Nilai Budaya

Top PDF Nilai Budaya:

BIMBINGAN SPIRITUAL BERBASIS NILAI-NILAI BUDAYA

BIMBINGAN SPIRITUAL BERBASIS NILAI-NILAI BUDAYA

Abstrak: Penelitian ini berangkat dari kebutuhan bimbingan terhadap masyarakat Pantura yang mengalami keterasingan dan ke hilangan makna dalam kehidupan pribadi dan sosialnya karena tidak adanya strategi yang relevan untuk mengayomi kehidupan mereka. Kondisi masyarakat demikian memerlukan pembimbing- pem bimbing spiritual yang mampu memberikan arahan kepada ke- hampaan hidup yang mereka alami. Penelitian ini bertujuan untuk mene mukan rumusan strategi bimbingan spiritual berbasis nilai- nilai budaya Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandhu Indramayu yang terdiri dari bimbingan pepe, kungkum , blegir, dan ngaji rasa yang relevan untuk mengembangkan dimensi religiusitas pada kebermaknaan hidup dan keberagamaan para anggotanya. Dengan strategi bimbingan spiritual Bumi Segandhu, setiap individu dapat men capai perkembangan yang optimal dan pencapaian aktualisasi diri di tengah-tengah masyarakat setelah mengikuti bimbingan spiritual di komunitas ini. Bimbingan spiritual Bumi Segandhu merupakan strategi bimbingan sebagai upaya untuk menumbuhkan dimensi religiusitas Komunitas Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandhu Indramayu. Keikutsertaan mereka dalam bimbingan spiritual ini diharapkan mampu memberikan pemahaman, peng- hayat an dan praktek-praktek hidup yang penuh makna setelah mereka kembali ke tengah-tengah masyarakat.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Pengkajian Nilai nilai Budaya Islami dal

Pengkajian Nilai nilai Budaya Islami dal

Kedua, “Pemanfaatan” secara positif atas potensi-potensi nilai- nilai budaya Islami yang dimiliki oleh masyarakat Aceh dalam rangka pengembangan pariwisata budaya. Untuk itu, dalam pemanfaatan ini harus dapat dibedakan antara nilai-nilai budaya yang sifatnya profan dengan nilai-nilai budaya yang sakral. Dengan demikian, nilai-nilai budaya tersebut tidak tercemari oleh nuansa komersialisasi dan nilai- nilai luar yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya yang ada pada masyarakat. Misalnya, Kalau kita masuk ke Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, maka semua pengunjung, baik laki-laki maupun perempuan, diwajibkan berpakaian yang memenuhi syariat Islam; pemanfaatan kegiatan kenduri maulid akbar, makmeugang sebagai event tetap yang “dijual” sebagai daya tarik pariwisata.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

PERAN MEDIASI INSTITUSIONAL BUDAYA TERHADAP HUBUNGAN NILAI BUDAYA DAN PENGUNGKAPAN NILAI ISLAM

PERAN MEDIASI INSTITUSIONAL BUDAYA TERHADAP HUBUNGAN NILAI BUDAYA DAN PENGUNGKAPAN NILAI ISLAM

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk pendalaman variabel nilai- nilai budaya dan nilai-nilai Islam, yaitu dengan melakukan wawancara dengan pakar fikih Islam, budaya Islam, dan budaya secara umum. Wawancara ini diperlukan untuk mendapat pemahaman yang baik tentang definisi budaya dan nilai Islam. Hal ini diperlukan untuk dapat mendefinisikan budaya dengan baik dan melakukan penilaian atas unsur nilai Islam yang dimasukkan dalam penelitian. Tahap berikutnya menggunakan metode regresi berganda untuk menguji asosiasi antarvariabel. Wawancara untuk menggali variabel budaya dilakukan dengan pakar Budaya Islam, Prof. Azyumardi Azra, Ph.D., guru besar Universitas Islam Negeri Jakarta, Prof. Mailing Oey, Ph.D, pakar antropologi, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Dr. KH. Zakky Mubarak, M.A., ahli fikih Islam Universitas Indonesia, dan Dr. Oni Sahroni, M.A., ahli fikih Islam dari Universitas Al Azhar, Kairo. Penelitian ini menggunakan nilai dimensi budaya Hofstede (1984) sebagai pengukuran budaya negara, yang dibagi ke dalam empat dimensi, yaitu social orientation (indivudalism vs collectivism), power orientation (high vs low power distance), uncertainty orientation (high vs low uncertainty avoidance), dan humane orientation (high vs low humane orientation).
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

SISTEM NILAI BUDAYA lintas budaya

SISTEM NILAI BUDAYA lintas budaya

Dalam masyarakat ada sejumlah nilai budaya yang satu dan yang lain berkaitan satu sama lain sehingga merupakan suatu sistem, dan sistem itu sebagai suatu pedoman dari konsep – konsep ideal dalam kebudayaan memberi pendorong yang kuat terhadap arah kehidupan masyarakat.

