Non DSS

Top PDF Non DSS:

Karakteristik Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan Dengue Shock Syndrome (DSS) dan Non DSS di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013-2015

Karakteristik Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan Dengue Shock Syndrome (DSS) dan Non DSS di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013-2015

Computed only for a 2x2 table pesentase ht dbd kategorik * diagnosa responden Crosstabulation diagnosa responden Total non dss dss pesentase ht dbd kategorik... 2-sided Exact Sig.[r]

37 Baca lebih lajut

Karakteristik Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan Dengue Shock Syndrome (DSS) dan Non DSS di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013-2015

Karakteristik Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan Dengue Shock Syndrome (DSS) dan Non DSS di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013-2015

Penatalaksanaan Medis berdasarkan pemberian cairan kristaloid+transfusi pada penderita DSS sebesar 33,3% dan Non DSS sebesar 2,8%, perlu diberikan apabila terjadi perdarahan nyata, hematokrit menurun, cairan mencukupi, tetapi tidak ada perbaikan secara klinis. Hal ini menunjukkan adanya perdarahan interna yang disertai hemokonsentrasi (Soedarto, 2012). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Makroo, dkk (2007) disimpulkan bahwa transfusi penting diberikan pada pasien DBD dengan trombosit <20.000/mm 3 karena berisiko tinggi mengalami komplikasi perdarahan. Sedangkan pasien DBD dengan trombosit antara 20.000/mm 3 -40.000/mm 3 memiliki indikasi mendapat transfusi apabila menunjukkan tanda-tanda perdarahan yang jelas.
Baca lebih lanjut

124 Baca lebih lajut

Karakteristik Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan Dengue Shock Syndrome (DSS) dan Non DSS di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013-2015

Karakteristik Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan Dengue Shock Syndrome (DSS) dan Non DSS di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013-2015

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “KARAKTERISTIK PENDERITA DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DENGAN DENGUE SHOCK SYNDROME (DSS) DAN NON DSS DI RSUD DR PIRNGADI MEDAN TAHUN 2013-2015” ini beserta seluruh isinya adalah benar hasil karya saya sendiri, dan saya tidak melakukan penjiplakan atau mengutip dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan etika keilmuan yang berlaku dalam masyarakat keilmuan. Atas pernyataan ini, saya siap menanggung risiko atau sanksi yang dijatuhkan kepada saya apabila kemudian ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan dalam karya saya ini, atau klaim dari pihak lain terhadap keaslian karya saya ini.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Karakteristik Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan Dengue Shock Syndrome (DSS) dan Non DSS di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013-2015

Karakteristik Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan Dengue Shock Syndrome (DSS) dan Non DSS di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013-2015

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit menular yang bersifat endemis di Indonesia. DBD dapat bermanifestasi klinis menjadi Dengue Shock Syndrome (DSS) yang dapat mengakibatkan kematian pada penderita. Berdasarkan data surveilans kota Medan tahun 2014 terdapat 1.699 kasus DBD. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui karakteristik penderita DBD dengan DSS dan Non DSS, penelitian dilakukan di RSUD Dr. Pirngadi Medan dengan desain case series.

2 Baca lebih lajut

Karakteristik Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan Dengue Shock Syndrome (DSS) dan Non DSS di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013-2015

Karakteristik Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan Dengue Shock Syndrome (DSS) dan Non DSS di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013-2015

Penelitian yang dilakukan oleh Harisnal (2012) mengenai Faktor-faktor risiko kejadian DSS di RSUD Ulin dan RSUD Ansari Saleh Kota Banjarmasin tahun 2011-2012 ditemukan bahwa persentase hematokrit merupakan variabel yang paling dominan yang berhubungan dengan kejadian DSS yaitu persentase hematokrit ≥25,97% (OR=7,86 CI=2,748-22,500).

7 Baca lebih lajut

Karakteristik Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan Dengue Shock Syndrome (DSS) dan Non DSS di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013-2015

Karakteristik Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan Dengue Shock Syndrome (DSS) dan Non DSS di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013-2015

Faktor-faktor Risiko Kejadian Dengue Shock Syndrome pada Pasien Demam Berdarah Dengue di RSUD Ulin dan RSUD Ansari Saleh Kota Banjarmasin Tahun 2010-2012.. Tesis, FKM UI, Depok.[r]

3 Baca lebih lajut

Karakteristik Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan Dengue Shock Syndrome (DSS) dan Non DSS di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013-2015

Karakteristik Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan Dengue Shock Syndrome (DSS) dan Non DSS di RSUD Dr. Pirngadi Medan Tahun 2013-2015

Patogenesis terjadinya renjatan berdasarkan The Secondary Heterologous Infection Hypothesis dapat dilihat dari rumusan yang dikemukakan oleh Suvatte 1997, yaitu akibat infeksi kedua ol[r]

