Morfologi Bahasa Indonesia

Top PDF Morfologi Bahasa Indonesia:

STRUKTUR FONOLOGI DAN MORFOLOGI BAHASA INDONESIA

STRUKTUR FONOLOGI DAN MORFOLOGI BAHASA INDONESIA

alau kita perhatikan dengan baik, dalam kehidupan sehari-hari masih banyak masyarakat kita yang memakai bahasa Indonesia tetapi tuturan/ucapan daerahnya terbawa ke dalam tuturan bahasa Indonesia. Tidak sedikit seseorang yang berbicara dalam bahasa Indonesia, tetapi dengan lafal atau intonasi Jawa, Batak, Bugis, Sunda dan lain sebagainya. Hal ini dimungkinkan karena sebagian besar bangsa Indonesia memposisikan bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua. Sedangkan bahasa pertamanya adalah bahasa daerah masing-masing. Bahasa Indonesia hanya digunakan dalam komunikasi tertentu, seperti dalam kegiatan-kegiatan resmi.
Baca lebih lanjut

35 Baca lebih lajut

Buku morfologi Bahasa Indonesia

Buku morfologi Bahasa Indonesia

Globalisasi diidentifikasi sebagai suatu era yang sangat berpengaruh kepada pertambahan dan perkembangan kosakata bahasa Indonesia. Kosakata banyak bermunculan pada kurun waktu ini. “Bagaimana hal itu dapat terjadi? Ada beberapa hal yang menyebabkan kosakata itu lahir, yakni: 1) kosakata muncul dari hasil penelitian terhadap suatu objek, dari objek itu diciptakan nama, contoh kosakata android, blackberry, akun, rekening, markah buku, tembolok, situs web lapuk, cakram digital, lema, entri, folder, cakram keras, online web, prosesor, jejaring, laman web, situs web, wireless, peramban web dan lain sebagainya, kata-kata itu kemudian sering digunakan oleh penutur bahasa Indonesia baik secara perorangan, kelompok, perusahaan, komunitas, maupun profesi; 2) kosakata itu sengaja diserap dari bahasa lain untuk keperluan penggambaran makna suatu objek, konsep, proses, situasi, teks, konteks, karakter, ataupun sifat tertentu. Penciptaan dan penyerapan kosakata dalam ranah-ranah tersebut, tentu ada alasan atau persoalan yang disesuaikan dengan maksud dan tujuan, contoh kosakata yang muncul dari ranah teknologi informatika: diinstal; menginstal, terinstal; partisi, dipartisi, mempartisi, diformat, memformat, terformat, meramban, pemampatan, sambungan peramban, caiberlaw atau hukum telematika, mengheker, obrol siar internet wizard atau wisaya, webcasting atau siaran web, display atau tampilan, feedback atau balikam, output atau keluaran, scanner atau pemindai, preview atau pratonton, seup atau tatan dls.
Baca lebih lanjut

108 Baca lebih lajut

INTERFERENSI MORFOLOGI DAN SINTAKSIS BAHASA JAWA SERTA BAHASA INDONESIA PADA KOLOM  INTERFERENSI MORFOLOGI DAN SINTAKSIS BAHASA JAWA SERTA BAHASA INDONESIA PADA KOLOM ‘‘SUGENG ENJING” HARIAN SUARA MERDEKA.

INTERFERENSI MORFOLOGI DAN SINTAKSIS BAHASA JAWA SERTA BAHASA INDONESIA PADA KOLOM INTERFERENSI MORFOLOGI DAN SINTAKSIS BAHASA JAWA SERTA BAHASA INDONESIA PADA KOLOM ‘‘SUGENG ENJING” HARIAN SUARA MERDEKA.

