisis Penerimaan Teknologi Informasi Balai Desa Di Kabupaten Kudus dengan Menggunakan Technology Acceptance Model (TAM)

dengan menggunakan Technology Acceptance Model (TAM). Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan program sarjana strata satu (S1) pada Fakultas Ekonomi program studi Akuntansi Universitas Muria Kudus. Dalam penyelesaian penulisan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, oleh karena itu penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

15 Baca lebih lajut

Prosiding Inovasi Teknologi Ramah Lingkungan 2013

Prosiding Inovasi Teknologi Ramah Lingkungan 2013

Penerapan inovasi teknologi PTKJS memberikan solusi pengelolaan OPT secara terpadu dengan melakukan penerapan berbagai teknik pengendalian. Teknik pengendalian yang cukup efektif untuk pengendalian hama lalat buah dan pengerek buah yaitu dengan cara mengubur buah-buah yang gugur. Teknik pengendalian ini lebih menitikberatkan pada usaha mengurangi populasi hama dilapangan dengan cara memutus siklus hidup hama pada fase larva dan pupunya, sehingga tidak mampu berkembang menjadi setangga dewasa. Dengan teknik pengendalian yang telah dilakukan tersebut terjadi penurunan tingkat seranga hinggadibawah 10 %.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Paper SNPV 2017 Priyanto

Paper SNPV 2017 Priyanto

Tekanan koersif didefinisikan sebagai tekanan baik formal maupun informal yang diberikan pada aktor sosial untuk mengadopsi sikap, perilaku, dan praktik yang sama, guru melakukan karena merasa tertekan oleh aktor yang lebih kuat (DiMaggio & Powell, 1983:150). Di sekolah, aktor yang lebih kuat adalah pimpinan sekolah, para senior, dan pemangku kepentingan yang lain yang posisinya lebih tinggi. Dalam kaitan dengan e- learning, para pengguna dapat menghadapi tekanan koersif dari sumber lain, seperti komitmen dan dukungan manajemen dan pimpinan sekolah. Pemimpin tidak hanya unsur kepala sekolah, tetapi juga figur lain yang berpengaruh mendorong pemanfaatan teknologi.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

ANALISIS PENGGUNAAN ELENA UNTUK MENINGKATKAN EFEKTIFITAS BELAJAR BERDASARKAN PENDEKATAN TECHNOLOGY ACCEPTANCE MODEL PADA MAHASISWA FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

ANALISIS PENGGUNAAN ELENA UNTUK MENINGKATKAN EFEKTIFITAS BELAJAR BERDASARKAN PENDEKATAN TECHNOLOGY ACCEPTANCE MODEL PADA MAHASISWA FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

Berdasarkan pendapat ahli di atas maka sesorang yang memiliki niat tinggi maka dirinya akan termotivasi untuk melakukan perilakunya. Perilaku yang dijalankan adalah perilaku yang diharapkan dan direncanakan supaya dapat terlaksana dengan baik. Kepercayaan menggunakan sistem menentukan suatu sikap pemakai ke arah penggunaan suatu system kemudian menentukan niat tingkah laku dan mengarah pada penggunaan sistem secara nyata. Penelitian- penelitian telah menunjukkan kebenaran TAM atas berbagai macam sistem penggunaan teknologi informasi oleh berbagai jenis instansi dan perusahaan.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...