Novel Ronggeng

Top PDF Novel Ronggeng:

KONFLIK BATIN TOKOH UTAMA DALAM NOVEL RONGGENG DUKUH  Konflik Batin Tokoh Utama Dalam Novel Ronggeng Dukuh Paruk Karya Ahmad Tohari: Tinjauan Psikologi Sastra Dan Implementasinya Sebagai Bahan Ajar Sastra Di SMA.

KONFLIK BATIN TOKOH UTAMA DALAM NOVEL RONGGENG DUKUH Konflik Batin Tokoh Utama Dalam Novel Ronggeng Dukuh Paruk Karya Ahmad Tohari: Tinjauan Psikologi Sastra Dan Implementasinya Sebagai Bahan Ajar Sastra Di SMA.

Analisis yang digunakan dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk adalah menggunakan pendekatan Psikologi Sastra. Pedekatan ini digunakan untuk menganalisis konflik batin tokoh tama. Konflik batin tokoh Srintil dikaji menggunakan tiga aspek, yaitu konflik mendekat- mendekat (approach-approach conflict), misalnya Srintil ketika akan melaksanakan malam bukak-klambu sebagai syarat menjadi seorang ronggeng dan mendapatkan upah berupa uang atau perhiasan., konflik menghindar-menghindar (advoidance-advoidance conflict) misalnya Srintil pergi ke Dawuhan ketika disuruh pulang oleh Nyai Kartareja karena ada Pak Marsusi yang hendak bertemu dengannya, dan konflik mendekat- menghindar ((approach-advoidance conflict) misalnya Srintil kecewa ketika Rasus menolaknya ketika ia hendak menyerahkan kehormatannya.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

ASPEK GENDER DALAM NOVEL RONGGENG DUKUH  ASPEK GENDER DALAM NOVEL RONGGENG DUKUH PARUK KARYA AHMAD TOHARI DAN SINTREN KARYA DIANING WIDYA YUDHISTIRA: KAJIAN INTERTEKS.

ASPEK GENDER DALAM NOVEL RONGGENG DUKUH ASPEK GENDER DALAM NOVEL RONGGENG DUKUH PARUK KARYA AHMAD TOHARI DAN SINTREN KARYA DIANING WIDYA YUDHISTIRA: KAJIAN INTERTEKS.

Hasil Penelitian ini adalah: (1) Struktur yang tercipta terjalin sangat bagus. Hubungan antara tokoh yang terdapat dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari novel Sintren karya Dianing Widya Yudhistira sangat kompleks dan rumit. Struktur yang saling menguatkan satu sama lain dan secara padu membangun peristiwa. Peristiwa dan makna cerita novel. Tema dalam novel RDP adalah tentang kearifan lokal yang terdapat di Dukuh Paruk, sedangkan tema dalam novel Sintren adalah kemiskinan.

10 Baca lebih lajut

ANALISIS FEMINISME RADIKAL NOVEL RONGGENG DUKUH PARUK KARYA AHMAD TOHARI MAWADDAH MUS Universitas Cokroaminoto Palopo mawaddahgmail.com Abstrak - Tidak berjudul

ANALISIS FEMINISME RADIKAL NOVEL RONGGENG DUKUH PARUK KARYA AHMAD TOHARI MAWADDAH MUS Universitas Cokroaminoto Palopo mawaddahgmail.com Abstrak - Tidak berjudul