Kesimpulan dalam penelitian ini adalah Interferensi Morfologi Bahasa Jawa yang meliputi: Pemakaian Prefiks Nasal N- bahasa Jawa, penambahan Sufiks –an bahasa Jawa pada kata dasar, Sufiks e- bahasa Jawa untuk mengganti –nya bahasa Indonesia. Pertukaran Konfiks, reduplikasi, kata majemuk (kompositum). Interferensi Morfologi Bahasa Indonesia meliputi: Pemakaian Prefiks ber, di, ter, dan ke, penambahan Sufiks –an bahasa Indonesia pada kata dasar. Interferensi Sintaksis Bahasa Jawa Meliputi: Pemakaian kata bahasa Jawa, penggunaan kata ganti orang (pronominal persona), pemakaian Frase –nya posesif bahasa Jawa dalam tuturan berbahasa Indonesia, interferensi pemakaian partikel bahasa Jawa. interferensi Sintaksis Bahasa Indonesia meliputi: pemilihan kata yang tidak tepat dalam bahasa Indonesia. Pola Interferensi Morfologi Meliputi: Pola verba, pola nomina, pola ajektif. Pola Interferensi Sintaksis Meliputi: Pola S+P, Pola S+K, Pola S+O, Pola P+O, Pola K+P, Pola O+P.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

HIERARKI MORFOLOGI PADA VERBA REDUPLIKASI BAHASA INDONESIA:

HIERARKI MORFOLOGI PADA VERBA REDUPLIKASI BAHASA INDONESIA:

berbeda dengan verba pukul-memukul. Jika dikaitkan dengan tiga golongan hierarki di atas, dapat dijelaskan bahwa pada verba memukul- mukul diturunkan dari pengimbuhan meN + (pukul-pukul), sedangkan pada verba pukul- memukul diturunkan dari pukul + (meN-+ pukul). Uraian di atas menunjukkan bahwa morfo- logi bahasa Indonesia perlu dikaji dari perspektif morfologi derivasi dan infleksi. Perspektif morfologi ini tampaknya bermanfaat untuk menjelaskan persoalan kebahasaan dalam morfologi BI itu. Apalagi, morfologi BI masih sedikit dikaji pakar linguistik dari perspektif morfologi darivasi dan infleksi ini. Di antara yang sedikit itu, Subroto telah membicarakan morfologi derivasi dan infleksi dalam beberapa tulisannya, seperti “Derivasi dan Infleksi: Kemungkinan Penerapannya dalam Morfologi Bahasa Indonesia” (1987), “Konsep Leksem dan Upaya Pembaharuan Penyusunan Kamus dalam Bahasa Indonesia” (1989), “Konsep Leksem dan Upaya Pengorganisasian Kembali Lema dan Sublema Kamus Besar Bahasa Indonesia” (1996). Dalam ketiga tulisan tersebut, Subroto telah mengemukakan konsep derivasi, infleksi, dan memberikan contoh-contoh penerapannya dalam morfologi afiksasi BI. Tulisan-tulisan Subroto ini telah memberikan dasar-dasar untuk mengkaji verba BI dari perspektif morfologi derivasi dan infleksi.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Problematika kata fatis dalam bahasa Ind

Problematika kata fatis dalam bahasa Ind

Kelas kata dalam bahasa Indonesia dibagi menjadi dua macam, yaitu kata isi dan kata fungsi. Kata isi yaitu kata yang menjadi unsur inti dalam kalimat dan memiliki makna makna leksikal. Yang termasuk kata isi yaitu nomina,pronomina, verba, adjektiva, dan numeralia. Kata fungsi yaitu kata yang tidak dapat menjadi unsur inti dalam kalimat serta tidak mempunyai makna leksikal. Yang tetrmasuk kata fungsi yaitu adverbia, interogativa, demonstrativa, artikula, preposisi. Kategori fatis yaitu kategori yang bertugas menilai, mempertahankan, mengukuhkan antara pembicara dan lawan bicara. Kelas kata ini biasanya terdapat dalam konteks dialog atau wawancara bersambutan, yaitu kalimat-kalimat yang diucapkan oleh pembicara dan lawan bicara. Sebagian besar kategori fatis merupakan ciri ragam lisan, karena ragam lisan pada umumnya merupakan ragam non standar.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Struktur Bahasa Indonesia “Morfologi Bahasa”

Struktur Bahasa Indonesia “Morfologi Bahasa”

• Klofks yaitu kata yang dibubuhi afks pada kiri dan kanannya tetapi pembubuhannya itu tidak sekaligus, melainkan bertahap. Kata-kata yang berklofks dalam bahasa Indonesia adalah yang berbentuk me-kan, me-i, memper, memper-kan, memper-i, ber- kan, di-kan, di-i, diper-, diper-kan, diper-i, ter-i, ter-kan, ter-per, teper-kan, teper-i.

