mutu pelayanan kesehatan

Top PDF mutu pelayanan kesehatan:

PERBANDINGAN TINGKAT KEPUASAN KELUARGA PASIEN GAWAT DARURAT DAN GAWAT NON DARURAT TERHADAP MUTU PELAYANAN KESEHATAN DI UGD RS. BAPTIS BATU ipi4210

PERBANDINGAN TINGKAT KEPUASAN KELUARGA PASIEN GAWAT DARURAT DAN GAWAT NON DARURAT TERHADAP MUTU PELAYANAN KESEHATAN DI UGD RS. BAPTIS BATU ipi4210

Menurut Supriyanto (2003) bahwa kecepatan, respon dan kerjasama perawat dalam membantu menyelesaikan masalah pasien adalah sangat penting. Karena perawat merupakan salah satu petugas kesehatan yang paling dekat dengan pasien dalam hal pemberian pelayanan kesehatan. Selain ramah, sabar juga terampil dalam memberikan tindakan keperawatan, perawat di UGD RS Baptis Batu juga memperhatikan setiap keluhan yang disampaikan oleh pasien. Sehingga keluarga pasien yang datang memberikan penilaian sangat puas terhadap mutu pelayanan kesehatan yang diberikan oleh perawat.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

HUBUNGAN MUTU PELAYANAN KESEHATAN DENGAN KEPUASAN PASIEN PESERTA BPJS DI RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA NASKAH PUBLIKASI - Hubungan Mutu Pelayanan Kesehatan dengan Kepuasan Pasien Peserta BPJS di RS PKU Muhammadiyah Yogyakrta - DIGILIB UNISAYOGYA

HUBUNGAN MUTU PELAYANAN KESEHATAN DENGAN KEPUASAN PASIEN PESERTA BPJS DI RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA NASKAH PUBLIKASI - Hubungan Mutu Pelayanan Kesehatan dengan Kepuasan Pasien Peserta BPJS di RS PKU Muhammadiyah Yogyakrta - DIGILIB UNISAYOGYA

Mutu pelayanan kesehatan adalah pelayanan kesehatan yang merujuk pada tingkat kesempurnaan pelayanan kesehatan dalam menimbulkan rasa puas pada diri setiap pasien dan tata cara penyelenggaraannya sesuai dengan kode etik serta standar pelayanan profesi yang telah ditetapkan. Semakin bermutu pelayanan kesehatan, maka semakin tinggi pula kepuasan yang dimiliki pasien. Kepuasan tersebut sesuai dengan tingkat kepuasan rata-rata penduduk (Sondakh, 2013). Penelitian ini juga mengungkapkan terdapat 4 orang (5,3%) peserta BPJS yang menilai mutu pelayanan yang diterimanya tidak baik. Responden yang menilai mutu pelayanan kesehatan di rumah sakit PKU Muhammadiyah temasuk dalam kategori tidak baik dapat disebabkan karena ketidaktahuan responden terhadap prosedur pelayanan kesehatan rumah sakit. Bustami (2011) menjelaskan pelayanan kesehatan, baik di puskesmas, rumah sakit, atau institusi pelayanan kesehatan lainnya, merupakan suatu sistem yang terdiri dari berbagai komponen yang saling terkait, saling tergantung, dan saling mempengaruhi antara satu dengan lainnya. Mutu pelayanan kesehatan di rumah sakit adalah produk akhir dari interaksi dan ketergantungan yang rumit antara berbagai komponen atau aspek pelayanan. Mutu pelayanan kesehatan yang ada di rumah sakit sangat dipengaruhi oleh kualitas sarana fisik, jenis tenaga yang tersedia, obat dan alat kesehatan, serta proses pemberian pelayanan. Dengan adanya BPJS, mutu pelayanan yang diberikan pada pasien sudah ditentukan.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Mutu Pelayanan Kesehatan - Mutu Pelayanan Kefarmasian di Klinik Telkom Medan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Mutu Pelayanan Kesehatan - Mutu Pelayanan Kefarmasian di Klinik Telkom Medan