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan unsur feminisme radikal yang terdapat pada teks-teks di dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analisis. Deskriptif analisis merupakan metode yang mendeskripsikan fakta-fakta dan kemudian disusul dengan analisisnya. Fakta- fakta yang dideskripsikan berupa teks feminis yang terdapat pada novel Ronggeng Dukuh Paruk secara logis. Bentuk feminisme tersebut dianalisis melalui aspek gender. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat unsur feminisme radikal dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk yang ditinjau dari aspek ketidakadilan gender, diantaranya: pertama, dari segi subordinasi yang dialami tokoh utama berupa tidak adanya kesempatan dalam memilih dan memutuskan jalan hidupnya. Kedua, stereotip yang dialami tokoh utama, menunjukkan bahwa posisi perempuan dianggap rendah karena pemberian label negatif dari masyarakat terutama kaum laki-laki. Ketiga, tindakan kekerasan yang dialami tokoh utama berupa kekerasan fisik, pelecehan seksual, pelacuran, kekerasan verbal, dan kekerasan terselubung. Keempat, beban ganda yang tergambar pada novel menunjukkan bahwa posisi perempuan tidak hanya bertanggung jawab dalam satu peran, melainkan menjalani peran lebih dari satu dalam kehidupannya. Kelima, dari segi eksploitasi ekonomi dialami tokoh utama sejak kecil untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan masyarakat Dukuh Paruk. Keenam, ketidakadilan gender di lingkungan sosial yang dialami tokoh utama berupa pembatasan peran dan pengucilan dari masyarakat.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

PEMAHAMAN KONFLIK BATIN TOKOH DALAM NOVEL RONGGENG DUKUH PARUK KARYA AHMAD TOHARI | Ramlah | BAHASANTODEA 6320 20914 1 PB

PEMAHAMAN KONFLIK BATIN TOKOH DALAM NOVEL RONGGENG DUKUH PARUK KARYA AHMAD TOHARI | Ramlah | BAHASANTODEA 6320 20914 1 PB

This research was motivated by a desire to find psychological conflict of the main character in the novel Ronggeng Dukuh Paruk written by Ahmad Tohari. This research aimed to describe the psychological conflict of the main character in the novel Ronggeng Dukuh Paruk, by Ahmad Tohari with psikoanalisis Sigmund Freud’s theory that divided the human personality into there, namely the id, ego, and superego in the attitude of repression, sublimation, rationalization, aggression, projection, diversion, apathy and fantasy. This research was a qualitative research, being descriptive, using textual approaches and literature technigues. Analysis and interactive models by Miles and Huberman done by marking,classify, and coclude the results of analysis that is consistent with the of Sigmund Freud’s personality theory. Pengeran displayed Rasus character as the narrator in novel Ronggeng Dukuh Paruk Hamlet was being displayed as a character who told Rasus. The main conflict deeloved in chapter there, namely when Srintil completed the last reguirement mus be a ronggeng. The requirement that must be fulfilled was named “bukak - klambu”. A requirement that destabilize the relationship between Rasus end Srintil. The results showed that in a natural psychiatric conflict was experienced by Srintil figure wit himself happened because Srintil psychiatric conflict by herself occurred as the result of Rasus’s refusal to bicome her husband and leaved her, and Srintil psychiatric conflict with the surrounding occurred when Srintil was involved by the communist minions and must be entered into the prison and She was be disappointed by Bajus because selling her to Pak Blengur. The peak of the problem occurred when Srintil has became a Ronggeng Dukuh Paruk. Srintil belonged to the people and Rasus as a man who loved her, should let her.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

 BAB I   Konflik Batin Tokoh Utama Dalam Novel Ronggeng Dukuh Paruk Karya Ahmad Tohari: Tinjauan Psikologi Sastra Dan Implementasinya Sebagai Bahan Ajar Sastra Di SMA.

BAB I Konflik Batin Tokoh Utama Dalam Novel Ronggeng Dukuh Paruk Karya Ahmad Tohari: Tinjauan Psikologi Sastra Dan Implementasinya Sebagai Bahan Ajar Sastra Di SMA.

Cerita dalam novel memiliki banyak konflik yang dialami oleh tokoh utama yaitu Srintil. Konflik yang dialami oleh Srintil sebagai tokoh utama novel Ronggeng Dukuh Paruk berupa konflik batin karena konflik tersebut hanya dialami oleh diri Srintil. Konflik batin akan dikaji melalui pendekatan psikologi sastra. Melalui psikologi sastra diharapkan dapat mengungkapkan makna yang terkandung dalam konflik batin tokoh utama dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk. Dapat diuraikan berdasarkan pernyataan diatas alasan dalam penelitian ini sebagai berikut.