24 Baca lebih lajut

INTERFERENSI MORFOLOGI BAHASA JAWA KE DALAM BAHASA INDONESIA PADA KOLOM “SURAT PEMBACA?”   Interferensi Morfologi Bahasa Jawa ke dalam Bahasa Indonesia pada Kolom “Surat Pembaca?” dalam Harian Suara Merdeka.

INTERFERENSI MORFOLOGI BAHASA JAWA KE DALAM BAHASA INDONESIA PADA KOLOM “SURAT PEMBACA?” Interferensi Morfologi Bahasa Jawa ke dalam Bahasa Indonesia pada Kolom “Surat Pembaca?” dalam Harian Suara Merdeka.

Setiap surat kabar mengunjungi masyarakat dari segala lapisan, mulai dari lapisan atas hingga lapisan bawah. Surat kabar mendatangi masyarakat dengan berita-beritanya, dengan segala macam informasi, opini serta tulisan-tulisan yang bersifat menghibur. Dari jangkauan yang luas itu, surat kabar banyak mempengaruhi sikap dan tingkah laku masyarakat. Dalam hal ini penggunaan bahasa Indonesia yang terpengaruh oleh bahasa daerah mudah sekali menyebar melalui media massa.

17 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Interferensi Morfologi Bahasa Jawa ke dalam Bahasa Indonesia pada Kolom “Surat Pembaca?” dalam Harian Suara Merdeka.

PENDAHULUAN Interferensi Morfologi Bahasa Jawa ke dalam Bahasa Indonesia pada Kolom “Surat Pembaca?” dalam Harian Suara Merdeka.

“Alwasilah (1999:8) menyatakan: “Komunikasi sebagai suatu proses melibatkan (1) pihak yang berkomunikasi, (2) informasi yang dikomunikasikan, (3) alat komunikas i”. Tidak ada komunikasi yang tidak melibatkan ketiga aspek di atas, manusia tidak akan lepas dari ketiga aspek tersebut. Dalam proses komunikasi digunakan bahasa sebagai pengantar. Dalam proses komunikasi masyarakat Indonesia menguasai bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional selain bahasa daerah masing-masing. Kedua bahasa tersebut kadang digunakan dalam kehidupan sehari-hari secara bersamaan, baik secara lisan maupun tulis. Situasi semacam ini memungkinkan terjadinya kontak bahasa yang saling mempengaruhi. Saling pengaruh itu dapat dilihat pada pemakaian bahasa Indonesia yang disisipi oleh kosa kata bahasa daerah atau sebaliknya. ”
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

 INTERFERENSI MORFOLOGI BAHASA JAWA KE DALAM BAHASA INDONESIA PADA KOLOM “SURAT PEMBACA?”   Interferensi Morfologi Bahasa Jawa ke dalam Bahasa Indonesia pada Kolom “Surat Pembaca?” dalam Harian Suara Merdeka.

INTERFERENSI MORFOLOGI BAHASA JAWA KE DALAM BAHASA INDONESIA PADA KOLOM “SURAT PEMBACA?” Interferensi Morfologi Bahasa Jawa ke dalam Bahasa Indonesia pada Kolom “Surat Pembaca?” dalam Harian Suara Merdeka.

Kesimpulan dari penelitian yaitu (1) Bentuk interferensi morfologi yang ditemukan pada penelitian ini antara lain interferensi yang berupa afiksasi yang meliputi pelesapan afiks , penambahan prefiks, penambahan sufiks, pertukaran prefiks, pertukaran sufiks dan pertukaran konfiks , interferensi pemakaian kata ulang. (2) Ada tiga latar belakang terjadinya interferensi bahasa Jawa dalam pemakaian bahasa Indonesia, yaitu kebiasaan penutur menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa pertama, menunjukkan nuansa kedaerahan, dan menghaluskan makna. (3) Ada tiga fungsi digunakan interferensi bahasa Jawa dalam pemakaian bahasa Indonesia, antara lain: untuk menekankan makna, ntuk mengungkapkan perasaan atau emosi, dan untuk menghormati mitra tutur.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

KATA ”CINTA” DALAM BAHASA INDONESIA KAJIAN MORFOLOGI DAN SEMANTIK.