2 Baca lebih lajut

NILAI NILAI BUDAYA BANGSA DAN KEARIFAN L

NILAI NILAI BUDAYA BANGSA DAN KEARIFAN L

http://ahmadsamantho.wordpress.com/2010/03/31/kebudayaan-dan-nasionalisme-indonesia). Adalah bijaksana jika pemerintah Indonesia dan seluruh komponen bangsa berkenan melihat, merenungkan ulang, mempelajari kembali dan mernpertimbangkan secara seksama seluruh nilai-nilai budaya lokal yang multi-etnis ini. Tujuannya adalah agar tidak salah dalam pengambilan keputusan dan pembuatan kebijakan negara dalam bidang politik, sosial- ekonomi dan agama yang berhubungan dengan komunitas-komunitas etnik yang heterogen. Pertimbangan ini meliputi problema pluralitas etnis, seperti perbedaan adat¬ budaya, tata- pikir, orientasi penghargaan diri sendiri (self esteem) dan kepada orang lain (respect for others), agama dan perasaan subjektif lainnya. Semua ini merupakan unsur¬-unsur
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

IMPLEMENTASI NILAI - NILAI PLURALISME BERDASARKAN NILAI-NILAI BUDAYA BANGSA

IMPLEMENTASI NILAI - NILAI PLURALISME BERDASARKAN NILAI-NILAI BUDAYA BANGSA

Konsep pluralisme lahir dari latar belakang pemikiran dan kondisi sosial, politik, budaya tertentu. Artinya bahwa pluralisme itu merupakan sebuah konstruksi sosial. Pluralisme – dalam konsep dan aplikasinya--barangkali tepat diterapkan di satu wilayah tertentu namun tidak tepat dan bahkan menghasilkan persoalan baru di tempat yang lain. Humanisme sekuler, misalnya, dapat diterima di Barat oleh karena paham eksistensialisme yang telah lama mengakar dan menempatkan manusia sebagai pusat eksistensi. Hal ini akan berbeda dengan masyarakat Timur yang memahami keunggulan eksistensi manusia justru ketika dirinya merasa bagian dari alam dan ‟menyatu‟ dengan Tuhan. Demikian pula teologi globalnya John Hick yang diilhami oleh perkembangan globalisasi, akan ditolak oleh masyarakat yang masih memegang erat tradisi dan kaidah literal agama. Berbagai karakter pluralisme tersebut dapat pula diposisikan sebagai satu bentuk pemikiran bukan ajaran agama yaitu, bagian dari pemikiran keagamaan, sehingga ketidaksetujuan terhadap pemikiran tersebut seharusnya ditanggapi pula dengan pemikiran dan tidak dengan fatwa. Kekhawatiran yang muncul ketika pendekatan fatwa digunakan untuk mengkaunter satu pemikiran, maka tragedi abad pertengahan, yaitu pemandulan rasio akan kembali terjadi. Kondisi demikian justru kontraproduktif dan lebih jauh dapat menghasilkan sikap resistensi terhadap agama (institusi agama). Dalam konteks Indonesia berberapa pandangan Alwi Shihab (1998: 41-42) tentang pluralisme tampaknya perlu dipertimbangkan. Pertama, konsep pluralisme tidak sama dengan relativisme. Relativisme berasumsi bahwa kebenaran atau nilai ditentukan oleh pandangan hidup dan kerangka berpikir seseorang atau masyarakat, sehingga aliran ini tidak mengenal kebenaran universal. Kedua, pluralisme bukanlah sinkretisme, yakni menggabung- gabungkan berbagai ajaran dengan mengambil sisi tertentu sehingga muncul menjadi agama baru. Ketiga, pluralisme tidak semata-mata menunjuk pada kenyataan tentang adanya kemajemukan, tetapi mengandung pengertian keterlibatan aktif terhadap kenyataan kemajemukan tersebut. Mengutip pandangan Diana L. Eck (2005: 576-577) bahwa pluralitas tidak sama dengan kemajemukan. Pluralitas mengacu pada adanya hubungan saling tergantung antar berbagai hal yang berbeda, sedangkan kemajemukan (diversity) mengacu pada tidak adanya hubungan dari hal yang berbeda tersebut.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