7 Baca lebih lajut

KAJIAN STILISTIKA ASPEK BAHASA FIGURATIF NOVEL RONGGENG DUKUH PARUK KARYA AHMAD TOHARI

KAJIAN STILISTIKA ASPEK BAHASA FIGURATIF NOVEL RONGGENG DUKUH PARUK KARYA AHMAD TOHARI

The purpose of the study is to describe figurative language of the novel Ronggeng Dukuh Paruk’s (RDP) stylistics form and to express the function and purpose of use as author’s expression to state his ideas. The research uses qualitative descrip- tive method with head the interpretation full of meaning. Data analysis is done by using inductive thinking method applying Semiotic reading method which are heu- ristic and hermeneutic. The result of the study shows that RDP’s figurative lan- guage has uniqueness and authenticity as well as proof of Tohari’s competence in using the full potency of language. The authenticity of RDP’s figurative language can be seen from Tohari’s style of majas and idiom of Tohari’s style. Figurative language on RDP is dominated by majas, beside idiom, which is beautiful and various, also full expressive, associative, and aesthetic power. This shows Tohari’s inviduation as an author who has high intellectuality. Through stylistic study, it is inferred that RDP’s figurative language has strong expression as great articulation media of author’s idea which is not far from his socio historical background.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Ronggeng dalam kebudayaan Banyumas dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari dan implikasinya terhadap pembelajaran sastra di SMA

Ronggeng dalam kebudayaan Banyumas dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari dan implikasinya terhadap pembelajaran sastra di SMA

Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan ronggeng dalam kebudayaan Banyumas dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari yang diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di sekolah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan objektif sastra. Pendekatan objektif analisis ini menitikberatkan pada kebudayaan dan kepercayaan masyarakat terhadap ronggeng dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk sebagai kajian penelitian. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa permasalahan ronggeng dalam kebudayaan Banyumas yang terdapat dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk meliputi: 1) fungsi ronggeng sebagai kesenian, meliputi: fungsi upacara ritual, hiburan, dan pertunjukan. 2) syarat-syarat menjadi ronggeng dalam kebudayaan Banyumas yang meliputi: masuknya indang arwah Ki Secamenggala, upacara pemandian di depan makam Ki Secamenggala, dan upacara bukak- klambu. 3) fungsi penari ronggeng di kebudayaan Banyumas, meliputi: penari, penghibur, dan pembawa keberkahan. 4) pandangan masyarakat terhadap ronggeng, dalam masyarakat Dukuh Paruk, ronggeng dianggap sebagai milik umum, pembawa keberkahan, dan simbol Dukuh Paruk. Namun, di luar masyarakat Dukuh Paruk ronggeng dianggap sebagai penghibur, pelacur, dan sundal. Dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia, novel Ronggeng Dukuh Paruk dapat digunakan sebagai materi agar peserta didik dapat membangun karakter, kritis, menghargai dan menghormati sesama manusia, bertanggung jawab dan dapat memahami serta menyikapi nilai budaya dan nilai moral yang disampaikan dengan jelas dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk.
Baca lebih lanjut

140 Baca lebih lajut

Utilitas Bahasa Dalam Mengkonstruksi Hegemoni Kekuasaan Pada Novel Ronggeng Dukuh Paruk: Perspektif Antropologi Linguistik

Utilitas Bahasa Dalam Mengkonstruksi Hegemoni Kekuasaan Pada Novel Ronggeng Dukuh Paruk: Perspektif Antropologi Linguistik