11 Baca lebih lajut

UPLOAD BUKU AJAR DSS   WIJI

UPLOAD BUKU AJAR DSS WIJI

Pada umumnya, memang kebutuhan modal untuk produksi ikan asap tradisional lebih kecil dibanding ikan asap cair. Namun, NPV, IRR dan payback periods usaha ikan asap cair terlihat lebih menguntungkan. Harga jual ikan manyung asap diasumsikan Rp. 2.500/potong dan harga jual ikan Pari asap Rp. 2.000/potong. Dalam analisis ini, para pengolah ikan tradisional diasumsikan juga dikenakan pajak, meskipun pada kenyataannya para pengolah ikan asap tradisional merupakan pelaku ekonomi non formal yang seringkali tidak membayar pajak. Pada tahun pertama, keuntungan setelah pajak pengolah ikan tradisional sekitar Rp. 3 juta. Namun, apabila pajak tidak dihi tung, maka keuntungan dapat mencapai Rp. 4,7 juta ditambah gaji tenaga kerja (biasanya ditangani rumah tangga sendiri) yang diperhitungkan sekitar Rp. 20,8 juta/tahun.
Baca lebih lanjut

110 Baca lebih lajut

BAB IV (Bagian 3) Decision Support Systems Meningkatkan Pengelolaan Pengambilan Keputusan - Teknologi Informasi Kesehatan 7

BAB IV (Bagian 3) Decision Support Systems Meningkatkan Pengelolaan Pengambilan Keputusan - Teknologi Informasi Kesehatan 7

Secara prinsip Sistem Informasi Eksekutif dimana EIS dirancang untuk membantu eksekutif atau manajer senior untuk melakukan pemantauan terhadap perencanaan strategis perusahaan maupun untuk membantu dalam melakukan perencanaan strategis di masa yang akan datang, sedangkan SIM merupakan sistem yang dirancang untuk menangani dan membantu manajer menengah dalam menjalankan fungsi perencanaan , pengendalian dan pengambilan keputusan dengan menyampaikan laporan-laporan yang dihasilkan secara periodik. Sedangkan Sistem Pendukung Keputusan (DSS) adalah tipe lain dari pada sistem informasi komputer yang dirancang untuk mendukung dan meningkatkan proses pengambilan keputusan. Akan semakin banyak pengguna komputer yang akan semakin mengenal DSS karena sistem ini dikembangkan sebagai suatu alat bagi manajer tingkat menengah sampai bawah dan analisis sistem. DSS ini dikembangkan untuk mendukung keputusan dari tingkat menengah ke atas, sedangkan EIS berkonsentrasi pada tingkat manajemen paling atas.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Model Driven Decision Support Systems (MD-DSS) Untuk Strategi Perencanaan Sistem Pembangkit Listrik Yang Ramah Lingkungan Dalam Rangka Memjamin Keberlanjutan Supply Dan Demand Energi Listrik Di Kepulauan (Case Study : Pulau Madura) - ITS Repository

Model Driven Decision Support Systems (MD-DSS) Untuk Strategi Perencanaan Sistem Pembangkit Listrik Yang Ramah Lingkungan Dalam Rangka Memjamin Keberlanjutan Supply Dan Demand Energi Listrik Di Kepulauan (Case Study : Pulau Madura) - ITS Repository

Salah satu permasalahan Indonesia sebagai Negara Kepulauan adalah tidak meratanya rasio elektrifikasi di seluruh Kepulauan. Terutama pulau-pulau kecil dan terpencil sangat tidak efektif membangun pembangkit tenaga listrik yang besar dikarenakan rasio antara jumlah penduduk dan biaya investasi masih besar sekali. Disini strategi untuk meningkatkan rasio elektrifikasi di daerah kepulauan menjadi tantangan bagi pemerintah Indonesia. Sebagai contoh, menurut data di PT PLN Distribusi Jawa Timur, Pulau Madura memiliki rasio elektrifikasi sebesar 59.02 % dan merupakan yang terendah di provinsi Jawa Timur, ini dikarenakan kecilnya jumlah Kepala Keluarga (KK) di satu desa sementara jarak per desa cukup jauh sehingga hitungan investasi tidak mencukupi. Oleh karena itu, dalam penelitian ini akan dikembangkan MD-DSS (Model Driven Decision Support System). Yang dimaksud dengan Model Driven Decision Support System adalah lebih menekankan pada akses dan manipulasi dari statistik, finansial, optimasi atau model simulasi. MD-DSS ini meliputi sistem dinamik dan sistem visualisasi. Adapun dasar penggunaan sistem dinamik ini adalah kemampuan metode ini untuk mengartikulasi faktor- faktor yang kompleks dan berelasi non linear. Sistem visualisasi memudahkan pada top management untuk menganaslisis sistem dan mengambil langkah strategis yang diperlukan untuk kelancaran kinerja sistem pembangkit. Diharapkan dapat terciptanya teknologi Model Driven Decision Support System untuk pengembangan dan perencanaan sistem pembangkit tenaga listrik yang terintegrasi dan ramah lingkungan dengan memanfaatkan energi baru terbarukan (EBT).
Baca lebih lanjut