Robert dan Proverst (1990), menyatakan bahwa penilaian dimensi mutu pelayanan kesehatan dapat ditinjau dari penyelenggara pelayanan, penyandang dana dan pemakai jasa pelayanan kesehatan. Bagi penyelenggara pelayanan kesehatan, penilaian mutu lebih terkait dengan dimensi kesesuaian mutu pelayanan yang diselenggarakan dengan perkembangan ilmu dan teknologi mutakhir, dan atau otonomi profesi dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan pasien. Bagi penyandang dana, penilaian mutu lebih terkait dengan dimensi efisiensi pemakaian sumber dana, kewajiban pembiayaan kesehatan, dan atau kemampuan pelayanan kesehatan, mengurangi kerugian penyandang dana pelayanan. Adapun mutu pelayanan bagi pasien, penilaian jasa pelayanan kesehatan lebih terkait pada ketanggapan petugas memenuhi kebutuhan pasien, kelancaran komunikasi petugas dengan pasien, empati dan keramahtamahan petugas dalam melayani pasien dalam kesembuhan penyakit yang diderita oleh pasien.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN DAN MUTU PELAYANAN KESEHATAN TERHADAP KEPATUHAN MINUM OBAT PENDERITA TUBERCULOSIS PARU DI PUSKESMAS GATAK

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN DAN MUTU PELAYANAN KESEHATAN TERHADAP KEPATUHAN MINUM OBAT PENDERITA TUBERCULOSIS PARU DI PUSKESMAS GATAK

Analisis ini dilakukan dengan menggunakan Uji Kolmogorov Smirnov , hal ini dikarenakan uji Chi Square tidak memenuhi syarat sehingga menggunakan uji alternatif, karena nilai expected dari sel <5. Uji pertama digunakan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan terhadap kepatuhan minum obat penderita TB, menunjukkan hubungan yang signifikan, yaitu (probabilitas <  ) p value 0,000 < 0,05, maka Ho ditolak. Dapat disimpulkan ada hubungan antara pengetahuan dengan kepatuhan minum obat penderita TB. Sedangkan untuk uji kolmogorov smirnov kedua digunakan untuk mengetahui hubungan antara mutu pelayanan kesehatan terhadap kepatuhan minum obat penderita TB, menunjukkan hubungan yang tidak signifikan , yaitu (probabilitas >  ) p value 0,498 > 0,05, maka Ho diterima. Dapat disimpulkan tidak ada hubungan antara mutu pelayanan kesehatan dengan kepatuhan minum obat penderita TB.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Pengaruh Persepsi Mutu Pelayanan Kesehatan Terhadap Kepuasan Pasien di Puskesmas Simpang Limun Tahun 2017

Pengaruh Persepsi Mutu Pelayanan Kesehatan Terhadap Kepuasan Pasien di Puskesmas Simpang Limun Tahun 2017

Mutu pelayanan kesehatan merupakan kesempurnakan suatu produk dalam pelayanan kesehatan yang dapat memuaskan setiap pemakai jasa. Pelayanan yang bermutu merupakan penyelenggaraan pelayanan yang diberikan sesuai dengan prosedur dan standar pada kode etik profesi yang telah ditetapkan, dengan menyesuaikan potensi dari sumber daya yang tersedia secara aman dan memuaskan yang dilakukan dengan wajar, efisien dan efektif dengan memperhatikan keterbatasan dan kemampuan pemerintah dan masyarakat konsumen (Azwar, 2007). Menurut Wijono (2011) pelayanan kesehatan berdasarkan profesi dapat dibagi menjadi berikut:
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