sebagai upaya untuk menjelaskan bahwa utilitas bahasa dalam perspektif antropologi linguistik mampu menformulasi dan merekonstruksi hegemoni kekuasaan yang terdapat dalam trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk, karya Ahmad Tohari. Data penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Data primer berupa teks sastra (novel), sedangkan data sekunder meliputi: (1) berbagai referensi atau jurnal yang relevan dengan permasalahan penelitian; (2) berbagai informasi penting yang diperoleh dari pengarang, budayawan, dan pembaca yang dirujuk dari internet. Pengumpulan dapat dilakukan dengan teknik studi kepustakaan disertai pemahaman arti secara mendalam. Teknik analisis data untuk pemaknaan diperlukan pembacaan secara semiotik yaitu pembacaan heuristik dan pembacaan hermeneutik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) hegemoni kekuasaan yang diungkapkan pengarang melalui sistem penanda dapat diperhatikan dalam penggunaan tanda/simbol yang mengarah pada pemaknaan kekuasaan pada kategori linguistik yang dikaitkan dengan budaya masyarakat dalam teks; (2) hegemoni kekuasaan yang ditunjukkan dalam teks sebagai representasi kemanusiaan diungkapkan bahwa untuk kepentingan-kepentingan tertentu terkadang bahasa merupakan salah satu alat jitu yang digunakan untuk memberikan suatu pembenaran terhadap perilaku manusia; (3) bahasa yang digunakan dalam teks tidak dapat dilepaskan dengan kebudayaan masyarakat dalam memberikan pemaknaan tentang kekuasaan. Representasi kekuasaan tergambar secara jelas dalam membicarakan dan menafsirkan penggunaan penanda bahasa yang mengacu pada realitas sosial.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Ronngeng dalam kebudayaan Banyumas dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari dan implikasinya terhadap pembelajaran sastra di SMA “suatu tinjauan objektif”

Ronngeng dalam kebudayaan Banyumas dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari dan implikasinya terhadap pembelajaran sastra di SMA “suatu tinjauan objektif”

Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan ronggeng dalam kebudayaan Banyumas dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari yang diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di sekolah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan objektif sastra. Pendekatan objektif analisis ini menitikberatkan pada kebudayaan dan kepercayaan masyarakat terhadap ronggeng dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk sebagai kajian penelitian. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa permasalahan ronggeng dalam kebudayaan Banyumas yang terdapat dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk meliputi: 1) fungsi ronggeng sebagai kesenian, meliputi: fungsi upacara ritual, hiburan, dan pertunjukan. 2) syarat-syarat menjadi ronggeng dalam kebudayaan Banyumas yang meliputi: masuknya indang arwah Ki Secamenggala, upacara pemandian di depan makam Ki Secamenggala, dan upacara bukak- klambu. 3) fungsi penari ronggeng di kebudayaan Banyumas, meliputi: penari, penghibur, dan pembawa keberkahan. 4) pandangan masyarakat terhadap ronggeng, dalam masyarakat Dukuh Paruk, ronggeng dianggap sebagai milik umum, pembawa keberkahan, dan simbol Dukuh Paruk. Namun, di luar masyarakat Dukuh Paruk ronggeng dianggap sebagai penghibur, pelacur, dan sundal. Dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia, novel Ronggeng Dukuh Paruk dapat digunakan sebagai materi agar peserta didik dapat membangun karakter, kritis, menghargai dan menghormati sesama manusia, bertanggung jawab dan dapat memahami serta menyikapi nilai budaya dan nilai moral yang disampaikan dengan jelas dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk.
Baca lebih lanjut

140 Baca lebih lajut

REALISASI KESANTUNAN BERBAHASA DALAM NOVEL RONGGENG DUKUH PARUK KARYA AHMAD TOHARI

REALISASI KESANTUNAN BERBAHASA DALAM NOVEL RONGGENG DUKUH PARUK KARYA AHMAD TOHARI

2. Kajian mengenai realisasi kesantunan dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari ini dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif pertimbangan untuk bahan pengajaran Bahasa Indonesia di sekolah, mulai dari tingkat menengah sampai tingkat tinggi. Misalnya pada standar kompetensi menulis (mengungkapkan pendapat, informasi, dan pengalaman dalam bentuk resensi dan cerpen) dan kompetensi dasar menulis cerpen berdasarkan kehidupan orang lain (pelaku, peristiwa, latar), guru dapat memanfaatkan novel Ronggeng Dukuh Paruk sebagai model pemilihan tuturan oleh pengarang dalam mengekspresikan ide atau gagasannya ke dalam bentuk cerita. Pemilihan bahan pengajaran yang diambil dari seleksi tuturan-tuturan dalam novel ini sekaligus dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa santun. Hal ini tentunya diharapkan juga dapat dilakukan dalam aspek keterampilan berbahasa yang lain yakni, menyimak, berbicara, dan membaca. Kondisi seperti ini kiranya dipikirkan kembali karena berbahasa santun dalam berkomunikasi secara formal maupun nonformal akan berdampak positif pada keberlangsungan dan efek yang timbul dari komunikasi tersebut.
Baca lebih lanjut

178 Baca lebih lajut

Menggali Kearifan Lokal pada Novel Ronggeng Dukuh Paruk Karya Ahmad Tohari

Menggali Kearifan Lokal pada Novel Ronggeng Dukuh Paruk Karya Ahmad Tohari

Keberpihakan Tohari kepada Srintil, ronggeng sang primadona sekaligus sundal – manusia yang dalam pandangan masyarakat umum termasuk sangat hina dan rendah status sosialnya — merupakan wujud realisasi kearifan lokal ― aja dumeh ‖ sekaligus pengamalan ajaran Islam yang diyakininya. Dalam hal ini Tohari mengamalkan ayat al-Quran Surat al- ‘Alaq ayat 1 - 5 yang berbunyi: ‖Iqra’ bismi rabbikal ladzi khalaq; khalaqal insaana min ’alaq; iqra’ warabbukal ladzi ’allama bil qalam; ’allamal insaana ma lam ya’lam‖ (artinya: ‖Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan (segala sesuatu); yang menciptakan manusia dari segumpal darah; bacalah dan Tuhanmu yang mengajarkan kepadamu (manusia) dengan qalam; mengajarkan kepada manusia sesuatu yang tidak diketahuinya.‖) .
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Gaya Wacana Dalam Teks Novel Ronggeng Dukuh Paruk dan Dimensi Budayanya

Gaya Wacana Dalam Teks Novel Ronggeng Dukuh Paruk dan Dimensi Budayanya

Data (4) merupakan gaya wacana Paralelisme yang melukiskan suasana alam di Dukuh Paruk. Kalimat-kalimat pada data (4) itu memiliki maksud yang sepadan yakni ‟suasana indah pada malam hari ketika musim kemarau‟. Meskipun kosakatanya tidak sama yakni ‟langit yang cerah, bulan yang bersinar terang, dan bintang yang bercahaya‟, maksud kalimat -kalimat itu sejajar maksudnya. Pada data (5) gaya Paralelisme digunakan Tohari untuk melukiskan daya pesona ronggeng Srintil ketika tampil di pentas. Kosakata dalam kalimat-kalimat tersebut memang berbeda satu dengan lainnya. Namun, pada dasarnya kalimat-kalimat itu memiliki maksud yang sejajar yakni ‟tarian erotik Srint il membuat mereka terkesima dan tunduk di bawah pesonanya‟.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

lap penel warna lokal novel ronggeng 2009

lap penel warna lokal novel ronggeng 2009

Di Indonesia banyak muncul karya sastra dari berbagai daerah yang menunjukkan kekhasan warna lokal. Karya sastra seperti ini pada umumnya ditulis oleh pengarang yang berasal dari daerah yang bersangkutan. Korie Layun Rampan dalam Upacara (1978) menunjukkan kehidupan sosial budaya masyarakat Dayak. Warna lokal Minangkabau dapat disebut antara lain adalah, novel Tidak Menyerah (1962) karya Motinggo Busje, Hati Nurani Manusia (1965) karya Idrus, cerita drama karya Wisran Hadi yang berjudul Puti Bungsu (1978), Dan Perang pun Usai (1979) karya Ismail Marahimin, dan Warisan (1981) karya Chairul Harun yang menunjukkan kehidupan sosial budaya masyarakat Minangkabau (Kusmarwanti, 2001:1).
Baca lebih lanjut

46 Baca lebih lajut

MAJAS NOVEL TRILOGI RONGGENG DUKUH PARUK KARYA AHMAD TOHARI: KAJIAN STILISTIKA DAN IMPLEMENTASINYA  Majas Novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk Karya Ahmad Tohari: Kajian Stilistika Dan Implementasinya Sebagai Bahan Ajar Bahasa Indonesia Di Sma.

MAJAS NOVEL TRILOGI RONGGENG DUKUH PARUK KARYA AHMAD TOHARI: KAJIAN STILISTIKA DAN IMPLEMENTASINYA Majas Novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk Karya Ahmad Tohari: Kajian Stilistika Dan Implementasinya Sebagai Bahan Ajar Bahasa Indonesia Di Sma.

The type of the research is descriptive qualitative. The object of the study is the usage of figure of speech and the meaning in trylogy novel RDP. The data in the research is in the form of words dealing with the usage of figure of speech by Ahmad Tohari. The source of data in the research is the trylogy novel Ronggeng Dukuh Paruk by Ahmad Tohari published by PT Gramedia Pustaka. The novel has 408 pages as the fifth edition in the year of 2009; and also the articles from the internet. The technique of collecting the data is the lybrary technique to find the figure of speech in the novel. The technique of data analysis used in the research is the method of equal-intralingual with the technique of comparing and relating to equalize the main thing. The meaning of the figure of speech is learned using the semiotics reading.
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

REPRESENTASI DISKRIMINASI PEREMPUAN DALAM NOVEL “RONGGENG DUKUH PARUK” (Studi Semiologi Tentang Representasi Diskriminasi Perempuan Dalam Novel “Ronggeng Dukuh Paruk” Karya Ahmad Tohari)

REPRESENTASI DISKRIMINASI PEREMPUAN DALAM NOVEL “RONGGENG DUKUH PARUK” (Studi Semiologi Tentang Representasi Diskriminasi Perempuan Dalam Novel “Ronggeng Dukuh Paruk” Karya Ahmad Tohari)

Lazimnya, tarian ronggeng disuguhkan oleh laki-laki dan perempuan yang menari bersamaan (ngibing). Laki-laki disimbolkan sebagai benih tanaman yang siap tumbuh dan berkembang, sedangkan perempuan sebagai lahan yang siap ditanami. Seiring dengan keyakinan masyarakat akan daya magic-simpatetis tarian ronggeng, penyajiannya kemudian beralih tidak lagi di sawah-sawah, tetapi merambah dunia resepsi khitanan atau pernikahan. Kekuatan gaib yang ada pada ronggeng itu dianggap turut berpengaruh terhadap kesuburan pasangan sehingga berkah itu diharapkan segera mewujud dalam bentuk kelahiran anak. Selain itu, laki-laki dan perempuan yang melakukan praktik tari kesuburan itu tidak menganggapnya sebagai ajang jual-beli seks, tetapi sebagai unsur sah sebuah mitos. Meskipun akhirnya, ronggeng tidak lagi disajikan dalam upacara-upacara
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

REPRESENTASI DISKRIMINASI PEREMPUAN DALAM NOVEL “RONGGENG DUKUH PARUK” (Studi Semiologi Tentang Representasi Diskriminasi Perempuan Dalam Novel “Ronggeng Dukuh Paruk” Karya Ahmad Tohari).

REPRESENTASI DISKRIMINASI PEREMPUAN DALAM NOVEL “RONGGENG DUKUH PARUK” (Studi Semiologi Tentang Representasi Diskriminasi Perempuan Dalam Novel “Ronggeng Dukuh Paruk” Karya Ahmad Tohari).

Leksia di atas digolongkan dalam kode pembacaan proaretik. Karena terdapat tindakan yang membuahkan dampak. Pada kalimat Tentara itu tak merasa salah ketika tangannya menggamit pantat Srintil. Tak diduganya Srintil membalas dengan tatapan mata amarah. Yang berarti walaupun para tentara dapat menyentuh tubuh Srintil membalas dengan tatapan amarah pada para tentara yang menggodanya dengan sesuka hati karena seorang ronggeng sudah pasti banyak disuka oleh para laki-laki. Pada leksia di atas maka menunjukkan adanya diskriminasi dalam bentuk pelecehan terhadap tokoh perempuan yaitu srintil, dengan mudahnya para laki-laki tentara tersebut menyentuh bagian tubuh srintil dengan sesuka hati didepan umum, seakan tak dihargai srintil sebenarnya tidak menyukainya dan tidak dapat melawan.
Baca lebih lanjut

121 Baca lebih lajut

REPRESENTASI DISKRIMINASI PEREMPUAN DALAM NOVEL “RONGGENG DUKUH PARUK” (Studi Semiologi Tentang Representasi Diskriminasi Perempuan Dalam Novel “Ronggeng Dukuh Paruk” Karya Ahmad Tohari).

