orang Toraja

Top PDF orang Toraja:

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Dukacita dan Kehilangan Pada Orang Toraja dalam Ritual Ma’nenek: Suatu Analisis Psikologi Indigenous

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Dukacita dan Kehilangan Pada Orang Toraja dalam Ritual Ma’nenek: Suatu Analisis Psikologi Indigenous

Setiap budaya memiliki tradisi untuk mengekspresikan duka cita dan kehilangan akibat kematian orang yang dikasihi dan yang mengasihinya. Dengan menjemur tulang-tulang jenazah, menangis, meratap, mengganti pakaian atau memberi bungkus baru pada jenazah orang Toraja mengobati kerinduan dan rasa kehilangan yang dalam. Di desa To’Nakka’ ritual ini berlangsung se tiap tahun di bulan Agustus namun di desa Lempo Poton hanya 3 tahun sekali seiring selesainya masa panen. Oleh masyarakat setempat Agustus disebut “bulan nenek’ yakni bulan khusus untuk mengurus keluarga -keluarga yang telah dikuburkan. Oleh karena itu Agustus juga disebut lo’bang/alla’ padang (tanah kosong/masa antara). Maka sepanjang bulan itu semua kegiatan pertanian dihentikan bahkan membeli hewan piaraan seperti babi juga tidak diizinkan.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Dukacita dan Kehilangan Pada Orang Toraja dalam Ritual Ma’nenek: Suatu Analisis Psikologi Indigenous T2 832012008 BAB V

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Dukacita dan Kehilangan Pada Orang Toraja dalam Ritual Ma’nenek: Suatu Analisis Psikologi Indigenous T2 832012008 BAB V

Kematian selalu menyisakan dukacita dan kehilangan bagi orang-orang terdekatnya bukan saja karena kematian itu telah memisahkannya dari orang yang dikasihinya melainkan dalam kondisi itu juga mereka yang ditinggal kehilangan makna hidupnya secara mendalam (Brennan, 2008). Orang Toraja melewati proses berduka sebagaimana yang dikatakan Kubler-Ross (1969), Bowbly (1980) dan Wiryasaputra (2003) yakni penyangkalan terhadap kematian, air mata kepedihan, stres, penolakan, marah, kekacauan kognitif dan berbagai respon fisik yang juga nampak pada saat ritual ma’ne nek berlangsung.
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Keragaman Makna di Balik Sepu’ bagi Orang Toraja di Salatiga: Analisa Semiotika Roland Barthes T1 362011079 BAB IV

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Keragaman Makna di Balik Sepu’ bagi Orang Toraja di Salatiga: Analisa Semiotika Roland Barthes T1 362011079 BAB IV

Konon leluhur orang Toraja berasal dari nirwana. Mereka diturunkan di dalam tiga tahap, yakni tahap To' Sama (tahap 1), tahap To Makaka (tahap 2) dan tahap To Matasak (tahap 3). Mitos ini tetap melegenda secara lisan turun- temurun di kalangan masyarakat Toraja. Alkisah nenek moyang masyarakat Toraja yang pertama menggunakan tangga yang disebut Eran di Langi' di Rura, Bamba Puang. Tangga tersebut kemudian berfungsi sebagai media komunikasi dengan Puang Matua (Tuhan Yang Maha Kuasa). Konon manusia yang turun ke bumi ini, telah dibekali aturan keagamaan yang disebut Aluk, yang menjadi sumber budaya dan pandangan hidup leluhur orang Toraja. Aluk mengandung nilai-nilai religius yang mengarah kepada Puang Matua yang disembah sebagai pencipta manusia, bumi dan segala isinya. Alam semesta, menurut aluk, dibagi menjadi dunia atas (Surga) dunia manusia (bumi), dan dunia bawah.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Dukacita dan Kehilangan Pada Orang Toraja dalam Ritual Ma’nenek: Suatu Analisis Psikologi Indigenous

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Dukacita dan Kehilangan Pada Orang Toraja dalam Ritual Ma’nenek: Suatu Analisis Psikologi Indigenous

apakah ma‟ nenek dilaksanakan karena orang toraja selama “ pesta “ tidak pernah berkesempatan me nangis? ya.....(lalu terdiam cukup lama, seperti memikirkan sesuatu)...itu merupakan satu tanda kasih sayang kepada ayah dan ibu bukan hanya pada saat mereka hidup, mereka diberikan kasih sayang... Koo mbai saba’ masuli’mo allian bai la’bi tedong bisa juga karena dulu hanya sibuk urus pesta dan kerbau..

24 Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Keragaman Makna di Balik Sepu’ bagi Orang Toraja di Salatiga: Analisa Semiotika Roland Barthes T1 362011079 BAB VI

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Keragaman Makna di Balik Sepu’ bagi Orang Toraja di Salatiga: Analisa Semiotika Roland Barthes T1 362011079 BAB VI

4. Orang Toraja di Salatiga, khususnya mahasiswa dan mahasiswi yang berkuliah di Universitas Kristen Satya Wacana, menggunakan Sepu’ selain sebagai aksesoris pelengkap fashion, juga menggunakan Sepu’ untuk menunjukkan identitas diri mereka sebagai orang Toraja.

3 Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Dukacita dan Kehilangan Pada Orang Toraja dalam Ritual Ma’nenek: Suatu Analisis Psikologi Indigenous T2 832012008 BAB I

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Dukacita dan Kehilangan Pada Orang Toraja dalam Ritual Ma’nenek: Suatu Analisis Psikologi Indigenous T2 832012008 BAB I

Melalui ritual ma’nenek, selain sebagai ungkapan hormat dan kasih sayang kepada leluhur, kesempatan untuk mengekspresikan dukacita dan kehilangan yang dirasakannya secara unik, di dalamnya juga terdapat litani ratapan, kesempatan untuk curhat, reuni dengan keluarga dari berbagai tempat, menyampaikan harapan-harapan bahkan menjadi kesempatan untuk merayakan bersama kehidupan setelah kematian orang yang terkasih. Selama proses membungkus dan mengikat jasad dan tulang-tulang jenazah mereka menceritakan kembali kenangan-kenangan selama orang yang dicintainya masih hidup sambil tertawa dan meoli (pekikan khas orang Toraja). Mereka gembira, bangga dan saling mengingatkan untuk mengikuti keteladanan hidup yang telah ditunjukkan almarhum/almarhumah selama hidupnya termasuk kasih sayangnya terhadap hewan piaraan seperti kerbau dan babi serta perhatiannya terhadap tanaman baik di sawah maupun di kebun.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Keragaman Makna di Balik Sepu’ bagi Orang Toraja di Salatiga: Analisa Semiotika Roland Barthes T1 362011079 BAB I

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Keragaman Makna di Balik Sepu’ bagi Orang Toraja di Salatiga: Analisa Semiotika Roland Barthes T1 362011079 BAB I

Berdasarkan kesimpulan dari wawancara dengan salah satu budayawan Suku Toraja, Sismay Eliata Tulungallo 1 , Sepu’ merupakan salah satu aksesoris adat yang berasal dari Suku Toraja, Toraja, Sulawesi Selatan. Pada awal sejarahnya, Sepu’ hanya digunakan olah para kaum To Ma’dika (bangsawan) saja dan berfungsi untuk menyimpan uang dan perlengkapan sirih, seperti kapur, kalosi, dll. Namun seiring perkembangan zaman, Sepu’ akhirnya di gunakan oleh para masyarakat umum, tidak hanya oleh kaum bangsawan saja, dan umumnya hanya di gunakan pada saat upacara Rambu Solo’ (upacara kematian). Sepu’ digunakan sebagai salah satu atribut dalam upacara Rambu Solo’ khususnya pada prosesi pemakaman, dimana Sepu ’ akan digantungkan di depan liang (kuburan) sebagai penanda bahwa liang tersebut adalah milik keturunan bangsawan, atau dapat juga digantungkan di atas alang (lumbung padi) jika keturunannya tidak sempat menggantungkan Sepu’ di
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Dukacita dan Kehilangan Pada Orang Toraja dalam Ritual Ma’nenek: Suatu Analisis Psikologi Indigenous

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Dukacita dan Kehilangan Pada Orang Toraja dalam Ritual Ma’nenek: Suatu Analisis Psikologi Indigenous

128 mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh dosen 14 Saya merasa gugup saat melakukan oral presentation 15 Saya tidak memiliki kemampuan apa-apa dalam mata kuliah ini 16 Membuat[r]

35 Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Dukacita dan Kehilangan Pada Orang Toraja dalam Ritual Ma’nenek: Suatu Analisis Psikologi Indigenous

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Dukacita dan Kehilangan Pada Orang Toraja dalam Ritual Ma’nenek: Suatu Analisis Psikologi Indigenous

iv KATA PENGANTAR Puji Sukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus atas berkat dan tuntunan-Nya sehingga penulisan karya yang berjudul “Hubungan FLL Self Efficacy dan Motivasi [r]

14 Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Dukacita dan Kehilangan pada Orang Toraja dalam Ritual Ma’nenek: suatu analisis psikologi indigenous

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Dukacita dan Kehilangan pada Orang Toraja dalam Ritual Ma’nenek: suatu analisis psikologi indigenous

Penelitian bertujuan untuk menentukan hubungan keterlibatan ayah dan kualitas persahabatan dengan kompetensi sosial pada remaja anggota GBI Rayon 4 Medan ditinjau dari jenis kelamin. Sampel dalam penelitian adalah 72 orang remaja berusia 11-18 tahun dan terdiri dari 35 laki-laki dan 37 perempuan. Terdapat 3 alat ukur yang digunakan dalam penelitian, yaitu: modifikasi Skala Kompetensi Sosial dari Gresham & Elliot, modifikasi Skala Keterlibatan Ayah dari Hawkins & Palkovits, dan modifikasi Skala Kualitas Persahabatan dari Parker & Asher (1993). Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan ayah dan kualitas persahabatan berpengaruh simultan dan signifikan terhadap kompetensi sosial remaja. GBI Rayon 4 Medan. Selain itu, diketahui tidak ada interaksi keterlibatan ayah dan jenis kelamin, tidak ada interaksi kualitas persahabatan dan jenis kelamin terhadap kompetensi sosial. Namun demikian, ada perbedaan antar jenis kelamin dalam kualitas persahabatan.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Dukacita (Grief) pada Orang Toraja yang Melaksanakan Ritual Pemakaman Rambu Solo'

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Dukacita (Grief) pada Orang Toraja yang Melaksanakan Ritual Pemakaman Rambu Solo'

Di dalam laporan tugas akhir ini tidak terdapat keseluruhan atau sebagian tulisan atau gagasan orang lain yang saya ambil dengan cara menyalin atau meniru dalam bentuk rangkaian kalimat atau gambar serta simbol yang saya akui seolah-olah sebagai karya sendiri tanpa memberikan pengakuan pada penulis atau sumber aslinya.

5 Baca lebih lajut

REPRESENTASI NILAI BUDAYA HIMNE PASOMBA TEDONG: SEBUAH CERMIN KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT TORAJA

REPRESENTASI NILAI BUDAYA HIMNE PASOMBA TEDONG: SEBUAH CERMIN KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT TORAJA

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai-nilai budaya dalam himne Pasomba Tedong. Himne Pasomba Tedong adalah pengiring upacara yang diucapkan pada upacara syukuran tertinggi dalam kehidupan orang Toraja, yaitu pada upacara maqbuaq dan meruaq yang diperuntukkan kepada Puang Matua, ilah-ilah, dan dewata. Tujuan upacara ini adalah untuk memohon kesuburan tanah dan memudahkan interaksi sosial masyarakat dengan mengorbankan seekor kerbau muda hitam dan gemuk. Himne Pasomba Tedong disajikan dalam bentuk prosa lirik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif, yaitu penelitian yang menggambarkan objeknya secara apa adanya. Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan menggunakan teknik inventarisasi, baca simak, pencatatan, teknik observasi partisipasi, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai yang ditemukan dalam himne Pasomba Tedong adalah nilai religi, nilai persatuan, nilai musyawarah mufakat, nilai etis, dan nilai tenggang rasa/saling menghormati.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

KESIMPULAN DAN SARAN   KOMUNIKASI CITRA PARIWISATA KABUPATEN TANA TORAJA BERBASIS NEW MEDIA.

KESIMPULAN DAN SARAN KOMUNIKASI CITRA PARIWISATA KABUPATEN TANA TORAJA BERBASIS NEW MEDIA.

Ya di website kita ini ada aduan mengenai masalah, jadi mereka bisa kirim ke email ini ternyata bukan saja orang-orang toraja saja yang berada di perantauan tapi juga kebanyakan orang-orang yang mau mendapatkan informasi tentang tana Toraja sebelum mereka datang kemari. Dan juga ada beberapa mahasiswa dari salah satu perguruan tinggi di Bogor yang melakukan penelitian mengani Toraja, dia melihat informasi-informasi di website apabila dirasa kurang saya kirimkan ke dia. Jadi dengan adanya website ini saya rasa target ini bukan hanya untuk masyarakat tana toraja saja.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Tongkonan Sangulele sebagai Solidaritas Kekristenan Tana Toraja

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Tongkonan Sangulele sebagai Solidaritas Kekristenan Tana Toraja

Tongkonan bagi etnis Toraja adalah pusaka atau warisan dengan hak dan kewajiban secara turun temurun dari orang pertama sebagai pendiri hingga ahli warisnya. Secara umum Tongkonan merupakan identitas suku Toraja sehingga membedakan dengan suku-suku lain di Indonesia. Dalam lingkup budaya Toraja, keberadaan Tongkonan merupakan simbol dan identitas keluarga. Selain itu, Tongkonan juga mencerminkan status sosial bagi pemiliknya . Menurut Egy Palloan bahwa Tongkonan adalah simbol hubungan manusia dengan Allah, alam semesta, dan sesamanya. Hal itu nampak dalam pembagian Tongkonan dalam tiga tingkatan (Atas, kale banua- dalam rumah, sola sulluk banua-dengan luar rumah) dan ini mewakili oknum yang dipuja. Tongkonan juga mengungkapkan falsafah kehidupan orang Toraja, arah mata angina dan refleksi siklus kehidupan. Pada dasarnya Tongkonan sendiri kaya akan makna, baik dalam kerukunan, kekeluarga serta upacara adat istiadat orang Toraja. 60 Menurut penulis, Teori A.N. Whitehead dalam
Baca lebih lanjut

