orthogonal frequency division multiplexing

Top PDF orthogonal frequency division multiplexing:

Design And Implementation Of Orthogonal Frequency Division Multiplexing Receiver.

Design And Implementation Of Orthogonal Frequency Division Multiplexing Receiver.

This project is about Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM) Receiver. The purpose of this project is to design, simulate and implement OFDM receiver for Digital Video Broadcasting – Terrestrial (DVB-T). OFDM is a modulation technique especially suitable for wireless communication due to its resistance to inter- symbol interference (ISI). The whole system will be developed in the MATLAB simulation environment and then will be implemented in DSP board.

24 Baca lebih lajut

Analisis Kinerja Transmisi Citra Menggunakan Teknik Modulasi QAM Pada Sistem Orthogonal Frequency Division Multiplexing

Analisis Kinerja Transmisi Citra Menggunakan Teknik Modulasi QAM Pada Sistem Orthogonal Frequency Division Multiplexing

Teknologi telekomunikasi nirkabel yang berkembang pesat saat ini memberikan manfaat bagi operator dan pelanggan. Long Term Evolution merupakan teknologi nirkabel 4G memberikan layanan aplikasi multimedia berupa gambar, video dan audio berkualitas tinggi dan kecepatan internet yang tinggi menggunakan teknik transmisi Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM). Pada penelitian ini sumber informasi berupa citra warna dikirim melalui kanal AWGN dibandingkan kanal rayleigh fading menggunakan teknik modulasi 16 QAM dengan 64 QAM, selanjutnya dilakukan analisis kinerja transmisi citra menggunakan teknik modulasi QAM pada sistem OFDM. Hasil perbandingan transmisi setiap citra melalui kanal AWGN dan Rayleigh fading menggunakan teknik modulasi 16 QAM lebih cepat mendekati nilai standard BER sebesar 10 -3 daripada 64 QAM. Sistem kinerja transmisi citra pada teknik modulasi 16 QAM ini menunjukkan kinerja transmisi lebih baik disebabkan rendahnya nilai Eb/No yang dibutuhkan dengan selisih nilai rata-rata sekitar 8 dB mampu memberikan persentase error yang cukup kecil dari pada menggunakan 64 QAM.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KINERJA ORTHOGONAL FREQUENCY DIVISION MULTIPLEXING (OFDM) MENGGUNAKAN WARP - ITS Repository

IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KINERJA ORTHOGONAL FREQUENCY DIVISION MULTIPLEXING (OFDM) MENGGUNAKAN WARP - ITS Repository

Pada bab ini akan dijabarkan dasar teori yang menjadi acuan dalam pengerjaan penelitian. Pembahasan teori dalam bab 2 memiliki tujuan antara lain pemahaman mendasar tentang teknik OFDM. Terutama mengenai cara kerja dari penerima OFDM seperti proses estimasi kanal maupun estimasi phase error. Kemudian pemahaman tentang parameter IEEE 802.11 yang akan dipakai dalam proses desain sistem. Dan terakhir pemahaman awal tentang perangkat WARP dan penggunaan framework WARPLab dalam implementasi sistem komunikasi nirkabel. 2.1 Teknik Orthogonal Frequency Division Multiplexing
Baca lebih lanjut

134 Baca lebih lajut

ANALISIS KEHANDALAN SISTEM WIMAX BERBASIS OFDM (ORTHOGONAL FREQUENCY DIVISION MULTIPLEXING) MENGGUNAKAN TEKNIK MODULASI ADAPTIF

ANALISIS KEHANDALAN SISTEM WIMAX BERBASIS OFDM (ORTHOGONAL FREQUENCY DIVISION MULTIPLEXING) MENGGUNAKAN TEKNIK MODULASI ADAPTIF

menyatakan dengan sesungguhnya bahwa karya ilmiah yang berjudul “ Analisis Kehandalan Sistem WiMAX Berbasis OFDM (ORTHOGONAL FREQUENCY DIVISION MULTIPLEXING) Menggunakan Teknik Modulasi Adaptif ” adalah benar-benar hasil karya sendiri, kecuali kutipan yang sudah saya sebutkan sumbernya, belum pernah diajukan pada institusi mana pun, dan bukan karya jiplakan. Saya bertanggung jawab atas keabsahan dan kebenaran isinya sesuai dengan sikap ilmiah yang harus dijunjung tinggi.