akuntansi dan nilai budaya dan

akuntansi dan nilai budaya dan

Harrison dan McKinnon (1986, dalam Radebaugh dkk., 2016) mengusulkan sebuah rerangka metodologi yang memasukan budaya untuk menganalisis perubahan regulasi pelaporan keuangan pada tingkat nasional. Penggunakan rerangka ini telah ditunjukan melalui sebuah analisis terhadap sistem akuntansi jepang. Budaya, yang meliputi nilainilai dan sikap – sikap yang dipegang oleh sebuah masyarakat, dianggap sebagai sebuah elemen penting untuk memahami bagaimana sebuah sistem sosial berubah Karena budaya memengaruhi perilaku, dan perilaku akan mendasari sistem hukum dan susunan institusional yang lain.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

MODEL PENGEMBANGAN NILAI NILAI BUDAYA OR

MODEL PENGEMBANGAN NILAI NILAI BUDAYA OR

Demikianlah proposisi-proposisi yang dapat dirumuskan melalui proses induksi-konseptual berdasarkan temuan data empiris di MAN 3 Cirebon. Dalam rumusan proposisi di atas, dapat ditemukan enam nilai inti (core values) dalam budaya organisasi sekolah ini, yaitu: nilai cinta kasih, nilai pelayanan, nilai keadilan, nilai pemberdayaan, nilai kualitas, nilai kedisiplinan, : nilai keunggulan (excellence), nilai prestasi dan persaingan, nilai efektivitas, dan nilai kebersamaan,. Kelima nilai tersebut akan dianalisis lebih lanjut pada bab berikut.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

INTEGRASI NILAI NILAI BUDAYA INDONESIA

INTEGRASI NILAI NILAI BUDAYA INDONESIA

Pada umumnya kegiatan budaya tradisional selama ini hanya dilaksanakan oleh orang tua, anak-anak cenderung lebih memilih nonton TV dibandingkan belajar tentang budaya. Seiring dengan perkembangan zaman, nilai budaya tradisional mulai terlupakan oleh generasi muda akibat teknologi. Untuk itu saatnya memberikan pelajaran tentang budaya kepada generasi muda terutama di kalangan usia sekolah, dengan melibatkan mereka dalam seluruh kegiatan budaya tradisional, agar mereka mengerti betapa pentingnya budaya yang tidak hanya sebagai ciri khas suatu daerah tetapi juga menceritakan kehidupan para pendahulu kita.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Cerminan Nilai Budaya Lintas Budaya

Cerminan Nilai Budaya Lintas Budaya

Fakta bahwa nilai-nilai adaptasi tumbuh dan berkembang pada masyarakat Minangkabau dapat dilihat dari perilaku merantau mereka. Orang Minangkabau yang pergi merantau tidak mendirikan perkampungan baru dan diberi identitas Minangkabau. Oleh sebab itu, orang tidak mengenal istilah kampung Minangkabau. Yang sering ditemukan hanya nama-nama restoran seperti Bundo Kanduang (Bali), Pincuran Tujuah (Jakarta), Danau Di Ateh (Lampung), dan Singgalang (Jakarta), Palito Alam (Yogyakarta). Ini dimaksudkan sebagai penjaga identitas. Pembauran di dalamnya tetap ada di mana para pengelola dan pekerja diambilkan dari penduduk daerah setempat dan tidak dibawa dari daerah asal. Di samping itu, di setiap daerah di Indonesia dan bahkan di luar negeri, orang Minangkabau membentuk ikata- ikatan tetapi mereka tetap tinggal dan hidup membaur dengan penduduk setempat. Sebagai contoh, di Bali ada IKMS (Ikatan Keluarga Minang Saiyo), Baringin di Yogyakarta dan Sapayuang di Makassar. Ikatan- ikatan semacam ini difokuskan kepada kegiatan- kegiatan sosial untuk membangun solidaritas antarsesama perantau yang ada di luar Minangkabau.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Nilai-Nilai Tradisi Lisan Dalam Budaya Jawa

