Morfologi Eritrosit

Top PDF Morfologi Eritrosit:

Pengaruh Variasi Penundaan Pemberian Larutan Fiksasi Sediaan Apus Darah Tepi terhadap Morfologi Eritrosit - Repository Universitas Muhammadiyah Semarang

Pengaruh Variasi Penundaan Pemberian Larutan Fiksasi Sediaan Apus Darah Tepi terhadap Morfologi Eritrosit - Repository Universitas Muhammadiyah Semarang

Pemeriksaan hematologi yang penting guna mengetahui diagnosa penyakit klinis adalah morfologi eritrosit pada sediaan apus darah tepi. Penilaian sediaan yang akurat dan terpercaya erat kaitannya dengan faktor pra analitik yang harus dikendalikan agar tidak berpengaruh pada kualitas sediaan. Faktor yang berpengaruh pada kualitas sediaan salah satunya adalah tahapan fiksasi. Fungsi fiksasi pada pemeriksaan sel darah yaitu: mencegah autolisis, merekatkan sel dengan objeck glass, memperkuat daya serap sel terhadap zat warna serta mematikan mikroorganisme. Pada laboratorium klinik seringkali sediaan apus darah tepi tidak langsung difiksasi setelah dibuat sediaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi penundaan pemberian larutan fiksasi sediaan apus darah tepi terhadap morfologi eritrosit. Jenis penelitian ini adalah eksperimen. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa DIV Analis Kesehatan semester 8 Fakultas Ilmu Keperawatan dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Semarang yang berjumlah 9 orang. Teknik sampling yang digunakan adalah Purposive Sampling. Analisis data menggunakan uji statistik Fischer Exact. Hasil penelitian variasi penundaaan pada pemberian larutan fiksasi segera ditemukan 100% sediaan dengan kriteria baik, dibandingkan pada penundaan 6 jam ditemukan 56% sediaan kriteria baik, pada penundaan 8 dan 10 jam ditemukan 11% sediaan dengan kriteria baik. Berdasarkan hasil analisis data menggunakan uji Fischer Exact, nilai p- value 0,000 < alfa (0,05), maka disimpulkan ada pengaruh variasi penundaan pemberian larutan fiksasi terhadap morfologi eritrosit.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

PERBEDAAN MORFOLOGI ERITROSIT PADA SPESIMEN DARAH K3EDTA YANG SEGERA DIPERIKSA DAN DITUNDA SELAMA 3 JAM - Repository Universitas Muhammadiyah Semarang

PERBEDAAN MORFOLOGI ERITROSIT PADA SPESIMEN DARAH K3EDTA YANG SEGERA DIPERIKSA DAN DITUNDA SELAMA 3 JAM - Repository Universitas Muhammadiyah Semarang

Sediaan apus darah tepi merupakan suatu pemeriksaan untuk menghitung jenis dan mengidentifikasi morfologi darah. Sediaan apus darah yang meiliki kriteria yang baik antara lain lebar, panjang tidak memenuhi seluruh kaca obyek, ketebalan yang gradual, tidak berlubang dan memiliki pengecatan yang baik. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi morfologi eritrosit yaitu lamanya penyimpanan sampel, penundaan waktu pemeriksaan sampel darah dengan antikoagulan K3EDTA maksimal yaitu 2 jam, apabila lebih dari 2 jam akan menyebabkan kelainan morfologi sel misalnya krenasi. Jenis penelitian ini adalah eksperimen, yaitu sampel diberikan perlakuan kemudian dilakukan pemeriksaan sampel. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa DIV Analais Kesehatan semester tujuh FIKKES UNIMUS yang berjumlah 16 orang yang dipilih secara acak dengan teknik sampling menggunakan Simple Random Sampling. Analisis data menggunakan uji statistik Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil dengan pemeriksaan segera 18,8% memiliki kriteria baik dan 81,3% memiliki kriteria buruk dan untuk pemeriksaan ditunda selama 3 jam 12,5% memiliki kriteria baik dan 87,5% memiliki kriteria buruk. Berdasarkan hasil analisis uji Chi-square, nilai p-value 0,025 < (0,05), maka disimpulkan bahwa ada perbedaan morfologi eritrosit pada specimen darah K3EDTA yang segera diperiksa dan ditunda selama 3 jam.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

PENILAIAN HEMOGLOBIN ADULT 1C DAN MALONDIALDEHYDE SEBAGAI FAKTOR RISIKO PERUBAHAN MORFOLOGI ERITROSIT PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2.