19 Baca lebih lajut

Analisis Kinerja Orthogonal Frequency Division Multiplexing pada Sistem DVB-T (Digital Video Broadcasting Terrestrial)

Analisis Kinerja Orthogonal Frequency Division Multiplexing pada Sistem DVB-T (Digital Video Broadcasting Terrestrial)

Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM) adalah skema transmisi paralel yang mana sebuah data laju tinggi yang bersifat seri dibagi ke dalam sebuah kumpulan substream dengan laju data yang lebih rendah. Setiap substream tersebut di modulasi dengan menggunakan subcarrierss yang berbeda. Dengan demikian, lebar pita dari subcarriers menjadi lebih kecil bila dibandingkan dengan lebar pita kanal yang berelasi. Subcarriers yang independen tersebut mengalami fading yang rata sehingga memudahkan pengaplikasian ekualisasi yang lebih sederhana. Hal ini akan memberikan implikasi berupa waktu simbol substream yang lebih panjang bila dibandingkan dengan delay spread dari waktu pentransmisian kanal radio tersebut. Selain itu, dengan menggunakan frekuensi carrier yang tegak lurus, maka effisiensi spectra dapat dicapai. Untuk mempertahankan agar frekuensi carrier tetap tegak lurus (orthogonal) maka diperkenalkan sebuah cara yang dikenal dengan sebutan cyclic prefix .
Baca lebih lanjut

85 Baca lebih lajut

Performance of Subcarrier and Power Allocation Orthogonal Frequency-Division Multiplexing on Millimeter Wave

Performance of Subcarrier and Power Allocation Orthogonal Frequency-Division Multiplexing on Millimeter Wave

Pemenuhan kebutuhan bit rate diatas 40 Mbps dapat dilakukan dengan sistem local multipoint distribution service (LMDS) yang dioperasikan pada gelombang milimeter. Sistem ini mempunyai masalah tersendiri ketika diterapkan pada daerah dengan potensi curah hujan yang cukup tinggi, seperti Indonesia. Untuk itu sistem LMDS dikembangkan dengan mekanisme cross-layer. Pada penelitian ini teknik yang digunakan pada cross-layer orthogonal frequency-division multiplexing (OFDM) multi-user adalah joint subcarrier and power allocation (JSPA). Diharapkan kinerja sistem telekomunikasi pada kanal gelombang millimeter meningkat meski terjadi gangguan oleh redaman hujan. Penelitian ini membahas kinerja kapasitas transmisi, data rate, utility dan fairness dari algoritma JSPA yang diterapkan dari hasil penelitian pengukuran redaman hujan di wilayah Surabaya. Dari hasil penelitian diperoleh adanya peningkatan kinerja sistem melalui teknik JSPA. Pada kondisi redaman hujan yang mencapai 40dB, teknik JSPA mampu meningkatkan kapasitas rata-rata transmisi mencapai 173,3%, data rate sistem mencapai 189,9% dan fairness sistem mencapai 9,6%. Implementasi teknik JSPA dapat meningkatkan utility system hingga 13,61-15,48 bps/Hz.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

SIMULASI PENGARUH PERUBAHAN PARAMETER PHYSICAL OFDM (ORTHOGONAL FREQUENCY DIVISION MULTIPLEXING) PADA JARINGAN MOBILE WIMAX

SIMULASI PENGARUH PERUBAHAN PARAMETER PHYSICAL OFDM (ORTHOGONAL FREQUENCY DIVISION MULTIPLEXING) PADA JARINGAN MOBILE WIMAX

WiMAX physical layer didasarkan pada orthogonal frequency division multiplexing (OFDM) yang memiliki kemampuan untuk transmisi kecepatan data tinggi dalam non-line of sight dan mampu bekerja pada kanal multipath fading (frequency selective fading). Penelitian ini berpusat pada perancangan pengaruh perubahan parameter-parameter OFDM untuk meningkatkan performa pada jaringan mobile WiMAX menggunakan simulator Opnet. Konfigurasi jaringan mobile WiMAX dengan pemodelan tanpa dan dengan asn-gateway. Hasil yang didapat bahwa perubahan jumlah subcarrier, nilai frame duration dan base frequency dapat mempengaruhi jumlah throughput yang di dapat. Pada objek MS (mobile station), terlihat nilai rata-rata throughput 947,326 bits/sec ketika parameter sub-carrier berjumlah 2048, rata-rata throughput 924,156 bits/sec ketika parameter sub-carrier berjumlah 1024, rata-rata throughput 924,195 bits/sec ketika parameter sub-carrier berjumlah 512 dan rata-rata throughput 137,560 bits/sec ketika parameter sub-carrier berjumlah 128. Sedangkan mengurangi durasi dari suatu frame akan meningkatkan throughput yang dihasilkan. Perubahan base frequency pada saat nilai base frequency sebesar 1.5 GHz terjadi penurunan throughput selama 2 kali disebabkan adanya data drop, yang mengakibatkan throughput menurun pada detik ke-249.6 dengan nilai 292.806 bit/sec dan pada detik ke-354.6 dengan nilai 73.7 bit/sec.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

PENGARUH MODULASI M-PSK PADA UNJUK KERJA SISTEM ORTHOGONAL FREQUENCY DIVISION MULTIPLEXING (OFDM) - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR) M.L2F004524

PENGARUH MODULASI M-PSK PADA UNJUK KERJA SISTEM ORTHOGONAL FREQUENCY DIVISION MULTIPLEXING (OFDM) - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR) M.L2F004524

OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiplexing) merupakan suatu teknik transmisi yang menggunakan beberapa frekuensi subcarrier (multicarrier) yang saling tegak lurus (orthogonal). Masing-masing subcarrier tersebut dimodulasikan dengan teknik modulasi konvensional pada rasio simbol yang rendah. Modulasi ini bisa berupa modulasi Phase Shift Keying (PSK). Penggunaan modulasi PSK akan menghasilkan suatu sinyal dengan amplitudo konstan. Modulasi PSK dipilih karena kemampuannya untuk mengurangi fluktuasi amplitudo yang dapat mengakibatkan pelemahan.

10 Baca lebih lajut

ANALISIS PENGARUH NOISE TERHADAP BIT ERROR RATE (BER) PADA SISTEM ORTHOGONAL FREQUENCY DIVISION MULTIPLEXING (OFDM) - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

ANALISIS PENGARUH NOISE TERHADAP BIT ERROR RATE (BER) PADA SISTEM ORTHOGONAL FREQUENCY DIVISION MULTIPLEXING (OFDM) - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Salah satu teknologi yang paling berperan dalam teknologi telekomunikasi adalah teknologi modulasi. Dengan beragam teknologi modulasi ini tentu menawarkan kelebihan masing-masing serta tidak luput kekurangan dari teknologi tersebut dan hal tersebut akan selalu diperbaiki sehingga memperoleh teknologi yang dianggap benar-benar sempurna. Salah satu teknologi tersebut adalah Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM).Prinsip utama dari OFDM adalah pembagian kecepatan tinggi aliran data kedalam nomor kecepatan aliran rendah kemudian dikirimkan secara simultan melalui sebuah nomor subcarrier. OFDM adalah teknik modulasi yang diterapkan kepada sinyal yang telah termodulasi, sebagai modulasi tingkat kedua.Caranya yaitu dengan membagi data secara paralel pada sejumlah subkanal pita sempit, lalu masing-masing data pada subkanal tersebut dimodulasikan dengan subfrekuensi pembawa yang saling orthogonal, selanjunya ditransmisikan secara simultan.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

IMPLEMENTASI DAN ANALISIS KINERJA NETWORK CODING PADA SISTEM KOMUNIKASI ORTHOGONAL FREQUENCY DIVISION MULTIPLEXING (OFDM) MENGGUNAKAN WIRELESS OPEN-ACCESS RESEARCH (WARP)

IMPLEMENTASI DAN ANALISIS KINERJA NETWORK CODING PADA SISTEM KOMUNIKASI ORTHOGONAL FREQUENCY DIVISION MULTIPLEXING (OFDM) MENGGUNAKAN WIRELESS OPEN-ACCESS RESEARCH (WARP)

Pada penelitian yang telah ada, orthogonal frequency division multiplexing (OFDM) menarik perhatian sebagai teknik transmisi pada jaringan nirkabel modern yang dapat membawa data yang relatif besar. Ada banyak keuntungan dari OFDM, seperti penggunaan yang efektif dari pita frekuensi yang besar, dan ketahanan terhadap frequency selective fading [1]. Oleh karena itu OFDM mendapatkan peran pada pengembangan sistem komunikasi nirkabel broadband seperti Wi-Fi, WiMax, dan long term evolution (LTE) [2].

108 Baca lebih lajut

Analisis Kinerja Transmisi Citra Melalui Kanal Mobile To Mobile Pada Sistem Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM)

Analisis Kinerja Transmisi Citra Melalui Kanal Mobile To Mobile Pada Sistem Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM)

Long Term Evolution (LTE) is a fourth generation wireless technology (4G) providing multimedia application services in the form of images, video and audio of high quality and high speed internet using Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM ) transmission technique. In this system use mobile to mobile channel, where transmitter and receiver and network entity always mobile. Movements towards users or objects to it cause a frequency shift (Doppler shift) that can affect the performance of communication systems. With this problem, it is necessary to analyze the performance of image transmission of mobile to mobile channel on OFDM system. The comparison results from the transmission of each image of different sizes of pixels through mobile to mobile channel using 4 QAM faster approached the standard BER value of 10-3 than 16 QAM. The image transmission performance system on the QAM 4 modulation technique shows better transmission performance due to the lower Eb/No 16.44 dB average value which gives a fairly small error rates instead of using the 16 QAM modulation technique of Eb /No 25.48 dB.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Estimasi Doppler Spread pada Sistem Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM) dengan Metode Phase Difference

Estimasi Doppler Spread pada Sistem Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM) dengan Metode Phase Difference

Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM) merupakan salah satu aplikasi sistem komunikasi nirkabel. OFDM adalah suatu teknik yang menarik untuk transimisi data kecepatan tinggi dalam sistem komunikasi bergerak dengan memanfaatkan beberapa subcarrier yang saling tegak lurus. Dalam sistem OFDM, setiap subcarrier memiliki bandwidth yang sempit, yang membuat sinyal tahan terhadap frekuensi selektif yang dapat timbul dari delay spread [1]. Salah satu kelemahan dari sistem OFDM adalah sensitif terhadap kesalahan frekuensi offset karena pergeseran doppler pada kanal mobile. Hal ini akan menyebabkan doppler spread. Doppler spread merupakan parameter yang merepresentasikan ukuran pelebaran spektrum karena adanya pergerakan relatif kanal antara pemancar dan penerima. Doppler Spread akan menyebabkan terjadinya pelebaran spektral sinyal informasi sehingga menganggu orthogonalitas antar subcarrier atau biasa disebut Inter Carrier Interference (ICI) [2]. Metode estimasi doppler spread yang ada pada umumnya dikategorikan menjadi 2 kelas yaitu Level Crossing Rate dan Covariance, tetapi algoritma ini secara spesifik tidak didesain untuk sistem OFDM [2]. Pengestimasian doppler dpread akan berguna untuk mengetahui besarnya efek doppler spread pada sistem dan membantu untuk meningkatkan optimasi pentransmisian sinyal informasi serta membantu unuk mengembangkan algoritma yang mampu menghilangkan efek ICI [3]. Metode estimasi yang digunakan adalah Phase Difference. Metode ini mampu memilih kanal propagasi dominan di antara kanal-kanal yang ada, kemudian mengikuti perubahan fase pilot pada kanal tersebut (path tracing) hingga mencapai 2π. Waktu tersingkat untuk mencapai 2π berarti memiliki nilai doppler spread terbesar.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