Nilai-Nilai Tradisi Lisan Dalam Budaya Jawa

dengan ringan ia akan berbuat jahat kasar, curang, serakah, dan mengobarkan kebencian kepada pihak yang ia anggap merugikan kepentingannya. Pertentangan batin dalam pikiran manusiayaitu pertentangan antara sifat-sifat baik melawan sifat yang tidak baik ini disimbolisasikan dalam bentuk pertentangan antara tokoh- tokoh wayang tengen melawan wayang kiwa. Hal ini seirama dengan yang dinyatakan oleh Seno Sastroamidjajo (tt: 164) “pertunjukan wayang kulit merupakan lambang perjuangan batin antara prinsip baik dan prinsip buruk di dalam kehidupan manusia pada umumnya”. Pernyataan ini menyiratkan, bahwa nilai-nilai filosofis yang terkandung di dalam pentas wayang memiliki nilai universal, artinya dapat berlaku secara umum bagi siapa saja di dunia ini. Pentas wayang kulitnya adalah khas Jawa atau Indonesia, tetapi kandungan nilai filosofisnya adalah nilai kemanusiaan yang universal. Dengan sendirinya, maka nilai-nilai budaya itu tentu saja dapat diberlakukan bagi manusia-manusia masyarakat di Indonesia.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

MODUL PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PRAJABATA (1)

MODUL PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PRAJABATA (1)

Nilai-nilai seperti tersebut di atas tampaknya cenderung semakin luntur dalam kehidupan berbangsa di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini dapat dilihat secara jelas misalnya dengan adanya "Kasus Maluku", yaitu terjadinya konflik horizontal antar etnik dan antar agama yang mencerminkan ketidakkukuhan nilai-nilai kebangsaaan. Seandainya kekukuhan nilai senantiasa terwujud dalam kehidupan setiap insan manusia Indonesia, maka konflik yang banyak merenggut korban itu, tentu akan tidak terjadi. Demikian juga halnya "Kasus Kalimantan" (Pontianak dan Palangkaraya), yakni adanya konflik antar etnik yang juga memakan banyak korban harta maupun jiwa. Disamping konflik agama dan etnik tersebut, juga ditemukan konflik politik yang bersifat regional (daerah), yakni adanya suatu kelompok kekuatan politik di daerah yang ingin memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia seperti di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, yang ditandai dengan adanya Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Selain itu di Papua juga terjadi hal serupa yang ditandai dengan adanya gerakan secara terorganisir dari Organissasi Papua Merdeka (OPM).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Diklat Prajabatan Gol. III WAWASAN NKRI3

Diklat Prajabatan Gol. III WAWASAN NKRI3

Perubahan seperti itu dapat ditempuh melalui rekayasa sosial. Bangsa Indonesia di dalam proses sejarahnya telah mengalami berbagai kontak budaya antar bangsa, suku bangsa, dan kelompok etnis. Kontak-kontak budaya yang berlangsung sepanjang masa itu dimungkinkan oleh letak silang kepulauan nusantara yang terletak di antara dua benua dan dua samudera. Dalam kontak-kontak budaya yang diartikan sebagai interaksi kebudayaan telah terjadi integrasi antara unsur-unsur luar dan unsur-unsur yang berasal dari kebudayaan daerah yang diangkat untuk memperkaya khasanah kebudayaan nasional. Dalam hubungan ini semua kebudayaan daerah baik yang besar, kuat, dan mapan maupun yang kecil, lemah dan belum mapan harus diberikan ruang gerak dan kesempatan yang sama untuk hidup dan bertumbuh kembang sebagai bagian dari budaya bangsa kita
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

MANIFESTASI BUDAYA DALAM PENDIDIKAN ISLAM Membangun Intelektualisme Budaya dengan Nilai- Nilai Pendidikan Islam

MANIFESTASI BUDAYA DALAM PENDIDIKAN ISLAM Membangun Intelektualisme Budaya dengan Nilai- Nilai Pendidikan Islam