BAB I KONSEP DASAR MUTU PELAYANAN KESEHATAN

BAB I KONSEP DASAR MUTU PELAYANAN KESEHATAN

Sebagai contoh tindakan audit merupakan titik kendali mutu dalam proses pelayanan kesehatan, yang dilakukan untuk mengaudit apakah standar mutu pelayanan kesehatan sebagaimana dirumuskan dalam bentuk indikator pelayanan telah dapat dicapai. Apabila hasil audit ternyata positif dalam arti telah mencapai standar (S dalam SDCA) mutu sebagaimana dirumuskan dalam indikator pelayanan, maka pada proses perencanaan atau Plan (P dalam PDCA) berikutnya standar mutu tersebut harus ditinggikan, sehingga akan terjadi kaizen mutu pelayanan. Sedangkan apabila hasil evaluasi ternyata negative dalam arti standar mutu sebagaimana dirumuskan dalam indikator pelayanan belum atau tidak tercapai, maka harus segera dilakukan tindakan atau Action (A dalam PDCA) agar standar mutu dapat dicapai. Sebagai contoh, apabila hasil audit ternyata menunjukkan hasil di bawah indikator pelayanan, maka pengelola peayanan kesehatan harus melakukan Action (A dalam PDCA) yang dapat berupa review kembali kebijakan sampai dengan indikator dapat dicapai. Oleh sebab itu, menetapkan titik-titik kendali mutu (quality check-points) pada setiap satuan kegiatan dalam manajemen kendali mutu berbasis PDCA, merupakan conditio sine qua non atau a must.
Baca lebih lanjut

89 Baca lebih lajut

Pengaruh Mutu Pelayanan Kesehatan Terhadap Kepuasan Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit Pelabuhan Medan (Prima Husada Cipta) Tahun 2017

Pengaruh Mutu Pelayanan Kesehatan Terhadap Kepuasan Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit Pelabuhan Medan (Prima Husada Cipta) Tahun 2017

Menurut Azwar (1996) Pada dasarnya mutu pelayanan kesehatan adalah untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan para pemakai jasa pelayanan kesehatan, yang apabila berhasil dipenuhi akan dapat menimbulkan rasa puas terhadap pelayanan kesehatan yang di selenggarakan. Mutu pelayanan kesehatan juga yang menunjukkan pada tingkat kesempurnaan pelayanan kesehatan dalam menimbulkan rasa puas pada diri setiap pasien. Makin sempurna kepuasan tersebut, makin baik pula mutu pelayanan kesehatannya.
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

Perda Mutu Pelayanan Kesehatan

Perda Mutu Pelayanan Kesehatan

Berdasarkan Pasal 54 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah bertanggung jawab atas penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, serta merata dan nondiskriminatif. Sehubungan dengan hal tersebut, maka untuk menjamin terpenuhinya hak dan kebutuhan masyarakat terhadap kesehatan dan mewujudkan penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang aman dan bermutu, serta memberikan pelindungan dan kepastian hukum, Pemerintah Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat perlu mengambil langkah kebijakan sesuai dengan kewenangan daerah Provinsi dalam bentuk Peraturan Daerah sebagai landasan dan arah dalam upaya peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan kepada masyarakat dengan berpedoman pada ketentuan peraturan perundang-undangan.
Baca lebih lanjut

42 Baca lebih lajut

Pengaruh Mutu Pelayanan Kesehatan Terhadap Kepuasan Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit Umum Daerah Tanjung Pura Tahun 2015

Pengaruh Mutu Pelayanan Kesehatan Terhadap Kepuasan Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit Umum Daerah Tanjung Pura Tahun 2015

Menurut Azwar (1996) Pada dasarnya mutu pelayanan kesehatan adalah untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan para pemakai jasa pelayanan kesehatan, yang apabila berhasil dipenuhi akan dapat menimbulkan rasa puas terhadap pelayanan kesehatan yang di selenggarakan. Mutu pelayanan kesehatan juga yang menunjukkan pada tingkat kesempurnaan pelayanan kesehatan dalam menimbulkan rasa puas pada diri setiap pasien. Makin sempurna kepuasan tersebut, makin baik pula mutu pelayanan kesehatannya.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

MANAJEMEN MUTU PELAYANAN KESEHATAN | Machmud | Jurnal Kesehatan Masyarakat Andalas

MANAJEMEN MUTU PELAYANAN KESEHATAN | Machmud | Jurnal Kesehatan Masyarakat Andalas