43 Baca lebih lajut

Orang Toraya Toraja Bertemu Dengan Injil

Orang Toraya Toraja Bertemu Dengan Injil

Telah disinggung di atas bahwa Injil sangat cepat disebarkan di Toraja karena ada kesamaan. Orang Toraja mempercayai tiga dewa (Gaun Tikembong, Pong Banggairante dan Pong Tulakpadang) ketiga dewa ini disebut dengan Puang Matua (Allah/tertinggi) sama persis dengan ajaran Kristen tentang tritunggal (Bapa, Anak dan Roh Kudus) yang mempunyai satu hakekat yaitu Allah. Orang Toraja tidak bisa memisahkan ketiga dewa ini satu sama lain, mereka juga tidak bisa melihat antara ketiga dewa itu mana dewa yang paling kuat dan yang lemah karena menurut orang Toraja ketiga dewa itu adalah sama, satu hakekat, esa, tidak bisa terpisahkan. Ketiga dewa itu hanya bisa terpisah jika melaksanakan tugas masing-masing namun tetap saling berhubungan karena dasarnya adalah ketiga dewa itu adalah satu. Ini sama persis dengan konsep ketritunggalan Allah (Bapa, Anak, Roh Kudus). Di mana tidak ada yang tinggi dan rendah, ketiga itu adalah satu, tidak bisa dipisahkan karena ketiga itu esa. Dalam Kristen langit dan bumi diciptakan oleh Allah, dalam pemahaman orang Toraja juga lagit dan bumi diciptakan oleh Puang Matuna (Gaun Tikembong, Pong Banggairante dan Pong Tulakpadang). Dalam pemahaman tradisional orang Toraja, ketiga dewa ini memiliki tugas masing-masing, Gaun Tikembong adalah dewa yang bertugas untuk mengatasi dunia atas (langit) dialah dewa yang mengatur siang dan malam, panas dan hujan, badai, petir, guntur, gempa bumi, gunung berapi dll. Pong Banggairante mengatasi dunia tengah yang bertugas untuk menolong manusia jika manusia mengalami kesusahan, masalah, gagal panen, kerusakan akibat gempa bumi dll. Dan Pong Tulakpadang mengatasi dunia bawah yang bertugas untuk memperingati manusia jika melanggar aturan-aturan yang dibuat oleh Puang Matuna. Biasanya orang Toraja dilarang untuk merusak alam, mereka sama sekali tidak boleh menebang pohon sembarang, karena jika terjadi longsor karena penebangan maka mereka percaya bahwa Pong Tulakpadang naik ke langit dan menceriterakan semua kelakuan mereka sehingga Puang Matuana memberikan longsor sebagai hukuman karena melanggar aturan. Itulah konsep pemahaman orang Toraja tentang 3 dewa yang esa dan tidak bisa terpisahkan. Untuk itulah ketika mereka mendengar dari zendeling tentang konsep tritunggal Kristen maka mereka sangat tertarik, bahkan faktor itulah yang mendorong hingga saat ini di Tana Toraja didominasi oleh agama Kristen (Kobong, 2008: 26-28).
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Perancangan Fotografi Fashion Nusantara ”Atribut Toraja” | Tangke | Jurnal DKV Adiwarna 1058 1916 1 SM

Perancangan Fotografi Fashion Nusantara ”Atribut Toraja” | Tangke | Jurnal DKV Adiwarna 1058 1916 1 SM

Leluhur orang Toraja ini dalam pelayaran terakhir, mereka mendarat di bagian daratan pulau Sulawesi yang sebagiannya terendam lautan. Mereka mendarat di sekitar hulu sungai yang diperkirakan berlokasi di Endrekang. Leluhur orang Toraja tersebut yang kedatangannya berbekal aturan keagamaan yang dimilikinya kemudian membangun pemukiman dengan arsitektur rumah yang mirip dengan perahu yang dipakainya. Rumah yang dibangun itu senantiasa menghadap utara untuk mengingatkan daerah asal mereka. Gelombang kedatangan leluhur orang Toraja ini berlangsung beberapa kali yang membuat pendatang yang terdahulu makin terdesak ke bagian pedalaman yang sekarang ini meliputi daerah Tana Toraja (Pemerintah Kota Sulawesi Selatan hal: 11).
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Rambu Solo' Sebagai Tindakan Pastoral T2 752011033 BAB I

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Rambu Solo' Sebagai Tindakan Pastoral T2 752011033 BAB I

Setelah Gereja Toraja mandiri pada 25 Maret 1947, permasalahan pemisahan unsur aluk dari adat ini masih saja menjadi bahan perdebatan. Pada tahun 1984, berdasarkan hasil studi Institut Theologi Gereja Toraja (ITGT) dinyatakan bahwa aluk, adat dan kebudayaan tidak dapat dipisahkan sebab menurut pandangan hidup orang Toraja kehidupan manusia itu harus dipahami secara holistik. Dengan dikeluarkannya hasil studi ITGT ini berarti Gereja Toraja menerima unsur aluk yang bersifat religius itu sebagai bagian dari adat. Hasil studi tersebut membuktikan bahwa Gereja Toraja secara terus menerus menggiatkan dan mengembangkan teologi lokal guna menemukan berita Injil dalam budaya Toraja.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