KATA ”CINTA” DALAM BAHASA INDONESIA KAJIAN MORFOLOGI DAN SEMANTIK.

Menurut sifatnya makna ini dibedakan atas makna yang bersifat verbal dan makna yang bersifat non-verbal. Makna verbal adalah tanda yang dihasilkan manusia melalui alat-alat bicara, dalam hal ini adalah bahasa yang berupa kata atau kalimat dan mempunyai arti. Adapun makna non-verbal adalah makna sebagai tanda yang dihasilkan oleh anggota badan, misalnya acungan jempol bermakna hebat, bagus (Djajasudarma, 1999: 5).

9 Baca lebih lajut

KESALAHAN MORFOLOGI DALAM BAHASA INDONESIA FORMAL INTERFERENSI BAHASA BATAK TOBA OLEH GURU-GURU DI KECAMATAN SIBORONG-BORONG.

KESALAHAN MORFOLOGI DALAM BAHASA INDONESIA FORMAL INTERFERENSI BAHASA BATAK TOBA OLEH GURU-GURU DI KECAMATAN SIBORONG-BORONG.

diawali dengan wiyandana (huruf mati) berat; /j/ sehingga huruf awal yakni /j/ dibaca tetap setelah direkatkan dengan ater-ater n- bentuk ini akan berubah menjadi kata kerja aktif dalam bahasa Indonesia menjarah yang terbentuk dari unsur awalan me- kata dasar jarah. Bentuk akhiran –nya. Bentuk interferensi : jadwalnya mata kuliah IAD ini bentrok sama mata kuliah lain pak. Bentuk Baku : Jadwal mata kuliah IAD ini berntrok sama mata kuliah lain pak. Bentuk Interferensi : ya seperti kesimpulannya kemarin bahwa konsernya Lady Gaga memang tidak jadi di laksanakan di Indonesia. Bentuk baku : ya seperti kesimpulannya kemarin bahwa konser Lady Gaga memang tidak jadi dilaksanakan di Indonesia. Fungis utama dari akhiran –nya adalah menyatakan milik untuk orang ketiga. Oleh karena itu, penggunaan akhiran –nya dalam penggunaan bahasa Indonesia sebaiknya dihindari agar tidak merusak struktur kata serta kalimat yang sedang diujarkan. Proses morfofonemik; meluluhkan dan tidak meluluhkan fonem pada proses afiksasi. Bentuk interferensi : sebagian orang justru akan menertawakan perempuan yang percaya diri memakai rok mini ditengah keramaian kota, dalam arti tidak pada tempatnya, Analisis : menertawakan = me + tertawa + kan. Maka bentuk yang tepat adalah menertawakan awalan me- akan berubah menjadi men- atau luluh karena bertemu dengan kata dasar yang diawali fonem /t/ dan diikuti dengan vokal. Bentuk Interferensi : seandainya semua manusia mentaati norma dan hukum yang telah ada kasihan aparat dong nggak ada kerjaannya. Analisis : mentaati = me + taat + i. Unsur me + taat + i jika digabung menjadi kata yang berfungsi sebagai kata kerja akan menjadi menaati. Hal ini dikarenakan kata dasar “taat”
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

Pembentukan Kata Bahasa Indonesia Yang Berasal Dari Bahasa Arab : Kajian Morfologi Generatif

Pembentukan Kata Bahasa Indonesia Yang Berasal Dari Bahasa Arab : Kajian Morfologi Generatif