PENILAIAN HEMOGLOBIN ADULT 1C DAN MALONDIALDEHYDE SEBAGAI FAKTOR RISIKO PERUBAHAN MORFOLOGI ERITROSIT PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2.

Metode: Desain penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Pasien DM tipe 2 yang akan memeriksakan kadar HbA1c, dilakukan pembuatan apusan darah, pemeriksaan plasma MDA serta penghitungan jumlah sel ekinosit dalam 1000 eritrosit. Analisis bivariat dan multivariat untuk menilai faktor risiko HbA1c dan plasma MDA terhadap perubahan morfologi eritrosit. Hasil: Sebanyak 47 pasien DM tipe2 dan 14 pasien sehat terlibat dalam penelitian ini. Didapatkan hubungan korelasi positif antara kadar HbA1c dan plasma MDA terhadap jumlah sel ekinosit pada pasien DM tipe2 dengan r=0,654; p<0,001 untuk HbA1c dan r=0,328; p=0,024 untuk plasma MDA. Analisis multivariat didapatkan, kadar HbA1c memiliki pengaruh yang signifikan terhadap terjadinya sel ekinosit (p<0,001) namun tidak pada plasma MDA (p=0,678).
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

PERBANDINGAN MORFOLOGI ERITROSIT MENGGUNAKAN ANTIKOAGULAN EDTA DAN FILTRAT BAWANG PUTIH (Allium sativum, L) SEBAGAI ANTIKOAGULAN ALTERNATIF - Repository Universitas Muhammadiyah Semarang

PERBANDINGAN MORFOLOGI ERITROSIT MENGGUNAKAN ANTIKOAGULAN EDTA DAN FILTRAT BAWANG PUTIH (Allium sativum, L) SEBAGAI ANTIKOAGULAN ALTERNATIF - Repository Universitas Muhammadiyah Semarang

Hasil pengamatan morfologi eritrosit pada tabel 3 diberi penilaian baik dengan buruk. Pada morfologi eritrosit yang menggunakan antikoagulan EDTA dari total sampel 33 terdapat 2 sampel yang eritrositnya buruk (krenasi) dengan persentase 6.1 %, sedangkan morfologi eritrosit yang baik sebanyak 31 sampel dengan persentase 93.9 %. Pada morfologi eritrosit yang menggunakan antikoagulan filtrat bawang putih dari total sampel 33 terdapat 1 sampel yang buruk (krenasi) dengan persentase 3.0 %, dan yang baik 32 sampel dengan persentase 97.0 %.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

GAMBARAN MORFOLOGI ERITROSIT PADA JURU PARKIR (Studi di Jalan Ahmad Yani Kecamatan Jombang Kabupaten Jombang) KARYA TULIS ILMIAH

GAMBARAN MORFOLOGI ERITROSIT PADA JURU PARKIR (Studi di Jalan Ahmad Yani Kecamatan Jombang Kabupaten Jombang) KARYA TULIS ILMIAH

Menurut peneliti dalam hal ini jika seseorang dalam keadaan sakit atau memiliki riwayat penyakit yang serius baik bersifat akut atau kronis dapat mempertinggi resiko tingkat toksisitas zat yang masuk kedalam tubuh karena dengan keadaan sakit/riwayat penyakit tertentu juga berakibat sistem kekebalan di dalam tubuh menurun sehingga resiko untuk terpapar zat toksik lebih tinggi dari asap kendaraan bermotor. Selain itu nilai kesehatan dari segi kekurangan gizi juga berdampak pada meningkatnya zat toksik seperti kadar timbal yang bebas dalam darah yang dapat mempengaruhi morfologi eritrosit.
Baca lebih lanjut

94 Baca lebih lajut

Morfologi Eritrosit Pada Sediaan Apus Darah Tepi (SADT) Sampel Dengan Hasil Pemeriksaan One Tube Osmotic Fragility Test(OTOFT)Positif.