KOSMOLOGI DALAM ARSITEKTUR TORAJA

KOSMOLOGI DALAM ARSITEKTUR TORAJA

Menurut Kis-Jovak, di luar sistem bola langit di sebelah barat terdapat Pongko', yang dalam mitos merupakan asal orang Toraja, di- batasi oleh tasik atau laut dengan ketiga bagian dunia tersebut di atas. Cakrawala adalah keseluruhan sebagai pembungkus dunia tengah dipandang sebagai palullungan yang artinya atap. Dunia bawah dipikul oleh Tulakpadang artinya Ia yang memikul bumi dengan kepala dan pohon-pohon palem di tangannya. Ia menjaga keseimbangan dan bermukim 12 tingkat di bawah bumi. Meski-pun demikian, kadang- kadang terjadi ketidak seimbangan karena Indo' Ongan-ongan istrinya yang suka bertengkar, mengganggu hingga terjadi gempa bumi. Dunia bawah dapat dicapai melalui lobang-lobang belahan dan jurang-jurang. "Rongga-rongga" dalam perut bumi ini merupakan suatu ciptaan yang luar biasa, mengagumkan dan ditakuti manusia. 17
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

T1 712012030 Full text

T1 712012030 Full text

Semuel Linggi mengatakan bahwa “musik pa’pompang ini adalah identitas budaya sebagai masyarakat Toraja karena suku Toraja yang pertama menemukan alat musik ini. ” 46 Ini seperti yang disampaikan oleh Stuart Hall bahwa identitas budaya sedikitnya dapat dilihat dari dua cara pandang yaitu identitas budaya sebagai sebuah wujud yaitu identitas fisik siapapun akan cenderung lebih mudah mengenalinya karena identitas tersebut terlihat oleh indera bisa juga disebut aktor eksternal. 47 Teori ini ingin mengatakan bahwa pada masyarakat Toraja secara khusus bagi warga jemaat Gereja Toraja Jemaat Lamunan musik pa‟ pompang memiliki makna tersendiri sebagai suatu identitas dari kebudayaan. Identitas ini ingin ditunjukkan kepada orang di luar masyarakat Toraja, bahwa mereka memiliki sebuah musik Pa‟pompang yang merupakan sarana untuk menunjukkan identitas dirinya sebagai masyarakat yang penuh kebersamaan yaitu dipakai dalam ibadah. Selain itu alat musik pa‟pompang merupakan seni yang menunjukkan identitas orang Toraja. Jemaat Gereja Toraja Jemaat Lamunan meyakini bahwa alat musik pa‟pompang adalah sebuah simbol, dimana pa‟pompang mempunyai ukuran bentuk yang beragam, hal ini menunjukkan bahwa itu semua adalah sebuah komunitas yang bermacam-macam yang berada dalam sebuah lingkungan dimana walaupun berbeda tetapi jika bersatu dan dimainkan akan menghasilkan suara yang indah dan merdu dengan suara bas yang lebih dominan. Hal ini menunjukkan ciri orang Toraja dimana terdiri dari latar belakang yang berbeda tetapi mereka bisa hidup rukun dan saling tolong menolong yang akhirnya mampu menciptakan lingkungan atau masyarakat yang baik.
Baca lebih lanjut

37 Baca lebih lajut

Menggagas Nasionalisme dari Kaki Langit Melalui Bola.doc

Menggagas Nasionalisme dari Kaki Langit Melalui Bola.doc

Sepakbola Toraja (Gastor) Tana Toraja untuk pertama kalinya di Habibie Cup XII mendapat dukungan begitu luasnya, sekalipun toh akhirnya kandas di semifinal? Karena, di Piala Habibie Gabungan Sepak Bola Tana Toraja (Gastor) membawa panji- panji Toraya, berlaga dalam semangat sportivitas. Semangat yang dibawa oleh Tim Gastor bersamanya ikut semangat kebanggaan akan nama besar Toraya. Rasanya terlalu lama kita menunggu saat-saat di mana kita dapat berbangga sebagai orang Toraja, secara kolektif.

4 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...