105 Baca lebih lajut

PENGANTAR SISTEM INFOMASI (MGT) OPENCOURSEWARE UNIVERSITAS PEMBANGUNAN JAYA Slide SIF101 DSS

PENGANTAR SISTEM INFOMASI (MGT) OPENCOURSEWARE UNIVERSITAS PEMBANGUNAN JAYA Slide SIF101 DSS

Tujuan DSS Tujuan DSS • Mendukung tahap pemecahan masalah • Mendukung untuk Struktur Masalah Berbeda • Mendukung untuk berbagai tingkatan pengambilan keputusan • Membantu manajer mem[r]

17 Baca lebih lajut

BAB 8 PENELITIAN PERSYARATAN DATABASE UNTUK DSS INSTITUSIONAL DAN AD HOC - BAB8

BAB 8 PENELITIAN PERSYARATAN DATABASE UNTUK DSS INSTITUSIONAL DAN AD HOC - BAB8

4 Sistem Penunjang Keputusan yang dibuat untuk pengalokasian anggaran dan sumber daya, penjadwalan pemberangkatan (dispatching) kereta api, penentuan harga, dan aplikasi akuisisi. Dua dari DSS yang dipelajari atau diteliti tsb digunakan secara berkelanjutan, sedangkan dua lainnya digunakan untuk pembuatan keputusan secara sesaat (satu kali). Donovan dan Madnick menamakan kedua cara tsb, berturut-turut, DSS institusional dan DSS ad hoc.

14 Baca lebih lajut

SPK Day 01 Pengantar DSS

SPK Day 01 Pengantar DSS

Pembuatan Keputusan Secara Kelompok : Keunggulan  Adanya pengetahuan yang lebih luas  Pencarian alternatif keputusan lebih luas  Adanya kerangka pandangan yang lebar  Resiko[r]

23 Baca lebih lajut

SPK Day 02 MIS dan DSS

SPK Day 02 MIS dan DSS

 TPS : melakukan pengolahan data  MIS : menyediakan informasi yang diperlukan untuk kepentingan bisnis organisasi  DSS: interactive-computer based system untuk membantu pengambil ke[r]

19 Baca lebih lajut

chapter 9 simulation modul dss

chapter 9 simulation modul dss

This chapter defines simulation and describes how simulation can be performed in Excel. We illustrate some simple tools available in Excel and then discuss how to use some new functions to create a simulation in Excel. The reader should be aware that there are several simulation software packages available that have more advanced features than what is available in Excel; since Excel is primarily a spreadsheet software, simulation features are not highlighted. However, we want to demonstrate, that when developing a spreadsheet-based DSS, simulation can be performed with the basic tools available in Excel. We revisit the simulation topic in Chapter 20 with VBA. We have several DSS applications which use simulation, such as Poker Simulation, Birthday Simulation, Queuing Simulation, and Reliability Analysis.
Baca lebih lanjut

33 Baca lebih lajut

PENERAPAN APLIKASI DSS DENGAN METODE SAW

PENERAPAN APLIKASI DSS DENGAN METODE SAW

Tujuan dari fase analisis adalah memahami dengan sebenar-benarnya kebutuhan dari sistem baru dengan mengembangkan sebuah sistem yang mewadahi kebutuhan tersebut, baik untuk kebutuhan sistem maupun dilihat dari segi pengguna. Tipe-tipe kebutuhan sistem ada 2 yaitu Kebutuhan Fungsional (Functional Requirement) adalah jenis kebutuhan yang berisi proses-proses apa saja yang nantinya dilakukan oleh sistem. Dan kebutuhan Non Fungsional (Non Functional Requirement) adalah tipe kebutuhan yang berisi properti perilaku yang dimiliki oleh sistem.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Sistem Pendukung Keputusan Designing DSS

Sistem Pendukung Keputusan Designing DSS

Throwaway Prototyping - Like prototyping and SDLC - Analysis phase is thorough - Design prototypes assist in understanding the system... Throwaway Prototyping Design Prototype Not OK [r]

67 Baca lebih lajut

E-book DSS & IS E.Turban

E-book DSS & IS E.Turban

Descriptive models describe things as they are, or as they are believed to be. These models are typically mathematically based. Descriptive models are extremely useful in DSS for investigating the consequences of various alternative courses of action under different configurations of inputs and processes. However, because a descriptive analysis checks the performance of the system for a given set of alternatives (rather than for all alternatives), there is no guarantee that an alternative selected with the aid of a descriptive analysis is optimal. In many cases, it is only satisfactory. Simulation is probably the most common descriptive modeling method. Simulation has been applied to many areas of decision-making. Computer and video games are a form of simulation. An artificial reality is created, and the game player lives within it. Virtual reality is also a form of simulation. The environment is simulated, not real. A common use of simulation is in manufacturing. Again, consider the production department of a firm with complications caused by the marketing department. The characteristics of each machine in a job shop along the supply chain can be described mathematically. Relationships can be established based on how each machine physically runs and relates to others. Given a trial schedule of batches of parts, one can measure how batches flow through the system and the utilization statistics of each machine. Alternative schedules may then be tried, and the statistics recorded, until a reasonable schedule is found. Marketing can examine access and purchase patterns on its Web site. Simulation can be used to determine how to structure a Web site for improved performance and to estimate future purchases. Both departments have used primarily experimental modeling methods.
Baca lebih lanjut

960 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects