Otonomi Daerah Menurut Undang Undang Nomor 5 Tahun 1974

Top PDF Otonomi Daerah Menurut Undang Undang Nomor 5 Tahun 1974:

BAB I PENDAHULUAN. Desentralisasi menurut Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang

BAB I PENDAHULUAN. Desentralisasi menurut Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang

1.6 Kerangka Pemikiran Pemerintahan seyogiyanya mereka memberikan jasa kepada masyarakat dan juga mengelola aset daerah maupun negara. Dalam mengelola aset tersebut, pemerintah berorientasi laba (profir oriented organization) mempunyai perhatian besar terhadap bidang keuangan, terutama dalam perkembangam dunia usaha yang semakin maju. Untuk menjaga aset tersebut dan tercapainya tujuan daerah, maka perlu satu penanganan dan pengelolaan yang dilakukan oleh pihak pemerintah yang baik. Pemerintah yang baik dalam mengelola ini di dukung oleh perencanaan, kebijakan, prosedur, pendelagasian wewenang, metode-metode dan standar-standar pelaksanaan yang dapat diterapkan untuk mengevaluasi hasil yang dicapai. Pengendalian internal merupakan kegiatan yang digunakan untuk memastikan tujuan dan sasaran organisasi tercapai dan merupakan alat bantu bagi pemerintah dalam pencapaian tujuan tersebut.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1974 tentang POKOK-POKOK PEMERINTAHAN DI DAERAH

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1974 tentang POKOK-POKOK PEMERINTAHAN DI DAERAH

Di muka disebutkan bahwa tidak semua urusan pemerintahan dapat diserahkan kepada Daerah menjadi urusan rumah tangganya. Jadi beberapa urusan pemerintahan masih tetap merupakan urusan Pemerintahan Pusat. Akan tetapi adalah berat sekali bagi Pemerintah Pusat untuk menyelenggarakan seluruh urusan pemerintahan di daerah yang masih menjadi wewenang dan tanggung jawabnya itu atas dasar dekonsentrasi, mengingat terbatasnya kemampuan perangkat Pemerintahan Pusat di daerah. Dan juga ditinjau dari segi dayaguna dan hasilguna adalah kurang dapat dipertanggungjawabkan apabila semua urusan Pemerintah Pusat di daerah harus dilaksanakan sendiri oleh perangkatnya di daerah karena hal itu akan memerlukan tenaga dan biaya yang sangat besar jumlahya. Lagi pula, mengingat sifatnya, berbagai urusan sulit untuk dapat dilaksanakan dengan baik tanpa ikut sertanya Pemerintah Daerah yang bersangkutan.
Baca lebih lanjut

70 Baca lebih lajut

PERATURAN DAERAH. Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah;

PERATURAN DAERAH. Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah;

Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dan untuk menunjang usaha-usaha Pemerintah Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Musi Rawas dibidang pembangunan serta dalam rangka meningkatkan Daerah yang berdaya guna dan berhasil guna maka dipandang perlu kepada masyarakat pemakai jasa ketata usahaan dikenakan Uang Leges;

7 Baca lebih lajut

PERATURAN DAERAH. Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah;

PERATURAN DAERAH. Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah;

Menimbang : a. bahwa Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Musi Rawas Nomor 1 tahun 1962 tentang Pemungutan Uang Leges dan terakhir telah dirobah untuk keempat kalinya dengan Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Musi Rawas Nomor 8 tahun 1980 sudah tidak sesuai lagi dengan tingkat perkembangan dewasa ini;

8 Baca lebih lajut

PERATURAN DAERAH. Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah ;

PERATURAN DAERAH. Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah ;

(1) Selain Pejabat Penyidik Umum yang bertugas menyidik tindak pidana, penyidikan atas tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Daerah ini dapat juga dilakukan oleh Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil dilingkungan Pemerintahan Daerah yang pengangkatannya ditetapkan sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku.

6 Baca lebih lajut

PERATURAN DAERAH. Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah ;

PERATURAN DAERAH. Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah ;

c. bahwa sebagai tindak lanjut dari pada ketentuan-ketentuan dimaksud huruf a dan b diatas, dianggap perlu untuk segera membentuk Dinas Perkebunan Kabupaten Daerah Tingkat II Musi Rawas ; d. bahwa pembentukan dimaksud huruf c perlu dengan Peraturan Daerah. Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok

13 Baca lebih lajut

PERATURAN DAERAH. Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah;

PERATURAN DAERAH. Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah;

BUPATI BUPATI BUPATI KEPALA KEPALA KEPALA KEPALA DAERAH DAERAH DAERAH DAERAH TINGKAT TINGKAT TINGKAT TINGKAT II II II II MUSI MUSI MUSI MUSI RAWAS, RAWAS, RAWAS, RAWAS, Menimbang : a. bahwa masalah Beca di Kota Administratif Lubuk Linggau dirasakan sudah cukup kompleks dan jumlahnya sudah cukup banyak, sehingga mengganggu keamanan, ketertiban dan mengganggu kelancaran lalu lintas umum serta keindahan Kota, maka dipandang perlu untuk mengambil langkah-langkah dalam penanggulangannya sejalan dengan perkembangan Kota Administratif sebagai Kota ATLAS (Aman. Tertib, Lancar dan Sehat);
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

TUGAS DAN WEWENANG KEPALA DAERAH DALAM PELAKSANAAN OTONOMI DAERAH MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 JO. UNDANG-UNDANG NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH -

TUGAS DAN WEWENANG KEPALA DAERAH DALAM PELAKSANAAN OTONOMI DAERAH MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 JO. UNDANG-UNDANG NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH -

JudHl Skripsi : TUGAS DAN WEWENANG KEPALA DAERAH DALAM PELAKSANAAN OTONOMI DAERAH MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 JO.. UNDANG-UNDANG NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PEMERINTAHAN[r]

67 Baca lebih lajut

Menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang

Menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang

Malam semakin dingin saat itu, akhirnya kami masuk pada ma- teri pengenalan Taman Nasional Tesso Nilo. Taman nasional Tesso Nilo adalah salah satu blok hutan hujan tropis dataran rendah yang masih tersisa di Pulau Sumatra, luas taman ini pada awalnya seluas ± 38.576 hektar dan sekarang telah men- jadi ± 83.068 hektar. Sebenarnya hutan Tesso Nilo pada saat ini seluas ± 155.000 hektar. Sebagian kawasan tersebut men- galamo perubahan fungsi dari kawasan hutan produksi terbatas menjadi Taman Nasional Tesso Nilo, sebagian hutan tesso nilo pun sudah menjadi perkebunan sawit. Hutan Tesso Milo dikenal memilki keanekaragaman hayati yang tinggi, baik flora maupun fauna. Bahkan penelitian dari Center for Biodiversity Manage- ment -Australia ( 2001 ) membuktikan bahwa tesso nilo memi- liki 218 jenis tumbuhan vascular dalam 200 m². ini merupakan tingkat keanekaragaman tumbuhan tertinggi di dunia. Taman Nasional Tesso Nilo juga memiliki banyak fungsi, di antaranya sebagai sumber genetik, sumber ilmu pengetahuan, pengatur tata air, menjaga keseimbangan suhu udara, menciptakan ling- kungan sehat, tempat konservasi gajah dan harimau Sumatera, merupakan sumber hasil hutan non kayu, merupakan daerah aliran sungi, dan masih banyak lagi. Selain itu, ada juga hal-hal yang mengancam Taman Nasional Tesso Nilo ini di antaranya perambahan hutan, pembalakan liar dan kebakaran hutan. Paginya pukul 05.00 WIB kami semua bangun untuk kembali melakukan aktifitas yang pastinya seru untuk diikutin. Setelah mandi dan shalat kami semua berkumpul kembali ke lapangan untuk melakukan senam pagi. Setelah itu kami jogging menuju sebuah tower yang di buat untuk memantau keadaan hutan. Tower yang tingginya 25 meter ini benar-benra tempat yang pas untuk mengawasi sekeliling hutan Tesso Nilo. Setelah itu kami kembali lagi ke camp flying squad untuk sarapan pagi.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

PERJANJIAN PERKAWINAN MENURUT KITAB UNDANG- UNDANG HUKUM PERDATA DAN UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974

PERJANJIAN PERKAWINAN MENURUT KITAB UNDANG- UNDANG HUKUM PERDATA DAN UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974

Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Tasikmalaya Jawa Barat E-mail : gunadish_17@yahoo.com ABSTRAK Perjanjian perkawinan adalah perjanjian yang dibuat oleh dua orang suami isteri untuk mengatur akibat-akibat perkawinan mengenai harta kekayaan. Pengertian diatas menjelaskan bahwa perjanjian perkawinan mengatur mengenai dua orang yang melakukan perjanjian perkawinan, dimana perjanjian tersebut mengenai pengaturan harta kekayaan serta akibat-akibatnya. Perjanjian perkawinan dapat dibuat oleh mereka yang tunduk pada hukum perdata maupun hukum Islam dengan ketentuan dibuat dengan akta otentitk dan wajib dicatatkan pada Kantor Catatan Sipil maupun pada Kantor Urusan Agama (KUA) untuk memenuhi ketentuan Pasal 29 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dan agar perjanjian perkawinan tersebut berlaku dan mengikat bagi pihak ketiga. Mengenai bentuk dan isi perjanjian perkawinan tersebut, sebagiamana halnya dengan perjanjian pada umumnya, kepada kedua belah pihak diberikan kebebasan atau kemerdekaan seluas-luasnya asalkan tidak bertentangan dengan undang-undang kesusilaan yang baik atau tidak melanggar ketertiban umum.
Baca lebih lanjut

29 Baca lebih lajut

Aktualisasi Asas Otonomi dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Otonomi Daerah

Aktualisasi Asas Otonomi dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Otonomi Daerah

Pemberian kewenangan yang seluas-luasnya menyebabkan terjadinya disharmoni hubungan antar level pemerintahan. Keadaan ini juga tidak terlepas dari pemahaman yang tidak tepat terhadap prinsip subsidaritas dalam sistem penyerahan kewenangan atau pembagian urusan pemerintahan. Persoalan umum dalam hubungan pemerintahan terkesan hanya terbatas pada kendala hubungan pusat dengan daerah. Kesan semacam ini terlalu disederhanakan. Dalam kenyataan, terdapat juga kendala dalam hubungan di antara pemerintah daerah sendiri, antar daerah provinsi, dan daerah kebupaten/kota. Penyebab utamanya terletak pada salah anggapan bahwa pada sebagian tertentu pejabat daerah provinsi, seolah-olah daerah kabputen kota merupakan bawahan dari daerah provinsi, memang dalam posisi kewilayahan pemerintah provinsi antara lain bertanggungjawab membina penyelenggaraan pemerintah didaerah, tetapi pada saat yangs ama harus disadari bahwa pemerintah daerah kabupaten dan kota memiliki keleluasaan yang cukup untuk mengembangkan kebijakan yang secara objektif menguntungkan masyarakat di daerahnya masing- masing.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Perkawinan Campuran Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan Tentang Perkawinan

Perkawinan Campuran Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan Tentang Perkawinan

Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, dalam perkawinan tanpa perjanjian kawin semua harta benda yang diperoleh dalam perkawinan menjadi harta bersama kecuali ditentukan lain. Dalam perkawinan campuran ada baiknya juga membuat perjanjian kawin yang memberi perlindungan pada kedua pihak agar tidak ada orientasi negatif terhadap keinginan terhadap harta benda atau harta bersama. Mereka yang melakukan usaha di Indonesia memiliki property dengan nama suami atau istrinya yang warga negara Indonesia untuk mempermudah penguasaan sarana dan prasarana usaha. Sepanjang mengenai benda bergerak atau habis pakai bebas dibeli dan dimiliki oleh orang asing utamanya yang memiliki Kartu Ijin Tinggal Terbatas, seperti membeli mobil, sepeda motor, kapal layar, kapal motor sampai dengan ukuran sedang, dengan syarat KTP WNA (bila disyaratkan penjual), fotokopi kartu keluarga (yang single biasanya ikut dengan pemiik rumah), Kartu Ijin Tinggal Terbatas (KITAS), fotokopi bukti kepemilikan rumah/kontrak, fotokopi surat ijin kerja dari depnaker (bila bekerja). Dimana sepanjang digunakan untuk kepentingan pribadi dan usaha di Indonesia bebas dibeli oleh warga negara asing. Namun karena prosedur yang panjang dan kurangnya
Baca lebih lanjut

97 Baca lebih lajut

HAK DAN KEWAJIBAN SUAMI ISTRI MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974

HAK DAN KEWAJIBAN SUAMI ISTRI MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974

Abstract Islam is a religion that is complete with all of its teachings. All aspects of life are regulated in Islam, including in the field of syakhsiyah, especially how husband and wife interact. The focus of this research is the rights and obligations of husband and wife according to Law No. 1 of 1974 The rights and obligations of husband and wife in the perspective of Islamic law. This type of research is library research or library research. The object is the rights and obligations of husband and wife according to law number 1 of 1974 concerning marriage. The data source is law number 1 of 1974 and books, journals and other supporting writings. The data collection method used is the documentation method. The validity of the data used source triangulation technique. Furthermore, the data is analyzed using the interpretation method. The results of this study show that in the law number 1 of 1974 it is clearly explained in Islamic books that the rights and obligations between husband and wife are true. When a family heeds or even wants to practice, the continuity of married life will achieve lasting happiness, and this is the goal of marriage that is aspired to by the Marriage Law number 1 of 1974. Because it is in accordance with the meaning of marriage according to law number 1 of 1974 is a physical and mental bond between a man and a woman as husband and wife with the aim of forming a happy and eternal family or household based on the one and only divinity.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

PENGESAHAN ANAK DI LUAR NIKAH MENURUT  UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN   Pengesahan Anak Di Luar Nikah Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan Di Pengadilan Negeri Jepara.

PENGESAHAN ANAK DI LUAR NIKAH MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN Pengesahan Anak Di Luar Nikah Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan Di Pengadilan Negeri Jepara.

KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr. Wb. Alhamdulilah , dengan penuh kerendahan hati dan rasa syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas segala limpahan rahmat, taufik, hidayah dan ridhonya yang dilimpahkan kepada penulis, sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul: “PENGESAHAN ANAK DI LUAR NIKAH MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN DI PENGADILAN NEGERI JEPARA”. Penulisan skripsi ini dengan maksud untuk memenuhi syarat-syarat guna meraih sarjana pada Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta. Dengan tersusunnya skripsi ini penulis juga menyadari dengan sepenuhnya bahwa skripsi ini tidak akan terselesaikan sendiri oleh penulis tanpa adanya bantuan serta bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PERKAWINAN USIA DINI MENURUT HUKUM ISLAM DAN UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN. Oleh:

PERKAWINAN USIA DINI MENURUT HUKUM ISLAM DAN UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN. Oleh:

Berdasarkan Hukum Islam, pernikah dini tidak dapat dilangsungkan berdasarkan batas usia perkawinan 19 tahun bagi laki-laki dan 16 tahun bagi perempuan, (pasal 7 ayat (1))[r]

6 Baca lebih lajut

KEDUDUKAN HARTA BERSAMA DALAM PERKAWINAN POLIGAMI MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN

KEDUDUKAN HARTA BERSAMA DALAM PERKAWINAN POLIGAMI MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN

Dalam ketentuan pasal 3 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan di mungkinkan bagi seorang laki-laki untuk beristri lebih dari satu orang atau di sebut juga dengan poligami, sebagai salah satu bentuk manifestasi pelaksanaan ketentuan hukum perkawinan Islam. Dalam ketentuan pasal 4 juga disebutkan bahwa : apabila seorang suami bermaksud untuk beristri lebih dari seorang, maka ia wajib mengajukan permohonan secara tertulis ke pengadilan Agama.

17 Baca lebih lajut

ANALISIS YURIDIS DISPENSASI PERKAWINAN MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN

ANALISIS YURIDIS DISPENSASI PERKAWINAN MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN

Pemberian dispensasi perkawinan di Pengadilan Agama telah sesuai dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Hal ini dapat diketahui dari 3 Penetapan ditetapkan Pengadilan Agama Jember. Adapun permohonan pengajuan dispensasi perkawinan karena usia calon mempelai kurang dari 16 tahun bagi wanita dan 19 tahun bagi pria. Pasal 7 ayat (1) menyebutkan perkawinan hanya dibenarkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 tahun. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan tidak mengatur tentang alasan-alasan yuridis untuk mengajukan dispensasi perkawinan. Majelis Hakim menjatuhkan keputusan berdasarkan kenyataan yang terjadi selama di Persidangan, baik dari keterangan para pihak maupun bukti-bukti yang diajukan. Hal-hal tersebut menjadi dasar pertimbangan Hakim dalam membuat penetapan.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Pertimbangan hakim dalam pemberian izin poligami menurut undang undang nomor 1 tahun 1974

Pertimbangan hakim dalam pemberian izin poligami menurut undang undang nomor 1 tahun 1974

Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menganut asas monogami. Namun dalam keadaan tertentu apabila agamanya mengijinkan, maka seorang pria dimungkinkan untuk beristri lebih dari seorang. Hal tersebut secara tegas dijelaskan dalm Penjelasan Umum Undang-undang Perkawinan tersebut, bahwa Undang-undang ini menganut asas monogami, hanya apabila dikehendaki oleh yang bersangkutan karena hukum dan agamanya mengijinkan, seorang suami dapat beristri lebih dari satu orang. Namun demikian perkawinan seorang suami dengan lebih dari seorang istri, meskipun dikehendaki oleh pihak yang bersangkutan, harus atau hanya dapat dilakukan apabila dipenuhi berbagai syarat tertentu dan diputus oleh pengadilan”. Tetapi asas monogami dalam Undang-undang ini tidak bersifat mutlak, yaitu hanya bersifat pengarahan pada pembentukan perkawinan monogami dengan jalan mempersulit dan mempersempit penggunaan lembaga poligami dan bukan sama sekali menghapus poligami.
Baca lebih lanjut

60 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN. Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 32 Tahun tentang Pemerintahan Daerah, penyelenggaraan Otonomi Daerah

PENDAHULUAN. Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 32 Tahun tentang Pemerintahan Daerah, penyelenggaraan Otonomi Daerah

Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, penyelenggaraan Otonomi Daerah dilaksanakan dengan memberikan kewenangan yang luas, nyata, dan bertanggung jawab kepada Daerah. Pemberian kewenangan yang luas kepada Daerah memerlukan koordinasi dan pengaturan untuk lebih mengharmoniskan dan menyelaraskan pembangunan, baik pembangunan nasional, pembangunan daerah maupun pembangunan antar daerah. Dengan demikian, perencanaan pembangunan nasional dan perencanaan pembangunan daerah adalah satu kesatuan tata cara perencanaan pembangunan untuk menghasilkan rencana pembangunan dalam jangka panjang, jangka menengah, dan tahunan yang dilaksanakan oleh unsur penyelenggara pemerintahan di pusat dan daerah dengan melibatkan masyarakat. Dokumen perencanaan pembangunan daerah tersebut merupakan pedoman bagi Pemerintah Daerah dalam menyelenggarakan tugas-tugas pemerintahan dan pembangunan yang diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan, pelayanan, pemberdayaan, dan peran serta masyarakat, serta peningkatan daya saing daerah.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...