Kebenaran dan kebaikan agama mengatasi rasio, perasaan, keinginan, nafsu-nafsu manusiawi dan mampu melampui subjektivitas golongan, ras, bangsa dan stratifikasi. Nilai-nilai agama Islam dapat dilihat dari dua segi, yaitu segi nilai normatif dan segi nilai operatif. Segi nilai normatif dalam pandangan Kupperman adalah standar atau patokan norma yang memengaruhi manusia dalam menentukan pilihannya di antara cara-cara tindakan alternatif yang menitikberatkan pada pertimbangan baik-buruk, benar-salah, hak dan batil, diridhai atau tidak diridhai. Pengertian nilai normatif ini mencerminkan pandangan dari sosiolog yang memiliki penekanan utamanya pada norma sebagai faktor eksternal yang memengaruhi tingkah laku manusia. Secara garis besar, penggunaan kriteria benar-salah dalam menetapkan nilai ini adalah dalam hal ilmu (sains), semua filsafat kecuali etika mazhab tertentu. Sedangkan nilai baik-buruk yang digunakan dalam menetapkan nilai ini adalah hanya dalam etika.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Makalah Budaya dalam Pandangan Islam rem

Makalah Budaya dalam Pandangan Islam rem

Islam dengan syari’at serta peraturannya telah menetapkan kriteria yang harus dipenuhi oleh suatu budaya agar ia dianggap benar atau salah. Dalam islam, nilai kebenaran dalam suatu budaya bukanlah diatur oleh manusia yang menganut budaya itu sendiri, melainkan oleh syari’at yang telah ditetapkan langsung oleh Allah SWT. melalui kitab-Nya serta Rasul-Nya. Dengan kata lain bukan agama yang mengikuti budaya, tapi budaya lah yang harus sesuai dengan agama. Namun, bukan berarti islam datang dengan menghapus budaya masyarakat terdahulu yang masih mengagung-agungkan budaya nenek moyangnya. Islam datang dengan kedamaian dan kebaikan. Karena itu, Rasulullah SAW. Memperkenalkan ajaran Islam tanpa menghilangkan semua budaya jahiliyyah. Dengan kebijaksanaannya, beliau hanya membuang budaya jahiliyyah yang bertentangan denagn ajaran islam dan mempertahankan yang masih sesuai tentunya dengan sedikit merombaknya agar benar-benar terbebas dari unsur syirik, kefasikan, serta kemaksiatan.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Pengaruh Budaya Perusahaan Terhadap Efektivitas Organisasi Pada PT. Merak Mekar Abadi Boyolali.

PENDAHULUAN Pengaruh Budaya Perusahaan Terhadap Efektivitas Organisasi Pada PT. Merak Mekar Abadi Boyolali.

Dalam persaingan yang semakin ketat tersebut membuat perusahaan menyadari pentingnya memiliki kondisi perusahaan yang konduktif, dapat memberikan dorongan pada Sumber Daya Manusia (SDM) yang bekerja di dalam perusahaan untuk berupaya sekuat tenaga mencapai misi dan tujuan perahaan. Kondisi perusahaan yang konduktif tersebut tercipta dan budaya perusahaan yang dibangun dan diterapkan pada organisasi perusahaan.

Baca lebih lajut

ISLAM DAN BUDAYA NILAI NILAI ISLAM DALAM

ISLAM DAN BUDAYA NILAI NILAI ISLAM DALAM

Menyikapi berbagai pandangan miring terhadap adat pernikahan Bugis, maka seyogyanya disikapi secara arif dan bijaksana. Boleh jadi kritikan itu benar adanya, atau mungkin karena mereka tidak mengenal adat Bugis, misalnya terkait uang belanja (dui balanca). Dui balanca dalam budaya Bugis dimaknai sebagai biaya prosesi pernikahan yang diberikan kepada keluarga calon mempelai wanita. Pemberian ini didasarkan pada asumsi bahwa pihak keluarga wanita diperhadapkan pada hajatan besar yang sifatnya mendadak dan mendesak, di mana mereka belum tentu memiliki persiapan materi dalam menyambut hajatan tersebut. Hanya saja perlu dipahami bahwa budaya Bugis sangat menekankan adanya pesta pernikahan. Hal ini cukup beralasan karena masyarakat Bugis menganggap pernikahan adalah hal yang sakral dan bukan main-main. Untuk itu, prosesinya harus dijalankan sesuai dengan adat.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