REPRESENTASI DISKRIMINASI PEREMPUAN DALAM NOVEL “RONGGENG DUKUH PARUK” (Studi Semiologi Tentang Representasi Diskriminasi Perempuan Dalam Novel “Ronggeng Dukuh Paruk” Karya Ahmad Tohari).

Leksia di atas digolongkan dalam kode pembacaan proaretik. Karena terdapat tindakan yang membuahkan dampak. Pada kalimat Tentara itu tak merasa salah ketika tangannya menggamit pantat Srintil. Tak diduganya Srintil membalas dengan tatapan mata amarah. Yang berarti walaupun para tentara dapat menyentuh tubuh Srintil membalas dengan tatapan amarah pada para tentara yang menggodanya dengan sesuka hati karena seorang ronggeng sudah pasti banyak disuka oleh para laki-laki. Pada leksia di atas maka menunjukkan adanya diskriminasi dalam bentuk pelecehan terhadap tokoh perempuan yaitu srintil, dengan mudahnya para laki-laki tentara tersebut menyentuh bagian tubuh srintil dengan sesuka hati didepan umum, seakan tak dihargai srintil sebenarnya tidak menyukainya dan tidak dapat melawan.
Baca lebih lanjut

121 Baca lebih lajut

Ronggeng di Minangkabau.

Ronggeng di Minangkabau.

Di Jawa, ronggeng merupakan salah satu tradisi yang berhubungan dengan ritual atau upacara untuk meminta kesuburan tanah. Upacara ini dilakukan supaya hasil pertanian warga melimpah-ruah. Karena terkait dengan kesuburan inilah, gerakan dalam tarian yang dilakukan oleh penari perempuan (ledhek) dengan penari laki-laki (pengibing) ini, mirip gerakan orang yang sedang bercinta. Tarian tersebut memang terlihat erotis, tapi saat itu tariannya tak lebih dari sekadar melambangkan kesuburan saja (Enanto, 2007).

10 Baca lebih lajut

S SOS 1200133 Chapter1

S SOS 1200133 Chapter1

Kedua adapun kesenian lainnya yang sifatnya lebih modern seperti girl band, band ataupun hiburan yang lebih menarik dan lebih praktis bahkan lebih murah seperti dangdut lebih diminati oleh para penikmat seni khususnya masyarakat Banjarsari pada saat ini. Pada intinya kesenian yang sifatnya lebih modern memiliki banyak kelebihan. Merinci mengenai penjelasan kelebihan dari kesenian modern pertama hiburan yang lebih menarik adalah hiburan yang saat kali ini dilihat dari segi busana, musik, dan gerakan yang lebih menyesuaikan pada perkembangan jaman, dari segi praktis jika dibandingkan dengan dangdut dalam peralatan pentas hanya menggunkan keyboard dan sound, lain halnya dengan ronggeng gunung dimana dalam peralatan pentas
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

View of DIKSI SEKSUALITAS DALAM NOVEL TRILOGI RONGGENG DUKUH PARUK KARYA AHMAD TOHARI

View of DIKSI SEKSUALITAS DALAM NOVEL TRILOGI RONGGENG DUKUH PARUK KARYA AHMAD TOHARI

rajasinga, (9) gendak, (10) pacak gulu, dan (11) gowok. Dari temuan tersebut peneliti dapat memaparkan makna masing-masing diksi sehingga diharapkan pembaca lebih mudah untuk memahami tentang maksud dari novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk sesuai dengan yang dimaksudkan oleh penelitinya. Selain itu, kajian ini juga memberikan penjelasan dan pemaparan tentang diksi- diksi seksualitas dalam novel tersebut yang dikaitkan dengan fenomena yang terjadi di masa kini, dan peneliti berusaha memberikan masukan yang bersifat edukatif berdasarkan tinjauan agama, kesehatan, sosial-budaya, dan lain-lain. DAFTAR PUSTAKA
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Show all 8477 documents...

Related subjects