Morfologi Eritrosit Pada Sediaan Apus Darah Tepi (SADT) Sampel Dengan Hasil Pemeriksaan One Tube Osmotic Fragility Test(OTOFT)Positif.

gangguan struktural dan biokimia dari eritrosit yang mengalami keadaan-keadaan patologis, hampir dapat dipastikan bahwa terdapat perubahan morfologi sel, yang dapat ditinjau lebih lanjut menggunakan pemeriksaan sediaan apus darah tepi (SADT). Seberapa erat hubungan antara perubahan fragilitas eritrosit dengan gambaran eritrosit pada SADT masih sangat layak untuk diteliti. Tujuan penelitian Mengetahui morfologi eritrosit pada SADT (Sediaan Apus Darah Tepi) sampel darah yang memberikan hasil positif pada pemeriksaan OTOFT (One Tube Osmotic Fragility Test). Metode Penelitian Bersifat kualitatif, deskriptif. Penelitian dilakukan pada 40 orang normal yang diambil darahnya, dilakukan pemeriksaan One Tube Osmotic Fragility Test (OTOFT) dan pembuatan sediaan apus darah tepi. SADT dibaca oleh dua pembaca kompeten.
Baca lebih lanjut

30 Baca lebih lajut

GAMBARAN MORFOLOGI ERITROSIT PADA JURU PARKIR (Studi di Jalan Ahmad Yani Kecamatan Jombang Kabupaten Jombang) - STIKES Insan Cendekia Medika Repository

GAMBARAN MORFOLOGI ERITROSIT PADA JURU PARKIR (Studi di Jalan Ahmad Yani Kecamatan Jombang Kabupaten Jombang) - STIKES Insan Cendekia Medika Repository

Menurut peneliti dalam hal ini jika seseorang dalam keadaan sakit atau memiliki riwayat penyakit yang serius baik bersifat akut atau kronis dapat mempertinggi resiko tingkat toksisitas zat yang masuk kedalam tubuh karena dengan keadaan sakit/riwayat penyakit tertentu juga berakibat sistem kekebalan di dalam tubuh menurun sehingga resiko untuk terpapar zat toksik lebih tinggi dari asap kendaraan bermotor. Selain itu nilai kesehatan dari segi kekurangan gizi juga berdampak pada meningkatnya zat toksik seperti kadar timbal yang bebas dalam darah yang dapat mempengaruhi morfologi eritrosit.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Morfologi Eritrosit Pada Sediaan Apus Da

Morfologi Eritrosit Pada Sediaan Apus Da

gangguan struktural dan biokimia dari eritrosit yang mengalami keadaan-keadaan patologis, hampir dapat dipastikan bahwa terdapat perubahan morfologi sel, yang dapat ditinjau lebih lanjut menggunakan pemeriksaan sediaan apus darah tepi (SADT). Seberapa erat hubungan antara perubahan fragilitas eritrosit dengan gambaran eritrosit pada SADT masih sangat layak untuk diteliti. Tujuan penelitian Mengetahui morfologi eritrosit pada SADT (Sediaan Apus Darah Tepi) sampel darah yang memberikan hasil positif pada pemeriksaan OTOFT (One Tube Osmotic Fragility Test). Metode Penelitian Bersifat kualitatif, deskriptif. Penelitian dilakukan pada 40 orang normal yang diambil darahnya, dilakukan pemeriksaan One Tube Osmotic Fragility Test (OTOFT) dan pembuatan sediaan apus darah tepi. SADT dibaca oleh dua pembaca kompeten.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

2.2.1. Ukuran Sel Darah - Pengaruh Variasi Penundaan Pemberian Larutan Fiksasi Sediaan Apus Darah Tepi terhadap Morfologi Eritrosit - Repository Universitas Muhammadiyah Semarang

2.2.1. Ukuran Sel Darah - Pengaruh Variasi Penundaan Pemberian Larutan Fiksasi Sediaan Apus Darah Tepi terhadap Morfologi Eritrosit - Repository Universitas Muhammadiyah Semarang

Anemia dengan bentuk eritrosit yang lebih besar dari ukuran normal. Adanya gangguan pada sintesis hemoglobin menyebabkan eritrosit yang besar. Pada penyakit hati ditemukan makrosit bulat, sedangkan defisiensi vitamin B12 atau asam folat menyebabkan adanya makrosit lonjong. Penyebab anemia makrositer diantaranya:

10 Baca lebih lajut

Indeks eritrosit pada kelinci new zealand white jantan (Oryctolagus cuniculus) pasca operasi urethrotomi

Indeks eritrosit pada kelinci new zealand white jantan (Oryctolagus cuniculus) pasca operasi urethrotomi

Morfologi normal eritrosit bervariasi tergantung pada spesies. Eritrosit mamalia tidak berinti, sedangkan eritrosit pada bangsa camellidae, reptile, dan aves memiliki inti. Bentuk oval dan bikonkaf dari eritrosit berfungsi sebagai pertukaran oksigen. Bentuk eritosit dari kelinci NZW adalah bikonkaf dengan diameter 6,7 – 6,9 µm dengan ketebalan rata-rata 2,15 – 2,4 µm. Eritrosit kelinci NZW memiliki masa hidup antara 45 – 70 hari, rata-rata 57 hari (Zimmerman et al. 2010). Fungsi utama dari sel darah merah (eritrosit) adalah untuk mengangkut hemoglobin yang membawa oksigen ke jaringan. Morfologi eritrosit sering digunakan untuk menegakan diagnosa mengenai penyebab anemia. Morfologi eritrosit dapat dilihat pada preparat darah sesuai dengan warna, ukuran dan bentuk, struktur di dalam dan di luar eritrosit dan susunan pada preparat darah (Thrall 2004).
Baca lebih lanjut

30 Baca lebih lajut

B1J010143 7.

B1J010143 7.

Histogram Jumlah Primordial Germ Cell Intra Gonad dan Ekstra Gonad Ikan Nilem Osteochilus hasselti C.V.. Morfologi Eritrosit Ikan Nilem Osteochilus hasselti C.V.[r]

1 Baca lebih lajut

LAPORAN PENDAHULUAN AUTOIMMUNE HEMOLYTIC (1)

LAPORAN PENDAHULUAN AUTOIMMUNE HEMOLYTIC (1)

Anemia hemolitik merupakan kondisi dimana jumlah sel darah merah (HB) berada di bawah nilai normal akibat kerusakan (dekstruksi) pada eritrosit yang lebih cepat dari pada kemampuan sumsum tulang mengantinya kembali. Jika terjadi hemolisis (pecahnya sel darah merah) ringan/sedang dan sumsum tulang masih bisa mengompensasinya, anemia tidak akan terjadi, keadaan ini disebut anemia terkompensasi. Namun jika terjadi kerusakan berat dan sumsum tulang tidak mampu menganti keadaan inilah yang disebut anemia hemolitik. Anemia hemolitik sangat berkaitan erat dengan umur eritrosit. Pada kondisi normal eritrosit akan tetap hidup dan berfungsi baik selama 120 hari, sedang pada penderita anemia hemolitik umur eritrosit hanya beberapa hari saja.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

PENGARUH LAMA PEMBENDUNGAN DALAM PENGAMBILAN DARAH VENA DENGAN TEKANAN 40 mmHg TERHADAP JUMLAH ERITROSIT - Repository Universitas Muhammadiyah Semarang

PENGARUH LAMA PEMBENDUNGAN DALAM PENGAMBILAN DARAH VENA DENGAN TEKANAN 40 mmHg TERHADAP JUMLAH ERITROSIT - Repository Universitas Muhammadiyah Semarang