Kata /sedekah jariah/ ‘sedekah yang mengalir’ (contoh 10) merupakan kata majemuk yang diserap dari bahasa sumbernya /sadaqah/ [sadaqah] ( ﺔ ﺪ ) ‘sedekah’ (N) dan /ja:riyah/ [ja:riyah] ( ﺔ رﺎ ) ‘mengalir’ (N), maksudnya ada persamaan antara sedekah dengan benda yang sifatnya mengalir, yakni air (Ruskhan:2007:148). Kesamaan sifat mengalir itu menunjukkan adanya makna metaforis kata itu yang di dalam pemakaiannya bermakna ‘sedekah berupa harta atau benda tahan lama dan dapat dipakai untuk kepentingan umum yang pahalanya terus mengalir selama sedekah itu masih bermanfaat’ (Daefri,1998:63). Penyerapannya terjadi dengan mengganti fonem /a/ menjadi /e/ di antara fonem /s/ dan /d/ dan di antara fonem /d/ dan /q/ pada kata /sadaqah/, serta menyesuaikan bunyi /a:/ menjadi /a/ dan penghilangan fonem /y/ (sinkope) pada kata /jariyah/. Kata ini di dalam bahasa penerima membentuk kata majemuk nomina yang terdiri atas kata sedekah ‘pemberian sesuatu kepada fakir miskin atau yang berhak menerimanya, di luar kewajiban zakat dan zakat fitrah sesuai dengan kemampuan pemberi; derma’ (N) dan kata jariah ‘mengalir’ (N). Kata majemuk ini dapat dibentuk dengan menggunakan afiks {meN-kan} Æ [meN-kan + [sedekah jariah]] Æ /menyedekahjariahkan/ ‘memberi sedekah jariah’ dalam kalimat: Lelaki yang kaya itu menyedekahjariahkan sepertiga hartanya kepada panti asuhan. Kata majemuk ini memiliki tipe B 7 : ‘a secara b’ ( urutan predikat x-cara).
Baca lebih lanjut

323 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Interferensi Morfologi Dan Sintaksis Bahasa Jawa Dalam Bahasa Indonesia Pada Rubrik “Kolom” Dalam Solopos.Com.

PENDAHULUAN Interferensi Morfologi Dan Sintaksis Bahasa Jawa Dalam Bahasa Indonesia Pada Rubrik “Kolom” Dalam Solopos.Com.

Solopos.com merupakan surat kabar media cetak elektronik yang terbit di Surakarta. Mayoritas pembacanya merupakan warga Surakarta yang setiap hari berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Jawa, sehingga tidak menutup kemungkinan dalam penyampaian informasi terdapat penyimpangn pemakaian bahasa daerah terhadap bahasa Indonesia. Weinreich (Chaer dan Agustina, 1995: 120), menyebutkan bahwa interferensi digunakan untuk menyebut adanya suatu perubahan sistem suatu bahasa sehubungan dengan adanya persentuhan bahasa tersebut dengan unsur-unsur bahasa lain yang dilakukan oleh penutur yang bilingual.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

INTERFERENSI MORFOLOGI DAN SINTAKSIS   Interferensi Morfologi Dan Sintaksis Bahasa Jawa Dalam Bahasa Indonesia Pada Rubrik “Kolom” Dalam Solopos.Com.

INTERFERENSI MORFOLOGI DAN SINTAKSIS Interferensi Morfologi Dan Sintaksis Bahasa Jawa Dalam Bahasa Indonesia Pada Rubrik “Kolom” Dalam Solopos.Com.

Di Indonesia sudah banyak media massa yang mulai menyajikan informasinya melalui media massa elektronik. Demikian halnya surat kabar, kini surat kabar semakin mudah diakses melalui jaringan internet. Salah satu surat kabar yang dapat diakses melalui jaringan internet adalah Solopos.com. Solopos pada mulanya merupakan media massa cetak berupa surat kabar yang beredar diwilayah Surakarta. Namun, seiring berkembangnya teknologi, kini Solopos juga mulai memasuki penyajian informasi surat kabar yang selain diterbitkan dalam bentuk cetak kertas juga dalam bentuk cetak elektronik yang bisa diakses melalui http//Solopos.com.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

INTERFERENSI MORFOLOGI DAN SINTAKSIS BAHASA JAWA  DALAM BAHASA INDONESIA PADA KOLOM   Interferensi Morfologi Dan Sintaksis Bahasa Jawa Dalam Bahasa Indonesia Pada Kolom “Ah... Tenane” Harian Solopos.

INTERFERENSI MORFOLOGI DAN SINTAKSIS BAHASA JAWA DALAM BAHASA INDONESIA PADA KOLOM Interferensi Morfologi Dan Sintaksis Bahasa Jawa Dalam Bahasa Indonesia Pada Kolom “Ah... Tenane” Harian Solopos.

Dengan demikian, maka setiap kelompok orang yang memiliki tempat atau daerah, profesi, hobi, dan sebagainya menggunakan bentuk bahasa yang sama dan mempunyai penilaian yang sama pula terhadap norma-norma pemakaian bahasa tersebut, maka akan membentuk masyarakat tutur. Begitu pula kelompok- kelompok di dalam ranah-ranah sosial seperti rumah tangga, pemerintahan, keagamaan, atau bahkan kelompok kecil masyarakat terasing yang mungkin anggotanya hanya terdiri dari beberapa orang saja. Jadi bahasa nasional dan bahasa daerah jelas mewakili masyarakat tutur tertentu dalam hubungan dengan variasi kebahasaan.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

KAJIAN MORFOLOGI DERIVASIONAL DAN INFLEKSIONAL DALAM BAHASA INDONESIA.

KAJIAN MORFOLOGI DERIVASIONAL DAN INFLEKSIONAL DALAM BAHASA INDONESIA.

Kajian terhadap leksem dan kata ber- beda. Dengan mengacu pendapat Mattews, kata bisa dibedakan secara fonologis, kata se- bagai leksem, dan kata gramatikal. Di samping itu, penentuan ancangan (pendekatan) yang dipakai untuk tata kerja di dalam mengkaji se- buah kata dan proses pembentukannya (proses morfologisnya) memerlukan perhatian yang seksama. Untuk memahami bagaimana kata dapat dikaji dalam bahasa, analisis kata dengan pendekatan Item and Arrangement (IA), analisis kata dengan Item and Process (IP), dan Word and Paradigm (WP) bisa diterap- kan. Deskripsi yangdibuat dari ketiga model itu dapat dikaitkan dengan satu model yang disarankan. Pada umumnya tampak bahwa bahasa-bahasa isolasi lebih tepat dengan model IA; beberapa segi bahasa fusi dan aglutinasi jauh lebih mudah diterapkan pada tata bahasa dengan model IP; dan beberapa segi dari bahasa fusi memerlukan bantuan dari tata bahasa model WP agar lebih efektif.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Contoh Makalah Morfologi Linguistik Bahasa Indonesia

Contoh Makalah Morfologi Linguistik Bahasa Indonesia

Dalam bahasa Indonesia mempunyai berbagai bentuk. Kata sedih, gembira, dan senang merupakan satu morfem. Kata bersedih, bergembira, dan bersenang merupakan dua morfem, yaitu morfem ber- sebagai afiks, dam morfem sedih merupakan bentuk dasarnya begitu juga dengan morfem bergembira dan bersenang terdiri dari dua morfem. Kata senang-senang terdiri dari dua morfem yaitu morfem senang sebagai bentuk dasar dan diikuti oleh senang sebagai morfem ulang. Semua yang berhubungan denngan bentuk kata tersebut yang menjadi objek dari suatu ilmu disebut dengan morfologi.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

KAJIAN MORFOLOGI DERIVASIONAL DAN INFLEKSIONAL DALAM BAHASA INDONESIA

KAJIAN MORFOLOGI DERIVASIONAL DAN INFLEKSIONAL DALAM BAHASA INDONESIA

Tidak adanya sebuah bentuk yang se- harusnya ada (karena menurut kaidah di- benarkan) ini disebut blocking (Aronoff, 1976:43; Bauer, 1983:87). Hal ini disebabkan karena keproduktifan proses derivasi dan penambahan alternan-alternan baru pada daftar derivasional dibatasi oleh kaidah-kaidah yang sudah ada (Chaer, 1994:194). Misalnya, pem- bentukan kata baru dengan prefiks memper- terbatas pada dasar adjektiva dan dasar nume- ralia, dan tidak dapat diberlakukan pada dasar verba. Misalnya, kata memperbanyak, mem- perburuk, memperketat. Tidak ada bentuk *memperbaca, *memperlihat, *memper- tulis, sebab dasar baca, lihat, dan tulis bu- kanlah adjektif, melainkan verba. Di samping itu, perlu pula dicermati bahwa meskipun kaidah mengizinkan untuk terbentuknya suatu kata, namun dalam kenyataan berbahasa bentuk-bentuk tersebut tidak dijumpai. Contoh dalam bahasa Indonesia adalah: memper- baiki, tetapi tidak ada *memperbetuli. Ada bentuk kekasih, tetapi *kesayang tidak ada; ada bentuk keda-tangan, tetapi tidak ada bentuk *ketibaan. Di dalam bahasa Inggris demikian pula, ada bentuk arrival, tetapi tidak ada *arrivation; ada bentuk derivation, namun bentuk *derival tidak ditemukan.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