BUDAYA ORGANISASI DALAM MENINGKATKAN KEEFEKTIFAN ORGANISASI

BUDAYA ORGANISASI DALAM MENINGKATKAN KEEFEKTIFAN ORGANISASI

melakukan hal yang baru, dan mampu melakukan penyesuaian terhadap nilai dan norma yang berlaku didalam kelompok. Proses dengan tiga tahap ini berpengaruh pada prokdutivitas kerja dan komitmen karyawan baru terhadap tujuan organisasi, dan keputusan mereka untuk tetap bergabung dengan organisasi. Tahap kedatangan terjadi sebelum karyawan tersebut bergabung dengan organisasi, dan mereka datang dengan serangkaian nilai-nilai, sikap, dan tuntunan yang sudah ada. Sebagai contoh anggota yang telah profesional dapat dipastikan mengalami tingkat sosialisasi yang tinggi, sebaliknya dengan anggota baru mengalami tingkat sosialisasi yang rendah. Proses seleksi itu sendiri digunakan oleh kebanyakan organisasi untuk menginformasikan kepada calon karyawan tentang organisasi secara keseluruhan dan untuk memastikan kesesuian yaitu, mereka- mereka yang cocok akan masuk kedalam organisasi. Selanjutnya, keberhasilan ditentukan oleh tingkat antisifasi anggota- anggota yang ingin benar-benar bergabung dan menghadapi tuntutan dan keinginan organisasi, sebagai pihak yang menyeleksi.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

NILAI-NILAI ISLAM DALAM BUDAYA DAN KEARIFAN LOKAL (Konteks Budaya Minangkabau)

NILAI-NILAI ISLAM DALAM BUDAYA DAN KEARIFAN LOKAL (Konteks Budaya Minangkabau)

Bukan saja dalam aspek kehidupan sosial, dalam aspek ibadah ritual pun yang telah ada sebelumnya berlanjut sepanjang sebuah budaya ritual itu memiliki nilai pembentukan akhlak dan akidah islami. Ritual ber-haji atau menunaikan ibadah haji yang telah berlangsung di kalangan Arab setiap tahun sebagai warisan dari Nabi Ibrahim as. dikekalkan bagi umat Islam dengan berbagai perubahan dalam pelaksanaannya. Kalau sebelumnya, tawaf mengelilingi ka`bah, para jamaah haji melaksanaannya dengan tidak memakai pakaian, lalu oleh Rasulullah disyariatkannya dengan menggunakan pakaian ihram. Segala tradisi atau syariat puasa bagi umat-umat terdahulu sebagai upaya membangun karakter “bertakwa” diteruskan oleh Nabi Muhammad SAW.Ketika Nabi Muhammad di Madinah, beberapa sistem adat sebelum Islam dilanjutkan dengan pemberian muatan nilai- nilai Islam yang bersifat kerahmatan. Lembaga perang tetap diteruskan dengan muatan kemanusiaan.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

NILAI NILAI ISLAM DALAM SOSIO BUDAYA MAS

NILAI NILAI ISLAM DALAM SOSIO BUDAYA MAS

Kertas kerja ini memberi fokus dan membincangkan mengenai sosio-budaya ataupun kehidupan masyarakat Brunei Darussalam yang berpaksikan serta berlandaskan nilai- nilai keIslaman. Kertas kerja ini bertujuan untuk melihat sejauhmana dan bagaimana agama Islam itu diterjemahkan dalam cara hidup masyarakat Brunei Darussalam. Dengan menggunakan metod kajian perpustakaan dan pemerhatian, penulis cuba mengupas persoalan tersebut. Kajian mendapati bahawa Islam merupakan teras sosio- budaya masyarakat Brunei Darussalam. Islam juga berperanan sebagai benteng di dalam mempertahankan identiti kebangsaan. Seterusnya, ianya juga dijadikan falsafah sosial atau sistem nilai dalam semua tindak tanduk kehidupan bernegara. Islam menjadi pilihan utama dalam semua gerak laku kehidupan, sama ada di pihak kerajaan mahu pun di pihak rakyat. Mana-mana kegiatan kehidupan yang jauh terpesong dari ajaran agama Islam adalah menjadi sesuatu yang bertentangan dengan kehidupan sosio-budaya Negara Brunei Darussalam. Nilai-nilai keIslaman ini penentu dan penjamin survival bangsa. Ia memberi keyakinan dan jati diri kepada bangsa Brunei Darussalam untuk berhadapan dan berinteraksi dengan masyarakat dunia antarabangsa dalam segenap bidang.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...