Hitung jumlah eritrosit merupakan bagian hitung darah total, hitung jumlah eritrosit yang tinggi menunjukkan adanya polisitemia, hitung eritrosit yang menurun menunjukkan adanya anemia, pemeriksaan jumlah eritrosit dipengaruhi oleh pra- analitik. hemokonsentrasi terjadi karena lamanya pembendungan yang dilakukan saat pengambilan darah vena, ini dapat mengakibatkan hasil pemeriksaan eritrosit yang lebih tinggi dari nilai sesunguhnya. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh lama pembendungan dalam pengambilan darah vena dengan tekanann 40 mmHg terhadap jumlah eritrosit. Jenis penelitian observasi analitik. Sampel diambil secara random sebanyak 16 mahasiswa dari total populasi 60 mahasiswa laki-laki semester VIII Jasus Analis Kesehatan Universitas Muhammadiyah Semarang, kemudian probandus diambil sampelnya dengan lama pembendungan 1 menit dan 3 menit kemudian sampel diperiksa menggunakan metode automatik. Hasil rata-rata jumlah eritrosit pembendungan 1 menit 5,32 juta sel/µl dan pembendungan 3 menit 5,52 juta sel/µl. Hasil penelitian menunjukan pemeriksaan lama pembendungan 3 menit lebih tinggi dibandingkan lama pembendungan 1 menit. Uji statistik Paired Sampel T-Test menunjukan nilai kemaknaan 0,002 dengan taraf kemaknaan 0,05 yaitu 0,002 ≤ 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh lama pembendungan dalam pengambilan darah vena dengan tekanan 40 mmHg terhadap jumlah eritrosit.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Hubungan Anemia dan Kadar Vascular Endothelial Growth Factor A (VEGFA) pada Neonatus

Hubungan Anemia dan Kadar Vascular Endothelial Growth Factor A (VEGFA) pada Neonatus

cepat yaitu pada usia 4-6 minggu dan turunnya nilai hemoglobin lebih rendah terjadi pada bayi prematur, yaitu 8 g/dl pada bayi dengan berat badan kurang dari 1500 gram dan 7 g/dl pada bayi dengan berat badan lahir kurang dari 1000 gram. Penurunan nilai hemoglobin pada neonatus cukup bulan dapat ditoleransi dengan baik dan tidak memerlukan terapi, oleh karena itu disebut anemia fisiologi. Sedangkan penurunan nilai hemoglobin pada bayi prematur disertai tanda dan gejala serta memerlukan transfusi eritrosit. Hal ini disebut dengan anemia pada bayi prematur ( anemia of prematurity ) 14
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Darah 2.1.1 Pengertian Darah

7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Darah 2.1.1 Pengertian Darah

Komponen sel darah tersusun atas sel darah merah (Eritrosit) sekitar 99%, sisanya 1% adalah sel darah putih (Leukosit) dan Keping darah (Trombosit). Sel darah merah mengandung banyak hemoglbin. Sel darah merah di hasilkan di limpa, hati dan sum sum merah pada tulang pipih, sel darah merah yang sudah mati di hancurkan di dalam hati. Sel darah merah atau eritrosit berbentuk bulat pipih dengan cekungan di kedua permukaannya (Bionkaf). Eritrosit berfungsi mengedarkan oksigen dan karbondioksida. Eritrosit di bentuk di sumsum tulang yang di sebut Eritropoesis. Masa hidup eritrosit rata rata 120 hari (Wahyu, 2009).
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

JATI SUMILIH G2A008101 LAP

JATI SUMILIH G2A008101 LAP

Agar darah yang digunakan sebagai bahan pembuatan ADM-St biasa diambil dari bank darah yang tidak mengalami proses pencucian eritrosit sehingga kandungan antibodi, komplemen, antikoagulan sitrat, antigen, serta protein globulin masih tinggi. Adanya reseptor antigen pada sel darah merah akan dapat memicu reaksi, diantaranya sel darah merah akan lisis sehingga ADM tidak maksimal lagi jika digunakan sebagai media kultur bakteri seperti S. pneumoniae. 11 Pada penelitian Russell pada tahun 2006 didapatkan hasil senada bahwa S. pneumoniae yang ditanam di media agar darah standar tidak ada perbedaan bermakna dalam hal jumlah koloni dengan yang ditumbuhkan di agar darah domba. Perbedaan bermakna ditemui pada diameter koloni dan diameter hemolisis, di mana S. pneumoniae yang ditumbuhkan di ADM diameter koloninya seperti pinpoint dan pola hemolisisnya minimal atau bahkan tidak ada. 15
Baca lebih lanjut