KAJIAN MORFOLOGI DERIVASIONAL DAN INFLEKSIONAL DALAM BAHASA INDONESIA

KAJIAN MORFOLOGI DERIVASIONAL DAN INFLEKSIONAL DALAM BAHASA INDONESIA

Kajian terhadap leksem dan kata ber- beda. Dengan mengacu pendapat Mattews, kata bisa dibedakan secara fonologis, kata se- bagai leksem, dan kata gramatikal. Di samping itu, penentuan ancangan (pendekatan) yang dipakai untuk tata kerja di dalam mengkaji se- buah kata dan proses pembentukannya (proses morfologisnya) memerlukan perhatian yang seksama. Untuk memahami bagaimana kata dapat dikaji dalam bahasa, analisis kata dengan pendekatan Item and Arrangement (IA), analisis kata dengan Item and Process (IP), dan Word and Paradigm (WP) bisa diterap- kan. Deskripsi yangdibuat dari ketiga model itu dapat dikaitkan dengan satu model yang disarankan. Pada umumnya tampak bahwa bahasa-bahasa isolasi lebih tepat dengan model IA; beberapa segi bahasa fusi dan aglutinasi jauh lebih mudah diterapkan pada tata bahasa dengan model IP; dan beberapa segi dari bahasa fusi memerlukan bantuan dari tata bahasa model WP agar lebih efektif.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

INTERFERENSI MORFOLOGI DAN SINTAKSIS  BAHASA JAWA DALAM BAHASA INDONESIA   Interferensi Morfologi Dan Sintaksis Bahasa Jawa Dalam Bahasa Indonesia Pada Rubrik “Kolom” Dalam Solopos.Com.

INTERFERENSI MORFOLOGI DAN SINTAKSIS BAHASA JAWA DALAM BAHASA INDONESIA Interferensi Morfologi Dan Sintaksis Bahasa Jawa Dalam Bahasa Indonesia Pada Rubrik “Kolom” Dalam Solopos.Com.

Penelitian ini meneliti tentang interferensi morfologi dan sintaksis yang terdapat dalam rubrik “Kolom” Solopos.com. Penelitian ini menghasilkan dua jenis interferensi, yaitu interferensi morfologi dan sintaksis yang terdapat dalam rubrik “Kolom” Solopos.com. Bentuk interferensi morfologi yang ditemukan pada penelitian ini antara lain interferensi yang berupa afiksasi yang meliputi pelesapan afiks, penambahan prefiks, penambahan sufiks, pertukaran prefiks, interferensi pemakaian kata ulang dan interferensi kata majemuk, sedangkan interferensi sintaksis pada penelitian ini berupa pemakaian kata (leksikon) dan pemakaian frase –nya posesif bahasa Jawa dan pemakaian partikel. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Karena pembahasan dalam penelitian ini menggunakan kata-kata yang menjelaskan data yang di analisis secara rinci. Data dalam penelitian ini adalah kata atau kalimat yang mengandung interferensi pada rubrik Kolom dalam media massa elektronik Solopos.com. Adapun sumber data yakni rubrik Kolom dalam media massa elektronik Solopos.com. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu dengan teknik dokumentasi. Sedangkan, teknik analisis datanya menggunakan metode padan. Latar belakang terjadinya interferensi bahasa Jawa dalam pemakaian bahasa Indonesia meliputi: 1) Kebiasaan penutur menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa pertama, 2) Menunjukkan nuansa kedaerahan, dan 3) Menghaluskan makna. Kemudian fungsi digunakan interferensi bahasa Jawa dalam pemakaian bahasa Indonesia adalah 1) Untuk menekankan makna, 2) Untuk mengungkapkan perasaan atau emosi, dan 3) Untuk menghormati mitra tutur.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...