KINERJA SISTEM COFDM (CODED ORTHOGONAL FREQUENCY DIVISION MULTIPLEXING) PADA KANAL RADIO MOBILE

KINERJA SISTEM COFDM (CODED ORTHOGONAL FREQUENCY DIVISION MULTIPLEXING) PADA KANAL RADIO MOBILE

High speed data communication needs modulation scheme with capability for handling ISI ( Inter-Symbol Interference) and non-flatness of channel frequency response. OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiplexing) is a multicarrier transmission technique with symbol period relatively wider then delay spread of the channel, so that the spectral sub-carrier will be more narrow then and flat in coherent bandwidth. FEC (Forward Error Correcting) is still needed to minimize error due to inter-sub-carrier unflatness. FEC with convolutional coding and interleaving widely used in OFDM standards, such as Wireless LAN 802.11a and Direct Video Broadcasting, will be exlopred. Simulation results show convolutional coding [133 171] giving coding gain 6 dB maximum in QPSK sub-carrier modulation and 7 dB in 16-QAM. In radio mobile channel with 0, 9, 56 and 130 Hz doppler frequency, coding gain will be 7 dB. Interleaver matrix 3218 (IS-95) gives less optimal result with less than 1 dB power improvement. In 130 Hz doppler frequency channel, interleaver matrix 10096 will give significant system performance improvement, BER in around 10 -6 achieved in SNR = 16 dB.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Implementasi dan Evaluasi Kinerja Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM) Menggunakan WARP

Implementasi dan Evaluasi Kinerja Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM) Menggunakan WARP

Abstrak - Salah satu permasalahan dalam perkembangan teknologi telekomunikasi yaitu bagaimana mencapai data rate yang besar namun dengan bandwidth yang tidak lebih besar dari bandwidth koheren kanal untuk menghindari terjadinya Inter-Symbol Interference (ISI). Salah satu solusi yang ditawarkan yaitu transmisi multi-carrier. Cara kerja transmisi multi-carrier yaitu membagi total bandwidth signal yang tersedia menjadi beberapa subcarrier-subcarrier dengan bandwidth yang sempit. Sehingga bandwith masing- masing subcarrier yang dihasilkan tersebut menjadi lebih kecil jika dibandingkan dengan bandwidth koheren kanal. Salah satu transmisi multicarrier yang terbaru yaitu Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM) dimana subcarrier-subcarrier dapat saling tegak lurus satu sama lain sehingga bendwidth yang dibutuhkan menjadi lebih efisien jika dibandingkan dengan multicarrier konvensional seperti FDM. Sistem OFDM dapat diimplementasikan pada WARP (Wireless Open-Access Research Platform) yang merupakan salah satu jenis SDR (Software Defined Radio). SDR merupakan sistem pemancar dan penerima yang menggunakan pemrosesan sinyal digital untuk coding, decoding, modulasi dan demodulasi data. Modul WARP tersebut digunakan sebagai model pemancar dan penerima pada pengukuran kualitas unjuk kerja sistem OFDM dengan barbagai kondisi. Spesifikasi sistem OFDM yang digunakan pada tugas akhir ini menggunakan standar IEEE 802.11. Hasil dari implementasi dan pengukuran menunjukkan bahwa nilai BER tidak selalu berpengaruh terhadap perubahan jarak untuk lingkungan yang sama. Sementara dalam hal obstacle, nilai BER sangat berpengaruh dimana nilainya akan lebih baik saat tidak adanya obstacle sebagai contoh ketika tanpa LoS dengan daya pancar sebesar -26.125 dBm nilai BER sudah 0 sementara NLoS bernilai 9.3x10 -6 . Untuk lingkungan pengukuran, lingkungan indoor menghasilkan kualitas sistem yang paling baik dibandingkan dengan lingkungan lainnya.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KINERJA ORTHOGONAL FREQUENCY DIVISION MULTIPLEXING (OFDM) MENGGUNAKAN WARP

IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KINERJA ORTHOGONAL FREQUENCY DIVISION MULTIPLEXING (OFDM) MENGGUNAKAN WARP

Contoh transmisi multicarrier yaitu Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM) dimana subcarrier-subcarrier dapat saling tegak lurus satu sama lain sehingga bendwidth yang dibutuhkan menjadi lebih efisien jika dibandingkan dengan multicarrier konvensional seperti FDM. Sistem OFDM dapat diimplementasikan pada WARP ( Wireless Open-Access Research Platform) yang merupakan salah satu jenis SDR (Software Defined Radio). SDR merupakan sistem pemancar dan penerima yang menggunakan pemrosesan sinyal digital untuk coding, decoding, modulasi dan demodulasi data. Modul WARP tersebut digunakan sebagai model pemancar dan penerima pada pengukuran kualitas unjuk kerja sistem OFDM dengan barbagai kondisi.
Baca lebih lanjut

134 Baca lebih lajut

Implementasi Radar Doppler dengan Sinyal Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM) pada Perangkat berbasis Software Define Radio (SDR) - ITS Repository

Implementasi Radar Doppler dengan Sinyal Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM) pada Perangkat berbasis Software Define Radio (SDR) - ITS Repository

Puji Syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah memeberikan rahmat dan anugerah-NYA untuk dapat menyelesaikan laporan Tugas Akhir dengan judul “ Implementasi Radar Doppler dengan Sinyal Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM) Pada Perangkat Berbasis Software Define Radio (SDR) ” untuk memenuhi persayaratan pendidikan pada Bidang Studi Telekomunikasi Multimedia, Jurusan Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya yang dalam pengerjaannya terdapat berbagai kendala dan permasalahan, namun atas bantuan dari berbagai pihak, kendala dan permasalahan dapat teratasi. Karena itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:
Baca lebih lanjut

114 Baca lebih lajut

Orthogonal Frequency-Division Multiplexing-Based Cooperative Spectrum Sensing for Cognitive Radio Networks

Orthogonal Frequency-Division Multiplexing-Based Cooperative Spectrum Sensing for Cognitive Radio Networks

In other hand [13] proposed spectrum sensing scheme that exploiting the cyclic prefix of an OFDM symbol for CR systems. In this case [13] evaluate with [8] works which is the scheme is able to transmit the whole cyclic prefix portion in order to avoidance performance degradation from null guard interval. In this scheme, they assumed that time-division duplexing (TDD), an unlicensed users detects the licensed user during receiving period and decides whether to transmit its data during transmitting period. They results show it improve sensing accuracy and increase system throughput compared to the conventional schemes.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Discrete Fourier Transform-Spread Orthogonal Frequency Division Multiplexing pada Jaringan Generasi Keempat (4G) T1 612005039 BAB V

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Discrete Fourier Transform-Spread Orthogonal Frequency Division Multiplexing pada Jaringan Generasi Keempat (4G) T1 612005039 BAB V

Kelemahan utama sistem OFDM adalah tingginya nilai PAPR yang disebabkan karena menggunakan teknik multi-carrier, sehingga pada proses uplink Jaringan 4G menggunakan sistem DFTS-OFDM yan[r]

1 Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Discrete Fourier Transform-Spread Orthogonal Frequency Division Multiplexing pada Jaringan Generasi Keempat (4G)

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Discrete Fourier Transform-Spread Orthogonal Frequency Division Multiplexing pada Jaringan Generasi Keempat (4G)

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah memberikan bimbingan, bantuan dan dukungan untuk penulisan tugas akhir ini, yaitu : 1.. Bunda Maria dan Tuhan Yesus K[r]

16 Baca lebih lajut

Show all 4719 documents...