77 Baca lebih lajut

6. u ANFIS Maret 15 enny

6. u ANFIS Maret 15 enny

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan jumlah eritrosit dan hemoglobin sebagai alternatif pencegahan penyakit avian influenza (AI) pada ayam pedaging melalui peningkatan daya tahan tubuh. Eritrosit dan hemoglobin selain berperan dalam distribusi oksigen kedalam sel, juga berperan dalam peningkatan sistem imun. Penelitian ini menggunakan 40 ekor ayam broiler umur satu hari. Desain penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap pola faktorial dengan faktor pertama adalah 2 level vaksin yaitu kelompok ayam yang divaksin AI dan kelompok ayam yang tidak divaksin AI. Faktor kedua menggunakan 4 level VCO yaitu 0, 5, 10 dan 15 mL/kg pakan. Ayam broiler dikelompokkan dalam 8 kelompok perlakuan dan dilakukan pengulangan dalam 5 unit percobaan. Pakan dan minum diberikan ad libitum selama 4 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah eritrosit dipengaruhi oleh vaksinasi AI sedang hemoglobin dipengaruhi oleh vaksinasi AI dan pemberian VCO.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Eksplorasi Umum Endapan Felspar Donggala

Eksplorasi Umum Endapan Felspar Donggala

GEOLOGI DAN POTENSI FELSPAR Morfologi Satuan morfologi daerah penyelidikan terdiri dari 3 satuan morfologi : - Morfologi perbukitan terjal, didominasi oleh satuan batuan metamorf dan[r]

8 Baca lebih lajut

6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Darah

6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Darah

Darah merupakan salah satu sistem kardiovaskuler yang berasal dari peredaran darah dengan jaringan ikat khusus mengandung sel-sel dan berada dalam matriks dengan bentuk larutan terdiri dari dua bagian yaitu plasma darah sekitar 55% dan sisanya sel darah (eritrosit, leukosit dan trombosit) 45% (Miarsyah, 2011). Volume darah dalam tubuh secara keseluruhan yaitu satu per dua belas dari berat badan atau sekitar lima liter, memiliki karakteristik suhu antara 37 o C sampai 38 o C dan memiliki pH dengan rata-rata 7,4 (7,35-7,45) (Evelyn, 2006). Kedaan jumlah darah pada setiap manusia dapat mengalami naik-turun bergantung dari berbagai faktor, diantaranya: usia, jenis kelamin, ketinggian tempat hidup dan kondisi kesehatan jantung atau pembuluh darah seseorang (Handayani & Haribowo, 2008). Peranan darah berfungsi sebagai pertahanan tubuh dari infeksi berbagai penyakit, mengangkut zat makanan dan oksigen ke seluruh tubuh, mengangkut sisa- sisa metabolisme ke alat-alat ekskresi, mengedarkan hormon-hormon ke bagian tubuh tertentu, menjaga stabilitas suhu tubuh dan menjaga keseimbangan asam basa secara efekif tanpa meninggalkan fungsinya masing-masing didalam jaringan tubuh (Miarsyah, 2011).
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Total Eritrosit, Hemoglobin, Pack Cell Volume, dan Indeks Eritrosit Sapi Bali yang Terinfeksi Cysticercus Bovis.

Total Eritrosit, Hemoglobin, Pack Cell Volume, dan Indeks Eritrosit Sapi Bali yang Terinfeksi Cysticercus Bovis.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengatahui total eritrosit, hemoglobin, PCV dan indeks eritrosit Sapi Bali yang terinfeksi Cysticercus bovis secara eksperimental. Sampel yang digunakan adalah tiga Sapi Bali betina yang berumur 5-7 bulan. Satu ekor digunakan sebagai kontrol dan dua ekor lainnya sebagai perlakuan. Infeksi eksperimental dilakukan dengan cara menginfeksikan 500.000 telur Taenia saginata per oral. Sampel darah diambil sebanyak lima kali setiap dua minggu. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil penelitian, menunjukkan total eritrosit, hemoglobin, PCV dan indeks eritrosit Sapi Bali yang diinfeksi 500.000 telur T. saginata adalah: eritrosit (7,23 x 10 6 /µL); hemoglobin (10,01 g/dL); PCV (32,07%); MCV (43,4 fL); MCH (13,74 pg); dan MCHC (31,33 g/dL). Nilai tersebut masih berada pada rentang normal komponen eritrosit sapi dan tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan parameter yang sama pada sapi kontrol. Simpulannya sel darah merah Sapi Bali yang terinfeksi Cysticercus bovis hingga minggu ke-9 tidak berbeda nyata dengan sapi kontrol.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Show all 2723 documents...

Related subjects