Menurut Ali Gufran, 2007; istilah mutu memiliki banyak penafsiran yang mungkin berbeda-beda, ketika ia digunakan untuk menggambarkan sebuah produk atau pelayanan tertentu. Bisa saja beberapa orang mengatakan bahwa sesuatu dikatakan bermutu tinggi ketika sesuatu tersebut dianggap lebih baik, lebih cepat, lebih cemerlang, lux, lebih wah dan biasanya lebih mahal dibandingkan produk atau layanan yang mutunya dianggap lebih rendah. Hal ini tentu tidak sepenuhnya benar. Beberapa orang mengartikan layanan kesehatan bermutu adalah layanan yang memuaskan pelanggan. Padahal layanan yang diberikan tidak memenuhi standar pelayanan medis profesional. Bahkan bisa terjadi di sebuah institusi layanan kesehatan seperti rumah sakit jika pasien datang di Unit Gawat Darurat langsung ditangani “diinfus”. Pasien puas karena mereka merasa langsung “ditangani” padahal infus tidak selalu diperlukan. Bahkan jika tidak terkontrol dapat menimbulkan efek samping seperti oedem pulmo 1,2 .
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Manajemen Mutu Pelayanan kesehatan   Sudiro

Manajemen Mutu Pelayanan kesehatan Sudiro

- Bila pelkes diproduksi secara inefisien, sehingga menyia-nyiakan sumber daya dan lebih mahal dari yang diperlukan. Misal pekerjaan perawat dikerjakan dokter, perawat melakukan pekerjaan pembantu perawat. Ini bisa terjadi pada Rumah Sakit yang penuh dengan karyawan tetapi tidak proporsional, dan ukuran RS bisa terlalu besar atau terlalu kecil untuk beroperasi secara efisien. Disini ada inefisensi metode dan skala operasi. Maka biaya meningkat tanpa berhubungan dengan peningkatan mutu pelkes. Contoh lain adalah biaya promosi obat mulai dari kemasan sampai kepada pemasaran yang membuat harga obat sangat tinggi dibandingkan dengan harga substansi bahan obat esential (bahan penyembuh penyakit)-nya sendiri.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kepuasan Pasien - PERBEDAAN KEPUASAN ANTARA PASIEN BPJS KELAS I DENGAN KELAS III TERHADAP MUTU PELAYANAN KESEHATAN DI RSUD DR. R. GOETENG TAROENADIBRATA PURBALINGGA - repository perpustakaan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kepuasan Pasien - PERBEDAAN KEPUASAN ANTARA PASIEN BPJS KELAS I DENGAN KELAS III TERHADAP MUTU PELAYANAN KESEHATAN DI RSUD DR. R. GOETENG TAROENADIBRATA PURBALINGGA - repository perpustakaan

Aspek ini meliputi sikap perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan perlu bersikap sabar, murah hati dalam arti bersedia memberikan bantuan dan pertolongan kepada pasien dengan sukarela tanpa mengharapkan imbalan, memiliki sensitifitas dan peka terhadap setiap perubahan pasien, mau mengerti terhadap kecemasan dan ketakutan pasien.

22 Baca lebih lajut

Manajemen Mutu Pelayanan Kesehatan.

Manajemen Mutu Pelayanan Kesehatan.

Untuk melakukan berbagai upaya peningkatan mutu, kita perlu menghayati dan mengkaji beberapa hal yang melandasi tujuan pembangunan yaitu : pertama faktor-faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan yaitu genetik, sarana pelayanan kesehatan, perilaku masyarakat dan lingkungan (Henry Bloom), kedua visi Indonesia Sehat 2010 yang diikuti dengan misi dan strategi yang meliputi paradigma sehat, profesionalisme, Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM) serta desentralisasi. Ketiga organisasi di mana kita berada yaitu organisasi pelayanan kesehatan yang merupakan "organisasi Nir-Laba" (Not for Profit Organization). Ketiganya memerlukan data dan informasi yang akurat sehingga keberhasilan pencapaian tujuan secara bertahap dapat dinilai dengan indikator yang terukur pula.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang - Analisis kepuasan pasien terhadap pelayanan klinik gigi drg. tjang riyanto and partners - Repository Sekolah Bisnis IPB

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang - Analisis kepuasan pasien terhadap pelayanan klinik gigi drg. tjang riyanto and partners - Repository Sekolah Bisnis IPB

menjadi indikator keberhasilan penyelenggaraan layanan di Klinik Gigi. Di sisi lain, dalam bentuk pelayanan yang berkembang sekarang ini, mutu pelayanan menjadi semakin rumit dan cukup sulit diukur, karena hasil yang terlihat merupakan resultante dari berbagai faktor yang berpengaruh. Oleh sebab itu, tercapainya mutu pelayanan kesehatan yang baik memerlukan upaya yang sungguh-sungguh dari berbagai pihak, dalam hal ini kerjasama dari setiap unit yang terkait mengambil peran yang sangat penting.

8 Baca lebih lajut

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Mutu Pelayanan Kebidanan 1. Defenisi Mutu - Hubungan Mutu Pelayanan Kebidanan dengan Tingkat Kepuasan Ibu Nifas Rumah Sakit Ibu dan Anak Sri Ratu Medan Tahun 2014.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Mutu Pelayanan Kebidanan 1. Defenisi Mutu - Hubungan Mutu Pelayanan Kebidanan dengan Tingkat Kepuasan Ibu Nifas Rumah Sakit Ibu dan Anak Sri Ratu Medan Tahun 2014.

Kepuasan pasien merupakan keluaran layanan dan salah satu tujuan dari peningkatan mutu pelayanan kesehatan dan kebidanan. Dibuktikan bahwa pasien yang mengalami kepuasan terhadap layanan yang diselanggarakan cenderung mematuhi nasihat, setia, atau taat terhadap rencana pengobatan yang telah disepakati. Sebaliknya yang tidak merasakan kepuasan atau kekecewaan sewaktu menggunakan layanan kesehatan cenderung tidak mematuhi rencana pengobatan, berganti dokter atau pindah ke fasilitas layanan lain (Pohan, 2006, hlm. 156).

14 Baca lebih lajut

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kepuasan Konsumen 1. Pengertian Kepuasan Konsumen - PENGARUH KUALITAS PELAYANAN TERHADAP KEPUASAN PADA PASIEN RAWAT INAP JAMKESMAS DI RSUD BANYUMAS - repository perpustakaan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kepuasan Konsumen 1. Pengertian Kepuasan Konsumen - PENGARUH KUALITAS PELAYANAN TERHADAP KEPUASAN PADA PASIEN RAWAT INAP JAMKESMAS DI RSUD BANYUMAS - repository perpustakaan

Mutu pelayanan kesehatan menurut Azwar (dalam Bustami,2011) adalah derajat dipenuhinya kebutuhan masyarakat atau perorangan terhadap asuhan kesehatan yang sesuai dengan standar profesi yang baik dengan pemanfaatan sumber daya secara wajar, efisien, efektif dalam keterbatasan kemampuan pemerintah dan masyarakat, serta diselenggarakan secara aman dan memuaskan pelanggan sesuai dengan norma dan etika yang baik.Kualitas meliputi setiap aspek dari suatu perusahaan dan sesungguhnya merupakan suatu pengalaman emosional bagi pelanggan. Kualitas sangat bersifat subjektif, tergantung pada persepsi, sistem nilai, latar belakang sosial, pendidikan, ekonomi, budaya, dan banyak faktor lain pada masyarakat atau pribadi yang terkait dengan jasa pelayanan perusahaan tersebut.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

Perbup Clp 2016 88 SOTK DinKes

Perbup Clp 2016 88 SOTK DinKes

Seksi Jaminan Kesehatan dan Manajemen Mutu Pelayanan mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan perumusan, pengoordinasian, pelaksanaan, pemantauan, evaluasi dan pelaporan meliputi pelayanan jaminan kesehatan pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dan Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjutan (FKTL), pembinaan masyarakat dalam rangka mendorong kemandirian dalam pembiayaan dan jaminan kesehatan, revitalisasi dan akreditasi pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dan Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjutan (FKTL), peningkatan mutu pelayanan kesehatan melalui Alat Pantau Kinerja Klinis (APKK), pemantapan sistem rujukan melalui Alat Pantau Kinerja Rujukan (APKR), penyusunan Maklumat Pelayanan (MP), Survey Kepuasan Masyarakat (SKM) terhadap pelayanan kesehatan, dan Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan.
Baca lebih lanjut

27 Baca lebih lajut

2. Dokter juga manusia NI

2. Dokter juga manusia NI

PB IDI berharap, buku yang ditulis oleh salah satu fungsionaris IDI dan juga tenaga pengajar di Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya dapat menjadi referensi untuk mahasiswa kedokteran, praktisi hukum, fungsionaris organisasi profesi, masyarakat umum (dan tentu saja, terutama pasien dan keluarganya). Melalui buku ini terlihat bahwa upaya untuk memperbaiki mutu pelayanan kesehatan dapat lebih tergambar dengan jelas, yaitu dengan menjaga secara utuh mutu pelayanan kedokteran sebagai salah satu input dalam sistem kesehatan nasional. Dengan demikan apabila profesi dokter sebagai input dalam sistem kesehatan dapat lebih tertata dan menjadi profesional maka upaya untuk mencapai Indonesia Sehat akan semakin terdukung dengan baik.
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Persepsi - Persepsi Mutu Pelayanan Terhadap Kepuasan Pasien Di Puskesmas Medan Tuntungan Kecamatan Medan Tuntungan Tahun 2014.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Persepsi - Persepsi Mutu Pelayanan Terhadap Kepuasan Pasien Di Puskesmas Medan Tuntungan Kecamatan Medan Tuntungan Tahun 2014.

Kerangka konsep yang dikembangkan dalam penelitian ini, mengacu pada latar belakang dan teori yang digunakan untuk mengukur kepuasan adalah Parasuraman et.al (1990). Kerangka konsep diatas menunjukkan bahwa dimensi mutu pelayanan kesehatan dipengaruhi oleh indikator dimensi mutu pelayanan kesehatan yang juga mempengaruhi tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan yang diterima di Puskesmas. Puas atau tidak puas merupakan hak pasien untuk mengutarakannya. Kepuasan pasien juga dipengaruhi oleh karakteristik pasien dilihat dari umur pasien yang biasanya pasien yang lebih tua lebih peduli terhadap kesehatannya. Karakteristik inilah yang mempengaruhi tingkat pengetahuan pasien terhadap konsep sehat dan sakit kemudian mempengaruhi sikap pasien itu sendiri terdahap pelayanan yang sudah diterimanya. Melalui sikap tersebut maka mereka mampu dan mau mengungkapkan seperti apa pelayanan yang diterima dan seperti apa pula pelayanan yang sebenarnya mereka harapkan. Adanya komunikasi interpersonal antara petugas dengan pasien merupakan hal yang sangat penting pada saat memberikan pelayanan. Hal ini yang sangat mempengaruhi tingkat kepuasan pasien itu sendiri. Apakah mereka puas atau tidak terhadap pelayanan yang diberikan.
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

PREDIKSI KEBUTUHAN TEMPAT TIDUR DI BANGSAL BANGSAL MERAK DASAR, MERAK 1 DAN Merak 2 DI RSUP Dr KARIADI PADA TAHUN 2016-2020 - UDiNus Repository

PREDIKSI KEBUTUHAN TEMPAT TIDUR DI BANGSAL BANGSAL MERAK DASAR, MERAK 1 DAN Merak 2 DI RSUP Dr KARIADI PADA TAHUN 2016-2020 - UDiNus Repository

Meningkatkan mutu pelayanan kesehatan yang ada dengan ikut serta sebagai faktor penunjang demi terciptanaya pada adaministrasi rumah sakit. Serta mempunyai laporan yang terperinci tentang riwayat kesehatan, serta proses penanganan selama masa perawatan dan pengobatan yang diberikan yang merupakan upaya meningkatkan mutu pelayanan. (1)

13 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...